Anda di halaman 1dari 89

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia dikenal sebagai Negara agraris yang memiliki kemampuan dalam bertani, namun sebagaian besar masyarakatnya sekarang ini tidak banyak yang menjadi petani, hal ini disebabkan kurang adanya minat masyarakat menjadi petani. Zaman modern ini petani tidak hanya bertanam di lahan sawah melainkan dapat dilakukan di perkotaan yang tergolong lahan yang sempit yang disebut dengan urban farming yang dapat digunakan untuk bertanam sayuran yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang selalu dikonsumsi oleh masyarakat. Bertanam sayur seperti ini sudah ada yang menjadikanya sebagai hobi yang menyenangkan dengan menggunakan teknologi modern tetapi hal ini hanya masih digunakan oleh kalangan pendidik diperkotaan, sehingga pusat produksi bahan pangan kita tidak hanya dilakukan dipedesaan , melainkan juga diperkotaan. Untuk dapat mengurangi biaya transportasi yang tidak menentu. Wilayah perkotaan dengan keragaman profesi masyarakatnya tidak mustahil bisa menjadi tempat untuk memproduksi berbagai jenis sayuran yang berkualitas. Generasi muda yang cerdas dapat berkreasi menggarap pertanianya dengan berbagai gaya yang unik sesuai minat masyarakat kota, dengan cara itulah masyarakat perkotaan ikut andil berpatisipasi dalam meningkatkan ketahanan pengan bangsa yang tidak harus bekerja pada bidang pertanian. (Widyawati Nugraheni, 2013). Kodrat manusia adalah memilliki kecerdikan dan kemampuan melakukan rekayasa terhadap berbaga hal salah satunya adalah menanam tanaman sayur di wilayah perkotaan. Salah satu keengganan menanam tanaman karena kesibukan masyarakat khususnya di kota besar adalah kewajiban menjaga kelembapan media melalui penyiraman berkala. Hal ini menyebabkan pemilik tanaman sering waswas ketika harus meninggalkan tanamanya karena khawatiran tanaman akan mengalami kekeringan dan mati Dalam keadaan yang penuh keterbatasan , sebagaian masyarakat

1

perkotaan yang kreatif dalam mewujudkan keinginan memanfaatkan sumber daya yang ada dan lebih efisien dalam bertani salah satunya adalah hidroponik. Istilah hidroponik digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamanya. Dikalangan umum, istilah ini dikenal sebagai “bercocok tanam tanpa menggunakan tanah”. Hidroponik atau bercocok tanam tanpa tanah memberi keuntungan yang lebih besar, terutama bagi penduduk perkotaan yang memiliki lahan yang sempit. Cara ini memberi nilai tambah dalam menciptakan penghijauan ditempat-tempat yang tidak memungkinkan lagi ditanam dengan media tanah (Budiana dan Kunto 2014) Cara untuk mendapatkan sayuran segar adalah menanam sendiri sayuran tersebut. permasalahanya adalah tidak semua orang mempunyai lahan untuk menanam sayuran . oleh karena itu , cara menanam sayuran dengan memanfaatkan air sebagai media pengganti tanah atau yang secara umum disebut dengan media hidroponik yang bisa dilakukan oleh masyarakat perkotaan yang ingin menanam sayuran di halaman rumah Sayuran yang dipanen dari halaman sendiri terasa aman karena lebih segar dan bersih dibandingkan dengan sayuran yang dibeli dari pasar yang kita kitak tau asal usulnya dan bisa jadi sayuran yang dibeli dari pasar mengandung pestisida yang berlebihan. Dalam penggunaan hidroponik yang ditanam sendiri tidak jauh berbeda dengan tanaman hias yang selalu dijaga agar tetap mulus, jika terlihat ada hama atau penyakit di daun , Dapat segera mengambilnya. Jika sudah terserang penyakit, cukup dibuang saja bagian yang terserang. Hidroponik terjadi sejalan dengan orang yang ingin mengomsumsi sayuran yang sehat. Msyarakat ingin mengonsumsi sayuran yang sehat. Ketertarikan bertani hidoponik tersebut karena ingin memetik sayuran dihalaman sendiri. Hidroponik merupakan pilihan bertani praktis dan tidak kotor karena kebanyakan orang khawatir kotor akibat tanah dan cacing. Dengan mengadopsi teknologi hidroponik tanpa tanah ini. Hambatan tersebut tersingkir karena bisa leluasa menananm , memupuk, merawat, dan memanen sayuran tanpa harus belopotan tanah.

2

Tekanan hidup dikota besar seperti di Surabaya kerap membuat seseorang stress. Belum lagi isu pangan , termasuk sayuran yang tercemar residu. Bagi yang ingin bertanam sendiri, masyarakat kota besar terkendala dengan lahan yang terbatas. Kini, pertania hidroponik menjadi jawaban. Terlebih lagi teknologi ini bisa menjadi pengobat stress saat merawat nya sekaligus bisa memasak makanan untuk diri sendiri. Disebut demikian karena hasil panen untuk dikonsumsi sendiri. (Budiana dan Kunto

2014)

Salah satu tanaman yang bisa ditanam menggunakan media hidroponik adalah tanaman kangkung. (ipomoea aquatica forsk) menurut Sunarjono Hendro (2003) Kegunaan daunnya mempunyai peran penting bagi perekonomian Indonesia. Kebutuhan kangkung akan meningkat akibat pertumbuhan jumlah penduduk, juga akibat perubahan pola konsumsi di beberapa negara berkembang. Kangkung sangat digemari oleh masyarakat, karena kangkung memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi . Selain mengandung vitaminA, B1, danC, kangkung jugamengandung protein, kalsium, fosfor, besi, karoten, dan sitosterol.Di Indonesia dan daerah tropis lainnya kangkung menjadi bahan sayuran yang digemari dan hampir dijumpai di setiap pasar tradisional maupun supermarket. Mengingat kangkung yang memiliki kandung nutrisi yang cukup banyak tersebut dan memiliki arti penting bagi kesehatan, maka produksi kangkung perlu ditingkatkan secara kualitas maupun kuantitas. Menurut Siregar Jureni (2015), Salah satu sistem hidroponik yang ada yaitu Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST). Sistem ini mampu menyediakan oksigen terlarut dengan baik bagi tanaman. Teknologi ini dapat dioperasikan tanpa tergantung adanya energi listrik karena tidak memerlukan pompa untuk re-sirkulasi larutan hara. Hal ini menyebabkan THSTmenjadi lebih sederhana, mudah dioperasikan, dan murah, sehingga berpotensi untuk dikembangkan pada tingkat pemula

Alasan untuk bertanam secara hidroponik terapung, yaitu kebersihan tanaman terjamin, dapat memelihara tanaman lebih banyak dalam ruangan yang lebih sempit, pemakaian pupu lebih hemat, tidak bergantung pada kondisi alam setempat, tanaman

3

akan memberikan hasil yang kontinu,pengerjaannya lebih sederhana dan biaya investasi awal lebih mura dibandingkandengan metode hidroponik lainnya ( Yoditya dkk, 2015) Budiana dan Kunto, (2014) mengumakan Sitem hidroponik system terapung dengan system sumbu merupakan metode dalam bertanam secara hidroponik sederhana. Teknik ini memanfaatkan gatya kapilaritas pada sumbu untuk mengantarkan air dan nutrisi ke akar tanaman sehingga akar dapat menyerap unsur- unsur hara yang disediakan. Metode ini sangat mudah karena pembuatanya tidak mebutuhkan peralatan yang banyak. Djamhari Sudaryanto (2015) mengumakan aspek penting yang perlu juga diperhatikan dalam menentukan keberhasilan budidaya hidroponik adalah pengelolaan tanaman yang meliputi persiapan larutan nutrisi, , aplikasi larutan nutrisi. Seperti yang dikemukakan Utami Risai (2011). Pupuk hidroponik siap pakai untuk tanaman paprika tersedia di pasar dengan nama AB Mix terdiri atas dua komponen pupuk, yaitu pupuk A dan pupuk B . Pupuk A mengandung unsur Ca, yang dalam keadaan pekat tidak boleh dicampur dengan Sulfat dan Fosfat yang terdapat dalam pupuk B Salah satu peningkatan produktivitas tanaman hidroponik dilakukan dengan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT). ZPT alami yang telah lama dikenal adalah air kelapa. Air kelapa sebagai salah satu zat pengatur tumbuh alami yang lebih murah

dan mudah didapatkan. Wasnowati (2012) menyatakan bahwa Air kelapa merupakan salah satu limbah dari produk kelapa. Limbah ini banyak dibuang dan tidak dimanfaatkan. Air kelapa merupakan cairan endosperma dari buah kelapa yang mengandung senyawa organic. Air kelapa telah lama dikenal sebagai salah satu zat pengatur tumbuh alami yang lebih murah dan mudah didapatkan. Zat pengatur rumbuh merupakan senyawa organic bukan nutrisi tanaman, aktif dalam konsentrasi rendah yang dapat merangsang pertumbuhan. Secara prinsip zat pengatur tumbuh bertujuan untuk

mengendalikan pertumbuhan tanaman limbah air kelapa. Air kelapa mengandung auksin, sitokinin, asam amino, vitamin dan mineral. Komposisi ini akan berpengaruh

4

terhadap pertumbuhan. Penggunaan air kelapa telah nyata memberikan manfaat pada tanaman. Menurut Azizah Hayati (2011). Perlakuan air kelapa muda 25 % mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot segar akar, bobot segar tajuk, bobot segar total, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot kering total, volume akar, dan luas daun tebu (kastono DKK 2014) dan Perlakuan air kelapa muda 25 % mampu meningkatkan Jumlah Total Tubuh Buah Jamur Merang ( Azizah Hayati 2011) maka pada penelitian ini peneliti menggunakan air kelapa dengan konsentrasi 25% . Selain air kelapa muda, bawang merah yang diketahui mengandung senyawa allicin, allicin itu kemudian disenyawakan dengan thiamin membentuk allithiamin. Beberapa komponen ini ternyata mempunyai aktivitas biologi, misalnya kemampuan yang dapat merangsang pertumbuhan sel dan peningkatan energi (Erlianti dalam eva , 1999). Menurut Setyowati (2004 dalam agustina 2014), bahwa pemberian filtrate bawang merah dengan konsentrasi 75% memberikan hasil terbaik untuk pertumbuhan panjang akar, panjang tunas, dan jumlah tunas pada setek mawar. maka pada penelitian ini peneliti menggunakan filtrate bawang merah dengan konsentrasi 75% . Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti ingin meneliti pengaruh kecepatan pertumbuhan kangkung pada hidroponik system terapung menggunakan dua ZPT alami yaitu air kelapa muda dan air bawang merah yang dikombinasikan bisa dimanfaatkan. Hasil penelitian ini sebagai bahan ajar mata kuliah bioterapan pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya . Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian dengan judul Perbandingan Kecepatan Pertumbuhan Kangkung (Ipomoea Aquatic Forsk) Hidroponik System Terapung Dengan Penambahan Berbagai Jenis ZPT Alami Sebagai sumber bahan Ajar Bioterapan Pendidikan Biologi ”

5

1.2 Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini tidak meluas, maka peneliti memberikan batasan masalah sebagai berikut :

ZPT alami yang digunakan adalah air kelapa muda dan filtrate bawang merah yang dikombinasikan dengan AB MIX

1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pengaruh penambahan kombinasi ZPT alami air kelapa muda pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aqutica forsk) ?

2. Bagaimana pengaruh penambahan kombinasi filtrate bawang merah pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aqutica forsk) ?

3. Bagaimana pengaruh penambahan kombinasi ZPT alami air kelapa muda dan filtrate bawang merah pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aqutica forsk) ?

4. Perlakuan mana yang paling efektif pengaruhnya terhadap pertumbuhan kangkung ?

5. Bentuk bahan ajar apa yang sesuai pada penelitian pengaruh penambahan ZPT alami air kelapa muda dan filtrate bawang merah pada media AB MIX

terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aquatica forsk) ?

1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mendeskripsikan pengaruh penambahan ZPT alami air kelapa muda dan filtrate bawang merah pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aquatica forsk)

2. Untuk mendeskripsikan keefektifan AB MIX+ZPT air kelapa muda, AB MIX+filtrate bawang merah

6

3. Untuk membuat bahan ajar yang sesuai bedasarkan hasil penelitian penambahan ZPT alami air kelapa muda dan filtrate bawang merah pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aquatica forsk)

1.5 Manfaat Penelitian Mamfaat dari penelitian ini adalah :

1. Memberikan informasi kepada masyarakat secara umumnya mengenai pengaruh penambahan air kelapa muda dan filtrate bawang merah pada AB MIX media tanam hidroponik

2. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi dalam penelitian terkait.

3. Sebagai bahan ajar bioterapan pendidikan biologi universitas Muhammadiyah Surabaya.

7

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kangkung Tanaman kangkung ( Ipomoea reptans ) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak ditanam oleh petani dengan skala kecil maupun besar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Kangkung ( Ipomoea reptans ) Daunya digemari seluruh lapisan masyarakat Indonesia karena rasanya enak segar. Selain itu, kangkung banyak mengandung vitamin A, Vitamin C dan mineral terutama zat besi. Kangkung berfungsi sebagai obat tidur karena dapat menenangkan syaraf. Adapun akarnya penting untuk obat penyakit wasir (haemorrhoid). Semetara batang muda kangkung dan daun-daunya dapat disayur, ditumis, pecel, lotek, dan dapat pula dilalap (Sunarjo Hendro, 2003) Kangkung ( Ipomoea reptans ) digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasanya yang gurih. Tanaman kangkung besar manfaatnya sebagai pemenuhan asupan gizi bagi tubuh dan juga sebagai pelengkap menu masakan tradisional Indonesia.

Tabel 2.1 Kandungan Gizi Tanaman Kangkung

No

Kandungan

Jumlah

1

Kalori

3 kal

2

Protein

1,0 g

3

Lemak

0,3 g

4

Karbohidrat

7,3 g

5

Kalsium

29 g

6

Vitamin A

470 mg

7

Vitamin B1

0,05 mg

8

Air

90,9 g

Sumber : (Setiadi dalam Karlin, 2013)

Morfologi tanaman Kangkung ( Ipomoea reptans ) dicirikan dengan batang berlubang didalamnya dan bergetah. Pada ruas-ruas batang membentuk akar tunjang. Tanaman ini berakar tunggang dengan banyak akar samping. berdaun tunggal, dengan bunga umumnya bewarna putih keunguan atau putih Kangkung (Ipomea

8

Sp.). Tanaman kangkung ( Ipomoea reptans )

merupakan sayuran yang dipanen

daunya. Klasifikasi taksonomi tanaman kangkung : (Widyawati, 2015)

Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Solanales

Famili

: Convolvulacaee

Genus

: Ipomoea

Spesies

: Ipomoea reptana poir

2.2 Hidroponik

2.2.1 Sejarah dan Pengertian

Hidroponik berasal dari bahasa yunani, Pada tahun 1936 muncul istilah hidroponik yang diberikan untuk hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. WF. Gericke, seorang agronomis dari Universitas California, Amerika Serikat. Gericke dinobatkan menjadi orang yang berjasa abad ke 20. Hidroponik tidak lagi sebatas skala penelitian saja. Dengan teknik yang sederhana, hidroponik dapat diterapkan oleh siapa saja (Budiana dan Kunto 2014) Hidroponik dikenal sebagai soilless atau budidaya tanaman tanpa tanah. Istilah hidroponik digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa

menggunakan tanah sebagai media tanamanya. Dikalangan umum, istilah hidroponik ini dikenal sebagai “bercocok tanam tanpa tanah”. Hidroponik memberi keuntungan yang lebih besar, terutama bagi penduduk perkotaan yang memiliki lahan yang sempit. Cara ini memberi nilai tambah dalam menciptakan penghijauan ditempat- tempat yang tidak memungkinkan lagi ditanam pohon dengan media tanah

9

2.2.2 Macam Hidroponik

A. Sistem NFT (Natruent fil technique)

NFT dikembangkan pertama kali oleh Dr. AJ Cooper di glasshouse Crops Research Institue, little hampton, inggris pada akhir tahun 1960-an dan berkembang pada awal 1970-an secara komersial. Sistem ini adalah teknik pemberian larutan nutrisi melalui aliran yang sangat dangkal. Air yang mengandung semua nutrisi terlarut tersebut diberikan secara terus menerus selama 24 jam. Idealnya kedalaman aliran sirkulasi dalam sistem ini harus tipis

atau air lebih sedikit. Hal ini untuk memastikan perakaran selalu mendapatkan air dan nutrisi. Sistem ini memberikan limpahan oksigen kepada akar tanaman. Kelebihan :

a) Tanaman mendapat suplai air, oksigen, dan nutrisi secara terus menerus

b) Lebih menghemat air dan nutisi

c) Mempermudah perawatan karena tidak perlu melakukan penyiraman

d) Biaya yang diperlukan relatif murah

Kekurangan :

a)

Jika salah satu tanaman terkerang penyakit, satu talang tanaman akan terserang juga. Bahakan, semua tanaman yang dalam satu alat bisa tertular

b)

Metode sangat bergantung pada listrik, jika tidak ada aliran listrik sistem ini tidak akan berjalan dengan baik

B.

Sistem Fertigasi (fertilizer + drip irrigation)

Sistem fetigasi merupakan sistem yang paling banyak digunakan di dunia pertanian. Sistem ini merupakan pengembangan dari drip irrigation (irigasi tetes), tanaman disiram dengan cara meneteskan air. Modifikasinya pada sistem fertigasi. Yaitu tanaman tidak hanya diberi pengairan berupa tetesan air, tetapi air yang diteteskan juga tercampur dengan nutrisi. Dengan teknik fertigasi, biaya tenaga kerja untuk pemupukan dapat dikurangi karena pupuk diberikan bersamaan dengan penyiraman. Keuntungan

10

lain adalah peningkatan efisiensi penggunaan unsur hara karena diberi pupuk

diberikan

denitrifkasi

hara(khususnya

mengurangi unsur

dalam

jumlah

niitrogen)

sedikit,

akibat

tetapi

kontinu

:

serta

(bleaching)

(kehilangan nirogen akibat perubahan menjadi gas) Kelebihan :

a) Pemberian nutrisi sesuai dengan ukuran dan umur tanaman

b) Menjamin kebersihan dan menghindari penyakit

c) Mengatasi masalah tanah

d) Meningkatkan hasil pendapatan

e) Kualitas hasil pertanian yang lebih baik

f) Penggunaan nutrsi pupuk yang tepat

g) Hasil yang lebih banyak

Kekurangan :

pencucian

dan

a)

Modala awal yang relatif tinggi

b)

Pengetahuan yang mendalam perihal tanaman

c)

Pengurusan kebun yang berkelanjutan

d)

Kerusakan sistem pengairan berpengaruh terhadap hasil

C.

Wick System Sitem wick dikenal dengan system sumbu atau hidroponik sistem terapung

merupakan metode dalam bertanam secara hidroponik sederhana. Teknik ini memanfaatkan gaya kapilaritas pada sumbu untuk mengantarkan air dan nutrisi ke akar tanaman sehingga akar dapat menyerap unsur-unsur hara yang disediakan. Metode ini sangat mudah karena pembuatanya tidak membutuhkan peralatan yang banyak. Kelebihan :

a) tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus menerus

b) biaya alat murah, mempermudah perawatan karena tidak perlu melakukan penyiraman

11

c)

tidak tergantung aliran listrik.

Kekurangan :

a)

Air dan nutrisiyang diberikan tidaka akan dapat kembali lagi sehingga lebih

boros

b)

Banyaknya air yang diberikan akan sedikit susah diatur

D.

Aeroponik Aeroponik pertama kali dikembangkan oleh Dr. Franco Massantini di

University of Pia, Italia. Teknik ini merupakan sistem hidroponik yang menggunakan teknologi tinggi. Seperti pada sistem NFT, media tanamnya udara . akar akar menggantung di udara dikabutkan oleh larutan air nutrisi.Pengabutan ini biasanya dilakukan oleh nozzel setiap beberapa menit sekali. Karena akar0akar terekspos di udara seperti pada sistem NFT, akar akar bisa cepat mengring jika pengaturan pengabutan tergangu. Air dan nutrisi yang telah disemprotkan akan masuk kembali ke bak penampungan untuk disemprotkan kembali. Kelebihan :

a) tanaman mendapatkan pasokan air, oksigen dan nutrisi secara berkala

b) Lebih menghemat air dan nutrisi

c) Tanaman lebih mudah menyerap nutrisi karena berukuran kecil.

Kekurangan :

a)

Investasi mahal

b)

Sangat bergantung pada listrik

E.

Floating Hydoponik

Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Rosliani (2005) di Italiafloating hidroponik sistem (FHS) merupakan budidaya sayurandengan cara menanamkan sayuran pada lubang styrofoam yang mengapugdiatas permukaa larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau kolam sehingga akarnya terapung atau terendam dalam larutan nutrisi. Pada sistem ini , larutan nutrisi tidak

12

disirkulasikan , tetapi dibiarkan pada bak penampung dan dapat digunakan lagi dengan cara mengontrol kepekatan larutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini diperlukan karena akna terjadi pengkristalan dan pengendapan nutrisi didasar kolam dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga dapat menggangu pertumbuhan sayuran, sistem ini dapat diguunakan untuk daerah sumber energi

listriknya terbatas karena energi yang dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik Kelebihan :

a) Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus menerus

b) Lebih menghemat air dan nutrisi

c) Memepermudah perwatan karena tidak perlu melakukan penyiraman

d) Membutuhkan biaya yang cukup murah

Kekurangan :

a)

Oksigen akan susah didapatkan oleh tanamna tanpa bantuan alat (airstone)

b)

Akar tanaman akan lebih rentan terjadi pembususkan

2.2.3

Media dan Nutrisi

A.

Media Hidroponik

a) Rockwool : dibuat dari batu apung yang dipanaskan dan dibentuk serat

serta wafer dengan spesifikasi khusus untuk tanamna sayuran maupun tanaman hias. Awal mulanya, bahan ini digunakan sebagai pelengkap konstruksi pabrik, industri kantor dan sebagainya. Pertama kalli rockwool diciptakan abad 1800-an dan dikenal dengan naman isolasi mineral wool, bahkan isolasi batu wool. Rockwool memiliki kemampuan “menahan” air dan udara dalam jumlah banyak baik untuk mendukung perkembangan akar tanaman.

b) Hidroton: Merupakan produk tanah liat yang diproses melalui pemanasan dengan suhu tinggi 1000 ® C. Produk ini sanagt populer dikalangan petani hidroponik di jerman. Hidroton memiliki pori-pori

13

kecil, seperti spons, sangat baik dalam masalah kelebihan air untuk mencegah overwatering. Hidroton sangat inert atau tidak memilliki kandungan hara.

c) Zeolit : zeolit dibedakan menjadi dua jenis, yaitu zeolit sintesis dan zeolit alam. Zeolit sintesis adalah jenis material yang dibuat dengan rekayasa ilmiah melalui tahapan-tahapan prosedur yang cukup rumit dengan menggunakan bahan alumina, silika, dan fosfat serta bahan tambahan yang lain. Zeolit alam merupakan jenis mineral zeolit yang diperoleh langsung dari alam

d) Arang sekam. Sekam padi memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan air cadangan makan. Arang sekam padi biasa digunakan sebagai pupuk dan bahan baku briket arang. Sekam yang digunakan bisa diperoleh ditempat penggilingan padi. Arang sekam juga bisa digunakan sebagai campuran pupuk dan media tanamdi persemaian

e) Cocopeat. Cocopeat blok (serbuk sabut kelapa) yang merupakan serbuk siap pengolahan penguraian sabut kelapa yang dicetak terbentuk kubus memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Pengolahanya cukup sederhana, tetapi dapat mengangkat harga cocopeat. Cocopeat blok sering dimanfaatkan oleh perusahaan pembuat karbon baterai atau sebagai media tanam. Penggunaan cocopeat selama ini di dalam negri banyak digunakan sebagai media tanam pengganti tanah atau sebagai campuran pembuatan pupuk

f) Kerikil/pasir. Kerikil memeiliki pori-pori makro lebih banyak daripada pasir. Kerikil/sering digunakan sebagai media untuk budi daya tanaman secara hidroponik. Penggunaan media akan membantu peredaran larutan unsur hara dan udara serta tidak menekan pertumbuhan akar. Namun kerikil memiliki kemampuan mengikat air yang relatif rendah sehingga mudah basah daan cepat kering penyiraman tidak lakukan secara rutin

14

g) Pecahan genteng atau bata. Pecahan batu bata juaga dapat dijadikan alternatif sebagai medai tanam. Seperti halnya bahan anorganik mlainya, media jenis ini juga berfungsi untuk melekatkan akar. Sebaiknya, ukuran batu bata yang akan digunakan sebagai media tanam dibuat kecil. Seperti kerikil dengan ukuran sekitar 2-3 cm. semakin kecil ukuranya , kemampuan daya serap batu bata terhadap air maupun unsur hara dakan semakin baik. Selani itu , ukuran yang semaikn kecil juga akan membuat sirkulasi udara dan kelembapan disekitar akar tanaman berlangsuh lebih baik

h) Hidroge. Gel atau hidrogel adalah kristal-kristal polimer yang sering digunakan sebagai media tanam bagi tanaman hidroponik. Penggunaan media jenis ini sangat praktis dan efisien karena tidak perlu mengganti dengan yang baru, menyiram atau memupuk. Selain itu , media tanam ini memiliki keanekaragaman warna sehingga pemilihanya dapat disesuaikan dengan selera dan warna tanan. Hal tersebut akan menciptakan keindahan dan keasrian tanaman yang diletakkan di ruang tamu atau ruang kerja

i) Perlite dan vermikulit. Vermikulit merupakn media tanam yang memiliki kemampuan kapasitas tukar kation yang tinggi, terutama dalam keadaan padat dan pada saat basah. Vermikulit dapat menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya serap air jika digunkaan sebagai campuran media tanam. Vermikulit juga dapat menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya absorpsi air sehingga bisa dengan mudah diserap oleh akar tanaman

B. Nutrisi Hidroponik

a) Media Tumbuh : media tanaman berguna penopang akar untuk tumbuh. Dalam sistem hidroponik NFT, media tanamnya bukanlah tanah, tetapi lubang tanam. Pupuk diberikan kepada sayuran untuk

15

tumbuh dan berkembang. Dalam hidroponik, istilah pupuk disebut nutrisi. Perlu perhitungan yang cermat jumlah dari masing-masing unsur hara sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hal ini bukan sesuatu yang mudah. Namun, pekebun tidak harus susah dengan semua hitungan itu karena bisa menggunakan nutrisi siap pakai.

b) Nutrisi lengkap : nutrisi hidroponik adalah pupuk hisroponik lengkap yang mengandung semua unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanamn hidroponik. Pupuk tersebut diformulasi secara khusus, sesuai jenis dan fase pertumbuhan tanaman. Nutrisi hidroponik terdiri atas unsur makro dan mikro yang berbentuk garam-garam mineral yang larut 100% pada air

c) Bentuk larutan: pupuk hidroponik harus larut sempurna. Hindari bahan baku yang memiliki daya larut rendah. Apabila berdaya larut rendah dimasukkan kedalam air, akan muncul endapan berapa butiran yang dapat tersedot pompa , lalu masuk melalui selang dan terdistribusi ke talang. Endapan ini dapat menumpuk di selang sehingga menghambat aliran air. Akibatnya, sayuran terancam mati

d) Bahan baku : hidropoik sistem NFT membutuhkan pupuk dengan daya larut yang baik agar tidak ada endapan yang muncul jika dimasukkan ke dalam air. Bahan-bahan itu dibeli di toko kimia, bahan-bahanpupuk dijual dalam bentuk cair. Bahan berbentuk kristal, semisal pupuk SP- 36 yang dapat dibeli toko saprotan dapat menyebabkan butiran

e) Unsur unsur penting : Ada 12 jenis bahan kimia yang biasa dipakai untuk nutrisi hidroponik. Semuanya mengandung unsur yang berguna bagi sayuran. Dari 12 unsur tersebut, ada enam unsur utama , yaitu nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), magnesium (MG), kalium (Ca), dan sulfur (S). Karena jumlahnya banyak , unsur utama disebut unsur makro. Sementara itu untuk unsur-unsur lain disebut unsur mikro karena dibutuhkan dalam jumlah sedikit unsur unsur itu antara lain

16

boron (Bo), cuprum (Cu), besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn), dan molibden (Mo) (Budiana dan Kunto 2014). f) Komposisi : istilah unsur makro dan unsur miro ini merujuk pada komposisinya, jumlah dan dosis yang diberikan untuk sayuran. Unsur makro harus lebih banyak karena memang dibutuhkan sayuran dalam jumlah banyak . jumlah unsur mikro cenderung sedikit. Meski demikian , masing masing unsur tersebut memegang peranan penting dalam pertumbuhan sayuran. Oleh karena itu manfaat dan gejala kekuranganya perlu dipahami untuk menekan resiko kegagalan.

2.2.4 Kelebihan Dan Kekurangan Hidroponik Kelebihan :

a) Pproduksi tanamnan persatuan lebih banyak

b) Tanaman tumbuh lebih cepat

c) Pemakaian pupuk lebih hemat

d) Pemakaian air lebih efisien

e) Tenaga kerja yang diperlukan lebih sediki

f) Lingkungan kerja lebih bersih

g) Kontrol air, hara dan pH lebih teliti

h) Masalah hama dan penyakit tanaman dapat dikurangi

i) Dapat menanam dilokasi yang tidak mungkin/ sulit ditanamani, seperti di lingkungan tanah yang miskin hara dan berbatu atau digarasi(dalam ruangan lain) dengan tambahan lampu

Kelemahan :

a) Ketersediaan dan pemeliharaan perangkat hidroponik cukup sulit

b) Memerlukan keterampilan khusus untuk meramu nutrisi pupuk

c) Investasi awal yang relatif lebih besar`

17

2.3

Pertumbuhan Tanaman

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel (Kaufman dalam Nisa, 2014) (Menurut Ismail, 2013) Konsep zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon tanaman. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang rendah mempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutama tentang proses pertumbuhan, differensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-proses lain seperti pembukaan stomata, translokasi dan serapan hara dipengaruhi oleh hormon tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga dikenal dengan fitohormon, tetapi istilah ini lebih jarang digunakan. Dengan demikian tumbuhan memperlihatkan bermacam-macam kelakuan. Ini disebabkan oleh adanya faktor pertumbuhan yang merupakan sistem pengendalian dalam sel. Suwasono (1996) menambahkan Faktor pertumbuhan adalah bahan yang dibutuhkan oleh sel untuk mempertahankan kelangsungan hidup dirinya tetapi sel

tidak dapat memproduksi sendiri. Senyawa seperti itu mestilah didatangkan kedalam sel. Ditinjau dari asal senyawa itu faktor pertumbuhan dabat dibedakan menjadi dua :

1. Pengatur tumbuh, yakni senyawa-senyawa yang datang dari luar tumbuhan

2. Hormon, yakni senyawa itu dihasilkan dalam tubuh tumbuhan

Pada pertengahan 1800-an ahli fisiologi tumbuhan bangsa jerman yag terkenal, julius von sach, menduga bahwa bentuk tumbuhan disebabkan oleh adanya kegiatan senyawa-senyawa “pembentuk organ”yang bersifat spesifik, seperti senyawa “pembentuk daun”, “pembentuk bunga”, dan lainlain. Tetapi usaha untuk untuk mengisolasi senyawa-senyawa ini tidak berhasil. Penelitian baru baru ini menunjukan

18

bahwa tumbuhan mengandung senyawa-senyawa yang mendorong inisiasi proses- proses biokimia yang akhirnya mengakibatkan pembentukan organ dan aspek-aspek tumbuh lainya yaitu auxin, gibrellin, sitokinin dan fenolik ( Suwasono 1996)

2.3.1 Auksin Auksin adalah hormon tumbuhan pertama yang diketahui. Pengaruh auxin telah dipelajari pada abad ke 19 oleh ahli biologi, Charles Darwin. Auxin adalah asam indol asetat (IAA) atau IAA merupakam suatu group dan senyawa- senyawa lain , misalnya asam naftalin asetat ( dan asam 2,4 diklorof enoksi asetat ( atau disingkat 2,4 D. Efek karekteristik auxin

adalah kemampuanya mendorong pembengkokan suatu benih dan efek ini berhubungan dengan adanya suatu group atom didalam molekul auxin tersebut auksin juga digunakan untuk zat kimia yang meningkatkan perpanjangan koleoptil sekarang mengemukakan bahwa auksin diproduksi dari asam amino triptopan di dalam ujung tajuk tumbuhan. ( Suwasono 1996) konsentrasi IAA yang tinggi mengakibatkan tanaman mensintesis ZPT lain yaitu etilen yang memberikan pengaruh berlawanan dengan IAA. Berbeda dengan pertumbuhan batang, pada akar, konsentrasi IAA yang rendah memacu pemanjangan sel-sel akar, sedangkan konsentrasi IAA yang tinggi menghambat pemanjangan sel akar (Dewi dalam Hayati 2011) Oleh karenanya dapat disimpulkan :

1. Pemberian ZPT yang sama tetapi dengan konsentrasi yang berbeda

menimbulkan pengaruh yang berbeda pada satu sel target.

2. Pemberian ZPT dengan konsentrasi tertentu dapat memberikan pengaruh yang

berbeda pada sel-sel target yang berbeda. Menurut Suwono (1996) Auxin mendorong perpanjangan sel (sel elongation)dengan cara mempengaruhi metabolisme dinding sel. Efeknya adalah sedemikian rupa sehingga lebih banyak bahan dinding sel primer yang dihasilkan dan didepositkan pada ke dua unjung sel. Disamping itu, kerangka struktural sel direnggangkan sehingga dimungkinkan deposit dinding sel yang lebih banyak.

19

Dengan demikian pada tumbuhan yang normal, ujung tunas atau akar memproduksi IAAdan subtansi ini dibawa ke bagian belakang atau bagian yang lebih bawah sehingga terjadi perpanjangan sel, jika distribusi IAA merata, tunas akn memanjang lurus Pengaruh auxin terhadap berbagai aspek perkembangan tumbuhan ( Suwasono

1996)

1. Pemanjangan sel : IAA dan auxin lain merangsang pemanjangan sel, dan juga berkibat pada pemanjangan koleoptil dan batang. Distribusi IAA yang tidak merata dalam batang dan akan menimbulkan pembesaran sel yang tidak sama disertai dengan pembengkokan organ (geotropisme, fototropisme). Sel-sel meristem dalam kultur kalus dan kultur organ juga tunbuh berkat pengaruh IAA)

2. Aktivitas kambium : auxin merangsang pembelahan sel dalam daerah cambium

2.3.2 Gibrellin Pada tahun 1920 an para peneliti jepang menyelidiki suatu penyakit cendawan pada padi yang disebabkan oleh gibberella fujikuroi. Bila cendawan ini dikulturkan ternyata mengeluarkan suatu zat medium yang disebut gibrellin. Gibrellin menginisiasi sintesa amilase, enzim pencerna, dalam sel-sel aleuron, lapisan sel-sel paling luar dari endosperm. Gibrellin juga terlihat dala pengaktifan sintesa protease dan enzim-enzim hidrolitik lainya. Senyawa-senyawa gula dan asam-asam amino, zat-zat dapat larut yang dihasilkan oleh aktivitas amilase dan protease, ditranspor ke embrio, dan disi zat-zat ini mendukung perkembangan embrio dan munculnya berkecambah ( Suwasono 1996) Giberellin sebagai hormon tumbuh pada tanaman, sangat berpengaruh terhadap sifat genetik, pembungaan, penyinaran, patohenocarpy, mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan (germination) dan aspek fisiologi lainnya. Giberellin mempunyai peranan dalam mendukung: perpanjangan sel (cel elongtion), aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesa protein (Prahastuti dalam Hayati 2011).

20

Menurut Suwasono (1996) giberelin mempunyai khasiat sebagai berikut:

1. Respon terhadap gibrellin meliputi peningkatan pembelahan sel dan pembesaran sel.

2. Gibbrellin mempengaruhi panjang batang pada batang muda hormon meningkatkan panjang ruas tanpa mempengaruhi jumlah ruas.

3. Gibrellin mempengaruhi seluruh batang

2.3.3 Sitokinin Peran sitokinin pertama kali ditemukan oleh Folke Skoog. Sitokinin adalah sekelompok hormon tumbuhan dan zat pengatur tumbuh yang mendorong terjadinya pembelahan sel (sitokinesis) di jaringan meristematik. Selain peran utamanya sebagai pengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel, sitokinin juga mempengaruhi dominansi pucuk, pertumbuhan kuncup tepi, dan penuaan daun (https://id.wikipedia.org) Sitokinin dibutuhkan untuk pembelahan sel juga mengatur dan juga berhubungan luas dengan aktifitas-aktifitas kisaran dalam morfogenesis. Akar muda, biji dan buah yang belum masak (endospermnya seperti susu) terutama merupakan sumber yang kaya. Karena kinin terbukti tidak ditranslokasikan ke jaringan-jaringan ini, diperkirakan disitulah tempat sintesisnya seperti susu terutama merupakan sumber yang kaya (Franklin dalam Azizah, 2011) Pengaruh sitokinin dipengaruhi oleh konsentrasi auksin. Adanya meristem apikal, maka auksin menekan pertumbuhan tunas aksilar. Meristem apikal dibuang, konsentrasi sitokinin meningkat, merangsang pertumbuhan tunas aksilar. Sitokinin, auksin, dan faktor lainnya berinteraksi dalam mengontrol dominansi apikal. Regula si hormonal pada dominansi apikal, yaitu penghambatan secara langsung, menyatakan bahwa sitokinin dan auksin bekerja secara antagonistis dalam mengatur pertumbuhan tunas aksilar. Bekerja bersama - sama dengan auksin, sitokinin menstimulasi pembelahan sel dan mempengaruhi lintasan differensiasi. (Ismail, 2011)

21

2.4

Bawang Merah

Salah satu tumbuhan yang dianggap dapat digunakan sebagai zat pengatur tumbuh alami adalah bawang merah (Allium cepa L.). Menurut Rahayu dalam Linda (2013), bawang merah memiliki kandungan hormon pertumbuhan berupa hormon auksin dan gibberellin, sehingga dapat memacu pertumbuhan. untuk mempercepat dan memaksimalkan pertumbuhan. Setyowati (2004) menyatakan pemberian bawang merah dengan konsentrasi 75% memberikan hasil terbaik untuk pertumbuhan panjang akar, panjang tunas dan jumlah tunas pada stek mawa dan pada Penelitian Siswanto dalam Azizah (2011) menyatakan pemberian ekstrak bawang merah mampu meningkatkan pertumbuhan bibit lada panjang. Proses ini melibatkan proses pemanjangan sel sebagai akibat pengaruh auksin yang terkandung dalam ekstrak bawang merah. Berdasarkan uraian tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh ZPT bawang merah terhadap hidroponik

Tabl 2.2 Kandungan Bawang Merah

No

Kandungan

Gizi

1

Protein

1,5 %

2

Lemak

0,3 %

3

Karbohidrat

9,2 %

4

Karoten

50

IU

5

Thiamin

30

mg

6

Air

80-85%.

7

Ribloflavin

0,04 mg

8

Niasin

20

mg

9

Asam askorbat

9 mg

Sumber : Singgih (2003)

2.5 AIR KELAPA

air kelapa adalah salah satu bahan alami, didalamnya terkandung hormon seperti sitokinin 5,8 mg/l, auksin 0,07 mg/l dan giberelin sedikit sekali serta senyawa lain yang dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan (Yusnida dalam Azizah, 2011 )

22

Tabel 2.3 Komposisi kimia air kelapa Muda dalam 100 g

No

Komposisi

Jumlah

1

Kalori

17, 0 kal

2

Protein

0,2 g

3

Lemak

1, 0 g

4

Karbohidrat

3,8 g

5

Kalsium

15,0 mg

6

Fosfor

8,0 mg

7

Besi

0,2 mg

8

Asam askorbat

1,0 mg

9

Air

95,5

Sumber : Kiswanto dalam azizah (2011)

Menurut azizah (2011) pengaruh konsentrasi pemberian air kelapa pada media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil jamur Merang (Volvariella volvaceae) dapat meningkatkan diameter, panjang, total hari panen, berat, jumlah dan berat rata-rata. Selain sitokinin dan auksin, air kelapa juga mengandung giberelin dalam konsentrasi rendah. Giberelin mampu mempercepat perkecambahan biji kopi, Dengan demikian, air kelapa dapat dimanfaatkan untuk memacu pertumbuhan baik pertunasan maupun perakaran pada berbagai jenis tanaman Murniati dalam Azizah (2011)

2.6

Bahan Ajar

2.6.1

Dasar Bahan Ajar

Pengertian bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan komponen pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai bahan belajar bagi siswa dan membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas (Rusyanti,

2014)

Bahwa bahan ajar merupakan bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pengembangan suatu bahan ajar harus didasarkan pada analisis kebutuhan siswa. Terdapat sejumlah alasan mengapa perlu dilakukan pengembangan bahan ajar, seperti

23

yang disebutkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas sebagai berikut (http://www.kajianteori.com)

1.

Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum

2.

Karakteristik sasaran, artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran, karakteristik tersebut meliputi lingkungan sosial, budaya, geografis maupun tahapan perkembangan siswa

3.

Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah atau kesulitan dalam belajar

2.6.2

Bahan Ajar LKS

Bahan ajar dibedakan atas beberapa kriteria pengelompokan salah satunya adalah LKS. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dapat digunakan dan diterapkan pada pembelajaran sebagai bahan ajar dengan baik. Dalam lembar kerja siswa dapat memuat secara lengkap apa-apa saja yang dibutuhkan dalam pembelajaran, terutama adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh siswa. Lembar kegiatan siswa yang berisi langkah-langkah dan apa-apa saja yang harus dilakukan siswa menuntut siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, dengan penggunaan lembar kerja siswa (LKS) yang benar siswa tentu lebih mampu memahami apa yang sedang dipelajari karena siswa secara aktif melakukan pembelajaran mengenai suatu materi. Bentuk lembar kegiatan (LKS) jenis ini mengutamakan agar materi yang telah dipelajari siswa agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. LKS ini sangat tepat digunakan sebagai bahan ajar tentang pendidikan moral dimana siswa akan lebih memahami pentingnya materi yang telah dipelajari dan bermanfaat bagi kehidupan yang dijalani. Juga lembar kerja siswa dapat dirancang dalam berbagai bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan terhadap pembelajaran salah satunya bahan ajar bioterapan dalam materi hidroponik

24

2.7

Kerangka Berfikir

Berdasarkan pengalaman yang lalu sistem bercocok tanam dengan hidroponik cocok sekali untuk tanaman dengan jenis sayur-sayuran seperti kangkung dan nutrisi yang selama ini digunakan adalah AB MIX untuk menyuplai kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Salah satu peningkatan produktivitas tanaman hidroponik dilakukan dengan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT), ZPT alami yang telah dikenal adalah air kelapa dan filtrate bawang merah yang mengandung auksin, sitokinin dan gibrellin yang mempunyai peran besar untuk pertumbuhan tanaman. Pemanfaatan ZPT air kelapa dan filtrate bawang merah dalam budidaya kangkung dengan sistem hidroponik dapat meningkatkan produksi jumlah daun, tinggi, berat dan lebar daun

25

KANGKUNG

Faktor alam : Faktor buatan : -benih tanaman -suhu -pupuk -udara -media -cahaya Hidroponik Zpt
Faktor alam :
Faktor buatan :
-benih tanaman
-suhu
-pupuk
-udara
-media
-cahaya
Hidroponik
Zpt Murni
ZPT Alami
1. auxin
Filtrate Bawang
Air kelapa
2. gibrellin
muda
Merah
3. kinin
4.
sitokinin
1.
Auksin
1.
auksin
2.
Gibrellin
2.
sitokinin

Pertumbuhan

Auksin 1. auksin 2. Gibrellin 2. sitokinin Pertumbuhan Batang Akar Daun Indikator -berat / massa -
Auksin 1. auksin 2. Gibrellin 2. sitokinin Pertumbuhan Batang Akar Daun Indikator -berat / massa -
Auksin 1. auksin 2. Gibrellin 2. sitokinin Pertumbuhan Batang Akar Daun Indikator -berat / massa -
Auksin 1. auksin 2. Gibrellin 2. sitokinin Pertumbuhan Batang Akar Daun Indikator -berat / massa -
Auksin 1. auksin 2. Gibrellin 2. sitokinin Pertumbuhan Batang Akar Daun Indikator -berat / massa -

Batang

1. auksin 2. Gibrellin 2. sitokinin Pertumbuhan Batang Akar Daun Indikator -berat / massa - panjang
Akar
Akar
Daun
Daun

Indikator -berat / massa - panjang / ukuran - jumlah / volume

Keterangan

:

:

- panjang / ukuran - jumlah / volume Keterangan : : = tidak diteliti = diteliti

=

tidak diteliti

=

diteliti

Gambar 2.7 gambar rangkuman kerangka berfikir

26

2.8 Hipotesis Bedasarkan latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, dan kajian pusaka maka dapat dihipotesiskan bahwa :

Ha kolom

: sekurang-kurangnya ada satu jenis ZPT yang memberikan hasil

Ha baris

pertumbuhan kangkung yang berbeda : sekurang-kurangnya ada satu jenis ZPT yang memberikan hasil

pertumbuhan kangkung yang berbeda ada pengaruh penambahan kombinasi ZPT alami air kelapa dan filtrate bawang merah

pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung ( Ipomoea aquatica forsk )

27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen desain faktorial ( Kemas 2000). Penelitian ini dilakukan dengan 3 pemberian konsentrasi filtrate bawang merah dan air kelapa muda yaitu dengan pemberian konsentrasi filtrate bawang merah 0%, 75% dan air kelapa muda 0%, 25%

3.1 Desain Faktorial

 

FAKTOR A

A1

A2

FAKTOR B

B1

A1B1

A2B1

B2

A1B2

A2B2

Keterangan :

A

: konsentrasi filtrate bawang merah

B

: konsentrasi filtrate air kelapa muda

A1

: konsentrasi filtrate bawang merah 0%

A2

: konsentrasi filtrate bawang merah 75%

B1

: konsentrasi air kelapa muda 0%

B2

: konsentrasi air kelapa muda 25%

A1B1

: filtrate bawang merah 0%+air kelapa muda 0%

A2B1

: filtrate bawang merah 75%, air kelapa muda 0%

A1B2

: filtrate bawang merah 0% + air kelapa muda 25%

A2B2

: filtrate bawang merah 75% + air kelapa muda 25%

3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kediaman peneliti yaitu yang pertama jalan Wonorejo 39 Surabaya.Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai bulan Juni 2016.

28

3.3 Populasi Dan Sampel

3.3.1

Populasi Populasi dari penelitian ini adalah bibit kangkung dengan merek bangkok kemurnian 97% dan daya tumbuh minimum 70% yang didapat dari toko Neola Florist di jalan Bratang Surabaya

3.3.2

Sampel Sampel penelitian ini adalah bibit kangkung (ipomoea aquatic forsk) Jumlah sampel yang di perlukan ditentukan menggunakan rumus (Kusningrum 2008 dalam Anistyarani 2015) sebagai berikut :

(r-1)(t-1) 15

(r-1)(4-1) 15

(r-1)(3) 15

3r- 3

15

3r

15 + 3

3r

18

r

6

Jumlah Sampel 6x 4 = 24 Keterangan :

6

: jumlah replikasi

4

: jumlah perlakuan

Bedasarkan hasil perhitungan diatas jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 24

3.4

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.4.1 Variabel Penelitian Variabel dari penelitian ini terdiri dari variabel bebas, variabel terikat dan

variabel kontrol, sebagai berikut :

29

1. Variabel Bebas 1

2. Variabel Bebas 2

3. Variabel terikat

4. Variabel kontrol

: Pemberian Konsentrasi ZPT alami air Kelapa muda

: pemberian konsentrasi ZPT alami filtrate bawang merah

: pertumbuhan kangkung (ipomoea aquatica Forsk )

: pupuk AB MIX, volume air pada media Hidroponik dan penyiraman

3.4.2 Devinisi Operasional Variabel Untuk memperjelas variabel dalam penelitian ini, maka perlu

didefinisikan secara operasional yaitu sebagai berikut :

a. Air kelapa muda yang digunakan adalah air kelapa dengan tingkat kemasakan yang cukup, dengan ciri morfologi buah kulit hijau dan lebih halus, dagimg buahnya lentur. Konsentrasi air kelapa 25% didapat dengan cara mencampur air kelapa muda 25 ml dan 75 ml aquades.

b. Yang dimaksud filtrate bawang merah dalam penelitian ini adalah hasil saringan dari bawang merah yang dihaluskan. Hasil saringan dianggap sebagai filtrate dengan konsentrasi 100 %. Konsentrasi filtrate bawang merah 75% didapat dengan cara mencampur filtrate bawang merah 75 ml dengan 25 ml aquades.

c. Media AB MIX, air kelapa muda dan filtrate bawang merah adalah media tanam yang diberikan setiap minggu sekali

d. Pertumbuhan kangkung adalah perubahan tubuh kangkung yang setelah 30 hari dengan indikator : tinggi tanaman, lebar daun, berat akar dan jumlah daun.

e. Pertumbuhan kangkung diukur dengan Satuan pengukuran yang disesuaikan dengan objeknya yaitu: tinggi tanaman, lebar daun

30

menggunakan satuan

cm berat massa menggunakan satuan gram dan

jumlah daun dengan satuan buah

3.5 Teknik Pengumpulan Data dan Instrument Penelitian

3.5.1 Teknik Pengumpulan Data

Data pnelitian ini dikumpulkan dengan teknis sebagai berikut :

1.

Alat dan bahan 1) Steroform

 

2)

Kain flanel

3)

Bak

4)

Net Pot

5)

Gelas ukur

6)

Rock woll

7)

Cobek dan ulekan

8) Saringan

9)

Beker glass

10) Bibit kangkung 11) Air 12) Bawang merah 13) Air kelapa muda

14) AB mix

2.

Prosedur

A.

Cara menyemai pada media Hidropoik

1)

Mengukur dan memotong rock woll dengan ukuran 2 x 2 x 2 x 2 cm.

2)

Merendam dan mengkibas-kibaskan rock woll agar kandungan airnya

3)

tidak terlalu banyak. Melubangi rock woll sesuai dengan ukuran bibit kangkung yang akan disemai menggunakan lidi.

31

4)

Menanam bibit kangkung pada rock woll yang telah dilubangi.

5) Menyusun rock woll yang berisi bibit kangkung pada bak yang telah disediakan untuk mempermudah pengamatan.

6) Menutup bak menggunakan plastik hitam agar tidak terjadi etiolasi pada bibit saat proses penyemaian berlangsung.

7)

8) Setelah kangkung menjadi tanaman yang sempurna dipindah ke media hidroponik sistem terapung

Mengecek dan menyiram setiap hari

B. Cara membuat ZPT bawang merah 1) Memotong bawang merah yang telah di kupas kulitnya menjadi ukuran yang lebih kecil untuk mempermudah saat proses penumbukan atau penghalusan.

2)

Menumbuk potongan bawang merah hingga halus.

3)

Memeras filtrate bawang merah yang telah dihaluskan.

4) Mengukur filtrate bawang merah sesuai konsentrasi yang akan

digunakan :

a) Filtrate bawang merah 0% (0% : 100% air) atau 0 ml filtrate bawang merah dicampur dengan 1000 ml aquades

b) Filtrate bawng merah 75% ( 3 : 1 ) atau 75 ml filtrate bawang

merah dicampur dengan 25 ml aquades. Jika dibutuhkan 1000 ml maka dengan cara mencampur 250 ml air kelapa muda dan 750 ml aquades

C. Cara membuat ZPT air kelapa muda

1)

Ambil air kelapa muda

2)

mengukur air kelapa muda sesuai konsentrasi yang akan digunakan

a)

Air kelapa muda konsentrasi 0%( 0% : 100% air ) atau ( 0 ml air kelapa muda dicampur dengan 1000 ml aquades )

32

b) Air kelapa muda konsentrasi 25%( 1 : 3 ) atau 25 ml air kelapa muda dicampur dengan 75 ml aquades. Jika menggunakan 1000 ml maka dengan cara mencapur 750 ml filtrate bawang merah dan 250 ml aquades.

D. Cara pemberian ZPT pada hidroponik 1) Tuangkan satu tutup botol AB MIX A dan B kedalam hidroponik sistem terapung A1B1 2) Tuangkan ZPT air kelapa muda yang ditambah AB MIX kedalam hidroponik sistem terapung sebanyak 1000 ml A1B2 3) Tuangkan ZPT filtrate bawang merah yang ditambah AB MIX kedalam hidroponik sistem terapung sebanyak 1000 ml A2B1 4) Tuangkan ZPT filtrate bawang merah dan air kelapa muda yang ditambah AB MIX kedalam hidroponik sistem terapung sebanyak 1000 ml A2B2

3.5.2

Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini, yaitu:

1. Alat ukur yang dipakai berupa penggaris untuk tinggi tanaman, neraca ohaus untuk mengukur berat basah dan berat akar

2. Tabulasi data pertumbuhan kangkung terlampir

3.6

Tekhnik Analisis Data

Data hasil penelitian ini dianalisis secara stastitik dengan metode ANNOVA dua arah pada α 5% Hasil anova , jika ada perbedaan analisis dilanjutkan dengan uji beda LSD. Proses analisis data dilakukan dengan menggunakan progam SPSS versi 2016 (juliansyah,2010). Karena uji hipotesis F hitung > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima atau jika P < 0,05 Ho ditolak dan Ha diterima. Jika F hitung < F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak atau jika P > 0,05 Ho diterima dan Ha ditolak.

33

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Penyajian Data Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman

kangkung (Ipomoea aquatic forsk) mulai masa saat tanaman sampai masa panen

sebagai berikut :

PERLAKUAN

   

A1

   

A2

 

B1

I

26

28

33

31

30

32

25

26

38

31

33

26

II

1,9

3

1,7

3,04

1,9

2,1

2

2,6

3,5

2,3

3,1

1,8

III

10

9

12

10

10

10

15

17

23

20

21

21

IV

5,5

5,5

5,5

6

5,5

5,5

5,5

5,5

5,5

5,5

6

6

B2

I

29

34

35

39

41

44

29

30

33

31

39

34

II

2,5

3,5

2,6

3,4

3,1

3,2

1,8

3,3

1,4

1,7

2,9

2,2

III

12

12

9

12

13

11

12

10

10

10

10

10

IV

5,5

5,5

5,5

5,5

5,5

5

5,5

5

5

5

5

5

Keterangan :

A1

: konsentrasi filtrate bawang merah 0%

A2

: konsentrasi filtrate bawang merah 75%

B1

: konsentrasi air kelapa muda 0%

B2

: konsentrasi air kelapa muda 25%

I

: tinggi tumbuhan kangkung

II

: berat tumbuhan kangkung

III

: jumlah daun tumbuhan kangkung

IV

: lebar daun tumbuhan kangkung

Tabel 4.1 data rata-rata pertumbuhan kangkung

Perlakuan

Perlakuan Tinggi Berat Tanaman Jumlah daun Lebar daun

Tinggi

Perlakuan Tinggi Berat Tanaman Jumlah daun Lebar daun

Berat Tanaman

Perlakuan Tinggi Berat Tanaman Jumlah daun Lebar daun

Jumlah daun

Lebar daun

Lebar daun

A1B1

 

10,1

 

2,27

 

10,1

5,5

A1B2

 

11,5

 

3,05

 

11,5

5,4

A2B1

 

21,1

 

2,55

 

21,1

5,6

A2B2

 

10,3

 

2,21

 

10,3

5

34

4.2 Hasil Analisis Data

4.2.1 Pengujian data untuk tinggi tanaman kangkung

Data diuji distribusinya dengan uji normalitas, hasil uji normalitas didapat p>α hal ini menunjukan Ho ditolak yang artinya berdistribusi normal. Karena data berdistribusi normal maka uji selanjutnya dengan uji annova. Pengujian data untuk tinggi tanaman kangkung di uji annova dua arah pada α=0,05 dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 4.2 Hasil Anova dua arah untuk tinggi

Sumber

Jumlah Kuadrat

Derajat Bebas

Kuadrat

F hitung

 

Keragaman (SK)

(JK)

(db)

Tengah (KT)

F tabel

Kolom (K)

201,455

3

67,151

6,38

2,35

Baris (B)

218,375

5

43,675

4,15

3,06

Interaksi (BK)

426,96

15

28,46

2,7

0,28

Galat (G)

157,795

15

KTG =10,51

   

Total (T)

577,625

23

     

Jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. Bedasarkan hasil uji

Annova dua arah diatas didapat

:

 

F

hitung kolom (perlakuan)

: 6,38

F

hitung baris (pengulangan)

: 4,15

F

hitung interaksi

: 2,7

F

tabel kolom (p)

: 2,35

F

tabel baris (r)

: 3,06

F

tabel interaksi

:

0,28

Hal ini menunjukan bahwa Fhitung > F tabel baik untuk kolom 6,38>3,06 maupun baris 4,15>3,06 dan interaksi 2,7> 0,28 maka Ho ditolak yang artinya penambahan ZPT alami filtrate bawang merah dan air kelapa muda pada media AB

MIX memberi pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman kangkung (

Ipomoea reptans ) di hidroponik sistem terapung. Baik untuk pengulangan maupun

perlakuan

35

Untuk melihat sejauh mana perbedaan pengaruh penambahan ZPT alami filtrate bawang merah dan air kelapa muda pada media AB MIX memberi pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman kangkung ( Ipomoea reptans ) di hidroponik sistem terapung, dilakukan uji LSD sebagai lanjutan. Adapun hasil uji LSD sebagai berikut

N0

Aspek

Perlakuan

Sig

Keterangan

1

 

A1B1

A1B2

0,11

Berbeda

A1B1

A2B1

0,948

Tidak berbeda

A1B1

A2B2

0,300

Tidak berbeda

Tinggi tanaman

A1B2

A1B1

0,011

Berbeda

A1B2

A2B1

0,010

Berbeda

kangkung

A1B2

A2B2

0,099

Tidak berbeda

 

A2B1

A1B1

0,948

Tidak berbeda

A2B1

A1B2

0,010

Berbeda

A2B1

A2B2

0,271

Tidak berbeda

A2B2

A1B1

0,300

Tidak berbeda

A2B2

A1B2

0,099

Tidak berbeda

A2B2

A2B1

0,271

Tidak berbeda

Bedasarkan tabel data diatas menunjukan bahwa perlakuan yang berbeda signifikan didapat antara perlakuan A1B1 (filtrate bawang merah 0%+air kelapa muda 0%+AB MIX)dengan A1B2, A1B2(filtrate bawang merah 0% + air kelapa muda 25% + AB MIX) dengan A1B1 dan A1B2, A2B1(filtrate bawang merah 75%, air kelapa muda 0% + AB MIX) dengan A1B2 sedangkan antara perlakuan A1B1 dengan A2B1, A2B2 dan A1B2 dengan A2B2. A2B1 dengan A1B1, A2B2 dan A2B2(filtrate bawang merah 75% + air kelapa muda 25% + AB MIX) dengan A1B1, A1B2, A2B2 tidak menunjukan perbedaan secara signifikan

4.2.2 Pengujian data untuk berat tanaman kangkung

Data diuji distribusinya dengan uji normalitas, hasil uji normalitas didapat p>α hal ini menunjukan Ho ditolak yang artinya berdistribusi normal. Karena data berdistribusi normal maka uji selanjutnya dengan uji annova. Pengujian data untuk berat tanaman kangkung di uji annova dua arah pada α=0,05 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

36

Tabel 4.3

Hasil Anova dua arah untuk berat

Sumber

Jumlah Kuadrat

Derajat Bebas

Kuadrat

F hitung

 

Keragaman (SK)

(JK)

(db)

Tengah (KT)

F tabel

Kolom (K)

1,09

3

0,86

0,7

3,29

Baris (B)

2,81

5

0,562

0,51

2,90

Interaksi (BK)

3,68

15

7,96

3,01

3,04

Galat (G)

7,69

15

0,24

   

Total (T)

10,09945

23

     

Jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. Bedasarkan hasil uji

Annova dua arah diatas didapat

:

F

hitung kolom (perlakuan)

: 0,7

F

hitung baris (pengulangan) : 0,51

F

hitung interaksi

: 3,01

F

tabel kolom (p)

: 3,29

F

tabel baris (r)

: 2,90

F

tabel interaksi

: 3,04

Hal ini menunjukan bahwa Fhitung < F tabel baik untuk kolom 0,7<3,29

maupun baris 0,51<2,90 dan interaksi 3,01<3,04 maka Ho diterima yang artinya penambahan ZPT alami filtrate bawang merah dan air kelapa muda pada media AB

MIX tidak memberi pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman

kangkung

pengulangan maupun perlakuan

reptans ) di hidroponik sistem terapung. Baik untuk

(

Ipomoea

4.2.3 Pengujian data untuk jumlah daun tanaman kangkung

Hasil uji normalitas data dengan kolmogorof smirnov bahwa data tidak terdistribbusi normal (0,000) maka dilanjutkan dengan uji friedman . Hasil uji friedman untuk data jumlah daun adalah sebagai berikut

37

Tabel 4.8 Hasil uji Friedman

Test Statistics a

Test Statistics a

N

Chi-Square

Df

Asymp. Sig.

6

13.661

3

.003

a. Friedman Test

a. Friedman Test

Berdasarkan tabel tersebut diperoleh p < α → 0,003 < 0,05 hal ini menunjukkan H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada pengaruh penambahan ZPT alami filtrate bawang merah dan air kelapa muda pada media AB MIX terhadap jumlah daun pertumbuhan tanaman kangkung (Ipomoea reptan ) di hidroponik sistem terapung. Untuk mengetahui antar perlakuan mana yang berbeda maka dilanjutkan uji LSD

N0

Aspek

Perlakuan

Sig

Keterangan

1

 

A1B1

A1B2

0,202

Tidak berbeda

A1B1

A2B1

0,000

Berbeda

A1B1

A2B2

0,871

Tidak berbeda

A1B2

A1B1

0,202

Tidak berbeda

Jumlah daun

A1B2

A2B1

0,000

Berbeda

tanaman kangkung

A1B2

A2B2

0,262

Tidak berbeda

A2B1

A1B1

0,000

Berbeda

A2B1

A1B2

0,000

Berbeda

A2B1

A2B2

0,000

Berbeda

A2B2

A1B1

0,871

Tidak berbeda

A2B2

A1B2

0,262

Tidak berbeda

A2B2

A2B1

0,000

Berbeda

Bedasarkan tabel data diatas menunjukan bahwa perlakuan yang berbeda signifikan didapat antara perlakuan jumlah daun A1B1(filtrate bawang merah 0%+air kelapa muda 0%+AB MIX) terhadap A2B1, A1B2(filtrate bawang merah 0% + air kelapa muda 25% + AB MIX) terhadap A2B1 dan A2B1(filtrate bawang merah 75%, air kelapa muda 0% + AB MIX) terhadap A1B1, A1B2 dan A2B2 mengalami perbedaan secara signifikan.

38

4.2.4

Pengujian data untuk lebar daun tanaman kangkung

Hasil uji normalitas data dengan kolmogorof smirnov bahwa data tidak terdistribbusi normal (0,000) maka dilanjutkan dengan uji friedman . Hasil uji

friedman untuk data jumlah daun adalah sebagai berikut :

Tabel 4.8 Hasil uji Friedman

Test Statistics a

N

6

Chi-Square

3.667

Df

3

Asymp. Sig.

.300

a. Friedman Test

Berdasarkan tabel tersebut diperoleh p > α → 0,3 > 0,05 hal ini menunjukkan H0 diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada pengaruh penambahan ZPT alami filtrate bawang merah dan air kelapa muda pada media AB MIX terhadap lebar daun pertumbuhan tanaman kangkung ( Ipomoea reptans ) di hidroponik sistem terapung.

4.3 Bentuk Bahan ajar yang disusun bedasarkan penelitian

Pengertian Lembar Kegiatan Siswa (student work sheet) adalah lembaran- lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kerja ini berisi petunjuk dan langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa tugas teori dan atau tugas praktik. Tugas teoritis misalnya tugas membaca sebuah artikel tertentu, kemudian membuat rangkuman yang selanjutnya dipresentasikan.Sedangkan tugas praktis dapat berupa kerja laboratorium atau turun langsung dalam pembuatan hidroponik. Struktur lembar kegiatan siswa secara umum terdiri dari judul lembar kegiatan siswa, mata pelajaran, semester, tempat, petunjuk belajar,kompetensi yang akan dicapai, indikator yang akan dicapai oleh siswa, informasi pendukung, tugas-tugas dan langkah-langkah kerja serta penilaian. Tugas yang dikerjakan siswa dalam lembar

39

kegiatan siswa sudah sesuai dengan kompetensi dasar . Oleh karena itu dalam LKS ZPT hidroponik terlebih dahulu dengan menganalisis kurikulum, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator serta materi pembelajaran, menyusun peta kebutuhan lembar kegiatan siswa, menentukan judul lembar kegiatan siswa, selanjutnya baru menyusun lembar kegiatan siswa serta menentukan alat penilaiannya. Kriteria lembar kegiatan siswa pada penelitian ini dibuat untuk menimbulkan menimbulkan minat baca, ditulis dan dirancang untuk siswa, menjelaskan tujuan instruksional, disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel, struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai, memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih, mengakomodasi kesulitan siswa, memberikan rangkuman, gaya penulisan komunikatif dan semi formal, kepadatan berdasar kebutuhan siswa, dikemas untuk proses instruksional, mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa, menjelaskan cara mempelajari bahan ajar. Manfaat adanya lembar kegiatan siswa ZPT Hidroponik adalah memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran serta bagi siswa sendiri akan melatih untuk belajar secara mandiri dan belajar memahami suatu tugas hidroponik.

4.4 Pembahasan pengamatan tinggi tanaman kangkung pada A1B2 (filtrate bawang merah 0% + air kelapa muda 25% + AB MIX) lebih unggul daripada perlakuan lainya. Hal ini disebabkan karena pengaruh air kelapa muda yang mengandung sitokinin, gibrelin dan auksin. Menurut Suwono (1996) Auksin dan gibrellin Gibbrellin mempengaruhi panjang batang pada batang muda hormon meningkatkan panjang ruas tanpa mempengaruhi jumlah ruas dan juga berkibat pada pemanjangan koleoptil dan batang sedangkan sitokinin mempengaruhi merangsang pertumbuhan tunas. Sitokiin yang dipengaruhi auksin dapat menstimulasi pembelahan sel (Ismail, 2011) Hasil pengamatan lebar daun tanaman kangkung pada perlakuan A2B1(bawang merah 75%+ air kelapa 0% + AB MIX) lebih unggul daripada perlakuan lainya. Hal ini disebabkan karena bawang merah yang mengandung auksin

40

dan gibrellin sehingga dapat mempercepat dan memaksimalkan pertumbuhan lebar daun. Gibrellin mendorong perpanjangan sel (sel elongation)dengan cara mempengaruhi metabolisme dinding sel pada daun sedangkan auxin merangsang pembelahan sel dalam daerah kambium pada daun. Hasil pengamatan berat tanaman kangkung pada perlakuan A1B2 (filtrate bawang merah 0% + air kelapa muda 25% + AB MIX) lebih unggul daripada perlakuan lainya. Hal ini disebabkan karena pengaruh air kelapa muda yang mengandung sitokinin, gibrelin dan auksin. Menurut Suswono (1996) Gibrellin meliputi peningkatan pembelahan sel dan pembesaran sel. Sitokinin mempengaruhi hormon pertumbuhankangkung sedangkan Auxin mendorong perpanjangan sel (sel elongation)dengan cara mempengaruhi metabolisme dinding sel. Ujung tunas atau akar memproduksi IAA dan subtansi ini dibawa ke bagian belakang atau bagian yang lebih bawah sehingga terjadi perpanjangan sel, jika distribusi IAA merata, tunas akan memanjang lurus membuat tanaman kangkung menjadi lebih besar (Suswono, 1996). Hasil pengamatan jumlah daun pada perlakuan A2B1( filtrate bawang merah 75%, air kelapa 0% + AB MIX) lebih unggul daripada perlakuan lainya Hal ini disebabkan karena bawang merah yang mengandung auksin dan gibrellin. Auksin mendorong perpanjangan sel dengan cara mempengaruhi metabolisme dinding sel yang dapat membuat tumbuhan kangkung menjadi lebih besar dan menambah daun pada tumbuhan kangkung. Sedangkan pada gibrelin mendukkung peranan sel dak aktivitas kambium yang mempengaruhi seluruh batang yang membentuknya tumbuh daun (Suswano,1996) Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pemberian konsentrasi yang tepat dapat menunjang pertambahan berat dan jumlah buah, tinggi dan lebar daun.pemberian konsentrasi yang berlebihan dapat memperlambat pertumbuhan . Menurut Suriawiri dalam azizah (2001), tanaman mempunyai batas tertentu terhadap konsentrasi unsur hara. Konsentrasi unsur hara kurang, maka akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat karena tanaman kurang mendapat unsur yang dibutuhkan untuk proses metabolisme. Konsentrasi hormon terlalu tinggi, akan

41

menyebabkan gangguan pada tumbuhan karena hormon yang diserap tumbuhan menyebabkan tubuh mengalami pertumbuhan yang tidak baik. Terhambatnya pertumbuhan tanaman disebabkan karena penimbunan hormon oleh tanaman menyebabkan air tubuh terserap menuju timbunan hormone sehingga tubuh tanaman tidak bagus. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil tinggi, berat, lebar daun dan jumlah daun. Air pada hidroponik yang tercampur air hujan dapat merusak konsentrasi ZPT pada hidroponik. maka peneliti memberikan atap agar air hujan tidak memberikan dampak buruk pada penelitian. Serangan hewan pada air hidroponik dapat memberikan pengaruh buruk pada tanaman yang menyebabkan secara perlahan tanaman tersebut mati. Maka sebagai peniliti harus mengontrol setiap hari agar penelitian berjalan dengan lancar

42

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan Bedasarkan penelitian dan analisis data maka dapat disimpulkan ;

1) Ada pengaruh penambahan kombinasi ZPT alami air kelapa muda pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aqutica forsk) mempunyai pengaruh pada tinggi dan berat 2) Ada pengaruh penambahan kombinasi ZPT alami filtrate bawang merah pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aqutica forsk) mempunyai pengaruh pada lebar daun dan jumlah daun 3) Ada pengaruh penambahan kombinasi ZPT alami air kelapa muda dan filtrate bawang merah pada media AB MIX terhadap pertumbuhan kangkung (ipomoea aqutica forsk).

4) Perlakuan yang paling efektif pengaruhnya terhadap pertumbuhan kangkung untuk tinggi tanaman pada perlakuan A1B2 dengan rata-rata 37 cm. Untuk lebar daun tanaman pada perlakuan A2B1dengan rata-rata 5,6

cm

sedangkan berat tanaman pada perlakuan A1B2 dengan rata-rata 3,05

dan

untuk jumlah daun pada perlakuan A2B1 dengan rata-rata 5,6 cm

5)

Bahan ajar yang dibuat dari hasil penelitian ini adalah LKS Bioterapan

5.2 Saran Bedasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata masih ada hal-hal

yang

perlu diperhatikan diantaranya adalah

1) Perlu dilakukkan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang

lebih baik

43

2) Hendaknya ada kerja sama antara lembaga dan masyarakat, untuk melakukan sosialisasi tentang ZPT air kelapa dan filtrate bawang merah terhadap hidroponik

44

DAFTAR PUSTAKA

Ali Kemas, 2000. Rancangan percobaan teori dan aplikasi Jakarta Fajar Interpratama offiset

Anistrayani 2011. pemgaruh pemberian pupuk organik cair daun turi (sesbania grandiflora) terhadap berat tanaman selada (lactuca sativa). Universitas Muhammadiyah Surabaya

Azizah

hayati

2011.

Pengaruh

konsentrasi

pemberian

air

kelapa

terhadap

pertumbuhan dan hasil jamur merang (Volvariella. Jember : universitas Jember

Berlian Nur dan Rahayu Estu,2007 bawang Merah Jakarta Penebar Swadya

Budiana N.S dan Herwibowo Kunto 2014 Hidroponik Sayuran Jakarta Penebar Swadaya

Djamhari Sudaryanto 2012 biokompos cair dan pupuk kimia npk sebagai alternatif nutrisi pada budidaya tanaman caisim teknik hidroponik. Jakarta . Pusat Teknolgi Produksi Pertanian

Ismail. 2013. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. ANKASA Bandung Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonenesia. Bandung.

Heddy Suwasono 1996 Hormon Tumbuhan Jakarta Rajawali Pers

Imran syaiful .(2016). Macam-Macam Bentuk Lembar Kegiatan Siswa (LKS) sebagai Bahan Ajar. online http://ilmupendidikan.net/pembelajaran/bahan-ajar//bentuk- lembar-kegiatan-siswa diakses tanggal 9 bulan 8 tahun 2016

Khairani 2015 Bawang Merah & Thibbun nabawi Surabaya Alfasyam Publishing

Melinda Pratiwi 2010 Optimasi formula tablet lepas lambat kaptopril menggunakan metode desain faktorial SurabayaFakultas Farmasi Unika Widya Mandala Surabaya

Ruri Siti 2015 pengaruh konsentrasi dan lama perendaman ekstrat bawang merah (Allium cepa L.) Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim

Rosliani, R., N. Sumarni., 2005. Budidaya Tanaman Sayuran Dengan Sistem Hidroponik. Bandung : Balai Penelitian Tanaman Sayuran.

45

Rusyanti

Hetty.

(2016).

Pengertian

bahan

ajar

menurut

teori.

Didapat

dari

diakses tanggal 9 bulan 8 tahun 2016 Setyowati T. 2004.Pengaruh Ekstrak Bawang Merah (Alium cepa L.) dan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L.) tehadap pertumbuhan Stek Bunga Mawar (Rosa sinensis L).Gadjah Mada Universitaas press. Yogyakarta

Siregar

Jureni.

2015.

pengujian

beberapa

nutrisi

hidroponik

pada

selada

(lactucasativa

l.)

dengan

teknologi

hidroponik

system

terapung

(thst)

termodifikasi HAL 1-2

Siregar Putri. 2015. Pertumbuhan Bibit Gaharu dengan pemberian ZPT bawang merah Universitas Riou

Sunarjono Hendro. 2003. Bertanam 30 Jenis Sayur Bogor Penebar swadaya

Sunarjono Hendro. 2013. Bertanam 36 Jenis Sayur Jakarta Penebar swadaya

Suwasono. 1996. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Utami Rizqi. 2014. sumber sebagai hara pengganti ab mix pada budidaya sayuran daun secara hidroponik IPB darmaga Bogor

Wasonowati. C. 2011. Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum) Dengan Sistem Budidaya Hidroponik. Agrigov 4(1): 21-27.

Wibowo Singgih. 2003. Budidaya Bawang Jakarta Penebar Swadaya

Widyawati Nugraheni. 2013. Urban Farming Gaya Bertani Spesifik Kota Yogyakarta lily publisher

Widyawati Nugraheni. 2015. 29 Jenis Sayur Dalam Pot Yogyakarta. lily publisher.

.

46

LAMPIRAN 2

Uji Normalitas Jumlah Daun Kangkung (Cm) Umur 30 Hari Setelah Tanam

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

hasil

N

24

Normal Parameters a,b

Mean

12,8750

Std. Deviation

4,26627

Most Extreme Differences

Absolute

,290

Positive

,290

Negative

-,182

Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed)

,290

,000 c

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Signifikansi 0,000 < α 0,05 → data tidak berdistribusi normal

Uji normalitas berat tumbuhan kangkung (gram) umur 30 hari setelah tanam

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

Hasil

N

24

Normal Parameters a,b

Mean

32,3750

Std. Deviation

5,01140

Most Extreme Differences

Absolute

,123

Positive

,123

Negative

-,077

Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed)

,123

,200 c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Signifikansi 0,200 > α 0,05 → data berdistribusi normal Uji normalitas lebar daun kangkung (cm) umur 30 hari setelah tanam

47

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

hasil

N

24

Normal Parameters a,b

Mean

5,4375

Std. Deviation

,30619

Most Extreme Differences

Absolute

,331

Positive

,294

Negative

-,331

Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed)

,331

,000 c

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Signifikansi 0,000 < α 0,05 →

Uji Normalitas Tinggi Tanaman Kangkung (Cm) Umur 30 Hari Setelah Tanam

data tidak berdistribusi normal

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

hasil

N

24

Normal Parameters a,b

Mean

32,3750

Std. Deviation

5,01140

Most Extreme Differences

Absolute

,123

Positive

,123

Negative

-,077

Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed)

,123

,200 c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Signifikansi 0,200 > α 0,05 → data berdistribusi normal

48

LAMPIRAN 3

Nilai rangking jumlah daun Tabel uji friedman Nilai rangking

Ranks

Mean Rank

A1B1

1.58

A1B2

2.58

A2B1

4.00

A2B2

1.83

Nilai rangking lebar daun Tabel uji friedman Nilai ranking

Ranks

Mean Rank

A1B1

2.58

A1B2

2.25

A2B1

2.92

A2B2

2.25

49

LAMPIRAN 4

Uji Annova dua jalur (two way annova) Tinggi Tanaman Kangkung

Perlakuan

 

Pengulangan

   

A1B1

A1B2

A2B1

A2B2

Total Baris

1

26

29

25

29

T1*=109

2

28

34

26

30

T2*=118

3

33

35

38

33

T3*=139

4

31

39

31

31

T4*=132

5

30

41

33

39

T5*=143

6

32

44

26

34

T6*=136

Tabel

T*1=

T*2=222

T*3=179

T*4=196

Total T**=777

kolom

180

JKT (jumlah kuadrat total)

:

:
:

:

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

: 25733 25155,375 = 577,625

JKB (jumlah kuadrat baris)

:

+ + + + + + + + + + + : 25733 – 25155,375 =

50

:

 

(

)

 

:

25373,75 25155,375

:

218,375

JKK (jumlah kuadrat kolom) :

 

(

)

:

 

(

)

 

: 25356,83 25155,375

: 201,455

JKG (jumlah kuadrat galat)

: JKT JKB JKK

 

:

577,625 - 218,375 201,455

:

157,795

KTB (kuadrat tengah baris)

:

:

:

43,675

KTK (kuadrat tengah kolom) :

KTG (kuadrat tengah galat)

:

:

67,151

:

(

(

:

(

(

:

10,51

51

F

hitung baris

:

 

:

:

4,15

F

hitung kolom

:

 

:

:

6,38

JK(BK)

:

hitung kolom :   : : 6,38 JK(BK) : : - - + :94,3+ 4192,56  

:

-

-

+

:94,3+ 4192,56

 

: 4192,76

 

Db numer3

 

: (r-1) (k-1)

 

:

(6-1) (4-1)

:15

 

KT(BK)

 

:

(

(

(

 

:

F hitung

: 279,51

:

(

:

: 2,

Sumber Keragaman (SK)

Jumlah Kuadrat

Derajat Bebas

Kuadrat

F

hitung

(JK)

(db)

Tengah (KT)

 
       

F

hitung =

Kolom (K)

JKK = 201,455

db JKK = 4-1 = 3

KTK =67,151

6,38

 

JKB = 218,375

   

F

hitung =

Baris (B)

db JKB = 6-1 =5

KTB =43,675

4,15

Interaksi (BK)

JK(BK)=4192,76

db JK(BK) (6-1)(4-1) = 15

KT(BK)

F hitung

=279,51

= 2,7

Galat (G)

JKG = 157,795

db JKG= 5.3=15

KTG =10,51

 

Total (T)

JKT =577,625

DbJKT=24 -1 =23

   

Uji Annova dua jalur (two way annova) Berat Tanaman Kangkung

Perlakuan

 

Pengulangan

   

A1B1

A1B2

A2B1

A2B2

Total Baris

1

1,9

2,5

2

1,8

T1*=8,2

2

3

3,5

2,6

3,3

T2*=12,4

3

1,7

2,6

3,5

1,4

T3*=9,2

4

3,04

3,4

2,3

1,7

T4*=10,44

5

1,9

3,1

3,1

2,9

T5*=11

6

2,1

3,2

1,8

2,2

T6*=9,3

Tabel

T*1=

T*2=18,3

T*3=15,3

T*4=13,3

Total T**=60,54

Kolom

13,64

JKT (jumlah kuadrat total) :

T*1= T*2= 18,3 T*3= 15,3 T*4= 13,3 Total T **=60,54 Kolom 13,64 JKT (jumlah kuadrat total)

53

:

: + + + + + + + + + + + + + +
:
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
- (
: 162,8116 – 152,71215
: 10,09945
JKB (jumlah kuadrat baris)
:
:
– (
)
:
155,53-154,22
:
1,31
JKK (jumlah kuadrat kolom) :
∑ (
)
:
– (
)
155,31- 154,22

: 1,09

JKG (jumlah kuadrat galat)

: JKT JKB JKK

 

:

10,09 - 1,31 1,09

:

7,69

KTB (kuadrat tengah baris)

:

:

54

:

0,262

KTK (kuadrat tengah kolom) :

 
 

:

:

0,36

KTG (kuadrat tengah galat)

:

(

(

:

(

(

:

0,51

F

hitung baris

:

 

:

:

0,51

F

hitung kolom

:

 

:

:

0,7

JK(BK)

:

:   : : 0,51 F hitung kolom :   : : 0,7 JK(BK) : :

:

:94,3+ 25,4

: 119,7

+

-

-

Db numer3

KT(BK)

F hitung

: (r-1) (k-1)

: (6-1) (4-1)

:15

:

(

(

(

:

: 7,98

:

:

(

: 3,01

Agar mempermudah perhitungan dapat menggunakan tabel berikut:

Sumber Keragaman (SK)

Jumlah Kuadrat

Derajat Bebas

Kuadrat Tengah

F

hitung

(JK)

(db)

(KT)

       

F

hitung

Kolom (K)

JKK = 201,455

db JKK = 4-1 = 3

KTK =0,36

=

0,7

 

JKB = 1,31

   

F

hitung

Baris (B)

db JKB = 6-1 =5

KTB = 0,262

=

0,51

 

JK (BK) = 119,7

Db JK (BK) (6-1) (4-1)=15

 

F

hitung

Interaksi (BK)

KT(BK)=7,98

=3,01

Galat (G)

JKG = 7,69

db JKG= 5.3=15

KTG =0,51

 

Total (T)

JKT =10,09945

DbJKT=24 -1 =23

   

56

LAMPIRAN 5

Standar Deviasi Tinggi Tanaman Kangkung

A1B1

NO

x₁

x₁ᶻ

1

26

676

2

28

784

3

33

1089

4

31

961

5

30

900

6

32

1024

£

180

5434

Rumus Varian :

(∑

6 32 1024 £ 180 5434 Rumus Varian : ∑ ∑ (∑ s ᶻ = (

s=

(

(

s= 6,8

) = 180=32400

57

Rumus standart deviasi :

Rumus standart deviasi : S= √ S =2,6 Standar Deviasi Tinggi Tanaman Kangkung A1B2 NO x₁

S=

S =2,6

Standar Deviasi Tinggi Tanaman Kangkung

A1B2

NO

x₁

x₁ᶻ

1

29

841

2

34

1156

3

35

1225

4

39

1521

5

41

1681

6

44

1936

£

222

9455

(∑

) = 222=49284

58

Rumus Varian :

Rumus Varian : s ᶻ = ( ( s ᶻ = 248,2 Rumus standart deviasi :

s

=

(

(

s= 248,2

Rumus standart deviasi :

Varian : s ᶻ = ( ( s ᶻ = 248,2 Rumus standart deviasi : S=

S=

S =15,7

Standar Deviasi Tinggi Tanaman Kangkung

A2B1

NO

x₁

x₁ᶻ

1

25

625

2

26

676

3

38

1444

4

31

961

5

33

1089

6

26

676

£

179

5471

Rumus Varian :

(∑

Rumus Varian : ∑ ∑ (∑ s ᶻ = ( ( s ᶻ = 26,1 Rumus

s=

(

(

s= 26,1

Rumus standart deviasi :

Rumus Varian : ∑ ∑ (∑ s ᶻ = ( ( s ᶻ = 26,1 Rumus

S=

S = 5,1

) = 179=32041

60

Standar Deviasi Tinggi Tanaman Kangkung

A2B2

NO

x₁

x₁ᶻ

1

29

841

2

30

900

3

33

1089

4

31

961

5

39

1521

6

34

1156

£

196

6468

Rumus Varian :

(∑

34 1156 £ 196 6468 Rumus Varian : ∑ ∑ (∑ s ᶻ = ( (

s=

(

(

s= 13

Rumus standart deviasi :

£ 196 6468 Rumus Varian : ∑ ∑ (∑ s ᶻ = ( ( s ᶻ

) = 196=38416

61

S=

S = 3,6

Standar Deviasi Jumlah Daun Tanaman Kangkung

A1B1

NO

x

x

1

10

100

2

9

81

3

12

144

4

10

100

5

10

100

6

10

100

£

61

625

Rumus Varian :

(∑

10 100 5 10 100 6 10 100 £ 61 625 Rumus Varian : ∑ ∑

62

) = 196=3721

s=

(