Anda di halaman 1dari 20

NILAI DAN NORMA DALAM KEPERAWATAN DAN HAK-HAK PASIEN

22.06 Keperawatan Profesional No comments


Nilai secara singkat diartikan sebagai sesuatu yang baik, sesuatu yang kita iyakan.
Nilai merupakan hak-hak manusia dan pertimbangan etis yang mengatur perilaku seseorang.
Nilai merupakan milik setiap pribadi yang mengatur langkah-langkah yang seharusnya
dilakukan karena merupakan cetusan hati nurani yang dalam dan diperoleh sejak kecil. Nilai
adalah sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang sedemikian rupa oleh seseorang
sesuai dengan tuntutan hati nuraninya.
Nilai memiliki ciri-ciri :

 Berkaitan dengan subyek.


 Membentuk dasar perilaku seseorang.
 Dipelajari sejak kecil oleh anak-anak di rumah.

Fungsi nilai :

 Nilai berfungsi sebagai filter untuk berbagai pengalaman dan hubungan yang dialami
manusia dalam suatu hari tertentu.
 Fungsi filter dalam nilai membantu seseorang untuk membuat banyak keputusan yang
penting dan memberikan rasa percaya diri pada seseorang dalam berhubungan dengan
orang lain.
 Nilai dapat dipelajari melalui observasi, petimbangan dan pengalaman (Hamilton, 1992)

Nilai Dalam Keperawatan Profesional

 Nilai Perawatan
 Nilai perawat yang paling fundamental adalah perawatan (pemberian asuhan
keperawatan).
 Nilai advokasi
 Mendukung, menjunjung, dan berbicara bagi nilai yang dianut orang lain disebut
advokasi.

Nilai dan Perilaku Keperawatan Essensial

 Altruism
 Peduli dengan kesejahteraan orang lain.
 Persamaan
 Memiliki hak, kepentingan atau status yang sama.
 Estetika
 Kualitas objek, peristiwa, dan orang yang memberikan kepuasan.
 Kebebasan
 Kapasitas untuk menerapkan pilihan.
 Martabat Manusia
 Mewarisi derajat dan keunikan sebagai seorang individu.
 Keadilan
 Menjunjung moral dan prinsip legal.
 Kebenaran
 Jujur pada fakta dan realitas.
Untuk praktek perawat profesional, diperlukan nilai-nilai yang sesuai dengan kode etik
profesi, antara lain dengan :

 Menghargai martabat individu tanpa prasangka


 Melindungi seseorang dalam hal privasi
 Bertanggung jawab atas segala tindakannya

Seorang perawat yang menghargai hak privasi pasien akan menerapkan kepada pasien
hal-hal sebagai berikut :

 Menutup area untuk mandi dan pengobatan


 Menutup pasien untuk prosedur tertentu
 Menyediakan tempat konsultasi bagi pasien dengan pemuka agama atau anggota keluarga
yang bersedih.

Nilai – nilai yang sangat diperlukan oleh perawat :

 Kejujuran
 Lemah lembut
 Ketepatan setiap tindakan
 Menghargai orang lain

Falsafah seseorang untuk mengintegrasikan nilai-nilai adalah spiritual, profesional,


sosial dan estetika yang dapat menghasilkan suatu kode atau peraturan. Menghargai privasi
adalah dasar nilai etis untuk keperawatan. Mahasiswa keperawatan belajar dengan cara
membiasakan diri “menjadi sensitif terhadap perasaan – perasaan pasien dan memahami
kebutuhannya”.

Nilai Moral
Nilai moral biasanya menumpang pada nilai-nilai yang lain, namun ia tampak sebagai
suatu nilai baru dan merupakan nilai yang paling tinggi.
Nilai moral mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :Berkaitan dengan tanggung jawab
kita. Nilai moral berkaitan dengan pribadi kita. Yang khusus menandai nilai moral adalah
bahwa nilai ini berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab.
Nilai-nilai moral mewajibkan kita secara absolut dan dengan tidak bisa ditawar-tawar.
Contohnya : nilai estetis, dia tidak bermakna absolut dan bisa ditawar-tawar, contohnya
sebuah lukisan, bisa memiliki nilai estetis bagi seorang seniman atau penggemar lukisan tapi
tidak memiliki arti apapun bagi seseorang yang tidak memiliki jiwa seni. Berbeda dengan
nilai moral, nilai-nilai moral harus diakui dan harus direalisasikan. Tidak bisa diterima bila
seseorang bersikap acuh tak acuh terhadap nilai moral.
Bersifat formal
Bahwa nilai-nilai moral berjalan berdampingan dengan nilai-nilai yang lain. Nilai-nilai moral
tidak memiliki isi yang terpisah dari nilai-nilai yang lain, tidak ada nilai moral yang murni
terlepas dari nilai-nilai yang lain.

KLARIFIKASI NILAI
Klarifikasi nilai menyebutkan bahwa tidak ada seperangkat nilai yang benar untuk
setiap orang. Proses klarifikasi nilai lebih memperhatikan proses penilaian, bukan
berdasarkan hasil penilaiannya. Proses penilaian mencakup tujuh proses yang
ditempatkan dalam 3 kelompok :
 Menghargai
 Menjunjung dan menghargai keyakinan dan perilaku seseorang
 Menegaskannya di depan umum bila diperlukan
 Memilih
 Memilih dari berbagai alternative
 Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensinya
 Memilih secara bebas
 Bertindak
 Bertindak sesuai pola, konsistensi dan repetisi (mengulang yang telah disepakati)

NORMA Norma adalah suatu tolok ukur untuk menilai sesuatu.


Norma terbagi menjadi dua :
Norma umum, menyangkut tingkah laku manusia sebagai keseluruhan. Norma umum
terbagi menjadi tiga :

 Norma kesopanan atau etiket, hanya menjadi tolok ukur untuk menentukan apakah yang
kita lakukan itu sopan atau tidak.
 Norma hukum
 Norma moral, norma moral bisa bersifat positif atau negatif. Positif tampak sebagai
perintah yang harus dilakukan, sedangkan negatif tampak sebagai sebuah larangan untuk
melakukan sesuatu.
 Norma khusus, menyangkut aspek tertentu dari apa yang dilakykan oleh manusia.
Contohnya norma bahasa.

HAK-HAK PASIEN
Ada beberapa hak dan kewajiban pasien yang tercantum dalam UU No. 29/2004
tentang praktik kedokteran. Hak-hak pasien telah dijamin dalam pasal 4 Undang-Undang
Nomor 23 tahun 1992 tanggal 17 September 1992 tentang kesehatan, yang isinya : “setiap
orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal”.

Hak-hak pasien :

 Hak mendapat pelayanan yang manusiawi sesuai dengan standar profesi kedokteran.
 Hak atas informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya dan tindakan medis yang
akan dilakukan terhadap dirinya.
 Hak memilih dokter yang merawat dirinya.
 Hak memilih sarana kesehatan.
 Hak atas rahasia yang berkaitan dengan penyakit yang diderita.
 Hak menolak tindakan medis tertentu atas dirinya.
 Hak untuk menghentikan pengobatan.
 Hak untuk mencari second opinion (pendapat lain)
 Hak atas rekam medis.
 Hak untuk didampingi anggota keluarga dalam keadaan krits.
 Memeriksa dan menerima penjelasan pembayaran
Hak berkaitan dengan manusia yang bebas, terlepas dari segala ikatan dengan hukum
obyektif. Hak merupakan pengakuan yang dibuat oleh orang atau sekelompok orang terhadap
orang atau sekelompok orang lain. Ada beberapa macam hak, contohnya hak legal dan hak
moral. Hak legal merupakan hak yang didasarkan atas hukum. Hak moral adalah didasarkan
pada prinsip atau etis. Setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain dan setiap
hak seseorang berkaitan dengan kewajiban orang lain untuk memenuhi hak tersebut. Menurut
Jonh Stuart Mill bahwa kewajiban meliputi kewajiban sempurna dan kewajiban tidak
sempurna. Kewajiban sempurna artinya kewajiban didasarkan atas keadilan, selalu terkait
dengan hak orang lain. Sedangkan kewajiban tidak sempurna, tidak terkait dengan hak orang
lain tetapi bisa didasarkan atas kemurahan hati atau niat berbuat baik. Bidan memandang care
atau asuhan sebagai dasar dan kewajiban moral. Hubungan bidan dan pasien merupakan
pusat pendekatan berdasarkan asuhan, dimana memberikan perhatian khusus kepada pasien.
Perspektif asuhan memberikan arah dengan cara bagaimana bidan dapat duduk bersama
dengan pasien atau sejawat, merupakan suatu kebahagiaan bila didasari oleh etika. Komitmen
utama pada asuhan kebidanan adalah bagaimana advokasi terhadap pasien dalam
memberikan asuhan.Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan
mendukung hak-hak pasien. Hala tersebut merupakan suatu kewajiban moral bidan. Bidan
dalam memberikan asuhan kebidanan dalam praktik kebidanan perlu mengingat hal-hal
sebagai berikut : 1. Loyalitas staf atau kolega adalah memegang teguh komitmen terutama
kepada pasien 2. Prioritas utama terhadap pasien dan keluarganya 3. Bidan peduli terhadap
otonomi pasien, bidan harus memberikan informasi yang akurat, menghormati dan
mendukung hak pasien dalam mengambil keputusan Agar profesi kebidanan dapat dihargai
oleh pasien, masyarakat, dan profesi lain, maka bidan harus menggunakan nilai-nilai
kebidanan yang kuat dalam menjalankan peran profesionalnya. Bidan bertanggungjawab
dapat melaksanakan asuhan kebidanan secara etis profesional. Sikap etis profesional berarti
bekerja sesuai dengan standar, melakukan advokasi, menjamin keselamatan pasien ,
menghormati terhadap hak-hak pasien. HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN Hak Pasien Hak
pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien : a. Pasien berhak
memperoleh informasi mengenai tata tertib dan Peraturan yang berlaku di Rumah Sakit atau
institusi pelayanan kesehatan. b. Paien berhak atas pelayanan yang manusiawi adil dan
makmur c. Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi bidan
tanpa diskriminasi. d. Pasien berhak memperoleh asuhan kebidanan sesuai dengan profesi
bidan tanpa diskriminasi e. Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya sesuai
dengan keinginannya. f. Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi kehamilan,
persalinan, nifas, dan bayinya yang baru dilahirkan. g. Pasien berhak mendapat
pendampingan suami selama proses persalinan berlangsung. h. Pasien berhak memilih dokter
dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di
Rumah Sakit. i. Pasien berhak dirawat oleh doktervyang secara bebas menentukan pendapat
kritis dan mendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar. j. Pasien berhak nmenerima
konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di Rumah Sakit tersebut (second opinion)
terhadap penyakit yang dideritanya, sepengetahuan dokter yang merawat. k. Pasien berhak
meminta atas “privacy”dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.
l. Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi : • Penyakit yang dideritanya • Tindakan
kebidanan yang akan dilakukan • Alternatif terapi lainnya • Prognosanya • Perkiraan biaya
pengobatan m. Pasien berhak menyetujui/ memberikan ijin atas tindakan yang akan dilakukan
oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya. n. Pasien berhak menolak
tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan
atas tanggungjawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tantang penyakitnya. o.
Pasien berhak didampingi keluarganyab dalammkeadaan kritis. p. Pasien berhak menjalankan
ibadah sesuai agama/ kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak menggangu pasien
lainnya. q. Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di
Rumah Sakit. r. Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan morilmaupun spiritual. s.
Pasien berhak mendapat perlindungan hukum atas terjadinya kasus mal praktik. Kewajiban
Pasien a. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tata
tertib Rumah Sakit atau institusi pelayana kesehatan. b. Pasien berkewajiban untuk mematuhi
segala instruksi dokter , bidan ,perawat yang merawatnya. c. Pasien dan atau penanggungnya
berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan Rumah Sakit atau institusi
pelayanan kesehatan, dokter, bidan , dan perawat. d. Pasien dan atau penanggungnya
berkewajiban memenuhi hal-hal yang selalu disepakati/ perjanjian yang telah dibuatnya. Hak
Bidan 1. Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan profesinya. 2. Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap
jenjang/tingkat pelayanan kesehatan. 3. Bidan berhak menolak keinginan pasien / klien dan
keluarga yang bertentangan dengan peraturan perundangan , dan kode etik profesi. 4. Bidan
berhak atas privasi/ kedirian dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan baik oleh
pasien, keluarga maupun profesi lainnya. 5. Bidan berhak atas kesempatan untuk
meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan. 6. Bidan berhak atas
kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai. 7. Bidan berhak
mendapat kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai. Kewajiban Bidan 1. Bidan wajib
memenuhi peraturan Rumah Sakit sesuai dengan hubungan hukum antara bidan tersebut
dengan Rumah Sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia bekerja. 2. Bidan wajib
memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi dengan menghormati
hak-hak pasien. 3. Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang
mempunyai kemampuan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien. 4. Bidan wajib
memberi kesempatan kepada pasien untuk didampingi oleh suami atau keluarga. 5. Bidan
wajib memberi kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadah sesuai dengan
keyakinannya. 6. Bidan wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang
seorang pasien. 7. Bidan wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan yang
akan dilakukan serta risiko yang mungkin dapat timbul. 8. Bidan wajib meminta persetujuan
tertulis ( informed Consent)atas tindakan yang akan dilakukan. 9. Bidan wajib
mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan. 10. bidan wajib mengikuti
perkembangan iptek dan menambah ilmu pengetahuannya melalui pendidikan formal atau
non formal. 11. Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secara
timbal balik dalam memberikan asuhan kebidanan. Kode etik bidan a. Kewajiban bidan
terhadap klien dan masyarakat 1) Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya. 2) Setiap bidan
dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan
yang utuh dan memelihara citra bidan. 3) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya
senantiasa berpedoman pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien,
keluarga dan masyarakat. 4) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan
kepentingan klien, menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut oleh klien. 5) Setiap
bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, keluaraga
dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan
kemampuan yang dimilikinya. 6) Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi
dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk
meningkatkan derajart kesehatannya secara optimal. b. Kewajiban bidan terhadap tugasnya 1)
Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan
masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien,
keluarga dan masyarakat 2) Setiap bidan berkewajiaban memberikan pertolongan sesuai
dengan kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan/atau
rujukan 3) Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan/atau
dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan
dengan kepentingan klien c. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
1) Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan
suasana kerja yang serasi. 2) Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling
menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya. d. Kewajiban
bidan terhadap profesinya 1) Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi
citra profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan pelayanan
yang bermutu kepada masyarakat 2) Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan
meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. 3) Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan
sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya. e. Kewajiban bidan terhadap
diri sendiri 1) Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas
profesinya dengan baik 2) Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
sesuai dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi 3) Setiap bidan wajib
memelihara kepribadian dan penampilan diri. f. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa,
bangsa dan tanah air 1) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan
ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayananan
Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana dan Kesehatan Keluarga. 2) Setiap bidan melalui
profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikiran kepada pemerintah untuk
meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan
kesehatan keluarga Daftar Pustaka 1. http://www.sehatgroup.web.id 2. Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan 3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
369/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan 4. Heni Puji Wahyuningsih. Etika
Profesi Kebidanan
Kamis, 03 Oktober 2013

Prinsip-Prinsip Etika Keperawatan

PRINSIP-PRINSIP ETIKA KEPERAWATAN

Etika merupakan kata yang berasal dari Yunani, yaitu Ethos, yang menurut Araskar dan David
(1978) berarti kebiasaan atau model prilaku, atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu
untuk sesuatu tindakan, dapat diartikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pertimbangan
pembuatan keputusan, benar atau tidaknya suatu perbuatan. Dalam Oxford Advanced Learner’s
Dictionary of Curret English, AS Hornby mengartikan etika sebagai sistem dari prinsip-prinsip moral
atau aturan-aturan prilaku. Menurut definisi AARN (1996), etika berfokus pada yang seharusnya baik
salah atau benar, atau hal baik atau buruk. Sedangkan menurut Rowson, (1992).etik adalah Segala
sesuatu yang berhubungan/alasan tentang isu moral.

Moral adalah suatu kegiatan/prilaku yang mengarahkan manusia untuk memilih tindakan baik
dan buruk, dapat dikatakan etik merupakan kesadaran yang sistematis terhadap prilaku yang dapat
dipertanggung jawabkan (Degraf, 1988).Etika merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan
dengan keputusan moral menyangkut manusia (Spike lee, 1994). Menurut Webster’s “The discipline
dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation, ethics offers conceptual tools
to evaluate and guide moral decision making Beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
etika merupakan pengetahuan moral dan susila, falsafah hidup, kekuatan moral, sistem nilai,
kesepakatan, serta himpunan hal-hal yang diwajibkan, larangan untuk suatu kelompok/masyarakat
dan bukan merupakan hukum atau undang-undang. Dan hal ini menegaskan bahwa moral
merupakan bagian dari etik, dan etika merupakan ilmu tentang moral sedangkan moral satu
kesatuan nilai yang dipakai manusia sebagai dasar prilakunnya. Maka etika keperawatan (nursing
ethics) merupakan bentuk ekspresi bagaimana perawat seharusnya mengatur diri sendiri, dan etika
keperawatan diatur dalam kode etik keperawatan.

Konsep Moral dalam praktek keperawatan

Praktek keperawatan menurut Henderson dalam bukunya tentang teori keperawatan, yaitu
segala sesuatu yang dilakukan perawat dalam mengatasi masalah keperawatan dengan
menggunakan metode ilmiah, bila membicarakan praktek keperawatan tidak lepas dari fenomena
keperawatan dan hubungan pasien dan perawat.

Fenomena keperawatan merupakan penyimpangan/tidak terpenuhinya kebutuhan dasar


manusia (bio, psiko, social dan spiritual), mulai dari tingkat individu untuk sampai pada tingkat
masyarakat yang juga tercermin pada tingkat system organ fungsional sampai subseluler
(Henderson, 1978, lih, Ann Mariner, 2003). Asuhan keperawatan merupakan bentuk dari praktek
keperawatan, dimana asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan praktek
keperawatan yang diberikan pada pasein dengan menggunakan proses keperawatan berpedoman
pada standar keperawatan, dilandasi etika dan etiket keperawatan(Kozier, 1991). Asuhan
keperawatan ditujukan untuk memandirikan pasien, (Orem, 1956,lih, Ann Mariner, 2003).
Keperawatan merupakan Bentuk asuhan keperawatan kepada individu, keluarga dan masyarakat
berdasarkan ilmu dan seni dan menpunyai hubungan perawat dan pasien sebagai hubungan
professional (Kozier, 1991). Hubungan professional yang dimaksud adalah hubungan terapeutik
antara perawat pasien yang dilandasi oleh rasa percaya, empati, cinta, otonomi, dan didahulu
adanya kontrak yang jelas dengan tujuan membantu pasien dalam proses penyembuhan dari
sakit(Kozier,1991).

KONSEP ETIK

Perawat harus mempunyai kemampuan yang baik untuk pasien maupun dirinya didalam
menghadapi masalah yang menyangkut etika. Seseorang harus berpikir secara rasional, bukan
emosional dalam membuat keputusan etis. Keputusan tersebut membutuhkan ketrampilan berpikir
secara sadar yang diperlukan untuk menyelamatkan keputusan pasien dan memberikan asuhan.

Teori dasar/prinsip-prinsip etika merupakan penuntun untuk membuat keputusan etis praktik
profesional. Teori-teori etik digunakan dalam pembuatan keputusan bila terjadi konflik antara
prinsip-prinsip dan aturan-aturan. Para ahli falsafah moral telah mengemukakan beberapa teori etik,
yang secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi teori teleologi dan deontologi.

1.Teleologi.

Teleologi berasal dari bahasa Yunani telos yang berarti akhir. Pendekatan ini sering disebut dengan
ungkapan the end fustifies the means atau makna dari suatu tindakan ditentukan oleh hasil akhir
yang terjadi. Teori ini menekankan pada pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan
ketidakbaikan sekecil mungkin bagi manusia.Contoh penerapan teori ini misalnya bayi-bayi yang
lahir cacat lebih baik diizinkan meninggal daripada nantinya menjadi beban di masyarakat.

2.Deontologi.

Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti tugas. Teori ini berprinsip pada aksi atau
tindakan. Contoh penerapan deontologi adalah seorang perawat yang yakin bahwa pasien harus
diberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, walaupun kenyataan tersebut sangat menyakitkan.
Contoh lain misalnya seorang perawat menolak membantu pelaksanaan abortus karena keyakinan
agamanya yang melarang tindakan membunuh.

Penerapan teori ini perawat tidak menggunakan pertimbangan, misalnya seperti tindakan abortus
dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu, karena setiap tindakan yang mengakhiri hidup (dalam
hal ini calon bayi) merupakan tindakan yang secara moral buruk. Prinsip etika keperawatan meliputi
kemurahan hati (beneficence).Inti dari prinsip kemurahan hati adalah tanggung jawab untuk
melakukan kebaikan yang menguntungkan pasien dan menghindari perbuatan yang merugikan atau
membahayakan pasien.

3.keadilan (justice)

Prinsip keadilan ini menyatakan bahwa mereka yang sederajat harus diperlakukan sederajat,
sedangkan yang tidak sederajat harus diperlakukan tidak sederajat sesuai dengan kebutuhan
mereka. Ini berarti bahwa kebutuhan kesehatan dari mereka yang sederajat harus menerima sumber
pelayanan kesehatan dalam jumlah sebanding. Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan
yang besar, maka menurut prinsip ini ia harus mendapatkan sumber kesehatan yang besar
pula.Keadilan berbicara tentang kejujuran dan pendistribusian barang dan jasa secara merata. Fokus
hukum adalah perlindungan masyarakat, sedangkan fokus hukum kesehatan adalah perlindungan
konsumen.

4.otonomi

Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan menentukan tindakan
atau keputusan berdasarkan rencana yang mereka pilih. Permasalaan yang muncul dari penerapan
prinsip ini adalah adanya variasi kemampuan otonomi pasien yang dipengaruhi oleh banyak hal,
seperti tingkat kesadaran, usia, penyakit, lingkungan rumah sakit, ekonomi, tersedianya informasi
dll.

5.kejujuran (veracity)

Prinsip kejujuran menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak bohong. Kejujuran harus dimiliki
perawat saat berhubungan dengan pasien. Kejujuran merupakan dasar terbinanya hubungan saling
percaya antara perawat dan pasien. Perawat sering kali tidak memberitahukan kejadian sebenarnya
kepada pasien yang sakit parah. Kejujuran berarti perawat tidak boleh membocorkan informasi yang
diperoleh dari pasien dalam kapasitasnya sebagai seorang profesional tanpa persetujuan pasien.
Kecuali jika pasien merupakan korban atau subjek dari tindak kejahatan, maka perbuatan tersebut
dapat diajukan ke depan pengadilan dimana perawat menjadi seorang saksi.

6.ketaatan (fidelity)

Prinsip ketaatan merupakan tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan. Tanggung
jawab dalam konteks hubungan perawat-pasien meliputi tanggung jawab menjaga janji,
mempertahankan konfidensi dan memberikan perhatian/kepedulian. Peduli pada pasien merupakan
salah satu aspek dari prinsip ketaatan. Peduli kepada pasien merupakan komponen paling penting
dari praktik keperawatan, terutama pada pasien dalam kondisi terminal.

Prinsip – Prinsip Etik Keperawatan

Prinsip bahwa etika adalah menghargai hak dan martabat manusia, tidak akan pernah berubah.
Prinsip ini juga diterapkan baik dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan. Juga dalam hak-haknya
memperoleh pelayanan kesehatan. Ketika mengambil keputusan klinis, perawat seringkali
mengandalkan pertimbangan mereka dengan menggunakan kedua konsekuensi dan prinsip dan
kewajiban moral yang universal. Hal yang paling fundamental dari prinsip ini adalah penghargaan
atas sesama.Empat prinsip dasar lainnya bermula dari prinsip dasar ini yang menghargai otonomi
kedermawanan maleficience dan keadilan

Macam-macam Prinsip etika keperawatan

Prinsip-prinsip etika keperawatan terdiri dari:


 Autonomy (Otonomi )
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan memutuskan.
Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat keputusan sendiri, memilih dan
memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang dihargai. Prinsip otonomi ini adalah bentuk respek
terhadap seseorang, juga dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara
rasional.Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan
diri. Praktek profesioanal merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak hak pasien dalam
membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
 Beneficience (Berbuat Baik)
Benefisiensi berarti hanya mengerjakan sesuatu yang baik. Kebaikan juga memerlukan pencegahan
dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan
oleh diri dan orang lain. Kadang-kadang dalam situasi pelayanan kesehatan kebaikan menjadi konflik
dengan otonomi.
 Justice (Keadilan)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung
prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan . Nilai ini direfleksikan dalam praktek profesional ketika
perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar
untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan .
 Non Maleficience (tidak merugiakan)
Prinsip ini berarti segala tindakan yang dilakukan pada klien tidak menimbulkan bahaya / cedera
secara fisik dan psikologik.
 Veracity (kejujuran)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi layanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap pasien dan untuk meyakinkan bahwa pasien
sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan
kebenaran.
 Fidelity (loyalty/ketaatan)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang lain.
Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia pasien. Ketaatan,
kesetiaan adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya.
Kesetiaan itu menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa
tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit,
memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
 Confidentiality (kerahasiaan)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan ini adalah bahwa informasi tentang klien harus dijaga privasi-nya.
Apa yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka
pengobatan klien. Tak ada satu orangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijin
kan oleh klien dengan bukti persetujuannya. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaikannya pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus
dicegah.
 Akuntabilitas (accountability)
Prinsip ini berhubungan erat dengan fidelity yang berarti bahwa tanggung jawab pasti pada setiap
tindakan dan dapat digunakan untuk menilai orang lain. Akuntabilitas merupakan standar pasti yang
mana tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa
terkecuali.
 Moral Right
a. Advokasi
Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung hak – hak pasien. Hal
tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat dalam mempraktekan keperawatan
profesional
b. Responsibilitas ( tanggung jawab )
Eksekusi terhadap tugas – tugas yang berhubungan dengan peran tertentu dari perawat. Misalnya
pada saat memberikan obat, perawat bertanggung jawab untuk mengkaji kebutuhan klien dengan
memberikannya dengan aman dan benar.
c. Loyalitas
Suatu konsep yang melewati simpati, peduli, dan hubungan timbal balik terhadap pihak yang secara
profesional berhubungan dengan perawat.
 Nilai ( Value )
Keyakinan(beliefs) mengenai arti dari suatu ide, sikap, objek, perilaku, dll yang menjadi standar dan
mempengaruhi prilaku seseorang.
Nilai menggambarkan cita-cita dan harapan- harapan ideal dalam praktik keperawatan
Nilai dalah sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang sedemikian rupa oleh seseorang.
Nilai yang sangat diperlukan bagi perawat adalah :
1. kejujuran
2. Lemah Lembut
3. Ketepatan
4. Menghargai Orang lain

SIKAP MELINDUNGI PASIEN (ADVOCACY)

Sikap melindungi pasien (advocacy) mempunyai pemahaman kemampuan seseorang (perawat)


untuk memberikan suatu pernyataan/pembelaan untuk kepentingan pasien. Advocacy merupakan
kamampuan untuk bisa melakukan suatu kegiatan ataupun berbicara untuk kepentingan orang lain
dengan tujuan memberikan perlindungan hak pada orang tersebut .

Advocacy sering digunakan dalam konteks hukum yang berkaitan dengan upaya melindungi hak-
hak manusia bagi mereka yang tidak mampu membela diri. Arti advocacy menurut Ikatan Perawat
Amerika/ANA (1985) adalah melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan
keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh
siapapun.

Perawat sebagai advokat pasien berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasien, membela kepentingan pasien dan
membantu pasien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim
kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun profesional. Peran advocacy sekaligus
mengharuskan perawat bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan
keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh pasien. Perawat juga harus
melindungi dan memfasilitasi keluarga/masyarakat dalam pelayanan keperawatan
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBUATAN KEPUTUSAN ETIS

Kemampuan membuat keputusan masalah etis merupakan salah satu persyaratan bagi perawat
untuk menjalankan praktik keperawatan profesional. Dalam membuat keputusan etis, ada beberapa
unsur yang mempengaruhi seperti nilai dan kepercayaan pribadi, kode etik keperawatan, konsep
moral perawatan dan prinsip- prinsip etik.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap seseorang dalam membuat keputusan etis antara lain
faktor agama dan adat istiadat, sosial, ilmu pengetahuan/teknologi, legalisasi/keputusan juridis,
dana/keuangan, pekerjaan/posisi pasien maupun perawat, kode etik keperawatan dan hak-hak
pasien.

1. Faktor agama dan adat istiadat.


Agama serta latar belakang adat-istiadat merupakan faktor utama dalam membuat keputusan etis.
Setiap perawat disarankan untuk memahami nilai-nilai yang diyakini maupun kaidah agama yang
dianutnya. Untuk memahami ini memang diperlukan proses. Semakin tua dan semakin banyak
pengalaman belajar, seseorang akan lebih mengenal siapa dirinya dan nilai-nilai yang dimilikinya.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni oleh penduduk dengan berbagai
agama/kepercayaan dan adat istiadat. Setiap penduduk yang menjadi warga negara Indonesia harus
beragama/berkeyakinan. Ini sesuai dengan sila pertama Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa,
dimana di Indonesia menjadikan aspek ketuhanan sebagai dasar paling utama. Setiap warga negara
diberi kebebasan untuk memilih kepercayaan yang dianutnya.

1. Faktor sosial.
Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis. Faktor ini antara lain
meliputi perilaku sosial dan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum, dan peraturan
perundang-undangan.
Perkembangan sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap sistem kesehatan nasional. Pelayanan
kesehatan yang tadinya berorientasi pada program medis lambat laun menjadi pelayanan
komprehensif dengan pendekatan tim kesehatan.

2. Faktor ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Pada era abad 20 ini, manusia telah berhasil mencapai tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang belum dicapai manusia pada abad sebelumnya. Kemajuan yang telah dicapai meliputi
berbagai bidang.

Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang
usia manusia dengan ditemukannya berbagai mesin mekanik kesehatan, cara prosedur baru dan
bahan-bahan/obat-obatan baru. Misalnya pasien dengan gangguan ginjal dapat diperpanjang
usianya berkat adanya mesin hemodialisa. Ibu-ibu yang mengalami kesulitan hamil dapat diganti
dengan berbagai inseminasi. Kemajuan-kemajuan ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang
berhubungan dengan etika.

3. Faktor legislasi dan keputusan juridis.


Perubahan sosial dan legislasi secara konstan saling berkaitan. Setiap perubahan sosial atau legislasi
menyebabkan timbulnya tindakan yang merupakan reaksi perubahan tersebut. Legislasi merupakan
jaminan tindakan menurut hukum sehingga orang yang bertindak tidak sesuai hukum dapat
menimbulkan konflik.

Saat ini aspek legislasi dan bentuk keputusan juridis bagi permasalahan etika kesehatan sedang
menjadi topik yang banyak dibicarakan. Hukum kesehatan telah menjadi suatu bidang ilmu, dan
perundang-undangan baru banyak disusun untuk menyempurnakan perundang-undangan lama atau
untuk mengantisipasi perkembangan permasalahan hukum kesehatan.

4. Faktor dana/keuangan.

Dana/keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat menimbulkan konflik. Untuk
meningkatkan status kesehatan masyarakat, pemerintah telah banyak berupaya dengan
mengadakan berbagai program yang dibiayai pemerintah.

5. Faktor pekerjaan.

Perawat perlu mempertimbangkan posisi pekerjaannya dalam pembuatan suatu keputusan. Tidak
semua keputusan pribadi perawat dapat dilaksanakan, namun harus diselesaikan dengan
keputusan/aturan tempat ia bekerja. Perawat yang mengutamakan kepentingan pribadi sering
mendapat sorotan sebagai perawat pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia mendapatkan sanksi
administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.

6. Kode etik keperawatan.

Kelly (1987), dikutip oleh Robert Priharjo, menyatakan bahwa kode etik merupakan salah satu
ciri/persyaratan profesi yang memberikan arti penting dalam penentuan, pertahanan dan
peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggung jawab kepercayaan dari
masyarakat telah diterima oleh profesi.

Untuk dapat mengambil keputusan dan tindakan yang tepat terhadap masalah yang menyangkut
etika, perawat harus banyak berlatih mencoba menganalisis permasalahan-permasalahan etis.

7. Hak-hak pasien.

Hak-hak pasien pada dasarnya merupakan bagian dari konsep hak-hak manusia. Hak merupakan
suatu tuntutan rasional yang berasal dari interpretasi konsekuensi dan kepraktisan suatu situasi.

Pernyataan hak-hak pasien cenderung meliputi hak-hak warga negara, hak-hak hukum dan hak-hak
moral. Hak-hak pasien yang secara luas dikenal menurut Megan (1998) meliputi hak untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil dan berkualitas, hak untuk diberi informasi, hak untuk
dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan, hak untuk
diberi informed concent, hak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang menolong,
hak untuk mempunyai pendapat kedua(secand opini), hak untuk diperlakukan dengan hormat, hak
untuk konfidensialitas (termasuk privacy), hak untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legal
dan hak untuk mempertahankan dignitas (kemuliaan) termasuk menghadapi kematian dengan
bangga.
Prinsip-prinsip moral dalam praktek keperawatan Menghargai otonomi (facilitate autonomy)

Suatu bentuk hak individu dalam mengatur kegiatan/prilaku dan tujuan hidup individu.
Kebebasan dalam memilih atau menerima suatu tanggung jawab terhadap pilihannya
sendiri. Prinsip otonomi menegaskan bahwa seseorang mempunyai kemerdekaan untuk
menentukan keputusan dirinya menurut rencana pilihannya sendiri. Bagian dari apa yang
didiperlukan dalam ide terhadap respect terhadap seseorang, menurut prinsip ini adalah menerima
pilihan individu tanpa memperhatikan apakah pilihan seperti itu adalah kepentingannya. (Curtin,
2002). Permasalahan dari penerapan prinsip ini adalah adanya variasi kemampuan otonomi pasien
yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, usia, penyakit, lingkungan Rumah
SAkit, ekonomi, tersedianya informsi dan lain-lain (Priharjo, 1995). Contoh: Kebebasan pasien untuk
memilih pengobatan dan siapa yang berhak mengobatinya sesuai dengan yang diinginkan .

Kebebasan (freedom)

Prilaku tanpa tekanan dari luar, memutuskan sesuatu tanpa tekanan atau paksaan pihak lain
(Facione et all, 1991). Bahwa siapapun bebas menentukan pilihan yang menurut pandangannya
sesuatu yang terbaik.

Contoh : Klien mempunyai hak untuk menerima atau menolak asuhan keperawatan yang diberikan.

Kebenaran (Veracity) à truth

Melakukan kegiatan/tindakan sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang tidak bertentangan
(tepat, lengkap). Prinsip kejujuran menurut Veatch dan Fry (1987) didefinisikan sebagai menyatakan
hal yang sebenarnya dan tidak bohong. Suatu kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau
untuk tidak membohongi orang lain. Kebenaran merupakan hal yang fundamental dalam
membangun hubungan saling percaya dengan pasien. Perawat sering tidak memberitahukan
kejadian sebenarnya pada pasien yang memang sakit parah. Namun dari hasil penelitian pada
pasien dalam keadaan terminal menjelaskan bahwa pasien ingin diberitahu tentang kondisinya
secara jujur (Veatch, 1978).

Contoh : Tindakan pemasangan infus harus dilakukan sesuai dengan SOP yang berlaku dimana klien
dirawat.

Keadilan (Justice)

Hak setiap orang untuk diperlakukan sama (facione et all, 1991). Merupakan suatu prinsip moral
untuk berlaku adil bagi semua individu. Artinya individu mendapat tindakan yang sama mempunyai
kontribusi yang relative sama untuk kebaikan kehidupan seseorang. Prinsip dari keadilan menurut
beauchamp dan childress adalah mereka uang sederajat harus diperlakukan sederajat, sedangkan
yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai dengan kebutuhan mereka.

Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka menurut prinsip ini harus
mendapatkan sumber-sumber yang besar pula, sebagai contoh: Tindakan keperawatan yang
dilakukan seorang perawat baik dibangsal maupun di ruang VIP harus sama dan sesuai SAK

Tidak Membahayakan (Nonmaleficence)

Tindakan/ prilaku yang tidak menyebabkan kecelakaan atau membahayakan orang lain.(Aiken,
2003). Contoh : Bila ada klien dirawat dengan penurunan kesadaran, maka harus dipasang side driil.

Kemurahan Hati (Benefiecence)

Menyeimbangkan hal-hal yang menguntungkan dan merugikan/membahayakan dari tindakan


yang dilakukan. Melakukan hal-hal yang baik untuk orang lain. Merupakan prinsip untuk melakukan
yang baik dan tidak merugikan orang lain/pasien. Prinsip ini sering kali sulit diterapkan dalam
praktek keperawatan. Berbagai tindakan yang dilakukan sering memberikan dampak yang
merugikan pasien, serta tidak adanya kepastian yang jelas apakah perawat bertanggung jawab atas
semua cara yang menguntungkan pasien.Contoh: Setiap perawat harus dapat merawat dan
memperlakukan klien dengan baik dan benar.

Kesetiaan (fidelity)

Memenuhi kewajiban dan tugas dengan penuh kepercayaan dan tanggung jawab, memenuhi
janji-janji. Veatch dan Fry mendifinisikan sebagai tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu
kesepakatan. Tanggung jawab dalam konteks hubungan perawat-pasien meliputi tanggung jawab
menjaga janji, mempertahankan konfidensi dan memberikan perhatian/kepedulian. Peduli kepada
pasien merupakan salah satu dari prinsip ketataatan. Peduli pada pasien merupakan komponen
paling penting dari praktek keperawatan, terutama pada pasien dalam kondisi terminal (Fry, 1991).
Rasa kepedulian perawat diwujudkan dalam memberi asuhan keperawatan dengan pendekatan
individual, bersikap baik, memberikan kenyamanan dan menunjukan kemampuan profesional

Contoh: Bila perawat sudah berjanji untuk memberikan suatu tindakan, maka tidak boleh
mengingkari janji tersebut.

Kerahasiaan (Confidentiality)

Melindungi informasi yang bersifat pribadi, prinsip bahwwa perawat menghargai semua informsi
tentang pasien dan perawat menyadari bahwa pasien mempunyai hak istimewa dan semua yang
berhubungan dengan informasi pasien tidak untuk disebarluaskan secara tidak tepat (Aiken, 2003).
Contoh : Perawat tidak boleh menceritakan rahasia klien pada orang lain, kecuali seijin klien atau
seijin keluarga demi kepentingan hukum.

Hak (Right)

Berprilaku sesuai dengan perjanjian hukum, peraturan-peraturan dan moralitas, berhubungan


dengan hukum legal.(Webster’s, 1998). Contoh : Klien berhak untuk mengetahui informasi tentang
penyakit dan segala sesuatu yang perlu diketahuinya

Hak-hak perawat, menurut Claire dan Fagin (1975), bahwa perawat berhak:

1. Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya

2. Mengembangkan diri melalui kemampuan kompetensinya sesuai dengan latar pendidikannya

3. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan serta


standard an kode etik profesi

4. Mendapatkan informasi lengkap dari pasien atau keluaregannya tentang keluhan kesehatan dan
ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan

5. Mendapatkan ilmu pengetahuannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi


dalam bidang keperawatan/kesehatan secara terus menerus.

6. Diperlakukan secara adil dan jujur baik oleh institusi pelayanan maupun oleh pasien

7. Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang dapat menimbulkan bahaya baik
secara fisik maupun emosional

8. Diikutsertakan dalam penyusunan dan penetapan kebijaksanaan pelayanan kesehatan.

9. Privasi dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien dan atau keluargannya
serta tenaga kesehatan lainnya.

10. Menolak dipindahkan ke tempat tugas lain, baik melalui anjuran maupun pengumuman tertulis
karena diperlukan, untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar profesi atau kode
etik keperawatan atau aturan perundang-undangan lainnya.

11. Mendapatkan penghargaan dan imbalan yang layak atas jasa profesi yang diberikannya
berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang berlaku di institusi pelayanan yang bersangkutan

12. Memperoleh kesempatan mengembangkan karier sesuai dengan bidang profesinya.

Tanggung jawab/kewajiban perawat

Disamping beberapa hak perawat yang telah diuraikan diatas, dalam mencapai keseimbangan
hak perawat maka perawat juga harus mempunyai kewajibannya sebagai bentuk tanggung jawab
kepada penerima praktek keperawatan. (Claire dan Fagin, 1975l,dalam Fundamental of
nursing,Kozier 1991)

Kewajiban perawat, sebagai berikut:

1. Mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan

2. Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi dan batas
kemanfaatannya

3. Menghormati hak pasien

4. Merujuk pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai keahlihan atau
kemampuan yang lebih kompeten, bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya.

5. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berhubungan dengan keluarganya, selama tidak
bertentangan dengan peraturan atau standar profesi yang ada.

6. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing selama tidak mengganggu pasien yang lainnya.

7. Berkolaborasi dengan tenaga medis (dokter) atau tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan
pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada pasien

8. Memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien
dan atau keluargannya sesuai dengan batas kemampuaannya

9. Mendokumentasikan asuhan keperawatan secara akurat dan berkesinambungan

10. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dn tehnologi keperawatan atau kesehatan secara terus
menerus

11. Melakukan pelayanan darurat sebagai tugas kemanusiaan sesuai dengan batas kewenangannya

12. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, kesuali jika dimintai keterangan
oleh pihak yang berwenang.

13. Memenuhi hal-hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah dibuat sebelumnya terhadap
institusi tempat bekerja.

Hak-hak pasien

Disamping beberapa hak dan kewajiban perawat, perawat juga harus mengenal hak-hak pasien
sebagai obyek dalam praktek keperawatan. Sebagai hak dasar sebagai manusia maka penerima
asuhan keperawatan juga harus dilindungi hak-haknya, sesuai perkembangan dan tuntutan dalam
praktek keperawatan saat ini pasien juga lebih meminta untuk menentukan sendiri dan mengontrol
tubuh mereka sendiri bila sakit; persetujuan, kerahasiaan, dan hak pasien untuk menolak
pengobatan merupakan aspek dari penentuan diri sendiri. Hal-hal inilah yang perlu dihargai dan
diperhatikan oleh profesi keperawat dalam menjalankan kewajibannya.
Oleh karena itu sebagai perawat professional harus menganal hak-hak pasien, menurut Annas
dan Healy, 1974, hak-hak pasien adalah sebagai berikut:

1. Hak untuk kebenaran secara menyeluruh

2. Hak untuk mendapatkan privasi dan martabat yang mandiri

3. Hak untuk memelihara penentuan diri dalam berpartisipasi dalam keputusan sehubungan dengan
kesehatan seseorang.

4. Hak untuk memperoleh catatan medis, baik selama maupun sesudah dirawat di Rumah Sakit.

Sedangkan pernyataan hak pasien (Patient’s Bill of Right) yang diterbitkan oleh “The American
Hospital Association” 1973, meliputi beberapa hal, yang dimaksudkan memberikan upaya
peningkatan hak pasien yang dirawat dan dapat menjelaskan kepada pasien sebelum pasien
dirawat.

Adapun hak-hak pasien, adalah sebagai beriku, pasien mempunyai hak:

1.Mempertahankan dan mempertimbangkan serta mendapatkan asuhan keperawatan dengan penuh


perhatian

2.Memperoleh informasi terbaru, lengkap mengenai diagnosa, pengobatan dan program rehabilitasi
dari tim medis, dan informasi seharusnya dibuat untuk orang yang tepat mewakili pasien, karena
pasien mempunyai hak untuk mengetahui dari yang bertanggung jawab dan mengkoordinir asuhan
keperawatannya.

3.Menerima informasi penting untuk memberikan persetujuan sebelum memulai sesuatu prosedur
atau pengobatan kecuali dalam keadaan darurat, mencakup beberapa hal penting, yaitu; lamanya
ketidakmampuan, alternatif-alternatif tindakan lain dan siapa yang akan melakukan tindakan

4.Menolak pengobatan sejauh yang diijinkan hukum dan diinformasikan tentang kosekwensi dari
tindakan tersebut.

5.Setiap melakukan tindakan selalu mempertimbangkan privasinya termasuk asuhan keperawatan,


pengobatan, diskusi kasus, pemeriksaan dan tindakan, dan selalu dijaga kerahasiaannya dan
dilakukan dengan hati-hati, siapapun yang tidak terlibat langsung asuhan keperawatan dan
pengobatan pasien harus mendapatkan ijin dari pasien.

6.Mengharapkan bahwa semua komunikasi dan catatan mengenai asuhan keperawatan dan
pengobatannya harus diperlakukan secara rahasia.

7.Pasien mempunyai hak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain yang lebih lengkap dan
memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut, dan Rumah Sakit yang
ditunjuk dapat menerimannya.

8.Memperoleh informasi tentang hubungan Rumah Sakit dengan instansi lainnya, seperti pendidikan
dan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan asuhan yang diterimannya, Contoh: hubungan
individu yang merawatnya, nama perawat dan sebaginnya.
9.Diberikan penasehat/pendamping apabila Rumah Sakit mengajukan untuk terlibat atau berperan
dalam eksperimen manusiawi yang mempengaruhi asuhan atau pengobatannya. Pasien mempunyai
hak untuk menolak berpartisipasi dalam proyek riset/penelitian tersebut.

10. Mengharapkan asuhan berkelanjutan yang dapat diterima. Pasien mempunyai hak untuk
mengetahui lebih jauh waktu perjanjian dengan dokter yang ada. Pasien mempunyai hak untuk
mengharapkan Rumah Sakit menyediakan mekanisme sehingga ia mendapat informasi dari dokter
atau staff yang didelegasikan oleh dokter tentang kesehatan pasien selanjutnya.

11. Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya sebagai pasien

12. Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya.

Kode Etik Keperawatan Indonesia (PPNI,2000):

Tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga dan masyarakat.

Perawatan dalam melaksanakan pengabdian senantiasa berpedoman pada tanggungjawab yang


pangkal tolaknya bersumber pada adanya kebutuhan terhadap perawatan untuk individu, keluarga
dan masyarakat,Perawatan dalam melaksanakan pengabdian dalam bidang perawatan senantiasa
memelihara situasi lingkungan yang menghormati nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan
hidup beragama dari individu, keluarga dan masyarakat.Perawatan dalam melaksanakan
kewajibannya bagi individu dan masyarakat senantiasa dilandasi dengan rasa tulus ikhlas sesuai
dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.Perawatan senantiasa menjalin hubungan
kerjasama yang baik dengan individu dan masyarakat dalam mengambil prakarsa dan mengadakan
upaya kesehatan khususnya serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas
kewajiban pada kepentingan masyarakat.

Tanggung jawab perawat terhadap tugas.

Perawatan senantiasa memelihara mutu pelayanan perawatan yang tinggi disertai kejujuran
profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan perawatan sesuai dengan
kebutuhan individu dan atau klien, keluarga dan masyarakat.Perawat wajib merahasiakan segala
sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya.Perawatan tidak
akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan perawatan untuk tujuan yang bertentangan
dengan norma perawatan.Perawatan dalam menunaikan tugas dan kewajiban senantiasa berusaha
dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh dengan pertimbangan kebangsaan, kesukuan,
keagamaan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik serta kedudukan sosial.Perawat
senantiasa melakukan perlindungan dan keselamatan pasien dalam melaksanakan tugas
keperawatan serta matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih
tugaskan tangungjawab yang ada hubungan dengan perawatan.
Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya.

Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan dengan tenaga
kesehatan lain, baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja ataupun dalam
mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.Perawat senantiasa menyebarluaskan
pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya terhadap sesama perawat serta menerima
pengetahuan dan pengalaman dari profesi lain dalam rangka meningkatkan pengetahuan dalam
bidang perawatan.Tanggung jawab perawat terhadap profesi perawatan.Perawat senantiasa
meningkatkan pengetahuan kemampuan profesional secara sendiri atau bersama-sama dengan jalan
menambah ilmu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan
perawatan.Perawat selalu menjungjung tinggi nama baik profesi perawatan dengan menunjukkan
tingkahlaku dan kepribadian yang luhur.Perawat senatiasa berperan dalam penentuan pembakuan
pendidikan dan pelayanan perawatan serta menerapkan dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan
perawatan.Perawatan secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi
perawatan sebagai sarana pengabdian.

Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.

Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan sebagai kebijaksanaan yang digariskan oleh


pemerintah dalam bidang kesehatan dan perawatan.Perawatan senantiasa berperan aktif dalam
menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan
perawatan kepada masyarakat.