Anda di halaman 1dari 67

TABEL INPUT-OUPUT:

Analisis Keterkaitan Antar Kegiatan Ekonomi

Slamet Sutomo1

1. Pendahuluan
Materi kuliah ke-2 mengenai Produk Domestik Bruto (PDB)
telah menjelaskan bahwa dari data PDB dapat diperoleh berbagai
informasi yang memberikan gambaran mengenai kinerja ekonomi
(economic performances) suatu negara, misalnya besarnya output
ekonomi, PDB per kapita, struktur ekonomi, laju pertumbuhan
ekonomi, dan perkiraan besarnya ICOR (Incremental Capital Output
Ratio).
Namun, data PDB belum dapat menjelaskan secara khusus
mengenai keterkaitan interaksi antar berbagai kegiatan ekonomi
dalam membangun perekonomian negara bersangkutan. Sebagai
contoh, berapa banyak output atau produk-produk yang dihasilkan
oleh kegiatan-kegiatan ekonomi yang digunakan sebagai bahan
baku atau input antara (intermediate inputs) untuk menghasilkan
output atau produk suatu kegiatan ekonomi?
Suatu kegiatan ekonomi, misalnya yang menghasilkan
tekstil seperti kain, antara lain membutuhkan benang dan zat
pewarna kain sebagai bahan baku atau input antara. Benang dan zat
pewarna kain merupakan dua output atau produk yang dihasilkan
oleh kegiatan-kegiatan ekonomi yang digunakan oleh suatu
kegiatan lainnya untuk menghasilkan output. Berapa banyak
benang dan zat pewarna kain yang digunakan untuk menghasilkan
selembar kain?
Contoh lain adalah bibit padi, pupuk, dan pestisida yang
merupakan beberapa produk yang dibutuhkan sebagai input antara
oleh suatu kegiatan ekonomi yang menghasilkan padi. Berapa
banyak bibit padi, pupuk, dan pestisida yang digunakan untuk
menghasilkan sejumlah, misalnya 1 ton, padi?
Informasi atau analisis seperti itu tidak dapat diperoleh atau
dilakukan dari data PDB. Pada sisi yang lain, data PDB juga belum

1Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jakarta

1
dapat menjelaskan alokasi penggunaan output atau produk dari
suatu kegiatan ekonomi, misalnya berapa banyak atau berapa besar
porsi dari produk atau output yang dihasilkan oleh suatu kegiatan
ekonomi tersebut yang digunakan sebagai input antara, dan berapa
banyak atau berapa besar porsi yang digunakan sebagai konsumsi
akhir (final consumption) atau yang dikonsumsi habis sebagai
permintaan akhir (final demand) lainnya. Misalnya, dari padi yang
dihasilkan pada suatu waktu, berapa banyak padi yang dikonsumsi
habis oleh masyarakat (sebagai konsumsi akhir), dan berapa banyak
padi yang disimpan untuk digunakan sebagai bibit padi (yaitu
sebagai barang modal atau capital goods) yang akan ditanam kembali
di sawah untuk menghasilkan kembali padi pada waktu-waktu
yang akan datang.
Banyak contoh-contoh lain yang dapat diberikan dengan
memperhatikan komoditas-komoditas lain selain padi. Secara
singkat, PDB belum dapat menjelaskan saling keterkaitan
(interlinkages) antar kegiatan ekonomi dalam membangun
perekonomian suatu negara. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang
terjadi di suatu negara sebenarnya saling membutuhkan atau terkait
satu dengan yang lain dalam upaya menghasilkan suatu produk
atau output. Terdapat saling keterkaitan antar kegiatan ekonomi di
suatu negara dalam menghasilkan output atau produk sehingga
kegiatan-kegiatan ekonomi tersebut bergerak secara keseluruhan
dan menyebabkan perkembangan atau pertumbuhan ekonomi. Jika
output atau produk yang dihasilkan oleh suatu kegiatan ekonomi
banyak, maka kebutuhan terhadap bahan baku (input antara) juga
banyak. Hal tersebut berarti bahwa kegiatan ekonomi tersebut
mampu menarik kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya untuk ikut
maju sebagai penyedia bahan baku (input antara). Pada sisi yang
lain, jika suatu kegiatan ekonomi tumbuh tinggi, maka
kemungkinan besar output kegiatan ekonomi tersebut
dimanfaatkan secara luas oleh kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya.
Keterkaitan atau hubungan antar kegiatan ekonomi ini
bekerja dalam suatu mekanisme yang disebut sebagai keterkaitan
ke belakang (backward linkages) dan keterkaitan ke depan (forward
linkages). Keterkaitan ke belakang adalah peningkatan output
kegiatan ekonomi tertentu yang menarik atau mendorong

2
terjadinya peningkatan output kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya;
sedangkan keterkaitan ke depan menjelaskan pola penyebaran
output suatu kegiatan ekonomi kepada kegiatan-kegiatan ekonomi
lainnya.
Materi kuliah ke-3 ini dimaksudkan untuk menjelaskan
salah satu perangkat analisis ekonomimakro yang disebut sebagai
tabel Input-Output (Input-Output table) atau tabel I-O, yang secara
khusus menjelaskan mengenai analisis keterkaitan, baik keterkaitan
ke belakang dan keterkaitan ke depan, antar kegiatan ekonomi di
suatu negara dalam proses menghasilkan produk atau output,
selain juga beberapa analisis deskriptif sebagaimana dapat
dilakukan terhadap data PDB. Dari suatu tabel I-O dapat dibangun
suatu analisis dampak pengganda (multiplier effect analysis) sehingga
dapat menjelaskan masalah-masalah keterkaitan ke depan dan
keterkaitan ke belakang tersebut.
Agar dapat memahami analisis-analisis ini, materi kuliah ke-
3 ini dimulai dari ilustrasi mengenai suatu tabel I-O, dan kemudian
dilanjutkan dengan menjelaskan mengenai bagan dasar suatu tabel
I-O, asumsi-asumsi, serta konsep dan definisi yang dibutuhkan
untuk membangun suatu tabel I-O (yang secara prinsip sama
dengan konsep dan definisi pada waktu membangun PDB)2, dan
dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kegunaan tabel I-O seperti
analisis deskriptif, analisis dampak pengganda, dan analisis
keterkaitan antar-kegiatan ekonomi yang dapat dibangun dari
suatu tabel I-O.

2. Ilustrasi Keterkaitan Antar Kegiatan Ekonomi


Sebagai suatu ilustrasi, misalkan di suatu negara hanya
terdapat dua kegiatan ekonomi yang menghasilkan produk A dan
produk B. (Catatan: untuk contoh disini, kedua kegiatan ekonomi
ini diistilahkan juga sebagai industri). Produk A dibutuhkan
sebagai input antara untuk menghasilkan produk B, dan produk B
juga membutuhkan produk A sebagai input antara. Kebutuhan
input antara oleh kedua industri tersebut dijelaskan oleh tabel 3.1
berikut.

2Lihat kembali materi kuliah ke-2 mengenai Produk Domestik Bruto (PDB).

3
Tabel 3.1 menjelaskan bahwa untuk menghasilkan 1 unit
output produk A dibutuhkan 0,1 unit produk B sebagai input
antara, misalnya sebagai bahan baku; dan untuk menghasilkan 1
unit produk B dibutuhkan 3 unit produk A sebagai input antara.
Misalkan kegiatan ekonomi A menghasilkan produk A sebanyak
200.000 unit produk A; dan kegiatan ekonomi B menghasilkan
50.000 unit produk B. Untuk menghasilkan 200.000 unit produk A,
kegiatan ekonomi atau industri produk A membutuhkan
0,1*(200.000)=20.000 unit produk B sebagai input antara. Demikian
juga, untuk menghasilkan 50.000 unit produk B membutuhkan
(3)*(50.000)=150.000 unit produk A sebagai input antara. Dengan
demikian, karena jumlah output atau produk A yang dihasilkan
adalah sebanyak 200.000 unit, maka output produk A yang tersisa
berjumlah 200.000-150.000=50.000 unit produk A; sedangkan output
produk B yang tersisa berjumlah 50.000-20.000=30.000 unit produk
B karena jumlah output atau produk yang dihasilkan berjumlah
50.000 unit.

Tabel 3.1
Ilustrasi Dua Kegiatan Ekonomi yang Saling Terkait

Kegiatan Produk A Produk B


Ekonomi/Industri
Produk A 0 3
Produk B 0,1 0

Sisa unit produk A yang berjumlah 50.000 unit dapat


digunakan lagi untuk menghasilkan output atau produk B;
demikian juga sisa unit produk B yang berjumlah 30.000 unit dapat
digunakan lagi untuk menghasilkan output atau produk A.
Misalkan, kegiatan ekonomi produk A masih ingin menghasilkan
200.000 unit produk A dan kegiatan ekonomi produk B juga masih
ingin menghasilkan 50.000 unit produk B. Dengan demikian,
produk A perlu diproduksi lagi sebanyak 100.000 unit agar dapat
digunakan untuk menghasilkan produk B sebanyak 50.000 unit.
Sedangkan produk B tidak perlu diproduksi lagi karena masih

4
terdapat sisa output sebanyak 30.000 unit yang masih lebih dari
cukup (yang dibutuhkan hanya 20.000 unit produk B) untuk
menghasilkan 200.000 unit produk A.
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini, kegiatan
ekonomi A dan B harus berupaya untuk menghasilkan produk-
produk A dan B sesuai dengan permintaan terhadap kebutuhan-
kebutuhan input antara dari masing-masing kegiatan ekonomi.
Proses ini akan terus berlangsung sampai waktu yang tidak
terhingga, yaitu sampai industri A dan B tidak berproduksi lagi.
Ilustrasi ini memberikan gambaran umum mengenai
keterkaitan produksi antar dua kegiatan ekonomi. Pada dasarnya,
keterkaitan produksi dan konsumsi yang dibutuhkan oleh kegiatan-
kegiatan ekonomi di suatu negara adalah sangat beragam dan
komplek. Tabel I-O berupaya untuk menjelaskan keterkaitan-
keterkaitan ini.

3. Bagan Dasar Tabel I-O


Untuk menjelaskan keterkaitan yang terjadi antar kegiatan
ekonomi di suatu negara dibutuhkan suatu bagan dasar tabel I-O.
Tabel I-O pertama kali dikembangkan oleh Profesor Wassily
Leontief pada akhir tahun 1930-an yang menyebabkan beliau
menerima Nobel Prize in Economic Science pada tahun 1973.3
Tabel I-O merupakan suatu metode kompilasi data atau
sistem data yang menunjukkan keterkaitan suatu proses produksi
dengan proses produksi yang lain pada suatu perekonomian yang
terbuka (open economy). Artinya, perekonomian suatu negara tidak
hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi domestik tetapi juga
oleh faktor-faktor eksternal (luar negeri) seperti ekspor dan impor.
Dengan menggunakan tabel I-O dapat dipahami bagaimana suatu
kegiatan ekonomi berhubungan atau terkait dengan kegiatan-
kegiatan ekonomi yang lain melalui keterkaitan penggunaan input
antara untuk menghasilkan output kegiatan ekonomi yang lain,
alokasi output atau produk yang digunakan sebagai input antara
dan konsumsi akhir, serta struktur input atau struktur ekonomi

3Dikutip dari Miller dan Blair (1985).

5
yang terjadi dalam suatu proses produksi pada suatu
perekonomian.
Tabel I-O disusun dalam suatu bentuk matrik yang terdiri
dari baris-baris dan kolom-kolom, yang menggambarkan
keterkaitan barang dan jasa (goods and services) yang dihasilkan dan
yang dibutuhkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi di suatu negara
pada suatu waktu. Suatu tabel I-O sebenarnya terdiri dari 4
(empat) kuadran, tetapi pada buku ini suatu tabel I-O
diperkenalkan dengan 3 (tiga) kuadran, mengikuti tabel I-O yang
dibangun oleh Badan Pusat Statistik (BPS).4
Tabel 3.2 menyajikan bagan dasar dari suatu tabel I-O
dengan penjelasan mengenai ketiga kuadran adalah sebagai berikut:
a. Kuadran I disebut sebagai kuadran input antara
(intermediate inputs) atau konsumsi antara (intermediate
consumption),
b. Kuadran II disebut sebaai kuadran konsumsi akhir (final
consumption) atau permintaan akhir (final demand),
c. Kuadran III disebut sebagai kuadran nilai tambah (value
added) atau input primer (primary inputs).

Kuadran I memuat semua input antara yang dibutuhkan


oleh suatu kegiatan ekonomi untuk menghasilkan output atau
produk. Misalnya, untuk menghasilkan produk padi dibutuhkan
bibit padi, pupuk, dan pestisida. Dengan demikian, kolom pada
kuadran I menunjukkan kegiatan ekonomi yang menghasilkan padi
(disebut juga sebagai industri yang menghasilkan komoditas atau
produk padi), sedangkan baris pada kuadran I menunjukkan
komoditas-komoditas bibit padi, pupuk, dan pestisida yang
dibutuhkan sebagai input antara, termasuk komoditas (produk)
yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi bersangkutan (yaitu padi).
Klasifikasi kegiatan-kegiatan ekonomi atau industri mengikuti
klasifikasi yang disebut sebagai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
Indonesia (KBLI). Panduan klasifikasi ini sudah dipublikasi oleh
Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan klasifikasi komoditas-

4Suatutabel I-O dapat juga terdiri dari empat kuadran, yaitu kuadran I, II, dan III ditambah
dengan kuadran IV yang menjelaskan keterkaitan berbagai institusi ekonomi dengan nilai
tambah atau input primer. Tabel I-O Indonesia disusun dengan menggunakan tiga kuadran.

6
komoditas (produk-produk) yang dihasilkan atau yang dibutuhkan
sebagai input antara mengikuti panduan yang juga sudah
dipublikasi oleh BPS yang disebut sebagai Klasifikasi Baku
Komoditas-Komoditas Indonesia (KBKI). Kedua klasifikasi ini,
KBLI dan KBKI, merupakan implementasi dari panduan yang
diberikan oleh United Nations dengan masing-masing judul
International Standard for Industrial Classification (ISIC) dan Central
Product Classifications (CPC), tetapi kedua KBLI dan KBKI tersebut
disusun dengan menggunakan kasus-kasus di Indonesia.5
Kuadran II memuat semua permintaan akhir (final demand),
yang terdiri dari permintaan konsumsi rumahtangga, permintaan
konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB),
perubahan inventori, dan ekspor/impor. Kuadran II ini merupakan
rincian dari komponen-komponen PDB Pengeluaran atau PDB
Penggunaan.6
Kuadran III memuat semua komponen dari nilai tambah,
yaitu upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak
langsung. Secara umum, kuadran III menjelaskan PDB menurut
pendapatan karena dari kuadran III dapat diperoleh rincian PDB
menurut pendapatan yang tercipta di suatu negara, yaitu upah dan
gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak langsung. Kuadran
III juga menjelaskan PDB menurut berbagai kegiatan produksi
karena dari kuadran ini diperoleh rincian mengenai nilai tambah
(value added) yang diciptakan oleh berbagai kegiatan ekonomi di
suatu negara. Kuadran III ini juga merupakan rincian dari PDB
Produksi.7
Secara total, kuadran I dan kuadran II pada tabel I-O
menjelaskan alokasi output yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan
ekonomi yang digunakan sebagai konsumsi antara (atau input
antara) dan sebagai konsumsi akhir. Dengan demikian, kuadran I
ditambah dengan kuadran II menjelaskan total output yang
dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi yang dirinci menurut
konsumsi antara (atau input antara) dan menurut konsumsi akhir

5Lihat referensi mengenai kedua klasifikasi pada daftar pustaka. Penjelasan lebih lanjut
mengenai hal ini dijelaskan pada bagian klasifikasi tabel I-O yang disajikan pada bagian
berikutnya pada materi kuliah ke- ini.
6Lihat kembali materi kuliah ke- 2 mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) Pengeluaran.
7Lihat kembali materi kuliah ke- 2 mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) Produksi.

7
(atau permintaan akhir), atau disebut juga sebagai alokasi output
(allocations of output) dari suatu produk atau output. Dalam
terminologi penyusunan tabel I-O, kuadran I ditambah dengan
kuadran II adalah sama dengan total output yang dihasilkan oleh
suatu negara.

Tabel 3.2
Bagan Dasar Tabel Input-Output

Kuadran I Kudaran II
(Kuadran Input Antara atau (Kuadran Konsumsi atau
Konsumsi Antara) Permintaan Akhir)

Kuadran III
(Kuadran Input Primer atau Nilai
Tambah)

Secara total, kuadran I dan kuadran III menjelaskan struktur


input (input structures) dalam suatu proses produksi untuk
menghasilkan output suatu kegiatan ekonomi, yang masing-masing
dirinci atas input antara dan input primer (primary inputs) atau nilai
tambah (value added). Dengan demikian, kuadran I ditambah
dengan kuadran III menjelaskan total input yang dibutuhkan untuk
menghasilkan output suatu kegiatan ekonomi, yang sama dengan
total input. Dalam terminologi penyusunan tabel I-O, kuadran I
ditambah dengan kuadran III sama dengan total input. Dalam
proses penyusunan tabel I-O, total input harus sama dengan total
output (jumlah kuadran I ditambah dengan kuadran II).
Dengan demikian, setiap angka atau sel dalam kudran I
mempunyai pengertian ganda, yaitu sebagai input antara pada
waktu melihat dari sisi struktur input; dan sebagai permintaan
antara pada waktu melihat dari sisi alokasi output. Input antara
atau permintaan antara adalah permintaan terhadap barang dan
jasa yang digunakan untuk proses lebih lanjut pada sektor
produksi.

8
Jika tabel 3.2 dirinci secara lebih spesifik, maka bagan umum
dari suatu tabel I-O dapat dirinci sebagaimana disajikan oleh tabel
3.3. Tabel 3.3 memberikan kerangka umum (general framework)
mengenai suatu tabel I-O secara lebih rinci. Misalkan hanya
terdapat tiga kegiatan ekonomi di suatu negara, yaitu kegiatan
ekonomi 1, 2, dan 3, maka bentuk tabel I-O yang disajikan adalah
seperti ditunjukkan oleh tabel 3.3. Karena hanya terdapat tiga
kegiatan ekonomi dan tiga komoditi, tabel I-O ini disebut juga
sebagai tabel I-O berukuran 3x3.

Tabel 3.3
Tabel Input-Output (Simetrik)
Ukuran 3X3

Input atau Konsumsi


Alokasi Antara
Konsumsi
Output
atau Total
Struktur Kegiatan Ekonomi
Permintaan Output
Input 1 2 3 Akhir

1 x11 x12 x13 F1 X1


Kegiatan 2 x21 x22 x23 F2 X2
Ekonomi
3 x31 x32 x33 F3 X3
Jumlah Input V1 V2 V3
Primer atau Nilai
Tambah
Total Input X1 X2 X3

Secara umum, suatu tabel I-O dirinci menurut banyaknya


kegiatan ekonomi atau industri sebanyak n klasifikasi (yaitu
banyaknya klasifikasi KLUI, banyaknya kolom) dan banyaknya
produk atau komoditi yang dihasilkan sebanyak m klasifikasi (yaitu
klasifikasi KBKI, banyaknya baris) disebut sebagai tabel I-O
berukuran m x n, karena terdapat n klasifikasi kegiatan ekonomi
atau industri (kolom) dan m klasifikasi komoditi atau produk
(baris). Pada kasus m≠n, maka suatu tabel I-O disebut sebagai tabel
I-O yang tidak simetrik; sedangkan pada kasus m=n, maka suatu
tabel I-O disebut sebagai tabel I-O yang simetrik. Dengan

9
demikian, tabel I-O pada tabel 3.3 merupakan contoh tabel I-O yang
simetrik.

Asumsi-asumsi pada Tabel Input-Output


Pada suatu tabel I-O, asumsi utama yang berlaku adalah
bahwa output yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan produksi
merupakan kombinasi linier dari input-input yang digunakan.
Pada suatu tabel I-O, diasumsikan bahwa proporsi input yang
digunakan untuk menghasilkan output adalah tetap (fixed). Oleh
karena asumsi ini, suatu tabel I-O disebut juga sebagai suatu model
yang statis (static model).

Input X2
Isoquant

Input X1
Gambar 3.1
Fungsi Produksi Leontief

Gambar 3.1 menunjukkan suatu kurva linier yang


menunjukkan penggunaan input X1 dan X2 yang secara proporsi
tetap (fixed) untuk menghasilkan sejumlah output. Fungsi produksi
ini dikenal sebagai fungsi produksi linier Leontief. Dengan
demikian, pada suatu tabel I-O berlaku ketentuan bahwa besarnya
porsi input untuk menghasilkan output, yang disebut sebagai
koefisien input (input coefficient), adalah sama dengan banyaknya
atau besarnya input dibagi dengan besarnya output, atau:

xij
aij = Xj
............... (3.1)

10
dimana
aij = koefisien input kegiatan produksi j untuk menghasilkan output
dengan menggunakan input i
xij = besarnya input i yang digunakan untuk menghasilkan output j
X j = besarnya output j yang dihasilkan karena menggunakan input i
Sebagai contoh, dengan menggunakan tabel 3.3, misalkan
untuk menghasilkan output X1 sebesar 15.000 satuan moneter
dibutuhkan input antara dari kegiatan produksi 2 sebesar 300
satuan moneter, maka koefisien input a21 adalah sama dengan:

x21
a21 = X1
= 300/15.000
= 0,02

Proporsi input ini diasumsikan tetap (fixed); dan hal tersebut


berarti bahwa economies of scale dalam proses produksi diabaikan,
dan fungsi produksi ini dikenal sebagai suatu fungsi produksi yang
bersifat constant returns to scale (CRS), yang menjelaskan bahwa
kenaikan output yang dihasilkan adalah proporsional dengan
kenaikan input antara yang digunakan.8
Pada gambar 3.1 juga dapat ditunjukkan mengenai isoquant,
yaitu lokasi kedudukan output yang mungkin dihasilkan sebagai
akibat menggunakan berbagai kombinasi input X1 dan X2 yang
digunakan. Pada gambar 3.1 tidak terlihat kemungkinan untuk
melakukan substitusi penggunaan X1 dan X2 karena penggunaan
kedua input tersebut sudah tetap (fixed). Jadi, jika penggunaan
input X1 dikurangi, yang tidak dapat disubstitusi oleh input X2,
memiliki implikasi turunnya atau berkurangnya output yang
dihasilkan.
Pada sisi lain, koefisien input yang tetap (fixed) sebagaimana
dijelaskan sebelumnya memiliki implikasi secara implisit mengenai
keterkaitan antar kegiatan produksi dalam proses produksi untuk
menghasilkan suatu output. Keterkaitan tersebut ditunjukkan oleh
persamaan 3.1 (dengan menggunakan tabel 3.3 sebagai pedoman)

8Lihat buku-buku teks Ekonomimikro yang tersedia mengenai constant returns to scale (CRS).
Jika suatu fungsi produksi bersifat CRS, artinya: perubahan input mengikuti perubahan
output secara proporsional. Lihat misalnya Koutsoyiannis (1979).

11
yang menjelaskan bahwa untuk menghasilkan output Xj (j=1,2,3)
dibutuhkan input-input dari berbagai output yang dihasilkan oleh
kegiatan-kegiatan produksi lainnya. Dengan demikian, pada suatu
proses produksi untuk menghasilkan suatu output terjadi saling
ketergantungan (interlinkages) antar sektor atau kegiatan produksi
terutama dalam hal penggunaan input antara (intermediate inputs).

X1 = x11 + x12 + x13 + F1


X2 = x21 + x22 + x23 + F2 …… (3.1)
X3 = x31 + x32 + x33 + F3

Dengan demikian, secara garis besar, suatu tabel I-O


mengikuti asumsi-asumsi sebagai berikut:
a. Mengikuti asumsi proporsionalitas. Input bagi suatu kegiatan
ekonomi merupakan suatu fungsi hubungan linier terhadap
tingkat output sektor bersangkutan. Dengan perkataan lain,
jumlah input yang digunakan oleh suatu kegiatan ekonomi
akan meningkat atau menurun secara proporsional linier
tergantung kepada kenaikan atau penurunan output oleh
kegiatan ekonomi yang bersangkutan.
b. Mengikuti asumsi homogenitas. Masing-masing kegiatan
ekonomi dalam tabel I-O hanya menghasilkan satu output
dengan mengikuti satu struktur input (proses produksi)
tertentu; tidak ada substitusi di antara input atau output
dalam kegiatan ekonomi.
c. Mengikuti asumsi additivitas. Output atau produksi yang
dihasilkan oleh suatu kegiatan produksi merupakan efek total
dari pelaksanaan berbagai produksi oleh berbagai kegiatan
ekonomi secara terpisah. Dalam hal ini, pengaruh-pengaruh
di luar sistem input-output terhadap tingkat produksi
kegiatan ekonomi diabaikan.

4. Kegunaan Tabel I-O


Dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan pada bagian
sebelumnya, secara khusus suatu tabel I-O disusun untuk
menjelaskan analisis keterkaitan antar kegiatan ekonomi dalam
menghasilkan output atau produk, yang akan dicakup dalam

12
analisis dampak pengganda (multiplier effect analysis) dan analisis
keterkaitan ke ke depan (forward lingkage analysis) dan analisis
keterkaitan ke belakang (backward linkage analysis). Dari analisis-
analisis tersebut, suatu analisis yang menjelaskan kegiatan-kegiatan
ekonomi yang dominan di suatu negara atau daerah (leading
economic activities) dapat juga dilakukan.
Analisis-analisis dengan menggunakan tabel I-O tersebut
sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai penunjang
perencanaan pembangunan, baik oleh pemerintah pusat atau
pemerintah daerah, untuk memberikan suatu rekomendasi dalam
menjalankan kebijakan ekonomi, sehingga dengan memperhatikan
analisis-analisis tersebut kegiatan-kegiatan ekonomi di suatu negara
atau daerah dapat berkembang secara bersama-sama dan
pembangunan ekonomi dapat terlaksana dengan baik.
Disamping itu, kegunaan-kegunaan lainnya dari tabel I-O
adalah sama dengan analisis yang dapat dilakukan dengan
menggunakan data PDB, tetapi dengan dimensi analisis yang lebih
luas karena data yang tersedia pada tabel I-O lebih banyak atau
lebih luas dari pada data PDB. Beberapa tujuan lain yang dapat
dicapai dari penggunaan tabel I-O, antara lain, adalah:
a. Untuk memberikan berbagai analisis ekonomimakro
secara deskriptif, seperti analisis kinerja ekonomi
(economic performances) suatu negara secara lebih rinci,
seperti analisis struktur input, analisis alokasi output,
analisis import contents, dan sebagainya,
b. Analisis dampak (impact analysis), misalnya menjelaskan
dampak peningkatan investasi terhadap PDB,
menjelaskan peran kegiatan kegiatan ekonomi yang
menjadi sektor unggulan dan peranannya dalam
perekonomian, menjelaskan peran kegiatan ekonomi
atau komoditas-komoditas unggulan dalam
menciptakan pendapatan dan penciptaan lapangan
pekerjaan,
c. Analisis keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke
belakang,
d. Analisis dengan menggunakan tabel I-O juga dapat
menunjukkan kegiatan-kegiatan ekonomi unggulan

13
(leading economic activities) di suatu negara.

5. Konsep dan Definisi9


Dari bagan umum suatu tabel I-O sebagaimana telah
ditunjukkan oleh tabel 3.3 pada bagian sebelumnya, beberapa
konsep dan definisi perlu dijelaskan pada bagian ini, misalnya
mengenai output, input antara, input primer (atau nilai tambah),
permintaan akhir dan ekspor-impor. Konsep dan definisi ini sudah
dibangun dan disusun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai
lembaga resmi di Indonesia yang berwenang dalam melakukan
penyusunan tabel I-O. Tabel I-O Indonesia, oleh BPS, disusun
setiap 10 tahun sekali; dan jika dibutuhkan dapat dilakukan suatu
kegiatan untuk melakukan pembaharuan tabel I-O Indonesia
(updated Input-Output Table) agar ketersediaan tabel I-O Indonesia
selalu terjaga.

Output
Output merupakan nilai produksi barang dan jasa yang
dihasilkan oleh seluruh kegiatan-kegiatan ekonomi yang beroperasi
di suatu negara pada suatu periode tertentu, tanpa memperhatikan
asal-usul pelaku produksi. Pelaku-pelaku produksi dapat berupa
perusahaan-perusahaan domestik atau perusahaan-perusahaan
asing; atau dapat juga merupakan kegiatan-kegiatan produksi yang
dilakukan oleh perorangan, sepanjang kegiatan produksi dilakukan
dalam wilayah teritorial suatu negara, maka output yang dihasilkan
oleh kegiatan-kegiatan produksi tersebut dihitung sebagai output
negara bersangkutan. Oleh karena itu, output yang dihasilkan
disebut sebagai output domestik karena yang menjadi fokus
perhatian adalah output yang dihasilkan oleh suatu wilayah
domestik, bukan oleh pemilik usaha atau pemilik kegiatan
produksi. Disamping itu, output yang dihitung adalah semua
output yang dihasilkan selama suatu periode tanpa memperhatikan
apakah output tersebut dijual, atau dikonsumsi, atau tidak terjual
atau tidak dikonsumsi. Catatan: dalam tabel I-O terdapat suatu

9Lihatjuga konsep dan definisi dalam melakukan kompilasi Produk Domestik Bruto (PDB)
yang diberikan pada materi kuliah ke-2 karena pada dasarnya konsep dan definisi pada
penyusunan tabel I-O adalah sama dengan metode penyusunan PDB.

14
rincian yang disebut sebagai perubahan inventori (changes in
inventory) untuk menampung masalah-masalah output yang tidak
terjual atau tidak dikonsumsi tersebut. Output yang dihasilkan
oleh suatu kegiatan produksi dapat berupa barang (goods) dan juga
berupa jasa (services) tergantung kepada jenis-jenis kegiatan
produksinya.
Ada 3 (tiga) jenis output atau produksi yang mungkin
dihasilkan oleh suatu kegiatan produksi, yaitu :
a. Produksi utama (main products), yaitu produksi yang
memberikan nilai atau kuantitas terbesar pada
keseluruhan kegiatan usaha.
b. Produksi ikutan (by products), yaitu produksi yang
dihasilkan bersama dengan produksi utama dalam suatu
proses yang tunggal, misal jerami yang dihasilkan
bersama padi, guntingan kaleng pada proses pembuatan
ember, dan sebagainya.
c. Produksi sampingan (secondary products), yaitu produksi
yang dihasilkan bersama produksi utama tetapi tidak
dari satu proses yang sama, atau tidak menggunakan
teknologi yang sama seperti menghasilkan produk
utama. Produk ini biasanya berfungsi sebagai penunjang
produksi utama, misal produksi botol untuk menunjang
produksi kecap dan minuman, kemasan kotak yang
digunakan dalam pabrik rokok.

Sebagai suatu ilustrasi, misalkan seorang petani memiliki


kegiatan utamanya adalah menanam jagung. Disamping menanam
jagung, petani tersebut juga menanam tanaman sela berupa kacang-
kacangan diantara tanaman jagung dengan maksud untuk
menghalau tumbuhnya rumput-rumputan atau untuk
menyuburkan tanah disekitar tanaman jagung tersebut. Dalam
kasus ini, produk utama petani tersebut adalah jagung; dan produk
ikutan adalah kulit jagung (klobot jagung) dan batang jagung
karena produk-produk ini merupakan produk-produk ikutan dari
tanaman jagung; sedangkan tanaman kacang-kacangan merupakan

15
produk sampingan karena produk ini merupakan produk
sampingan dari menaman jagung.10
Dalam penghitungan output, nilai produk ikutan
dimasukkan sebagai bagian dari produk utama karena kedua
produk atau output tersebut memiliki cara atau teknoklogi yang
sama dalam menghasilkan output.
Sedangkan terhadap produk sampingan, perlu diperhatikan
2 (dua) hal, yaitu:
a. Jika karakteristik produk sampingan mirip atau sama
dengan produksi utama, maka produk sampingan
dimasukkan sebagai bagian dari produk utama.
b. Jika karakteristik produk sampingan berbeda dari
produk utama, maka produk sampingan diperlakukan
sebagai bagian dari output kegiatan produksi lainnya.

Pada ilustrasi sebelumnya mengenai petani jagung, tanaman


kacang-kacangan tidak dimasukkan sebagai bagian dari tanaman
jagung karena karakteristik kacang-kacangan berbeda dari
karakteristik jagung (kasus b).
Contoh karakteristik produk sampingan yang mirip dengan
produk utama adalah pada kasus industri pakaian jadi yang selain
menghasilkan pakaian jadi, industri ini juga menghasilkan sendiri
bahan baku untuk pakaian jadi. Dengan demikian, industri ini
selain menghasilkan pakaian jadi sebagai output, juga
menghasilkan bahan baku pakaian jadi sebagai output (kasus a).
Ilustrasi lain mengenai output adalah mengenai suatu
perusahaan industri tekstil yang membangkitkan sendiri daya
listriknya guna memenuhi kebutuhan daya listrik dalam proses
produksi tekstil. Ternyata, industri ini juga menjual daya listrik
yang berlebih kepada pihak lain. Pada kasus ini, daya listrik yang
dijual kepada pihak lain diperlakukan sebagai output atau produk
dari kegiatan (produksi) listrik yang terpisah dari kegiatan industri
tekstil (kasus b); sedangkan penggunaan daya listrik untuk
memenuhi kebutuhan listrik dalam proses produksi tekstil
diperlakukan sebagai input antara (intermediate inputs) yang dapat

10Pada kasus lain, cara mengidentifikasi produk sampingan adalah dengan memperhatikan
teknologi yang berbeda dari teknologi yang digunakan untuk menghasilkan produk utama.

16
dinilai dari besarnya nilai penggunaan bahan-bahan input untuk
membangkitkan listrik.
Beberapa pengertian output untuk kegiatan-kegiatan
produksi tertentu adalah sebagai berikut:
a. Output kegiatan konstruksi adalah besarnya nilai
pekerjaan yang telah dilaksanakan selama suatu periode
penghitungan, tanpa memperhatikan apakah pekerjaan
konstruksi tersebut sudah selesai dilaksanakan
seluruhnya atau belum. Pada kasus pekerjaan
konstruksi yang belum selesai dilaksanakan semuanya,
misalnya baru 1/3 bagian yang diselesaikan, maka
output yang dimasukkan dalam nilai output kegiatan
konstruksi adalah nilai dari 1/3 bagian pekerjaan
konstruksi yang diselesaikan. Output kegiatan
konstruksi mencakup juga semua perlengkapan yang
digunakan untuk melengkapi kegiatan konstruksi
tersebut, seperti perlengkapan listrik, mesin pendingin
ruangan (AC), perlengkapan instalasi air, yang dipasang
bersama-sama dengan pekerjaan konstruksi
bersangkutan. Catatan: nilai lahan atau tanah tidak
dimasukkan sebagai output dari kegiatan konstruksi
kecuali misalnya nilai pengerjaan perataan tanah yang
berkaitan dengan pembentukan modal tetap bruto
(PMTB).11
b. Output kegiatan perdagangan adalah marjin
perdagangan yang ditimbulkan oleh kegiatan ini. Marjin
perdagangan (trade margin) adalah selisih antara harga
konsumen dengan harga produsen setelah dikurangi
dengan biaya-biaya transportasi.
c. Output kegiatan transportasi. Salah satu output pada
kegiatan transportasi adalah marjin transportasi
(transportation margin) yang ditimbulkan sebagai akibat
melakukan kegiatan pendistribusian barang-barang dari
produsen kepada konsumen. Biaya-biaya transportasi
yang ditimbulkan oleh kegiatan ini, yang disebut sebagai

11Lihat
konsep pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada materi kuliah ke-2 mengenai
Produk Domestik Bruto (PDB).

17
marjin transportasi, merupakan salah satu output
kegiatan transportasi.
d. Output kegiatan perbankan adalah besarnya nilai jasa
pelayanan (services) yang diberikan oleh lembaga
perbankan kepada pelanggan-pelanggannya. Sistem
Neraca Nasional (SNN) 1968 memberikan definisi
mengenai output kegiatan perbankan adalah sama
dengan selisih bunga yang diterima oleh kegiatan
perbankan dengan bunga yang dibayar; sedangkan SNN
2008 mendefinisikan output kegiatan perbankan dengan
menggunakan metode FISIM (Financial Intermediary
Services Indirectly Measured).12
e. Output kegiatan pemerintahan adalah sama dengan jasa
pelayanan kegiatan pemerintahan yang diberikan
kepada masyarakat. Besarnya jasa ini diperkirakan dari
besarnya belanja pegawai dan penyusutan barang-
barang modal (capital goods) milik pemerintah.

Penilaian output suatu kegiatan produksi dapat dinilai atas


dasar harga produsen (at producer’s prices) atau atas dasar harga
pembeli atau harga konsumen (at consumer’s prices). Penilaian atas
dasar harga produsen merupakan penilaian harga produk pada
transaksi pertama barang-barang tersebut selesai dihasilkan atau
diproduksi. Yang termasuk dalam komponen-komponen harga
produsen adalah semua biaya-biaya produksi untuk menghasilkan
produk ditambah dengan keuntungan (profit) perusahaan dan pajak
tidak langsung neto (pajak tidak langsung dikurangi subsidi) yang
ditanggung atau yang harus dibayar oleh perusahaan. Harga
produsen tidak termasuk marjin perdagangan dan marjin
transportasi. Catatan: biaya-biaya pengangkutan dalam rangka
proses produksi seperti biaya-biaya pengangkutan untuk
mengangkut bahan-bahan baku dimasukkan dalam kategori biaya-
biaya produksi, dan oleh karena itu masih termasuk sebagai
komponen harga produsen. Sedangkan marjin transportasi yang
harus dibayar oleh konsumen, yang mendistribusikan produk dari

12Lihat mengenai hal ini pada materi kuliah ke-1 (Sistem Neraca Nasional).

18
produsen kepada konsumen, sebagaimana dijelaskan di atas bukan
lagi merupakan komponen biaya produksi.
Harga konsumen adalah harga produsen ditambah dengan
marjin perdagangan dan marjin transportasi. Harga konsumen
terdiri dari 2 (dua) kategori, yaitu:
a. Harga perdagangan besar (wholesale prices), yaitu harga
produsen ditambah dengan marjin perdagangan dan
marjin transportasi yang dibutuhkan agar barang-barang
atau produk-produk sampai dari produsen kepada
pedagang besar; dalam hal harga perdagangan besar ini
termasuk keuntungan pedagang besar.
b. Harga perdagangan eceran (retailer prices), yaitu harga
perdagangan besar ditambah dengan marjin
perdagangan dan marjin transportasi yang dibutuhkan
agar barang-barang atau produk-produk sampai dari
pedagang besar kepada pedagang eceran; dalam hal
harga perdagangan eceran ini termasuk keuntungan
pedagang eceran.

Pada prakteknya, informasi mengenai harga barang atau


harga produk yang dapat diperoleh dari lapangan (misalnya dari
kegiatan survei) adalah harga konsumen. Oleh karena itu, dalam
penyusunan tabel I-O perlu diperkirakan besarnya marjin
perdagangan (dalam hal ini termasuk keuntungan pedagang besar
dan pedagang eceran) dan marjin transportasi secara terpisah agar
penilaian atas dasar harga produsen dapat diperkirakan. Catatan:
output untuk kegiatan jasa merupakan nilai dari jasa yang
diberikan pada pihak lain.
Dalam suatu kerangka model I-O, output biasanya
dinotasikan dengan X (Xi atau Xj dimana i dan j output dari
kegiatan ekonomi ke-i atau ke-j). Dalam tabel I-O Indonesia, output
biasanya diberi kode 210 (lihat contoh klasifikasi tabel I-O yang
diberikan pada tabel 3.4 berikut).

Input Antara
Input antara (intermediate inputs) adalah penggunaan
berbagai barang dan jasa oleh suatu kegiatan produksi untuk

19
menghasilkan output berupa barang dan jasa (goods and services).
Input antara tersebut dapat berasal dari produksi kegiatan-kegiatan
ekonomi lain, dan/atau juga dari produksi sendiri; baik yang
merupakan produk domestik atau produk impor. Barang-barang
yang digunakan sebagai input antara biasanya habis sekali pakai
dalam suatu proses produksi, seperti bahan baku, bahan penolong,
bahan bakar dan sejenisnya.
Beberapa catatan mengenai input antara adalah sebagai
berikut:
a. Kadang-kadang sulit untuk membedakan apakah suatu
transaksi barang dan jasa harus dicatat sebagai input
antara atau bukan. Pedoman yang dapat digunakan
adalah sebagai berikut: sepanjang transaksi barang dan
jasa merupakan atau dalam rangka proses produksi,
maka transaksi tersebut digolongkan sebagai input
antara. Contoh: pengeluaran untuk karyawan yang
ditanggung oleh produsen dalam rangka proses
produksi (misalnya pengeluaran untuk membeli helm
kerja, jaket kerja, dan sebagainya) diperlakukan sebagai
input antara; tetapi pengeluaran berupa barang
(misalnya pemberian hadiah lebaran berupa baju,
sarung, makanan, dan sebagainya) yang diberikan
kepada karyawan dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan karyawan diperlakukan sebagai bagian
dari upah dan gaji, bukan sebagai input antara.
b. Perbaikan-perbaikan ringan dikategorikan sebegai input
antara, sedangkan perbaikan besar yang akan
memperpanjang umur penggunaan suatu barang modal
seperti mesin-mesin dikategorikan sebagai pembentukan
modal tetap bruto (PMTB). Contoh: perbaikan lampu
mesin produksi karena rusak (misalnya perbaikan
projector lamp) diperlakukan sebagai input antara;
sedangkan perbaikan mesin produksi secara besar
(misalnya perbaikan mesin giling daging pada industri
pengalengan daging) diperlakukan sebagai PMTB,
bukan sebagai input antara. Catatan: pengeluaran untuk
pemeliharaan tanaman keras (seperti tanaman kelapa

20
sawit) dari mulai tumbuh sampai tanaman kelapa sawit
tersebut menghasilkan diperlakukan sebagai PMTB,
bukan sebagai input antara.
c. Informasi yang diperoleh mengenai harga input antara
biasanya adalah atas dasar harga konsumen. Oleh
karena itu, untuk membangun suatu tabel I-O atas dasar
harga produsen, khususnya pada kuadran input antara,
marjin perdagangan dan marjin transportasi perlu
diperkirakan terhadap berbagai input antara yang
digunakan untuk menghasilkan output atau produk
agar dapat memperkirakan kuadran input antara atas
dasar harga produsen.
d. Dalam suatu tabel I-O, penggunaan input antara oleh
berbagai kegaitan produksi dapat menunjukkan
keterkaitan antara kegiatan ekonomi pada suatu
perekonomian; dan penggunaan input antara tersebut
dinotasikan dengan Xij, yaitu input antara yang berasal
dari kegiatan produksi ke-i yang digunakan oleh
kegiatan produksi ke-j dalam rangka menghasilkan
output Xj. Pada tabel I-O, total input antara atau ∑Xij
biasanya diberi kode 190 (lihat contoh klasifikasi tabel I-
O yang diberikan pada tabel 3.4 berikut).
e. Pada tabel I-O transaksi domestik atau model I-O impor
tidak bersaing (non-competitive import Input-Output
Model) terdapat dua komponen yang perlu dipisahkan,
yaitu komponen input antara yang berasal dari produksi
domestik dan input antara yang berasal dari impor. Oleh
karena itu, untuk menghasilkan suatu tabel I-O
sedemikian perlu dipisahkan penggunaan produk
domestik sebagai input dari penggunaan produk impor
sebagai input antara pada kuadran input antara.13

Input Primer atau Nilai Tambah


Input primer (primary input) atau lebih dikenal dengan
istilah nilai tambah (value added) merupakan balas jasa yang

13Lihat penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini pada bagian penyajian tabel Input-Output.

21
diberikan kepada faktor-faktor produksi yang berperan dalam
proses produksi untuk menghasilkan output atau produk. Balas
jasa tersebut mencakup upah dan gaji (wages and salaries), surplus
usaha (operating surplus), penyusutan (depreciations), dan pajak tak
langsung neto (net indirect taxes).
Upah dan gaji merupakan balas jasa yang diberikan kepada
faktor produksi tenagakerja (labour), yaitu buruh/karyawan, baik
dalam bentuk uang maupun barang. Termasuk dalam upah dan gaji
adalah semua tunjangan (perumahan, kendaraan, kesehatan) dan
bonus, uang lembur yang diberikan perusahaan kepada pekerja.
Semua pendapatan pekerja tersebut masih dalam bentuk bruto atau
sebelum dipotong pajak penghasilan.
Surplus usaha adalah balas jasa yang diberikan kepada
faktor produk modal atau kapital (capital), yang dapat mencakup
sewa properti (tanah, hak cipta atau patents), bunga neto (bunga
yang diterima dikurangi bunga yang dibayar) dan keuntungan
(profits) perusahaan. Keuntungan perusahaan dihitung dalam
bentuk bruto, yaitu sebelum dibagikan kepada pemilik saham
berupa dividen dan sebelum dipotong pajak pendapatan.
Penyusutan merupakan suatu nilai penyisihan terhadap
barang-barang modal (capital goods) perusahaan yang dimaksudkan
sebagai cadangan untuk penggantian barang-barang modal yang
digunakan.
Pajak tak langsung neto merupakan pajak yang dikenakan
pemerintah terhadap transaksi penjualan yang dilakukan oleh
perusahaan, seperti pajak pertambahan nilai (PPN), pajak impor,
pajak ekspor, dan sebagainya, setelah dikurangi dengan subsidi
yang diterima.
Dalam model I-O, nilai tambah biasanya dinotasikan dengan
Vj, dan untuk setiap komponennya menggunakan notasi h. Jadi Vhj
merupakan nilai tambah yang diciptakan di kegiatan ekonomi ke-j
untuk komponen h. Dalam tabel I-O Indonesia, komponen nilai
tambah biasanya diberi kode 201 sampai dengan 204 dan jumlah
nilai tambah untuk setiap sektor diberi kode 209 (lihat contoh
klasifikasi tabel I-O yang diberikan pada tabel 3.4 berikut).

22
Permintaan Akhir
Permintaan terhadap barang dan jasa dibedakan atas
permintaan oleh kegiatan-kegiatan produksi untuk proses produksi
yang disebut sebagai permintaan antara (intermediate demand); dan
permintaan oleh konsumen akhir disebut sebagai permintaan akhir
(final demand). Dalam tabel I-O, permintaan akhir mencakup
pengeluaran konsumsi rumahtangga, pengeluaran konsumsi
pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), perubahan
invesntori, ekspor dan impor.
Pengeluaran konsumsi rumahtangga (kode 301 dalam tabel
I-O Indonesia; lihat contoh klasifikasi tabel I-O yang diberikan pada
tabel 3.4 berikut) mencakup semua pembelian barang dan jasa oleh
rumahtangga, baik untuk makanan maupun bukan-makanan.
Termasuk pula pembelian barang-barang tahan lama (durable goods),
seperti perlengkapan rumahtangga, kendaraan bermotor, dan
sebagainya. Catatan: pembelian yang tidak termasuk dalam
konsumsi rumahtangga adalah bangunan tempat tinggal, karena
pembelian ini dianggap sebagai pembentukan modal tetap bruto
(PMTB) pada kegiatan persewaan bangunan. Konsumsi
rumahtangga mencakup pula barang-barang hasil produksi sendiri
dan pemberian dari pihak lain.
Termasuk dalam kategori pengeluaran konsumsi
rumahtangga (kode 301) adalah pengeluaran konsumsi lembaga
swasta nirlaba yang melayani rumahtangga (non-profit institutions
serving households atau NPISHs), seperti rumah yatim piatu, rumah
jompo, dan sebagainya. Yang termasuk dalam pengeluaran ini
adalah semua pengeluaran rutin yang dikeluarkan oleh NIPSHs
untuk melaksanakan berbagai kegiatan institusi tersebut yang
terdiri dari biaya karyawan, belanja barang bukan barang modal,
serta penyusutan setelah dikurangi dengan penerimaan dari jasa-
jasa yang diberikan kepada masyarakat.
Pengeluaran konsumsi pemerintah (kode 302 dalam tabel I-
O Indonesia; lihat pada contoh klasifikasi tabel I-O yang diberikan
pada tabel 3.4 berikut) mencakup semua pembelian barang dan jasa
oleh pemerintah yang bersifat rutin (current expenditures), termasuk
pembayaran gaji para pegawai (belanja pegawai), belanja barang
bukan barang modal, dan penyusutan, setelah dikurangi dengan

23
penerimaan yang diterima dari kegiatan-kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan pemerintah. Pengeluaran pembangunan
untuk pengadaan sarana dan berbagai barang modal, termasuk
dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Pembentukan modal tetap bruto atau PMTB (kode 303
dalam tabel I-O Indonesia; lihat contoh klasifikasi tabel I-O yang
diberikan pada tabel 3.4 berikut) mencakup semua pengeluaran
untuk pengadaan barang modal baik dilakukan oleh pemerintah
maupun perusahaan-perusahaan swasta (bisnis) domestik. PMTB
yang dicatat dalam tabel I-O adalah PMTB yang dihasilkan oleh
kegiatan domestik saja; sedangkan PMTB yang dihasilkan oleh luar
negeri tidak dimasukkan sebagai PMTB dalam tabel I-O jika tidak
dibeli oleh pelaku-pelaku ekonomi domestik. Barang-barang modal
yang dihasilkan oleh kegiatan produksi domestik harus merupakan
barang-barang modal baru; sedangkan barang-barang modal yang
dimasukkan sebagai PMTB dapat berupa barang-barang modal
baru atau barang-barang modal bekas.
Barang-barang modal (capital goods) dapat terdiri dari
bangunan atau konstruksi, mesin-mesin dan peralatannya,
kendaraan dan angkutan, serta barang modal lainnya. Yang
termasuk dalam kategori PMTB, antara lain, adalah sebagai berikut:
a. Barang modal baru dari dalam negeri dalam bentuk
konstruksi atau bangunan, mesin-mesin dan
perlengkapannya, alat-alat angkutan dan
perlengkapannya, yang biasanya memiliki umur
pemakaian yang lebih dari satu tahun,
b. Barang modal baru atau bekas dari luar negeri dalam
bentuk mesin-mesin dan perlengkapannya, alat-alat
angkutan dan perlengkapannya, yang biasanya memiliki
umur pemakaian yang lebih dari satu tahun, dengan
catatan: tidak ada barang modal dalam bentuk
konstruksi atau bangunan baru dari luar negeri,
c. Biaya-biaya untuk melakukan perubahan dan perbaikan
berat barang-barang modal yang berakibat kepada
peningkatan kapasitas, produktivitas, atau
memperpanjang umur pemakaian barang-barang modal
bersangkutan,

24
d. Biaya-biaya atau pengeluaran untuk maksud-maksud,
misalnya pengembangan atau pembukaan tanah atau
lahan, perluasan areal hutan dan daerah pertambangan,
penanaman dan peremajaan tanaman keras,
e. Pembelian ternak produktif untuk keperluan pembiakan,
pemerahan susu, pengangkutan, tetapi tidak termasuk
ternak untuk dipotong, seperti sapi, kerbau, lembu,
ayam, itik, dan semacamnya; termasuk dalam kategori
ini adalah bibit-bibit tanaman seperti bibit padi, bibit
jagung, dan semacamnya,
f. Biaya-biaya lain yang berhubungan dan mengikuti
transaksi-transaksi jual-beli tanah, sumber-sumber
mineral, hak penguasaan hutan, hak paten, hak cipta,
dan semacamnya.

Perubahan inventori (kode 304 dalam tabel I-O Indonesia;


lihat contoh klasifikasi tabel I-O yang diberikan pada tabel 3.4
berikut) sebenarnya juga merupakan pembentukan modal atau
PMTB. Perubahan inventori (changes in inventory) adalah selisih
inventori akhir dengan inventori awal pada periode penghitungan.
Inventori merupakan hasil produksi yang belum dijual, termasuk
barang dagangan yang belum dijual, dan bahan-bahan baku yang
belum digunakan.
Rincian inventori, antara lain, adalah sebagai berikut:
a. Inventori dalam bentuk barang-barang jadi dan barang-
barang setengah jadi yang masih berada pada produsen,
b. Inventori dalam bentuk bahan-bahan baku yang belum
digunakan oleh produsen,
c. Inventori perdagangan yang merupakan barang-barang
perdagangan yang belum terjual.

Ekspor (kode 305 dalam tabel I-O Indonesia; lihat contoh


klasifikasi tabel I-O yang diberikan pada tabel 3.4 berikut) dan
impor (kode 409 dalam tabel I-O Indonesia; lihat contoh klasifikasi
tabel I-O yang diberikan pada tabel 3.4 berikut) merupakan
kegiatan atau transaksi barang dan jasa antara penduduk suatu
negara dengan penduduk luar negeri. Ekspor dan impor yang

25
terjadi dapat berupa ekspor dan impor berupa barang-barang
(merchandise), seperti ekspor dan impor beras, kopi, barang-barang
hasil-hasil industri makanan dan minuman, barang-barang mineral,
dan semacamnya; atau berupa jasa-jasa (services), seperti jasa
pengankutan kapal, jasa pariwisata, jasa asuransi, jasa komunikasi,
dan semacamnya.
Sistem Neraca Nasional (SNN) 1968 mengatur pencatatan
ekspor dan impor yang dilakukan oleh suatu negara sebagai
berikut:
a. Nilai ekpsor ditetapkan dalam harga fob (free on board),
yaitu harga atau biaya-biaya terhadap produk hanya
sampai di pelabuhan sebelum diekspor. Biaya-biaya ini
terdiri biaya-biaya produksi, semua biaya pengangkutan
dari produsen sampai ke pelabuhan negara pengekspor,
bea ekspor, dan biaya-biaya memasukkan barang-barang
ekspor ke kapal-kapal pengangkut,
b. Nilai impor ditetapkan dalam harga pendaratan (landed
costs), yang terdiri dari biaya-biaya cif (costs, insurances,
and freights). Dengan demikian, harga barang-barang
impor selain termasuk harga fob, juga termasuk biaya-
biaya asuransi dan pengakutan kapal dari negara
pengekspor menuju ke negara pengimpor yang harus
ditanggung oleh pembeli (pengimpor).

Sistem Neraca Nasional (SNN) 2008 mengatur pencatatan


ekspor dan impor yang dilakukan oleh suatu negara semuanya
dicatat dalam harga fob, sedangkan yang lain (insurances and freights)
dimasukkan dalam ekspor dan impor jasa-jasa.

6. Klasifikasi Tabel Input-Output


Tabel I-O merupakan suatu sistem data yang menyajikan
data perekonomian suatu negara atau daerah secara menyeluruh
atau komprehensif. Dengan demikian, suatu tabel I-O mampu
menjelaskan kinerja ekonomi secara umum dan juga secara spesifik
dari berbagai kegiatan ekonomi di negara atau daerah
bersangkutan, khususnya mengenai keterkaitan antar kegiatan-
kegiatan ekonomi di negara atau daerah tersebut.

26
Pada dasarnya, barang dan jasa atau komoditas yang
dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi dapat terdiri dari
berbagai jenis dan dihasilkan dalam bentuk fisik yang berbeda.
Oleh karena itu, dalam suatu tabel I-O perlu dilakukan kesamaan
satuan ukuran dari berbagai macam barang dan jasa yang
dihasilkan, dan pada kasus ini disepakati untuk menggunakan
satuan moneter yang sama. Satuan ukuran barang dan jasa yang
dihasilkan oleh berbagai kegiatan ekonomi di Indonesia dalam tabel
I-O Indonesia dicatat dalam satuan nilai mata uang Indonesia, yaitu
rupiah Indonesia.
Karena sedemikian banyaknya barang dan jasa yang
dihasilkan oleh berbagai kegiatan ekonomi, maka dalam
penyusunan suatu tabel I-O dibutuhkan juga suatu klasifikasi
barang dan jasa yang dihasilkan termasuk barang dan jasa
(komoditi-komoditi) yang digunakan sebagai input antara atau
konsumsi akhir. Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa
untuk menyusun klasifikasi ini, Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
(KBLI) Indonesia dan Klasifikasi Baku Komoditi Indonesia (KBKI)
telah digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menyusun
klasifikasi tabel I-O Indonesia.
Tabel 3.4 berikut menyajikan suatu klasifikasi tabel I-O
Indonesia 2008 yang berukuran 66x66 (tabel I-O Indonesia yang
simetris). Dengan demikian, klasifikasi yang disajikan pada contoh
ini adalah 66 klasifikasi sektor atau kegiatan ekonomi.14

Tabel 3.4
Klasifikasi 66 Kegiatan Ekonomi
Tabel I-O Indonesia 2008

Kode
I-O Kegiatan Ekonomi/Komoditas
1 Padi
2 Tanaman Kacang-kacangan
3 Jagung
4 Tanaman Umbi-umbian

14Besarnya klasifikasi suatu table Input-Output tergantung kepada kebutuhan analisis dan
ketersediaan data. Klasifikasi tabel I-O Indonesia 2008 yang lebih rinci dari 66 klasifikasi
adalah 175 klasifikasi.

27
5 Sayur-sayuran dan buah-buahan
6 Tanaman bahan makanan lainnya
7 Karet
8 Tabu
9 Kelapa
10 Kelapa sawit
11 Tembakau
12 Kopi
13 Teh
14 Cengkeh
15 Hasil tanaman serat
16 Tanaman perkebunan lainnya
17 Tanaman lainnya
18 Peternakan
19 Pemotongan hewan
20 Unggas dan hasil-hasilnya
21 Kayu
22 Hasil hutan lainnya
23 Perikanan
24 Penambangan batu bara dan bijih logam
25 Penambangan minyak, gas, dan panas bumi
26 Penambangan dan penggalian lainnya
27 Industri pengolahan dan pengawetan makanan
28 Industri minyak dan lemak
29 Industri penggilingan padi
30 Industri tepung segala jenis
31 Industri gula
32 Industri makanan lainnya
33 Industri minuman
34 Industri rokok
35 Industri pemintalan
36 Industri tekstil, pakaian, dan kulit
37 Industri bambu, kayu, dan rotan
38 Industri kertas, barang dari kertas dan karton
39 Industri pupuk dan pestisida
40 Industri kimia
41 Pengilangan minyak bumi
42 Industri barang karet dan plastik
43 Industri barang-barang dari mineral bukan logam
44 Industri semen

28
45 Industri dasar besi dan baja
46 Industri logam dasar bukan besi
47 Industri barang dari logam
48 Industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik
49 Industri alat pengangkutan dan perbaikannya
50 Industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun
51 Listrik, gas, dan air bersih
52 Bangunan
53 Perdagangan
54 Restoran dan hotel
55 Angkutan kereta api
56 Angkutan darat
57 Angkutan air
58 Angkutan udara
59 Jasa penunjang angkutan
60 Komunikasi
61 Lembaga keuangan
62 Real estate dan jasa perusahaan
63 Pemerintahan umum dan pertahanan
64 Jasa sosial kemasyarakatan
65 Jas lainnya
66 Kegiatan yang tidak jelas batasannya
180 Jumlah permintaan antara
190 Jumlah input antara
200 Input antara impor
201 Upah dan gaji
202 Surplus usaha
203 Penyusutan
204 Pajak Tidak Langsung
205 Subsidi
209 Nilai tambah bruto
210 Total Input
301 Pengeluaran konsumsi rumahtangga
302 Pengeluaran konsumsi pemerintah
303 Pembentukan modal tetap bruto
304 Perubahan inventori
305 Ekspor barang
306 Ekspor jasa
309 Jumlah permintaan akhir
310 Total permintaan
401 Impor barang
402 Pajak penjualan
403 Bea masuk

29
404 Impor jasa
405 Subsidi impor BBM
409 Jumlah impor
501 Marjin perdagangan besar
502 Marin perdagangan eceran
503 Biaya pengangkutan
509 Jumlah marjin perdagangan dan biaya pengangkutan
600 Total output
700 Total penyediaan

7. Penyajian Tabel Input-Output


Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa suatu tabel
I-O sebenarnya terdiri dari 4 (empat) kuadran, yaitu kuadran I
merupakan kuadran input antara (intermediate inputs) atau kuadran
konsumsi antara (intermediate consumptions), kuadran 2 merupakan
kuadran permintaan akhir (final demands) atau konsumsi akhir (final
consumptions), kuadran 3 merupak kuadran nilai tambah (value
added) atau kudaran input primer (primary inputs), dan kuadran 4
merupakan kuadran keterkaitan nilai tambah dengan permintaan
akhir (interrelated between value added and final demands). Tetapi buku
ini hanya mengenalkan suatu tabel I-O dengan menggunakan 3
(tiga) kuadran saja, yaitu kuadran 1, 2, dan 3, mengikuti tabel I-O
yang disusun oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Paling tidak, suatu tabel I-O dapat disusun dengan
menggunakan kombinasi dari 4 (empat) bentuk susunan berikut,
yaitu:
a. Tabel I-O model impor bersaing (competitive import Input-
Output model) atau biasa juga disebut sebagai tabel I-O
transaksi total,
b. Tabel I-O model impor tidak-bersaing (non-competitive
import Input-Output model) atau biasa juga disebut
sebagai tabel I-O transaksi domestik,
c. Tabel I-O atas dasar harga pembeli atau harga
konsumen,
d. Tabel I-O atas dasar harga produsen.

Suatu tabel I-O model impor kompetitif (competitive import


Input-Output model) merupakan suatu tabel I-O yang menyajikan
berbagai transaksi yang terjadi pada perekonomian suatu negara

30
dengan menyajikan transaksi-transaksi ekonomi yang
menggunakan produk-produk domestik dan produk-produk impor
digabung bersama atau disajikan secara total. Oleh karena itu,
bentuk tabel I-O seperti ini disebut juga sebagai tabel I-O transaksi
total.
Sebaliknya, suatu tabel I-O model impor tidak-bersaing (non-
competitive import Input-Output model) merupakan suatu tabel I-O
yang menyajikan berbagai transaksi yang terjadi pada
perekonomian suatu negara dengan menyajikan transaksi-transaksi
ekonomi yang menggunakan produk-produk domestik terpisah
dari produk-produk impor. Bentuk tabel I-O seperti ini disebut
juga sebagai tabel I-O transaksi domestik.
Suatu tabel I-O atas dasar harga pembeli atau harga
konsumen (at consumer’s prices) merupakan suatu tabel I-O yang
menyajikan berbagai transaksi yang terjadi pada perekonomian
suatu negara atas dasar harga konsumen; artinya marjin
perdagangan dan biaya transaksi masih termasuk dalam harga
produk-produk yang digunakan, baik sebagai input antara atau
permintaan akhir. Implikasi dari penggunaan bentuk tabel I-O
seperti ini adalah kegiatan perdagangan dan kegiatan transportasi
tidak dapat dicantumkan dalam tabel I-O karena tidak memiliki
informasi atau data untuk ditampilkan.
Suatu tabel I-O atas dasar harga produsen (at producer’s
prices) merupakan suatu tabel I-O yang menyajikan berbagai
transaksi yang terjadi pada perekonomian suatu negara atas dasar
harga produsen; artinya, marjin perdagangan dan biaya atau marjin
transportasi yang terdapat dalam harga produk-produk yang
digunakan, baik sebagai input antara atau permintaan akhir, sudah
dikeluarkan atau dipisah dari harga konsumen atau harga pembeli.
Implikasi dari penggunaan bentuk tabel I-O seperti ini adalah
kegiatan perdagangan dan kegiatan transportasi dapat
dicantumkan dalam tabel I-O karena sudah memiliki informasi atau
data untuk ditampilkan.
Idealnya, suatu tabel I-O lebih baik ditampilkan dalam
bentuk transaksi domestik atas dasar harga produsen (non-
competitive import Input-Output model at producer’s prices) karena

31
lebih informatif dan lebih banyak perangkat-perangkat analisis I-O
dapat digunakan terhadap bentuk tabel I-O seperti ini.
Tabel 3.5 dan tabel 3.6 berikut masing-masing menyajikan
contoh tabel I-O transaksi total atas dasar harga produsen dan tabel
I-O transaksi domestik atas dasar harga produsen. Perbedaan
kedua tabel tersebut adalah terutama mengenai adanya baris impor
pada tabel I-O transaksi domestik atas dasar harga produsen (tabel
3.6); yang tidak terdapat pada tabel I-O transaksi total atas dasar
harga produsen (tabel 3.5).

Tabel 3.5
Tabel I-O Transaksi Total Atas Dasar Harga Produsen
Tahun 20XX (Rp Miliar)

Alokasi Input atau Konsumsi Jumlah Konsum


Output Antara Input si atau
Total
Struktur Antara Perminta
Output
Input Kegiatan Ekonomi an
1 2 3 Akhir*

1 1.811 41.130 1.906 44.847 33.544 78.391


Kegiatan 2 5.582 54.121 16.462 76.165 93.714 169.879
Ekonomi
3 3.629 18.579 17.299 39.507 80.543 120.050
Jumlah Input 67.368 56.049 84.384
Primer atau Nilai
Tambah
Total Input 78.391 169.879 120.050

*Setelah dikurangi impor


Sumber: BPS (1995) dengan beberapa modifikasi oleh penulis

Pada tabel 3.5, semua input antara dan permintaan akhir


atau konsumsi akhir yang berasal dari impor tergabung dalam
masing-masing kuadrannya (kuadran I dan kuadran III). Artinya,
besarnya input antara yang ditunjukkan oleh kuadran I adalah
termasuk input antara yang berasal dari produk-produk domestik
dan juga dari produk-produk impor. Demikian juga untuk
permintaan akhir, besarnya permintaan akhir yang ditunjukkan

32
oleh kuadran III adalah semua permintaan akhir terhadap produk-
produk domestik dan juga terhadap produk-produk impor.
Sedangkan pada tabel 3.6, semua impor sudah dipisahkan
dari kuadran I (input antara) dan dari kuadran III (permintaan
akhir), dan disajikan secara tersendiri pada baris impor. Dengan
penyajian seperti ditunjukkan oleh tabel 3.6, besarnya impor untuk
masing-masing input antara dan untuk permintaan akhir dapat
diketahui (lihat tabel 3.6).

Tabel 3.6
Tabel I-O Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen
Tahun 20XX (Rp Miliar)

Input atau Konsumsi


Alokasi Antara Konsum
Output Jumlah si atau
Total
Struktur Kegiatan Ekonomi Input Perminta
Input 1 2 3 Antara an
Akhir*
1 1.789 38.070 1.894 41.752 36.639 78.391
Kegiatan 2 4.909 35.757 13.974 54.640 115.239 169.879
Ekonomi
3 3.423 17.795 15.569 36.787 83.262 120.049
Impor 902 22.207 4.230 27.339 25.772 53.111
Jumlah Input 67.368 56.049 84.384
Primer atau Nilai
Tambah
Total 78.391 169.879 120.050

*Tidak termasuk impor karena seluruh impor sudah dipisahkan tersendiri


Sumber: BPS (1995) dengan beberapa modifikasi oleh penulis

Dari cara penyajian seperti ini, salah satu analisis yang dapat
dilakukan dengan menggunakan tabel I-O adalah untuk
menunjukkan besarnya ketergantungan impor (import contents),
baik mengenai struktur produksi (analisis terhadap kuadran I
mengenai input antara), maupun mengenai permintaan akhir
(analisis terhadap kuadran III mengenai permintaan akhir).
Misalnya, kegiatan produksi 1 menggunakan sekitar 8,18 persen
(import content) dalam proses produksinya, yaitu impor input antara

33
sebesar Rp 902 miliar dibagi dengan total input antara (Rp 1.789
miliar + Rp 4.909 miliar + Rp 3.423 miliar + Rp 902 miliar);
sedangkan import content permintaan akhir adalah 9,88 persen, yaitu
impor permintaan akhir sebesar Rp 25.772 miliar dibagi dengan
total permintaan akhir (Rp 36.639 miliar + Rp 115.239 miliar + Rp
83.262 miliar + Rp 25.772 miliar).15

8. Analisis Tabel Input-Output


Sebelum menjelaskan analisis tabel I-O lebih lanjut, berikut
beberapa penjelasan mengenai suatu tabel I-O agar analisis tabel I-O
dapat dilakukan. Untuk maksud ini, tabel 3.3 yang sudah disajikan
pada bagian sebelumnya dicantumkan kembali pada bagian ini, dan
dinamakan sebagai tabel 3.7.

Tabel 3.7
Tabel Input-Output Negara A, Tahun 20XX
(dalam Satuan Moneter)

Input atau Konsumsi


Alokasi Antara
Konsumsi
Output
atau Total
Struktur Kegiatan Ekonomi
Permintaan Output
Input 1 2 3 Akhir

1 x11 x12 x13 F1 X1


Kegiatan 2 x21 x22 x23 F2 X2
Ekonomi
3 x31 x32 x33 F3 X3
Jumlah Input V1 V2 V3
Primer atau Nilai
Tambah
Total Input X1 X2 X3

Tabel 3.7 menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi 1


menghasilkan output sebesar X1 yang dialokasikan (lihat tabel 3.7
menurut arah baris) sebanyak X11, X12, X13 masing-masing kepada
kegiatan ekonomi 1, 2 dan 3 sebagai permintaan antara atau input

15Analisis import contents seperti ini akan dibahas kembali nanti pada bagian analisis
deskriptif dengan menggunakan tabel Input-Output.

34
antara, dan sebanyak F1 untuk memenuhi permintaan akhir.
Demikian juga, kegiatan ekonomi 2 yang menghasilkan output
sebesar X2 mengalokasikan sebanyak X21, X22, X23 masing-masing
kepada kegiatan ekonomi 1, 2 dan 3 sebagai permintaan antara atau
input antara, dan sebanyak F2 untuk memenuhi permintaan akhir;
dan kegiatan ekonomi 3 yang menghasilkan output sebesar X3
mengalokasikan sebanyak X31, X32, X33 masing-masing kepada
kegiatan ekonomi 1, 2 dan 3 sebagai permintaan antara atau input
antara, dan sebanyak F3 untuk memenuhi permintaan akhir.
Alokasi output tersebut secara keseluruhan dapat dituliskan
dalam bentuk persamaan (3.1) sebagaimana telah diberikan pada
bagian sebelumnya:

x11 + x12 + x13 + F1 = X1


x21 + x22 + x23 + F2 = X2 …… (3.1)
x31 + x32 + x33 + F3 = X3

Persamaan (3.1) dapat dituliskan dalam bentuk yang lebih


ringkas sebagai berikut:

∑xij + Fi = Xi ………… (3.2)

Catatan: notasi indek i digunakan karena tabel I-O dilihat dari sisi
baris.

Jika aij = xij/Xj (aij = koefisien input) atau xij = aijXj, maka
persamaan (3.1) dapat dibuat menjadi:

a11 X1 +a12 X2 +a13X3 + F1 = X1


a21 X1 +a22 X2 +a23X3 + F2 = X2 ……. (3.3)
a31 X1 +a32 X2 +a33X3 + F3 = X3

Dalam bentuk persamaan matrik, persamaan (3.3) dapat


ditulis menjadi:

AX + F = X …….. (3.4)

35
dimana

𝑎11 𝑎12 𝑎13 X1 F1


A = [𝑎21 𝑎22 𝑎23 ; ]; X = [X 2 ] ; dan F = [F2 ] ......... (3.5)
𝑎31 𝑎32 𝑎33 X3 F3

dimana
A = matrik koefisien input (yaitu xij/Xi);
F = vektor permintaan akhir;
X = vektor output.

Persamaan (3.4) dapat ditulis sebagai:

(I-A)X = F ……… (3.6)

atau
X = (I-A)-1 F ………. (3.7)

dimana
(I-A)-1 = matrik kebalikan (inverse matrix)
= matrik pengganda (multiplier matrix) tabel I-O

Dari persamaan (3.7) terlihat bahwa output mempunyai hubungan


fungsional dengan permintaan akhir, yang dicerminkan oleh matrik
kebalikan (I-A)-1. Persamaan (3.7) disebut sebagai matriks
pengganda (multiplier matrix) pada analisis tabel I-O. Persamaan
(3.7) menunjukkan bahwa perubahan 1 unit permintaan akhir akan
menyebabkan perubahan sebesar (I-A)-1 unit terhadap output.
Kebalikan matrik (I-A)-1 dapat ditulis sebagai berikut:

(I − A)−1 = (I + A + A2 + A3 + ⋯) ......... (3.8)

Sehingga, X = (I-A)-1F dapat dituliskan sebagai:

X = (I + A + A2 + A3 … )F ........... (3.9)

atau
X = IF + AF + A2F + A3F + ....... (3.10)

36
Dari persamaan (3.10) terlihat bahwa total dampak
peningkatan permintaan akhir terhadap output kegiatan-kegiatan
ekonomi adalah sama dengan penjumlahan dari dampak awal
(initial injection) atau dampak langsung (direct effect) dari
peningkatan permintaan akhir (yaitu IF) ditambah dengan dampak
tidak langsung (indirect effects), yaitu dampak ketergantungan
output suatu kegiatan ekonomi terhadap input antara yang berasal
dari kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya (AF + A2F + A3F + ........).16
Jika persamaan (3.1) atau persamaan (3.2) melihat suatu
tabel I-O dari sisi baris yang menjelaskan alokasi output yang
dihasilkan oleh suatu kegiatan ekonomi yang dialokasikan sebagai
input antara (intermediate inputs) atau permintaan antara
(intermediate demands) dan sebagai permintaan akhir (final demands),
persamaan (3.11) menjelaskan suatu tabel I-O yang dilihat dari sisi
kolom (lihat tabel 3.7 menurut kolomnya) yang menjelaskan
struktur input suatu kegiatan ekonomi dalam menghasilkan output
atau produk. Dengan mengikuti cara membaca suatu tabel I-O
sebagaimana dilakukan sebelumnya, persamaan struktur input
secara keseluruhan dapat dirumuskan sebagai berikut:

x11 + x21 + x31 + V1 = X1


x12 + x22 + x32 + V2 = X2 ……… (3.11)
x13 + x23 + x33 + V3 = X3

Persamaan (3.11) dapat dituliskan kembali sebagai berikut:

∑xij + Vj = Xj ………….. (3.12)

Catatan: penggunaan notasi indek j digunakan karena tabel I-O


dilihat dari sisi kolom.

Dari persamaan (3.12) dapat ditunjukkan, misalnya,


persentase nilai tambah yang ditimbulkan oleh kegiatan ekonomi

16Lihat Miller dan Blair (1985) halaman 24.

37
ke-j terhadap perekonomian suatu negara, yang sama dengan rasio
Vj dengan Xj (lihat contoh-contoh berikut mengenai hal ini).

Analisis Deskriptif
Dengan mengikuti panduan mengenai tabel I-O
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, analisis deskriptif yang
dapat dilakukan dengan menggunakan tabel I-O, antara lain, adalah
sebagai berikut.

Analisis Struktur Input


Analisis ini berguna untuk menjelaskan, misalnya, besarnya
(dalam persentase) nilai tambah yang dihasilkan oleh suatu
kegiatan ekonomi dibandingkan dengan total output kegiatan
ekonomi bersangkutan, dan persentase penggunaan input antara
untuk menghasilkan output suatu kegiatan produksi. Cara
melakukan analisis struktur input ini dijelaskan sebagai berikut.
Dengan menggunakan tabel 3.6 (tabel I-O transaksi
domestik atas dasar harga produsen) yang diberikan pada bagian
sebelumnya dapat dihitung besarnya persentase nilai tambah yang
ditimbulkan oleh berbagai kegiatan ekonomi (dalam kasus tabel 3.6
hanya terdapat 3 kegiatan ekonomi).
Besarnya nilai tambah (dalam persentase) masing-masing
kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3 adalah sama dengan nilai tambah yang
dihasilkan oleh kegiatan ekonomi ke-j (vj) dibagi dengan besarnya
output yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi ke-j (Xj). Dengan
demikian, persentase nilai tambah masing-masing kegiatan
ekonomi 1, 2, dan 3 adalah sebagai berikut:

v1 67368
Kegiatan ekonomi 1: x 100% = x 100% = 85,94%
X1 78391
v2 56049
Kegiatan ekonomi 2: X2
x 100% = 169879
x 100% = 32,99%
v3 84384
Kegiatan ekonomi 3: x 100% = x 100% = 70,29%
X3 120050

Dari hasil penghitungan ini dapat diketahui bahwa kegiatan


ekonomi 1 menghasilkan persentase nilai tambah yang paling besar
dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya;
sedangkan kegiatan ekonomi 3 menghasilkan persentase nilai

38
tambah yang paling kecil dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan
ekonomi lainnya.
Pada sisi yang lain, dari tabel 3.6 dapat juga diperoleh
informasi mengenai persentase bahan baku impor (imported
intermediate inputs) yang digunakan untuk menghasilkan output
masing-masing kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3. Besarnya persentase
tersebut adalah sama dengan besarnya input antara dari impor
yang digunakan oleh kegiatan ekonomi ke-j (xmj) dibagi dengan
besarnya output yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi ke-j (Xj).
Dengan demikian, persentase bahan baku impor yang digunakan
oleh masing-masing kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3 adalah sebagai
berikut:

xm1 902
Kegiatan ekonomi 1: X1
x 100% = 78391 x 100% = 1,15%
x2m 22207
Kegiatan ekonomi 2: X2
x 100% = 169879 x 100% = 13,07%
xm3 4230
Kegiatan ekonomi 3: x 100% = x 100% = 3,52%
X3 120050

Dari hasil penghitungan ini dapat diketahui bahwa kegiatan


ekonomi 2 merupakan kegiatan ekonomi yang menggunakan bahan
baku impor (dalam persentase) yang paling banyak dibandingkan
dengan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya; sedangkan kegiatan
ekonomi 1 merupakan kegiatan ekonomi yang menggunakan bahan
baku impor (dalam persentase) yang paling kecil dibandingkan
dengan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya.
Analisis struktur input yang lain yang dapat dilakukan
dengan menggunakan tabel I-O (tabel 3.6) adalah dengan meneliti
penggunaan input antara yang digunakan oleh suatu kegiatan
ekonomi ke-j dari kegiatan ekonomi lainnya (ke-i). Analisis seperti
ini sama saja dengan melakukan analisis penghitungan koefisien
input (input coefficients) masing-masing kegiatan ekonomi ke-j.
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa koefisien
input dari suatu tabel I-O adalah sama dengan aij = xij/Xj dimana
aij=koefisien input; xij=input antara yang digunakan oleh kegiatan
ekonomi ke-j dari kegiatan ekonomi ke-i; dan Xj=output kegiatan
ekonomi ke-j. Dengan demikian, matrik koefisien input (sebut

39
sebagai matrik Aij) yang diperoleh dari tabel 3.6 adalah sebagai
berikut:

0,02281 0,22410 0,01577


Aij= [0,06262 0,21048 0,11640]
0,04367 0,10475 0,12969

Contoh penghitungan:
a11 = x11/X1
= 1788/78391 = 0,02281
a21 = x21/X1
= 4909/78391 = 0,06262
a13 = x13/X3
= 1894/120050 = 0,01577
dan seterusnya.

Karena tabel 3.6 adalah tabel I-O transaksi domestik atas


dasar harga produsen, maka koefisien matrik Aij menjelaskan
koefisien penggunaan input antara yang berasal dari domestik saja.
Dari hasil penghitungan ini dapat diketahui bahwa kegiatan
ekonomi 1 dan kegiatan ekonomi 2 paling banyak menggunakan
input antara (domestik) dari kegiatan ekonomi 2, masing-masing
adalah sekitar 22,4 persen dan 21,0 persen; sedangkan kegiatan
ekonomi 3 paling banyak menggunakan input antara (domestik)
dari kegiatan ekonomi 3 itu sendiri (sekitar 12,9 persen).

Analisis Alokasi Output


Analisis ini digunakan untuk menjelaskan penggunaan
output suatu kegiatan ekonomi oleh kegiatan-kegiatan ekonomi
yang lain, yang merinci penggunaan output suatu kegiatan
ekonomi sebagai input atau permintaan antara dan permintaan
akhir. Analisis ini diperoleh dengan cara menganalisa alokasi
output suatu kegiatan ekonomi dalam tabel I-O.
Dari persamaan (3.2) diketahui bahwa output suatu kegiatan
ekonomi digunakan sebagai input antara dan sebagai permintaan
akhir: ∑xij + Fi = Xi. Dengan demikian, persentase output suatu
kegiatan ekonomi yang digunakan sebagai input antara adalah
sama dengan: (∑xij/Xi) x 100%; sedangkan persentase output suatu

40
kegiatan ekonomi yang digunakan sebagai permintaan akhir adalah
sama dengan: (Fi/Xi) x 100%.
Dengan menggunakan tabel 3.6 dapat diperoleh bahwa persentase
output (domestik) kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3 yang digunakan
sebagai input antara adalah:

∑x1j 41752
Kegiatan ekonomi 1: X1
x 100% = 78391 x 100% = 53,26%
∑x2j 54639
Kegiatan ekonomi 2: X2
x 100% = 169879 x 100% = 32,16%
∑x3j 36788
Kegiatan ekonomi 3: x 100% = x 100% = 30,64%
X3 120050

Dan dari tabel 3.6 dapat juga diperoleh bahwa persentase


output (domestik) kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3 yang digunakan
sebagai permintaan akhir adalah sisanya, yaitu:

Kegiatan ekonomi 1: 100% - 53,26% = 46,74%


Kegiatan ekonomi 2: 100% - 32,16% = 67,84%
Kegiatan ekonomi 3: 100% - 30,64% = 69,36%

Catatan: cara menghitung persentase output (domestik)


kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3 yang digunakan sebagai permintaan
akhir adalah sama juga dengan membagi masing-masing jumlah
pemintaan akhir dengan output kegiatan ekonominya, atau (Fi/Xi) x
100%.

F1j 36639
Kegiatan ekonomi 1: X1
x 100% = 78391 x 100% = 46,74%
F2j 115239
Kegiatan ekonomi 2: x 100% = x 100% = 67,84%
X2 169879
F3j 83262
Kegiatan ekonomi 3: X3
x 100% = 120050
x 100% = 69,36%

Dari hasil penghitungan ini dapat diketahui bahwa output


(domestik) kegiatan ekonomi 1 paling banyak digunakan sebagai
input antara tetapi paling sedikit digunakan sebagai permintaan
akhir dibandingkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya;
sedangkan output kegiatan ekonomi 3 paling sedikit digunakan
sebagai input antara tetapi paling banyak digunakan sebagai

41
permintaan akhir dibandingkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi
lainnya.
Informasi lain yang dapat diperoleh dari tabel 3.6 adalah
persentase produk-produk impor yang digunakan sebagai input
antara dan sebagai permintaan akhir, yang masing-masing
berjumlah 51,48% [yaitu: (Rp 27.339 miliar/Rp 53.111 miliar)*100%]
dan 48,52% [yaitu: (Rp 25.772 miliar/Rp 53.111 miliar)*100%].

Besarnya Produk Domestik Bruto


Besarnya Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan
suatu negara selama suatu periode dapat dijelaskan oleh suatu tabel
I-O. Dengan menggunakan tabel I-O sebagaimana disajikan pada
tabel 3.6, besarnya PDB negara bersangkutan menurut masing-
masing kegiatan-kegiatan ekonomi adalah sebagai berikut:

PDB Kegiatan ekonomi 1 : Rp 67.368 miliar


PDB Kegiatan ekonomi 2 : Rp 56.049 miliar
PDB Kegiatan ekonomi 3 : Rp 84.384 miliar

Dengan demikian, jumlah PDB menurut ketiga kegiatan


ekonomi adalah Rp 207.801 miliar (Rp 67.368 miliar + Rp 56.049
miliar + Rp 84.384 miliar).
Secara konsepsi, PDB menurut berbagai kegiatan ekonomi
harus sama dengan PDB Penggunaan atau PDB Permintaan, yang
dapat dirinci sebagai berikut:

Permintaan akhir (domestik) : Rp 235.140 miliar


Ditambah impor (permintaan akhir) : Rp 25.772 miliar
Dikurangi impor (total) : Rp 53.111 miliar
Jumlah PDB Permintaan : Rp 207.801 miliar

Catatan: secara konsepsi, PDB menurut berbagai kegiatan


ekonomi dan PDB menurut penggunaan atau PDB menurut
permintaan harus sama dengan PDB menurut pendapatan. Tetapi
informasi mengenai PDB menurut pendapatan tidak tersedia secara
rinci pada tabel 3.6, hanya tersedia secara total, yang sama dengan

42
Rp 207.801 miliar (yaitu Rp 67.368 miliar + Rp 56.049 miliar + Rp
84.384 miliar).

Analisis Kontribusi Kegiatan-Kegiatan Ekonomi terhadap PDB


Analisis ini berguna untuk menjelaskan kontribusi kegiatan-
kegiatan ekonomi terhadap total PDB yang diciptakan oleh suatu
negara selama suatu periode tertentu. Dari hasil analisis ini dapat
diperoleh informasi mengenai peran masing-masing kegiatan
ekonomi terhadap pembentukan PDB suatu negara selama suatu
periode. Dengan demikian, dapat diketahui kegiatan ekonomi
mana saja yang menghasilkan nilai tambah yang besar terhadap
perekonomian nasional negara bersangkutan.
Dengan menggunakan tabel 3.6, analisis ini dapat diperoleh
dengan membagi nilai tambah masing-masing kegiatan ekonomi 1,
2, dan 3 dengan total nilai tambah (total PDB) yang dihasilkan oleh
negara bersangkutan; dengan perkataan lain: nilai tambah kegiatan
ekonomi ke-i (vi) dibagi dengan total PDB yang dihasilkan selama
periode bersangkutan(∑vi). Dengan demikian, kontribusi masing-
masing kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3 terhadap PDB negara
bersangkutan adalah sebagai berikut:

v 67368
Kegiatan ekonomi 1: ∑v1 x 100% = 207801 x 100% = 32,42%
1
v 56049
Kegiatan ekonomi 2: ∑v2 x 100% = 207801 x 100% = 26,97%
2
v 84384
Kegiatan ekonomi 3: ∑v3 x 100% = 207801 x 100% = 40,61%
3

Dari hasil penghitungan ini dapat diketahui bahwa kegiatan


ekonomi 1 merupakan kegiatan ekonomi yang memberikan
kontribusi paling besar terhadap PDB negara bersangkutan selama
periode terhitung; sedangkan kegiatan ekonomi 3 merupakan
kegiatan ekonomi yang memberikan kontribusi paling kecil
terhadap PDB negara bersangkutan selama periode terhitung.

Analisis Penggunaan PDB


Analisis ini berguna untuk menjelaskan struktur
pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) ditinjau dari sisi
penggunaannya, seperti pengeluaran konsumsi rumahtangga,

43
pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap
bruto (PMTB), perubahan inventori, dan ekspor (neto). Dengan
analisis ini dapat diperoleh informasi mengenai kontribusi masing-
masing komponen penggunaan PDB tersebut terhadap total
perekonomian negara bersangkutan.
Catatan: tabel 3.6 tidak merinci permintaan akhir menurut
komponen-komponennya, yaitu pengeluaran konsumsi
rumahtangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan
modal tetap bruto (PMTB), perubahan inventori, dan ekspor (neto),
sehingga analisis ini tidak dapat diberikan pada bagian ini; tetapi
pembaca dapat melihat kembali penjelasan yang diberikan pada
materi kuliah ke- 2 mengenai analisis PDB menurut penggunaan
atau menurut permintaan.

Analisis Struktur Pendapatan


Analisis lain yang dapat dilakukan dengan menggunakan
tabel I-O adalah analisis terhadap struktur pendapatan (atau PDB
menurut pendapatan). Analisis ini berguna untuk menjelaskan
struktur pembentukan pendapatan yang diterima oleh pelaku-
pelaku ekonomi atau terhadap PDB yang dihasilkan oleh suatu
negara selama suatu periode, misalnya terhadap upah dan gaji
(wages and salaries; kode 201 pada klasifikasi tabel I-O), surplus
usaha (operating surplus; kode 202 pada klasifikasi tabel I-O) yang
diterima oleh pelaku-pelaku ekonomi, penyusutan (depreciation)
terhadap barang-barang modal (kode 203 pada klasifikasi tabel I-O),
pajak tidak langsung (kode 204 pada klasifikasi tabel I-O), dan
subsidi (kode 205 pada klasifikasi tabel I-O). Dengan analisis ini
dapat diperoleh informasi mengenai porsi pendapatan yang
diterima oleh pelaku-pelaku ekonomi dari output atau PDB yang
dihasilkan selama suatu periode waktu tertentu.
Tetapi, analisis ini tidak dapat dilakukan secara lengkap
dengan menggunakan tabel 3.6 karena data yang dibutuhkan tidak
tersedia secara rinci. Yang dapat diperoleh dari tabel I-O yang
disajikan oleh tabel 3.6 adalah total PDB menurut pendapatan yang
sama dengan Rp 207.801 miliar (yaitu Rp 67.368 miliar + Rp 56.049
miliar + Rp 84.384 miliar).
Analisis Dampak

44
Analisis dampak (multiplier impact analysis) dengan
menggunakan tabel I-O dapat dilakukan dengan menggunakan
matrik pengganda (multiplier matrix) yang dapat diperoleh dari
suatu tabel I-O, yaitu dengan cara membalik (to inverse) matrik
koefisien input. Matrik kebalikan ini disebut juga sebagai matrik
kebalikan Leontief (Leontief’s inverse matrix), yang didefinisikan
sebagai (I-A)-1 (lihat persamaan 3.7 sebelumnya). Matrik kebalikan
(I-A)-1 ini menjelaskan bahwa perubahan 1 unit permintaan akhir
akan menyebabkan perubahan sebesar (I-A)-1 unit terhadap output.
Untuk melakukan penghitungan matrik kebalikan (I-A)-1,
dengan menggunakan tabel 3.6 yang berukuran 3x3, tahap-tahap
yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Hitung atau buat matrik koefisien input 3x3 sebagai berikut
(sudah dihitung sebelumnya):

0,02281 0,22410 0,01577


A= [0,06262 0,21048 0,11640]
0,04367 0,10475 0,12969

b. Buat matrik indentitas I berukuran 3x3 sebagai berikut:

1 0 0
I= [0 1 0]
0 0 1

c. Kurangkan matrik indentitas I berukuran 3x3 dengan matrik


koefisien A, sehingga menghasilkan matrik (I-A) sebagai
berikut:

0,97719 −0,22410 −0,01577


(I-A)= [−0,06262 0,78952 −0,11640]
−0,04367 −0,10475 0,87031

d. Hitung matrik kebalikan (I-A)-1, dan hasil yang diperoleh


adalah:

1,04554 0,30470 0,05970


(I-A)-1= [0,09230 1,31638 0,17773]
0,06357 0,17373 1,17340

45
Analisis Dampak Output
Persamaan (3.7) yang dituliskan sebagai X=(I-A)-1F atau
persamaan (3.10) yang dituliskan sebagai X = (IF + AF + A2F + A3F
+ .......) menjelaskan bahwa dampak peningkatan output suatu
kegiatan ekonomi tertentu dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya
sebagai akibat dari perubahan permintaan akhir terhadap output
suatu kegiatan ekonomi tertentu merupakan penjumlahan dari efek
langsung (direct effect) ditambah dengan efek-efek tidak langsung
(indirect effects). Peningkatan permintaan akhir terhadap suatu
kegiatan ekonomi akan berakibat kepada peningkatan output
kegiatan ekonomi bersangkutan dalam upaya untuk memenuhi
peningkatan permintaan akhir tersebut. Peningkatan output ini
disebut sebagai efek langsung (direct effect). Pada sisi lain,
peningkatan permintaan akhir terhadap output suatu kegiatan
ekonomi juga berdampak kepada peningkatan output kegiatan-
kegiatan ekonomi lainnya dalam upaya memenuhi peningkatan
permintaan akhir kegiatan-kegiatan ekonomi dalam perekonomian
secara keseluruhan. Peningkatan output kegiatan-kegiatan
ekonomi lainnya tersebut disebut sebagai efek tidak langsung
(indirect effects). Efek tidak langsung dari peningkatan output
kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya pada gilirannya juga akan
meningkatkan output kegiatan ekonomi bersangkutan; demikian
selanjutnya sampai dampak-dampak tersebut menjadi sangat kecil
dan dapat diabaikan. Jadi, matrik kebalikan (I-A)-1 yang dihitung di
atas menjelaskan efek langsung dan efek tidak langsung sebagai
akibat dari peningkatan permintaan akhir terhadap output
kegiatan-kegiatan ekonomi di suatu negara. Tabel I-O memang
dibangun untuk menjelaskan keterkaitan (inter-linkages) antar
kegiatan ekonomi dalam suatu perekonomian.
Besarnya dampak langsung dan dampak tidak langsung
tersebut dicerminkan oleh matrik kebalikan (I-A)-1 pada persamaan
(3.7). Hasil matrik kebalikan yang sudah dihitung sebelumnya
adalah:
1,04554 0,30470 0,05970
(I-A)-1= [0,09230 1,31638 0,17773]
0,06357 0,17373 1,17340

46
Matrik kebalikan ini menjelaskan bahwa jika terjadi
kenaikan 1 (satu) unit permintaan akhir terhadap kegiatan ekonomi
1 akan berdampak kepada kenaikan output kegiatan ekonomi 1
secara total sebesar 1,40994 unit. Besarnya dampak keseluruhan
(efek langsung dan efek tidak langsung) tersebut dapat dijelaskan
dengan menggunakan dari hasil perkalian matrik sebagaimana
diberikan berikut ini:

1,40994 1,04554 0,30470 0,05970 1


[ 0 ] = [0,09230 1,31638 0,17773] [0]
0 0,06357 0,17373 1,17340 0

Dari perkalian matrik ini dapat dijelaskan bahwa kenaikan 1


(satu) unit permintaan akhir terhadap output kegiatan ekonomi 1
akan menyebabkan kenaikan sebesar 1 unit output kegiatan
ekonomi 1 sebagai efek langsung, dan menyebabkan kenaikan
0,04554 unit output kegiatan ekonomi 1 sebagai efek tidak langsung;
dan disertai dengan kenaikan 0,30470 unit output kegiatan ekonomi
2 sebagai efek tidak langsung; dan kenaikan 0,05970 unit output
kegiatan ekonomi 3 sebagai efek tidak langsung; sehingga secara
keseluruhan efek langsung dan efek tidak langsung tersebut
berjumlah 1,40994 unit (1,04554 + 0,30470 + 0,05970 unit).
Interpretasi yang serupa dapat dilakukan terhadap kegiatan
ekonomi 2 dan kegiatan ekonomi 3. Jika terjadi kenaikan 1 (satu)
unit permintaan akhir terhadap kegiatan ekonomi 2 akan
berdampak secara total kepada kenaikan output kegiatan ekonomi 2
sebesar 1,58641 unit (0,09230 + 1,31638 + 0,17773 unit).

0 1,04554 0,30470 0,05970 0


[1,58641] = [0,09230 1,31638 0,17773] [1]
0 0,06357 0,17373 1,17340 0

Jika terjadi kenaikan 1 (satu) unit permintaan akhir


terhadap kegiatan ekonomi 2 akan berdampak secara total kepada
kenaikan output kegiatan ekonomi 2 sebesar 1,41070 unit (0,06357 +
0,17373 + 1,17340 unit).

47
0 1,04554 0,30470 0,05970 0
[ 0 ] = [0,09230 1,31638 0,17773] [0]
1,41070 0,06357 0,17373 1,17340 1

Dari gambaran-gambaran tersebut, secara sepintas dapat


ditunjukkan bahwa peningkatan output sebesar 1,40994 unit
terhadap kegiatan ekonomi 1; dan sebesar 1,58641 unit terhadap
kegiatan ekonomi 2; serta 1,41070 unit terhadap kegiatan ekonomi 3
merupakan dampak kenaikan permintaan akhir terhadap suatu
kegiatan ekonomi tertentu yang menghubungkan dengan output
kegiatan ekonomi bersangkutan dan dengan output kegiatan-
kegiatan ekonomi lainnya; atau dengan perkataan lain, menjelaskan
keterkaitan antar kegiatan-kegiatan ekonomi melalui mekanisme
keterkaitan (alokasi) output dalam suatu perekonomian. Dampak
keterkaitan ini disebut sebagai dampak keterkaitan kedepan
(forward linkages).17

Analisis Dampak Pendapatan


Perubahan (peningkatan) permintaan akhir suatu kegiatan
ekonomi juga akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pendapatan masyarakat dicerminkan, antara lain, oleh upah dan
gaji serta surplus usaha (misalnya keuntungan atau profit). Dari
suatu tabel I-O dapat diketahui besarnya porsi upah dan gaji serta
porsi surplus usaha terhadap output yang diciptakan oleh masing-
masing kegiatan ekonomi. Dengan demikian, dari hasil analisis
dampak output yang telah dijelaskan sebelumnya dapat
diperkirakan besarnya dampak peningkatan permintaan akhir
terhadap pendapatan yang diterima oleh masyarakat.

Upah dan gaji


Ratio upah dan gaji = x 100% ................. (3.13)
Output

Surplus Usaha
Ratio Surplus Usaha = Output
x 100% ................. (3.14)
Dengan menggunakan ratio porsi upah dan gaji (persamaan
3.13) serta ratio surplus usaha (persamaan 3.14) yang dianggap

17Analisis keterkaitan ke depan ini akan dijelaskan kembali pada bagian berikutnya.

48
tetap (fixed) dapat diperkirakan besarnya peningkatan upah dan gaji
serta peningkatan surplus usaha.
Dari analisis struktur input yang telah dijelaskan
sebelumnya dapat diketahui, misalnya, persentase penggunaan
input serta persentase nilai tambah yang dihasilkan oleh ketiga
kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3 terhadap output yang dihasilkan
masing-masing kegiatan adalah sebagai berikut.

Koefisien nilai tambah:


v 67368
Kegiatan ekonomi 1: X1 x 100% = 78391 x 100% = 85,94%
1
v2 56049
Kegiatan ekonomi 2: x 100% = x 100% = 32,99%
X2 169879
v3 84384
Kegiatan ekonomi 3: X3
x 100% = 120050
x 100% = 70,29%

Koefisien input antara:18


Kegiatan ekonomi 1: 100% - 85,94% = 14,06%
Kegiatan ekonomi 2: 100% - 32,99% = 67,01%
Kegiatan ekonomi 3: 100% - 70,29% = 29,71%

(Catatan: secara konsepsi, kedua koefisien nilai tambah dan


koefisien input antara menunjukkan bahwa total input yang
digunakan untuk menghasilkan output adalah berjumlah sama
dengan 100%, yaitu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan input
antara dan sisanya merupakan nilai tambah yang terdiri dari upah
dan gaji serta surplus usaha).

Dengan menggunakan contoh yang diberikan sebelumnya,


yaitu peningkatan permintaan akhir 1 unit akan menyebabkan
output kegiatan ekonomi 1 akan meningkat secara total sebesar
1,40994 unit, dapat diperkirakan bahwa besarnya peningkatan upah
dan gaji, misalnya diketahui rationya terhadap output adalah sama
dengan 0,4 (atau 40%), adalah sama dengan 0,4*1,40994=0,563976
unit; dan besarnya peningkatan surplus usaha, misalnya diketahui
rationya terhadap output adalah sama dengan 0,4594 (atau 45,94%),
adalah sama dengan 0,4594*1,40994=0,64773 unit. Dengan

18Koefisien input ini termasuk input antara yang berasal dari impor; yang berbeda dengan
koefisien input sebelumnya yang dihitung hanya yang berasal dari domestik saja.

49
perkataan lain, peningkatan output sebesar 1,40994 unit tersebut
didistribusikan menjadi peningkatan penggunaan input antara
sebesar 0,19824 unit (atau 14,06%*1,40994), peningkatan upah dan
gaji sebesar 0,563976 unit, dan peningkatan surplus usaha sebesar
0,64773 unit, yang secara total adala sama dengan 1,40994 unit.
Contoh yang serupa dapat dilakukan terhadap kegiatan ekonomi 2
dan kegiatan ekonomi 3.
Analisis dampak pendapatan dapat juga dilakukan sebagai
berikut. Jika aij = xij/Xj (aij = koefisien input) atau xij = aijXj, maka
model Input-Output dapat dibuat menjadi (dilihat dari kuadran
nilai tambah):

a11 X1 +a21 X2 +a31X3 + V1 = X1


a12 X1 +a22 X2 +a32X3 + V2 = X2 ……. (3.15)
a13 X1 +a23 X2 +a33X3 + V3 = X3

Dalam bentuk persamaan matrik, persamaan (3.15) dapat


ditulis menjadi:

A*X + V = X …….. (3.16)

dimana

𝑎11 𝑎21 𝑎31 X1 V1


A* = [𝑎12 𝑎22 𝑎32 ; ]; X = [X 2 ] ; dan F = [V2 ] ......... (3.17)
𝑎13 𝑎23 𝑎33 X3 V3

dimana
A* = matrik koefisien input (yaitu xij/Xi), yang sama dengan A’
(transpos matrik A);
V = vektor nilai tambah;
X = vektor output.

Persamaan (3.16) dapat ditulis sebagai:

50
(I-A*)X = V ……… (3.17)

atau
X = (I-A*)-1 V ………. (3.18)

Akan tetapi, analisis dengan menggunakan persamaan (3.18)


merupakan analisis mengenai perubahan nilai tambah yang
berdampak kepada perubahan output, yang memperlakukan nilai
tambah sebagai variabel eksogen dalam model Input-Output, yang
dapat dilaksanakan misalnya dengan melakukan perubahan
teknologi dalam proses produksi; sedangkan persamaan (3.7)
sebagaimana dicontohkan pada analisis dampak yang telah
dijelaskan sebelumnya memperlakukan permintaan akhir sebagai
variabel eksogen, yang dapat dilaksanakan misalnya melalui
peningkatan investasi atau peningkatan anggaran belanja negara.
Model persamaan (3.18) tidak dijelaskan pada buku ini.

Analisis Dampak terhadap Kebutuhan Impor


Perubahan (peningkatan) permintaan akhir suatu kegiatan
ekonomi juga akan berdampak juga kepada peningkatan kebutuhan
impor, khususnya sebagai input antara. Pada bagian sebelumnya
telah dijelaskan bahwa persentase penggunaan input antara impor
terhadap pembentukan output oleh suatu kegiatan ekonomi dapat
dituliskan sebagai berikut:

xmj
Ratio kebutuhan input antara impor = Xj
x 100% ................. (3.19)

dimana
xmj = kebutuhan impor untuk input antara
Xj = output yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi ke-j

Pada contoh sebelumnya telah dapat dihitung mengenai


persentase bahan baku impor (imported intermediate inputs) yang
digunakan untuk menghasilkan output masing-masing kegiatan
ekonomi 1, 2, dan 3, yaitu:
xm1 902
Kegiatan ekonomi 1: X1
x 100% = 78391 x 100% = 1,15%

51
x2m 22207
Kegiatan ekonomi 2: X2
x 100% = 169879 x 100% = 13,07%
xm3 4230
Kegiatan ekonomi 3: X3
x 100% = 120050 x 100% = 3,52%

Dengan menggunakan contoh yang diberikan sebelumnya,


yaitu peningkatan permintaan akhir 1 unit akan menyebabkan
output kegiatan ekonomi 1 akan meningkat secara total sebesar
1,40994 unit, dapat diperkirakan bahwa besarnya kebutuhan input
antara impor untuk meningkatkan output kegiatan ekonomi 1
sebesar 1,40994 unit adalah adalah sama dengan
1,15%*1,40994=0,01621 unit. Contoh yang serupa dapat dilakukan
terhadap kegiatan ekonomi 2 dan kegiatan ekonomi 3.
Alternatif cara lain untuk melakukan analisis kebutuhan
input antara impor untuk meningkatkan output suatu kegiatan
ekonomi dapat dilakukan dengan membagi (mempartisi) matrik A
menjadi 2 (dua) yaitu kebutuhan terhadap input antara domestik
dan kebutuhan terhadap input antara impor sehingga model Input-
Output dapat dituliskan sebagai:

(I-Ǻ)X = F ……… (3.20)

dimana
Ǻ = partisi matrik A atas input antara domestik dan input antara
A
impor, atau Ǻ = ( d )
Am

Sehingga:

X = (I- Ǻ)-1 F ………. (3.21)

Dengan demikian, matrik kebalikan yang dihitung bukan (I-


A)-1 tetapi (I- Ǻ)-1. Contoh ini tidak diberikan pada buku ini.

Analisis Dampak Terhadap Kesempatan Kerja


Analisis dampak yang lain yang dapat dilakukan mengenai
kasus terjadinya peningkatan permintaan akhir adalah dampaknya
terhadap kesempatan kerja yang timbul sebagai akibat adanya

52
peningkatan produksi atau output untuk memenuhi peningkatan
permintaan akhir.
Informasi mengenai faktor produksi tenagakerja (labour)
yang ikut berpartisipasi dalam proses produksi tidak dicantumkan
secara eksplisit dalam suatu tabel I-O; informasi ini dicantumkan
secara implisit pada tabel I-O, yaitu pada kuadran nilai tambah
yang salah satu rinciannya adalah upah dan gaji. Upah dan gaji
yang dicantumkan pada kuadran nilai tambah suatu tabel I-O
menunjukkan besarnya total upah dan gaji yang diterima oleh
seluruh tenagakerja dalam proses produksi menghasilkan suatu
output atau produk. Secara implisit, suatu vektor matrik jumlah
tenagakerja yang ikut berpartisipasi dalam proses produksi pada
suatu tabel I-O dapat dibuat; informasi ini biasanya diletakkan pada
bagian bawah tabel I-O (lihat tabel 3.8).

Tabel 3.8
Tabel Input-Output Negara A, Tahun 20XX
dengan Tambahan Informasi mengenai Tenagakerja

Input atau Konsumsi


Alokasi Antara
Konsumsi
Output
atau Total
Struktur Kegiatan Ekonomi
Permintaan Output
Input 1 2 3 Akhir

1 x11 x12 x13 F1 X1


Kegiatan 2 x21 x22 x23 F2 X2
Ekonomi
3 x31 x32 x33 F3 X3
Upah dan Gaji W1 W2 W3
Surplus Usaha SU1 SU2 SU3
Total Input X1 X2 X3

Tenagakerja L1 L2 L3
(orang)

Tabel 3.8 merupakan suatu tabel I-O yang telah menyertakan


informasi mengenai banyaknya tenagakerja yang ikut berpartisipasi
dalam proses produksi pada kegiatan-kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3.
Tabel 3.8 menjelaskan bahwa total upah dan gaji yang dibayar

53
kepada seluruh tenagakerja untuk menghasilkan output kegiatan
ekonomi 1, 2, dan 3 masing-masing adalah W1, W2, dan W3 (dalam
satuan moneter), sedangkan total banyaknya tenagakerja yang
dibutuhkan masing-masing adalah L1, L2, dan L3 (dalam satuan
orang).
Dari model Input-Output sebagaimana disajikan oleh tabel
3.8 dapat dihitung koefisien tenagakerja (labour coefficient) yang
dibutuhkan dalam proses produksi untuk menghasilkan output
pada masing-masing kegiatan ekonomi:

Li
Koefisien tenagakerja = .............. (3.22)
Xi

dimana
Li = kebutuhan terhadap tenagakerja oleh kegiatan ekonomi ke-i
(tenagakerja per output)
Xi = output yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi ke-i (dalam
satuan moneter)

Dengan menggunakan contoh yang diberikan sebelumnya,


misalkan ratio upah dan gaji yang dikeluarkan untuk seluruh
tenagakerja untuk menghasilkan output kegiatan ekonomi 1 adalah
sama dengan 40% dari outputnya; atau dengan perkataan lain, total
upah dan gaji yang dikeluarkan oleh kegiatan ekonomi 1 untuk
menghasilkan output adalah sama dengan 40%*Rp 78.391 miliar =
Rp 31.356,4 miliar. Jika rincian pendapatan tenagakerja menurut
kategorinya diketahui atau paling tidak rata-rata upah dan gaji
secara umum diketahui, misalnya adalah Rp 120 juta per orang per
tahun, maka perkiraan banyaknya tenagakerja yang ikut
berpartisipasi dalam proses produksi menghasilkan output
kegiatan ekonomi 1 adalah sebanyak 653.258 orang (Rp 78.391
miliar dibagi dengan Rp 120 juta per orang per tahun). Dengan
demikian, labour coefficient kegiatan ekonomi 1 adalah sama dengan
8,33 orang tenagakerja per output (Rp 653.258 orang dibagi dengan
Rp 78.391 miliar).
Sehingga, jika akibat peningkatan permintaan akhir 1 unit
akan menyebabkan output kegiatan ekonomi 1 akan meningkat

54
secara total sebesar 1,40994 unit, dapat diperkirakan bahwa
banyaknya tenagakerja yang dibutuhkan untuk meningkatkan
output kegiatan ekonomi 1 sebesar 1,40994 unit adalah adalah sama
dengan 8,33 orang*1,40994=11,74 orang (dengan asumsi tingkat
upah dan gaji tetap atau fixed). Atau dengan perkataan lain,
terdapat penambahan kesempatan kerja sekitar 3,41 orang atau
sekitar 4 orang tenagakerja untuk mengisi kebutuhan tenagakerja
sebagai akibat peningkatan permintaan akhir terhadap output
kegiatan ekonomi 1. Contoh yang serupa dapat dilakukan terhadap
kegiatan ekonomi 2 dan kegiatan ekonomi 3.

Analisis Keterkaitan
Adanya peningkatan output kegiatan ekonomi tertentu akan
mendorong peningkatan output kegiatan-kegiatan ekonomi
lainnya. Peningkatan output kegiatan-kegiatan ekonomi dapat
dilakukan melalui 2 (dua) cara. Pertama, peningkatan output
kegiatan ekonomi ke-i akan meningkatkan permintaan input antara
oleh kegiatan ekonomi ke-i kepada kegiatan-kegiatan ekonomi
lainnya. Input antara yang digunakan oleh kegiatan ekonomi ke-i
dapat berasal dari kegiatan ekonomi ke-i sendiri, dan dapat juga
berasal dari kegiatan ekonomi lainnya, misalnya kegiatan ekonomi
ke-j. Oleh karena itu, kegiatan ekonomi ke-i membutuhkan output
kegiatan ekonomi ke-i dan ke-j lebih banyak daripada sebelumnya
untuk digunakan sebagai input antara dalam proses produksi. Hal
ini memberikan impilkasi bahwa dibutuhkan peningkatan output
oleh kegiatan ekonomi ke-i atau oleh ke-j. Peningkatan output
kegiatan ekonomi ke-j, pada gilirannya akan meningkatkan
permintaan input antara dari kegiatan ekonomi ke-j kepada
kegiatan ekonomi lainnya, termasuk kepada kegiatan ekonomi ke-i,
yang berarti bahwa dibutuhkan peningkatan output kegiatan-
kegiatan ekonomi ke-j dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya.
Demikian seterusnya, hal ini terjadi karena terdapat keterkaitan
antar kegiatan-kegiatan ekonomi tersebut dalam suatu
perekonomian.
Analisis keterkaitan yang dapat dilakukan dengan
menggunakan tabel I-O adalah analisis keterkaitan ke depan
(forward linkages) dan analisis keterkaitan ke belakang (backward

55
linkages). Analisis keterkaitan ke depan kadang-kadang disebut
juga sebagai analisis daya sebar (output spreading effects); sedangkan
analisis keterkaitan ke belakang kadang-kadang disebut juga
sebagai analisis derajad kepekaan (effects on input utilization).
Analisis keterkaitan ke depan atau indek daya sebar, serta
keterkaitan ke belakang atau indek derajad kepekaan dapat
digunakan sebagai indikator-indikator untuk menentukan produk-
produk unggulan (leading products atau key-commodities) di suatu
negara karena koefisien-koefisien atau indek-indek yang
ditunjukkan mengenai produk-produk bersangkutan memberikan
informasi mengenai keunggulan produk-produk bersangkutan
dalam keterkaitan output ataupun keterkaitan input antara pada
suatu proses produksi dalam suatu perekonomian.
Keterkaitan ke depan kegiatan ekonomi ke-i didefinisikan
sebagai:

fi = Σjcij ……. (3.23)


j = 1, 2, ….., n

dimana
fi = keterkaitan ke depan kegiatan ekonomi ke-i
cij = elemen matrik kebalikan (I-A)-1 baris ke-i kolom ke-j
Σjcij = total dampak keterkaitan ke depan terhadap kegiatan
ekonomi ke-i (jumlah cij pada masing-masing baris ke-i)
n = banyaknya kegiatan ekonomi (jumlah kolom pada tabel I-O)

Sedangkan indek daya sebar kegiatan ekonomi ke-i


didefinisikan sebagai:

DSi = {Σjcij}/{(l/n)( ΣiΣjcij)} ……. (3.24)


j = 1, 2, ….., n

dimana
DSi = indek daya sebar kegiatan ekonomi ke-i
cij = elemen matrik kebalikan (I-A)-1 baris ke-i kolom ke-j
Σjcij = total dampak keterkaitan ke depan terhadap kegiatan
ekonomi ke-i (jumlah cij pada masing-masing baris ke-i)

56
ΣiΣjcij = total dampak keseluruhan yang ditimbulkan akibat
kenaikan permintaan akhir terhadap seluruh kegiatan ekonomi
(jumlah cij pada seluruh matrik kebalikan (I-A)-1)
n = banyaknya kegiatan ekonomi (jumlah kolom pada tabel I-O)

Keterkaitan ke depan menghitung dampak terhadap total


output yang tercipta akibat meningkatnya output suatu kegiatan
ekonomi melalui mekanisme alokasi output dalam perekonomian.
Dengan perkataan lain, jika terjadi peningkatan output kegiatan
ekonomi ke-i, maka tambahan output tersebut akan mengalir
kepada kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya (j=1,2,....,n), selain
kepada kegiatan ekonomi itu sendiri. Dengan demikian,
keterkaitan ke depan merupakan penjumlahan koefisien matrik (I-
A)-1 menurut baris ke-i; sedangkan indek daya sebar merupakan
rata-rata indek daya sebar output kegiatan ekonomi ke-i.
Bila koefisien fi atau indek DSi tinggi, maka hal itu berarti bahwa
kegiatan ekonomi ke-i tersebut memiliki dampak ke depan atau
memiliki daya sebar output yang tinggi terhadap perkembangan
output kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya.
Keterkaitan ke belakang kegiatan ekonomi ke-j didefinisikan
sebagai:

bj = Σicij ……. (3.25)


i = 1, 2, ……., m

dimana
bj = keterkaitan ke belakang kegiatan ekonomi ke-j
cij = elemen matrik kebalikan (I-A)-1 baris ke-i kolom ke-j
Σjcij = total dampak keterkaitan ke belakang terhadap kegiatan
ekonomi ke-j (jumlah cij pada masing-masing kolom ke-j)
m = banyaknya kegiatan ekonomi (jumlah baris pada tabel I-O)

Sedangkan indek derajad kepekaan kegiatan ekonomi ke-j


didefinisikan sebagai:
DPj = {Σicij}/{(l/n)( ΣiΣjcij)} ……. (3.26)
i = 1, 2, ……., m

57
dimana
DPj = indek derajad kepekaan kegiatan ekonomi ke-j
cij = elemen matrik kebalikan (I-A)-1 baris ke-i kolom ke-j
Σjcij = total dampak keterkaitan ke belekang terhadap kegiatan
ekonomi ke-j (jumlah cij pada masing-masing kolom ke-j)
ΣiΣjcij = total dampak keseluruhan yang ditimbulkan akibat
kenaikan permintaan akhir terhadap seluruh kegiatan ekonomi
(jumlah cij pada seluruh matrik kebalikan (I-A)-1)
m = banyaknya kegiatan ekonomi (jumlah baris pada tabel I-O)

Keterkaitan ke belakang menghitung dampak terhadap total


output yang dibutuhkan kepada kegiatan-kegiatan ekonomi akibat
meningkatnya output suatu kegiatan ekonomi melalui mekanisme
penggunaan input antara dalam menghasilkan output. Dengan
perkataan lain, jika terjadi peningkatan output kegiatan ekonomi
ke-j, maka tambahan output tersebut membutuhkan lebih banyak
input antara dari kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya (i=1,2,....,m),
selain dari kegiatan ekonomi itu sendiri. Dengan demikian,
keterkaitan ke belakang merupakan penjumlahan koefisien matrik
(I-A)-1 menurut kolom ke-j; sedangkan indek derajad kepekaan
merupakan rata-rata indek derajad kepekaan kegiatan ekonomi ke-j.
Bila koefisien bj suatu sektor tinggi atau indek DPj tinggi,
maka hal itu berarti bahwa kegiatan ekonomi tersebut berpengaruh
besar terhadap kebutuhan input antara dari kegiatan-kegiatan
ekonomi lainnya.
Dengan menggunakan hasil penghitungan matrik kebalikan
(I-A) yang telah diperoleh sebelumnya (lihat matrik (I-A)-1 di
-1

bawah ini) berikut ditunjukkan cara memperoleh koefisien


keterkaitan ke depan atau indek daya sebar; dan koefisien
keterkaitan ke belakang atau indek derajad kepekaan sebagaimana
disajikan oleh tabel 3.9 berikut.

1,04554 0,30470 0,05970


(I-A)-1= [0,09230 1,31638 0,17773]
0,06357 0,17373 1,17340

Tabel 3.9
Koefisien Keterkaitan ke Depan dan Indek Daya Sebar serta

58
Koefisien Keterkaitan ke Belakang atau Indek Derajad Kepekaan

Indek
Matrik (I-A)-1 Jumlah Keterkaitan Daya
ke Depan Sebar
X1 1,04554 0,30470 0,05970 1,40994 1,40994 0,95978
X2 0,09230 1,31638 0,17773 1,58641 1,58641 1,07991
X3 0,06357 0,17373 1,17340 1,41070 1,41070 0,96030
Jumlah 1,20141 1,79481 1,41083 4,40705* X X
Keterkaitan 1,20141 1,79481 1,41083 X X X
Ke
Belakang
Indek 0,81783 1,18998 0,96039 X X X
Derajad
Kepekaan
*Rata-rata: 4,40705/3=1,46902 (dibagi 3 karena terdapat 3 kegiatan ekonomi)

Dari tabel 3.9 dapat dilihat bahwa koefisien keterkaitan ke


depan diperoleh dari hasil jumlah koefisien-koefisien matrik (I-A)-1
menurut baris, sedangkan indek daya sebar diperoleh sebagai hasil
bagi koefisien keterkaitan ke depan dengan rata-rata koefisien
matrik kebalikan (I-A)-1 (yang sama dengan 1,46902). Sedangkan,
koefisien keterkaitan ke belakang diperoleh dari hasil jumlah
koefisien-koefisien matrik (I-A)-1 menurut kolom, dan indek derajad
kepakaan diperoleh sebagai hasil bagi koefisien keterkaitan ke
belakang dengan rata-rata koefisien matrik kebalikan (I-A)-1 (yang
sama dengan 1,46902).
Urut-urutan produk-produk unggulan jika menggunakan
koefisien keterkaitan ke depan/ke belakang atau menggunakan
indek daya sebar/derajad kepekaan memberikan hasil yang sama,
yaitu urut-urutan produk unggulan menurut koefisien keterkaitan
ke depan atau indek daya sebar adalah produk-produk kegiatan 2,
3, dan 1; sedangkan urut-urutan produk unggulan menurut
koefisien keterkaitan ke belakang atau indek derajad kepekaan juga
menunjukkan urut-urutan yang sama, yaitu produk-produk
kegiatan 2, 3, dan 1.19

19Urut-urutan yang sama mengenai produk-produk unggulan 2,3, dan 1, baik menggunakan
analisis keterkaitan ke depan (atau indek daya sebar) atau pun menggunakan analisis
keterkaitan ke belakang (atau indek derajad kepeakaan), merupakan hasil secara kebetulan
saja (by chance). Analisis ini sebenarnya dapat memberikan hasil yang berbeda.

59
Kelebihan penggunaan indek daya sebar dan indek derajad
kepekaan dalam memberikan informasi mengenai keunggulan
produk-produk yang dihasilkan oleh suatu perekonomian adalah
kedua indek ini menunjukkan indek yang lebih besar atau lebih
kecil dari 1 (satu). Koefisien daya sebar yang lebih besar dari 1
mempunyai arti bahwa daya sebar produk kegiatan ekonomi
bersangkutan lebih tinggi dibandingkan rata-rata daya sebar
produk-produk kegiatan ekonomi secara keseluruhan, dan
sebaliknya. Koefisien derajad kepekaan yang lebih besar dari 1
mempunyai arti bahwa derajad kepekaan produk kegiatan ekonomi
bersangkutan lebih tinggi dibandingkan rata-rata derajad kepekaan
produk-produk kegiatan ekonomi secara keseluruhan, dan
sebaliknya. Informasi ini tidak dapat diperoleh jika menggunakan
koefisien ke depan dan koefisien ke belakang. Dari tabel 3.9 dapat
dilihat bahwa produk kegiatan 1 dan 3 merupakan produk yang
memiliki daya sebar yang lebih rendah dibandingkan rata-rata daya
sebar produk-produk secara keseluruhan. Demikian juga, dari tabel
3.9 dapat dilihat bahwa produk kegiatan 1 dan 3 merupakan
produk yang memiliki derajad kepekaan yang lebih rendah
dibandingkan rata-rata derajad kepekaan produk-produk secara
keseluruhan. Dari kedua hasil ini dapat disimpulkan, misalnya,
adalah bahwa produk kegiatan ekonomi 2 merupakan produk
unggulan yang perlu dikembangkan karena memiliki dampak ke
depan dan dampak ke belakang yang besar terhadap kegiatan-
kegiatan ekonomi di negara bersangkutan.

9. Penyusunan Tabel Input-Output


Terdapat 2 (dua) metode untuk menyusun suatu tabel Input-
Output (tabel I-O).
Metode pertama adalah metode panjang (long-way) atau
biasanya juga disebut sebagai metode survei (survey method).
Metode ini merupakan suatu metode yang dimaksudkan untuk
membangun tabel I-O dari tahap nol (tabel I-O belum ada) sampai
tabel I-O tersebut menjadi ada, dengan menggunakan data secara
lengkap, baik data yang sudah tersedia atau pun data yang
diperoleh melalui penyelenggaraan berbagai survei, dan melalui
rekonsiliasi atau siklus iterasi yang dilakukan berkali-kali. Oleh

60
karena itu, metode ini disebut sebagai metode panjang (long-way)
karena membutuhkan suatu proses yang lama dan panjang; atau
disebut sebagai metode survei karena membutuhkan data yang
banyak yang berasal dari berbagai survei.
Data yang dibutuhkan oleh suatu tabel I-O memang banyak
dan beragam macamnya, misalnya data mengenai output, input
antara yang dihasilkan atau yang digunakan oleh berbagai kegiatan
ekonomi, data mengenai impor input antara, data mengenai impor
pengeluaran konsumsi rumahtangga, data mengenai pengeluaran
pemerintah, data mengenai Anggaran Pengeluaran dan Belanja
Negara (APBN), data mengenai investasi, data struktur produksi
dalam menghasilkan output, data mengenai pajak tidak langsung
dan subsidi, dan sebagainya. Data ini tidak dapat diperoleh dari
data statistik yang dikumpulkan oleh, misalnya, Badan Pusat
Statistik (BPS) saja karena data BPS tidak cukup rinci untuk
mengakomodasi semua kebutuhan data suatu tabel I-O. Oleh
karena itu, ketersediaan data perlu dibantu dengan menggunakan
data lainnya, misalnya yang barasal dari berbagai Kementerian,
lembaga-lembaga ekonomi lainnya, atau dengan melaksanakan
berbagai kegiatan survei untuk memperkirakan berbagai macam
data yang dibutuhkan. Metode panjang (long-way) atau metode
survei ini digunakan oleh BPS dalam pelaksanaan penyusunan
tabel I-O Indonesia setiap 10 tahun sekali karena penyusunan tabel
I-O tersebut ingin mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia
menurut waktunya.
Secara singkat, tahap-tahap penyusunan tabel I-O dengan
menggunakan metode panjang (long-way) atau metode survei
adalah sebagai berikut (lihat gambar 3.2). Tahap awal adalah
merencanakan keseluruhan bentuk tabel I-O. Tahap ini berkaitan
dengan masalah klasifikasi tabel I-O, ketersediaan data, dan tahun
rujukan (reference year). Oleh karena itu, hal yang menjadi penting
pada tahap ini adalah mempelajari berbagai sumber data yang
tersedia untuk menyusun tabel I-O, yang disesuaikan dengan tahun
rujukan (reference year) yang akan diacu penyusunannya, misalnya
tahun 2020. Pada tahap-tahap ini, pemanfaatan data yang sudah
tersedia, misalnya yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS) atau
di berbagai Kementerian, perlu dioptimalkan. Disamping itu,

61
pemikiran mengenai pelaksanaan berbagai survei untuk menunjang
penyusunan tabel I-O yang dihubungkan dengan klasifikasi tabel I-
O yang akan dibangun perlu juga dipertimbangkan.

Rancangan Keseluruhan Sistem

Identifikasi Sumber-Sumber Data

Pemilihan Tahun Rujukan


(Reference Year)

Penentuan Klasifikasi

Persiapan Rencana Tabulasi

Pengumpulan Data dan


Penyelanggaraan Survei-Survei

Penyusunan Tabel I-O

Rekonsiliasi/Tahap Iterasi

Gambar 3.2
Alur Penyusunan Tabel I-O
Dari tahap ini, rancangan klasifikasi awal tabel I-O sudah
dapat ditentukan. Klasifikasi mempunyai tujuan untuk
mengelompokkan berbagai kegiatan ekonomi yang sangat beragam
menjadi kelompok-kelompok kegiatan ekonomi atau produk-
produk yang dapat dipisah-pisahkan secara jelas. Pemisahan

62
klasifikasi dapat dilakukan, misalnya, berdasarkan kesamaan
proses produksi dalam menghasilkan suatu produk; atau kesamaan
mengenai produk yang dihasilkan; atau untuk memunculkan suatu
kegiatan ekonomi atau produk yang memiliki nilai strategis atau
memiliki peran yang dominan di suatu negara atau suatu wilayah
sehingga perlu ditampilkan secara khusus.
Sebagai contoh, klasifikasi tabel I-O Indonesia yang disusun
oleh BPS, pemilahan kegiatan-kegiatan pertanian dan kegiatan
pertambangan dilakukan atas dasar konsep kelompok kesamaan
produk yang dihasilkan, sehingga dengan demikian klasifikasi
kedua kegiatan ekonomi tersebut pada tabel I-O Indonesia adalah
klasifikasi produk, misalnya padi, jagung, tembaga, nikel, dan
sebagainya. Klasifikasi kegiatan industri pengolahan dilakukan atas
dasar konsep kesamaan proses produksi, sehingga dengan
demikian klasifikasi kegiatan industri lebih dekat kepada konsep
kesamaan kegiatan produksi, misalnya industri makanan dan
minuman yang menghasilkan produk-produk makanan dan
minuman, industri otomotif yang menghasilkan mobil atau
kendaraan motor lainnya, industri kimia yang menghasilkan
barang-barang kimiawi, dan sebagainya. Untuk kegiatan-kegiatan
ekonomi lainnya, kecuali kegiatan pemerintahan, klasifikasi
dilakukan dengan mengikuti konsep kegiatan produksinya,
misalnya pada kegiatan konstruksi atau bangunan yang
menjelaskan kegiatan produksi yang menghasilkan konstruksi atau
bangunan, kegiatan perdagangan yang menghasilkan jasa marjin
perdagangan, dan kegiatan pengangkutan yang menghasilkan jasa
marjin pengangkutan. Untuk kegiatan pemerintahan, dasar
klasifikasi yang digunakan adalah konsep kelembagaan, yaitu
kelembagaan pemerintahan yang memberikan jasa administrasi
pemerintahan kepada masyarakat.
Namun, sebagai dasar (referensi) utama dalam upaya
melakukan klasifikasi berbagai kegiatan ekonomi, beberapa
panduan baku (standard manuals) yang sudah tersedia dapat
digunakan, misalnya Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
(KBLI) yang mendasarkan kepada klasifikasi baku International
Standard for Industrial Classification (ISIC), Klasifikasi Baku Komoditi

63
Indonesia (KBKI) yang mendasarkan kepada klasifikasi baku
Central Product Classification (CPC).
Penentuan klasifikasi, tidak saja dibutuhkan dalam
penyusunan tabel I-O sebagai dasar pengolahan data, tetapi juga
berguna untuk berbagai tujuan analisis yang ingin dilaksanakan
karena, dengan menggunakan tabel I-O, dampak dari suatu
kegiatan ekonomi terhadap perkembangan ekonomi nasional atau
wilayah atau sebaliknya tidak akan dapat diketahui kalau kegiatan
ekonomi tersebut tidak berdiri sendiri dalam suatu klasifikasi.
Disamping itu, melalui klasifikasi kegiatan-kegiatan ekonomi dapat
juga dipelajari berbagai jenis barang dan jasa (produk), skala
prioritas, peranan, teknologi pembuatan dan kegunaannya, yang
dihubungkan dengan perekonomian (nasional atau wilayah).
Bahkan klasifikasi yang lebih rinci akan memungkinkan pengenalan
anatomi fisik yang lebih mendalam terhadap berbagai barang dan
jasa (produk) yang dihasilkan. Disamping itu, konversi dari suatu
sistem ke sistem lainnya, misalnya dari HS (Harmonaized System) ke
SNN (atau System of National Accounts), dilakukan melalui
klasifikasi.
Dengan demikian, klasifikasi tabel I-O harus merupakan
suatu klasifikasi yang lengkap dan jelas, dengan pengertian bahwa
klasifikasi harus mencakup seluruh produk (barang dan jasa) serta
kegiatan-kegiatan ekonomi yang ada atau terdapat di negara atau
wilayah bersangkutan, baik yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan
ekonomi domestik maupun luar negeri tetapi beroperasi di dalam
teritorial negara atau wilayah bersangkutan. Dengan demikian,
tidak terdapat penafsiran ganda terhadap ruang lingkup dan
cakupan produk atau kegiatan-kegiatan ekonomi yang terdapat di
negara atau wilayah bersangkutan.
Setelah klasifikasi tabel I-O dapat ditentukan, tahap
berikutnya yang perlu dilakukan adalah membuat rencana tabulasi
terhadap data yang diperoleh dari berbagai sumber yang
diperkirakan akan digunakan untuk membangun tabel I-O, baik
data yang dibutuhkan untuk mengisi sel-sel tabel I-O secara umum,
seperti output; atau data yang secara khusus dibutuhkan untuk
mendukung tabel I-O, misalnya matrik impor terhadap input antara
atau permintaan akhir.

64
Setelah itu, tahap pengumpulan data dan penyelanggaraan
berbagai survei yang dibutuhkan sudah dapat dimulai. Akan tetapi,
jika ternyata data yang diperoleh dalam pelaksanaan pengumpulan
data tidak sesuai dengan klasifikasi tabel I-O yang direncanakan,
maka klasifikasi tabel I-O tersebut dapat direvisi untuk disesuaikan
dengan ketersediaan data dari hasil pengumpulan data atau/dan
penyelenggaraan survei-survei pendukung.
Tahap berikut setelah ini adalah melakukan proses
penyusunan tabel I-O yang melibatkan banyak tenaga staf
penyusun tabel I-O yang kompeten yang tidak hanya memahami
tabel I-O, tetapi juga memahami bidangnya masing-masing
mengenai kegiatan produksi, misalnya, yang memahami kegiatan
produksi pertanian, pertambangan, industri, dan sebagainya, dan
juga mengenai berbagai kebijakan ekonomimakro yang dilakukan
terhadap suatu kegiatan produksi tertentu, misalnya mengenai
pajak, subsidi, dan sebagainya di suatu negara. Proses ini dapat
merupakan proses adu-debat antar tenaga staf yang menangani
masing-masing kegiatan ekonomi atau produk jika terjadi
permintaan perubahan terhadap ‘hasil’ yang sudah diperoleh oleh
masing-masing penanggungjawab kegiatan ekonomi atau produk.
Misalnya, pada siklus awal (siklus ke-1) telah ditentukan besarnya
output yang dihasilkan oleh suatu kegiatan produksi tertentu, dan
penentuan ini telah menghasilkan kondisi yang seimbang dilihat
dari sisi demand dan supply atau dari sisi output dan struktur input
kegiatan produksi tersebut. Ternyata data lain yang diperoleh dari
sumber lain menyatakan bahwa output kegiatan produksi tersebut
‘dianggap’ masih kurang banyak untuk dapat menampung
permintaan terhadap input antara yang dibutuhkan oleh kegiatan-
kegiatan produksi lainnya dari kegiatan produksi tersebut. Dengan
demikian, perlu melakukan ‘penambahan’ terhadap output
kegiatan produksi bersangkutan, dan juga terhadap output
kegiatan-kegiatan produksi lainnya. Proses ini membutuhkan adu-
debat antar tenaga staf penanggungjawab masing-masing kegiatan
ekonomi atau produk, dan masing-masing penanggungjawab
kegiatan produksi atau produk akan mempertahankan ‘hasil’ yang
diperoleh berdasarkan argumentasi atau alasan-alasan masing-
masing, misalnya berdasarkan data yang diperoleh, kebijakan

65
ekonomimakro secara eksplisit terhadap data tersebut, dan
sebagainya. Jika adu-debat tersebut dapat diselesaikan dan
diterima dengan baik oleh semua pihak, maka proses rekonsiliasi
dilakukan terhadap tabel I-O siklus ke-1 sehingga menghasilkan
tabel I-O siklus ke-2. Pada tahap berikutnya, keadaan yang serupa
dapat terjadi lagi untuk kasus produk atau kegiatan ekonomi yang
lain. Dengan demikian, perlu dilakukan rekonsiliasi terhadap
kegiatan produksi bersangkutan, dan juga terhadap kegiatan-
kegiatan produksi lainnya, sehingga tabel I-O siklus ke-2 perlu
diperbaiki menjadi tabel I-O siklus ke-3. Demikian seterusnya
sampai mencapai proses siklus ke-n, dimana siklus terakhir (siklus
ke-n) menghasilkan tabel I-O dalam kondisi keseimbangan
(equilibrium) secara keseluruhan, misalnya mengenai output dan
input, serta mengenai demand dan supply pada tabel I-O yang
disusun.
Metode kedua adalah metode pendek (short-cut) atau biasa
juga disebut sebagai metode bukan-survei (non-survey method).
Metode ini tidak melakukan penyusunan tabel I-O seperti metode
panjang (long-way), tetapi menggunakan tabel I-O yang tersedia,
misalnya tabel I-O Indonesia tahun 2010, untuk menyusun suatu
tabel I-O yang baru, misalnya tabel I-O Indonesia tahun 2013,
dengan cara melakukan proses updating, yaitu memperbaharui
(updated) dengan menggunakan data terbaru yang tersedia tetapi
terbatas dengan tetap menggunakan koefisien-koefisien input yang
sama karena diasumsikan bahwa tidak terdapat perubahan
teknologi selama suatu tahun dengan tahun yang lain, misalnya
selama 2010-2013; atau dapat juga dengan melakukan perbaikan
terhadap koefisien-koefisien input berdasarkan data atau informasi
terakhir yang diterima.
Untuk melakukan proses updating, metode RAS, yaitu suatu
metode untuk melakukan proses pembaharuan terhadap tabel I-O
awal (tahun 2010) menjadi tabel I-O yang diperbaharui (tahun
2013), dapat digunakan. Metode RAS yang digunakan dapat
merupakan:
a. Metode RAS murni, yaitu menggunakan koefisien input
pada tabel I-O lama, tanpa mengubahnya, untuk
menghasilkan tabel I-O yang baru. Biasanya, yang

66
diperbaharui adalah nilai-nilai kuadran 2 (permintaan
akhir), dan melakukan proses iterasi terhadap kuadran 1
dan kuadran 3.
b. Metode modified RAS, yaitu memperbaharui suatu atau
beberapa koefisien input kegiatan produksi tertentu
berdasarkan data yang diperoleh atau studi yang
tersedia, dan kemudian melakukan proses iterasi
terhadap kuadran 1 dan kuadran 3 setelah data kuadran
3 (permintaan akhir) diperbaharui.20

20Lihat, misalnya, Miller dan Blair (1985) untuk memahami metode RAS lebih lanjut.

67