Anda di halaman 1dari 3

Rekayasa Genetika dan Permasalahan Etika, Legal, dan Sosial (ELSI) umum penggunaan tanaman transgenik secara massal

genik secara massal aman terhadap lingkungan


dan biosafety. Inggris telah melakukan evaluasi terhadap skala pertanian yang tepat
Produk dan teknologi rekayasa genetik dianggap merupakan sebuah solusi yang dengan melibatkan petani-petani lokal dan kelompok lainnya. Prancis dan Italia juga
memiliki prospek yang baik dalam menyelesaikan permasalahan pemenuhan telah banyak melakukan uji lapangan untuk keperluan komersialisasi produk hasil
kebutuhan manusia yang semakin meningkat, khususnya pada sektor agrikultur. tanaman transgenik. Negara-negara sedang berkembang seperti Brazil, Argentina,
Teknologi rekayasa genetik telah mampu menciptakan tanaman-tanaman transgenik Meksiko, dan Afrika Selatan juga mulai banyak melakukan uji-uji lapangan untuk
dengan sifat-sifat baru yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan memastikan keamanan penggunaan tanaman transgenik (Watanabe, et. al., 2005).
produksinya. Penerapan teknologi rekayasa genetik selain menimbulkan harapan di Meskipun cenderung aman, tanaman transgenik banyak ditentang oleh kelompok-
sisi lain juga menimbulkan pertentangan dan kontroversi di kalangan masyarakat, kelompok tertentu karena kurangnya komunikasi publik yang menimbulkan kesalahan
khususnya dalam masalah penggunaan organisme transgenik/Genetically Modified persepsi publik terhadap tanaman transgenik dan produknya. Hal ini tidak terlepas
Organism (GMO). Permasalahan yang timbul meliputi wilayah etik, legal, dan sosial. dari kecenderungan para peneliti yang kurang memberi perhatian terhadap implikasi
Permasalahan-permasalahan tersebut perlu dikaji lebih jauh agar teknologi rekayasa etik, legal, dan sosial (ELSI) terkait hasil penelitian dan pengembangannya. Karena itu
genetik dan produknya, yaitu GMO dapat dikembangkan lebih baik lagi untuk perlu kiranya dikaji persoalan ELSI terkait tanaman transgenik di masyarakat untuk
kepentingan bersama. menyatukan persepsi berbagai pihak.
Status Global Penelitian dan Pengembangan Tanaman Transgenik Implikasi Etik, Legal, dan Sosial (ELSI) Tanaman Transgenik
Penggunaan dan komersialisasi tanaman transgenik telah meningkat dengan Implikasi Aspek Etik
pesat belakangan ini. Lebih dari 15 negara yang telah menjadi negara yang Perdebatan mengenai aspek etik yang bersinggungan dengan pembuatan
memproduksi produk-produk hasil tanaman transgenik, yang secara jumlah dan total GMO didasari atas 2 aspek kepentingan, yaitu aspek intrinsik dan aspek ekstrinsik.
luas area semakin meningkat setiap tahunnya. Total area yang digunakan untuk Aspek intrinsik berdasarkan atas pendapat utama bahwa pembuatan GMO
menumbuhkan tanaman transgenik secara global mencapai lebih dari 80 juta hektar merupakan suatu proses yang tidak alami. Aspek intrinsik berkaitan dengan
pada tahun 2004 (Watanabe, et. al., 2005). Tanaman transgenik yang ditumbuhkan kepercayaan bahwa proses pembuatan GMO itu sendiri tidak bisa ditoleransi karena
terdiri dari kedelai, jagung, canola, kapas, padi, dan beberapa tanaman lainnya. dianggap mencampuri atau menganggu proses yang alami. Ada 4 pendapat utama
Selain sebagai pemenuhan kebutuhan domestik, produk-produk hasil tanaman dalam aspek intrinsik yang menolak keberadaan dan penggunaan GMO (Bhumiratana
transgenik ini juga menjadi komoditi ekspor sebagai makanan, makanan ternak, dan & Kongsawat, 2008).
bahan baku industri. Pendapat yang pertama menyatakan bahwa mengubah kodrat makhluk hidup
Idealnya tanaman transgenik dianggap sebagai sebuah cara yang tepat untuk melalui teknik rekayasa genetik sama dengan mencoba berperan sebagai Tuhan.
meningkatkan produksi pertanian yang berkesinambungan dengan memperhatikan Pendukung pendapat ini menyatakan bahwa rekayasa genetik adalah proses yang
aspek kesehatan manusia. Penggunaan tanaman transgenik diharapkan dapat menganggu proses alami, yang merupakan kekuasaan Tuhan dan rekayasa genetik
mengubah sistem pertanian yang mengandalkan bahan kimia menjadi sistem dianggap tidak etis. Para peneliti yang pro dengan teknologi rekayasa genetik
pertanian yang lebih alami dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia. beranggapan bahwa pendapat ini tidak rasional. Menurut peneliti produk rekayasa
Selain itu penumbuhan tanaman transgenik diperkirakan hanya membutuhkan biaya genetik justru bisa mengembalikan sistem pertanian ke arah yang lebih alami. GMO
produksi yang rendah untuk menghasilkan produk yang maksimal sehingga dapat diklaim mampu menurunkan penggunaan zat-zat kimia, meningkatkan biodiversitas,
menurunkan biaya penjualan. Biaya produksi dan biaya penjualan yang rendah bahkan mampu meregenerasi lahan bekas pertanian menjadi lahan dengan vegetasi
dianggap sebagai solusi bersama yang terbaik bagi produsen dan konsumen. Oleh alami.
karena itu penelitian dan pengembangan tanaman transgenik terus dilakukan untuk Pendapat kedua menyatakan rekayasa genetik dan teknologi baru dapat
menghasilkan produk-produk yang lebih baik. Namun untuk menerapkan atau mengubah alam dan dunia yang merupakan hak mutlak milik Tuhan. Pendapat ketiga
menggunakan tanaman transgenik secara massal diperlukan uji lapangan untuk menyatakan rekayasa genetik telah mengaburkan konsep spesies dan
menilai hasil dan resiko yang mungkin ditimbulkan akibat penggunaan tanaman menghilangkan batas antar spesies dengan memindahkan gen dari spesies satu ke
transgenik tersebut. Masalahnya di beberapa negara seperti Jepang, uji lapangan ini spesies lainnya. Pendapat terakhir berkaitan dengan rekayasa genetik membuat
ditentang oleh sekelompok masyarakat dan kelompok-kelompok tertentu yang organisme-organisme yang mengalami transfer gen menderita. Secara umum dapat
memiliki kekhawatiran dan ketakutan terhadap dampak negatif yang dapat disimpulkan bahwa aspek intrinsik berakar dari egosentrisme dan fanatisme pribadi
ditimbulkan oleh tanaman transgenik (Watanabe, et. al., 2005). yang berasal dari etika agama dan kepercayaan sehingga aspek intrinsik ini sulit
Beberapa pengujian lapangan yang telah dilakukan di beberapa negara untuk diubah.
berkembang, terutama di negara-negara Eropa menunjukkan hasil bahwa secara
Aspek yang kedua adalah aspek ekstrinsik yang didasarkan pada potensi menerapkan peraturan khusus ini sejak tahun 2004 adalah Denmark. Pemerintah
bahaya dan kerusakan yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan GMO Denmark membuat hukum yang mengatur mengenai sistem perizinan dalam
(Bhumiratana & Kongsawat, 2008). Dampak negatif yang dikhawatirkan publik menumbuhkan tanaman transgenik, prosedur isolasi jarak aman yang telah dianalisis
mengenai penggunaan GMO salah satunya adalah dampak buruk terhadap dan disetujui secara ilmiah, serta peraturan yang memuat posedur
lingkungan dan kesehatan manusia. Tanaman transgenik dikhawatirkan dapat pertanggungjawaban terhadap kerusakan yang mungkin ditimbulkan sebagai akibat
mengkontaminasi lingkungan dengan melakukan persilangan dengan individu non- pencampuran antara tanaman transgenik dengan tanaman non-transgenik.
transgenik sehingga dapat merusak diversitas genetis. Produk hasil GMO, terutama Penerapan peraturan-peraturan tersebut harus disesuaikan dengan tujuannya.
yang ditujukan untuk dikonsumsi manusia dikhawatirkan dapa menimbulkan reaksi Untuk tujuan penelitian dan pengembangan diharapkan penerapan peraturan dapat
alergis dan penyakit bagi manusia yang mengkonsumsinya. Dampak lain yang diatur lebih ringan agar dapat memacu perkembangan teknologi yang lebih baik dan
dikhawatirkan adalah masalah pasar. Petani-petani skala kecil dikhawatirkan akan lebih cepat tanpa harus terlalu terbatasi dengan peraturan. Sedangkan untuk tujuan
tersisihkan oleh pertanian skala besar yang mampu menggunakan tanaman komersialisasi, peraturan harus diperketat karena menyangkut kepentingan dan
transgenik dan harga pasar dapat dikendalikan sepenuhnya oleh perusahan- keselamatan orang banyak. Dalam komersialisasi tanaman transgenik dan produk-
perusahaan yang menghasilkan tanaman transgenik. Dengan demikian terjadi produknya dibutuhkan tinjauan yang lebih mendalam meliputi monitoring, risk
kekhawatiran akan terjadinya situasi yang menguntungkan pihak yang management scheme, evaluasi, dan prosedur ganti rugi bila terjadi dampak negatif
besar/berkuasa dan mematikan pihak-pihak yang kecil. Solusi yang dianggap terbaik akibat penggunaan tanaman transgenik tersebut (Watanabe, et. al., 2005).
untuk menjawab masalah aspek ekstrinsik ini adalah dengan memberlakukan Intelectual Property Right (IPR) diperlukan untuk menjaga persaingan yang
peraturan-peraturan terkait penggunaan dan pengembangan GMO yang dapat sehat dalam penelitian dan pengembangan serta komersialisasi tanaman transgenik.
menghindarkan resiko terjadinya kerusakan lingkugan, kesehatan manusia, dan IPR dapat berupa pembelian paten terhadap suatu produk atau teknologi rekayasa
perekonomian akibat penerapan GMO. genetik ataupun berupa insentif bagi pemilik paten untuk setiap akses atau
Implikasi Aspek Legal penggunaan produk atau teknologi yang dipatenkan. Selain manfaatnya, penerapan
Usaha pencegahan munculnya dampak negatif dari penerapan GMO dapat IPR ini juga memiliki sisi kontroversi yaitu pertanyaan apakah organisme hidup
dilakukan dengan menerapkan peraturan-peraturan yang mengatur tentang merupakan objek yang layak/pantas untuk dipatenkan.
pengelolaan dan penggunaan GMO. Kekhawatiran akan hilangnya biodiversitas
akibat terjadinya pencampuran antara GMO dan organisme non transgenik telah Implikasi Aspek Sosial
menimbulkan diskusi-diskusi berskala internasional untuk mengurangi resiko Persepsi publik merupakan suatu hal penting yang harus diperhatikan dalam
terjadinya hal tersebut. Peraturan internasional yang kemudian mengatur mengenai usaha mengintegrasikan teknologi rekayasa genetik dan produk-produknya dalam
masalah penerapan GMO terhadap biosafety dikenal dengan nama Cartagena kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Latifah et.
Protocol on Biosafety. Lebih dari 120 negara ikut berpartisipasi dalam Cartagena al. (2011) mengenai persepsi publik daerah Klang Valley, Malaysia terhadap tanaman
Protocol on Biosafety (Watanabe, et. al., 2005). transgenik, persepsi publik terhadap teknologi rekayasa genetik dan tanaman
Cartagena Protocol on Biosafety memiliki tujuan untuk memastikan keamanan transgenik sebagai salah satu produknya cenderung negatif. Baik berdasarkan
mekanisme transfer, pengelolaan, dan penggunaan GMO yang merupakan hasil dari kelompok umur, kelompok tingkat pendidikan, dan kelompok pekerjaan, secara umum
penerapan bioteknologi yang mungkin dapat mengakibatkan dampak buruk bagi dapat disimpulkan bahwa publik Klang Valley tidak banyak mengetahui mengenai
konservasi dan penggunaan biodiversitas secara berkesinambungan, dan resiko teknologi rekayasa genetik, namun mereka cenderung menolak penerapan dan
terhadap kesehatan manusia sebagaimana tercantum dalam artikel 1 dari Cartagena penggunaan tanaman tarnsgenik.
Protocol on Biosafety (Secretariat of the Convention on Biological Diversity, 2000). Kesalahan persepsi publik mengenai teknologi rekayasa genetik dan
Cartagena Protocol on Biosafety secara khusus difokuskan untuk mengatur prosedur produknya ini merupakan hambatan sosial utama dalam penerapan tanaman
perpindahan GMO lintas negara. Prosedur-prosedur tersebut tercantum di dalam 40 transgenik sebagai sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Menurut
artikel yang dijelaskan oleh 3 annexes. Watanabe, et. al. (2005), kesalahan persepsi ini diakibatkan oleh kurangnya
Cartagena Protocol on Biosafety hanya memberikan pedoman dasar dalam pendidikan dan komunikasi publik mengenai teknologi rekayasa genetik. Persepsi
proses perpindahan GMO lintas negara tanpa memberikan pengaturan mengenai negatif ini menimbulkan banyak dampak buruk lainnya, diantaranya publik merasa
prosedur-prosedur detail dalam hak kepemilikan, izin penggunaan dan komersialisasi, tidak aman dengan keberadaan tanaman transgenik di sekitar mereka, NGO
monitoring, uji lapangan, maupun ganti rugi/tanggungjawab bila terjadi dampak mempengaruhi pemerintah-pemerintah daerah sehingga mempersulit regulasi
negatif. Peraturan detail yang mengatur tentang semua prosedur tersebut diserahkan tanaman transgenik, serta munculnya aktivitas-aktivitas kelompok tertentu yang
pada peraturan masing-masing negara yang harus dilandaskan dengan isi Cartagena menekan organisasi-organisasi pemerintah untuk menghentikan penelitian dan
Protocol on Biosafety. Menurut Watanabe, et. al. (2005), salah satu negara yang telah pengembangan tanaman transgenik. Banyak kabar-kabar negatif yang salah yang
disebarkan oleh kelompok ataupun NGO tertentu yang memperparah kesalahan ternyata memiliki beberapa perbedaan sifat dengan bt-toxin alami, yaitu bt-toxin yang
persepsi publik. Contohnya kasus gosip persebaran canola transgenik yang dihasilkan tanaman transgenik langsung aktif begitu dilepaskan di lingkungan,
menyerbuki canola normal yang tumbuh di tepian jalan layang yang ternyata tidak sementara bt-toxin alami baru akan aktif saat berada di dalam perut serangga. Salah
dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Solusi yang harus dilakukan untuk satu kasus pemusnahan serangga non-target adalah pollen dari jagung bt yang
meluruskan kesalahan persepsi publik adalah dengan memberikan pendidikan dan mematikan larva kupu-kupu Monarch (Danaus plexippus) yang bukan merupakan
komunikasi publik mengenai rekayasa genetik dan menciptakan peraturan-peraturan spesies hama (Mehta & Gair, 2001).
yang tegas dan jelas mengenai penerapan teknologi rekayasa genetik beserta Kontroversi lainnya yang disebabkan oleh penerapan tanaman transgenik
produk-produknya. adalah paten yang dimiliki oleh perusahaan Delta and Pine Land, anak perusahaan
dari Monsanto, mengenai teknologi yang disebut “terminator seed”. Teknologi ini
Kontroversi Tanaman Transgenik menghasilkan tanaman transgenik steril, sehingga untuk siklus penanaman berikutnya
Potensi tanaman transgenik sebagai solusi untuk meningkatkan produksi petani harus membeli benih yang baru. Perusahaan mengklaim teknologi ini
sektor agrikultur sudah tidak bisa diragukan, namun pada praktiknya tanaman bermanfaat agar kualitas tanaman dapat terus ditingkatkan dan petani tidak
transgenik yang dikembangkan adalah produk yang dapat memberikan keuntungan menggunakan benih yang berkualitas buruk. Namun pada kenyataannya petani skala
besar kepada perusahaan-perusahaan pengembang biotech. Idealnya kecil, khususnya di negara sedang berkembang, memiliki penghasilan yang kecil
pengembangan tanaman transgenik dapat diarahkan untuk menghasilkan tanaman sehingga benih yang digunakan untuk siklus berikutnya adalah benih yang disimpan
transgenik yang tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan yang tidak optimal dan sebagai hasil dari siklus sebelumnya. Hal ini justru mengakibatkan produksi di siklus
dapat diakses oleh petani dari semua tingkat. Kenyataan yang terjadi justru tanaman berikutnya menurun dan kualitasnya berkurang. Bila paten ini tetap diterapkan,
transgenik hanya dapat diterapkan pada pertanian skala besar dan menyulitkan khususnya pada tanaman-tanaman pangan seperti gandum, padi, sorgum, dan
pertanian skala kecil. Fenomena ini disebabkan oleh kecenderungan perusahaan- kedelai, maka yang akan terjadi adalah pertanian skala besar yang mampu membeli
perusahaan pengembang biotech mengembangkan tanaman transgenik yang teknologi ini akan mematikan usaha pertanian skala kecil dan menimbulkan
mendukung penjualan produk-produk dari perusahaan tersebut. permasalahan baru yang lebih rumit. Oleh karena itu paten ini tidak pernah
Salah satu contoh kasus yang terjadi adalah pengembangan tanaman diterapkan, bahkan di India teknologi ini telah ditolak untuk melindungi petani-petani
transgenik oleh perusahaan biotech Monsanto dan Novartis yang menghasilkan
lokal dan keamanan pangannya (Mehta & Gair, 2001).
tanaman transgenik yang disebut “Round-Up Ready”. Tanaman transgenik ini memiliki
resistensi terhadap herbisida “Round-Up”, produk herbisida yang diproduksi oleh
perusahaan yang sama. Perusahaan mengklaim penggunaan tanaman transgenik ini Pendidikan Membunuh Kreativitas - Ken Robinson
akan menurunkan tingkat penggunaan herbisida. Namun berdasarkan hasil-hasil studi
yang dinyatakan oleh Mehta & Gair (2001), penggunaan tanaman-tanaman transgenik
ini menimbulkan dampak-dampak negatif terhadap lingkungan. Saya Memiliki Ketertarikan Besar Akan Pendidikan, dan Saya
Penggunaan tanaman transgenik Round-Up Ready di New South Wales, Pikir Kita Semua Demikian, Sebagian Karena Pendidikan
Australia, telah mengakibatkan spesies rumput liar memunculkan kemampuan
Bertujuan Untuk Membawa Kita Menuju Kemasa Depan yang
resistensi terhadap herbisida. Berdasarkan hasil studi, ditemukan bahwa Ryegrass
(Lolium sp.), salah satu spesies rumput liar Australia, menjadi resisten terhadap Tidak Dapat Kita Pegang. Dan Tugas Kita Adalah Mendidik
herbisida sehingga untuk membasminya diperlukan penggunaan herbisida dengan Mereka Secara Keseluruhan, Supaya Mereka dapat Menghadapi
kadar 5 kali lipat dari kadar normalnya (Mehta & Gair, 2001). Hal ini menunjukkan Masa Depan. Kita Mungkin Tidak Akan Dapat Melihat Masa
kenyataan yang berlawanan dari klaim perusahaan, yaitu yang terjadi adalah
Depan Tersebut, tapi Mereka Akan Melihatnya. Dan Tuga Kita
penggunaan herbisida meningkat bersamaan dengan penggunaan tanaman
transgenik. adalah Membantu Mereka Untuk Berbuat Sesuatu Akan Masa
Contoh lainnya adalah penggunaan tanaman transgenik yang menghasilkan Depan Itu….
bt-toksin, racun serangga spesifik yang secara alami dihasilkan oleh bakteri tanah
Bacillus thuringiensis. Kentang bt yang resisten terhadap kumbang kentang Colorado
(Leptinotarsa decemlineata) justru telah memicu munculnya kemampuan resistensi
kumbang tersebut dan 7 spesies serangga hama lainnya terhadap bt-toxin. Selain itu
beberapa tanaman transgenik bt dapat membunuh serangga-serangga yang bukan
merupakan targetnya. Hal ini karena bt-toxin yang dihasilkan oleh tanaman transgenik