Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia hidup di bumi ini seharusnya dengan rasa tenggang rasa antar setiap
kelompok manusia. Agar hal-hal yang dikhawatirkan berdampak buruk pada diri
manusia tidak akan terjadi. Tetapi berdasarkan berjalannya waktu, dan semakin
tingginya ego dari diri setiap individu manusia membuat fungsi akan sebuah
hukum dinilai amat sangat perlu.

Hukum yang dimaksudkan adalah keseluruhan kumpulan peraturan-peraturan


atau kaedah-kaedah dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan
pelaksanaannya dengan suatu sanksi.

Hukum berfungsi guna mengatur tatanan hidup manusia agar berjalan secara
teratur, aman, dan tentram. Tapi untuk menjalankan fungsi tersebut hukum juga
memerlukan peran dari adat istiadat/ norma yang berlaku di masyarakat, agama,
serta etika/ sikap dan sifat masing-masing dari individu.

Didalam hukum, terdapat perbedaan antara kewajiban dan hak. Hal itu
dimaksudkan agar sejatinya setiap makhluk hidup bisa membedakan mana yang
menjadi hak-nya dan mana yang menjadi kewajibannya. Sehingga setidaknya
secara tidak langsung tiap individu juga bisa membedakan mana yang benar dan
mana yang salah.

Dalam kaedah hukum, hak asasi manusia ( HAM ) juga amat sangat dijunjung
tinggi dan dihormati keberadaannya. Pemerintah secara umum menghormati hak
asasi manusia warga negaranya; namun demikian lembaga-lembaga hukum yang

1
lemah, sumber daya yang terbatas, dan kurangnya kemauan politik telah
menghalangi akuntabilitas dalam masalah pelanggaran berat atas hak asasi
manusia di masa lampau.

Masalah-masalah hak asasi manusia yang terjadi sepanjang tahun ini seperti:
pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh aparat keamanan; kekerasan oleh
massa; kondisi penjara yang keras; impunitas para pejabat penjara; penahanan
yang sewenang-wenang; sistem peradilan yang korup; pembatasan kebebasan
berbicara dan berkumpul secara damai; campur tangan atas kebebasan beragama
dengan keterlibatan pejabat lokal; intimidasi terhadap kelompok-kelompok hak
asasi manusia yang dilakukan oleh petugas keamanan; kekerasan dan
penganiayaan seksual terhadap perempuan dan anak-anak, perdagangan manusia;
kerja paksa; serta ketidakmampuan untuk menerapkan standar perburuhan dan
pelanggaran hak-hak pekerja.

Dan oleh sebab itu terkadang karena tuntutan banyak faktor dan hal-hal diluar
ini semua, yang menyebabkan banyak kasus kejadian sifat dan sikap manusia
menjadi tidak terkontrol dan tidak benar, disinilah peran hukum sebagai penegak
sebuah keadilan dipakai. Walaupun pada kenyataannya hukum berbeda dengan
keadilan, tapi setidaknya setiap keadilan memerlukan sebuah hukum/ banyak
hukum untuk mengaturnya.

Dalam usahanya mengatur, hukum menyesuaikan kepentingan perorangan


dengan kepentingan masyarakat dengan sebaik-baiknya yaitu berusaha mencari
keseimbangan antara memberi kebebasan kepada individu dan melindungi
masyarakat terhadap kebebasan individu.

Dimana dengan adanya hukum, setiap kebebasan seperti kebebasan individu


dan masyarakat akan menjadil kebebasan yang penuh tanggung jawab dan bisa
dipertanggung jawabkan dihadapan hukum sebagaimana mestinya.

1.2 Tujuan

2
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menganalisa sebuah masalah yang
berhubungan dan bersangkut-pautan dengan penegakkan hukum di negara ini
serta berusaha menemukan jawaban yang terbaik dalam penyelesaian masalah
tersebut, seperti mengapa, dasar apa, bagaimana terjadinya, dll sehingga
penyimpangan hukum tersebut bisa terjadi.

1.3 Kerangka Teori

Teori-teori dalam penulisan makalah ini, diambil dari banyak sumber


mengenai hukum. Baik dari media elektronik maupun cetak, serta didapat juga
dari beberapa sumber ahli dalam bidang hukum.

1.4 Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian ini menggunakan teknik analisis kasus yang didapat


melalui internet maupun surat kabar dan pengumpulan data untuk analisis kasus
melalui buku-buku yang menunjang analisis dan membantu dalam menganalisis
kasus melalu sudat pandang dari buku tersebut.

1.5 Sistematika Penulisan

Bab I: Pendahuluan

Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang, tujuan penulisan,


kerangka teori, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

3
Bab II: Permasalahan

Dalam bab ini dijelaskan mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi


dalam kasus yang akan dianalisa.

Bab III: Data/kronologis

Dalam bab ini diuraikan mengenai kronologis kejadian yang akan


dianalisa. Mulai dari awal terjadinya permasalahan, konflik hukum, hingga
penyelesaian permasalahan antara kedua belah pihak.

Bab IV: Analisa

Dalam bab ini dijelaskan mengenai analisa permasalahan tersebut. Menguraikan


jawaban permasalahan yaitu apa, mengapa, dan bagaimana hal tersebut
terjadi. Analisa ini sekaligus menjadi jawaban dari permasalahan tersebut.

4
BAB II

PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan pada BAB I, ada beberapa hal yang
menjadi permasalahan utama dalam analisa kasus ini. Permasalahan ini timbul
berdasarkan kasus perdagangan manusia (human trafficking). Beberapa permasalahannya
yaitu:

2.1 Apakah yang dimaksud tindakan perdagangan manusia/ human trafficking itu?

2.2 Mengapa hal tersebut bisa sampai terjadi padahal di negara ini jelas-jelas penegakkan
asta HAM sudah diakui?

2.3 Apakah masalah ekonomi berhubungan dengan ditemukannya kasus perdagangan


manusia ini?

Ketiga permasalahan tersebut akan disertakan ke dalam bab IV yang menganalisis


tentang kasus yang melibatkan pihak kepolisian itu.

5
BAB III

KRONOLOGIS

Modus Baru Perdagangan Manusia


Oleh Fathullah ( diambil dari internet )

Rabu, 31 Maret 2010

Kegiatan rekrutmen Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan kejahatan perdagangan


manusia dalam praktiknya hanya berbeda tipis saja. Persoalan TKI bercampur aduk
dengan kejahatan perdagangan manusia, perbudakan dan pelacuran yang secara
sistematis, kejahatannya sangat telanjang di hadapan kita. Dalam banyak kasus,
kejahatan perdagangan manusia pada awalnya justru menggunakan jalur rekrutmen
TKI, untuk menjebak para korbannya.
Data di Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri)
mencatat kasus kejahatan perdagangan manusia sepanjang lima tahun terakhir
sebanyak 607 kasus. Pelakunya sebanyak 857 orang dan korban dewasa sebanyak

6
1.570 orang (76,4%) dan korban anak-anak di bawah umur sebanyak 485 (23,6%).
Maraknya kasus kejahatan perdagangan manusia lewat jalur rekrutmen TKI ini terjadi
dengan memanfaatkan kelemahan aparat penegak hukum.

Masalah pokoknya adalah masyarakat yang mengalami kesulitan hidup, kemiskinan


yang terjadi di mana-mana, dan banyaknya pengangguran, serta rendahnya tingkat
pendidikan masyarakat.
Kegiatan rekrutmen TKI secara normal dimulai dari adanya permintaan dari pihak
pengguna atau majikan yang membutuhkan TKI dengan berbagai persyaratan standar
yang telah ditentukan. Kemudian TKI itu disalurkan ke pihak agen TKI luar negeri,
diteruskan ke pihak Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS).
Selanjutnya, PPTKIS menugaskan para sponsor atau petugas lapangan (PL) untuk
melakukan perekrutan. Kemudian mereka (calon TKI) dibekali keterampilan bahasa
dan pekerjaan yang digeluti sebelum disalurkan ke pihak majikan masing-masing
melalui agen luar negeri.

Sebelumnya, pihak majikan biasanya telah mengeluarkan sejumlah uang tertentu


yang dibayarkan di muka untuk biaya kelancaran pengurusan TKI. Jika saja segala
persyaratan perekrutan TKI ini dipenuhi oleh PPTKIS sesuai standar yang telah
ditentukan, maka sangat kecil kemungkinan terjadinya permasalahan seperti sekarang
ini.

Anak di Bawah Umur

Pengiriman TKI, khususnya pembantu rumah tangga (PRT), sejak awal rekrutmennya
penuh masalah. Mereka kebanyakan adalah perempuan berpendidikan rendah dan
berasal dari keluarga yang tergolong miskin.

Beberapa di antaranya malah berstatus anak-anak perempuan di bawah umur. Mereka


inilah yang biasanya dijadikan sasaran empuk bagi para sponsor atau PL yang lazim
juga disebut dengan calo TKI.
Biasanya mereka dijanjikan untuk bekerja menjadi PRT di luar negeri dengan upah

7
yang cukup besar. Kalau keluarganya menyetujui, calon TKI itu kemudian dibawa ke
perusahaan penyalur yang tempatnya dirahasiakan.
Namun, banyak di antara mereka yang ternyata diperdagangkan. Mereka biasanya
terlebih dahulu disekap dengan kejam seperti binatang di tempat-tempat yang sangat
tidak manusiawi. Penyekapan ini dilakukan oleh perusahaan yang merekrut mereka,
kemudian penyekapan berlanjut pada saat pengiriman.
Keji, memang. Sebab, ada di antara mereka yang disekap di dalam peti dan ditimbuni
dengan barang-barang, guna mengelabui petugas jaga perbatasan atau polisi.
Kemudian mereka diserahkan kepada pihak agensi-agensi gelap di luar negeri untuk
selanjutnya diperjualbelikan sebagai wanita tuna susila atau 'budak-budak belian'
seks, misalnya, di Malaysia dan Singapura.
Selain dikirim ke luar negeri, banyak pula di antara mereka diperjualbelikan di dalam
negeri sendiri, seperti terjadi di Kota Batam, Kepulauan Riau. Para peminat seks dari
negara-negara tetangga cukup datang, misalnya, pada akhir pekan ke tempat-tempat
mesum di kota ini untuk menikmati kaum 'penjaja seks' muda belia - biasanya
berparas cantik-cantik dan berpenampilan imut-imut - yang diperdagangkan oleh para
mafia perdagangan manusia (germo).
Perdagangan manusia yang banyak menjadikan anak-anak perempuan Indonesia di
bawah umur menjadi WTS dan perempuan simpanan si hidung belang penikmat seks
dari negara-negara tetangga sudah lama berlangsung, dan terkesan tidak tersentuh
oleh aparat penegak hukum. Kini, jumlahnya bahkan semakin meningkat.
Dari sekian banyak kejahatan perdagangan manusia yang mengorbankan anak-anak di
bawah umur ini, baru sedikit kasus yang terungkap. Ini disebabkan kuatnya jaringan
kejahatan mereka dan lemahnya penegakan hukum oleh aparat, di samping persoalan
sosial-ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan warga masyarakat.
Rekrutmen untuk perbudakan manusia dengan modus baru - dengan ditawari sebagai
PRT - banyak dipraktikkan oleh para majikan asal negara-negara Arab atau Timur
Tengah. Mereka ternyata lebih senang langsung datang ke Indonesia untuk memilih
sendiri calon-calon PRT yang dapat merangkap sebagai 'budak belian'-nya. Biasanya
para calon dikumpulkan oleh perusahaan tertentu di suatu tempat, kemudian si
majikan memilihnya langsung sesuai selera masing-masing.

8
Kemudian, segala keperluan pemberangkatan mereka diurus oleh sang majikan
melalui perusahaan yang bersangkutan. Bagi perusahaan tersebut, dengan hanya
mengumpulkan calon-calon 'budak belian' seperti itu, pekerjaannya lebih
diuntungkan. Sebab, mereka tidak perlu repot-repot mengirim calon TKI ke luar
negeri yang sering berisiko disebabkan oleh ketidakcocokan calon TKI dengan selera
majikan.
Modus baru perekrutan 'budak belian' oleh para majikan secara langsung semakin
menunjukkan kepada kita bahwa kejahatan perdagangan manusia kini semakin
'sempurna'. Kejahatan ini semakin merajarela dan pantas disebut sebagai kejahatan
kemanusian paling tragis, yang terjadi di abad modern ini.
Barangkali hal ini menegaskan kembali adanya kebangkitan baru zaman jahiliah
seperti abad primitif bangsa-bangsa Arab tempo dulu. Kebangkitan ini boleh jadi
dapat diistilahkan sebagai "neo jahiliahisme" yang menjadi ancaman sangat serius
bagi peradaban manusia. Dengan demikian, tidak ada cara lain untuk memberantas
kejahatan ini kecuali dengan melakukan upaya sistematis secara hukum dan hak asasi
manusia (HAM), baik secara nasional maupun internasional. Kita juga perlu
melakukan upaya-upaya antisipasi perbaikan sosial ekonomi bangsa secara
menyeluruh dan peningkatan kesadaran harga diri dan pendidikan yang baik kepada
setiap warga negara.

9
BAB IV

ANALISA

Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian


kekuasaan kelembagaan. Dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang
politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai
perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi
dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut
pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum,
perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara
perwakilan di mana mereka yang akan dipilih.

Hukum memiliki pengertian yang beragam karena memiliki ruang lingkup dan
aspek yang luas. Hukum dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan, disiplin, kaedah,
tata hukum, petugas (hukum), keputusan penguasa, proses pemerintahan, perilaku
atau sikap tindak yang teratur dan juga sebagai suatu jalinan nilai-nilai. Hukum juga
merupakan bagian dari norma, yaitu norma hukum.

10
Administratif hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari
pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat
negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan atau tindakan
militer. filsuf Aristotles menyatakan bahwa "Sebuah supremasi hukum akan jauh
lebih baik dari pada dibandingkan dengan peraturan tirani yang merajalela."

Dari pengertian hukum diatas, pada dasarnya hukum adalah pelindung ketiga
kaedah lainnya yang timbul didalam masyarakat, yaitu kaedah kesopanan, susila, dan
kepercayaan.

Dengan adanya hukum seharusnya semua kaedah itu bisa dilindungi


keberadaannya sehingga bisa diterapkan dimasyarakat dengan baik dan sebagaimana
mestinya.

Isi kaedah hukum itu ditujukan kepada sikap lahir manusia karena kaedah
hukum itu mengutamakan perbuatan lahir. Orang tidak akan dihukum atau diberi
sanksi hukum hanya karena apa yang dipikirkan atau dibatinnya (cogitationis poenam
nemo patitut).

Akan tetapi masih banyak pula kasus pelanggaran hukum. Walaupun sanksi
untuk setiap pelanggaran hukum sudah jelas, tetapi terkadang keberadaannya yang
bisa seketika waktu menjadi tidak adil menyebabkan berbagai pelanggaran hukum
dapat terjadi.

Pelanggaran hukum terjadi karena ditunjang dengan rendahnya ketiga kaedah


lain selain kaedah hukum yang dimiliki oleh tiap individu. Penyiksaan/ pelanggaran
mengenai hukum tidak akan ada habisnya, karena kita tidak dapat menekan naluri
manusia yang destruktif 1.

Untuk kasus yang telah disebutkan diatas, dalam kasus perdagangan manusia/
human trafficking semua kaedah diatas seperti tidak berlaku lagi keberadaannya.
1
Dikutip dari buku berjudul Hak Asasi Manusia di Dunia yang Berubah karangan
Abdul hakim ketika membahas mengenai penyiksaan yang berdampak pada
penyimpangan fungsi HAM tersebut.

11
Perdangan manusia terbukti amat sangat tidak manusiawi dan dalam kasus tersebut
banyak kasus yang lolos dari pandangan dan proteksi hukum. Dan kenyataan
buruknya Indonesia termasuk dalam negara tertinggi untuk kasus perdagangan
manusia ( human trafficking ).

Indonesia dalam peringkat tersebut dikategorikan sebagai negara yang memiliki


korban dalam jumlah yang besar dan pemerintah belum sepenuhnya menerapkan
standar minimum, serta belum melakukan usaha yang berarti dalam memenuhi
pencegahan dan penanggulangan perdagangan manusia ( human trafficking ).

Masalah perdagangan manusia ( human trafficking ) adalah masalah yang pelik


karena menyangkut banyak aspek seperti sosial ekonomi, budaya, dan hak asasi
manusia. Oleh karena itu masalah ini sangat dibutuhkan multi disiplin untuk
pencegahan masalah TIP. Sangat diperlukan suatu badan nasional yang mengatur
tentang pencegahan, penindakan dan assessment untuk mencegah masalah ini lebih
besar lagi, seperti masalah narkoba sehingga diperlukan lintas department, sebagai
wujud bahwa negara kita untuk melindungi warganegaranya dari kejahatan
perdagangan manusia. Undang- undang tidak hanya cukup tapi disertai badan yang
mengurusi segala aspek untuk perlindungan warganegara Indonesia.

Kebanyakan kasus perdagangan manusia/ human trafficking, korbannya adalah


wanita dan anak dibawah umur, dan berita mengenai hal ini beberapa bulan terakhir
mendapat sorotan cukup banyak dari berbagai media massa. Media massa tidak hanya
menyoroti kasus-kasus tersebut saja tetapi juga lika-liku tindakan penyelamatan yang
dilakukan aparat penegak hukum terhadap korban serta bagaimana upaya pemerintah
dalam mengatasi masalah tersebut.

Kasus perdagangan manusia juga sering terlihat menjadi agak samar karena
sering bertopengkan usaha legal, berupa Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja ke Luar
Negeri. Akibatnya, agak sulit mendapatkan data statistik perdagangan manusia di
Indonesia yang benar-benar valid.

Perdagangan manusia juga bisa terjadi karena disebabkan oleh kemiskinan yang
masih melanda sebagian besar penduduk negri ini. Banyak orangtua/ suami/ ayah

12
yang tidak mampu menghidupi anak atau istrinya sehingga tega menjual anggota
keluarga mereka. Walaupun banyak juga kasus perdagangan manusia dimana
korbannya diculik, dan baru diperdagangkan di luar negri secara ilegal.

Salah jenis problem bangsa ini adalah kemiskinan. Berakar dari kemiskinan itu,
tidak sedikit memunculkan dan meledakkan berbagai modus perilaku deviatif,
anomali, anormatif atau menyimpang. Kemiskinan dapat merangsang seseorang dan
kelompok sosial berperilaku jahat, keji, dan biadab. pemerintah Indonesia gagal
mengentaskan kemiskinan dengan memberdayakan ekonomi masyarakat. Pemerintah
justru membuat kebijakan yang mendorong masyarakat yang hidup di kantong-
kantong kemiskinan untuk bermigrasi mencari penghidupan yang lebih baik di negara
lain. Hanya saja pengawasan terhadap pelaksanaan penempatan tenaga migran ini
seringkali tidak dilakukan dengan secara optimal. Akibatnya, ekspolitasi tenaga kerja
Indonesia dan praktek perdagangan manusia marak terjadi.

Maklum, di tengah kondisi bangsa yang sedang terpuruk secara berlapis-lapis


ini, tampaknya sulit dihindari datangnya berbagai macam penyakit sosial, budaya,
ekonomi, dan lainnya yang mengindikan sisi kelemahan bangsa Indonesia. Bangsa
ini makin gampang terbaca sebagai potret bangsa yang mengidap banyak penyakit
yang tidak bisa dikatakan ringan.

Menurut data International Organisation for Migration (IOM) menunjukkan,


sebanyak 1.231 WNI telah menjadi korban bisnis perdagangan manusia ( human
trafficking ).

Meskipun tidak selalu identik dengan perdagangan orang, sejumlah sektor


seperti buruh migran, pembantu rumah tangga (PRT) dan pekerja seks komersial
ditengarai sebagai profesi yang paling rentan dengan perdagangan manusia ( human
trafficking ).

Maka itu dengan tidak berkurangnya kasus perdagangan manusia berarti di


Indonesia belum tampak adanya langkah konkrit untuk menekan praktek haram
tersebut. Padahal, data tersebut mungkin sekali hanya merupakan fenomena gunung
es.

13
Faktor Penyebab Perdagangan Manusia/ Human trafficking

Tidak ada satupun yang merupakan sebab khusus terjadinya trafficking manusia
di Indonesia. Trafficking disebabkan oleh keseluruhan hal yang terdiri dari
bermacam-macam kondisi serta persoalan yang berbeda-beda. Termasuk kedalamnya
adalah:

• Kurangnya kesadaran:
• Kemiskinan
• Keinginan Cepat Kaya
• Faktor Budaya
• Kurangnya Pencatatan Kelahiran
• Korupsi & Lemahnya Penegakan hukum.
• Kurangnya Pendidikan

Bentuk-bentuk Perdagangan Manusia/ Human Trafficking

Ada beberapa bentuk trafficking manusia yang terjadi pada perempuan dan
anak-anak:

• Kerja Paksa Seks & Eksploitasi seks – baik di luar negeri maupun di
wilayah Indonesia.
o Pembantu Rumah Tangga (PRT) – baik di luar ataupun di wilayah
Indonesia.
o Bentuk Lain dari Kerja Migran – baik di luar ataupun di wilayah
Indonesia.
o Penari, Penghibur & Pertukaran Budaya – terutama di luar negeri.
o Pengantin Pesanan – terutama di luar negeri
o Beberapa Bentuk Buruh/Pekerja Anak – terutama di Indonesia.
o Trafficking/penjualan Bayi – baik di luar negeri ataupun di Indonesia.

Dan terbukti dalam menyelesaikan kasus perdagangan manusia ditemui banyak


berbagai kendala dalam penanganan dan penyelesaian kasus tersebut. Dari berbagai

14
upaya yang telah dilakukan selama ini, terdapat 3 (tiga) hambatan yang merupakan
hambatan kunci dalam melakukan upaya tersebut, yaitu antara lain budaya
masyarakat (culture), kebijakan pemerintah khususnya peraturan perundang-
undangan (legal subtance), serta yang bersumber pada aparat penegak hukum (legal
structure).

Hambatan dari pandangan stereotip perempuan dalam masyarakat

Dalam pandangan masyarakat Indonesia umumnya yang masih patriarkis,


perempuan lebih dilihat sebagai simbol kehormatan masyarakat daripada seorang
manusia. Sehingga ketika seksualitas perempuan dari suatu masyarakat ternodai,
masyarakat kemudian menganggap hal tersebut sebagai perusak kehormatan mereka.
Dan dalam kasus perdagangan manusia, terutama untuk kasus perdagangan wanita
dan anak sudah pasti ada unsur kejahatan seksualitas, sehingga makin gampang lah
pandangan masyarakat yang menyebutkan hal tersebut bisa terjadi karena kesalahan
wanita nya sendiri.

Hambatan dari kebijakan peraturan yang ada

Dari aspek pemerintah atau peraturan per undang-undangan yaitu belum adanya
regulasi yang khusus (UU anti trafficking) mengenai perdagangan manusia terutama
perdagangan perempuan dan anak selain dari Keppres No.88 tahun 2002 mengenai
RAN penghapusan perdagangan perempuan dan anak. Ditambah lagi masih
kurangnya pemahaman tentang pemahaman itu sendiri dan kurangnya sosialisasi anti
perdagangan manusia/ human trafficking tersebut. Hal ini berdampak pada
perlindungan terhadap korban dan jeratan hukum bagi para pelakunya menjadi tidak
maksimal.

Karena itu, sudah semestinya ada sebuah peraturan khusus tentang tindak
pidana perdagangan manusia ( human trafficking ) yang mampu menyediakan
landasan hukum formil dan materiil sekaligus. UU itu harus mampu mengurai
rumitnya jaringan perdagangan orang yang berlindung di balik kebijakan resmi
negara.

15
Hambatan dari penegak hukum

Keterbatasan peraturan yang ada (KUHP) dalam menindak pelaku perdagangan


manusia pada penegak hukum bagi korban. Penyelesaian beberapa kasus mengalami
kesulitan karena seluruh proses perdagangan dari perekrutan hingga korban bekerja
dilihat sebagai proses yang kriminalisasi biasa dan dikenakan pasal KUHP seperti
penipuan (pasal 378) atau pemalsuan surat (pasal 236).]

Terhentinya kasus ditingkat penyidikkan seringkali disebabkan oleh kurangnya


saksi dan bukti. Banyak orang tidak mau bersaksi karena kesadaran soal perdagangan
manusia masih belum banyak dimiliki oleh masyarakat maupun aparat penegak
hukum. Untuk itu sangat penting untuk dilakukan advokasi dalam berbagai bentuk.
Ada dua advokasi yang dapat dilakukan dalam penanganan kasus perdagangan
manusia, yaitu pertama dengan menggunakan mekanisme yang sudah ada berkaitan
dengan tindak pidana/kejahatan yang dilakukan oleh pelaku mulai dari tingkat
penyidikkan dikepolisian, penuntutan dikejaksaan, hingga pemberian putusan pidana
di pengadilan. Advokasi yang kedua melalui upaya desakan dari berbagai pihak untuk
mendorong bekerjanya proses hukum agar berjalan optimal. Desakan yang dilakukan
berbagai pihak baik masyarakat, kalangan akademis, LSM sebagai kelompok penekan
ini sangat diperlukan dalam menanggulangi masalah perdagangan manusia.

Fungsi kelompok penekan seperti disebut diatas, antara lain:

Pertama, penekan mempunyai fungsi kontrol/ pengawasan terhadap kinerja


aparat penegak hukum/ instansi terkait guna memperbaiki kinerja, sistem yang
berjalan agar tetap berada dikoridor sesuai dengan asas pemerintahan yang baik.

Kedua, untuk menghindari praktek abuse of power dan pelanggaran hak-hak


korban juga pelaku dari aparat penegak hukum itu sendiri.

Ketiga, adanya keterbatasan dari proses hukum itu sendiri dimana kepastian
hukum hanya dapat dicapai melalui hukum tertulis dan sangat bergantung pada sanksi
dan bukti yang ada.

16
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Timbulnya masalah perdagangan manusia ( human trafficking ) di negara ini


dimana yang paling banyak adalah perdagangan wanita dan anak di bawah umur,
tidak lepas dari kurang tegas dan kuatnya sistem hukum negara kita selama ini.

Masalah perdagangan manusia ( human trafficking ) adalah masalah yang selain


menyangkut masalah keadilan juga menyangkut masalah hak asasi manusia ( HAM )
yang seakan-akan hilang pada suatu ketika.

Dalam perdagangan manusia ( human trafficking ), masalah HAM menjadi tidak


ada artinya dan harganya, karena diri seorang manusia dapat dibeli lalu diperlakukan
layaknya budak yang harus selalu menuruti kemauan majikannya dan tidak
mempunyai hak untuk menuntuk keadilan atas dirinya. Padahal sampai saat ini,
larangan telah dinyatakan dan diatur dalam berbagai peraturan international yang
bersifat umum2.

Tapi kenyataannya masalah perdagangan manusia ( human trafficking ), amat


sangat sulit untuk diberantas. Layaknya seperti sebuah masalah yang diibaratkan
sebagai fenomena gunung es. Banyak kasus yang ditemukan tapi amat sangat sulit
diberantas tuntas. Padahal jika dilihat dari segi hukum, seharusnya para pelaku

17
kejahatan ini akan dituntut oleh banyak sanksi hukum baik hukum tentang
perdagangan manusia itu sendiri maupun hukum yang mengatur mengenai hak asasi
manusia ( HAM ).

Maka dari itu, dalam penanganan perdagangan perempuan dan anak ini,
diharapkan keterlibatan berbagai pihak di dalamnya mulai dari pemerintah baik di
tingkat pusat maupun daerah, kalangan akademisi, kelompok masyarakat, individu
untuk dapat membantu korban perdagangan perempuan dan anak maupun untuk
membantu memberikan dukungan dan tekanan terhadap pemerintah untuk
mengeluarkan kebijakan yang berpihak melindungi korban dan menjerat pelaku
perdagangan.

5.2 Saran

Kasus perdagangan manusia atau lebih dikenal sebagai human trafficking


khususnya perdagangan manusia untuk hal wanita dan anak-anak, semakin marak
terjadi beberapa waktu terakhir ini. Dan susahnya, kasus ini amat sangat susah untuk
dilakukan tindakan keadilan karena berbagai faktor dan masalah seperti yang sudah
disebutkan di pembahasan analisa.

Berbagai faktor kendala itulah yang membuat para pelaku tindakan perdagangan
manusia masih bisa leluasa melakukan tindakan kejahatannya walaupun sudah ada
hukum yang akan menjerat mereka jika kasus masalah ini terungkap.

Yang dapat dilakukan jika Anda, Saudara atau teman Anda menjadi korban
perdagangan (trafficking) Berikan dukungan secara penuh, dan:

1. Kumpulkan bukti-bukti dengan mencatat tanggal, tempat kejadian serta


ciri-ciri pelaku.
2. Pilih orang yang dapat dipercaya, keluarga untuk menceritakan
permasalahan yang terjadi. Minta tolong untuk melaporkan kepada pihak
yang berwajib.

18
3. Laporkan segera kepada aparat kepolisian terdekat
4. Minta bantuan / pendampingan kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
5. Konsultasikan kepada lembaga-lembaga yang menangani masalah
perempuan organisasi perempuan, organisasi masyarakat yang memahami
pola perdagangan (trafficking).

Dan yang harus dilakukan pemerintah dan juga aparat penegak hukum dalam
mengatasi masalah perdagangan manusia, antara lain sebagai berikut:

1. Pemerintah membuat Undang-undang yang mengatur tentang masalah


perdagangan manusia secara lebih terperinci lagi, serta menyertakan sanksi
yang lebih berat lagi untuk tiap pelakunya.

2. Aparat penegak hukum seperti polisi sudah seharusnya mengawasi dan


cepat tanggap apabila ada hal yang mengarah ke kasus perdagangan manusia
termasuk perdagangan wanita dan anak.

3. Pemerintah harus melakukan upaya menghidupkan satu sistem bursa kerja


luar negeri sampai tingkat kecamatan, dan terus membenahi pengelolaan
pengawasan pengiriman tenaga kerja indonesia yang dilakukan oleh para
penyedia jasa tenaga kerja.

4. Pemerintah harus menyediakan pelatihan keterampilan dasar untuk


memfasilitasi kenaikan penghasilan

5. Pemerintah juga harus menyediakan pelatihan kewirausahaan dan akses ke


kredit keuangan untuk memfasilitasi usaha sendiri

6. Merubah sikap dan pola fikir keluarga dan masyarakat terhadap trafficking
anak

19
DAFTAR PUSTAKA

Mertokusumo, Sudikno. 2005.Mengenal Hukum.Yogyakarta: Liberty

Hakim, Abdul. 2005. Hak Asasi Manusia di Duni yang Berubah. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia

Effendi. Mayhur. 1994. Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan
Internasional. Jakarta: Ghalia Indonesia

20