Anda di halaman 1dari 18

“MAKHLUK HIDUP YANG KOMPLEKS”

Disusun oleh :
Sudarman 1401070020
Noviana Dwiyaningsih 1401070021
Wiranti 1401070023
Yonanda Ajeng WH 1401070024
Estu Windu Nugroho 1401070025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Teori evolusi hingga saat ini masih dipelajari walaupun teori tersebut disusun
berdasarkan bukti-bukti tak langsung. Pokok dari teori evolusi itu adalah bahwa
hewan, tumbuhan, dan juga manusia dalam berbagai abad yang lalu telah berkembang
dari makhluk yang berbentuk lebih sederhana. Semuanya itu melalui proses evolusi
yang telah berlangsung beribu-ribu tahun, bahkan berjuta-juta tahun, dimulai dengan
satu atau beberapa bentuk makhluk yang sederhana secara perlahan-lahan
berkembang ke berbagai bentuk (Widodo, 1989).
Perkembangan makhluk hidup dari bentuk primitif ke bentuk kompleks adalah
praduga evolusionis yang tak benar sedikit pun. Profesor biologi asal Amerika, Frank
L. Marsh, yang mengkaji pernyataan kaum evolusionis, dalam bukunya Variation
and Fixity in Nature menyatakan makhluk hidup tak dapat disusun dalam sebuah
urutan yang senantiasa bersambung tanpa putus dari bentuk sederhana ke bentuk
rumit.
Dalam hal ini, pernyataan evolusionis sebenarnya dapat diruntuhkan oleh fakta
kemunculan mendadak dari hampir seluruh filum hewan yang dikenal sekarang di
Zaman Kambrium. Bahkan, semua hewan yang muncul secara tiba-tiba tersebut
sudah memiliki struktur tubuh yang rumit, tidak sederhana – hal ini benar-benar
berlawanan dengan asumsi evolusionis.
Dari beragam bukti ilmiah yang ditemukan para ilmuwan tak ada indikasi yang
menyeret bahwa mahkluk hidup terbentuk melalui proses evolusi dimana makhluk
hidup yang berbeda tak muncul ke muka bumi dengan jalan berevolusi. Sebaliknya,
dari rancangan Tuhan secara nyata dibuktikan dengan munculnya spesies makhluk
hidup yang muncul secara serentak dan bersama-sama dengan sempurna. Misalnya
reptil, dari awal kemunculan memiliki bentuk sebagaimana reptil yang ada saat ini,
tidak merupakan evolusi dari bentuknya semula sebagai bukan reptil.
Oleh karena itu, pada makalah kami akan membahas mengenai ketidakbenaran
teori evolusi yang menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari perkembangan
bentuk yang sederhana menjadi makhluk yang lebih kompleks.
BAB II
TRANSISI MAHLUK HIDUP

A. Mahluk Hidup dari Laut ke Darat


Evolusionis mengasumsikan bahwa invertebrata laut yang muncul pada
periode kambrium berevolusi menjadi ikan dalam waktu puluhan juta tahun. Tetapi
sebagaimana invertebrata-invertebrata Kambrium tidak memiliki nenek moyang,
juga tidak ditemukan mata rantai transisi yang menunjukkan bahwa evolusi terjadi
antara jenis-jenis invertebrata ini dengan ikan. Perlu dicatat bahwa invertebrata dan
ikan memiliki perbedaan struktural yang sangat besar. Invertebrata memiliki
jaringan keras di luar tubuh mereka, sedangkan ikan adalah vertebrata dengan
jaringan keras di dalam tubuh. “Evolusi” sebesar itu tentu akan melalui miliaran
tahap, dan seharusnya ada miliaran bentuk transisi yang menunjukkan tahapan-
tahapan tersebut.
Evolusionis telah menggali lapisan-lapisan fosil selama kurang lebih 140
tahun untuk mencari bentuk-bentuk hipotetis tersebut. Mereka telah menemukan
jutaan fosil invertebrata dan jutaan fosil ikan, tetapi tidak pernah menemukan satu
bentuk peralihan pun antara invertebrata dan ikan.
Ahli paleontologi evolusionis, Gerald T. Todd, mengakui fakta ini dalam
artikel “Evolusi Paru-Paru dan Asal Usul Ikan”:
Ketiga subdivisi ikan bertulang muncul pertama kali dalam catatan fosil pada
saat yang kira-kira bersamaan. Secara morfologis mereka telah sangat beragam, dan
mereka memiliki tubuh yang sangat terlindung.
Skenario evolusi beranjak selangkah lebih jauh dan menyatakan bahwa ikan
berevolusi dari invertebrata, kemudian berubah menjadi amfibi. Akan tetapi,
skenario ini juga tidak memiliki bukti. Tidak ada satu fosil pun yang menunjukkan
bahwa pernah terdapat makhluk separo ikan – separo amfibi. Kenyataan ini
dibenarkan oleh Robert L. Carrol, seorang evolusionis terkenal, penulis buku
Vertebrate Paleontology and Evolution: “Kami tidak memiliki fosil peralihan antara
ikan rhipidistian (favoritnya untuk ‘nenek moyang’ tetrapoda) dan amfibi-amfibi
awal." Dua orang ahli paleontologi evolusionis, Colbert dan Morales, berpendapat
mengenai tiga kelompok utama amfibi: katak, salamander dan caecilian.
Tidak ada bukti keberadaan amfibi pada zaman paleozoik yang
menggabungkan sifat-sifat yang diperkirakan dimiliki satu nenek moyang yang
sama. Katak, salamander dan caecilian yang paling tua sangat mirip dengan
keturunan mereka yang masih hidup.
Sampai sekitar 50 tahun yang lalu, evolusionis meyakini bahwa makhluk
semacam ini benar-benar pernah ada. Ikan ini disebut 'Coelacanth' dan diperkirakan
berumur 410 juta tahun. Coelacanth diajukan sebagai bentuk transisi dengan paru-
paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran darah
yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang primitif.
Penafsiran-penafsiran anatomis ini diterima sebagai kebenaran yang tidak
diperdebatkan lagi di kalangan ilmuwan hingga akhir tahun 1930-an. Coelacanth
dianggap sebagai bentuk peralihan sesungguhnya yang membuktikan transisi
evolusioner dari air ke darat.
Namun pada tanggal 22 Desember 1938, terjadi sebuah penemuan yang
sangat menarik di Samudera Hindia. Di sana berhasil ditangkap hidup-hidup salah
satu anggota famili Coelacanth, yang sebelumnya diajukan sebagai bentuk transisi
yang telah punah 70 juta tahun lalu! Tak diragukan lagi, penemuan prototipe
Coelacanth “hidup” ini menjadi pukulan hebat bagi para evolusionis. Seorang ahli
paleontologi evolusionis, J.L.B. Smith, mengatakan bahwa ia tak akan sekaget ini
jika bertemu dengan seekor dinosaurus hidup. Pada tahun-tahun berikutnya, 200
ekor Coelacanth berhasil ditangkap di berbagai penjuru dunia.
Bukti Coelacanth hidup memperlihatkan sejauh mana evolusionis dapat
mengarang skenario khayalan mereka. Bertentangan dengan klaim mereka,
Coelacanth ternyata tidak memiliki paru-paru primitif dan tidak pula otak yang
besar. Organ yang dianggap oleh peneliti evolusionis sebagai paru-paru primitif
ternyata hanya kantong lemak. Terlebih lagi, Coelacanth yang dikatakan sebagai
“calon reptil yang sedang bersiap meninggalkan laut menuju daratan”, pada
kenyataannya adalah ikan yang hidup di dasar samudra dan tidak pernah mendekati
kurang dari 180 meter di bawah permukaan laut.
Allah berfirman dalam surat An Nur ayat 45 :
َ ‫علَ ٰى َب ۡط ِّنِّۦه َو ِّم ۡن ُهم همن َيمۡ شِّي‬
‫علَ ٰى ِّر ۡجلَ ۡي ِّن َو ِّم ۡن ُهم همن‬ َ ‫ٱَّللُ َخلَقَ ُك هل دَآب ٖهة ِّمن هما ٓ ٖ ٖۖء َف ِّم ۡن ُهم همن َيمۡ شِّي‬ ‫َو ه‬
ٞ ‫علَ ٰى ُك ِّل ش َۡي ٖء قَد‬
٤٥ ‫ِّير‬ ‫شا ٓ ٖۚ ُء ِّإ هن ه‬
َ َ‫ٱَّلل‬ ‫علَ ٰ ٓى أ َ ۡر َب ٖۚ ٖع َي ۡخلُ ُق ه‬
َ ‫ٱَّللُ َما َي‬ َ ‫َيمۡ شِّي‬
45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian
dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua
kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan
apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

B. Transisi Mahluk Hidup dari Air ke Darat Tidak Mungkin


Evolusionis menyatakan bahwa suatu ketika, spesies yang hidup di air naik
ke darat dan berubah menjadi spesies darat. Ada sejumlah fakta yang sangat jelas
menunjukkan kemustahilan transisi seperti itu:
1. Keharusan membawa beban tubuh: makhluk penghuni air membawa be-ban
tubuh mereka tanpa masalah. Tetapi, bagi sebagian besar binatang darat, 40%
energi mereka habis hanya untuk membawa beban tubuh me-reka. Makhluk
hidup yang berpindah dari air ke darat harus mengembang-kan sistem otot dan
kerangka baru secara bersamaan agar dapat memenuhi kebutuhan energi ini.
Suatu hal yang tidak mungkin terjadi melalui mutasi kebetulan.
2. Daya tahan terhadap panas: suhu daratan dapat berubah dengan cepat dan naik-
turun dalam rentang yang lebar. Makhluk hidup di darat memiliki mekanisme
tubuh yang dapat menahan perubahan-perubahan suhu yang besar itu. Akan
tetapi, suhu lautan berubah secara perlahan dan perubahan tersebut tidak terjadi
dalam rentang yang terlalu lebar. Organisme hidup dengan sistem tubuh sesuai
temperatur laut yang konstan akan membutuhkan suatu sistem perlindungan
agar perubahan suhu di darat tidak akan membahayakan. Sangat tidak masuk
akal bahwa ikan mendapatkan sistem tersebut melalui mutasi acak segera
setelah mereka naik ke darat.
3. Penggunaan air: air dan kelembaban yang penting untuk metabolisme harus
digunakan sehemat mungkin karena kelangkaan sumber air di darat. Sebagai
contoh, kulit harus dirancang agar dapat mengeluarkan air sejumlah tertentu,
sekaligus mencegah penguapan berlebihan. Karenanya, makhluk hidup di darat
memiliki rasa haus karakteristik yang tidak dimiliki organisme air. Di samping
itu, kulit tubuh hewan air tidak sesuai untuk habitat non-air.
4. Ginjal: organisme air dapat dengan mudah membuang zat-zat sisa dalam tubuh
mereka (terutama amonia) dengan penyaringan, karena banyaknya air dalam
habitat mereka. Di darat, air harus digunakan sehemat mungkin. Itulah sebabnya
hewan darat memiliki sistem ginjal. Berkat ginjal, amonia disimpan dengan cara
mengubahnya menjadi urea dan hanya membutuhkan sejumlah kecil air untuk
membuangnya. Di samping itu, beberapa sistem baru dibutuhkan untuk
membuat ginjal berfungsi. Singkatnya, agar perpindahan dari air ke darat dapat
terjadi, makhluk hidup tanpa ginjal harus membentuk sistem ginjal secara tiba-
tiba.
5. Sistem pernapasan: ikan “bernapas” dengan mengambil oksigen yang terlarut
dalam air yang mereka alirkan melewati insang. Mereka tidak mampu hidup
lebih dari beberapa menit di luar air. Agar mampu hidup di darat, mereka harus
mendapatkan sistem paru-paru yang sempurna secara tiba-tiba.
BAB III
HEWAN VERTEBRATA

A. Pengertian Hewan Vertebrata


Istilah vertebrate berasal dari kata Latin yaitu vertebratus (Pliny), yang berarti
gabungan dari tulang belakang. Hal ini erat kaitannya dengan kata vertebra yang
mengacu pada salah satu tulang atau segmen tulang belakang. Karakteristik dan
definisi vertebrata tersebut adalah tulang punggung, dimana notochord (komposisi
batang kaku dan seragam) yang ditemukan di semua chordates telah digantikan oleh
serangkaian tersegmentasi elemen yang kaku (vertebrae), dipisahkan oleh sendi
(diskus invertebralis, berasal embryonically dan evolusi dari notochord). Namun,
beberapa vertebrata telah kehilangan anatomi sekunder ini. Kolom vertebral terdiri
banyak tulang individu saling berhubungan dengan cakram invertebralis. Disk
vertebra ini dan invertebralis menyediakan fleksibilitas dan gerakan pada tulang
belakang.

B. Ciri-ciri Hewan Vertebrata


Menurut Susanto 2016, ciri dan sifat sub filum vertebrata yaitu:
1. Memiliki chordata dorsalis / notocord
2. Tubuh terbungkus oleh lapisan epidermis dan dermis dengan banyak kelenjar
mucosa pada jenis yang hidup dalam air.
3. Endoskeleton, pada hewan tingkat rendah berupa rawan, sedang pada tingkat
tinggi berupa tulang keras.
4. Pada skeleton terdapart otot yang berfungsi sebagai alat gerak atau berpindah
tempat.
5. Tractus digestivus (system pencernaan) yang memanjang terdapat di sebelah
ventral (rongga mulut) terdapat lidah dan gigi. Akhir dari Tractus digestivus ini
adalah anus.
6. Sistem peredarah darah terdiri atas pembuluh darah dengan jantung sebagai
sentral.
7. Sistem pernafasan pada bentuk rendah berupa beberapa pasang insang, sedang
pada spesies yang mendiami darah memiliki paruparu (pulmo).
8. Systema Exkretoria : sepasang gen (ginjal) dengan saluran pembuangan yang
bermuara di daerah dekat anus.
9. Sistem nervorum terdiri atas envephalon (otak) dan medulla spinalis (sum sum
tulang belakang).
10. Terdapat kelenjar endokrin.
11. Sebagian besar seksnya terpisah.
12. Pada fase embrio chorda dorsalis berubah menjadi vertebrae.

C. Bukti Hewan Vertebrata yang Kompleks


Vertebrata atau hewan bertulang belakang adalah organisme yang paling
terorganisir di Bumi. Meskipun bukan kelompok hewan yang paling banyak,
vertebrata adalah kelompok yang paling canggih di banding hewan invertebrata.
Karakteristik yang membuat vertebrata khusus adalah kehadiran sumsum tulang
belakang, tulang dan notokorda. Kebanyakan vertebrata memiliki sistem saraf yang
berkembang dengan sangat baik. Vertebrata juga memiliki otot dan kerangka yang
membantu mereka bergerak secara efisien dan performa gerakan yang
kompleks.Vertebrata mencakup sebagian besar Filum Chordata, memiliki sekitar
64.000 spesies yang telah teridentifikasi. Vertebrata membuat sekitar 4% dari semua
species yang teridentifikasi.Vertebrata memiliki sejarah panjang di bumi – lebih dari
500 juta tahun, dari era Cambrian. Vertebrata pertama telah dikatakan muncul sekitar
periode Kambrium era Paleozoic sekitar 525 juta tahun yang lalu.
Contoh hewan yang hidup era paleozoic adalah ikan tanpa ragang (agnatha).
Agnatha memiliki dua sub kelas yaitu cyclostomata yang dibedakan menjadi dua
ordo yaitu:
a. Myxiniformes
Tidak mempunyai sirip punggung, sirip daging kecil disekitar ekor. Mulut
diujung moncong dilengkapi dengan 4 pasang tentakel, tidak mempunyai buocal
funnel, ada beberapa gizi, kantong hidung dekat ujung kepala. Punya saluran ke
pharynx, kantong insang ada 10 sampai 14 pasang. Tidak mempunyai larva.
Telur menetas langsung menyerupai binatang dewasa (anak). Dapay
menghasilkan banyak lendir dalam waktu yang relatif singkat. Ada 1 famili, 3
genus dan 25 species terdapat di laut beriklim dingin pada kedalaman 20-650
meter.
Contoh : Myxin glutinosa
b. Petromyzontiformea
Contoh : Petromyzon marinua = Lamprey.
Vertebrata lebih kompleks karena memiliki tulang tengkorak atau dapat
dikatakan bahwa semua hewan yang masuk dalam golongan vertebrata sudah
memiliki otak yang ukurannya relatif besar dan sudah dilengkapi dengan tulang
Cranium. Di samping itu jugasudah memiliki tulang penyokong tubuh yang disebut
Columna vertebralis, pembagian tubuhnya sudah lengkap, yaitu terbagi atas kepala,
leher, badan dan ekor.
Menurut Susanto 2016, ciri dan sifat sub filum vertebrata yaitu:
1. Memiliki chordata dorsalis / notocord
2. Tubuh terbungkus oleh lapisan epidermis dan dermis dengan banyak kelenjar
mucosa pada jenis yang hidup dalam air.
3. Endoskeleton, pada hewan tingkat rendah berupa rawan, sedang pada tingkat
tinggi berupa tulang keras.
4. Pada skeleton terdapart otot yang berfungsi sebagai alat gerak atau berpindah
tempat.
5. Tractus digestivus (system pencernaan) yang memanjang terdapat di sebelah
ventral (rongga mulut) terdapat lidah dan gigi. Akhir dari Tractus digestivus ini
adalah anus.
6. Sistem peredarah darah terdiri atas pembuluh darah dengan jantung sebagai
sentral.
7. Sistem pernafasan pada bentuk rendah berupa beberapa pasang insang, sedang
pada spesies yang mendiami darah memiliki paruparu (pulmo).
8. Systema Exkretoria : sepasang gen (ginjal) dengan saluran pembuangan yang
bermuara di daerah dekat anus.
9. Sistem nervorum terdiri atas envephalon (otak) dan medulla spinalis (sum sum
tulang belakang).
10. Terdapat kelenjar endokrin.
11. Sebagian besar seksnya terpisah.
12. Pada fase embrio chorda dorsalis berubah menjadi vertebrae.
BAB IV
ORGANISME MULTISELULER

A. Pengertian Organisme Multiseluler


Organisme multiseluler (bersel banyak) merupakan makhluk hidup yang
memiliki lebih dari satu sel, bahkan terdiri dari jutaan sel dalam tubuhnya. Jumlah sel
yang lebih banyak berarti bahwa organisme ini jauh lebih besar ukurannya.
Komposisi dan struktur tubuhnya pun sangat kompleks dan rumit. Manusia adalah
contoh terbaik dari organisme multiseluler. Jumlah sel yang sangat banyak
menyebabkan terbentuknya berbagai organ yang menjalankan fungsi yang berbeda.
Organisme multiselular juga dikenal sebagai ‘eukariota’ atau ‘entitas
eukariotik’.Tidak seperti organisme bersel tunggal, organisme multiseluler memiliki
inti sel dan DNA yang terpisah. Meskipun secara umum organisme multiseluler
berukuran lebih besar, namun ada juga yang berukuran mikroskopis yang dikenal
dengan nama myxozoa.Beberapa contoh organisme multiseluler adalah manusia,
hewan, tumbuhan, myxozoa, dan semua jenis jamur.

B. Ciri Organisme Multiseluler


1. Memiliki jumlah sel lebih dari satu sel (banyak).
2. Organisme memiliki ukuran yang besar.
3. Kompisisi dan struktur tubuhnya sangat komplek dan rumit.
4. Memiliki berbagai organ yang menjalankan fungsi yang berbeda.
5. Memiliki inti sel dan DNA yang terpisah.
C. Bukti Organisme Multiseluler Makhluk Hidup Yang Kompleks
Organisme multiseluler merupakan kebalikan dari organisme uniseluler, yaitu
adalah organisme yang memiliki beberapa sel dalam tubuhnya (jamak). Organisme
multiseluler memiliki ukuran yang lebih besar dari organisme uniseluler, sehingga
organisme multiseluler dapat dilihat dengan mata langsung.Organisme multiseluler
memiliki struktur yang lebih kompleks dari organisme uniseluler. Organisme
multiseluler sangat bervariasi dalam hal ukuran dan bentuk dan beberapa contoh
adalah tanaman, hewan, dan manusia.
Roberthooke adalah orang yang pertama kali melihat adanya ruang-ruang yang
dibatasi oleh dinding sel pada sayatan gabus yang ia sebut sebagai sel. Kemudian ia
melihat cairan yang terdapat di dalam sel, isi sel tersebut selanjutnya diinterpretasikan
sebagai materi hidup yang disebut protoplasma. Bentuk sel hewan multiseluler
tergantung pada fungsi alat atau jaringan tubuh. Secara umum sel hewan tidak
memiliki vakuola, jika ada vakuola, ukurannya sangat kecil. Pada beberapa jenis
hewan bersel satu ditemukan adanya vakuola, misalnya pada amoeba dan
paramecium. Bagian paling besar pada hewan adalah nucleus. Bagian-bagian sel
yang utama adalah membrane, sitoplasma, dan inti. Sel hewan tidak memiliki dinding
sel, tetapi memiliki membrane sel yang berfungsi member bentuk pada sel. Pada
bagian tengah sel terlihat adanya inti sel serta terdapat cairan sitoplasma. Sel epitel
rongga mulut lebih mudah diamati dan dibuat smear atau sediaan, buccal smear
adalah teknik pengamatan sel-sel bucal dengan cara mengorek bagian dalam pipi.
Dengan definisi diatas, kita bisa simpulkan dari organisme uniseluler dan
multiseluler, yaitu organisme uniseluler memiliki satu sel sedangkan organisme
multiseluler memiliki beberapa sel. Organisme uniseluler biasanya berukuran
mikroskopis, sedangkan organisme multiseluler memiliki ukuran makroskopis.
Organisme uniseluler tidak memiliki jaringan, organ, dan sistem organ, hal ini
dikarenakan uniseluler hanya tersusun oleh satu sel, sehingga tidak bias membentuk
tiga hal tersebut.
Makhluk hidup di dunia ini sangat beragam. Berdasarkan susunan selnya
makhluk hidup terbagi menjadi organisme uniseluler misalnya bakteri, archaea,
protozoa, dan organisme multiseluler contohnya tumbuhan, hewan. Organisme
multiseluler, tubuhnya dibangun oleh banyak sel yang diperoleh dari pembelahan
mitosis berulang-ulang sebuah sel tunggal (monoseluler) yang disebut zigot.
Organisme multiseluler memerlukan mekanisme untuk komunikasi antar selagar
dapat memberi respon dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternadan
interna yang selalu berubah (Heryanto, 2010).
BAB V

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut :

1. Evolusionis telah menggali lapisan-lapisan fosil selama kurang lebih 140 tahun
untuk mencari bentuk-bentuk hipotetis tersebut. Mereka telah menemukan
jutaan fosil invertebrata dan jutaan fosil ikan, tetapi tidak pernah menemukan
satu bentuk peralihan pun antara invertebrata dan ikan.
2. Evolusionis menyatakan bahwa suatu ketika, spesies yang hidup di air naik ke
darat dan berubah menjadi spesies darat.
3. Karakteristik dan definisi vertebrata tersebut adalah tulang punggung, dimana
notochord (komposisi batang kaku dan seragam) yang ditemukan di semua
chordates telah digantikan oleh serangkaian tersegmentasi elemen yang kaku
(vertebrae), dipisahkan oleh sendi (diskus invertebralis, berasal embryonically
dan evolusi dari notochord).
4. Vertebrata atau hewan bertulang belakang adalah organisme yang paling
terorganisir di Bumi. Meskipun bukan kelompok hewan yang paling banyak,
vertebrata adalah kelompok yang paling canggih di banding hewan invertebrata.
Karakteristik yang membuat vertebrata khusus adalah kehadiran sumsum tulang
belakang, tulang dan notokorda. Kebanyakan vertebrata memiliki sistem saraf
yang berkembang dengan sangat baik.
5. Vertebrata lebih kompleks karena memiliki tulang tengkorak atau dapat
dikatakan bahwa semua hewan yang masuk dalam golongan vertebrata sudah
memiliki otak yang ukurannya relatif besar dan sudah dilengkapi dengan tulang
Cranium. Di samping itu jugasudah memiliki tulang penyokong tubuh yang
disebut Columna vertebralis, pembagian tubuhnya sudah lengkap, yaitu terbagi
atas kepala, leher, badan dan ekor.
6. Organisme multiseluler (bersel banyak) merupakan makhluk hidup yang
memiliki lebih dari satu sel, bahkan terdiri dari jutaan sel dalam tubuhnya.
Jumlah sel yang lebih banyak berarti bahwa organisme ini jauh lebih besar
ukurannya. Komposisi dan struktur tubuhnya pun sangat kompleks dan rumit.
Manusia adalah contoh terbaik dari organisme multiseluler.
7. Organisme uniseluler memiliki satu sel sedangkan organisme multiseluler
memiliki beberapa sel. Organisme uniseluler biasanya berukuran mikroskopis,
sedangkan organisme multiseluler memiliki ukuran makroskopis. Organisme
uniseluler tidak memiliki jaringan, organ, dan sistem organ, hal ini dikarenakan
uniseluler hanya tersusun oleh satu sel, sehingga tidak bias membentuk tiga hal
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Susanto. 2016. Diktat Biosistematika Hewan. Purwokerto: Universitas


Muhammadiyah Purwokerto.
Heryanto, Deny. 2010. Mekanisme Kerja Hormon. http://www.kuningan.co.cc/.
Diakses tanggal 23 Maret 2017.
Rhiyadul. 2017. Laporan Biologi.
http://kuliahrhiyadul.blogspot.co.id/2017/01/laporan-biologi.html diakses pada
tanggal 23 Maret 2018
http://kliksma.com/2015/04/ciri-ciri-organisme-multiseluler.html
http://usaha321.net/ciri-ciri-vertebrata.html (diakses tanggal 23 maret 2017 pukul
18.30)
http://hudsonsidabutar.blogspot.co.id/2008/08/kelas-aghnata.html (diakses tanggal 23
maret 2017 pukul 18.30)
https://chyztha.wordpress.com/coretan/manusia-makhluk-ciptaan-allah-yang-paling-
sempurna/(diakses tanggal 23 maret 2017 pukul 18.30)