Anda di halaman 1dari 32

CASE BASE DISCUSION

RINOFARINGITIS KRONIK HIPERPLASTIK et LARINGITIS

DISUSUN OLEH :

MARLIS NINENG SARI


01.209.5949
FK UNISSULA

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN THT


RUMAH SAKIT TK.II dr. SOEDJONO MAGELANG
2014

LEMBAR PENGESAHAN
CASE BASE DISCUSSION
RINOFARINGITIS KRONIK HIPERTROFI
Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas
Kepaniteraan Klinik Departemen THT Rumah Sakit Tk.II
dr. Soedjono Magelang

Oleh :

MARLISA NINENG SARI


01.209.5949

Magelang, Mei 2014


Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

(Kolonel CKM dr. Budi Wiranto, Sp.THT )

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan laporan kasus ini. Penulis berharap agar laporan ini dapat
dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan dan instasi.
Dalam penyelesaian laporan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Mayor CKM dr. Budi Wiranto, Sp.THT
2. Teman-teman Departemen stase THT yang selama ini selalu memberikan dukungan
Penulis menyadari bahwa selama penulisan ini, penulis masih mempunyai banyak
kekurangan. Oleh karena itu penulis menerima saran dan kritikan untuk menyempurnakan
laporan ini.

Magelang, Mei 2014

Penulis
BAB I
STATUS PASIEN

II.1. IDENTITAS PASIEN


 Nama : Tn. A
 Usia : 29 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Alamat : Sadangsari
 Pekerjaan : Pekerja layanan travel
 Agama : Islam

II.2. ANAMNESIS
• Keluhan Utama : tenggorokan terasa kering
• Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli THT RST dr.Soedjono tanggal 9 Mei 2014 dengan keluhan
tenggorokan terasa kering yang tak kunjung sembuh sejak 5 bulan yang lalu, nyeri
waktu menelan. Pasien mengaku sejak 2 bulan sering serak dan berat jika digunakan
untuk berbicara. Beberapa bulan terahir sering batuk dan pilek.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien dalam 5 bulan terahir sering mengalami keluhan serupa, riwayat asma (-)
 Riwayat Pengobatan
Tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan, dan belum pernah diobati ke dokter
 Riwayat Penyakit Keluarga:
Dikeluarga tidak ada yang seperti ini
 Riwayat Sosial Ekonomi
Kesan ekonomi cukup, menggunakan

II.3. PEMERIKSAAN FISIK


Status generalisata
 Kesadaran : Compos mentis
 Tanda Vital :
TD : 110/70 mmHg
N : 76 x/min
S : 36.3oC
RR : 20x/min
 Aktivitas : Normoaktif
 Sikap : Kooperatif
 Status gizi : Baik

Status lokalis (THT)


Kepala & leher :
• Kepala : mesocephale
• Wajah : simetris
• Leher : pembesaran kelenjar limfe (-)

TELINGA
Bagian Auricula Dextra Sinistra
Bentuk normal, Bentuk normal
Auricula nyeri tarik (-) nyeri tarik (-)
nyeri tragus (-) nyeri tragus (-)
Bengkak (-) Bengkak (-)
Pre auricular nyeri tekan (-) nyeri tekan (-)
fistula (-) fistula (-)
Bengkak (-) Bengkak (-)
Retro auricular
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Bengkak (-) Bengkak (-),
Mastoid
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Serumen (-) Serumen (-)
CAE hiperemis (-) hiperemis (-)
Sekret (-) Sekret (-)
Membran
Retraksi (-) Retraksi (-)
timpani
HIDUNG DAN SINUS PARANASAL
Luar: Kanan Kiri
Bentuk Normal Normal
Sinus Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Inflamasi/tumor (-) (-)

Rhinoskopi Anterior Kanan Kiri


Sekret (+) serous (+) serous
Mukosa hiperemis (+) hiperemis (+)
edema (-) edema (+)
basah (-) basah (-)
pucat (-) pucat (-)

Konka Media hipertrofi (-) hipertrofi (-)


hiperemis (+) hiperemis (+)
Konka Inferior Hipertrofi (-) Hipertrofi (+)
hiperemis (+) hiperemis (+)
Tumor (-) (-)
Septum Deviasi (-)
Massa (-) (-)

TENGGOROKAN
Lidah Ulcus (-) Stomatitis (-)
Uvula Bentuk normal, di tengah, hiperemis (-)
Tonsil Dextra Sinistra
Ukuran T1 T1
Permukaan Rata Rata
Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Kripte Melebar (-) Melebar (-)
Detritus (-) (-)
Faring  Mukosa sedikit hiperemis (+), dinding tidak rata,
granular (+)
Rinoskopi  Post nasal drip (-)
anterior
Laringoskop  Plika vocalis menebal, dan terdapat oedem di plica
indirect vocalis

II.4. RINGKASAN
o Anamnesis
RPS
o Tenggorokan terasa kering (+)
o Disfagia (+)
o Skret serous (+)
o Suara parau (+)
o Berat jika berbicara (+)
o Demam (-)

RPD
o Pasien dalam 5 bulan terahir sering mengalami keluhan serupa Pemeriksaan Fisik
1. Hidung
Rhinoskopi anterior
o Mukosa dextra et sinistra : hiperemis (+), oedem (+)
o Konka media dan inferior nasalis dextra et sinistra :
 Hiperemis (+)
o Sekret serous (+)
o Deviasi septum (-)
o Hidung tersumbat (+)
2. Tenggorok

o Faring :
- mukosa sedikit hiperemis
- dinding tidak rata
- granular (+)
o Laring
Penebalan plica vocalis , terdapat oedem pada plica vocalis
II.5. USULAN PEMERIKSAAN
 Kultur bakteri+ sensitivitas test

II.6. DIAGNOSIS BANDING


 Rinofaringitis kronik hiperplastik et laryngitis kronik
 Rinofaringitis kronik atrofi et laryngitis kronik

II.7. DIAGNOSIS SEMENTARA


 Rinofaringitis kronik hiperplastik et laryngitis kronik
II.8. USULAN TERAPI:
Nonmedikamentosa
 Rinitis akut
 Faringitis kronik hyperplastik
- Istirahat
- Minur air cukup
- Kumur dengan air hangat
Medikamentosa
 Antibiotic
Cefadroxil 2x500mg
 Antiinflamasi
Dexamethason 3x0,5 mg
 Analgetik
Asamefenamat 3x500mg
 Betadine kumur  Kumur-kumur selama 30 detik. Ulangi tiap 2-4 jam.
 Dekongestan  pseudoefedrin 3x60 mg

 Terapi Operatif
Faringoplasty

II.9. EDUKASI
 Minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter
 Kumur-kumur setelah habis makan rutin
 Meningkatkan kondisi badan dengan asupan gizi yang cukup, serta istirahat yang
cukup
 Jangan banyak berbicara

II.10. PROGNOSA:
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionales : dubia ad malam
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Rinitis

A. Rinitis Akut

Rinitis akut adalah radang akut pada mukosa hidung yang disebabkan oleh infeksi virus atau
bakteri. Selain itu, rinitis akut dapat juga timbul sebagai reaksi sekunder akibat iritasi lokal
atau trauma. Penyakit ini seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang termasuk
ke dalam rinitis akut diantaranya adalah rinitis simpleks, rinitis influenza dan rinitis bakteri
akut supuratif.

1) Rinitis Simpleks

Rinitis simpleks disebut juga pilek, salesma, common cold, dan coryza. Penyakit ini
merupakan penyakit yang paling sering ditemukan pada manusia.(2)

Etiologi

Penyebab rinitis simpleks ialah beberapa jenis virus, yang diklasifikasikan berdasarkan
komposisi biokimia virus. Virus RNA termasuk kelompok seperti rinovirus, virus influenza,
parainfluenza, dan campak. Sedangkan virus DNA termasuk kelompok adenovirus dan
herpes virus.(2)

Gambaran Klinik

Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam, didapatkan rasa panas, kering dan
gatal di dalam hidung. Kemudian memasuki stadium pertama yang biasanya terbatas tiga
hingga lima hari. Pada stadium ini timbul bersin berulang-ulang, hidung tersumbat, sekret
hidung mula-mula encer dan banyak, kemudian menjadi mukoid, lebih kental dan lengket.
Biasanya disertai demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan
membengkak. (1)

Penyakit dapat berakhir pada stadium pertama, namun pada kebanyakan pasien penyakit
berlanjut ke stadium invasi bakteri yang ditandai dengan suatu rinore purulen, sumbatan di
hidung bertambah, demam, sensasi kecap dan bau berkurang dan sakit tenggorokan. Stadium
ini dapat berlangsung hingga dua minggu.

Rinovirus tidak menyebabkan terjadinya kerusakan epitel mukosa hidung, sedangkan


adenovirus dapat menimbulkan kerusakan epitel mukosa hidung.

Terapi

Terapi terbaik pada rinitis virus tanpa komplikasi adalah istirahat, obat-obatan simtomatis
seperti analgetika, antipiretik dan dekongestan.(1) Selama fase infeksi bakteri sekunder, dapat
diberikan antibiotika.(2)

2) Rinitis Influenza

Etiologi

Rinitis influenza disebabkan oleh virus A, B dan C dari golongan ortomiksovirus.(2)

Gambaran Klinik

Gejala yang sering timbul ialah sekret hidung berair, dan hidung tersumbat. Lebih sering
terjadi infeksi bakteri sekunder dan nekrosis epitel bersilia dibandingkan common cold.(2)

Terapi

Terapi rinitis influenza tidak ada yang spesifik, sama dengan rinitis simpleks, terapi terbaik
adalah istirahat, analgetika, antipiretik dan dekongestan, serta antibiotika bila terdapat infeksi
sekunder.

3) Rinitis Bakteri Akut Supuratif

Etiologi
Penyebab rinitis bakteri akut supuratif adalah Pneumococcus, Staphylococcus, dan
Streptococcus.(2)

Gambaran Klinik

Rinitis bakteri akut supuratif merupakan infeksi bakteri sekunder pada rinitis virus. Pada
orang dewasa seringkali disertai sinusitis bakterialis, dan pada anak sering disertai
adenoiditis. Namun pada anak kecil dapat terjadi rinitis bakterialis primer yang gejalanya
mirip common cold.(2)

Terapi

Terapi yang tepat adalah antibiotika, obat cuci hidung, dekongestan dan analgesik.

1. B. Rinitis Kronis

Yang termasuk dalam rinitis kronis adalah rinitis hipertrofi, rinitis sika dan rinitis spesifik.
Meskipun penyebabnya bukan radang, rinitis vasomotor dan rinitis medikamentosa juga
dimasukkan dalam rinitis kronis.

1) Rinitis Hipertrofi

Etiologi

Rinitis hipertrofi dapat timbul akibat infeksi berulang dalam hidung dan sinus, atau sebagai
lanjutan dari rinitis alergi dan vasomotor.

Gambaran Klinis
Gejala utama adalah sumbatan hidung. Sekret biasanya banyak, mukopurulen dan sering ada
keluhan nyeri kepala. Konka inferior hipertrofi, permukaannya berbenjol-benjol ditutupi oleh
mukosa yang juga hipertrofi. (1)

Terapi

Pengobatan yang tepat adalah mengobati faktor penyebab timbulnya rinitis hipertrofi.
Kauterisasi konka dengan zat kimia (nitras argenti atau asam trikloroasetat) atau dengan
kauter listrik dan bila tidak menolong perlu dilakukan konkotomi.(1)

2) Rinitis Sika

Etiologi

Penyakit ini biasanya ditemukan pada orang tua dan pada orang yang bekerja di lingkungan
yang berdebu, panas dan kering. Juga pada pasien dengan anemia, peminum alkohol, dan gizi
buruk.

Gambaran Klinis

Pada rinitis sika mukosa hidung kering, krusta biasanya sedikit atau tidak ada. Pasien
mengeluh rasa iritasi atau rasa kering di hidung dan kadang –kadang disertai epitaksis.

Terapi

Pengobatan tergantung penyebabnya. Dapat diberikan obat cuci hidung.

3) Rinitis Spesifik

Yang termasuk ke dalam rinitis spesifik adalah:

Rinitis Difteri(1)

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae.

Gambaran klinis

Gejala rinitis difteri akut adalah demam, toksemia, limfadenitis, paralisis, sekret hidung
bercampur darah, ditemukan pseudomembran putih yang mudah berdarah, terdapat krusta
coklat di nares dan kavum nasi. Sedangkan rinitis difteri kronik gejalanya lebih ringan.

Terapi

Terapi rinitis difteri kronis adalah ADS (anti difteri serum), penisilin lokal dan intramuskuler.

Rinitis Atrofi

Etiologi

Ada beberapa hal yang dianggap sebagai penyebab rinitis atrofi, yaitu infeksi kuman
Klebsiela, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronis, kelainan hormonal dan
penyakit kolagen.(1)

Gambaran Klinis

Rinitis atrofi ditandai dengan adanya atrofi progresif mukosa dan tulang hidung. Mukosa
hidung menghasilkan sekret kental dan cepat mengering, sehingga terbentuk krusta yang
berbau busuk. Keluhan biasanya nafas berbau, ingus kental berwarna hijau, ada krusta hijau,
gangguan penghidu, sakit kepala dan hidung tersumbat.

Terapi

Karena etiologinya belum diketahui maka belum ada pengobatan yang baku. Pengobatan
dapat diberikan secara konservatif dengan memberikan antibiotika berspektrum luas, obat
cuci hidung, vitamin A dan preparat Fe. Jika tidak ada perbaikan maka dilakukan operasi
penutupan lubang hidung untuk mengistirahatkan mukosa hidung sehingga mukosa menjadi
normal kembali. (1)
Rinitis Sifilis

Etiologi

Penyebab rinitis sifilis adalah kuman Treponema pallidum.

Gambaran klinis

Gejala rinitis sifilis yang primer dan sekunder serupa dengan rinitis akut lainnya. Hanya pada
rinitis sifilis terdapat bercak pada mukosa. Sedangkan pada rinitis sifilis tertier ditemukan
gumma atau ulkus yang dapat mengakibatkan perforasi septum. Sekret yang dihasilkan
merupakan sekret mukopurulen yang berbau.

Terapi

Sebagai pengobatan diberikan penisilin dan obat cuci hidung.

Rinitis Tuberkulosa

Etiologi

Penyebab rinitis tuberkulosa adalah kuman Mycobacterium tuberculosis.

Gambaran Klinis

Terdapat keluhan hidung tersumbat karena dihasilkannya sekret yang mukopurulen dan
krusta. Tuberkulosis pada hidung dapat berbentuk noduler atau ulkus, jika mengenai tulang
rawan septum dapat mengakibatkan perforasi.(3)

Terapi

Pengobatannya diberikan antituberkulosis dan obat cuci hidung.

Rinitis Lepra
Etiologi

Rinitis lepra disebabkan oleh Mycobacterium leprae.

Gambaran Klinis

Gangguan hidung terjadi pada 97% penderita lepra. Gejala yang timbul diantaranya adalah
hidung tersumbat, gangguan bau, dan produksi sekret yang sangat infeksius Deformitas dapat
terjadi karena adanya destruksi tulang dan kartilago hidung.(3)

Terapi

Pengobatan rinitis lepra adalah dengan pemberian dapson, rifampisin dan clofazimin selama
beberapa tahun atau dapat pula seumur hidup.

Rinitis Jamur

Etiologi

Penyebab rinitis jamur, diantaranya adalah Aspergillus yang menyebabkan aspergilosis,


Rhizopus oryzae yang menyebabkan mukormikosis, dan Candida yang menyebabkan
kandidiasis.(3)

Gambaran Klinis

Pada aspergilosis yang khas adalah sekret mukopurulen yang berwarna hijau kecoklatan.
Pada mukormikosis biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri kepala, demam,
oftalmoplegia interna dan eksterna, sinusitis paranasalis dan sekret hidung yang pekat, gelap,
dan berdarah.

Terapi

Untuk terapinya diberikan obat anti jamur, yaitu amfoterisin B dan obat cuci hidung.
4) Rinitis Vasomotor

Etiologi

Rinitis vasomotor adalah gangguan fisiologi mukosa hidung yang disebabkan oleh
bertambahnya aktivitas parasimpatis. Saraf otonom mukosa hidung berasal dari n. vidianus
yang mngandung serat saraf simpatis dan parasimpatis. Rangsangan pada saraf parasimpatis
menyebabkan dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas kapiler
dan sekresi kelenjar. Rangsangan simpatis sebaliknya. Keseimbangan vasomotor ini
dipengaruhi berbagai faktor yang berlangsung temporer seperti emosi, posisi tubuh,
kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani, dsb. Pada pasien rhinitis vasomotor,
saraf parasimpatis cenderung lebih aktif.

Gambaran Klinis

Gejala dari rinitis vasomotor adalah hidung tersumbat tergantung posisi pasien, rinore yang
mucus/serus, jarang disertai bersin dan gatal pada mata, gejala memburuk pada pagi hari
karena adanya perubahan suhu. Mukosa hidung edema, merah gelap, permukaan konka licin
atau berbenjol, sekret mukoid.

Terapi

Pengobatan yang tepat untuk rinitis vasomotor adalah dengan menghindari penyebab,
memberikan obat simtomatis (dekongestan oral, kauterisasi konka yang hipertrofi,
kortikosteroid topikal), konkotomi konka inferior, neurektomi n. Vidianus. (1)

5) Rinitis Medikamentosa

Etiologi

Rinitis medikamentosa adalah kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor
sebagai akibat pemakaian vasokontriktor topical dalam waktu lama dan berlebihan sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yang menetap.
Obat vasokonstriktor topikal dari golongan simpatomimetik akan menyebabkan siklus nasal
terganggu dan dakan berfungsi kembali bila pemakaian dihentikan. Pemakaian vasokontriktor
topical yang berulang dan waktu lama akan menyebabkan terjadinya fase dilatasi ulang
(rebound dilatation) setelah vasokontriksi, sehingga timbul obstruksi. Bila pemakaian obat
diteruskan maka akan terjadi dilatasi dan kongesti jaringan, perttambahan mukosa jaringan
dan rangsangan sel-sel mukoid sehingga sumbatan akan menetap dan produksi sekret
berlebihan.

Selain vasokontriktor topikal, obat-obatan yang dapat menyebabkan edema mukosa


diantaranya adalah asam salisilat, kontrasepsi oral, hydantoin, estrogen, fenotiazin, dan
guanetidin. Sedangkan obat-obatan yang menyebabkan kekeringan pada mukosa hidung
adalah atropin, beladona, kortikosteroid dan derivat katekolamin.

Gambaran Klinis

Pada rhinitis medikamentosa terdapat gejala hidung tersumbat terus menerus, berair, edema
konka.

Terapi

Pengobatan rinitis medikamentosa adalah dengan menghentikan obat tetes/semprot hidung,


kortikosteroid secara penurunan bertahap untuk mengatasi sumbatan berulang, dekongestan
oral.

1. Definisi

Rinitis akut merupakan infeksi saluran napas atas terutama hidung, umumnya disebabkan
oleh virus. Sebagian besar yang mencakup virus, meliputi rhinovirus, Respiratory syncytial
viruses (RSV), virus parainfluenza, virusinfluenza, dan adenovirus.

1. 2. Penyebab

Penyebabnya ialah beberapa jenis virus dan yang paling penting ialah rhinovirus.

Virus-virus lainnya adalah: myxovirus, virus Coxsackie, dan virus ECHO.


Rhinovirus, dikenal ada lebih dari 100 serotipe, adalah penyebab commond cold pada orang
dewasa; sekitar 20 – 40 % kasus commond cold disebabkan virus ini, terutama pada musim
gugur.

1. 3. Gejala Klinis

Permulaan penyakit ini biasanya tiba-tiba dan ditandai dengan rasa kering, gatal, atau rasa
panas di hidung atau nasofaring. Segera timbul menggigil dan malaise, disertai dengan bersin
dan ingus encer. Pada saat ini biasanya tidak disertai demam. Sering terasa nyeri kepala
ringan atau perasaan penuh di antara kedua mata.

Penyakit ini akan berkembang pesat dalam waktu 48 jam dan ditandai dengan suara serak,
mata berair, ingus encer dan berkurang atau hilangnya penciuman dan pengecapan. Gejala
yang paling mengganggu pada pasien ini ialah hidung yang tersumbat. Rasa nyeri yang tidak
terlalu berat disekitar dahi, mata dan kadang-kadang pipi, berhubungan dengan
pembengkakan mukosa hidung.

1. 4. Pencegahan

Tidak ada vaksin efektif melawan colds, dan infeksi tidak mempertimbangkan imunitas.
Pencegahan tergantung kepada

 Lebih sering mencuci tangan, terutama sebelum menyentuh wajah.


 Memperkecil kontak dengan orang-orang yang telah terinfeksi
 Tidak berbagi sapu tangan, alat makan, atau gelas minum.
 Menutup mulut ketika batuk dan bersin

1. 5. Pengobatan

Tidak ada terapi spesifik untuk rhinitis akut, selain istirahat dan pemberian obat-obat
simtomatik, seperti analgetika, antipiretika dan obat dekongestan. Antibiotik hanya diberikan
bila terdapat infeksi sekunder oleh bakteri.

Dekongestan oral mengurangi sekret hidung yang banyak, membuat pasien merasa lebih
nyaman, namun tidak menyembuhkan. Pemberian obat simtomatik oral sangat efektif dengan
diberikan 4 jam sekali, suatu kapsul yang terdiri dari :
 Efedrin sulfat 0,015 g
 Pentobarbital 0,015 g
 Asam asetil salisilat* 0,300 g

*dapat digantikan dengan 300 mg Asetaminofen.

II. Faringitis
 Definisi : Peradangan dinding faring disebabkan oleh virus, bakteri, alergi,
trauma, toksin
 Klasifikasi, Gejala dan Tanda
1. Faringitis Akut
 Faringitis viral penyebabnya : adenovirus, cytomegalovirus,
EBV.
Gejala dan tanda : Demam disertai rinore, mual, nyeri tenggorok
dan sulit menelan
 Faringitis bakteri penyebabnya: streptokokkus beta-hemoliticus.
Gejala dan tanda : nyeri kepala hebat, muntah, kadang disertai
demam suhu tinggi, faring tonsilhiperemis, timbul bercak
petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfe leher anterior
membesar, kenyal dan nyeri
 Faringitis fungal : Penyebab : Candida
Gejala dan tanda : Nyeri menelan, nyeri tenggorok, plak putih pd
orofaring, dan mukosa faring hiperemis
 Faringitis gonore  terjadi pada pasien yang melakukan kontak
orogenital

2. Faringitis Kronik
 Faringitis kronik hiperplastik Terjadi perubahan mukosa dinding
posterior faring
Gejala : tenggorokan kering, gatal, batuk berdahak
Pemeriksaan : tampak mukosa dinding posterior tidak rata
bergranular
 Faringitis kronik atrofi Sering timbul bersamaan dengan rinitis
atrofi
Gejala : tenggorokan terasa kering dan tebal, mulut berbau
Pemeriksaan : mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan
bila diangkat tampak mukosa kering

3. Faringitis Spesifik
 Faringitis Luetika ada 3 stadium :
 Stadium Primer Terdapat pada lidah, palatum mole,tonsil
& dinding posterior faring berbentuk bercak keputihan.
Lama  terbentuk ulkus di daerah faring, tidak nyeri, pem
kel.mandibula
 Stadium Sekunder Eritema pada dinding faring yang
menjalar ke arah laring
 Stadium Tersier Terdapat guma. Predileksi : tonsil dan
palatum

 Faringitis Tuberkulosis
 Proses sekunder dari TB paru
 Gejala
Keadaan umum pasien buruk : anoreksia dan odinofagia
Nyeri hebat ditenggorok
Nyeri ditelinga atau otalgia
Pembesaran KGB servikal
 Diagnosis
Pemeriksaan sputum BTA
Biopsi jaringan yang terinfeksi
 Terapi
Sesuai terapi TB
 Patofisiologi

Laringitis

Anatomi dan fisiologi Laring


Laring atau kotak suara ( voice box) merupakan bagian yang terbawah dari
saluran napas bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung,
dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas atas laring adalah
aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal kartilago krikoid3.
Laring terdiri dari empat komponen dasar anatomi yaitu tulang rawan, otot
intrinsik dan ekstrinsik, dan mukosa8. Bangunan kerangka laring tersusun dari
satu tulang, yaitu tulang hioid yang berbentuk seperti huruf U, yang permukaan
atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh tendon dan
otot-otot. Saat menelan, kontraksi otot-otot ini akan mengangkat laring. Tulang
rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago krikoid,
kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago tiroid. (gambar 1) 3
Gambar 1. Tulang rawan Laring 8
Otot-otot laring dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu otot ekstrinsik dan
intrinsik. Otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan,
sedangkan otot intrinsik menyebabkan gerak bagian-bagian laring sendiri. Otot
4
ekstrinsik laring yang suprahioid ialah M. digastrikus, M. stilohioid, dan M.
milohiodid. Otot yang infrahioid ialah M.sternohioid, M.omohioid, dan
M.tirohioid. sedangkan otot intrinsik laring ialah M.krikoaritenoid lateral,
M.tiroepiglotika, M.vokalis, M.tiroaritenoid, M.ariepiglotika, M.krikotiroid. Otototot
ini terletak di bagian lateral laring. Otot intrinsik laring yang terletak di
bagian posterior ialah M.aritenoid transversal, M.aritenoid oblik dan
M.krikoaritenoid posterior3.
Terdapat tiga kelompok otot laring yaitu aduktor, abduktor dan tensor.
Kelompok otot aduktor terdiri dari M.tiroaritenoid, M.krikoaritenoid lateral, dan
M. interaritenoid. otot tiroaritenoid merupakan otot aduktor dari laring.
Persarafan dari otot-otot aduktor oleh N. laringeus rekuren. Otot-otot tensor
terutama oleh M.krikotiroid didukung M.tiroaritenoid. otot krikotiroid disarafi
oleh cabang eksterna N. laringeus superior. Otot abduktor adalah M.krikoaritenoid
posterior yang disarafi cabang N.laringeus rekuren4. Perdarahan untuk laring
terdiri dari dua cabang yaittu A. laringeus superior dan A.laringeus inferior3.
Gambar 2. Potongan midsagital leher, tampak anatomi laring 8
Gambar 3. Anatomi laring, tampak otot-otot dan kartilago laring. (A)
laring dari posterior, (B) laring dari atas.

Lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare


membentuk plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara
palsu). Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan disebut rima glotis, sedangkan
antara kedua plika ventrikularis disebut rima vestibuli. Plika vokalis dan plika
ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian yaitu vestibulum laring
(supraglotik), glotik dan subglotik3
Laring mempunyai tiga fungsi utama yaitu proteksi jalan napas, respirasi
dan fonasi. Laring membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Saat
bernapas pita suara membuka (gambar 4), sedangkan saat berbicara atau
bernyanyi akan menutup (gambar 5) sehingga udara meninggalkan paru-paru,
bergetar dan menghasilkan suara. 9
Gambar 4. Posisi pita suara saat bernapas9 Gambar 5. Pita suara saat berbicara9
6
Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plika vokalis. Bila plika
vokalis aduksi, maka M.krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah
dan ke depan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat itu M.krikoaritenoid
posterior akan menahan atau menarik kartiago aritenoid ke belakang. Plika vokalis
saat ini dalam kontraksi. Sebaliknya kontraksi M.krikoaritenoid akan mendorong
kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan mengendor. 3
3. Etiologi dan Patofisiologi
Faktor resiko terjadinya masalah pada suara adalah2:
- Merokok (faktor resiko karsinoma laring)
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Refluks gasroesofageal
- Profesi seperti guru, aktor, penyanyi
- Usia
- Lingkungan
Suara parau dapat terjadi secara akut atau kronik. Onset akut lebih sering
terjadi dan biasanya karena peradangan lokal pada laring (laringitis akut).
Laringitis akut bisa disebabkan oleh infeksi viral, infeksi sekunder bakterial.
Apabila tidak ada bukti adanya infeksi, laringitis akut bisa terjadi karena bahan
kimia atau iritan dari lingkungan, atau akibat penggunaan suara berlebih (voice
overuse) pada penyanyi, pengajar, orator, dsb. Onset kronis (laringitis kronis),
dapat disebabkan refluks faringeal, polip jinak, nodul pita suara, papilomatosis
laring, tumor, defisit neurologis, ataupun peradangan kronis sekunder karena asap
rokok atau voice abuse3,4.
Suara parau memiliki banyak penyebab yang prinsipnya menimpa laring
dan sekitarnya mulai dari yang sederhana infeksi saluran pernafasan atas hingga
dengan patologi serius seperti kanker leher dan kepala seperti yang dijelaskan di
bawah ini8
1. Infeksi
Laringitis merupakan penyebab tersering suara parau yang dapat
diakibatkan infeksi virus atau bakteri dan biasanya terjadi bersamaan dengan
7
common cold. Inflamasi menyebabkan pembengkakan jaringan-jaringan laring.
Pembengkakan korda vokalis terjadi pada infeksi saluran napas atas, common
cold, atau pemakaian suara berlebihan. Radang laring dapat akut atau kronik10.
a. Laringitis akut
Laringitis akut merupakan radang mukosa pita suara dan laring kurang
dari tiga minggu. Penyebab radang ini adalah bakteri. Pada radang ini
terdapat gejala radang umum seperti demam, malaise, dan gejala lokal
seperti suara parau sampai tidak bersuara sama sekali (afoni), nyeri
menelan atau berbicara serta gejala sumbatan laring. Pada pemeriksaan
tampak mukosa laring hiperemis, membengkak, terutama di atas dan
bawah pita suara. Terapi yang diberikan berupa istirahat berbicara dan
bersuara selama 2-3 hari., menghirup udara lembab, menghindari iritasi
pada laring dan faring. Antibiotika diberikan jika peradangan berasal dari
paru10,11.
b. Laringitis kronik
Penyakit ini ditemukan pada orang dewasa. Sebagai faktor yang
mempermudah terjadinya radang kronis ini ialah intoksikasi alkohol atau
tembakau, inhalasi uap atau debu yang toksik, radang saluran napas dan
penyalahgunaan suara (vocal abuse). Pada laringitis kronis terdapat
perubahan pada selaput lendir, terutama selaput lendir pita suara. Pada
mikrolaringoskopi tampak bermacam-macam bentuk, tetapi umumnya
yang kelihatan ialah edema, pembengkakan serta hipertrofi selaput lendir
pita suara atau sekitarnya.
Terdapat juga kelainan vaskular, yaitu dilatasi dan proliferasi,
sehingga selaput lendir itu tampak hiperemis. Bila peradangan sudah
sangat kronis, terbentuklah jaringan fibrotik sehingga pita suara tampak
kaku dan tebal, disebut laringitis kronis hiperplastik. Kadang-kadang
terjadi keratinisasi dari epitel, sehingga tampak penebalan pita suara yang
di suatu tempat berwarna keputihan seperti tanduk. Pada tempat keratosis
ini perlu diperhatikan dengan baik, sebab mungkin di bawahnya terdapat
tumor yang jinak atau yang ganas7.
8
Gambar 6. Gambaran laring dan pita suara pada laringitis9
Suara parau juga dapat disebabkan oleh tuberkulosis (TB) dan lues3,10.
2. Lesi jinak pita suara
Lesi jinak pita suara sering terjadi karena penyalahgunaan suara (voice misuse
atau overuse) yang menimbulkan trauma bagi pita suara. Beberapa jenis lesi yan
timbul seperti nodul, polip dan kista9.
a. Nodul pita suara (vocal cord nodule)
Nodul pita suara terbanyak ditemukan pada orang dewasa, lebih banyak
pada wanita dari pria, Terdapat berbagai sinonim klinis untuk nodul vokal
termasuk screamer’s nodule, singer’s node, atau teacher’s node. Nodulus jinak
dapat terjadi unilateral dan timbul akibat penggunaan korda vokalis yang tidak
tepat dan berlangsung lama. Letaknya sering pada sepertiga anterior atau di
tengah pita suara, unilateral atau bilateral. Klinis yang ditimbulkan adalah
suara parau, kadang-kadang disertai batuk. Pada pemeriksaan terdapat nodul di
pita suara sebesar kacang hijau atau lebih kecil, berwarna keputihan (gambar
7). Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan laring tidak langsung/langsung.
Beberapa pasien berespon baik dengan pembatasan dan reedukasi vocal,
namun banyak juga yang memerlukan pembedahan endoskopik. 10,12
9
Gambar 7. Vocal Nodule 13
b. Polip
Polip laring ditemukan pada orang dewasa, lebih banyak pada pria dari
pada wanita, dan sangat jarang didapatkan pada anak. Pada pemeriksaan, polip
paling sering ditemukan di sekitar komisura anterior, tampak bulat, kadangkadang
berlobul, berwarna pucat, mengkilat dengan dasarnya yang lebar di pita
suara, dan tampak kapiler darah sangat sedikit (gambar 8). Pada polip yang
besar, meskipun dasarnya di pita suara, polip ini ditemukan di subglotik. Epitel
di sekitar polip tidak berubah, tidak ada tanda radang. Polip dengan
vaskularisasi yang banyak akan berwarna merah, kadang-kadang terjadi
fibrotik, sehingga tidak tampak mengkilat lagi7.
Pengangkatan bedah harus dilakukan pada satu sisi berturut-turut, untuk
mencegah pembentukan sinekia pada komisura anterior. Pembedahan harus
diikuti menghentikan merokok dan reedukasi vokal. Jika tidak demikian,
mungkin terjadi kekambuhan jaringan polipoid yang tebal sepanjang korda
vokalis12.
Gambar 8. Polip pada pita suara14
10
c. Kista
Kista pita suara merupakan massa yang terdiri dari membran (sakus)
(gambar 9). Kista dapat berlokasi dekat permukaan pita suara atau lebih
dalam, dekat ligament. Sama seperti nodul dan polip, ukuran dan lokasi
mengganggu getaran dari pita suara dan menyebabkan suara parau. Terapi
pembedahan diikuti terapi vokal merupakan terapi yang disarankan15.
Gambar 9. Kista pada pita suara 14
3. Neoplasma
a. Keratosis laring
Pada keratosis laring sebagian mukosa laring terjadi pertandukan, sehingga
tampak daerah yang keputihan yang disebut leukoplakia (gambar 10). Tempat
tersering yang mengalami pertandukan ialah pita suara dan di fosa
interaritenoid. Gejala yang ditemukan adalah suara parau yang persisten. Selain
itu rasa ada yang mengganjal di tenggorok. Stridor atau sesak napas tidak
ditemukan. Sebagai terapi dilakukan pembedahan dengan mikrolaring.
Terdapat 15% dari kasus yang mengalami degenerasi maligna7,16.
11
Gambar 10. leukoplakia pada pita suara17.
b. Karsinoma laring
Suara parau yang persisten atau perubahan suara yang lebih dari dua
hingga 4 minggu pada perokok perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengenali
apakah terdapat kanker laring15. Karsinoma sel squamosa merupakan
keganasan laring yang paling sering terjadi (94%) (gambar 11). Gejala dini
berupa suara parau, dan sesuai dengan keterlibatan, timbul nyeri, dispnea, dan
akhirnya disfagia16. Pilihan terapi yang diberikan meliputi pembedahan, radiasi
dan atau kemoterapi. Ketika kanker laring ditemukan lebih awal maka pilihan
terapi berupa pembedahan atau radiasi dengan angka kesembuhan tinggi, lebih
dari 90% 15.
Gambar 11. Karsinoma Sel Squamosa pada Laring 18
4. Gangguan Neurologi pada laring
Suara parau dapat terjadi berhubungan dengan masalah pada persarafan
dan otot baik dari pita suara atau laring15. Paralisis otot laring dapat disebabkan
gangguan persarafan baik sentral maupun perifer, dan biasanya paralisis motorik
bersamaan dengan paralisis sensorik. Kejadiannya dapat unilateral atau bilateral.
12
Penyebab sentral misalnya paralisis bulbar, siringomielia, tabes dorsalis, multiple
sklerosis. Penyebab perifer misalnya struma, pasca tiroidektomi, limfadenopati
leher, trauma leher, tumor eofagus dan mediastinum, aneurisma aorta3,4.
Paralisis pita suara merupakan kelainan otot intrinsik laring. Secara umum
terdapat lima posisi dari pita suara yaitu posisi median, paramedian, intermedian,
abduksi ringan dan posisi abduksi penuh. Gambaran posisi pita suara dapat
bermacam-macam tergantung dari otot yang terkena3. Banyak dari paralisis pita
suara akan sembuh beberapa bulan, namun ada kemungkinan menjadi permanen,
yang memerlukan tindakan bedah10.
Gambar 12. Paralisis Pita Suara 19
5. Penuaan (Presbylaryngis)
Presbilaringis (vocal cord concavity) merupakan suau keadaan yang
disebabkan penipisan dari otot dan jaringan-jaringan pita suara akibat penuaan.
Pita suara pada prebilaringis tidak sebesar daripada laring normal sehingga tidak
dapat bertemu pada pertengahan, dan akibatnya pasien mengeluh suara menjadi
parau, lemah dan berat. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan pemberian injeksi
lemak atau bahan lain pada kedua pita suara sehingga penutupan dapat lebih
baik19.
Gambar 13. Presbilaringis19
13
6. Perdarahan
Jika terdapat keluhan kehilangan suara mendadak yang sebelumnya
didahului dengan berteriak atau penggunaan suara yang kuat, menunjukkan telah
terjadi perdarahan dari pita suara. Perdarahan pita suara terjadi karena ruptur dari
salah satu pembuluh darah permukaan pita suara dan jaringan lunak terisi dengan
darah. Penanganannya segera dan harus diterapi dengan istirahat suara total dan
pemeriksaan oleh dokter spesialis19.
Gambar 14. Perdarahan Pita Suara 19
7. Refluks gastroesofageal
Hal yang sering juga merupakan penyebab suara serak adalah refluks
gastroesofageal, dimana asam lambung naik ke esofagus dan mengiritasi pita
suara. Banyak pasien dengan perubahan suara yang berkaitan dengan refluks,
tidak mempunyai gejala rasa terbakar di lambung (heartburn). Biasanya, suara
mulai memburuk di pagi hari dan meningkat sepanjang hari. Pasien mungkin
akan merasakan sensasi gumpalan pada tenggorokannya, cairan yang menusuk
tenggorokan, atau adanya keinginan yang kuat untuk membersihkan
tenggorokannya15.
8. Penyebab lain
Penyebab lain dapat berasal dari sistemik seperti kelainan endokrin
(hippotiroid), arthritis rematoid, penyakit granulomatosa, alergi, trauma laring,
alergi2 .
14
4. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. 2,4,8
a. Anamnesis
Setiap pasien dengan suara parau yang menetap lebih dari 2 minggu tanpa
adanya infeksi saluran napas atas memerlukan pemeriksaan. Sangat penting
untuk mengetahui durasi dan karakter perubahan suara.
Riwayat merokok dan minum alkohol, dimana dapat mengiritasi mukosa
mulut dan laring dan beresiko kanker kepala leher
Riwayat pekerjaan, pola/ tipe pemakaian suara seperti menyanyi berteriak
Riwayat penyalahgunaan suara (voice abuse)
Keluhan yang berhubungan meliputi nyeri, disfagia, batuk, susah bernapas
Keluhan refluks gastroesofageal seperti merasakan asam di mulut pada apgi
hari
Penyakit sinonasal (rhinitis alergi atau sinusitis kronik)
Kelainan neurologis
Riwayat trauma atau pembedahan
Riwayat pemakaian obat-obatan seperti ACE inhibitor

b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan kepala dan leher secara keseluruhan, meliputi penilaian
pendengaran, mukosa saluran napas atas, mobilitas lidah dan fungsi saraf
kranial. 15. Pemeriksaan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
Pemeriksaan laringoskopi
Untuk mengidentifikasi setiap lesi dari pita suara seperti kanker, singer’s
node, polip tuberkulosis atau sifilis. Selain itu dapat menilai adanya paralisis
pita suara, yang berhubungan dengan kanker paru, aneurisma aorta dan lainlain.
20
Pemeriksaan kelenjar getah bening
Jika terdapat kelainan dapat menunjukkan neuropati perifer, sindrom
Guillain-Barre, tumor otak atau penyakit serebrovaskuler21.
15
c. Pemeriksaan Penunjang Lainnya15,20
Laringoskopi fibreoptik.
Stroboskopi (videolaryngostroboscopy)
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan gambaran dari pergerakan laring
Pemeriksaan untuk mengukur produksi suara seperti amplitudo, range, pitch
dan efisiensi aerodinamik
Pemeriksaan darah
Meliputi hitung jenis dan LED, fungsi tiroid, nilai C1 esterase inhibitor
untuk pembengkakan pita suara dan diduga angioedema, serta pemeriksaan
reseptor asetilkolin untuk suara parau yang diduga disebabkan miastenia
gravis.
Kultur hidung dan sputum
Foto torak x ray jika ditemukan paralisis pita suara pada pemeriksaan
laringoskopi
CT scan dada
Ct scan dan MRI jika ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologis
USG tiroid untuk mendeteksi kanker tiroid yang menyebabkan paralisis pita
suara
5. Penatalaksanaan
Suara parau dialami lebih dari 3 minggu memerlukan rujukan ke spesialis
telinga hidung dan tenggorok untuk menilai pita suara dan menyingkirkan ke arah
keganasan. Penatalaksanaan suara parau tergantung dari penyebab. Pada banyak
kasus, dapat diterapi dengan istirahat suara dan penggunaan suara yang tepat2,15.
Penanganannya mencakup2:
- Penilaian klinis suara untuk diagnosis yang akurat
- Penatalaksanaan multidisiplin meliputi voice therapists dalam satu team.
Terapi suara dapat dilatih pada pasien untuk memodifikasi perilaku dan
mengeliminasi gangguan suara.
- Terapi pembedahan meliputi bedah mikrolaring. Vocal nodul, polip, kista
memerlukan tindakan kombinasi bedah dan terapi suara
16
6. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut2,10:
- Menghindari dan menghentikan merokok ataupun merokok pasif
- Pasien disarankan juga untuk minum yang banyak untuk mengencerkan
mucus.
- Menghindari agen/bahan yang menimbulkan dehidrasi seperti alkohol, kopi
- Mengontrol refluks gastroesofagus
- Menggunakan suara dengan tepat, tidak bersuara terlalu kuat.
- Menggunakan mikrofon jika diperlukan
- Menghindari bersuara atau bernyanyi ketika suara parau