Anda di halaman 1dari 7

GANGGUAN AFEKTIF / MOOD

(dr. Innawati Jusup, M.Kes, Sp.KJ --- Yuliana Fajariyanti)

Emosi adalah suatu kompleks keadaan perasaan dengan komponen psikis, somatik dan
perilaku. Ekspresi emosi dapat dinilai sebagai afek dan mood. Mood didefinisikan sebagai
ekspresi emosi yang meresap, menetap, dan bertahan lama yang mewarnai persepsi seseorang
terhadap kehidupannya. Mood dilaporkan oleh pasien dan bersifat subjektif. Afek adalah
ekspresi emosi saat sekarang dan mencerminkan situasi emosi sesaat, yang dapat dinilai
secara objektif oleh pemeriksa, dan bisa tidak konsisten dengan pernyataan dan mood pasien.

Afek dapat dikatakan sesuai (appropriate affect) jika irama emosional pasien harmonis
dengan gagasan, pikiran atau pembicaraan yang menyertai. Sedangkan afek tidak sesuai
(inappropriate affect) adalah irama emosional yang tidak harmonis dengan gagasan, pikiran
atau pembicaraan yang menyertai. Intensitas afek digolongkan menjadi afek terbatas (biasa
pada pasien depresi dan cemas), afek tumpul (pada pasien psikotik) dan afek datar (pada
pasien skizofrenia).

Kelainan fundamental dari kelompok gangguan afektif adalah perubahan suasana perasaan
(mood) atau afek, biasanya kearah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertai), atau
kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat).

Gangguan Afektif dibedakan menurut :


 Episode tunggal atau multipel;
 Tingkat keparahan gejala;
o Mania dengan gejala psikotik  mania tanpa gejala psikotik  hipomania
o Depresi ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik  berat dengan gejala
psikotik
 Dengan atau tanpa gejala somatik;

ETIOLOGI. Dapat berasal dari faktor ketidakseimbangan biokimia hormon tubuh seperti
dopamin (meningkat pada episode mania, menurun pada depresi), serotonin, norepinefrin,
asetilkolin, 5-HT. Dapat juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor psikososial.

Menurut PPDGJ III, yang termasuk gangguan afektif atau mood disebutkan dalam F30-F39 :
I. F30. Episode Manik
II. F31. Gangguan Afektif Bipolar
III. F32. Episode Depresif
IV. F34. Gangguan Suasana Perasaan Menetap
V. F38. Gangguan Suasana Perasaan Lainnya
VI. F39. Gangguan Suasana Perasaan YTT

I. F30. EPISODE MANIK

Terutama ditandai dengan suasana perasaan/ mood meningkat, ekspansif dan iritabel,
terutama bila rencana yang sangat ambisius menemui kegagalan. Seringkali
menunjukan perubahan mood yang menonjol dari eforik pada awal perjalanan
penyakitnya dan kemudian menjadi iritabel. Ditegakkan diagnosis Episode Manik bila
merupakan episode tunggal, bisa berupa:

F30.0 Hipomania; peningkatan mood ringan yang berlangsung selama beberapa hari
berturut-turut, dengan derajat intensitas lebih tinggi dari siklotimia tetapi seberat atau
menyeluruh seperti pada mania. Mirip seperti episode manik kecuali, hipomania tidak
menyebabkan impairment dalam kehidupan sosial dan fungsi okupasi, tidak disertai
halusinasi atau waham.

F30.1 Mania Tanpa Gejala Psikotik; berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu,


cukup berat hingga mengacaukan fungsi okupasi dan aktivitas sosial. Harus disertai
dengan energi yang bertambah, aktivitas berlebihan, percepatan dan banyak bicara,
kebutuhan tidur berkurang, harga diri meningkat, tidak disertai halusinasi atau
waham.

F30.2 Mania dengan Gejala Psikotik; bentuk gejala yang lebih berat dari F30.1
dengan adanya waham kebesaran, waham kejar, peningkatan aktivitas yang dapat
menjurus ke kekerasan, pengabaian kesehatan dan keselamatan diri, terdapat waham
dan halusinasi yang “sesuai” dengan keadaan mood tersebut (mood-congruent).

F30.8 Episode manik lainnya

F30.9 Episode manik YTT

Terapi: Antimanik berupa Karbamazepin dan Valproat.


II. F31. GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Ditandai dengan episode berulang sekurangnya dua episode, dengan episode yang
satu menunjukan peningkatan mood, energi dan aktivitas yang jelas terganggu
(episode mania, hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan mood, energi dan
aktivitas (episode depresi) dengan ciri khas berupa masa remisi diantaranya. Episode
manik mulai dengan tiba-tiba, berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan (rata-
rata 4 bulan). Episode depresi berlangsung lebih lama, rata-rata 6 bulan. Kedua
macam episode ini seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stress atau
trauma mental lain (namun adanya stressor tidak esensial untuk penegakan diagnosis).

Menurut PPDGJ III, Gangguan Afektif Bipolar :


F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Hipomanik
F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik tanpa Gejala Psikotik
F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala Psikotik
F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang
F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa Gejala
Psikotik
F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala
Psikotik
F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran
F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini dalam Remisi
F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

Berdasarkan DSM 5, Gangguan Afektif Bipolar memiliki beberapa tipe :


Bipolar I disorder
Dengan sekurang-kurangnya 1 kali episode Manik terpenuhi sekurang-kurangnya 1
minggu, kriteria episode Depresif Mayor terpenuhi dalam 2 minggu yang sama.
Bipolar II disorder
Dengan sekurang-kurangnya 1 kali episode Hipomanik (mood iritabel, meningkat,
dan ekspansif, aktivitas dan energi meningkat secara abnormal) yang terpenuhi
selama minimal 4 hari berturut-turut sepanjang hari. Tidak pernah ada episode manik.
Terapi Lini I:
Mania akut:
 Litium, Divalproat, Olanzapin, Risperidon, Quetiapin (IR/XR), Klozapin, dan
Aripiprazol
 Kombinasi: Litium/Divalproat (+) Risperidon
 Kombinasi: Litium /Divalproat (+) Aripiprazol
Depresif akut pada Bipolar I :
 Litium, Lamotrigin, Quetiapin (IR/ER)
 Kombinasi: Litium/Divalproat (+) SSRI (Fluoksetin)
 Kombinasi: Olanzapin (+) SSRI
 Kombinasi Litium(+) Divalproat
Depresif akut pada Bipolar II : Quetiapin

III. F32. EPISODE DEPRESIF

Gejala utama episode depresif yaitu :


a) Afek depresif,
b) Kehilangan minat dan kegembiraan (Anhedonis),
c) Berkurangnya energi (Anergia)  mudah lelah dan menurunnya aktivitas.

Gejala lainnya :
 Konsentrasi dan perhatian berkurang
 Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
 Gagasan perasaan bersalah dan tidak berguna, bahkan pada episode ringan
sekalipun
 Pandangan masa depan suram dan pesimistis
 Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
 Nafsu makan berkurang

Lama episode depresif sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, tapi


dapat dibenarkan bila gejalanya luar biasa berat dan berlangsung cepat. Kategori
diagnosis menurut PPDGJ III, episode depresif dibagi menjadi :
F32.0 Episode Depresif Ringan; sekurang-kurangnya 2 gejala utama dan 2 gejala
lainnya, tidak boleh ada gejala berat diantaranya, lamanya seluruh episode
sekurangnya 2 minggu, dan hanya menyebabka sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan
kegiatan sosial.

F32.1 Episode Depresif Sedang; sekurang-kurangnya 2 gejala utama dan 3 gejala


lainnya, lama episode minimal 2 minggu, menghadapi kesulitan nyata untuk
meneruskan kegiatan sosial dan urusan rumah tangga.

F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik; semua gejala utama depresi
harus ada, sekurang-kurangnya 4 gejala lainnya, beberapa harus berintensitas berat.
Lama episode sekurangnya 2 minggu, atau bisa kurang jika gejala sangat berat dan
onset sangat cepat. Tidak mungkin melakukan pekerjaan.

F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik; memenuhi kriteria F32.2,
disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.

F32.8 Episode Depresif Lainnya

F32.9 Episode Depresif YTT

Terapi : Farmakoterapi berupa SSRI (Flouxetine 20 mg) dan Trisiklik (Amitriptiline


25 mg), serta psikoterapi berupa konseling, CBT, suportif.

IV. F33. GANGGUAN DEPRESIF BERULANG

Episode berulang dari depresi tanpa riwayat episode tersendiri dari peningkatan mood
dan hiperaktivitas pada mania. Awitan, keparahan, lamanya, dan frekuensi episode
depresi sangat bervariasi. Lama berlangsung antara 3-12 bulan, rata-rata 6 bulan,
frekuensi lebih jarang dari gangguan bipolar. Ada remisi sempurna antara episode,
seringkali setiap episode dicetuskan oleh stressor. Menurut PPDGJ III :
F33.0 Gangguan Depresi Berulang, Episode Kini Ringan
F33.1 Gangguan Depresi Berulang, Episode Kini Sedang
F33.2 Gangguan Depresi Berulang, Episode Kini Berat tanpa Gejala Psikotik
F33.3 Gangguan Depresi Berulang, Episode Kini Berat dengan Gejala Psikotik
F33.4 Gangguan Depresi Berulang, Episode Kini Remisi
F33.8 Gangguan Depresi Berulang Lainnya
F33.9 Gangguan Depresi Berulang YTT
V. F34. GANGGUAN AFEKTIF MENETAP

F34.0 Siklotimia; cirinya adalah ketidakstabilan menetap dari afek, meliputi banyak
periode depresi ringan dan hipomania ringan berulang setidaknya 2 tahun (menurut
DSM 5), namun tidak dapat memenuhi kriteria Gangguan Afektif Bipolar (F31.) atau
Gangguan Depresif Berulang (F33.). Setiap episode alunan afektif (mood swing) tidak
memenuhi kriteria manapun dalam episode manik (F30.) atau episode depresif (F32.).

Contoh kasus :
Seorang pria, salesman berusia 29 tahun diantar oleh kekasihnya yang mengatakan
bahwa ia memiliki gangguan mood. Dari anamnesa ditemukan bahwa pria tersebut
merasakan siklus mood yang dirasa sebagai mood yang baik dan buruk sejak ia
berusia 14 tahun. Terkadang ia menemui sedikit masalah dalam pekerjaannya dimana
saat moodnya buruk ia sering berargumen dengan pelanggan. Walaupun dikenal
sebagai personal yang baik, ia mengakui bahwa ketika moodnya memburuk ia
memilih untuk menjauh dari lingkungan dan kembali ketika moodnya membaik.

F34.1 Distimia; cirinya adalah afek depresif yang berlangsung sangat lama yang
tidak cukup parah untuk memenuhi kriteria Gangguan Depresif Berulang Ringan
(F33.0) atau Sedang (F33.1) setidaknya selama 2 tahun (menurut DSM 5). Tidak
pernah ada episode manik atau hipomanik, tidak memenuhi kriteria Siklotimia.
Awitan mulai usia dini, berlangsung beberapa tahun dan kadang untuk jangka waktu
yang tidak terbatas.

Contoh kasus :
Seorang pria, 45 tahun seorang pegawai disebuah perusahaan datang ke klinik
mengeluhkan bahwa ia selalu merasa depresi sejak SMP, tanpa adanya mood normal.
Jikapun ada, hanya beberapa hari dan kembali depresi. Keluhan depresinya disertai
dengan adanya lethargia, kesulitan konsentrasi, berkurangnya minat dan merasa
pesimis.

SOAL

1. Seorang wanita 24 tahun dibawa oleh ibunya ke dokter dengan keluhan perubahan
perilaku anaknya yang tiba-tiba mengalami peningkatan mood drastis seperti
kelebihan energi selama 2 bulan, setelah itu kembali normal atau sembuh, lalu
menjadi pemurung dan seperti orang depresi hingga sekarang. Diagnosis pasien :

A. Skizofrenia herbefrenik
B. Gangguan afektif bipolar
C. Episode mania
D. Episode depresif
E. Gangguan waham menetap

2. Seorang laki-laki 25 tahun datang dibawa ayahnya karena sering menyendiri 4 bulan
terakhir, cenderung menarik diri dari pergaulan, hanya berdiam diri di kamar, tidak
mau bekerja, tidak mau makan, suka bermalas-malasan, sulit tidur. Pasien sering
merasa hidupnya sudah tidak berarti, percuma bila hidup dilanjutkan, merasa bersalah
dan sedih. Diagnosis paling mungkin :

A. Skizofrenia herbefrenik
B. Gangguan afektif bipolar
C. Episode mania
D. Episode depresif
E. Gangguan waham menetap

GANGGUAN WAHAM MENETAP


Waham merupakan perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru. Waham memiliki jenis
yang berbagai macam (dibahas pada materi Simptomatologi) dan dapat bervariasi pada tiap
pasien. Oleh sebab itu, penanganan waham terbilang cukup sulit.

F22. Gangguan Waham Menetap meliputi serangkaian gangguan dengan waham-waham


yang berlangsung lama, sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas atau yang paling
mencolok, dan tidak dapat digolongkan sebagai gangguan mental organik, skizofrenik
ataupun gangguan afektif.

Berdasarkan PPDGJ III, diagnosis Gangguan Waham (F22.0) dapat ditegakkan jika :
 Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas klinis atau gejala yang paling
menyolok,
 Telah berlangsung setidaknya 3 bulan,
 Harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat,
 Gejala-gejala depresif atau suatu episode depresif yang lengkap/ “full-blown” (F32.)
mungkin terjadi, dengan syaraf waham-waham tersebut menetap saat tidak terjadi
gangguan afektif itu,
 Tidak boleh ada bukti penyakit otak, tidak boleh ada halusinasi auditorik, tidak ada
riwayat gejala-gejala skizofrenia.