Anda di halaman 1dari 9

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


STIMULASI PERSEPSI : HALUSINASI
DI WISMA AMARTA RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Klinik Stase Jiwa
Dosen Pengampu: Wahyu Rochdiat, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.J

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 2

1. PILTRA (17160037)
2. KASIANUS (17160041)
3. UWAIS ALKARNY (17160124)
4. KETUT (17160082)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2017

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


A. Topik
Mengenal dan Mengontrol Halusinasi di Wisma Amarta RSJ Prof. Dr.

Soerojo Magelang
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Klien dapat meningkatkan kemampuan diri dalam mengontrol

halusinasi
2. Tujuan Khusus
a. Klien mampu mengenali halusinasi yang dialaminya
b. Klien mampu mengontrol halusinasinya
c. Klien mampu menjawab pertanyaan dari leader
d. Klien mampu berinteraksi dengan teman-teman anggota

TAK
C. Latar Belakang
Pada pasien gangguan jiwa dengan dengan kasus skizofrenia

selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori, halusinasi. Terjadinya

halusinasi dapat menyebabkan klien menjadi menarik diri terhadap

lingkngan sosialnya, hanyut dengan kesendirian dan halusinasinya

sehingga semakin jauh dari sosialisasi dengan lingkungan

disekitarnya.
Pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi disebabkan

karena ketidakmampuan pasien dalam menghadapi stressor dan

kurangnya kemampuan dalam mengenal dan cara mengontrol

halusinasi sehingga dapat menimbulkan gejala abnormal. Seseorang

yang mengalami halusinasi biasanya bicara sendiri, senyum sendiri,

tertawa sendiri, menarik diri dari ornag lain, tidak dapat membedakan

antara yang nyata dan yang tidak nyata. Penanganan pasien

skizofrenia dengan masalah halusinasi dapat dilakukan dengan

pelaksanaan SP (strategi pelaksanaan) halusinasi, kombinasi


psikofarmakologis dan intervensi psikososial seperti psikoterapi,

terapi keluarga, dan terapi aktivitas kelompok menceritakan arti atau

fungsi dari gambar yang ada.


Atas dasar tersebut, maka kami menganggap dengan therapy

aktifitas kelompok (TAK) klien dengan gangguan persepsi sensori

dapat tertolong dalam hal sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya,

tentu saja klien yang mengikuti terapi ini adalah klien yang sudah

mampu mengontrol dirinya dari halusinasi sehingga pada saat TAK

klien yang sudah mampu mengontrol dirinya dari halusinasi sehingga

pada saat TAK klien dapat berkerja sama dan tidak mengganggu

anggota kelompok yang lain.


Dari beberapa kasus gangguan jiwa yang ada di RSJ Prof. Dr.

Soerojo Magelang khususnya wisma amarta sebagian besar pasien

menderita halusinasi. Oleh karena itu, perlu diadakan Terapi Aktivitas

Kelompok tentang persepsi sensori.

D. Seleksi Pasien

1. Kriteria klien
a. Klien gangguan orientasi realita yang mulai terkontrol.
b. Klien yang mengalami perubahan persepsi.
c. Klien yang memiliki gangguan persepsi sensori : halusinasi
d. Klien tidak mengalami gangguan prilaku agresif atau

mengamuk
e. Jumlah klien 5 orang
f. Pasien bersedia mengikuti TAK dan dapat diajak

bekerjasama (cooperative).
E. Proses seleksi
a. Mengobservasi klien yang masuk kriteria.
b. Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.
c. Mengumpulkan klien yang masuk kriteria.
d. Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK, meliputi:

menjelaskan tujuan TAK pada klien.

F. Jadwal Kegiatan
1. Tempat pelaksanaan TAK
Tempat pelaksanaan TAK diruang makan wisma amarta
2. Lama Pelaksanaan TAK
Lama pelaksanaan TAK 30 menit
3. Waktu pelaksanaan TAK
a. Hari dan Tanggal :
b. Waktu :
G. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
H. Media dan alat
a. Spidol dan White boart / papan tulis
b. Jadwal kegiatan harian
I. Pengorganisasian
1. Anggota TAK
a. Leader :
b. Co_Leader :
c. Observer :
d. Fasilitator :
2. Uraian Tugas Anggota TAK
a) Leader
1) Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktivitas

kelompok sebelum kegiatan dimulai


2) Memberikan motivasi anggota untuk aktif dalam kelompok

dan memperkenalkan dirinya.


3) Mampu memimpin terapi aktivitas kelompok dengan baik

dan tertib
4) Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok.
5) Menjelaskan aturan dan cara permainan.
6) Memimpin Doa
b) Co-Leader
1) Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang

aktivitas klien
2) Membantu Leader dalam memimpin permainan
3) Mengingatkan Leader jika kegiatan menyimpang
4) Memberikan reaward bagi kelompok yang dapat

meneyelesaikan perintah dengan cepat


5) Memberikan punishment bagi pasien yang menyimpang
c) Fasilitator
1) Memfasilitasi kebutuhan selama TAK
2) Memberikan stimulus pada klien yang kurang aktif
3) Berperan sebagai role-play bagi klien selama kegiatan
d) Observer
1) Mengobservasi dan mencatat jalanya proses kegiatan
2) Mencatat prilaku verbal klien selama kegiatan berlangsung
3) Mencatat perserta yang aktif dan yang pasif
4) Mencatat jika ada peserta yang drop out dan alasan drop

out.
J. Setting Tempat

3 1 2

4 4

Keterangan
4
= Leader = Observer

1 3
= Co_Leader = Fasilitator

2 4
= Anggota kelompok

K. Program Antisipasi
1. Penanganan klien yang tidak aktif saat melakukan kegiatan
a. Memanggil klien
b. Memotivasi klien untuk ikut dalam permainan
2. Bila klien meninggalkan permaianan tampa pamit
a. Panggil nama klien
b. Tanya alasan klien meninggalkan permainan
c. Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan

penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanaan

keperluanya setelah itu klien boleh kembali lagi.


3. Bila ada klien lain yang ingin ikut dalam kegiatan.
a. Berikan penjelasan bahwa ini ditujukan pada klien yang

telah dipilih
b. Katakan pada klien lain bahwa lain waktu yang mungkin

dapat diikuti oleh klien tersebut.


4. Bila suasana pasif, klien disuruh perkenalan, bernyanyi.
L. Langkah kegiatan

No Langkah Kegiatan Durasi

1 Persiapan

a. Mengumpulkan peserta 5 menit


b. Mengingatkan kontrak pertemuan
c. Mempersiapkan tempat dan alat/media yang

digunakan
2 Orientasi 5 menit

a. Memberikan Salam terapeutik


b. Validasi/Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan pengalaman klien

mengontrol halusinasi
c. Kontrak waktu
1) Menjelaskan tujuan kegiatan:

melakukan kegiatan bercerita atau

menceritakan arti atau maksut dari gambar

yang ditunjukan
2) Jika ada klien yang ingin

meninggalkan kegiatan TAK harus minta izin

kepada leader
3) Lama kegiatan 30 menit
4) Setiap klien diharapkan mengikuti
TAK dari awal sampai akhir dengan aktif dan

penuh konsentrasi
3 Kerja
a. Leader menjelaskan kegiatan yang

akan dilakukan yaitu mengenal halusinasi :

isi, waktu, situasi, dan respon klien terhadap

halusinasinya.
b. Leader meminta klien untuk

menceritakan halusinasinya : isi, waktu,

situasi, dan respon klien terhadap


20 menit
halusinasinya.
c. Leader menjelaskan cara mengontrol

halusinasi : menghardik, obat, bercakap-

cakap, dan melakukan kegiatan


d. Leader melatih cara mengontrol

halusinasi dengan salah satu cara :

menghardik.
e. Leader menjelaskan RTL pada klien

dan memberikan jadwal kegiatan harian.

4 Terminasi
a. Evaluasi
1) Leader menayakan perasaan klien setelah
10 menit
mengikuti TAK
2) Leader menanyakan kembali topik dan

kegiatan TAK
3) Leader menjelaskan hasil kesimpulan dari

jalannya TAK
b. Rencana Tindak Lanjut
Menganjurkan klien dapat melakukan kegiatan

bercakap-cakap atau bercerita diselah-selah waktu

luang
c. Kontrak
1) Topik TAK selanjutnya
2) Tempat dilaksanakan TAK selanjutnya
3) Waktu dilaksanakannya TAK selanjutnya

M. Evaluasi

Nama Pasien
No Aspek yang dinilai
Nn.A Nn.B Nn.C Nn.D Nn.E

1 Klien mampu

mengenali

halusinasinya

2 Klien mampu

mengontrol

halusinasinya

3 Klien mampu

menjawab pertanyaan

dari leader

4 Klien mampu

berinteraksi dengan

teman-teman

anggota TAK
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, B.A. dan Akemat, 2008, Keperawatan Jiwa: Terapi Akitivitas


Kelompok. Jakarta: EGC

Maramis,W.F., 2008, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Surabaya: Airlangga


University Press

Susana dan Hendarsih, 2011, Terapi Modalitas Keperawatan Kesehatan


Jiwa, Jakarta : EGC.

Stuart G.W, 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta: EGC

Yosep, I. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.

Anda mungkin juga menyukai