Anda di halaman 1dari 11

Peran Agribisnis Dalam Perekonomian

Besar dan luasnya peranan agribisnis dalam perekonomian nasional tidak terlepas dari fungsi
agribisnis, yaitu:

 Menghasilkan bahan mentah atau komoditas primer baik bahan pangan, serat, bangunan,
atau bahan lainnya;

 Menghasilkan produk antara atau barang jadi baik pangan, bahan pembuat tekstil, bahan
bangunan, obat-obatan, dan sebagainya;

 Menyerap tenaga kerja dari yang unskilled sampai yang skilled;

 Menyumbang pada pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi; dan

 Menghasilkan devisa negara melalui kegiatan ekpor maupun pariwisata.

Dalam perekonomian Indonesia, agribisnis mempunyai peranan yang sangat penting sehingga
mempunyai nilai strategis. Peranan agribisnis adalah sebagai berikut.

 Peranan agribisnis dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto) sangat besar. Peranan
agribisnis dalam penyerapan tenaga kerja. Karakteristik teknologi yang digunakan dalam
agribisnis bersifat akomodatif terhadap keragaman kualitas tenaga kerja sehingga tidak
mengherankan agribisnis menjadi penyerap tenaga kerja nasional yang terbesar.

 Peranan agribisnis dalam perolehan devisa.selama ini selain ekspor migas, hanya agribisnis
yang mampu memberikan net-ekspor secara konsisten. Peranan agribisnis dalam penyediaan
bahan pangan. Ketersediaan berbagai ragam dan kualitas pangan dalam jumlah pada waktu
dan tempat yang terjangkau masyarakat merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan
pembangunan di Indonesia.

 Peranan agribisnis dalam mewujudkan pemerataan hasil pembangunan (equity). Pemerataan


pembangunan sangat ditentukan oleh ‘teknologi’ yang digunakan dalam menghasilkan
output nasional, yaitu apakah bias atau pro terhadap faktor-faktor produksi yang dimiliki
oleh rakyat banyak. Saat ini faktor produksi yang banyak dimiliki oleh sebagian besar rakyat
adalah sumber daya lahan, flora dan fauna, serta sumber daya manusia. Untukmewujudkan
pemerataan di Indonesia perlu digunakan ‘teknologi’ produksi output nasional yang banyak
menggunakan sumber daya tersebut, yaitu agribisnis.

Peranan agribisnis dalam pelestarian lingkungan. Kegiatan agribisnis yang berlandaskan pada
pendayagunaan keanekaragaman ekosistem di seluruh tanah air memiliki potensi melestarikan
lingkungan hidup.

PERAN AGRIBISNIS DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEREKONOMIAN

Pendahuluan
Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional
Indonesia. Sektor agribisnis menyerap lebih dari 75% angkatan kerja nasional termasuk di dalamnya
21,3 juta unit usaha skala kecil berupa usaha rumah tangga diperhitungkan maka sebesar 80% dari
jumlah penduduk nasional menggantung hidupnya pada sektor agribisnis. Peranan sektor agribisnis
yang demikian besar dalam perekonomian nasional memiliki implikasi penting dalam pembangunan
ekonomi nasional ke depan (Saragih,1997).

Apabila perencanaan pembangunan pertanian dan pelaksanaannya dikelola dengan baik,


pembangunan pertanian yang dilaksanakan dengan seksama dapat memperbaiki pendapatan
penduduk secara merata dan berkelanjutan. Pada akhirnya, hasil pembangunan tersebut dapat
memakmurkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah agar dapat memahami konsep dan peranan agribisnis
dalam perekonomian dan pembangunan nasional.

Manfaat Penulisan

Sebagai sarana pembelajaran untuk mengetahui hal – hal yang berkaitan dengan agribisnis pangan
serta untuk mengetahui peranan sektor agribisnis dalam perekonomian dan manfaat pembangunan
sistem agribisnis dalam meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan perekonomian.

PEMBAHASAN

Pengertian sistem agribisnis


Agribisnis merupakan sistem pertanian yang saling terkait mulai dari sistem hulu sampai dengan
sistem hilir yang memanfaatkan sumber daya yang ada dengan tujuan mendapatkan keuntungan
yang sebesar-besarnya. (Saragih,1997) Industri hulu adalah sektor yang memproduksi alat-alat dan
mesin pertanian serta industri sarana produksi yang digunakan dalam proses budidaya pertanian.
Sementara industri hilir merupakan industri yang mengolah hasil pertanian menjadi bahan baku atau
barang yang siap dikonsumsi atau merupakan industry pascapanen dan pengolahan hasil pertanian.

Adapun kelima mata rantai atau subsistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi


Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran. Kegiatan
ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar
penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah,
tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk.

b. Subsistem Usahatani atau proses produksi


Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani dalam rangka
meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan
pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan produksi
primer. Disini ditekankan pada usahatani yang intensif dan sustainable (lestari), artinya meningkatkan
produktivitas lahan semaksimal mungkin dengan cara intensifikasi tanpa meninggalkan kaidah-kaidah
pelestarian sumber daya alam yaitu tanah dan air. Disamping itu juga ditekankan usahatani yang
berbentuk komersial bukan usahatani yang subsistem, artinya produksi primer yang akan dihasilkan
diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka

c. Subsistem Agroindustri/pengolahan hasil


Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat petani, tetapi menyangkut
keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat
pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi
primer tersebut. Dengan demikian proses pengupasan, pembersihan, pengekstraksian, penggilingan,
pembekuan, pengeringan, dan peningkatan mutu.

d. Subsistem Pemasaran
Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan agroindustri baik untuk pasar
domestik maupun ekspor. Kegiatan utama subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan
informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.

e. Subsistem Penunjang
Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang meliputi :
• Sarana Tataniaga
• Perbankan/perkreditan
• Penyuluhan Agribisnis
• Kelompok tani
• Infrastruktur agribisnis
• Koperasi Agribisnis
• BUMN
• Swasta
• Penelitian dan Pengembangan
• Pendidikan dan Pelatihan
• Transportasi
• Kebijakan Pemerintah

Peranan agribisnis sebagai suatu sistem dalam pengembangan sektor pertanian di Indonesia :

Sektor pertanian memiliki peranan penting di Indonesia karena sektor pertanian mampu
menyediakan lapangan kerja, mampu mendukung sektor industri baik industri hulu maupun industri
hilir, mampu menyediakan keragaman menu pangan dan karenanya sektor pertanian sangat
mempengaruhi konsumsi dan gizi masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya kontribusi sektor
pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terutama pada masa kirisis ekonomi yang dialami
Indonesia, satu-satunya sektor yang menjadi penyelamat perekonomian Indonesia pada tahun 1997-
1998 hanyalah sektor agribisnis, dimana agribisnis memiliki pertumbuhan yang positif.

Peranan agribisnis sektor pertanian misalnya dalam penyediaan bahan pangan. Ketersediaan
berbagai ragam dan kualitas pangan dalam jumlah pada waktu dan tempat yang terjangkau
masyarakat merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan pem-bangunan di Indonesia. Sejarah
modern Indonesia menunjukkan bahwa krisis pangan secara langsung mempengaruhi kondisi sosial,
politik, dan keamanan nasional.
Pada dasarnya tidak perlu diragukan lagi, bahwa pembangunan ekonomi yang berbasiskan kepada
sektor pertanian (agribisnis), telah memberikan bukti dan dan peranan yang cukup besar dalam
pembangunan perekonomian bangsa, dan tentunya lebih dari itu.

Contoh kasus:
Selama terjadinya krisis ekonomi, penyerapan tenaga kerja secara nasional juga mengalami
penurunan sebanyak 6,4 juta atau sekitar 2,13 %. Namun, sector pertanian mampu menciptakan
lapangan kerja baru sebanyak 432.350 orang. Hal ini menunjukkan bahwa sector pertanian terbukti
tangguh menghadapi gejolak ekonomi dan fleksibel dalam penyerapan tenaga kerja sehingga
sesungguhnya dapat berfungsi sebagai basis dan landasan perekonomian basional indonesia.
(Saragih, 1997)

Manfaat pembangunan sistem agribisnis dalam meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan


perekonomian adalah
a) Banyak melibatkan tenaga kerja karena sistem agribisnis menggunakan sumberdaya alam yang
ada yang dapat diperbaharui serta lebih banyak tenaga kerja yang dilibatkan baik yang berpendidikan
maupun yang tidak berpendidikan.
b) Mampu meningkatkan efisiensi sektor pertanian hingga hingga menjadi kegiatan yang sangat
produktif melalui proses modernisasi pertanian.
c) Agribisnis merupakan penyumbang terbesar dalam PDB non-migas.
d) Mampu meningkatkan ketahanan dan keamanan bahan pangan.
e) Mewujudkan pemerataan hasil pembangunan. Untuk mewujudkan pemerataan di Indonesia perlu
digunakan teknologi produksi output nasional yang banyak menggunakan sumberdaya tersebut.
Melalui pembangunan agribisnis, yang sumberdayanya tersebar di seluruh pelosok tanah air,
diharapkan mampu melibatkan partisipasi seluruh wilayah dan rakyat Indonesia dan sekaligus ikut
menikmati outputnya melalui pendapatan yang diperoleh dari pembayaran faktor produksi.

Kendala atau hambatan dalam membangun agribisnis di Indonesia adalah:

1. Iklim tidak bisa dikendalikan sehingga perlu membangun strategi dalam membangun agribisnis.
2. Kurangnya modal bagi para pelaku agribisnis.
3. Infrastruktur yang belum berkembang dengan baik sehingga menghambat distribusi dalam
pemasaran.
4. Kurangnya pendampingan agribisnis bagi para pelakunya secara profesional.
5. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam membangun agribisnis dan minimnya pengetahuan
dalam pengembangan agribisnis sebagai pelaku utama.

Upaya konkrit yang perlu dilakukan untuk menghadapi kendala tersebut adalah:

1. Melakukan penelitian dan mencari strategi dengan teknologi yang tepat dalam mengantisipasi
iklim yang terjadi.
2. Adanya kebijakan pemerintah bagi dunia perbankan untuk memudahkan permodalan bagi para
pelaku agribisnis.
3. Membangun dan membenahi infrastruktur khususnya di pedesaan yang menunjang kegiatan
agribisnis.
4. Melakukan pendampingan agribisnis kepada pelaku utama secara profesional dan
berkelanjutan.
5. Memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai keuntungan agribisnis kepada pelaku utama.
PENUTUP

Kesimpulan
Konsep agribisnis merupakan suatu konsep yang terikat dari subsystem hulu hingga hilir yang
berorientasi pada pasar dengan memperhatikan kuantitas, kualitas dan kontuinitas serta berdaya
saing tinggi untuk dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan pelaku agribisnis. Jika konsep
agribisnis dapat diterapkan dengan baik secara tidak langsung dapat memberikan kontribusi yang
besar terhadap pertumbuhan perekonomian baik dalam pemanfaatan tenaga kerja yang banyak dari
masing-masing subsitem hingga penyediaan pangan nasional.

Saran
Usaha untuk mewujudkan agribisnis yang berdaya saing tinggi diperlukan SDM yang professional,
inovatif, kreatif. Oleh karena itu, sebaiknya mahasiswa agribisnis ikut turut mendampingi untuk
mensukseskan agribisnis.

DAFTAR PUSTAKA
Saragih, bungaran, siswono Yudo Husodo, dkk. 2005. Pertanian Mandiri. Penebar swadaya, Jakarta.
Saragih, bungaran. Refleksi Agribisnis. Bogor: IPB Press.
Catatan : ini merupakan hasil tugas praktikum MK. Agribisnis Pangan tanggal 16 Oktober 2010 oleh :
Rino Aribowo , Sofyan Ahmadi, Riska Dian Pertiwi P, Kholfiyatum Mujahidah, Hairia, Retti Aisyani .

(Email: fery.william@gmail.com)

Pembangunan pertanian tidak terlepas dari pengembangan kawasan pedesaan yang menempatkan
pertanian sebagai penggerak utama perekonomian. Lahan, potensi tenaga kerja, dan basis ekonomi
lokal pedesaan menjadi faktor utama pengembangan pertanian. Saat ini disadari bahwa
pembangunan pertanian tidak saja bertumpu di desa tetapi juga diperlukan integrasi dengan
kawasan dan dukungan sarana serta prasarana yang tidak saja berada di pedesaan (baca : kota).
Struktur perekonomian wilayah merupakan faktor dasar yang membedakan suatu wilayah dengan
wilayah lainnya, perbedaan tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi dan potensi suatu wilayah
dari segi fisik lingkungan, sosial ekonomi dan kelembagaan

Berangkat dari kondisi tersebut perlu disusun sebuah kerangka dasar pembangunan pertanian yang
kokoh dan tangguh, artinya pembangunan yang dilakukan harus didukung oleh segenap komponen
secara dinamis, ulet, dan mampu mengoptimalkan sumberdaya, modal, tenaga, serta teknologi
sekaligus mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan pertanian harus
berdasarkan asas ‘keberlanjutan’ yakni, mencakup aspek ekologis, sosial dan ekonomi (Wibowo,
2004).

Konsep pertanian yang berkelanjutan dapat diwujudkan dengan perencanaan wilayah yang
berbasiskan sumberdaya alam yang ada di suatu wilayah tertentu. Konsep perencanaan mempunyai
arti penting dalam pembangunan nasional karena perencanaan merupakan suatu proses persiapan
secara sistematis dari rangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam usaha pencapaian suatu tujuan
tertentu. Perencanaan pembangunan yang mencakup siapa dan bagaimana cara untuk mencapai
tujuan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi dan potensi sumberdaya yang dimiliki agar
pelaksanaan pembangunan tersebut dapat berjalan lebih efektif dan efesien.
Perencanaan pembangunan wilayah adalah suatu upaya merumuskan dan mengaplikasikan kerangka
teori kedalam kebijakan ekonomi dan program pembangunan yang didalamnya mempertimbangkan
aspek wilayah dengan mengintegrasikan aspek sosial lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan
yang optimal dan berkelanjutan.

Untuk memberhasilkan pembangunan ekonomi nasional melalui pengembangan sektor agribisnis,


kita perlu menemu-kenali terlebih dahulu kondisi dan tantangan yang dihadapi sektor agribisnis
nasional. Dengan menmu-kenali hal-hal tersebut, kita dapat merumuskan strategi untuk
menghadapinya dan mempercepat pembangunan sektor agribisnis dari kondisi saat ini menuju
kinerja sektor agribisnis yang diharapkan.

Pengembangan sektor agribisnis di masa depan, khususnya menghadapi era globalisasi, akan
menghadapi sejumlah tantangan besar yang bersumber dari tuntutan pembangunan ekonomi
domestik, perubahan lingkungan ekonomi Interansional, baik karena pengaruh lieberalisasi ekonomi
maupun karena perubahan-perubahan fundamental dalam pasar produk agribisnis internasional.

Struktur agribisnis, untuk hampir semua komoditi, dewasa ini masih tersekat-sekat. Struktur
agribisnis yang tersekat-sekat ini dicirkan oleh beberapa hal yaitu : Pertama, agribisnis merupakan
konsep dari suatu sistem yang integratif dan terdiri atas beberapa subsistem, yaitu (a) subsistem
pertanian hulu, (b) subsistem budidaya pertanian, (c) subsistem pengolahan hasil pertanian, (d)
subsistem pemasaran hasil pertanian, dan (e) subsistem jasa penunjang pertanian. Subsistem kedua,
sebagian dari subsistem pertama, dan subsistem ketiga merupakan on-farm agribisnis, sedangkan
subsistem lainnya merupakan off-farm agribisnis. Kedua, agribisnis merupakan suatu konsep yang
menempatkan kegiatan pertanian sebagai suatu kegiatan utuh yang komprehensif, sekaligus sebagai
suatu konsep untuk dapat menelaah dan menjawab berbagai permasalahan, tantangan, dan kendala
yang dihadapi pembangunan pertanian. Agribisnis juga dapat dijadikan tolok ukur dalam menilai
keberhasilan pembangunan pertanian serta pengembangan terhadap pembangunan nasional secara
lebih tepat.

Dari berbagai definisi dan batasan konsep agribisnis di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang penting dan harus ada dalam proses pembangunan agribisnis adalah sebagai barikut : (a)
agribisnis merupakan suatu sistem, sehingga semua kegiatan yang terdapat dalam sistem tersebut
harus saling terkait dan tidak berdiri sendiri, (b) agribisnis merupakan alternatif bagi pengembangan
strategi pembangunan ekonomi, dan (c) agribisnis berorientasi pasar dan perolehan nilai tambah dari
suatu komoditas.

Setidaknya ada lima alasan mengapa sektor pertanian atau agribisnis menjadi strategis. Pertama,
pertanian merupakan sektor yang menyediakan kebutuhan pangan masyarakat. Kedua, merupakan
penyedia bahan baku bagi sektor industri (agroindustri). Ketiga, memberikan kontribusi bagi devisa
negara melalui komoditas yang diekspor. Keempat, menyediakan kesempatan kerja bagi tenaga kerja
pedesaan. Dan kelima, perlu dipertahankan untuk keseimbangan ekosistem (lingkungan).

Ironisnya, meski pertanian dianggap strategis, tapi kondisi petaninya kian termarginalkan. Menurut
Sensus Pertanian 2003, jumlah rumah tangga petani gurem (penggarap kurang dari 0,5 ha) adalah
13,7 juta rumah tangga, meningkat 26,85 persen dibanding tahun 1993 yang jumlahnya 10,8 juta
rumah tangga. Persentase rumah tangga petani gurem terhadap rumah tangga pertanian pengguna
lahan juga meningkat, dari 52,7 persen (1993) menjadi 56,5 persen (2003).
Petani gurem ini mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan. Dari 16,6persen rakyat Indonesia yang
termasuk kelompok miskin, 60persen-nya adalah kalangan petani gurem. Timbul pertanyaan, jika
sektor pertanian sangat penting, mengapa petaninya “dibiarkan” tidak berdaya? Hal tersebut
tentunya tidak terlepas dari kebijakan nasional dalam mengembangkan sektor pertanian (politik
pertanian).

Selama ini, logika pembangunan pertanian di Indonesia merupakan bagian integral dari
pembangunan ekonomi nasional, di mana pertumbuhan ekonomi menjadi orientasi utama.
Konsekuensinya, variabel kelembagaan masyarakat yang bersifat struktural di pedesaan kurang
diperhatikan dalam menentukan kebijakan ekonomi pertanian.

Sektor agribisnis mempunyai peranan penting didalam pembangunan. Ada lima peran penting dari
sektor pertanian dalam kontribusi pembangunan ekonomi antara lain meningkatkan produksi pangan
untuk konsumsi domestik, penyedia tenaga kerja terbesar, memperbesar pasar untuk industri,
meningkatkan supply uang tabungan dan meningkatkan devisa. Sampai saat ini, peranan sektor
pertanian di Indonesia begitu besar dalam mendukung pemenuhan pangan dan memberikan
lapangan kerja bagi rumah tangga petani. Tahun 2003, sektor pertanian mampu memperkerjakan
sebanyak 42 juta orang atau 46,26 persen dari penduduk yang bekerja secara keseluruhan.

Sektor agribisnis mempunyai peranan penting didalam pembangunan. Ada lima peran penting dari
sektor pertanian dalam kontribusi pembangunan ekonomi antara lain meningkatkan produksi pangan
untuk konsumsi domestik, penyedia tenaga kerja terbesar, memperbesar pasar untuk industri,
meningkatkan supply uang tabungan dan meningkatkan devisa. Sampai saat ini, peranan sektor
pertanian di Indonesia begitu besar dalam mendukung pemenuhan pangan dan memberikan
lapangan kerja bagi rumah tangga petani. Tahun 2003, sektor pertanian mampu memperkerjakan
sebanyak 42 juta orang atau 46,26 persen dari penduduk yang bekerja secara keseluruhan.

Pertanian sangat berperan dalam pembangunan suatu daerah dan perekonomian dengan, pertanian
harapannya mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk, sebagai sumber pendapatan,
sebagai sarana untuk berusaha, serta sebagai sarana untuk dapat merubah nasib ke arah yang lebih
baik lagi. Peranan pertanian/agribisnis tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan ekonomi
petani dengan cara pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan nasional.
Peranan tersebut antara lain: meningkatkan penerimaan devisa negara, penyediaan lapangan kerja,
perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku
industri dalam negeri serta optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini
ditunjukkan oleh besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
terutama pada masa kirisis ekonomi yang dialami Indonesia, satu-satunya sektor yang menjadi
penyelamat perekonomian Indonesia pada tahun 1997-1998 hanyalah sektor agribisnis, dimana
agribisnis memiliki pertumbuhan yang positif.

Dalam jangka panjang, pengembangan lapangan usaha pertanian difokuskan pada produk-produk
olahan hasil pertanian yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, seperti
pengembangan agroindustri. Salah satu lapangan usaha pertanian yang berorientasi ekspor dan
mampu memberikan nilai tambah adalah sektor perekebunan. Nilai PDB sektor pertanian mengalami
pertumbuhan yang semakin membaik dari tahun ke tahun. Jika diperhatikan dengan baik, peranan
sektor pertanian masih dapat ditingkatkan sebagai upaya dalam peningkatan kesejahteraan
masyarakat tani di Indonesia.Secara empirik, keunggulan dan peranan pertanian/agribisnis tersebut
cukup jelas, yang pertama dilihat hádala peranan penting agribisnis (dalam bentuk sumbangan atau
pangsa realtif terhadap nilai tambah industri non-migas dan ekspor non-migas), yang cukup tinggi.
Penting pula diperhatikan bahwa pangsa impor agribisnis relatif rendah, yang mana ini berarti bahwa
agribisnis dari sisi ekonomi dan neraca ekonomi kurang membebani neraca perdagangan dan
pembayaran luar negeri. Sehingga dengan demikian sektor agribisnis merupakan sumber cadangan
devisa bagi negara. Diharapkan sektor pertanian mampu menjadi sumber pertumbuhan
perekonomian status bangsa, terutama negara-negara berkembang yang perekonomiannya masih
60persen bertumpu pada sektor pertanian.

Disisi lain, dilihat ternyata pembangunan agribisnis mampu menunjukkan peningkatan produktivitas
di sektor pertanian, hal ini menunjukkan dua hal yakni, bahwa terjadi peningkatan productivitas pada
hasil produk pertanian yang diikuti oleh perbaikan koalitas, perbaikan teknologi yang mengikutinya
dan peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian, seperti yang ditunjukkan pada awal-awal
bab ini.

Pada dasarnya tidak perlu diragukan lagi, bahwa pembangunan ekonomi yang berbasiskan lepada
sektor pertanian (agribisnis), karena telah memberikan bukti dan dan peranan yang cukup besar
dalam pembangunan perekonomian bangsa, dan tentunya lebih dari itu.

Pembangunan pertanian dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional berarti menjadikan


perekonomian daerah sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Sebagai agregasi dari
ekonomi daerah, perekonomian nasional yang tangguh hanya mungkin diwujudkan melalui
perekonomian yang kokoh. Rapuhnya perekonomian nasional selama ini disatu sisi dan tingginya
disparitas ekonomi antar daerah dan golongan disisi lain mencerminkan bahwa perekonomian
nasional Indonesia dimasa lalu tidak berakar kuat pada ekonomi daerah.

Pembangunan ekonomi lokal yang berbasis pada pertanian merupakan sebuah proses
orientasi, yang meletakkan formasi institusi baru, pengembangan industri alternatif,
peningkatan kapasitas pelaku untuk menghasilkan produk yang lebih baik, identifikasi
pasar baru, transfer ilmu pengetahuan, dan menstimulasi bangkitnya perusahaan baru
serta semangat kewirausahaan.
Diharapkan dalam pembangunan ekonomi lokal, kegiatan pertanian dalam perkembangannya akan
berorientasi pada pasar (konsumen) apabila terjadi penyebaran sumberdaya dan faktor produksi
yang merata serta adanya biaya transportasi yang relatif murah. Orientasi pasar ini akan
menunjukkan bahwa setiap lokasi dapat menghasilkan komoditi pertanian tertentu. Suatu kegiatan
pertanian akan lebih dapat berkembang pada lokasi tertentu yang disebabkan oleh adanya
kemudahaan bagi konsumen yang berasal dari dalam atau dari luar lokasi untuk datang ke lokasi
pemasaran komoditi pertanian tersebut.

Kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian di suatu negara tentunya tidak lepas dari pengaruh
faktor-faktor eksternal, apalagi dalam era globalisasi yang di cirikan adanya keterbukaan ekonomi dan
perdagangan yang lebih bebas, akan sulit ditemukan adanya kebijaksanaan nasional pembangunan
pertanian yang steril dari pengaruh-pengaruh factor eksternal. Faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian di Indonesia antara lain adalah; (i)
kesepakatan-kesepakatan internasional, seperti WTO, APEC dan AFTA; (ii) kebijaksanaan perdagangan
komoditas pertanian di negara-negara mitra perdagangan indonesia; (iii) lembaga-lembaga
internasional yang memberikan bantuan kepada Indonesia terutama dalam masa krisis.

Dimasa lalu, ketika orientasi pembangunan pertanian terletak pada peningkatan produksi, yang
menjadi motor penggerak sektor agribisnis adalah usahatni. Artinya komoditi yang dihasilkan
usahatanilah yang menentukan perkembangan agribisnis hulu dan hilir. Hal ini sesuai pada masa lalu,
karena target kita masih bertujuan untuk mencapai tingkat produksi semaksimal mungkin. Selain itu,
konsumen juga belum menuntut pada atribut-atribut produk yang lebih rinci dan lengkap.

Dewasa ini dan dimasa yang akan datang, orientasi sektor telah berubah kepada orientasi pasar.
Dengan berangsungnya perubahan preferensi konsumen yang semakin menuntut atribut produk
yang lebih rinci dan lengkap, maka motor penggerak sektor agribisnis harus berubah dari usaha tani
kepada industri pengolahan (agroindustri). Artinya, untuk mengembangkan sektor agribisnis yang
mogern dan berdaya saing, agroindustri menjadi penentu kegiatan pada subsistem usahatani dan
selanjutnya akan menetukan subsistem agribisnis hulu.

Pembangunan sektor pertanian/agribisnis yang berorientasi pasar menyebabkan strategi pemasaran


menjadi sangat penting bahkan pemasaran ini semakin penting peranannya terutama menghadapi
masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahaan. Serta, untuk memampukan
sektor agribisnis menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, diperlukan pengembangan
sumberdaya agribisnis, khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi, serta pembangunan
kemampuan sumberdaya manusia (SDM) agribisnis sebagai aktor pengembangan sektor pertanian.

Disamping konsep pembangunan pertanian diatas, khususnya dinegara-negara berkembang, masih


banyak permasalahan yang dihadapi terutama sektor pertanian, terutama masalah kemiskinan,
rendahnya produktivitas, rendahnya SDM, masih lemahya posisi tawar petani, ketidakadaannya
kelembagaan yang mendukung usaha tani pelaku pertanian, dan masih kurangnya atau lemahnya
sistem pasar komoditi produk pertanian, dan kurang diserapnya hasil komodit dengan baik akibat
infrastruktur yang masih kurang memadai.

Permasalahan ini tentunya, menjadi kendala sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh pengambil
kebijakan. Sehingga dengan demikian diharapkan nantinya sektor pertanian mampu menjadi
penggerak perekonomian di pedesaan dan negara.

Pertanian/Agribisnis di Negara Maju

Fenomena mengapa suatu negara dapat memenangkan persaingan sedangkan negara lain tidak,
merupakan pertanyaan terus yang mengemuka sepanjang sejarah pembangunan dan perdagangan
internasional. Banyak pendapat yang diajukan oleh pakar terutama dalam bidang ekonomi dan bisnis
internasional, tetapi tidak satupun yang mampu menjelaskan kemampuan daya saing suatu negara
secara komprehensif,

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, bahkan Malaysia dan Thailand yang
secara tradisional menguasai agribisnis internasional, dimasa yang akan datang akan menguasai
sektor agroindustri, walaupun disatu sisi akan menghadapi permasalahan yakni kesulitan untuk
mengembangkan agribisnis, karena kesulitan dalam hal lahan pertanian. Berbeda dengan masa
sebelumnya, dewasa ini dan masa yang akan datang, preferensi konsumen produk agribisnis yang
kita hadapi sangat berbeda dan sedang mengalami perubahaan secara fundamental.

Negara-negara maju, dari masa yang lalu sudah melihat bagaimana potensi pertanian dalam
perekonomian mereka. Keunggulan daya saing ditentukan oleh kemampuan mendayagunakan
keunggulan komparatif yang dimiliki mulai dari hulu sampai hilir, dalam menghasilkan suatu produk
yang sesuai dengan preferensi konsumen. Artinya, pendayagunaan keunggulan sisi penawaran
ditujukan untuk memenuhi keinginan konsumen. Kemampuan untuk menyediakan produk yang
berkembang, sangat menentukan keunggulan bersaing di pasar internasional. Negara-negara
agribisnis, seperti Australia dan selandia Baru, mampu bersaing di pasar interansional disebabkan
kemampuan negara tersebut dalam menjual apa yang diinginkan konsumen bukan menjual apa yang
dihasilkan.

Sejarah perekonomian dunia sebenarnya telah memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa tidak
ada negara besar di dunia ini yang kuat tanpa di dukung oleh pertanian yang tangguh. Kenyataaan
menunjukkan bahwasanya negara-negara di Eropa Timur dan Uni Soviet pada akhirya harus
menerima terjadinya disintegrasi karena lemahnya daya dukung sektor pertanian, negara-negara di
kawasan afrika juga mengalami kesulitan dalam membangun bangsanya, hanya karena sektor
pertanian tidak dapat mendukung ketahanan pangan sebagai landasan pembangunan.

Bagi Indonesia, dimana sumberdaya alam merupakan keunggulan komparatifnya, maka sudah
sepantasnya jika pembangunan nasional didasarkan pada pengelolaan sumberdaya alam tersebut.
Pertanian merupakan salah satu sumberdaya alam dimana Indonesia mempunyai keunggulan
komparatif, disamping itu bagian terbesar penduduk Indonesia juga hidup dan bermata pencaharian
di sektor tersebut, fenomena kemiskinan juga banyak terjadi di sektor pertanian. Dengan demikian
apabila sektor pertanian dijadikan landasan bagi pembangunan nasional dimana sektor-sektor lain
menunjang sepenuhnya, sebagian besar masalah yang dihadapi oleh masyarakat akan dapat
terpecahkan.

Disamping itu orientasi pembangunan pertanian juga perlu disesuaikan dengan perkembangan yang
terjadi, apabila pada waktu yang lalu lebih banyak berorientsai pada pengembangan komoditas,
maka kini harus lebih berorientasi pada petani. Namun demikian harus sepenuhnyadi sadari bahwa
dalam menyusun kebijaksanaan pembangunan pertanian hanya memperhatikan potensi sumberdaya
alam dan kepentingan produsen semata-mata, melainkan juga pengaruh dari perdagangan dunia dan
kebijaksanaan pembangunan pertanian di negara mitra dagang.

Pandangan dari Partai Politik juga tidak jauh berbeda dengan pandangan dari pemerintah maupun
para pengamat ekonomi, Imam Churmen (1999) dari PKB menyatakan bahwa diperlukan komitmen
dari semua pihak untuk menempatkan sektor pertanian sebagai sektor prioritas pembangunan yang
dicerminkan dalam anggaran pemerintah.

Sebagai contoh kasus bagaimana pembangunan pertanian dan kebijakannya di Negara Maju, dapat
kita perhatikan dalam negara Amerika serikat berikut. Sejak tahun 2002, pemerintah AS memberikan
subsidi sebesar US $ 19 milliar per tahun kepada petaninya, atau sekitar dua kali dari dana yang
dicadangkan untuk bantuan interansionalnya. Dalam hal beras, misalnya AS telah mencadangkan
sekitar US$ 100 ribu subsidi per petani yang diberikan kepada siapapun yang mau mengganti
tanamannya dengan padi. Negara bagian di pantai barat seperti California dan Washington, dan
negara bagian di tenggara seperti Lousiana, South dan North Carolina memang sedang antusias
mengembangkan agribisnis padi sawah. Target besar untuk menjadi produsen nomor dua beras
dunia, dapat menjadi kenyataan, terutama ketika perundingan dan persaingan tingkat dunia dengan
negara-negara Eropa Barat dalam hal gandum sering mengalami kendala besar. Wallahu’alam!.

http://feryanto.wk.staff.ipb.ac.id/2010/05/20/peranan-agribisnis-dalam-pembangunan-pertanian-
dan-ekonomi/

https://danielfery18.wordpress.com/pertanian/agribisnis/peran-agribisnis-dalam-pembangunan-
pertanian-dan-perekonomian/

3.1 Peranan dan Kedudukan Agribisnis dalam Ketersediaan Ketahanan Pangan

Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia sehingga pemenuhannya


menjadi salah satu hak asasi yang harus dipenuhi secara bersama-sama oleh negara dan
masyarakatnya. Pemerintah Indonesia selalu berupaya untuk mencapai kemakmuran rakyat
indonesia, salah satunya adalah meningkatkan ketahanan pangan nasional. Pangan
merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh setiap manusia