Anda di halaman 1dari 12

GUIDED IMAGERY AND MUSIC (GIM) MENURUNKAN INTENSITAS NYERI

PASIEN POST SECTIO CAESAREA BERBASIS ADAPTASI ROY


Guided imagery and music (GIM) reduce pain intensity of sectio caesarea patient based
on Roy’s adaptation model

Ira Suarilah*, Erna Dwi Wahyuni*, Ryan Reza Falupi**

Program Studi Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga


Kampus C Mulyorejo Surabaya 60115, Telp. (031) 5913752, 5913754, Fax. (031)5913257
E-mail: ayluphi@gmail.com

ABSTRAK

Sectio caesarea (SC) adalah prosedur pembedahan dimana janin dikeluarkan dari
rahim melalui pembedahan di dinding abdomen. Masalah yang paling mendominasi pada
post SC adalah nyeri. Guided and music (GIM) merupakan tindakan mandiri keperawatan
yang mengombinasikan bimbingan imajinasi dan musik. GIM dapat meningkatkan
mekanisme koping dan pelepasan endorfin untuk mengurangi nyeri. Tujuan penelitian
untuk mengetahui pengaruh GIM terhadap intensitas nyeri pada pasien post SC berbasis
adaptasi Roy di RSUP NTB. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah
quasy experiment dengan non random control group pre test post. Pengambilan sampel
dengan menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel sebesar 30 responden (15
responden kelompok kontrol dan 15 responden kelompok perlakuan). Variabel independen
adalah GIM dan variabel dependen adalah intensitas nyeri. Intensitas nyeri diukur dengan
Numeric Rating Scale (NRS). Hasil pengukuran intensitas nyeri dianalisis menggunakan
uji t dependen dan uji t independen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh
GIM terhadap intensitas nyeri pada pasien post SC berbasis adaptasi Roy di RSUP NTB.
Hasil uji t dependen pada kelompok kontrol adalah p = 0,000 (p < 0,05), sedangkan pada
kelompok perlakuan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil uji t independen p = 0,027 (p < 0,05).
GIM terbukti dapat menurunkan intensitas nyeri pasien post SC di RSUP NTB. GIM
direkomendasikan sebagai intervensi mandiri keperawatan untuk mengurangi nyeri post SC.

Kata kunci: Sectio caesarea, guided imagery and music (GIM), intensitas nyeri

ABSTRACT

Sectio Caesarea (SC) is a surgical procedure in which a fetus is delivered from the
uterus through an abdominal wall incision. The most dominating issue in post-SC is a
pain. Guided imagery and music (GIM) is one of the nursing intervention which combine
guided imagery and music. GIM can improve coping mechanisms and the release of
endorphins to reduce pain. The purpose of this study was to determine the effect of GIM on
pain intensity of sectio caesarea patient based on Roy’s adaptation model in West Nusa
Tenggara Public Hospital. The design used in this study was quasy experiment with non
random control group pre test post. Recruting sample by purposive sampling. There were
30 samples (15 respondents as the control group and 15 respondents as the treatment
group). Independent variable was GIM. Dependent variable was pain intensity. The pain
was measured by Numeric Rating Scale (NRS). The datas was analyzed by dependent t test
and independent t test. The result of this study showed that there was a significant effect of
GIM on pain intensity of post-SC patient based on Roy’s adaptation model in West Nusa
Tenggara Public Hospital. In the control group dependent t test p = 0,000 (p < 0,05),
while in the treatment group p = 0,000 (p < 0,05). Independent t test p = 0,027 (p < 0,05).
GIM has been shown to reduce pain intensity of post-SC in RSUP NTB. GIM is
recommended for the independent nursing intervention to reduce post-SC pain.

Keywords: Sectio caesarea, guided imagery and music (GIM), pain intensity

*Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga


**Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
________________________________________________________________________

PENDAHULUAN menurunkan nyeri pasien post SC karena


Sectio caesarea (SC) adalah menurut Bruscia & Grocke (2002);
tindakan pembedahan untuk melahirkan Butterton (2008); Domenech &
janin melalui insisi di dinding abdomen Montserrat (2008); Kwekkeboom et al.
dan dinding uterus (Leveno, et al. 2009). (2010) selama ini GIM merupakan
Simkin, Walley, & Keppler (2007) intervensi yang digunakan untuk
menjelaskan bahwa tindakan SC mengurangi nyeri. Berdasarkan studi
merupakan tindakan yang cepat dan pendahuluan pada tanggal 26 September
mudah, akan tetapi tindakan SC juga 2013 di ruang Melati RSUP NTB,
memiliki beberapa bahaya komplikasi, didapatkan data pelaksanaan manajemen
seperti infeksi luka, tromboflebitis, nyeri di lapangan masih didominasi oleh
perdarahan dan nyeri pasca pembedahan. pemberian analgesik. Selain
Nyeri merupakan masalah yang paling penatalaksanaan nyeri farmakologis
mendominasi pada pasca pembedahan SC melalui pemberian analgesik,
(Bobak, et al. 2004). Nyeri dapat penatalaksanaan nyeri nonfarmakologis
mengakibatkan berbagai masalah pada relaksasi nafas dalam juga diajarkan
ibu maupun bayi. Dampak nyeri terhadap kepada pasien, akan tetapi GIM belum
ibu, yaitu Activity Daily Living (ADL) pernah diterapkan dalam penatalaksanaan
dan mobilisasi ibu menjadi terbatas nyeri. Sampai saat ini belum ada
karena adanya peningkatan intensitas penelitian yang mengkaji pengaruh GIM
nyeri apabila ibu bergerak (Purwandari terhadap penurunan intensitas nyeri pada
2009 dalam Kristiani & Latifah 2013, pasien post SC.
p.2). Dampak nyeri terhadap bayi yaitu Data World Health Organitation
dalam pemberian ASI, dan kurangnya (WHO) (2013) menunjukkan angka
perawatan bayi yang dilakukan oleh kelahiran dengan sectio caesarea pada
ibunya sehingga ASI sebagai makanan tahun 2005-2010 di Cina mencapai 27%
terbaik dan mempunyai banyak manfaat dan Colombia 47%. Di Indonesia angka
bagi bayi tidak dapat diberikan secara kelahiran dengan sectio caesarea hampir
optimal (Indriati 2009). selalu mengalami peningkatan setiap
Cara yang paling efektif untuk tahunnya, begitu pula di provinsi Nusa
mengurangi nyeri adalah dengan Tenggara Barat dan RSUP NTB.
menggabungkan intervensi farmakologis
dengan nonfarmakologis. Intervensi
farmakologis seperti pemberian
analgesik. Intervensi nonfarmakologis
seperti masase, terapi es dan panas,
teknik relaksasi, distraksi, hipnosis,
guided imagery and music (GIM)
(Smeltzer, et al. 2010). Peneliti memlilih
GIM sebagai intervensi untuk
Tabel 1 Prevalensi kejadian sectio terjadinya nyeri (Urden, et al. 2009).
caesarea di Indonesia dan Nyeri akan mengakibatkan mobilisasi
provinsi NTB tahun 1997-2012 pasien menjadi terbatas (Purwandari 2009
Tahun dalam Kristiani & Latifah 2013, p.2).
Negara/
Provinsi 1997 2002- 2007 2012 Dampak tidak melakukan mobilisasi dini
2003 yaitu terjadinya involusi uterus yang
Indonesia 4,3% 4,1% 6,8% 12,3% tidak baik sehingga menghambat
NTB 2,3% 0,5% 6,7% 9,7%
pengeluaran lochea dan meningkatkan
Sumber: BPS Indonesia, BKKBN,
resiko terjadinya perdarahan abnormal
Kemenkes & ICF International
(Kasdu 2003 dalam SLI, Ratnawati &
(2013); BPS Indonesia & Macro
Berlian 2012, p.2).
International (2008); BPS
Perawat bertanggung jawab
Indonesia & ORC Macro (2003);
untuk mengurangi nyeri pasien (Asmadi
BPS Indonesia, Kemenkes,
2008). Intervensi keperawatan yang bisa
BKKBN & Macro International
dilakukan salah satunya adalah dengan
Inc (1998)
GIM. GIM mengombinasikan intervensi
Tabel 2 Prevalensi kejadian sectio bimbingan imajinasi dan terapi musik.
caesarea di RSUP NTB 2010- GIM dilakukan dengan memfokuskan
2013 imajinasi pasien. Musik digunakan untuk
Tahun memperkuat relaksasi (Beebe & Wyatt
2013 2009). Keadaan relaksasi membuat tubuh
Instansi
2010 2011 2012 (Januari- lebih berespons terhadap bayangan dan
November) sugesti yang diberikan sehingga pasien
RSUP tidak berfokus pada nyeri (Butterton
27,99% 32,37% 36,86% 40,02%
NTB 2008). Hasil penelitian Rahayu,
Sumber: Rekapitulasi laporan kelahiran Nursiswati & Sriati (2010) menyebutkan
RSUP NTB (2010, 2011, 2012, bahwa ada pengaruh yang signifikan
2013) guided imagery terhadap penurunan
tingkat nyeri pada pasien cedera kepala
Marcus et al. (2011) menyebutkan ringan. Hasil penelitian Purwanto (2009)
bahwa rata-rata nyeri pasien post SC di menyebutkan bahwa pemberian terapi
105 rumah sakit di Jerman adalah nyeri musik dapat menurunkan intensitas nyeri
sedang. Berdasarkan hasil penelitian yang pada pasien post operasi di ruang bedah
dilakukan Pratiwi (2010) pada pasien RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
post SC di Rumah Sakit Al Islam Pada penelitian ini, peneliti akan
Bandung, nyeri pasien post SC adalah menerapkan teori keperawatan model
43,33% dengan nyeri sedang dan 56,67% adaptasi Roy. Roy mendefinisikan tujuan
dengan nyeri berat. Berdasarkan studi keperawatan adalah meningkatkan
pendahuluan pada tanggal 26 September respons adaptasi dengan memanipulasi
2013 di ruang Melati RSUP NTB, stimulus fokal, kontekstual dan atau
mayoritas nyeri yang dirasakan pasien residual. Perawat juga harus
post SC adalah nyeri berat. Data ini mempersiapkan individu untuk
didapatkan dari jenis analgesik yang mengantisipasi perubahan melalui
diberikan kepada pasien. penguatan mekanisme kognator dan
Nyeri pasien post SC disebabkan regulator (Nursalam 2011). GIM
oleh terjadinya kerusakan kontinuitas merupakan salah satu bentuk dari
jaringan karena pembedahan (Walley, et intervensi keperawatan yang dapat
al. 2008). Kerusakan kontinuitas jaringan diberikan untuk meningkatkan
menyebabkan pelepasan mediator kimia mekanisme koping individu melalui
yang kemudian mengaktivasi nosiseptor mekanisme kognator dan regulator untuk
dan memulai transmisi nosiseptif sampai
mengurangi nyeri (Bruscia & Grocke halusinasi atau dengan gangguan
2002; Butterton 2008; Domenech & kejiwaan, pasien post SC dengan
Montserrat 2008). kegawatdaruratan, pasien post SC dengan
komplikasi, dan pasien post SC dengan
BAHAN DAN METODE penurunan kesadaran.
Desain penelitian yang digunakan Instrumen yang digunakan dalam
dalam penelitian ini adalah quasy penelitian ini adalah standar operasional
experiment dengan rancangan non prosedur (SOP) guided imagery and
random control group pre test post. Pada music (GIM), lembar observasi data
penelitian ini responden terdiri dari 2 demografi responden, dan lembar
kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan pengukuran nyeri Numeric Rating Scale
kelompok kontrol. Kelompok perlakuan (NRS). SOP GIM berisi pengertian,
dalam penelitian ini adalah kelompok indikasi, kontraindikasi, dan langkah-
responden yang diberi analgesik non langkah pelaksanaan GIM. Lembar
opioid sesuai standar prosedur ruangan observasi data demografi responden
ditambah perlakuan dari peneliti, yaitu meliputi usia dan tingkat pendidikan.
guided imgaery and music (GIM), Alat yang digunakan dalam
sedangkan kelompok kontrol adalah penelitian ini adalah 1 buah alat pemutar
kelompok responden yang diberi musik berupa handphone yang
analgesik non opioid sesuai standar mendukung layanan mp3, dan 1 buah
prosedur ruangan tanpa perlakuan dari earphone dengan bantalan yang bisa
peneliti. diganti.
Populasi dalam penelitian ini Prosedur pelaksanaan penelitian ini
adalah semua pasien post SC yang yaitu Peneliti melakukan pengukuran
mengalami nyeri yang dirawat di RSUP intensitas nyeri sebelum pelaksanaan
NTB pada bulan Agustus-Oktober 2013 penelitian pada kedua kelompok 7 jam
dengan rata-rata 36 orang perbulan. setelah operasi. Peneliti memberikan
Sampel dalam penelitian ini rekaman guided imagery and music
adalah pasien post SC yang mengalami (GIM) sesi pertama dengan earphone
nyeri yang dirawat di RSUP NTB pada yang disambungkan ke alat pemutar
tanggal 21 Desember 2013 s.d 4 Januari musik berupa handphone peneliti.
2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan Earphone yang digunakan dilapisi
eksklusi, yaitu sebanyak 30 responden bantalan disposable yang hanya
yang terbagi menjadi 2 kelompok, 15 digunakan 1 kali pada 1 orang responden.
responden kelompok kontrol dan 15 Sesi berikutnya adalah hari kedua, baik
responden kelompok perlakuan. Teknik pada kelompok perlakuan maupun
pengambilan sampel dengan purposive kelompok kontrol. Waktu pelaksanaan
sampling. penelitian berikutnya dilakukan pada jam
Kriteria inklusi dalam penelitian yang sama dengan waktu dilakukannya
ini adalah pasien dengan 7 jam post SC, penelitian pada sesi pertama.
berusia 18-40 tahun, pasien yang baru Analisis dalam penelitian ini ada
pertama kali menjalani operasi SC, pasien dua yaitu univariat dan bivariat. Variabel
post SC dengan anestesi spinal, dan yang dianalisis dalam analisis univariat
pasien post SC yang bisa berkomunikasi adalah intensitas nyeri pasien post SC
dalam bahasa Indonesia. Kriteria eksklusi sebelum dan sesudah mendapat intervensi
dalam penelitian ini adalah pasien post pada kelompok perlakuan dan kelompok
SC yang memiliki keterbatasan fisik kontrol, dan karakteristik responden.
maupun mental yang tidak dapat Analisis bivariat dalam penelitian ini
berkomunikasi dengan baik (tuna rungu, dilakukan untuk menganalisis perubahan
tuna grahita), pasien post SC dengan
intensitas nyeri pada kelompok perlakuan
dan kelompok kontrol. Tabel 5 Hasil pengukuran intensitas
nyeri sebelum dan setelah
HASIL diberikan intervensi pada
Tabel 3 Distribusi responden kelompok kontrol dan kelompok
berdasarkan usia di RSUP NTB, perlakuan di RSUP NTB, 21
21 Desember 2013 s.d. 4 Januari Desember 2013 s.d. 4 Januari
2014 2014
Kelompok Kelompok Intensitas nyeri
Usia kontrol perlakuan
No Kelompok kontrol Kelompok perlakuan
(Tahun) ∑ % ∑ % No
Pre Post Δ Pre Pos Δ
1 18-35 14 93,3 13 86,7 test test test test
2 36-45 1 6,7 2 13,3 1 8 5 3 9 5 4
Total 15 100 15 100 2 9 6 3 8 3 5
3 9 5 4 9 6 3
Berdasarkan tabel 3 di atas dapat
4 10 7 3 10 6 4
diketahui bahwa mayoritas responden
pada kelompok kontrol berada pada 5 9 4 5 7 3 4
rentang umur 18-35 tahun, yaitu 6 8 3 5 8 3 5
sebanyak 14 responden (93,3%). Begitu 7 8 5 3 8 4 4
pula pada kelompok perlakuan sebagian
8 7 4 3 8 3 5
besar responden berada pada rentang
umur 18-35 tahun, yaitu sebanyak 13 9 8 5 3 9 3 6
responden (86,7% 10 6 3 3 10 5 5
11 9 6 3 6 2 4
Tabel 4 Distribusi responden
12 8 5 3 9 5 4
berdasarkan tingkat pendidikan
di RSUP NTB, 21 Desember 13 10 7 3 9 4 5
2013 s.d. 4 Januari 2014 14 9 6 3 7 2 5
Kelompok Kelompok
Tingkat 15 10 6 4 9 6 3
No kontrol perlakuan
pendidikan Mean 8,53 5,13 3,4 8,40 4 4,4
∑ % ∑ %
1 SD 2 13,3 2 13,3 Median 9 5 3 9 4 4
2 SMP 5 33,3 4 26,7 Mode 9 5 3 9 3 5
3 SMA 6 40 5 33,3 Min-max 6-10 3-7 6-10 2-6
4 Perguruan 2 13,3 4 26,7 Uji t p = 0,000 p = 0,000
Tinggi dependen
Total 15 100 15 100 Uji t p = 0,027
independen
Berdasarkan tabel 4 di atas dapat
diketahui bahwa tingkat pendidikan Berdasarkan tabel 5 di atas dapat
responden pada kelompok kontrol diketahui bahwa responden pada
sebagian besar dengan tingkat pendidikan kelompok kontrol rata-rata mengalami
SMA 6 responden (40%). Begitu pula penurunan intensitas nyeri sebesar 3, dan
responden pada kelompok kontrol uji t dependen didapatkan hasil p = 0,000
sebagian besar dengan tingkat pendidikan (p < 0,05), yang artinya terdapat
SMA, yaitu sebanyak 5 responden perubahan intensitas nyeri pada
(33,3%). kelompok kontrol antara sebelum dan
setelah pemberian analgesik opioid.
Sedangkan responden pada kelompok
perlakuan rata-rata mengalami penurunan
intensitas nyeri sebesar 4, dan uji t Banyak faktor yang mempengaruhi
dependen didapatkan hasil p = 0,000 (p < intensitas nyeri, salah satunya adalah
0,05), yang artinya ada pengaruh guided usia. Pada hasil penelitian responden
imagery and music (GIM) terhadap dengan intensitas nyeri 6 berada pada
intensitas nyeri pada pasien post SC rentang usia 36-45 tahun. Potter & Perry
berbasis Roy di RSUP NTB. Hasil uji t (2005) menjelaskan bahwa terdapat
independen diperoleh nilai p = 0,027 (p < hubungan antara nyeri dengan seiring
0,05). Interpretasi dari hasil uji ini adalah bertambahnya usia, yaitu pada tingkat
ada perbedaan yang signifikan rata-rata perkembangan. Pada orang dewasa lebih
intensitas nyeri responden setelah bisa mengungkapkan nyeri bila timbul
diberikan GIM antara kelompok rasa nyeri, sedangkan pada orang yang
perlakuan dengan kelompok kontrol di sudah lanjut usia cenderung memendam
ruang rawat inap RSUP NTB. rasa nyeri karena menganggap nyeri
adalah alamiah yang harus dijalani dan
PEMBAHASAN takut kalau mengalami nyeri bila
1. Intensitas nyeri pasien post SC pada diperiksakan akan diketahui terjadi
kelompok kontrol dan kelompok penyakit berat.
perlakuan sebelum diberikan GIM Semakin cukup umur seseorang
Berdasarkan hasil penelitian akan lebih matang dalam berfikir dan
didapatkan responden pada kelompok bekerja. Dari kepercayaan masyarakat
kontrol maupun perlakuan saat pre test seseorang yang lebih dewasa lebih
mempunyai rentang skor intensitas nyeri dipercaya daripada yang lebih muda, hal
6-10. Setiap responden mengalami nyeri ini karena berhubungan dengan
dengan intensitas yang berbeda-beda. pengalaman dan kematangan jiwa. Pada
Kozier et al. (2010) yang menjelaskan usia dewasa madya lebih mempunyai
bahwa nyeri merupakan sensasi yang pengalaman daripada dewasa awal
sangat tidak menyenangkan dan sangat sehingga dewasa madya lebih cepat
individual yang tidak dapat dibagi dengan beradaptasi dengan lingkungan yang
orang lain. Dikatakan bersifat individual baru, dengan mudahnya beradaptasi
karena respons individu terhadap sensasi dengan lingkungan akan mempengaruhi
nyeri beragam dan tidak bisa disamakan respons pasien terhadap tingkat
dengan yang lainnya. Potter & Perry kecemasan, dimana kecemasan ini
(2005) juga menjelaskan bahwa tidak ada berbanding lurus dengan intensitas nyeri.
individu yang mengalami nyeri yang Berdasarkan hasil penelitian ini
sama dan tidak ada dua kejadian nyeri juga dapat dilihat tingkat pendidikan
yang sama menghasilkan respons atau pasien post SC pada kelompok kontrol
perasaan yang identik pada seorang maupun perlakuan paling banyak adalah
individu. dengan tingkat pendidikan SMA, yaitu 6
Berdasarkan hasil penelitian juga responden pada kelompok kontrol (40%)
didapatkan kelompok perlakuan maupun dan 5 responden (33,3%) pada kelompok
kelompok kontrol sebagian besar perlakuan. Penelitian ini hanya melihat
mengalami nyeri dengan intensitas 9. karakteristik pendidikan responden tanpa
Hasil penelitian ini sesuai dengan melihat hubungan antara tingkat
penelitian yang dilakukan Pratiwi (2012) pendidikan dengan intensitas nyeri
pada pasien post SC, sebagian besar nyeri responden. Namun berdasarkan penelitian
yang dirasakan pasien post SC adalah yang dilakukan oleh Faucett, et. al.
dengan kategori berat. Pada penelitian ini (1994) dalam Kristiani & Latifah (2013,
juga terdapat 1 responden pada kelompok p.66) pada 543 pasien pasca bedah
perlakuan dan kelompok kontrol yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
mengalami nyeri dengan intensitas 6. yang signifikan antara intensitas nyeri
dan tingkat pendidikan. Penelitian lain yang menstimulasi nosiseptor akan
yang dilakukan Harsono (2009) pada 85 berkurang, dengan berkurangnya
pasien bedah sectio caesarea juga stimulasi nosiseptor maka impuls nyeri
menunjukkan hasil yang sama yaitu tidak yang dihantarkan juga akan berkurang,
ada hubungan yang signifikan antara dan hal ini pada akhirnya mengurangi
intensitas nyeri dan tingkat pendidikan. persepsi nyeri.
Menurut Harsono (2009), tingkat Pada hasil penelitian juga dapat
pendidikan merupakan salah satu faktor dilihat bahwa penurunan skor intensitas
yang mendukung peningkatan nyeri juga terjadi pada kelompok
pengetahuan yang berkaitan dengan daya perlakuan setelah diberikan guided
serap informasi. Orang yang memiliki imagery and music (GIM) berbasis
pendidikan tinggi diasumsikan lebih adaptasi Roy, yaitu dengan rata-rata
mudah menyerap informasi. Pengetahuan penurunan sebesar 4. Roy menjelaskan
tentang pengelolaan nyeri dapat diperoleh bahwa tujuan perawat adalah
dari pengalaman pasien sendiri atau dari meningkatkan respons adaptasi dengan
sumber lain. Sehingga tingkat pendidikan memanipulasi stimulus fokal,
bukan merupakan variabel yang dapat kontekstual, residual, dan meningkatkan
mempengaruhi persepsi nyeri. mekanisme koping melalui mekanisme
relulator dan kognator (Nursalam 2011).
2. Intensitas nyeri pasien post sectio Potter & Perry (2005) mengatakan bahwa
caesarea pada kelompok kontrol dan perawat dapat meningkatkan mekanisme
kelompok perlakuan setelah koping seseorang dengan cara distraksi
diberikan GIM atau guided imagery. Branon, Feist &
Hasil pengukuran intensitas nyeri Updegraff (2013) menyatakan bahwa
post test menunjukkan bahwa terjadi guided imagery merupakan intervensi
penurunan intensitas nyeri pada yang dapat mengurangi nyeri, baik nyeri
kelompok kontrol, yaitu dengan rata-rata akut maupun nyeri kronis. Hal ini juga
penurunan sebesar 3,4. Penurunan didukung oleh penelitian yang dilakukan
intensitas nyeri pada kelompok kontrol Rahayu, Nursiswati & Sriati (2010) pada
disebabkan karena pemberian analgesik pasien dengan cedera kepala ringan.
jenis non opioid sesuai dengan standar Penelitiannya menyebutkan bahwa ada
prosedur yang sudah ditetapkan RSUP pengaruh yang signifikan guided imagery
NTB. Hasil penelitian ini sesuai dengan terhadap penurunan tingkat nyeri kepala
hasil penelitian Novita (2012) di RSUD pada pasien cedera kepala ringan.
Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Guided imagery and music (GIM)
yang menyatakan ada perbedaan pada subsistem regulator maupun
intensitas nyeri antara sebelum dan kognator merupakan komponen input
sesudah pemberian analgesik jenis non yang berasal dari luar individu. Pada
opioid (p = 0,000). Potter & Perry (2005) subsistem regulator GIM mempengaruhi
menjelaskan analgesik non opioid bekerja proses internal di dalam tubuh dengan
menghambat sintesis prostaglandin dan menstimulasi sistem kontrol desendens
menghambat respons selular selama fase untuk memproduksi endorfin. Endorfin
inflamasi. yang dihasilkan merupakan komponen
Nyeri terbagi menjadi 4 fase, output dalam subsistem regulator. Fungsi
yaitu fase transduksi, transmisi, persepsi dari endorfin yaitu menghambat transmisi
dan modulasi. Fase transduksi yaitu fase substansi P yang merupakan
dimana reseptor nyeri dilepaskan seperti neurotransmiter yang mempengaruhi
prostaglandin. Analgesik non opioid sensitifitas terhadap nyeri. Pada
bekerja pada fase ini dengan menghambat subsistem kognator GIM membuat emosi
prostaglandin sehingga neurotransmiter pasien menjadi positif dengan
membayangkan hal-hal yang ditunggu oleh 2 atau 3 orang anggota
menyenangkan, hal ini akan membuat keluarganya. Fasilitas ruangan tempat
pasien post SC menjadi tenang dan rileks pasien post SC dirawat juga berbeda-
dan tidak berfokus terhadap nyeri. beda, ruang rawat inap kelas II memiliki
Penurunan intensitas nyeri post sampiran di setiap tempat tidur dan
test pada kelompok perlakuan juga maksimal di tempati oleh 4 orang pasien,
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan sedangkan di ruang kelas III tidak
responden. Penurunan nyeri terbanyak memiliki sampiran dan maksimal di
pada responden dengan tingkat tempati oleh 6 orang responden. Aktivitas
pendidikan Perguruan Tinggi dengan dan kebisingan antara ruang rawat inap
penurunan sebesar 6 sebanyak 1 kelas II dan III tentu berbeda, hal ini
responden. Sedangkan, penurunan nyeri dapat mempengaruhi terhadap penurunan
terendah terjadi pada responden dengan persepsi nyeri. Pasien post SC di RSUP
tingkat pendidikan SD dan SMP sebesar NTB juga diajarkan relaksasi nafas
3 masing-masing sebanyak 1 orang dalam.
responden. Menurut Kristiani & Latifah Usia berkaitan dengan dengan
(2013) tingkat pendidikan berpengaruh pengalaman dan kematangan jiwa. Pada
dalam memberikan respons terhadap usia yang lebih dewasa akan lebih
segala sesuatu yang datang dari luar, mempunyai pengalaman daripada yang
dimana pada seseorang dengan tingkat lebih muda sehingga lebih cepat
pendidikan yang lebih tinggi akan beradaptasi dengan lingkungan yang
memberikan respons lebih rasional baru, dengan mudahnya beradaptasi
daripada yang berpendidikan lebih dengan lingkungan akan mempengaruhi
rendah. Hal ini selanjutnya menunjukkan respons pasien terhadap tingkat
kesadaran dan usaha pencapaian atau kecemasan, dimana kecemasan ini
peningkatan derajat kesehatan yang lebih berbanding lurus dengan intensitas nyeri.
baik. Tingkat pengetahuan yang cukup Tingkat pendidikan juga berpengaruh
membuat pasien dapat menerima dan dalam proses penyerapan informasi.
mampu memahami penjelasan yang Tingkat pengetahuan yang cukup
diberikan peneliti pada saat akan membuat pasien dapat menerima dan
diberikan GIM sehingga mampu mampu memahami penjelasan yang
melakukan GIM sesuai dengan yang diberikan oleh perawat dalam
diinstruksikan. penatalaksanaan nyeri, seperti penjelasan
Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa mengenai teknik relaksasi yang diberikan
terdapat 2 orang responden pada oleh perawat.
kelompok kontrol yang mengalami Berdasarkan pembahasan di atas
penurunan intensitas nyeri sebesar 5 dan dapat diketahui bahwa GIM memiliki
2 orang responden mengalami penurnan pengaruh dalam menurunkan nyeri pasien
sebesar 4. Pada kelompok perlakuan juga post SC. Penurunan nyeri terjadi karena
terdapat 1 orang responden yang GIM memberikan efek relaksasi pada
mengalami penurunan intensitas nyeri pasien. Efek relaksasi menyebabkan
sebesar 4. Banyak faktor yang koping pasien menjadi positif. Kondisi
mempengaruhi nyeri diantaranaya tersebut dapat menyebabkan pelepasan
menurut Kozier et. al (2010) adalah gaya endorfin yang berperan dalam penurunan
koping, pengalaman masa lalu, usia, nyeri. Salah satu faktor yang
lingkungan dan individu pendukung. mempengaruhi penurunan intensitas nyeri
Di RSUP NTB ada kebijakan 1 juga adalah tingkat pendidikan. Semakin
orang pasien maksimal ditunggu oleh 1 tinggi pendidikan seseorang maka
orang anggota keluarga, akan tetapi pada kemampuan untuk menerima informasi
kenyataannya ada beberapa pasien yang akan semakin tinggi. Gaya koping,
lingkungan dan individu pendukung juga endokrin dan sistem saraf. Penelitian
dapat mempengaruhi persepsi nyeri. dengan Magnetic Resonance Imaging
(MRI) menunjukkan bahwa ketika
3. Perbedaan intensitas nyeri pasien seseorang memvisualisasikan sesuatu,
post SC pada kelompok kontrol mereka mengaktifkan lobus oksipital
dengan kelompok perlakuan setelah dengan cara yang sama ketika mereka
diberikan GIM berbasis adaptasi Roy melihat hal atau peristiwa yang benar-
Berdasarkan hasil penelitian dapat benar terjadi. Demikian pula, lobus
diketahui bahwa rata-rata intensitas pada temporal yang aktif ketika musik atau
kelompok kontrol saat pre test sebesar imajinasi dibayangkan, dan area motorik
8,53, pada saat post test turun menjadi atau korteks promotor diaktifkan ketika
5,13. Hasil uji t dependen pada kelompok membayangkan gerakan. Dalam aktivasi
kontrol p = 0,000 (p < 0,05), yang artinya ini kortikal mengirim pesan saraf dan
ada penurunan intensitas nyeri yang neurokimia ke sistem kontrol desendens
signifikan pada kelompok kontrol setelah mengaktifkan atau menonaktifkan
diberikan analgesik non opioid. Rata-rata respons stres (Rakel 2012).
intensitas pada kelompok perlakuan pre GIM merangsang sistem kontrol
test sebesar 8,4, pada saat post test turun desendens dan mempengaruhi produksi
menjadi 4. Hasil uji t dependen pada endorfin (Butterton 2008). Seperti
kelompok perlakuan p = 0,000 (p < 0,05), diketahui bahwa endorfin memiliki efek
yang artinya ada penurunan intensitas relaksasi pada tubuh. Menurut Guyton &
nyeri yang signifikan pada kelompok Hall (2008) endorfin juga sebagai ejektor
perlakuan setelah diberikan GIM. Hasil dari rasa rileks dan ketenangan yang
uji t independen didapat p = 0,027 (p < timbul. Zat tersebut dapat menimbulkan
0,05), yang artinya bahwa ada perbedaan efek analgesia yang akhirnya
yang signifikan rata-rata intensitas nyeri mengeliminasi neurotransmiter rasa nyeri
responden setelah intervensi GIM antara pada pusat persepsi sehingga efek yang
kelompok perlakuan dengan kelompok bisa muncul adalah nyeri berkurang.
kontrol di RSUP NTB tahun 2013. Dalam penelitian ini GIM
Penurunan intensitas nyeri tampak diberikan selama 25 menit dan dilakukan
lebih besar pada kelompok perlakuan sebanyak 2 sesi, pada hari pertama
dibandingkan dengan kelompok kontrol. sebanyak 1 sesi dan hari kedua sebanyak
Hal ini disebabkan karena pada kelompok 1 sesi. Hal ini sesuai dengan pendapat
perlakuan selain diberikan analgesik non Rakel (2012) mengenai waktu yang
opioid juga diberikan guided imagery and optimal dalam terapi musik 25-90 menit.
music (GIM) oleh peneliti. Hal yang Menurut Grocke (2010) GIM dapat
sama dikemukakan oleh Smeltzer et al. dilakukan sampai dengan 10 sesi.
(2010), menggabungkan intervensi Sutrimo (2013) melakukan GIM
farmakologis dengan nonfarmakologis sebanyak 2 sesi dan hasil penelitiannya
merupakan cara yang paling tepat untuk menyatakan GIM secara signifikan
menurunkan nyeri. Intervensi menurunkan kecemasan pasien post SC.
nonfarmakologis dalam penelitian ini Penurunan nyeri dengan terapi
adalah guided imagery and music (GIM). musik dikombinasikan dengan jaw
Branon, Feist & Updegraff (2013) relaxation juga telah diteliti dengan
menyatakan bahwa guided imagery desain Randomized Control Trial (RCT)
merupakan intervensi yang dapat oleh Good, Stanton-Hicks, Grass,
mengurangi nyeri akut dan kronis. Anderson, Choi, Schoolmeesters dan
Guided imagery merangsang otak melalui Salman (1999) dalam Novita (2012,
visualisasi yang telah diberikan dengan p.90). Penilaian dilakukan selama 2 hari
memberikan efek langsung pada sistem pada periode ambulasi dan istirahat.
Terapi musik diberikan selama 15 menit SC pada kelompok kontrol setelah
dalam setiap sesinya. Hasil penelitian diberikan analgesik non opioid dengan
menunjukkan perbedaan yang tidak kelompok perlakuan setelah diberikan
terlalu signifikan terhadap penurunan analgesik non opioid dan GIM. GIM
nyeri pada hari pertama post operasi pada terbukti dapat menurunkan intensitas
semua kelompok intervensi maupun nyeri pasien post SC di RSUP NTB.
kontrol. Perbedaan yang signifikan
tampak pada hari kedua pada kelompok Saran
intervensi terapi musik dikombinasikan Berdasarkan hasil penelitian dan
dengan jaw relaxation pada saat ambulasi pembahasan, maka peneliti
(p = 0,000). Sebagai indikator pada merekomendasikan GIM sebagai
penelitian ini juga dilihat denyut nadi, intervensi mandiri keperawatan untuk
tekanan darah sistolik, dan penggunaan mengurangi nyeri pasien post SC.
analgesik. Hasilnya adalah kelompok Penelitian selanjutnya disarankan untuk
perlakuan menunjukkan penurunan nyeri menambah jumlah responden dan
yang lebih rendah dibandingkan memperhatikan variabel perancu seperti
kelompok kontrol. Kelompok perlakuan gaya koping, ansietas, lingkungan dan
juga menunjukkan hasil denyut nadi dan individu pendukung.
tekanan darah sistolik yang menurun,
serta konsumsi analgesik yang lebih KEPUSTAKAAN
sedikit dibandingkan kelompok kontrol. Beebe, LH & Wyatt, TH 2009, ‘Guided
Berdasarkan hasil analisis di atas imagery & music using the
dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan Bonny method to evoke emotion
antara intensitas nyeri pasien post SC & access the unconscious’,
yang diberikan GIM dengan yang tidak Journal of Psychosocial Nursing
diberikan GIM. Pemberian GIM selama Vol 47, hal. 29-33, diakses 17
2 sesi dapat menurunkan intensitas nyeri September 2013, http://e-
pada pasien post SC. GIM mempengaruhi resources.pnri.go.id/index.php?o
sistem kontrol desendens yang berfungsi ption=com_library&Itemid=53&
dalam pelepasan endorfin. Endorfin key=1>
merupakan sebuah substansi yang bekerja Bobak, IM, Lowdermilk, DL, Jensen,
untuk menghambat proses pengiriman MD & Perry, SE, 2004, Buku
impuls nyeri ke sistem saraf pusat. Ajar Keperawatan Maternitas,
Edisi 4, EGC, Jakarta
SIMPULAN DAN SARAN BPS Indonesia, BKKBN, Kemenkes, &
Simpulan ICF International 2013,
Kesimpulan dari penilitian ini Indonesia Demographic and
yaitu intensitas nyeri pasien post SC pada Health Survey 2012, BPS,
kelompok kontrol maupun kelompok BKKBN, Kemenkes, and ICF
perlakuan sebelum diberikan analgesik International, Jakarta
non opioid dan GIM sebagian besar BPS Indonesia, Kemenkes, BKKBN
dengan intensitas 9, intensitas nyeri Macro & Macro International Inc
pasien post SC pada kelompok kontrol 1998, Indonesia Demographic
setelah diberikan analgesik non opioid and Health Survey 1997, BPS &
sebagian besar dengan intensitas 5, Macro International Inc,
sedangkan pada kelompok perlakuan Calverton, Maryland
setelah diberikan analgesik non opioid
dan GIM sebagian besar dengan
intensitas 3. Ada perbedaan intensitas
nyeri yang signifikan antara pasien post
BPS Indonesia & Macro International. Grocke, D 2010, ’An Overview Research
2008. Indonesia Demographic in the Bonny Methode of Guided
and Health Survey 2007, BPS Imagery and Music’, A World
and Macro International, Forum for Music Therapy, Vol.
Calverton, Maryland, USA. 10, No 3, diakses 17 November
BPS Indonesia & ORC Macro. 2003. 2013,
Indonesia Demographic and <https://normt.uib.no/index.php/
Health Survey 2002-2003, BPS voices/article/viewArticle/340/4
and ORC Macro, Calverton, 29>
Maryland, USA Guyton, A. C. & Hall, J. E 2008.
Bruscia, KE & Grocke, DE 2002, Guided Fisiologi Kedokteran, Edisi 11.
Imagery and Music: The bonny EGC, Jakarta
Methode and Beyond, Barcelona Harsono 2009. Faktor-faktor yang
Publishers, Lower Village Mempengaruhi Intensitas Nyeri
Butterton, M 2008, Listening to Music in Pasca Bedah Abdomen dalam
Psychotherapy, 1st edition, Konteks Asuhan Keperawatan di
Radcliffe Medical Press Ltd, RSUD Ade Mohammad Djoen
Oxfordshire Sintang. Thesis, Universitas
Domenech, IG & Montserrat 2008, ‘The Indonesia
Effect of Music and Imagery to Indiarti, MT 2009, Panduan Lengkap
Induce Relaxation and Reduce Kehamilan, Persalinan dan
Nausea and Emesis in Cancer Perawatan Bayi, Diglossia
Patients Undergoing Media, Yogyakarta
Chemotherapy Treatment’, UMI Kozier, B, Erb, G, Berman, A & Snyder,
Dissertations Publishing, hal. SJ 2010, Buku Ajar
119, diakses 30 September Fundamental Keperawatan:
2013, Konsep, Proses & Praktik, Edisi
<http://books.google.co.id/book 7, Vol. 1, EGC, Jakarta
s?id=b5305jYNw6UC&printsec Kristiani, D & Latifah, L 2013,
=frontcover&dq=The+Effect+of ‘Pengaruh Teknik Relaksasi
+Music+and+Imagery+to+Indu Autogenik Terhadap Skala Nyeri
ce+Relaxation+and+Reduce+N pada Ibu Post Operasi Sectio
ausea+and+Emesis+in+Cancer+ Caesarea (SC) di RSUD
Patients+Undergoing+Chemoth BANYUMAS’, skripsi,
erapy+Treatment&hl=id&sa=X Universitas Jenderal Soedirman
&ei=wtV5UpPGFdOciQf3zYH Kwekkeboom, KL, Cherwin, CH, Lee,
gAw&redir_esc=y#v=onepage JW & Wanta, B 2010, ‘Mind-
&q=The%20Effect%20of%20M Body Treatments for the Pain-
usic%20and%20Imagery%20to Fatigue-Sleep Disturbance
%20Induce%20Relaxation%20a Symptom Cluster in Persons
nd%20Reduce%20Nausea%20a with Cancer’, Journal of Pain
nd%20Emesis%20in%20Cancer and Symptom management, Vol
%20Patients%20Undergoing%2 39, diakses 17 September 2013,
0Chemotherapy%20Treatment <http://www.sciencedirect.com/s
&f=false> cience/article/pii/S08853924090
07933>
Leveno, KJ, Cunningham, FG, Gant, NF, Purwanto, E 2009, ‘Efek Musik terhadap
Alexander JM, Bloom, SL, Perubahan Intensitas Nyeri pada
Casey BM, Dashe, JS, Shffield, Pasien Post Operasi di Ruang
JS & Yost, NP 2009, Panduan Bedah RSUP Dr. Sardjito
Ringkas Obstetri Williams, Edisi Yogyakarta’, Jurnal Saintika
21, EGC, Jakarta Medika Universitas
Marcus, HE, Aduckathil S, Meibner W, Muhamadiyah Malang, Vol. 5,
Kalkman C & Gerbershagen H no. 11, hal. 123, diakses 20
2011, ‘Pain after Cesarean September 2013
section: A Significant <http://ejournal.umm.ac.id/index
Problem?’, F1000 Research Ltd, .php/sainmed/article/view/1039>
dilihat 3 Oktober 2013, Rahayu, U, Nursiswati & Sriati, A 2010,
<http://f1000.com/posters/brows ‘Pengaruh Guide Imagery
e/summary/1089542> Relaxation Terhadap Nyeri
Novita, D 2012, ‘Pengaruh Terapi Musik Kepala Pada Pasien Cedera
terhadap Nyeri Post Operasi Kepala Ringan‘, Pustaka Ilmiah,
Open Reduction and Internal diakses 20 september 2013,
Fixation (ORIF) di RSUD DR. <http://pustaka.unpad.ac.id/archi
H. Abdul Moeloek Provinsi ves/76927/>
Lampung’, tesis, Universitas Rakel, D 2012, Integrative Medicine, 3rd
Indonesia edition, Elsevier, Philadelphia
Nursalam 2011, Konsep Dasar dan Urden, LD, Stacy, KM & Lough, ME
Penerapan Metodologi 2009, Critical Care Nursing:
Penelitian Ilmu Keperawatan: Diagnosis and Management, 6th
Pedoman Skripsi, Tesis, dan edition, Mosby, Maryland
Instrumen Penelitian Heights, Missouri
keperawatan, Salemba Medika, Walley, JS & Keppler, A 2008, Panduan
Jakarta Praktis bagi Calon Ibu:
Potter, PA & Perry, AG 2005, Buku Ajar Kehamilan dan Persalinan, PT.
Fundamental Keperawatan: Bhuana Ilmu Populer, Jakarta
Konsep, Proses, Praktik. EGC, WHO 2013, ‘World Health Statistic
Jakarta 2013’, WHO Library
Pratiwi 2012, ’Penurunan Intensitas Cataloguing-in-Publication
Nyeri Akibat Luka Post Sectio Data, hal. 96-98, diakses 17
Caesarea setelah dilakukan September 2013,
Latihan Teknik Relaksasi <http://www.who.int/gho/public
Pernapasan Menggunakan ations/world_health_statistics/en
Aromaterapi Lavender di Rumah /index.html>
Sakit Al-Islam Bandung’,
Students e-Journal, Hal. 8,
diakses 3 Oktober 2013,
<http://journal.unpad.ac.id/ejour
nal/article/view/711/757>