Anda di halaman 1dari 22

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

PERTEMUAN 5
Nama Sekolah :
Mata Pelajaran : Etika Profesi
Komp. Keahlian : Akuntansi dan Keuangan Lembaga
Kelas/Semester : X/Ganjil
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Materi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Alokasi Waktu : 6 X 45 Menit

A. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar


Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual,
konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja
Perbankan dan Keuangan Mikro pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan
dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga
masyarakat nasional, regional, dan internasional.

2. Keterampilan
Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja
yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang Perbankan dan
Keuangan Mikro. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang
terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif,
produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas
spesifik di bawah pengawasan langsung.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak
mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung.

Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
3.5 Menganalisis Keselamatan dan Keamanan kerja dalam bidang akuntansi dan
keuangan
2. KD pada KI keterampilan
4.5 Melakukan identifikasi faktor resiko bahaya/ kecelakaan kerja untuk mencegah
kecelakaan dalam bekerja

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator KD pada KI pengetahuan
3.5.1 Menjelaskan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
3.5.2 Mengidentifikasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
3.5.3 Menjelaskan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

2. Indikator KD pada KI keterampilan


4.5.1 Mengidentifikasi prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
4.5.2 Mencoba mempraktikka keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui diskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat:
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan
baik dan benar
2. Siswa dapat memahami tujuan dari penerapan K3 di perusahaan sesuai dengan
bidangnya kerjanya secara tanggung jawab
3. Siswa memahami isi undang-undang ketenagakerjaan yang berhubungan dengan K3
dengan tanggung jawab
4. Siswa dapat menentukan jenis bahaya dan kecelakaan di tempat kerja dengan benar
5. Siswa dapat melaksanakan langkah-langkah untuk menghindari atau mengurangi
bahaya/kecelakaan di tempat kerja dengan tepat
6. Siswa dapat mengidentifikasi peraturan pemerintah terkait dengan keselamatan kerja
dan jaminan atau asuransi K3 dengan santun

D. Materi Pembelajaran
A. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Menurut Mondy dan Noe dalam Asep Deni (1995), keselamatan kerja meliputi perlindungan
karyawan dari kecelakaan di tempat kerja, sedangkan kesehatan kerja merujuk kepada terbebasnya
karyawan dari penyakit secara fisik dan mental.
Tempat kerja adalah suatu ruangan atau lapangan yang tertutup dan terbuka, bergerak atau tetap,
tempat tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan usaha.
Kesehatan kerja dapat diuraikan sebagai berikut:
Suatu kondisi fisik, mental, dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan
kesehatan melainkan juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan
pekerjaannya.
Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran beserta praktiknya yang
bertujuan agar pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun
sosial dengan usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan
oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja.

Menurut Flippo, program kesehatan kerja dibedakan menjadi dua, yaitu physical health, dan mental
health.
1. Physical Health
Kesehatan secar fisik dapat dikategorikan seperti berikut ini:
a. Preplacement physical examinations (pemeriksaan jasmani prapenempatan).
b. Periodic physical examination for all key personnel (pemeriksaan jasmani secara
berkala untuk personalia).
c. Voluntary periodic physical examination for all key personnel (pemeriksaan jasmani
secara berkala secara sukarela untuk semua personalia).
d. A well-equipped and staffed medical dispensary (klinik medis yang mempunyai staf
dan perlengkapan yang baik).
e. Availability of trained industrial hygienists and medical personnel (tersedianya
personalia medis dan ahli higienis industry yang terlatih).
f. Systematic and preventive attention devoyed to industrial stresses and strains
(perhatian yang sistematis dan preventif yang dicurahkan pada tekanan dan ketegangan
industrial).
g. Periodic and systematic inspection of previsions for propersanitation (pemeriksaan-
pemeriksaan berkala dan sistematis atas ketentuan untuk sanitasi yang tepat.
2. Mental Health
Kesehatan secara mental dapat dikategorikan seperti berikut ini:
a. Availability of psychiatric specialist and instructions (tersedianya penyuluhan
kejiwaan dan psikiater).
b. Cooperation with outside psychiatric specialist and instructions (kerjasama dengan
spesialis dan lembaga-lembaga psikiater dari luar organisasi).
c. Education of company personnel concerning the nature and importance of the mental
health problem (pendidikan personalia pekerjaan sehubungan dengan hakikat dan
pentingnya kesehatan mental).
d. Development and maintenance of aproper human relations program (pengembangan
dan pemeliharaan program hubungan kemanusiaan yang tepat).

Adapun hal-hal yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
1. Kapasitas kerja
Pada umumnya status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia masih belum memuaskan.
Gambaran status kesehatan masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:
a. 30-40 % masyarakat pekerja kurang kalori protein,
b. 30% menderita anemia gizi, dan
c. 35% kekurangan zat besi tanpa anemia.
Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan
produktivitas yang optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang
ada sebagian besar tidak memiliki kemampuan (skill) yan tinggi sehingga dalam melakukan
tugasnya sering mendapat kendala produktivitas.
2. Beban kerja
Beban kerja meliputi beban fisik dan mental. Beban kerja fisik dan mental harus
diseimbangkan dengan kemampuan pekerja dalam melaksanakannya. Beban kerja yang terlalu berat
atau kemampuan fisik/mental yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita
gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja. Pola kerja yang berubah-ubah menyebabkan
kelelahan yang meningkat akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain
yang turut memperberat beban kerja, antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang
masih relative rendah sehingga pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan.
Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres.
3. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja apabila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja
sehingga dapat menimbulkan kecelakaan kerja (occupational accident), penyakit akibat kerja, dan
penyakit akibat hubungan kerja (occupational disease and work related diseases).
Kesehatan dan keselamatan kerja apabila tidak diperhatikan, baik oleh pekerja maupun pemberi
kerja dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Penyakit akibat kerja (PAK)
timbul akibat suatu proses bekerja di lingkungannya. PAK disebabkan oleh beberapa hal, misalnya
debu (dust), gas (gases), uap (fumes), bising (noise), zat-zat beracun (toxic substances), getaran
(vibration), radiasi (radiation), infeksi kuman atau virus (infectious germs or viruses), suhu panas
atau dingin yang extrim (extremely high or low air pressure).
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi kuat
dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri atas satu agen penyebab yang sudah diakui.
Gagasan WHO dan ILO (1987)- adopsi (1989) work related disease dapat digunakan untuk
penyakit akibat kerja yang sudah diakui dan gangguan kesehatan di mana lingkungan kerja dan
proses kerja merupakan salah satu faktor penyebab yang penting.
Penyebab penting akibat kerja antara lain sebagai berikut.
a. Golongan fisik, misalnya bising, radiasi, suhu eksterm, tekanan udara, vibrasi, dan
penerangan.
b. Golongan kimiawi, meliputi semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas,
larutan, dan kabut.
c. Golongan biologis antara lain bakteri, virus, dan jamur.
d. Golongan fisiologis/ergonomis, antara lain desain tempat kerja dan beban kerja.
e. Golongan psikologis, antara lain stress psikis, kerja yang monoton, dan tuntutan
pekerjaan.
Kriteria umum penyakit akibat kerja, yaitu:
a. Adanya hubungan antara tempat kerja terbuka yang spesifik dan penyakit.
b. Adanya fakta bahwa frekuensi kejadian penyakit pada populasi pekerja lebih tinggi
dari pada masyarakat umum.
c. Penyakit dapat dicegah dengan melakukan tindakan preventif di tempat kerja.

B. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Pada dasarnya program keselamatan dirancang untuk menciptakan lingkungan dan perilaku
kerja yang menunjang keselamatan dan keamanan itu sendiri, membangun dan mempertahankan
lingkungan kerja fisik yang aman yang dapat diubah untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Kecelakaan dapat dikurangi apabila karyawan secara sadar berfikir tentang keselamatan kerja.
Sikap ini akan meresap ke dalam kegiatan perusahaan jika ada peraturan yang ketat dari perusahaan
mengenai keselamatan dan kesehatan.
Tujuan adanya keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk tercapainya keselamatan karyawan
saat sedang bekerja dan setelah bekerja. Imbas dari karyawan yang selamat adalah suatu tujuan
keuntungan bagi perusahaan dan karyawan itu sendiri.
1. Tujuan K3 ditinjau dari perusahaan dan karyawan
a. Tujuan K3 untuk perusahaan, yaitu:
1) Meningkatkan kinerja dan omset perusahaan.
2) Mencegah terjadinya kerugian (total loss control minimum).
3) Memelihara sarana dan prasarana perusahaan.
b. Tujuan K3 untuk karyawan, yaitu:
1) Meningkatkan kesejahteraan jasmani dan rohani karyawan.
2) Meningkatkan penghasilan karyawan dan penduduk sekitarnya.
3) Untuk kinerja yang berkesinambungan.
2. Tujuan K3 ditinjau dari lingkungan
Keselamatan dan kesehatan kerja ditinjau dari sisi lingkungan mempunyai dampak manfaat dan
kerugian sebagai berikut:

a. Manfaat lingkungan yang aman dan sehat.


Jika perusahaan dapat menurunkan tingkat dan beratnya kecelakaan-kecelakaan kerja, penyakit,
dan hal-hal yang berkaitan dengan stres, serta mampu meningkatkan kualitas kehidupan kerja para
pekerja, perusahaan akan semakin efektif. Peningkatan-peningkatan terhadap hal ini akan
menghasilkan beberapa hal, antara lain:
1) Meningkatkan produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang.
2) Meningkatnya efisensi dan kualitas kerja yang lebih berkomitmen.
3) Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.
4) Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena
menurunnya pengajuan klaim.
5) Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya partisipasi
dan rasa kepemilikan.
6) Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan.

b. Kerugian lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak sehat.


Jumlah biaya yang besar sering muncul karena ada kerugian-kerugian akibat kematian dan
kecelakaan di tempat kerja serta kerugian menderita penyakit-penyakit yang berkaitan dengan
kondisi pekerjaan.
3. K3 ditinjau dari lingkungan
Baik aspek fisik maupun sosio-psikologis lingkungan pekerjaan membawa dampak kepada
keselamatan dan kesehatan kerja, antara lain sebagai berikut.
a. Kecelakaan kerja
Perusahaan-perusahaan tertentu atau departemen tertentu cenderung mempunyai tingkat
kecelakaan kerja yang lebih tinggi dari pada lainnya. Beberapa karakteristik dapat menjelaskan
perbedaan tersebut.
1) Organisasi
Tingkat kecelakaan berbeda menurut jenis industri, misalnya pada jenis industri jasa konstruksi
atau industry dengan menggunakan mesin berat, kecelakaan kerja akan terjadi bila pekerja
tersebut tidak menerapkan prosedur keselamatan kerja secarabaik. Pada pekerjaan sebagai
wiraniaga, sekretaris, akuntansi, programmer, jasa boga, dan kecantikan lebih mengedepankan
fungsi ergonomis kerja untuk menghindari terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
2) Pekerja yang mudah celaka
Kecelakaan bergantung pada perilaku pekerja dan tingkat bahaya dalam lingkungan pekerja.
b. Penyakit yang diakibatkan pekerjaan
Sumber-sumber potensial penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerja beragamnya
seperti gejala-gejala penyakit tersebut.
1) Kategori penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan, dalam jangka panjang
bahaya di lingkungan tempat kerja, antara lain dikaitkan dengan kanker kelenar, tiroid, hati,
paru-paru, otak, dan ginjal.
2) Kelompok-kelompok pekerja yang berisiko.
c. Kehidupan kerja berkualitas rendah
Bagi banyak pekerja, kehidupan kerja berkualitas rendah akan menyebabkan kondisi tempat
kerja yang gagal untuk memenuhi minat-minat tertentu, seperti rasa tanggung jawab, keinginan
akan pemberdayaan dan keterlibatan dalam pekerjaan tantangan, harga diri, pengendalian diri,
penghargaan, prestasi, keadilan, keamanan, serta kepastian.
d. Stres pekerjaan
Penyebab umum stres bagi banyak pekerja adalah supervisor (atasan), salary (gaji), security
(keamanan), dan safety (keselamatan). Aturan-aturan kerja yang sempit dan tekanan-tekanan yang
tiada henti untuk mencapai jumlah produksi yang lebih tinggi
adalah penyebab utama stres yang dikaitkan para pekerja dengan supervisor. Berikut ini contoh
penyebab stress kerja yaitu:
1) Perubahan organisasi
Perubahan-perubahan yang dibuat oleh perusahaan biasanya melibatkan sesuatu yang
penting dan disertai ketidakpastian.
2) Tingkat kecepatan kerja
Tingkat kecepatan kerja dapat dikendalikan oleh mesin atau manusia.
3) Lingkungan fisik
Walaupun otomatisasi kantor adalah suatu cara meningkatkan produktivitas, hal itu juga
mempunyai kelemahan-kelemahan yang berhubungan dengan stress.
4) Pekerja yang rentan stress
Manusia memang berbeda dalam memberikan respon terhadap penyebab stress.

e. Kelelahan kerja
Kelalahan kerja adalah sejenis stres yang banyak dialami oleh orang-orang yang bekerja dalam
pekerjaan-pekerjaan pelayanan.

C. Undang-undang Ketenagakerjaan yang berhubungan dengan K3


Menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, pemerintah dan DPR bersama-sama
mengambil kebijakan dengan mengesahkan beberapa undang-undang yang mengatur keselamatan
dan kesehatan kerja. Dasar hukum yang mengatur keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai
berikut:
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Kesehatan Kerja.
2. UU No. 25 tahun 1997 dan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
3. Keputusan presiden No.22 tahun 1993 tentang Penyakit yang timbul Akibat Hubungan Kerja.
Isi undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut secara garis besar diuraikan sebagai berikut.
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Kesehatan Kerja.
Ruang lingkup yang diatur oleh undang-undang ini diatur dalam pasal 2 ayat 1 yang menyebutkan
“Yang diatur oleh undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam
segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara
yang berbeda di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.”
Oleh karena itu, di manapun seseorang bekerja harus selalau dilindungi keselamatan kerjanya sesuai
dengan standar operasional prosedur. Ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat 1 dirinci dalam pasal
2 ayat 2 sebagai berikut:
Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana:
a. Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan atau
instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan atau peledakan;
b. Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut, atau disimpan atau
bahan yang dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun, menimbulkan infeksi,
bersuhu tinggi;
c. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran
rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan perairan, saluran atau terowongan
di bawah tanah dan sebagainya atau di mana dilakukan pekerjaan persiapan.
d. Dilakukan usaha: pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan,
pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan kesehatan.
e. Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan: emas, perak, logam, atau bijih
logam lainnya, baik di permukaan atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan.
f.Dilakukan pengangkutan barang, binatang, atau manusia, baik di darat, melalui terowongan,
di permukaan air, dalam air maupun di udara.
g. Dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, dermaga, dok, stasiun,
atau gudang.
h. Dilakukan penyelamatan, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air.
i. Dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan.
j. Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu tinggi atau rendah.
k. Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan, terkena
pelantingan benda, terjatuh atau terperosot, hanyut atau terpelanting.
l. Dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur, atau lobang.
m. Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, suhu, kotoran, api, asap, uap, gas,
embusan angin, cuaca, sinar, atau radiasi, suara atau getaran.
n. Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah.
o. Dilakukan pemancaran, penyinaran, atau penerimaan radio, radar, televisi, atau
telepon.
p. Dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan, atau riset (penelitian)
yang menggunakan alat teknis.
q. Dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan
listrik, gas, minyak atau air.
r. Diputar film, pertunjukkan sandiwara atau diselenggarakan reaksi lainnya yang memakai
perlatan, instalasi listrik atau mekanik.

Daftar pekerjaan tersebut dapat ditambahkan lagi tempat kerja yang dapat
membahayakan keselamatan dan kesehatan kerja yang dinyatakan dalam ayat 3 sebagai berikut:
“Dengan peraturan perundangan dapat ditunjuk sebagai tempat kerja, ruangan-ruangan atau
lapangan –lapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja
atau yang berada di ruangan atau lapangan itu dan dapat diubah perincian tersebut dalam ayat (2).”
Dalam undang-undang ini diatur mengenai syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
tujuannya untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan; mencegah, mengurangi dan memadamkan
kebakaran; serta mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.

Undang- undang ini juga mengatur hak dan kewajiban tenaga kerja yang terdapat pada bab VII
pasal 14 sebagai berikut:
Kewajiban tenaga kerja dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau
keselamatan kerja;
b. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan;
c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan;
Hak tenaga kerja dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja
yang diwajibkan;
b. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat kesehatan dan keselamatan kerja
serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal
khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat
dipertanggungjawabkan.
Menurut Pasal 13 undang-undang ini berlaku juga untuk semua orang yang memasuki tempat kerja
harus mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perllindungan diri yang
diwajibkan.
Dalam Pasal 14 undang-undang ini mengatur tentang kewajiban pengurus yang dinyatakan sebagai
berikut:
Pengurus diwajibkan:
a. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat
keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai undang-undang ini semua berlaku bagi tempat kerja
yang bersangkutan pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan menurut petunjuk pegawai
pengawas atau ahli keselamatan kerja;
b. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja yang
diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnnya pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan
terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamata kerja.
c. Menyediakan secara Cuma-Cuma, semua alat perllindungan diri yang diwajibkan pada
tenaga kerja berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang
memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut
petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
2. UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Pasal-pasal yang mengatur keselamatan dan kesehatan kerja dalam undang-undang ini adalah:
a. Pasal 35 Ayat 3: “Pemberi kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dalam
mempekerjakan tenaga kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan,
keselamatan, dan kesehatan, baik mental maupun fisik tenaga kerja”
b. Pasal 76 Ayat 2: “ Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang
menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya ataupun
dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai pukul 07.00.”
c. Paragraf 5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pasal 86:
1) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:
a) keselamatan dan kesehatan kerja;
b) moral dan kesusilaan; dan
c) perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama.
2). Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang
optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja
3). Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 dan Ayat 2 dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Pasal 87
1). Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.
2). Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 diatur dalam peraturan pemerintah.
3. Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang timbul Akibat Hubungan
Kerja.
Seseorang yang bekerja pada lingkungan yang mengandung racun yang merusak kesehatan dalam
jangka panjang berdampak pada kesehatannya, seperti penyakit paru akibat menghisap debu yang
mengandung logam, asma, penyakit yang diakibatkan oleh
persenyawaan yang beracun, kanker kulit, dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh racun-racun
di tempat kerja, dalam Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul
Akibat Hubungan Kerja, Pasal 2: “ Setiap tenaga kerja yang menderita penyakit yang timbul karena
hubungan kerja berhak mendapat jaminan kecelakaan kerja, baik pada saat masih dalam hubungan
kerja meupun setelah hubungan kerja berakhir.”
Dengan demikian, walaupun tenaga kerja sudah tidak mempunyai ikatan kerja lagi, tetapi apabila
menurut diagnosis dokter bahwa penyakit yang dideritanya akibat pekerjaan di masa lalu, maka
pemberi kerja wajib memberikan jaminan kecelakaan kerja selama jangka waktu tiga (3) tahun
sejak berakhirnya ikatan kerja.

E. Pendekatan, Strategi dan Metode

 Pendekatan berfikir : Sientific


 Model Pembelajaran : Discovery learning
 Metode Pembelajaran : diskusi dan tanya jawab.

F. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama:
Langkah-Langkah Pembelajaran
Waktu
1. Pendahuluan
1. Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa untuk memulai
pembelajaran
2. Melakukan pengkondisian peserta didik
10
3. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Menit
4. Menyampaikan teknik penilaian yang akan digunakan
5. Menyampaikan metode pembelajaran yang akan digunakan
6. Melakukan Pre test.
2. Kegiatan Inti
A. Pemberian rangsangan Peserta didik melihat tayangan video 155
(Stimulation); Peserta didik duduk berkelompok menit

B. Pernyataan/identifikasi  Guru mempersilahkan siswa untuk melakukan


masalah (problem idetifikasi terhadap tayangan video mengenai :
statement)  Menjelaskan pengertian Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3)
 Menjelaskan hal-hal yang memengaruhi
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
 Menguraikan peran Kesehatan dan
Keselamatan Kerja
 Peserta didik melakukan proses identifikasi
melalui diskusi kelompok dan menulisakan
hasil identifikasinya dalam lembar notulensi.

C. Pengumpulan data (Data  Guru mempersilahkan siswa untuk mencari


Collection) informasi dan data data tambahan dari buku
sumber serta internet.
 Siswa melakukan proses pengumpulan data
dan informasi dari buku sumber dan internet,
lalu mencatatkannya pada
lembar notulensi.
 Peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya
untuk mengasosiasi seluruh data yang telah
dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan.

D. Pembuktian  Guru membimbing peserta didik untuk


(verification) mengomunikasikan hasil jawabannya melalui
diskusi kelas.
 Peserta didik menjawab seluruh
pertanyaan dan mengomunikasikan hasil
jawaban kepada kelompok yang lain dan
didiskusikan.

E. Menarik kesimpulan  Guru mempersilahkan siswa secara


(generalization) berkelompok untuk membuat kesimpulan
mengenai materi yang dikaji.
 Siswa secara berkelompok membuat
kesimpulan terhadap materi yang dikaji dan
menuliskannya dalam lembar notulensi.
 Siswa (perwakilan kelompok)
mempresentasikan hasil kesimpulannya di
depan kelas secara bergiliran mengenai materi
yang dikaji
 Siswa dari kelompok lain menanggapi
presentasi.
 Siswa antar kelompok berdiskusi
untuk menghasilkan kesimpulan yang paling
tepat.
 Guru membimbing peserta didik untuk
menyimpulkan jawaban yang benar atas
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
 Peserta didik menyimpulkan jawaban
yang benar atas pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan

3. Penutup (15 menit)


1. Guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan jawaban yang benar atas pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan.
2. Guru memberikan konfirmasi dan penguatan terhadap kesimpulan dari hasil pembelajaran.
3. Guru memberikan evaluasi (post test) dan menyuruh siswa secara individu untuk
mengerjakannya.
4. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan pada siswa untuk mempelajari
materi berikutnya.
5. Guru menyuruh salah satu siswa untuk memimpin doa penutup.

Pertemuan Kedua:
Langkah-Langkah Pembelajaran
Waktu
1 Pendahuluan
1. Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa untuk memulai
pembelajaran
2. Melakukan pengkondisian peserta didik 10
3. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Menit
4. Menyampaikan teknik penilaian yang akan digunakan
5. Menyampaikan metode pembelajaran yang akan digunakan
6. Melakukan Pre test.
2. Kegiatan Inti
A. Pemberian rangsangan Peserta didik melihat tayangan video 65
(Stimulation); Peserta didik duduk berkelompok menit

B. Pernyataan/identifikasi  Guru mempersilahkan siswa untuk


masalah (problem statement) melakukan idetifikasi terhadap
tayangan video mengenai :
 Menerangkan tujuan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja
 Menguraikan Undang-undang
Ketenagakerjaan yang berhubungan
dengan Kesehatan dan Keselamatan
Kerja
 Peserta didik melakukan proses
identifikasi melalui diskusi kelompok
dan menulisakan hasil identifikasinya
dalam lembar notulensi.

C. Pengumpulan data (Data  Guru mempersilahkan siswa untuk


Collection) mencari informasi dan data data
tambahan dari buku sumber serta
internet.
 Siswa melakukan proses pengumpulan
data dan informasi dari buku sumber
dan internet, lalu mencatatkannya
pada
lembar notulensi.
 Peserta didik berdiskusi dalam
kelompoknya untuk
mengasosiasi seluruh data
yang telah dikumpulkan untuk
menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan.

D. Pembuktian  Guru membimbing peserta


(verification) didik untuk mengomunikasikan hasil
jawabannya melalui diskusi kelas.
 Peserta didik menjawab
seluruh pertanyaan dan
mengomunikasikan hasil jawaban
kepada kelompok yang lain dan
didiskusikan.

E. Menarik kesimpulan  Guru mempersilahkan siswa


(generalization) secara berkelompok untuk membuat
kesimpulan mengenai materi yang
dikaji.
 Siswa secara berkelompok
membuat kesimpulan terhadap materi
yang dikaji dan menuliskannya dalam
lembar notulensi.
 Siswa (perwakilan kelompok)
mempresentasikan hasil
kesimpulannya di depan kelas secara
bergiliran mengenai materi yang dikaji
 Siswa dari kelompok lain
menanggapi presentasi.
 Siswa antar kelompok
berdiskusi untuk menghasilkan
kesimpulan yang paling tepat.
 Guru membimbing peserta
didik untuk menyimpulkan jawaban
yang benar atas pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan.
 Peserta didik menyimpulkan
jawaban yang benar atas pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan
3. Penutup (15 menit)
1. Guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan jawaban yang benar atas pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan.
2. Guru memberikan konfirmasi dan penguatan terhadap kesimpulan dari hasil pembelajaran.
3. Guru memberikan evaluasi (post test) dan menyuruh siswa secara individu untuk
mengerjakannya.
4. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan pada siswa untuk mempelajari
materi berikutnya.
5. Guru menyuruh salah satu siswa untuk memimpin doa penutup.

G. Alat/Bahan dan Media Pembelajaran


Media Pembelajaran : Proyektor

H. Sumber Belajar
Berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;

I. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik Penilaian
a. Assesment Sikap
Rubrik assesmen untuk sikap kooperatif
Nama : ………………………………
Tugas ke : ………………………………

No. Keterampilan Kooperatif Bobot Skor Nilai

1. Menghargai pendapat orang lain 15


2. Mengambil giliran dan berbagai tugas 15
3. Mendorong orang lain untuk berbicara 15
(partisipatif)
4. Mendengarkan secara aktif 5
5. Bertanya 15
6. Berada dalam tugas 15
7. Memeriksa ketepatan 5
8. Memberi repons 15

Jumlah 100

Petunjuk:
Skor : 0,1,2,3,4,5
Nilai Akhir : (Bobot x Skor) : 5
b. Assesment Pengetahuan
1. Rubrik assesmen untuk tugas siswa
Sifat Tugas : Individual/Kelompok
Nama : ……………………………..
Tugas Ke : ……………………………..

Aspek
No. Indikator Bobot Skor Nilai
Penilaian
1. Pemahaman Tingkat pemahaman 15
siswa terhadap tugas yang
dikerjakan

2. Argumentasi Alasan yang diberikan 25


siswa dalam menjelaskan
persoalan dalam tugas
yang dikerjakan

3. Kejelasan a. Tersusun dengan 5


baik 5
b. Tertulis dengan 5
baik
c. Mudah dipahami
4. Informasi a. Akurat 15
b. Memadai 15
c. Penting 15

Jumlah 100

Petunjuk:
Skor : 0,1,2,3,4,5
Niali Akhir : (bobot x skor) : 5

2. Rubrik assesmen untuk kuis


Assesmen untuk kuis disesuaikan dengan materi, dan model kuis yang diberikan guru.
baik itu model pilihan ganda maupun essay. Pemberian bobot penilaian juga disesuaikan
dengan banyaknya soal dari kuis tersebut.

c. Assesment Ketrampilan
3. Rubrik assesmen untuk presentasi
Sifat Tugas : Individu/Kelompok
Nama : ……………………………….
Tugas Ke : ……………………………….

No. Komponen Bobot Skor Nilai

1 Penguasaan Materi
a. Kemampuan konseptualisasi 15
b. Kemampuan menjelaskan 15
c. Kemampuan berargumentasi 20

2 Penyajian
a. Sistematika penyajian 15
b. penyampaian 15

3 Komunikasi Verbal
a. Penggunaan bahasa 10
b. Intonasi dan tempo 10
Jumlah 100

Petunjuk :
Skor : 0,1,2,3,4,5
Nilai Akhir : (bobot x skor) : 5

4. Rubrik assesmen untuk tanya jawab


Penilaian Siswa Penilaian Guru
No. Nama Siswa
Pertanyaan Jawaban Pertanyaan Jawaban

1 ………………….
2 ………………….
3 Dan seterusnya

Kriteria Indikator Jawaban Indikator Pertanyaan

80 - 100 Jawaban relevan, faktual, Pertanyaan struktural


konseptual
Disampaikan secara logis Pertanyaan prosesuai

60 – 79 Jawaban relevan, faktual, Pertanyaan deklaratif


konseptual
Tidak disampaikan secara
logis

< 59 Jawaban tidak relevan Pertanyaan tidak relevan

2. Instrumen Penilaian
a.Teknik : Non Test dan Test
b. Bentuk :
 Penilaian pengetahuan : Tes lisan
 Penilaian keterampilan : sikap/etika siswa selama proses pembelajaran
kemampuan komunikasi

PENILAIAN PENGETAHUAN
 TES TERTULIS : ESSAY
Kisi-kisi soal
Indikator
Kompetensi Tujuan Jenis
Pencapaian Indikator Soal Soal
Dasar Pembelajaran Soal
Kompetensi
3.5Menganalisis 3.5.1 Menjelaska 1. Siswa dapat 1. Peserta didik Essay 1. Jelaskan
Keselamatan n menjelaskan dapat pengertian
dan keselamatan pengertian menjelaskan keselamatan
pengertian dan kesehatan
Keamanan dan keselamatan dan
keselamatan dan kerja (K3)!
kerja dalam kesehatan kesehatan kerja kesehatan kerja 2. Sebutkan
bidang kerja (K3). (K3) dengan baik (K3) tujuan dari
akuntansi dan 3.5.2 Mengidentif dan benar 2. Peserta didik penerapan K3
keuangan ikasi 2. Siswa dapat dapat tujuan dari di perusahaan!
4.5 Melakukan keselamatan memahami tujuan penerapan K3 di 3. Jelaskan isi
identifikasi perusahaan undang-undang
dan dari penerapan K3
faktor resiko 3. Peserta didik ketenagakerjaa
kesehatan di perusahaan dapat n yang
bahaya/
kerja (K3). sesuai dengan menjelaskan isi berhubungan
kecelakaan
3.5.3 Menjelaska bidangnya kerjanya undang-undang dengan K3!
kerja untuk
mencegah n prosedur secara tanggung ketenagakerjaan 4. Sebutkan jenis
kecelakaan keselamatan jawab yang bahaya dan
dalam bekerja dan 3.Siswa berhubungan kecelakaan di
kesehatan dengan K3 tempat kerja!
memahami isi
4. Peserta didik 5. Sebutkan
kerja (K3). undang-undang dapat langkah-
4.5.1 Mengidentif ketenagakerjaan menentukan langkah untuk
ikasi yang berhubungan jenis bahaya dan menghindari
prosedur dengan K3 dengan kecelakaan di atau
keselamatan tanggung jawab tempat kerja mengurangi
dan 4. Siswa dapat 5. Peserta didik bahaya/kecelak
kesehatan melaksanakan aan di tempat
menentukan jenis
kerja (K3). langkah-langkah kerja!
bahaya dan untuk 6. Sebutkan
4.5.2 Mencoba
kecelakaan di menghindari peraturan
mempraktik
tempat kerja atau mengurangi pemerintah
kan bahaya/kecelaka terkait dengan
dengan benar
keselamatan an di tempat keselamatan
5. Siswa dapat
dan kerja kerja dan
melaksanakan
kesehatan 6. Peserta didik jaminan atau
langkah-langkah
kerja (K3). dapat asuransi K3!
untuk menghindari menyebutkan
atau mengurangi peraturan
bahaya/kecelakaan pemerintah
di tempat kerja terkait dengan
dengan tepat keselamatan
kerja dan
6. Siswa dapat
jaminan atau
mengidentifikasi asuransi K3
peraturan
pemerintah terkait
dengan
keselamatan kerja
dan jaminan atau
asuransi K3
dengan santun

Kunci Jawaban :
1. Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja, biasa disingkat K3 adalah suatu upaya guna
memperkembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau
pengurus dan tenaga kerja dalam tempat – tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan
kewajiban bersama dibidang keselamatan, kesehatan, dan keamanan kerja dalam rangka
melancarkan usaha berproduksi
2. Tujuan dari penerapan K3 di perusahaan adalah:
Dalam pelaksanaannya K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja
yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau
bebas dari kecelakaan dan PAK yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan
produktifitas kerja
3. Isi undang-undang ketenagakerjaan yang berhubungan dengan K3 adalah :
Isi undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut secara garis besar diuraikan sebagai berikut.
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Kesehatan Kerja.
Ruang lingkup yang diatur oleh undang-undang ini diatur dalam pasal 2 ayat 1 yang menyebutkan
“Yang diatur oleh undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam
segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara
yang berbeda di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.”
Oleh karena itu, di manapun seseorang bekerja harus selalau dilindungi keselamatan kerjanya sesuai
dengan standar operasional prosedur. Ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat 1 dirinci dalam pasal
2 ayat 2 sebagai berikut:
Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana:
a. Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan atau
instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan atau peledakan;
b. Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut, atau disimpan atau bahan
yang dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu
tinggi;
c. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran rumah,
gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan perairan, saluran atau terowongan di bawah
tanah dan sebagainya atau di mana dilakukan pekerjaan persiapan.
d. Dilakukan usaha: pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan, pengolahan
kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan kesehatan.
e. Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan: emas, perak, logam, atau bijih logam
lainnya, baik di permukaan atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan.
f. Dilakukan pengangkutan barang, binatang, atau manusia, baik di darat, melalui terowongan,
di permukaan air, dalam air maupun di udara.
g. Dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, dermaga, dok, stasiun, atau
gudang.
h. Dilakukan penyelamatan, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air.
i. Dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan.
j. Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu tinggi atau rendah.
k. Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan, terkena
pelantingan benda, terjatuh atau terperosot, hanyut atau terpelanting.
l. Dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur, atau lobang.
m. Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, suhu, kotoran, api, asap, uap, gas, embusan
angin, cuaca, sinar, atau radiasi, suara atau getaran.
n. Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah.
o. Dilakukan pemancaran, penyinaran, atau penerimaan radio, radar, televisi, atau telepon.
p. Dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan, atau riset (penelitian) yang
menggunakan alat teknis.
q. Dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan listrik, gas,
minyak atau air.
r. Diputar film, pertunjukkan sandiwara atau diselenggarakan reaksi lainnya yang memakai
perlatan, instalasi listrik atau mekanik.
Daftar pekerjaan tersebut dapat ditambahkan lagi tempat kerja yang dapat
membahayakan keselamatan dan kesehatan kerja yang dinyatakan dalam ayat 3 sebagai berikut:
“Dengan peraturan perundangan dapat ditunjuk sebagai tempat kerja, ruangan-ruangan atau
lapangan –lapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja
atau yang berada di ruangan atau lapangan itu dan dapat diubah perincian tersebut dalam ayat (2).”
Dalam undang-undang ini diatur mengenai syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
tujuannya untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan; mencegah, mengurangi dan memadamkan
kebakaran; serta mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.

Undang- undang ini juga mengatur hak dan kewajiban tenaga kerja yang terdapat pada bab VII
pasal 14 sebagai berikut:
Kewajiban tenaga kerja dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau
keselamatan kerja;
b. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan;
c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan;
Hak tenaga kerja dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
c. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja
yang diwajibkan;
d. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat kesehatan dan keselamatan kerja
serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal
khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat
dipertanggungjawabkan.
Menurut Pasal 13 undang-undang ini berlaku juga untuk semua orang yang memasuki tempat kerja
harus mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perllindungan diri yang
diwajibkan.
Dalam Pasal 14 undang-undang ini mengatur tentang kewajiban pengurus yang dinyatakan sebagai
berikut:
Pengurus diwajibkan:
d. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat
keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai undang-undang ini semua berlaku bagi tempat kerja
yang bersangkutan pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan menurut petunjuk pegawai
pengawas atau ahli keselamatan kerja;
e. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja yang
diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnnya pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan
terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamata kerja.
f. Menyediakan secara Cuma-Cuma, semua alat perllindungan diri yang diwajibkan pada
tenaga kerja berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang
memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut
petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
2. UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Pasal-pasal yang mengatur keselamatan dan kesehatan kerja dalam undang-undang ini adalah:
d. Pasal 35 Ayat 3: “Pemberi kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dalam
mempekerjakan tenaga kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan,
keselamatan, dan kesehatan, baik mental maupun fisik tenaga kerja”
e. Pasal 76 Ayat 2: “ Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang
menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya ataupun
dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai pukul 07.00.”
f. Paragraf 5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pasal 86:
1) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:
a) keselamatan dan kesehatan kerja;
b) moral dan kesusilaan; dan
c) perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama.
2). Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang
optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja
3). Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 dan Ayat 2 dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Pasal 87
1). Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.
2). Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 diatur dalam peraturan pemerintah.
3. Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang timbul Akibat Hubungan
Kerja.

4. Jenis bahaya dan kecelakaan di tempat kerja adalah :


Bahaya Benda Bergerak (Kinetic Hazards), yang berasal dari:
1. Benda yang bergerak lurus/linear movement (mesin penempa, mesin potong, ban
berjalan, mobil, dll.);
2. Benda bergerak berputar/rotation (roda, roda gigi, crane, gerinda, katrol, dll.);
3. Benda bergerak tak beraturan (debu, percikan metal/partikel/zat kimia, semprotan
bertekanan, dll.);
4. Pengangkatan/pengangkutan (beban yang terlalu berlebihan beratnya atau
kecepatannya, dll.).

Bahaya Benda Diam (Static Hazards), yang berasal dari:


1. Bahaya perbedaan elevasi atau gravitasi (printer yang diletakkan diatas lemari kerja
sedangkan posisi pekerja berada dibawahnya);
2. Bahaya air (terlalu dalam, terlalu dingin, terlalu panas);
3. Bahaya kerusakan perkakas/sarana kerja;
4. Bahaya konstruksi (jembatan/perancah ambruk, dll.);
5. Bahaya pemasangan (sambungan/baut tidak kuat, dll.).

Bahaya Benda Fisik (Physical Hazards), yang berasal dari:


1. Cahaya yang intensitasnya terlalu tinggi atau rendah (terlalu terang, gelap, remang-remang,
dll.);
2. Suara bising melebihi ambang batas;
3. Suhu terlalu panas atau terlalu dingin (ruang, benda);
4. Tekanan terlalu tinggi atau rendah;
5. Radiasi elektromagnetis (ultra violet, infrared, dll.);
6. Radiasi ionisasi (rontgen, radioactive/nuklir, dll.),
7. Getaran benda bekerja dan getaran lingkungan kerja yang melampaui ambang batas.
Bahaya Listrik (Electrical Hazards), yang berasal dari:
1. Tersentuh;
2. Kegagalan alat pengamannya (fuse, grounding, breaker, dsb.);
3. Kelebihan beban penggunaan;
4. Loncatan bunga api;
5. Isolasi yang tidak sempurna, dll.

Bahaya Kimiawi (Chemical Hazards), yang berasal dari:


1. Kebakaran/ledakan;
2. Bahaya keracunan gas/uap/kabut (mist/uap - fumes/debu/asap);
3. Bahaya korosif (zat asam, basa, alkali, dll.)
4. Pestisida, dll.

5. Langkah-langkah untuk menghindari atau mengurangi bahaya/kecelakaan di tempat kerja!


Pendekatan terhadap kelemahan pada unsur manusia, antara lain :
a. Pemilihan / penempatan pegawai secara tepat agar diperoleh keserasian antara bakat
dan kemampuan fisik pekerja dengan tugasnya.
b. Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan
pekerjaannya.
c. Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertndak sesuai dengan keperluan
perusahaan.
d. Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas.
e. Pengawasan dan disiplin yang wajar.
Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat keras, antara lain :
a. Perancangan, pembangunan, pengendalian, modifikasi, peralatan kilang,
mesin-mesin harus memperhitungkan keselamatan kerja.
b. Pengelolaan penimbunan, pengeluaran, penyaluran, pengangkutan,
penyusunan, penyimpanan dan penggunaan bahan produksi secara tepat sesuai
dengan standar keselamatan kerja yang berlaku.
c. Pemeliharaan tempat kerja tetap bersih dan aman untuk pekerja.
d. Pembuangan sisa produksi dengan memperhitungkan kelestarian lingkungan.
e. Perencanaan lingkungan kerja sesuai dengan kemampuan manusia.
Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat lunak, harus melibatkan seluruh level
manajemen, antara lain :
a. Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari safety policy.
b. Penentuan struktur pelimpahan wewenang dan pembagian tanggung jawab.
c. Penentuan pelaksanaan pengawasan, melaksanakan dan mengawasi sistem/prosedur
kerja yang benar.
d. Pembuatan sistem pengendalian bahaya.
e. Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang terpadu.
f. Penggunaan standard/code yang dapat diandalkan.
g. Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan yang ada.

6. Peraturan pemerintah terkait dengan keselamatan kerja dan jaminan atau asuransi K3
adalah:
1) Peraturan Pemerintah Tahun 1930 : Tentang Peraturan Uap.
2) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 : Tentang Pengawasan atas Peredaran,
Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida.
3) Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1973 : Tentang Pengaturan dan Pengawasan
Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan.
4) Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1979 : Tentang Keselamatan Kerja pada
Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi.
5) Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 : Tentang Penyelenggaraan Program
Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
6) Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2004 : Tentang Pengelolaan Dan Investasi Dana
Program Jamsostek.
7) Peraturan Pemerintah No. 01 Tahun 2005 : Tentang Penangguhan Mulai Berlakunya
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
8) Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2005 : Tentang Perubahan Keempat Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan
Sosial Tenaga Kerja.
9) Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2007 : Tentang Tata Cara Memperoleh Informasi
Ketenagakerjaan Dan Penyusunan Serta Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja.
10) Peraturan Pemerintah No.76 Tahun 2007 : Tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja.
11) Peraturan Pemerintah No. 84 Tahun 2010 tentang Perubahan Ketujuh atas Peraturan
Pemerintah No. 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga
Kerja.
12) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
13) Peraturan Pemerintah Republik indonesia No. 53 Tahun 2012 Tentang Perubahan
Kedelapan Atas Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 Tentang Penyelenggaraan
Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Kriteria Penskoran :
No. Soal Skor
1 10
2 20
3 20
4 20
5 20
6 10

Jadi skor ideal = 100


Sk∨Pe rolehan
¿ LAI= X 10 0
10 0

PENILAIAN KETERAMPILAN
 Presentasi kelompok

Indikator penilaian keterampilan :


4.5.2 Mencoba mempraktikkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Instrumen :

1. Buatlah kelompok yang masing-masing terdiri atas 4 orang anggota


2. Pilihlah salah satu anggota untuk menjadi ketua
3. Mintalah surat pengantar ke sekolah untuk melakukan observasi lapangan
4. Masing-masing kelompok berkunjung ke sebuah perusahaan terdekat dan masing-masing
kelompok menuju perusahaan yang berbeda
5. Temuilah karyawan yang menangani K3 dengan mengikuti prosedur yang berlaku di perusahaan
tersebut
6. Bertanyalah dengan sopan dengan petunjuk angket yang telah dibuat
7. Buatlah laporan hasil kunjungan tersebut

 KRITERIA PENILAIAN

Aspek yang dinilai Skor


Ketepatan Ketepatan
No. Nama/Kelompok Tampilan ketatabahasaan Perolehan
sasaran waktu
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Keterangan :
Point Keterangan Aspek Yang Dinilai
Tampilan Ketatabahasaan Ketepatan Ketepatan waktu
sasaran
1 Kurang menarik Kurang sistematis Kurang tepat Kurang tepat
2 Cukup menarik Cukup sistematis Cukup tepat Cukup tepat
3 Menarik Sistematis Tepat Tepat
4 Sangat menarik Sangat sistematis Sangat tepat Sangat tepat