Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KEBIDANAN NIFAS

“Gangguan Hubungan Seksual Dan Kenyamanan Ibu nifas”


Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Nifas
Program Studi Kebidanan
Dosen : Yuli Farida SST, M.Keb

Disusun Oleh:

Kelompok 4 Jalum 2B

Intan Laelatul Qodriyah (NIM : P17324416049)


Dessy Fitri H (NIM : P17324416055)
Tri Cahnia (NIM : P17324416070)
Suci Mutiara (NIM : P17324416040)
Ria Astria Dora (NIM : P17324416068)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN


KESEHATAN R.I BANDUNG PRODI KEBIDANAN
KARAWANG
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang asuhan kebidanan nifas.

Terima kasih kami ucapkan kepada Yuli Farida SST, M.Keb selaku dosen asuhan
kebidanan nifas yang telah memberikan saran dan bimbingannya. Selain itu, kami
menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan
sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan laporan ini. Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
mahasiswi kebidanan.

Karawang, Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang ...................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................1
1.3 Tujuan ................................................................................................................2
1.4 Manfaat ..............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................3

2.1 Gangguan seksual pada ibu nifas .......................................................................3

2.2 Kenyamanan ibu nifas ........................................................................................9

BAB III PENUTUP ..............................................................................................13

3.1 Simpulan ..........................................................................................................13


3.2 Saran .................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................14


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa nifas disebut juga masa pasca salin atau puerperium ialah masa
enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan
normal sebelum hamil (Bobak et al, 2005: 492)
Masa nifas merupakan masa pemulihan dari sembilan bulan kehamilan dan proses
melahirkan, masa nifas dimulai dari lahirnya plasenta sampai pulihnya alat-alat
kandungan. Menurut sumber data yang didapat, diketahui bahwa 60% kematian
ibu hamil terjadi ketika setelah melahirkan dan 50% kematian ibu pada masa nifas
terjadi pada 24 jam setelah melahirkan. Jumlah nominal angka kematian ibu di
Indonesia (AKI) menduduki peringkat pertama di ASEAN, hal ini bukan
meruapakan suatu kebanggan akan tetapi sesuatu yang menjadikan Indonesia
sendiri harus berbenah dan mencari solusi dari masalah ini.
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas adalah sebuah asuhan yang diberikan kepada
ibu setelah melahirkan sampai 42 hari yakni ketika alat-alat kandungan pulih
seperti semula sesua dengan kebutuhan dan tepat sasaran. Tujuan dilakukannya
asuhan masa nifas adalah menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik secara fisik
maupun psikologis, mendeteksi masalah dan mengobati keadaan patologis yang
mungkin terjadi, memberikan pendidikan kesehatan dan juga memberikan
pelayanan keluarga berencana (KB).

1.2 Rumusan masalah


Adapun rumusan masalah dari pembahasan kami adalah sebagai beriukut :
1. Pengertian Gangguan seksual masa nifas ?
2. Bagaimana cara mengatasi gangguan hubungan seksual pada ibu nifas?
3. Apa factor yang mempengaruhi hubungan seksual masa nifas?
4. Keluhan yang timbul saat seksual masa nifas?
5. Kenyamanan ibu nifas?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembahasan kami adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian gangguan seksual pada ibu nifas
2. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi gangguan hubungan seksual
pada ibu nifas
3. Untuk mengetahui apa factor yang mempengaruhi hubungan seksual masa nifas
4. Untuk mengetahui keluhan yang timbul saat seksual masa nifas
5. Untuk mengetahui kenyamanan pada ibu nifas

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu pembaca dapat
mengetahui berbagai hal kaitannya dengan gangguan seksual pada ibu nifas serta
kenyamanan ibu nifas.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 GANGGUAN SEKSUAL PADA IBU NIFAS


Pada masa nifas yang berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari
merupakan masa pembersihan rahim sama halnya seperti saat menstruasi, darah
nifas mengandung trombosit,sel-sel degeneratif, sel-sel mati dan sisa sel-sel
endrometrium. Banyak pasangan suami istri merasa frekuensi berhubungan inrtim
merasa berkurang selama memiliki anak.
Ada anggapan setelah persalinan seorang wanita kurang bergairah karena
pengaruh hormon terutama pada buan-bulan pertama pascapersalinan.
Sebenarnya, kegiatan mengurus bayi dan menyusui membuat wanita lebih banyak
mencurahkan perhatian pada si kecil dibanding suami. untuk memiliki waktu
berdua saja sulit apalagi berhubungan intim. Beberapa bulan pertama setelah
melahirkan, memang hormon pada wanita akan diprogram ulang untuk menyusui
dan mengasuh bayi.

Ibu yang baru melahirkan boleh melakukan hubungan seksual kembali


setelah 6 minggu persalinan. Batasan waktu 6 minggu didasarkan atas pemikiran
pada masa itu semua luka akibat persalinan, termasuk luka episiotomy dan luka
bekas secsio cesaria biasanya telah sembuh dengan baik. Bila suatu persalinan
dipastikan tidak ada luka atau perobekan jaringan, hubungan seks bahkan telah
boleh dilakukan 3-4 minggu setelah proses persalinan itu. Meskipun hubungan
telah dilakukan setelah 6 minggu adakalanya ibi-ibu tertentu mengeluh hubungan
masih terasa sakit atau nyeri meskipun telah beberapa bulan proses persalinan.
Hubungan seksual yang memuaskan memerlukan suasana hati yang tenang.
Kecemasan akan menghambaat proses perangsangan sehingga produksi cairan
pelumas pada dinding vagina akan terhambat. Cairan pelumas yang minim akan
berakibat gesekan penis dan dinding vagina tidak terjadi dengan lembut,
akibatnya akan terasa nyeri dan tidak jarang aka nada luka lecet baik pada dinding
vagina maupun kulit penis suami.
2.1.1 Pengertian Gangguan Seksual masa nifas
Hasrat, keinginan, untuk pemenuhan kebutuhan seksual dengan
melakukan hubungan suami istri yang di lakukan setelah kelahiran bayi,
setelah ibu selesai masa nifasnya / setelah pulihnya kembali alat kandungan atau
genetalia ibu.
Nifas adalah darah yang keluar setelah proses melahirkan. Dalam bidang
kesehatan, darah nifas sama dengan darah menstruasi. Oleh karena itu, sama
dengan saat menstruasi, seorang wanita akan mengalami gangguan dalam
kehidupan seksualnya pada masa nifas ini.
Proses persalinan bukan hanya akan memberikan pengalaman yang luar
biasa bagi seorang wanita, namun juga membawa pengaruh terhadap kehidupan,
termasuk kehidupan seksual yang di alaminya.
Pasca proses persalinan, seorang wanita akan mengalami trauma akan rasa
sakit yang ia rasakan. Selain itu, trauma rasa sakit bukanlah satu-satunya alasan
mengapa seorang wanita kehilangan keinginan seksual, melainkan perubahan
hormon yang terjadi pada tubuhnya.

2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan seksual pasca persalinan


Faktor-faktor lain penyebab terganggunya atau berkurangnya keinginan
berhubungan seksual pada seorang wanita yang baru melahirkan antara lain.
a. Perubahan faal atau keadaan tubuh yang menurunkan sensivitas.
b. Terlalu lelah akibat mengurus bayi
c. Kehadiran bayi menguras seluruh perhatian wanita
d. Pada minggu pertama pasca kelahiran, hormon estrogen akan menurun secara
drastic.
Mengalami hal tersebut, ibu sudah sewajarnya mendiskusikan dengan
suami. Selain itu, Ibu dapat berkonsultasi dengan dokter untuk solusi terbaik.
Moment – moment ini hanya akan terjadi sesaat saja kok. Masa nifas dijelaskan
terjadi antara jangka waktu 40 hingga 60 hari.
Kecemasan dan kelelahan mengurus bayi baru lahir sering kali membuat gairah
bercinta pasangan suami istri (pasutri) surut, terutama pada wanita. Bila trauma
dikelola dengan baik, kehidupan seks bisa kembali berjalan dengan baik seperti
semula. Menurunnya gairah seksual disebabkan oleh trauma psikis maupun fisik.
Ditinjau dari segi fisik, wanita mengalami perubahan sangat drastis di dalam
tubuh. Mengandung dan melahirkan normal maupun caesar dapat menyebabkan
trauma pada wanita.
Trauma fisik bisa terjadi saat melahirkan. Rasa sakit akibat pengguntingan
bagian dalam vagina (episiotomi) untuk melancarkan jalan lahir untuk
menghindari terjadinya perobekan yang berat. Tentu saja, tindakan ini
membutuhkan waktu untuk penyembuhan. Sedangkan trauma psikis (kejiwaan)
terjadi pada wanita usai melahirkan yang belum siap dan memahami segala
urusan mengurus anak. Dari mulai merawat anak, merawat payudara yang sudah
siap mengeluarkan susu, cara pemberian susu yang benar sampai urusan
mengganti popok. Akibatnya, ibu merasa lelah, capek, dan menyebabkan gairah
menurun dan enggan untuk berhubungan seksual.
Ibu yang baru melahirkan kerap merasa cemas dengan keadaan tubuh tidak
lagi menarik. Istri takut tidak bisa memproduksi ASI yang cukup banyak untuk
kebutuhan bayi dan merasa cemas dengan kondisi kesehatan lainnya. Kecemasan
yang dialami terkadang tidak ada penyebabnya dan inilah yang menjadi
penghalang timbulnya hasrat untuk bercinta.
Ketidakseimbangan hormon juga kerap dituding sebagai penyebab
menurunnya hasrat seksual. Ketidakseimbangan hormon ini dapat mengakibatkan
perubahan emosi yang tidak seimbang pula. Para ibu muda lebih mudah merasa
kesal, malas, ingin marah. Ketidakseimbangan hormonal hanya mempengaruhi
secara tidak langsung. Setelah masa-masa nifas, hormonal kembali bekerja secara
normal.
Tiap wanita berbeda-beda kesiapannya. Namun secara medis, setelah tidak ada
pendarahan lagi, bisa dipastikan ibu sudah siap berhubungan seks yakni setelah
masa nifas yang biasanya berlangsung selama 30-40 hari. Masih dianggap wajar
bila keengganan untuk berhubungan badan dengan pasangan, terjadi antara satu
hingga tiga bulan setelah melahirkan.
Secara alami, sesudah melewati masa nifas kondisi organ reproduksi ibu sudah
kembali normal. Oleh sebab itu, posisi hubungan seks seperti apapun sudah bisa
dilakukan. Kalaupun masih ada keluhan rasa sakit, lebih disebabkan proses
pengembalian fungsi tubuh belum berlangsung sempurna seperti fungsi
pembasahan vagina yang belum kembali seperti semula. Namun, bisa juga
keluhan ini disebabkan kram otot, infeksi, atau luka yang masih dalam proses
penyembuhan.
a. Gangguan seperti ini disebut dyspareunia atau rasa nyeri waktu sanggama.
Pada kasus semacam ini ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi penyebab,
yaitu :
Terbentuknya jaringan baru pasca melahirkan karena proses penyembuhan luka
guntingan jalan lahir masih sensitif sehingga kondisi alat reproduksi belum
kembali seperti semula.
b. Adanya infeksi, bisa disebabkan karena bakteri, virus, atau jamur
c. Adanya penyakit dalam kandungan (tumor, dll).
d. Konsumsi jamu. Jamu-jamu ini mengandung zat-zat yang memiliki sifat
astingents yang berakibat menghambat produksi cairan pelumas pada vagina saat
seorang wanita terangsang seksual.
e. Faktor psikologis yaitu kecemasan yang berlebihan turut berperan, seperti:
1) Kurang siap secara mental untuk berhubungan seks (persepsi salah tentang
seks
2) Adanya trauma masa lalu (fisik, seks).
3) Tipe kepribadian yang kurang fleksibel.
4) Komunikasi suami istri kurang baik sehingga biasanya istri “malas” melakukan
hubungan seks. Kurangnya foreplay-nya sehingga belum terjadi lubrikasi saat
penetrasi penis. Jika foreplay dan lubrikasi sudah cukup namun masih nyeri juga,
coba datang ke klinik yang melayani kesehatan sex wanita atau datang saja ke
dokter kandungan yang wanita
Beberapa faktor lain diantaranya:
1) Beberapa wanita merasakan perannya sebagai orang tua sehingga timbul
tekanan dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan perannya.
2) Karena adanya luka bekas episiotomi
3) Karena takut merusak keindahan tubuhnya
4) Kurangnya informasi tentang seks setelah melahirkan
Bahaya berhubungan seks pascapersalinan berhunbungan seksual selama
masa nifas berbahaya apabila saat itu mulut rahim masih terbuma maka akan
beresiko. Mudah terkena infeksi Kuman yang hidup diluar akibat hubungan
seksual ketika mulut rahim masih terbuka, bisa tersedot masuk kedalam rongga
rahim dan menyebabkan infeksi.
(Sudden Death) Mati mendadak setelah berhubungan seksual bisa terjadi
karena pergerakan teknis dalam hubungan seksual di vagina bisa menyebabkan
udara masuk ke dalam rahim karena mulut rahim masih terbuka. Pada masa nifas
banyak pembuluh darah dalam rahim yang masih terbuka dan terluka. Dalam
kondisi ini pembuluh darah bisa menyedot udara yang masuk, dan membawanya
ke jantung. Udara yang masuk ke jantung dapat mengakibatkan kematian
mendadak.Keintiman tidak selalu di peroleh melalui sex. Jika sex memang belum
memungkinkan, untuk sementara bermesraan saja dulu. ibu berdua bisa tiduran
sambil berpelukan, atau misalanya hanya dengan berpengangan tangan, sentuhan
lembut dan saling mengutarakan kata-kata mesra. Bhakan melihat suami yang
dengan lapang hati membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau meu
terjun langsung ikut mengurus si kecil, bisa menjadi pengerat bagi kehidupan sex
ibu berdua.
2.1.3 Keluhan yang timbul saat hubungan seksual masa nifas
A. Rasa Nyeri
Hal ini disebabkan fungsi pembasahan vagina yang belum kembali seperti semula,
atau luka yang masih dalam proses penyembuhan.
B. Sensivitas berkurang
Karena persalinan normal merupakan trauma bagi vagina yaitu melebarnya otot-
otot vagina.

2.1.4 Cara Mengatasi Masalah Yang Timbul Saat Hubungan Seksual


a. Bila saat hubungan terasa sakit jangan takut berterus terang dengan suami
b. Saat berhubungan memakai pelumas / jelly
c. Saat berhubungan suami harus sabar dan hati-hati
d. Melakukan senam nifas atau olahraga ringan
2.2 KENYAMANAN IBU NIFAS
2.2.1 Istirahat dan Tidur

Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk


memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk memberikan
kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang cukup sebagai persiapan untuk
energy menyusui bayi nanti Kurang istirahat pada ibu post partum akan
mengakibatkan beberapa kerugian, misalnya:

1. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi


2. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
3. Memyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat bayi dan
dirinya sendiri.

Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga bahwa untuk


kembali melakukan kegiatan – kegiatan rumah tangga, harus dilakukan secara
perlahan – lahan dan bertahap. Selain itu, pasien juga perlu diingatkan untuk
selalu tidur siang atau beristirahat selagi bayinya tidur. Kebutuhan istirahat bagi
ibu menyusui minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam
dan siang.

2.2.2 Ambulansi

Ambulansi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin


membingbing pasien keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya untuk
berjalan. Menurut penelitian, ambulansi dini tidak mempunyai pengaruh yang
buruk, tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak mempengaruhi
penyebuhan luka episiotomy, dan tidak memperbesar kemungkinan terjadinya
prolapse uteri atau retrofleksi. Ambulansi dini tidak dibenarkan pada pasien
dengan penyakit anemia, jantung, paru – paru, demam, dan keadaan lain yang
masih membutuhkan istirahat.
Adapun keuntungan dari ambulansi dini, antara lain:
1. Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat
2. Faal usus dan kandung kemih menjadi lebih baik
3. Memungkinkan bidan untuk memberikan bimbingan kepada ibu mengenai
cara merawat bayinya
4. Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia ( lebih ekonomis )

Ambulansi awal dilakukan dengan melakukan gerakan dan jalan – jalan


ringan sambil bidan melakukan observasi perkembangan pasien dari jam demi
jam sampai hitungan hari. Kegiatan ini intesitas aktivitasnya sampai pasien dapat
melakukannya sendiri tanpa pendampingan sehingga tujuan memandirikan pasien
dapat terpenuhi.

2.2.3 Mobilisasi

Mobilisasi perlu di lakukan agar tidak terjadi pembengkaan akibat


tersumbatnya pembuluh darah ibu. Pada persalinan normal, jika gerakannya tidak
terhalang pada pemasangan infus atau kateter dan tanda-tanda vitalnya juga
memuaskan, biasanya ibu di perbolehkan untuk mandi dan pergi ke WC dengan
dibantu, satu atau dua jam setelah melahirkan secara normal. Sebelum waktu ini,
ibu di minta untuk melakukan latihan menarik nafas yang dalam serta latihan
tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mengayunkan tungkainya dari tepi
ranjang. Pasien sectio caesarea biasanya mulai ambulasi 24-36 jam sesudah
melahirkan. Jika pasien menjalani analgesia epidural, pemulihan sensibilitas yang
total harus dilakukan dahulu sebelum ambulasi di mulai. Setelah itu ibu bisa pergi
ke kamar mandi. Dengan begitu sirkulasi darah di dalam tubuh akan berjalan
dengan baik. Gangguan yang tidak di inginkanpun bisa di hindari. Mobilisasi
hendaknya di lakukan secara bertahap. Di mulai dengan gerakan miring ke kanan
dan ke kiri. Pada hari kedua ibu telah dapat duduk. Lalu pada hari ketiga ibu telah
dapat menggerakkan kaki yakni dengan jalan-jalan. Hari ke empat dan kelima ibu
boleh pulang. Mobilisasi ini tidak mutlak, bervariasi tergantung pada adanya
komlpikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka. Terkait dengan mobilisasi, ibu
sebaiknya mencermati faktor-faktor berikut ini :

1. Mobilisasi jangan di lakukan terlalu cepat sebab bisa menyebabkan ibu


terjatuh. Khususnya jika kondisi ibu masih lemah atau memiliki penyakit jantung.
Meski begitu, mobilisasi yang terlambat di lakukan juga sama buruknya, karena
bisa menyebabkan gangguan fungsi organ tubuh, aliran darah tersumbat,
terganggunya fungsi otot dan lain-lain.
2. Yakinlah ibu bisa melakukan gerakkan-gerakan di atas secara bertahap.
Kondisi tubuh akan cepat pulih jika ibu melakukan mobilisasi dengan benar dan
tepat. Tidak cuma itu, sistem sirkulasi di dalam tubuhpun bisa berfungsi normal
kembali akibat mobilisasi akibat mobilisasi. Bahkan penelitian menyebutkan
Early ambulation (gerakkan sesegera mungkin) bisa mencega aliran darah
tersumbat. Hambatan aliran darah bisa menyebabkan terjadinya trombosit vena
dalam atau DVT ( deep vein Trombosis) dan bisa menyebabkan infeksi.
3. Jangan melakukan mobilisasi secara berlebihan karena bisa membebani
jantung.
4. Latihan postnatal biasanya latihan di mulai pada hari pertama dan
dilakukan sehari sekali dengan pengawasan bidan.

Manfaat dan Keuntungan

Menurut FK UNPAD (1983 : 321), manfaat dan keuntungan mobilisasi dini


adalah :

1. Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat dengan early ambulation.

2. Faal usus dan kandung kencing lebih baik.

3. Early ambulation memungkinkan kita mengajar ibu memelihara anaknya :


memandikan, mengganti pakaian, memberi makanan, dan lain-lain selama ibu
masih di RS. Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis). Menurut
Manuaba (1998 : 193), perawatan puerperium lebih aktif dengan dianjurkan untuk
melakukan “mobilisasi dini” (early mobilization) :
4. Melancarkan pengeluaran lokea, mengurangi infeksi puerperium.

5. Mempercepat involusi alat kandungan.

6. Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.

7. Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI


dan pengeluaran sisa metabolisme.

Meskipun mobilisasi dini banyak membawa keuntungan, tetapi tidak


dinasihatkan bagi penderita yang telah mengalami partus lama, penderita dengan
suhu badan tinggi, toxemea, atau bagi penderita yang tidak menginginkannya
(Ibrahim, 1996 : 81).

Pelaksanaan mobilisasi dini

Setelah persalinan yang normal, jika gerakannya tidak terhalang oleh


pemasangan infus atau kateter atau TTV (Tanda-tanda vital) nya juga memuaskan,
biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi dan pergi ke WC 1 atau 2 jam setelah
melahirkan secara normal (Farrer, 2001: 239).

Anjurkan ambulasi sejak awal. Ibu mungkin akan merasa berkunang-


kunang pada awalnya, karena kehilangan darah, kelelahan, atau karena pemberian
obat-obatan, jadi bantu ibu selama beberapa saat (Ladewig, dkk, 2006 : 237).

Setelah periode istirahat vital pertama berakhir, ibu didorong untuk sering
berjalan-jalan (Bobak, dkk, 2005: 531). Early Mobilization dilakukan beberapa
jam setelah melahirkan (Manuaba, 2001 : 285).

Ibu didorong untuk melakukan aktivitas secara bertahap memberikan jarak


antara aktivitas mereka, dan untuk istirahat sebelum mereka menjadi keletihan
(Hamilton, 1995 : 297). Wanita yang baru saja melahirkan tidak lagi harus berada
di tempat tidur. Misalnya, ia boleh mulai berjalan-jalan sesegera mungkin kalau ia
mau, ke toilet kalau ia perlu dan beristirahat kalau ia letih (Llewellyn &
Hipokrates, 2002 : 83).
BAB III

PENUTUP

3.1 Smpulan
Nifas adalah darah yang keluar setelah proses melahirkan. Dalam bidang
kesehatan, darah nifas sama dengan darah menstruasi. Oleh karena itu, sama
dengan saat menstruasi, seorang wanita akan mengalami gangguan dalam
kehidupan seksualnya pada masa nifas ini.
Kecemasan dan kelelahan mengurus bayi baru lahir sering kali membuat gairah
bercinta pasangan suami istri (pasutri) surut, terutama pada wanita. Bila trauma
dikelola dengan baik, kehidupan seks bisa kembali berjalan dengan baik seperti
semula. Menurunnya gairah seksual disebabkan oleh trauma psikis maupun fisik.
Ditinjau dari segi fisik, wanita mengalami perubahan sangat drastis di dalam
tubuh. Mengandung dan melahirkan normal maupun caesar dapat menyebabkan
trauma pada wanita.
Cara Mengatasi Masalah Yang Timbul Saat Hubungan Seksual
a. Bila saat hubungan terasa sakit jangan takut berterusterang dengan suami
b. Saat berhubungan memakai pelumas / jelly
c. Saat berhubungan suami harus sabar dan hati-hati
d. Melakukan senam nifas atau olahraga ringan

3.2 Saran
Demikianlah makalah tentang “ Gangguan Hubungan Seksual Masa
Nifas” ini kami buat. Semoga dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan
kita semua. Adapun saran yang dapat kami berikan yaitu untuk mahasiswa
kebidanan khususnya agar lebih bisa mempelajari lagi tentang perubahan-
perubahan yang terjadi pada ibu masa nifas termasuk hubungan seksual dan juga
dapat memberikan solusi yang baik. Kami menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang bersifat
membangun kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Martitalia. 2012. Asuhan kebidanan nifas dan menyusui: Yogyakarta.

Asmadi. 2008. Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Manusia: Salemba Medika.

Irawan, 2004. Seksualitas Teori dan Realitas: Jakarta

midwife di 21.43

https://jhowanivani.wordpress.com/2015/01/16/hubungan-seks-masa-nifas-bidan-
vani/amp/

Diakses pada 05 oktober 2017 pukul 12.07 WIB

Https://jhowanivani.wordpress.com/2015/01/16/hubungan-seks-masa-nifas-bidan-
vani/amp/

Diakses pada 05 Oktober 2017 pukul 13.12 WIB

http://www.skripsipedia.com/2011/01/hunbungan-pengetahuan-ibu-pasca-
nifas.html Sumber skripsipedia.com:Hubungan Pengetahuan Ibu Pasca Nifas
dengan Minatnya Berhubungan.

http://www.askep-askep.cz.cc/2010/02seksual-masa-nifas.html

http://jurnalbidandiah.blogsport.com/2012/07/merumuskan-diagnosaatau masalah
.html#ixzz2i7AXIGeo