Anda di halaman 1dari 5

ICP (INTERGRATED CARE PATHWAY)

Posted on May 14, 2014 by afree17

Integrated Care Pathway (ICP) merupakan instrumen yang dapat digunakan


untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan mencegah adanya variasi pelayanan yang tidak
perlu. Akan tetapi, pengembangan dan penerapan ICP bukan hal yang mudah dilakukan
bahkan meski hanya untuk satu jenis pelayanan saja. Karena ICP merupakan dokumentasi
multidisiplin. Sistem informasi yang terintegrasi akan memudahkan setiap tim kesehatan
untuk dapat mengetahui informasi pasien secara lengkap dan mengurangi pengumpulan data
secara berulang – ulang yang dilakukan oleh setiap tim kesehatan.

Integrated Care Pathway atau dikenal juga dengan nama lain seperti clinical pathway,
critical care pathway, coordinated care pathway, atau caremaps. ICP pertama dikembangkan
pada tahun 1985-1986 oleh New England Medical Centre, Boston, kemudian diadopsi oleh
rumah sakit – rumah sakit di Arizona, Florida, dan Rhode Island di USA pada tahun 1986-
1988. Australia dan UK mulai mengaplikasikan ICP ini pada tahun 1989 dan pada
pertengahan tahun 1990 mulai berkembang ke Negara-negara di Afrika dan Asia seperti
South Afrika, Saudi Arabia, Jepang, Korea, dan Singapura (Davis, 2005).

Wilson (1995) mendefinisikan “care pathway” sebagai proses multidisiplin yang berfokus
pada perawatan pasiendengantepat waktu untuk menghasilkan hasil yang terbaik, dalam
sumber daya dan kegiatan yang tersedia, untuk sebuah episode perawatan yang tepat. Jhonson
(1997) memperkenalkan ide menggunakan ICP sebagai alat untuk meningkatkan kualitas dan
mendefinisikan ICP sebagai semua elemen perawatan dan pengobatan yang diantisipasi dari
semua anggota tim multidisiplin, bagi pasien dengan kasus tertentu dalam jangka waktu yang
disepakati untuk pencapaian outcome yang telah disepakati. Sedangkan menurut Middleton
(2000), ICP harus mencakup serangkaian intervensi yang diharapkan, ditempatkan dalam
kerangka waktu yang tepat, ditulis dan disepakati oleh tim multidisiplin, untuk membantu
pasien dengan kondisi tertentu melalui diagnosis pengalaman klinis untuk hasil yang positif.
Dapat disimpulkan bahwa ICP adalah sebuah rencana yang menyediakan secara detail tahap
penting dari pelayanan kesehatan, bagi sebagian besar pasien dengan masalah klinis
(diagnosis dan prosedur) tertentu, berikut dengan hasil yang diharapkan.

Mekanisme

Secara konvensional, ICP ditulis dalam bentuk fomulir matrix dengan aspek pelayanan di
satu sisi, dan waktu pelayanan disisi yang lain. Interval waktu biasanya dalam hitungan hari
mengikuti instruksi klinik harian, namun hal ini dapat berbeda tergantung dari perjalanan dan
perkembangan penyakit atau tindakan yang ada (misalnya ICP untuk penyakit kronis
mungkin memilik interval waktu perminggu atau bulan). Umumnya ICP dikembangkan
untuk diagnosa atau tindakan yang sifatnya “high-volume”, “high-risk” dan “high-cost”. ICP
banyak dikembangkan di rumah sakit, namun saat ini secara bertahap sudah mulai
diperkenalkan ke sarana pelayanan kesehatan lain seperti nursing home dan home healthcare.
Proses untuk menyusun ICP

1. Pembentukan tim penyusun ICP.

2. Identifikasi key players

3. Pelaksanaan site visit di rumah sakit

4. Studi literatur

5. Diskusi kelompok terarah

6. Penyusunan pedoman klinik

7. Analisis bauran kasus

8. Menetapkan sistem pengukuran proses dan outcome

9. Mendesain dokumentasi clinical pathway

8 tahap pengembangan sebuah icp


TUJUAN

Memilih “best practice” pada saat pola praktek diketahui berbeda secara bermakna.

Menetapkan standar yang diharapkan mengenai lama perawatan dan penggunaan


pemeriksaan klinik serta prosedur klinik lainnya.

Menilai hubungan antara berbagai tahap dan kondisi yang berbeda dalam suatu proses serta
menyusun strategi untuk mengkoordinasikan agar dapat menghasilkan pelayanan yang lebih
cepat dengan tahapan yang lebih sedikit.

Memberikan peran kepada seluruh staf yang terlibat dalam pelayanan serta peran mereka
dalam proses tersebut.

Menyediakan kerangka kerja untuk mengumpulkan dan menganalisa data proses pelayanan
sehingga provider dapat mengetahui seberapa sering dan mengapa seorang pasien tidak
mendapatkan pelayanan sesuai standar.

Mengurangi beban dokumentasi klinik.

MANFAAT

1. Merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu


pelayanan dengan mencegah adanya variasi pelayanan yang tidak perlu
2. Sistem informasi yang terintegrasi akan memudahkan setiap tim kesehatan untuk
dapat mengetahui informasi pasien secara lengkap.
3. Mengurangi pengumpulan data secara berulang-ulang yang dilakukan oleh setiap tim
kesehatan.
4. Konsistensi praktek lebih besar.
5. Kontinuitas peningkatan pelayanan.
6. Pemantauan standar perawatan.
7. Dokumentasi yang baik.
8. Pelaksanan evidence-based best practice.
9. Perbaikan manajemen resiko.
10. Pemberian perawatan berfokus pada pasien.
11. Mendukung infrastruktur kesehatan dengan menyediakan informasi yang relevan,
akurat, dan tepat waktu yang diperlukan untuk memenuhi pemantauan strategis
pelayanan pasien dan outcome.

KELEBIHAN

1. Banyak rumah sakit mulai menerapkan ICP dalam pemberian pelayanan kesehatan
kepada pasien, karena penggunaan ICP memiliki kelebihan antara lain sebagai
berikut:
2. ICP merupakan format pendokumentasian multidisiplin. Format ini dapat
memberikan efisiensi dalam pencatatan, dimana tidak terjadi pengulangan atau
duplikasi penulisan, sehingga kemungkinan salah komunikasi dalam tim kesehatan
yang merawat pasien dapat dihindarkan.
3. Meningkatkan peran dan komunikasi dalam tim multidisiplin sehingga masing-
masing anggota tim termotivasi dalam peningkatan pengetahuan dan kompetensi.
4. Terdapat standarisasi outcome sesuai lamanya hari rawat, sehingga akan tercapai
effective cost dalam perawatan.
5. Dapat meningkatkan kepuasan pasien karena pelaksanaan discharge planning kepada
pasien lebih jelas.

KEKURANGAN

1. Dokumentasi ICP ini membutuhkan waktu yang relative lama dalam pembentukan
dan pengembangannya.
2. Tidak terlihat proses keperawatan secara jelas karena harus menyesuaikan dengan
tahap perencanan medis, pengobatan, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
3. Format dokumentasi hanya digunakan untuk masalah spesifik, contoh format ICP
untuk bedah tulang tidak dapat digunakan untuk unit bedah syaraf. Sehingga akan
banyak sekali format yang harus dihasilkan untuk seluruh pelayanan yang tersedia.

Implikasi dalam Keperawatan

ICP merupakan format dokumentasi multidisplin secara umum yang dapat diterapkan di
Indonesia atas dasar pertimbangan, departemen dan tim kebutuhan untuk memperbaiki
kualitas dokumentasi, kebutuhan untuk mengurangi waktu perawat mencatat, kebutuhan
menghemat biaya, mengurangi duplikasi, mengurangi salah komunikasi, dan penekanan pada
hasil yang ingin dicapai pasien. Kekurangan yang mungkin ditemui dalam format
dokumentasi multidisiplin adalah tidak terlihatnya proses keperawatan secara jelas mulai dari
tahap pengkajian, penetapan diagnosis dan rencana intervensi, implementasi dan evaluasi
keperawatan.

Selain itukeragaman tata letak dan konten yang dimiliki ICP muncul karena ICP dibuat
secara lokal dalam organisasi. Ada beberapa elemen penting yang harus terkandung dalam
ICP dan perlu evaluasi dan audit ICP secara berkesinambungan. Oleh karena itu diperlukan
suatu instrument audit yang baku dan valid yang memiliki mekanisme yang jelas untuk
merekam dan meninjau variasi dari perawatan yang direncanakan, atau meninjau secara
jelas mulai dari tahap pengkajian hingga evaluasi keperawatan, sehingga dapat memfasilitasi
perbaikan ICP secara terus-menerus agar ICP menjadi satu-kesatuan instrument yang valid,
mudah digunakan serta lebih efisisen dibandingkan format pendokumentasian biasanya.
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan dalam tim multidisiplin perlu meningkatkan
kompetensi agar dapat berperan sebagai clinical experts sehingga dapat memanfaatkan ICP
dengan baik dalam pelaksanakan kegiatan pemberian asuhan keperawatan.

Penerapan di Indonesia

Di Indonesia penerapan ICP terkait penerapan INA-DRG yang merupakan versi Departemen
Kesehatan RI untuk Diagnostic Related Group (DRG’s Casemix) yaitu sistem pembiayaan
berdasarkan pendekatan sistem casemix, dimana diharapkan akan muncul efisiensi dan
peningkatan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit (Adisasmito, 2008). Maka, pada tahun
2010 telah dilakukan pertemuan konsolidasi kelompok kerja clinical pathway dalam
pelaksanaan INA-DRG pada 15 rumah sakit vertikal Depkes sebagai Pilot Project di
Indonesia (Depkes, 2010).

Berdasarkan hasil sejumlah studi terkait manfaat ICP, antara lain seperti konsistensi praktek
lebih besar, kontinuitas peningkatan pelayanan, pemantauan standar perawatan, dokumentasi
yang baik, pelaksanan evidence-based best practice meningkatkan kerjasama tim,
mengurangi duplikasi, perbaikan manajemen resiko, dan pemberian perawatan berfokus pada
pasien. Selain itu, ICP dapat mendukung infrastruktur kesehatan dengan menyediakan
informasi yang relevan, akurat, dan tepat waktu yang diperlukan untuk memenuhi
pemantauan strategis pelayanan pasien dan outcome. Agar ICP yang digunakan efektif maka
perlu pengawasan yang ketat dalam perkembangannya. Karenanya ada potensi variabilitas
dalam isi dan kualitas ICP yang sedang dikembangkan. Selain itu diperlukan pula SDM yang
handal sehingga dapat memanfaatkan dan mengembangkan sistem ini dengan baik dan yang
tak kalah penting adalah tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang sehingga ICP
dapat berjalan dengan baik.