Anda di halaman 1dari 91

1

I. PENDAHULUAN

Dalam era reformasi dewasa ini pembangunan ekonomi menjadi prioritas


dengan titik berat pada sektor pertanian, yaitu peningkatan produksi pertanian dalam
usaha mempertahankan swasembada pangan, meningkatkan komoditas ekspor non-
migas serta mengembangkan agroindustri. Secara lebih spesifik tujuan pembangunan
pertanian adalah meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan
dan industri dalam negeri serta meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan petani, memperluas kesempatan kerja, mendorong pemerataan
kesempatan berusaha serta mendukung pembangunan daerah. Jalur pembangunan
pertanian mencakup kegiatan peningkatan komoditi pertanian yang pelaksanaannya
melalui pembinaan dan pengembangan agribisnis yang meliputi kegiatan terpadu dan
tidak dapat dipisahkan mulai dari penyediaan sarana produksi, pembinaan usahatani,
pasca panen, pengolahan hasil serta pemasaran hasil.
Wilayah Indonesia terbagi dalam 34 provinsi yang masing-masing mempunyai
potensi wilayah yang berbeda, baik potensi sumberdaya manusia dengan segenap
budayanya maupun potensi sumberdaya alam dengan keanekaragaman hayatinya.
Potensi sumberdaya ini masih belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan dan
dikembangkan, terutama daerah-daerah lahan kering. Dari sumberdaya lahan yang ada,
sebagian besar merupakan lahan kering dan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian
besar petani. Permasalahan klasik yang ada pada lahan kering ini adalah rendahnya
produktivitas lahan. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain karena masih
terbatasnnya informasi tentang teknologi yang dapat digunakan untuk mengembangkan
wilayah tersebut, tingkat kesulitan faktor pembatas pertumbuhan tanaman yang relatif
tinggi dan pengembangan teknologi produksi yang sangat lamban.
Pada setiap tahap pengusahaan (usahatani) komoditas andalan, pemasaran dan
pengolahannya diperlukan lembaga sosial-ekonomi sebagai suatu wadah, pola
organisasi dan atribut yang dibutuhkan oleh para petani untuk dapat melakukan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


2

fungsinya. Lembaga sosial-ekonomi ini dapat bersifat lembaga non-formal atau formal.
Suatu bentuk kelembagaan dengan ikatan-ikatan dan hubungan sosial-ekonomi
berdasarkan kebutuhan masyarakat diperlukan dalam penanganan Sistem Agrikoman
(Agribisnis Komoditi Andalan). Menemukan lembaga-lembaga tradisional yang tumbuh
dalam masyarakat pedesaan, khususnya dalam pengusahaan komoditas andalan, sejak
saat penanaman bibit, pengelolaan lahan, pengerahan tenaga kerja, perkreditan, panen
dan pengolahan hasil, serta pemasaran hasil merupakan langkah awal dalam upaya
rekayasa dan peningkatan fungsi kelembagaan tersebut. Selanjutnya, keberhasilan
dalam sistem produksi menuntut adanya bentuk-bentuk kelembagaan yang lebih besar
dan berorientasi ekonomis sehingga mampu mengelola sistem agribisnis secara lebih
efisien dan mampu meningkatkan kesejahteran masyarakat.

II. ORGANISASI DALAM AGRIBISNIS

1. Organisasi Agribisnis
Agribisnis dapat diartikan secara sempit dan secara luas. Dalam artian sempit,
agribisnis hanya merujuk pada produsen dan pembuat/penyalur input untuk produksi
pertanian. Dalam artian luas, agribisnis mencakup keseluruhan perusahaan yang terkait
dengan kegiatan perbekalan pertanian, usaha tani, pemrosesan hasil usaha tani dan
pemasarannya.
Agribisnis sebagai suatu sistem terdiri dari subsistem pengadaan dan penyaluran
sarana produksi, subsistem usaha tani, subsistem agroindustri serta subsistem distribusi
dan pemasaran hasil pertanian.
Bentuk organisasi agribisnis tidak ditentukan oleh ukuran atau jenis agribisnis. Ada
empat bentuk dasar usaha dalam agribisnis yaitu perusahaan perorangan, persekutuan,
perseroan, dan koperasi. Pemilihan bentuk organisasi ini dapat didasarkan pada
keunggulan dan kelemahan masing-masing bentuk organisasi atau perkembangan dari
agribisnis.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


3

2. Pembiayaan Agribisnis
Pembiayaan agribisnis mencakup semua keperluan dan pengaturan serta
pengawasan keuangan untuk membiayai suatu perusahaan di sektor pertanian.
Perolehan dana operasi agribisnis berasal dari tiga sumber, yaitu investasi atau
penanaman modal oleh pemilik, pinjaman, dan laba atau penyusutan.
Keputusan penting berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi dalam pembiayaan agribisnis
meliputi keputusan mengenai investasi, jumlah dan jenis faktor produksi dalam setiap
kegiatan, jumlah modal yang diperlukan, sumber modal terbaik dan jumlah modal untuk
setiap sumber modal.
Kebutuhan tambahan modal memerlukan jawaban secara hati-hati atas beberapa
pertanyaan. Ada empat jenis modal yang berasal dari pinjaman, yaitu pinjaman jangka
pendek, jangka menengah, jangka panjang dan modal ekuitas. Berbagai pinjaman ini
berbeda dalam jangka waktu pengembalian, persyaratan dan tujuan penggunaannya.
Pinjaman akan membebani bisnis dengan biaya-biaya khusus yang harus dibayar kepada
pemberi pinjaman yang disebut biaya modal.
Dalam menentukan kebijakan pembiayaan agribisnis dapat digunakan tiga
macam pendekatan yaitu pendekatan melalui hubungan antara faktor produksi dengan
hasil produksi, hubungan antar faktor produksi dan hubungan antar hasil produksi.

3. Pengoperasian Agribisnis
Pada dasarnya terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pengoperasian
agribisnis yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor
eksternal bersumber pada faktor alam dan ekonomi, sedangkan faktor internal adalah
kemampuan pelaku agribisnis dalam mengoperasikannya.Dua fungsi penting dalam
manajemen agribisnis adalah perencanaan produksi dan pengendalian proses produksi.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


4

Produksi merupakan seperangkat prosedur dan kegiatan yang dilakukan dalam


penciptaan produk atau jasa. Manajemen produksi merupakan rangkaian keputusan
yang kompleks dan rumit guna mendukung proses produksi.
Proses produksi dibedakan menjadi empat jenis yaitu penguraian, peramuan,
usaha ekstraktif dan pengolahan. Sedangkan tipe produksi terdiri dari produksi yang
berkesinambungan dan produksi yang terputus-putus. Aspek yang dipertimbangkan
dalam perencanaan produksi antara lain berkenaan dengan lokasi, ukuran pabrik, dan
tata letak fasilitas.
Pengendalian proses produksi yang dilaksanakan manajer agribisnis mencakup
aktivitas pembelian, persediaan, penjualan dan mutu. Dalam pengendalian dapat
digunakan model-model kuantitatif untuk membantu pengambilan keputusan.

III. PENGELOLAAN (MANAJEMEN) DALAM ORGANISASI


AGRIBISNIS

Agribisnis dapat dibagi menjadi tiga sector yang saling tergantung secara
ekonomis, yaitu sektor masukan (input), produksi (farm), dan sektor keluaran (output).
Sektor masukan menyediakan perbekalan kepada para pengusaha tani untuk dapat
memproduksi hasil tanaman dan ternak. Contohnya bibit, makanan ternak, pupuk, bahan
kimia, mesin pertanian, bahan bakar, dan banyak perbekalan lainnya
Definisi agribisnis yang sempit atau tradisional hanya merujuk pada produsen dan
pembuat bahan masukan untuk produksi pertanian. Beberapa badan usaha yang dicakup
di sini antara lain adalah penyalur bahan kimia, pupuk buatan, dan mesin-mesin
pertanian, pembuatan benih dan makanan ternak, serta kredit pertanian dan lembaga
keuangan lain yang melayani sector produksi.
1. Untuk apa Belajar Agribisnis?
Agribisnis merupakan lapangan kerja yang dinamik dan menantang. Banyak perusahaan
besar telah berkonsolidasi dan akan tetap melanjutkan usaha konsolidasi dengan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


5

perusahaan yang berkaitan dengan agribisnis. Kesempatan kerja akan bertambah,


khususnya pada bidang penjualan dan pemasaran.
Sektor masukan dan sektor produk menawarkan kesempatan kerja yang cukup terbuka,
tetapi sebagaimana halnya dengan sektor perekonomian lainnya, hal ini juga tergantung
siklus pengangguran.
2. Mengelola Agribisnis
Dalam mengelola agribisnis, pentingnya sebuah manajemen yang baik.
Kita definisikan manajemen sebagai ”seni untuk mencapai hasil yang diinginkan secara
gemilang dengan sumber daya yang tersedia bagi organisasi”
Pengertian Manajemen
Manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengkoordinasian, dan pengendalian atas sumber daya, terutama SDM untuk mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
3. Ada Tiga(3) Hal Pokok dalam Manajemen
1). ada tujuan yang hendak dicapai
2). tujuan dicapai dengan menggunakan kegiatan orang lain
3). kegiatan-kegiatan orang lain tersebut harus dibimbing dan diawasi
4. Fungsi-fungsi Manajemen
1). Perencanaan (planning)
Dapat didefinisikan sebagai hasil pemikiran yang mengarah ke masa depan,
menyangkut serangkaian tindakan berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap
semua factor yang terlibat dan yang diarahkan kepada sasaran khusus.
Dengan kata lain, perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan berdasarkan
pemilihan dari berbagai alternative data yang ada, dirumuskan dalam bentuk keputusan
yang dikerjakan untuk masa yang akan datang dalam usaha mencapai tujuan yang
diinginkan.
Dilihat dari bentuknya, perencanaan memiliki beberapa bentuk, yaitu :
a. Sasaran/tujuan (objective)

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


6

b. Strategi
c. Kebijakan (policy)
d. Prosedur
e. Aturan
f. Program
Perencanaan dapat dimaknai sebagai upaya berpikir ke depan tentang tindakan
yang didasarkan akan pemahaman utuh atas faktor yang terlibat pada tujuan spesifik dan
kinerja objektif.
Ada Beberapa Hal yang perlu Diperhatikan dalam Perencanaan:
· Berpikir ke depan. Adalah cara pandang ke depan, bukan merupakan satu
peramalan akan tetapi merupakan pernyataan akan orientasi tindakan – berpikir tentang
masa depan. Orang yang berfikir tentang masa depan dikenal dengan futuristik.
· Serangkaian tindakan. Meliputi upaya penciptaan alternatif dan metode untuk
mencapai tujuan dengan menggunakan sejumlah sumberdaya yang didapat di
perusahaan. Oleh karena itu disadari bahwa setiap alternatif akan berdampak terhadap
penggunaan sumberdaya di lingkungan perusahaan.
· Tujuan spesfiik. Tujuan ini mengisyaratkan bahwa seluruh sumberdaya tindakan
dalam perusahaan harus diorientasikan kepada pencapaian tujuan.
5. Bentuk Perencanaan
1) Perencanaan Strategi
Perencanaan ini berfokus pada tindakan jangka panjang, mungkin tiga tahun atau lima
tahun; sedangkan perencanaan korporasi melampaui waktu yang lebih lama yakni
sampai 20 tahun. Unsur yang menjadi bagian daripada perencanaan strategik antara lain:
Di negara mana perusahaan agribisnis berada? Dalam bidang bisnis apa perusahaan
akan berbeda?
Pabrik apa yang akan dibangun? Untuk menyusun perencanaan seperti ini maka CEO
menjadi unsur perusahaan yang banyak.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


7

Setiap perencanaan tentunya memuat tujuan yang harus tergambarkan dengan jelas.
Demikian juga dalam konteks perencanaan strategi maka tujuan dimuat dalam bentuk
misi; dikenal dengan pernyataan misi atau mission statement. Perusahaan agribisnis
harus menyatakan secara jelas akan menjadi apa perusahaan dimasa yang akan datang.
Ada tiga kunci dalam misi:
1) Pasar kunci (siapa kita)
2) Kontribusi (apa yang akan dikerjakan)
3) Perbedaan (bagaimana kita mengerjakannya lebih baik)
Contoh:
¤ Misi kami adalah menghasilkan barang dan jasa yang
meningkatkan efisiensi dan kemampulabaan petani.
¤ Bisnis utama kami adalah aplikasi luas pengetahuan genetik.
¤ Kami akan menjamin pertumbuhan bisnis inti dan
mengembangkan kesempatan, yang menjamin bisnis inti.
Coba camkan dan pikirkan makna daripada misi perusahaan agribisnis di atas. Satu
catatan dapat diberikan kepada perusahaan agribisnis yang membuat formulasi misi,
dengan penuh kata-kata malah sering membuatnya kurang bermakna bagi masyarakat.
Akan tetapi formulasi yang sederhana pada akhirnya mampu memberikan makna dan
warna perusahaan di tengah-tengah masyarakat.
2) Taktis
Perencanaan ini berkaitan dengan perencanaan strategik akan tetapi ditemukan pada
setiap tingkatan organisasi ataupun perusahaan. Kalau perencanaan strategik berkaitan
dengan tiga hingga lima tahun, maka perencanaan taktis berkaitan dengan persoalan
mendesak (besok, minggu depan atau bulan depan).
3) Kontingensi
Perencanaan ini disusun pada situasi yang berbeda dan manajer yakin bahwa setiap
situasi yang berbeda akan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Perencanaan
sebagai satu proses dapat juga dilihat sebagai serangkaian kegiatan yang terdiri dari:

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


8

1) Pengumpulan fakta. Pengumpulan informasi adalah langkah pertama ketika orang


hendak menyusun perencanaan. Dari hasil pengumpulan informasi ini akan dihasilkan
sintesisasi (pemaduan) daripada kesempatan yang akan diperoleh.
2) Menganalisis fakta. Menganalisis fakta berarti menjawab berbagai pertanyaan krusial
seperti; “dimana kita berada, bagaimana kita sampai ke sana”. Pertanyaan ini akan
membantu menjawab permasalahan dan kesempatan, serta memberikan kerangka
pengambilan keputusan yang berarti bagi perusahaan.
3) Meramalkan perubahan. Harus mampu menentukan apa yang akan terjadi pada masa
yang akan datang, tentunya dengan menggunakan pendekatan saintifik. Walau harus
disadari bahwa meramalkan masa yang akan datang tidaklah mudah, para manajer yakin
bahwa kegiatan perencanaan ini sangat membantu memudahkan pencapaian
keberhasilan perusahaan.
4) Menyusun tujuan. Tujuan kuantitatif maupun kualitatif merupakan arah yang harus
dicapai oleh perusahaan agribisnis sehingga hasil mereka dapat dievaluasi. Tujuan
bukanlah sesuatu yang muluk-muluk, akan tetapi sesuatu yang harus dapat dicapai.
Tujuan yang baik akan memberikan keuntungan berikut:
i) memberikan arahan kepada setiap unsur dan orang dalam perusahaan untuk mencapai
kinerja yang baik
ii) memberikan penilaian hasil yang dikontiirbusikan oleh setiap unit maupun orang
dalam perusahaan.
iii) Berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi secara menyeluruh
5) Mengembangkan alternatif. Pihak manajemen harus menyediakan alternatif pada
situasi yang berbeda dari yang direncanakan; tindakan yang dibutuhkan untuk
memastikan pencapaian tujuan.
6) Mengevaluasi hasil. Bagaimanapun perencanaan harus menyertakan bagaimana
proses evaluasi dilakukan terhadap orang dan bagian pada satu organisasi maupun
perusahaan.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


9

2). Pengorganisasian (organizing)


Organisasi merupakan kelompok orang yang mempunyai kegiatan dan bekerja
bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Organisasi bukanlah suatu tujuan,
tetapi sebagai suatu alat untuk mecapai tujuan.
Pengorganisasian meliputi langkah-langkah atau usaha untuk:
a. menentukan struktur
b. menentukan pekerjaan yang harus dilaksanakan
c. memilih, menempatkan, dan melatih karyawan
d. merumuskan garis kegiatan
e. membentuk sejumah hubungan di dalam organisasi dan kemudian menunjuk stafnya.

Pengorganisasian meliputi kegiatan mengklasifikasikan, mengelompokkan


secara sistematis manusia dan sumberdaya lainnya, dalam organisasi atau perusahaan
agribisnis yang konsisten dengan pencapaian tujuan perusahaan.
Sistematis maksudnya menempatkan sesuatu dalam struktur organisasi didukung
oleh alasan dan terkait dengan proses pencapaian tujuan. Kegiatan ini meliputi:
• Menyusun struktur organisasi
• Menentukan tugas yang akan dilaksanakan
• Mendefinisikan garis wewenang dan tanggungjawab
• Membuat hubungan yang akan diterapkan dalam organisasi
3). Pengarahan (directing)
Pengarahan dapat diartikan sebagai aspek hubungan manusiawi dalam
kepemimpinan yang mengikat bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan
pikiran dan tenaganya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Fungsi pengarahan ini merupakan gerak pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan
fungsi perencanaan dan pengorganisasian.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


10

Menurut Downey dan Erickson (1992), pengarahan bertujuan untuk:


a. menentukan kewajiban dan tanggung jawab
b. menetapkan hasil yang harus dicapai
c. mendelegasikan wewenang yang diperlukan
d. menciptakan hasrat untuk berhasil
e. mengawasi agar pekerjaan benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya
Kegiatan ini meliputi upaya memberikan arah kepada orang lain untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, berupa:
• Memilih, mengalokasikan dan melatih karyawan terlatih. Memposisikan staf
• Membebankan tugas dan tanggungjawab
• Mementukan hasil yang akan dicapai
• Menciptakan keinginan untuk berhasil
• Melihat bahwa pekerjaan dilakukan, dan dikerjakan dengan baik.
4). Pengkoordinasian (coordinating)
Koordinasi merupakan daya upaya untuk mensinkronkan dan menyatukan
tindakan-tindakan sekelompok manusia. Koordinasi merupakan otak dalam batang
tubuh dari keahlian manajemen. Makin sedikit koordinasi yang harus dilakukan, makin
baik. Perintah yang baik dan lazim dari bidang keahlian menajemen lainnya akan
membuat koordinasi tidak begitu dibutuhkan.
Akan tetapi pada organisasi yang dikelola dengan baik sekalipun, ada bidang
yang memerlukan koordinasi. Adalah tanggung jawab manajer untuk melihat bahwa
pengoperasian departemen-departemen, divisi-divisi, dan individu-individu yang berda
di bawah kendalinya terintegrasi secara tepat untuk memproduksi hasil-hasil yang
menunjang tercapainya sasaran organisasi.
5). Pengendalian (controlling)
Pengendalian menurut manajemen menguraikan system informasi yang
memonitor rencana dan proses untuk meyakinkan bahwa hal itu selaras dengan tujuan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


11

yang telah ditetapkan sebelumnya, dan member peringatan bila perlu sehingga tindakan
pemulihan dapat dilakukan.
Pengendalian merupakan merupakan pelengkap dari empat fungsi manajemen
lainnya. Pengendalian meluruskan keputusan yang salah, hal-hal yang tidak diharapkan,
dan dampak dari perubahan. Pengendalian yang tepat memberikan informasi yang
diperlukan dan waktu untuk memperbaiki program dan rencana organisasi yang telah
salah arah. Cara-cara untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan juga harus disajikan.
Manajer bisa menjadi sadar akan titik-titik lemah dalam pengorganisasian, pengarahan,
dan pengkoordinasian usaha bisnis melalui penggunaan pengendalian secara tepat.
Pengendalian berkaitan dengan memonitor dan mengevaluasi kegiatan. Untuk
melakukan evaluasi maka manajer harus membandingkan antara hasil dengan apa yang
direncanakan sejak dari awal. Dalam melakukan evaluasi maka manajer membutuhkan
sistem informasi yang dapat memberikan masukan kepada manajer.
Pengendalian dapat dibedakan menjadi:
Pre-Actions Control
Memastikan bahwa seluruh kebutuhan, sumberdaya manusia, material dan
keuangan yang dibutuhkan tersedia sebelum pekerjaan dimulai. Pembiayaan biasanya
bidang krusial yang sering “macet” dalam melaksanakan suatu proyek.
Steering Control
Dirancang untuk mengetahui setiap penyimpangan dan mengoreksinya sebelum
penyimpangan berlanjut pada tahapan pekerjaan berikutnya. Bentuk pengendalian ini
hanya dapat terlaksanaapabila manajer memperoleh informasi yang akurat dan tepat
waktu.
Screening Control
Memastikan prosedur yang akan digunakan sebelum pekerjaan dimulai.
Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan prosedur yang berbeda sangat membutuhkan
pengendalian seperti ini.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


12

Post-Actions Control
Teknik mengukur hasil dari pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.
Penyebab-penyebab penyimpangan yang terjadi biasanya menjadi pertimbangan pada
pekerjaan berikutnya. Teknik ini juga biasanya digunakan untuk memotivasi dan
mendorong tenaga kerja.
Tingkatan Manajemen
Manajemen dapat dklasifikasikan menurut tingkatannya, dalam organisasi atau
menurut ruang lingkup kegiatan yang dikelola manajer.
a. Manajemen puncak, berperan dalam menentukan kebijakan strategis dan
mempengaruhi jalannya perusahaan. Dan bertanggung jawab atas manajemen bidang
usaha dari perusahaan secara menyeluruh. Mereka dikenal sebagai Direktur atau CEO
(Chief Executive Officer).
b. Manajemen menengah, berperan memberi pengarahan kegiatan kepada manajer
bawahan atau dalam hal tertentu bisa juga kepada karyawan operasional. Dan
bertanggung jawab terhadap implementasi kebijaksanaan organisasi.
c. Manajemen lini pertama/bawahan, bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain
(bawahannya) dan memberikan pengarahan kepada mereka.
Unsur-Unsur Manajemen yang Baik
a. Manusia yang melaksanakan manajemen
Ada dua dimensi dalam manajemen yang baik yaitu dimensi manusia dan dimensi
waktu, tetapi dimensi manusia jauh lebih penting. Kemampuan manajer untuk mencapai
hasil melalui orang lain penting sekali dalam manajemen yang baik. Investasi berupa
waktu dan perhatian kepada bawahan sering mendatangkan imbalan yang sangat
berharga.
b. Seni
Manajemen adalah sebuah seni, bukan ilmu. Karena manajemen sangat terkait dengan
manusia, kita harus memandang prinsip-prinsip manajemen sebagai persamaan yang
tidak sempurna. Setiap orang dapat menggunakan prinsip-prinsip manajemen untuk

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


13

memelihara pertumbuhan dan kemajuan yang berkesinambungan menuju potensi


pengelolaan.
c. Berhasil/gemilang
Setiap manajemen yang baik, harus berhasil memenuhi sasaran atau hasil yang
diinginkan atau ditentukan sebelumnya. Para manajer harus tahu bidang apa yang
mereka kuasai agar dapat mencapai keberhasilan.
d. Sumber daya yang tersedia
Setiap organisasi memiliki atau mempunyai berbagai macam sumber daya yang
dikuasainya. Para manajer yang berhasil akan mengeruk hasil/pengembalian tertinggi
yang bisa diperoleh dari sumber daya yang tersedia. Mereka mengenali perbedaan
antara apa yang seharusnya dan apa yang menjadi kenyataan. Mereka menggunakan apa
yang mereka miliki untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, dan mereka
berurusan dengan kemungkinan, bukan fantasi.
6). Bentuk Organisasi Agribisnis
Bentuk-bentuk dasar organisasi agribisnis dapat bergerak dalam kegiatan apa
saja yang ada kaitannya dengan produksi, pemrosesan, dan pemasaran bahan pangan
dan sandang.
Ada tiga bentuk dasar usaha yaitu perusahaan perorangan (single
proprietorship), persekutuan, dan perseroan (badan hukum)
Bentuk organisasi bisnis yang paling tua dan paling sederhana adalah
perusahaan perorangan atau pribadi (single or individual proprietorship), yakni
organisasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh satu orang.
Keunggulannya Perusahaan perorangan memungkinkan pemilik perorangan memegang
kendali penuh atas bisnisnya dan hanya tunduk pada peraturan pemerintah. Pemilik
menjalankan kendali penuh atas rencana, program, modal, kebijakan, dan keputusan
manajemen lainnya.
Kelemahan Perusahaan perorangan yang sangat mencolok adalah keterbatasan
jumlah modal yang biasanya dapat disumbangkan seseorang.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


14

Kelemahan lainnya yang menonjol adalah bahwa kewajiban pribadi sebagai pemilik
untuk semua hutang dan dapat meluas bahkan pada warisan pribadi pemilik. Pemusatan
kendali dan laba pada satu individu dapat juga merupakan kelemahan. Banyak
karyawan yang sangat terlatih dan bermotivasi ingin ambil bagian secara finansial di
dalam bisnis tempat mereka bekerja.
Persekutuan (partnership) adalah asosiasi atau perhimpunan dari dua orang atau
lebih sebagai pemilik bisnis. Tidak ada batas jumlah orang yang dapat bergabung ke
dalam persekutuan.
Keunggulan persekutuan hampir sama mudahnya dengan pembentukan
perusahaan perorangan. Sangat sedikit pengeluaran yang dibutuhkan walaupun perlu
diminta bantuan pengacara yang baik untuk menggambarkan perjanjian persekutuan.
Persekutuan biasanya dapat mengumpulkan lebih banyak sumber daya daripada
perusahaan perorangan sebab lebih banyak
Kelemahan persekutuan terletak pada kewajiban yang tidak terbatas. Kelemahan
lainnya adalah berupa kurangnya kesinambungan dan kestabilan. Kalau sekutu
meninggalkan persekutuan karena pengunduran diri, kematian, atau ketidak mampuan,
persekutuan baru harus dibentuk.
Perseroan (badan hukum) merupakan wujud buatan, dilengkapi secara hukum
dengan kekuasaan, hak, kewajiban, dan tugas seperti manusia biasa. Perbedaan yang
paling penting yang perlu diingat adalah bahwa pemilik (pemegang saham) dan para
manajer tidak memiliki sesuatu secara langsung. Semua akstiva (asset) perseroan
dimiliki oleh badan hukum itu sendiri.
Keunggulan Perseroan adalah bahwa para pemegang saham (pemilik) tidak
secara pribadi menanggung hutang organisasi, dan pada umumnya tidak bertanggung
jawab atas sesuatu kewajiban yang terjadi melalui kegiatan bisnis perseroan.
Kelemahan Perseroan terletak pada perpajakan dan peraturan. Perseroan dibebani pajak
atas dana yang diperoleh sebagai laba, kemudian setelah dividen dibayar kepada

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


15

pemegang saham, pemegang saham juga harus membayar pajak penghasilan atas
jumlah yang diterimanya sebagai dividen.
Organisasi agribisnis perlu menggunakan ilmu dan seni manajemen agar
pengelolaan sumberdaya dan segala sesuatu yang terkait dengan sistem dapat dilakukan
secara efisien dan efektif. Manajemen akan menjabarkan bagaimana merencanakan,
melaksanakan, mengawasi, mengevaluasi, melakukan perbaikan dan melakukan inovasi
untuk pengembangan organisasi agribisnis.

Organisasi Agribisnis
Bentuk organisasi dalam agribisnis secara umum dapat dikelompokkan dalam 4
(empat) bentuk:
1. Perusahaan Perseorangan
Suatu bentuk badan usaha dimana pemiliknya perseorangan, modal perusahaan
berasal dari pemilik, modal dapat pula berasal dari pinjaman pihak lain. Kelebihan
perusahaan ini adalah organisasi sederhana (ease organization), adanya kebebasan
bergerak (freedom of actions), penerimaan seluruh keuntungan oleh pemilik (retention
of all profits), pajak rendah (low taxes), kerahasiaan terjamin (secrecy), dan biaya
organisasi murah (low organization cost). Sedangkan kelemahannya; tanggung jawab
tak terbatas (unlimited liability), besarnya perusahaan terbatas (limitation on size),
kontinyuitas tak terjamin (lack of continuity).
2. Perusahaan Persekutuan (Firma dan Komanditer)
Pada bentuk perusahaan ini, persekutuan untuk mendirikan dan menjalankan
perusahaan dengan memakai nama bersama. Kelebihannya; semua kelebihan
perusahaan perseorangan dapat dikatakan merupakan kelebihan Firma, kebutuhan
modal lebih terjamin, bergabungnya beberapa orang membuat keputusan menjadi
rasional, perhatian oleh tiap sekutu yang serius mengingat tanggung jawabnya tidak
hanya terbatas pada modal disetor tapi juga seluruh harta kekayaannya. Kelemahannya;
tanggung jawab tidak terbatas, kepemimpinan kolektif sehingga memungkinkan adanya

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


16

perselisihan, penanaman modal beku, karena sulitnya menarik modal yang telah
ditanamkan.
3. Persekutuan Komanditer (CV)
Persekutuan Komanditer (CV), adalah persekutuan atas dasar kepercayaan, yaitu
sebuah persekutuan untuk menjalankan perusahaan, dimana perusahaan dijalankan oleh
sekutu komplimenter yang bertanggung jawab sepenuhnya atas hutang-piutang
perusahaan dengan satu atau lebih sekutu komanditer. Kelebihannya, sama dengan
kelebihan firma, pimpinan perusahaan pada satu orang atau lebih, tergantung jenis
persekutuan komanditer yang bersangkutan, tanggung jawab sekutu komanditer yang
terbatas. Kelemahannya; bagi sekutu komplimenter, tanggung jawabnya tidak terbatas.
4. Perseroan Terbatas
Perseroan terbatas (PT) adalah suatu persekutuan untuk menjalankan perusahaan
yang mempunyai modal usaha yang terbagi atas beberapa saham dimana tiap sekutu
turut mengambil satu bagian saham atau lebih. Kelebihan; tanggung jawab terbatas pada
para pemegang saham, pemilik dan pengelola adalah terpisah, pemilik adalah pemegang
saham sedangkan pengelola adalah direksi, mudah mendapatkan modal, kontinyuitas
lebih terjamin, manajemen profesional. Kelemahannya; pajak relatif besar, ongkos
organisasi relatif besar, biaya pendirian lebih besar, manajemen besar, pengendalian
reatif lebih sulit, rahasia perusahaan tidak sepenuhnya trjamin aman, kurangnya
perhatian pemegang saham terhadap perusahaan.
5. Koperasi
Koperasi adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan
orang-orang atau badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonami sebagai
usaha bersama atas dasar kekeluargaan.
Koperasi agribisnis adalah suatu bentuk koperasi yang menekankan aktivitas
pada sistem agribisnis. Sehingga, koperasi agribisnis harus merupakan pelaku dalam
sistem agribisnis. Koperasi agribisnis dapat berperan sebagai subsistem agribisnis hulu

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


17

(up-streaming agribusiness), sub sistem usaha tani (on-farm agribusiness), dan sub
sistem agribisnis hilir (down-streaming agribusiness).
Koperasi agribisnis seringkali melakukan aktivitas usaha multi produk, atau
setidaknya mereka melakukan aktivitas usaha dengan menggunakan lebih dari satu
kompetensi dalam satu mata rantai proses produksi dan pelayanan. Konsep bisnis inti
(core business) dan bisnis penunjang dapat dilakukan oleh koperasi agribisnis sesuai
dengan skala usahanya. Konsep bisnis inti adalah penguasaan proses bisnis sejak awal
sampai akhir pelayanan pelanggan yang menjamin terselenggaranya misi sebuah
perusahaan. Bisnis inti merupakan bisnis andalan dari suatu perusahaan atau koperasi.
Aktivitas bisnis inti juga harus didukung oleh fasilitas bisnis (core business facilities)
berupa semua infrasturktur, peralatan dan sumber daya manusia yang terlibat langsung
dalam kelancaran proses penyelenggaraan bisnis inti. Sedangkan bisnis penunjang
adalah aktivitas yang ada maupun yang berpotensi ada yang secara tidak langsung
mendukung proses kelancaran penyelenggaraan bisnis inti.
Keberadaan koperasi agribisnis disuatu wilayah dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi, meningkatkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan yang akhirnya dapat
meningkatkan pendapatan penduduk jika mampu bergerak di bidang unit usaha
unggulan dan potensial unggul. Unit usaha unggulan diharapkan bertindak sebagai
sektor pendorong kemajuan ekonomi wilayah. Syarat terwujudnya kondisi ini jika unit
usaha tersebut selain mempunyai keterkaitan yang besar terhadap sumber daya lokal
juga mempunyai prospek pengembangan di masa depan. Syarat terakhir ini bisa terjadi
jika pasar input maupun outputnya tidak bersifat monopoli ataupun oligopoli. Jika dua
syarat tersebut terpenuhi maka fungsi usaha mempunyai kekuatan memancar
(centrifugal). Dan adanya efek besar terhadap ekonomi wilayah yang ditandai oleh
kemampuan penyebaran (spread back-wash effect) berupa penyebaran manfaat
pertumbuhan unit usaha unggulan terhadap semua input yang digunakan dalam sistem
produksi dan penetesan kebawah (trickling down and polarization effect) berupa

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


18

kemampuan unit usaha unggulan tersebut terhadap subsistem sarana produksi yang
dipakai.
7). Pengertian Organisasi dalam Agribisnis

Agribisnis dapat mempunyai sumber daya bernilai milyaran dolar A.S., atau bisa
saja hanya terdiri dari seorang penjual bibit jagung secara sambilan (part time).
Agribisnis dapat bergerak dalam kegiatan apa saja yang ada kaitannya dengan produksi,
pemrosesan, dan pemasaran bahan pangan. Walaupun agribisnis yang dikelola satu
orang atau satu keluarga bukan tidak biasa, tetapi hampir semua volume bisnis yang
sebenarnya di dalam pertanian diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan yang
mempekerjakan sekelompok orang.
Semua agribisnis dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan keadaan
pemilikanlah yang menentukan bentuk hokum yang pasti bagi organisasi tersebut. Ada
empat bentuk dasar usaha : perusahaan perorangan (single proprietorship), persekutuan,
perseroan (badan hukum), dan koperasi. Bentuk organisasi tidak perlu ditentukan oleh
ukuran atau jenis agribisnis, keunggulan dan kelemahan dari masing-masing keempat
bentuk organisasi harus ditimbang secara hati-hati karena masing-masing bentuk
cenderung lebih sesuai dengan suatu keadaan ketimbang bentuk lainnya.

8). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Bentuk


Pemilik dan manajer harus memilih bentuk yang paling pantas untuk masing-
masing agribisnis yang unik. Agribisnis mungkin perlu mengubah bentuk hokum
organisasinya jika berkembang atau kondisinya berubah. Guna memutuskan bentuk
mana yang paling baik, pemilik atau para pemilik harus menganalisis beberapa faktor :
1. Berapa jumlah biaya pengorganisasian dan seberapa mudah bentuk agribisnis ini
diorganisasi?
2. Berapa jumlah modal yang dibutuhkan untuk menjalankan agribisnis tersebut?
3. Berapa modal pemilik atau para pemilik yang telah tersedia?

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


19

4. Seberapa jauh kemudahan untuk memperoleh tambahan modal dalam agribisns


tersebut?
5. Kewajiban dan hak pilih atau opsi apa yang telah tersedia dalam perpajakan?
6. Bagaimana pemilik atau para pemilik akan dilibatkan secara perorangan dalam
manajemen dan pengendalian agribisnis?
7. Apa saja faktor stabilitas, kesinambungan, dan pengalihan pemilikan yang penting
untuk agribisnis?
8. Sampai sejauh mana kerahasiaan masalah agribisnis ingin dipertahankan?
9. Berapa besar risiko da kewajiban yang harus dipikul pemilik atau para pemilik?
10. Apakah jenis/tipe bisnisnya, dimana akan dilangsungkan, dan apa yang menjadi
sasaran dan falsafah pemilik atau para pemilik untuk agribisnis tersebut?
Penilaian dari masing-masing faktor ini akan memungkinkan pemilihan bentuk
organisasi bisnis yang paling sesuai untuk setiap kasus.

Bentuk-bentuk Dasar Usaha :


1. Perusahaan Perseorangan
Bentuk organisasi bisnis ini adalah yang paling tua dan paling sederhana, dimana
pengertiannya merupakan organisasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh satu orang.
Perusahaan perseorangan cenderung merupakan bisnis kecil, walaupun ada perkecualian
yang menarik : keuntungan yang ditimbun oleh Howard Hughes, misalnya, sebagian
besar dikumpukan dari perusahaan perseorangan.

Keunggulan yang dimiliki:


Persyaratan formal untuk membentuk organisasi perusahaan perseorangan
sangat terbatas jumlahnya. Untuk semua itu yang diperlukan hanyalah keinginan
seseorang untuk memulai bisnis dan membeli surat izin bila diperlukan untuk jenis
bisnis tertentu. Bila pemilik ingin melakukan bisnisnya dengan menggunakan nama
samara, yaitu bila bisnis dilaksanakan di bawah nama lain dari nama pemiliknya, maka

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


20

hampir semua Negara bagian menghendaki agar nama samara itu didaftarkan (contoh :
Ronda Green memutuskan membuka toko makanan ternak, yang ingin dia sebut
“Economy Feed”, konsekuensinya, dia harus mendaftarkan nama baru itu).
Perusahaan perorangan memungkinkan pemilik perorangan memegang kendali
penuh atas bisnisnya dan hanya tunduk pada peraturan pemerintah yang berlaku untuk
semua tipe khusus bisnis ini. Tidak ada pihak lain yang ikut serta dalam pengendalian
ini, kecuali kalau pemilik secara khusus mendelegasikan sebagian wewenang
pengendalian kepada orang lain. Semua keuntungan dan kerugian, semua kewajiban
(hutang) kepada kreditur dan piutang kepada bisnis lainnya, dibebankan kepada pemilik.
Biaya pengorganisasian dan pembubaran rendah, perkara bisnis dirahasiakan secara
penuh kepada pihak luar, kecuali untuk instansi-instansi pemerintah tertentu.
Mereka dapat menanggung risiko dan kewajiban sebesar yang mereka inginkan,
dan mereka sering melangkah sedemikian jauh karena tidak ada pihak lain yang terlibat
sebagai pemilik yang bisa membatasi gerak-gerak mereka. Perusahaan perorangan tidak
membayar pajak penghasilan sebagai bisnis tersendiri, semua penghasilan yang
diperoleh dari bisnis akan dipajaki sebagai pajak penghasilan pribadi. Walaupun
terdapat Direktorat Pajak AS (IRS = Internal Revenue Service) menghendaki agar
dibuat arsip (filing) terpisah untuk menunjukkan penerimaan dan pengeluaran /ongkos
bisnis (dan ketentuan yang kira-kira sama juga berlaku di Indonesia). Orang yang
menginginkan bentuk organisasi agribisnis yang paling murah, sederhana, diarahkan
sendiri, bersifat rahasia dan luwes, akan memilih bentuk perusahaan perorangan.
Kelemahan yang dimiliki:
yang sangat menyolok dari perusahaan perorangan berkaitan dengan keterbatasan
jumlah modal yang biasanya dapat disumbangkan sesorang. Pemberi pinjaman juga
enggan meminjamkan dana kepada pemilik perorangan kecuali jika kejujuran pribadi
seseorang dapat menjaminnya. Kelemahan lainnya, bahwa kewajiban pribadi sebagai
pemilik untuk semua hutang dan kewajiban bisnis bahkan meluas kepada warisan
pribadi pemilik. Sedangkan pembebasan dari pajak bisnis yang biasanya merupakan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


21

keunggulan dpat juga menjadi kelemahan, karena keuntungan bisnis dianggap


keuntungan pemilik, maka keuntungan bisnis yang tinggi bisa mengakibatkan pemilik
dikenakan tariff pajak yang lebih tinggi disbanding bentuk perseroan.
Pemusatan kendali dan laba pada satu individu dapat mengakibatkan karyawan
merasa tidak tenang, karena menyadari kenyataan bahwa masa depan kesejahteraannya
dan kehidupannya tergantung pada satu orang. Jadi perusahaan perorangan dapat
mengalami kesulitan dalam mencari karyawan baik untuk dipekerjakan, karena pada
dasarnya karyawan ingin ambil bagian secara finansial di dalam bisnis tempat mereka
bekerja. Tanpa karyawan yang baik dan memiliki motivasi tinggi, pemilik akan merasa
terlalu repot apabila bisnis tumbuh, yang akhirnya mengakibatkan bisnis menjadi
menderita.
Kesimpulannya, perusahaan perorangan kekurangan stabilitas dan kesinambungan
karena sangat tergantung kepada satu orang. Kematian atau ketidakcakapan pemilikakan
mengakibatkan berakhirnya bisnis.

2. Persekutuan
Persekutuan (partnership) adalah asosiasi/perhimpunan dari dua orang atau lebih
sebagai pemilik bisnis. Persekutuan dapat didasarkan pada perjanjian tertulis atau lisan,
atau kontrak antara kelompok yang terlibat. Tetapi sangat disarankan, bahwa perjanjian
persekutuan disimpulkan secara tertulis untuk menghindarkan ketidaksepakatan dan
kesalah-pahaman di kemudian hari. Pada dasarnya terdapat dua jenis persekutuan, yaitu:
a. Persekutuan Umum
sejauh ini, bentuk yang paling lazim dari persekutuan adalah bentuk persekutuan
umum. Pada persekutuan umum, masing-masing sekutu (tanpa memperhitungkan
presentase modal yang ditanamkan) mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Bila
kebangkrutan menimpa persekutuan, semua kewajiban dibagi rata diantara sekutu-
sekutu sejauh sumber daya pribadi yang ada masih memadai. Setiap sekutu umum dapat
mengikat persekutuan untuk memenuhi setiap janji bisnis yang dibuat. Walaupun dalam

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


22

akuntasi persekutuan biasanya diperlukan sebagai bisnis yang terpisah. Namun secara
hokum hal itu tidak dianggap sebagai kesatuan yang berdiri sendiri, tetapi hanya sebagai
kelompok individu atau satuan usaha tanpa badan hukum.
b. Persekutuan Terbatas
Tipe persekutuan ini memperkenankan individu-individu untuk menyetor uang
atau pemilikan modal tanpa mengharuskan kewajiban hukum penuh seperti sekutu
umum. Kewajiban sekutu terbatas biasanya hanya terbatas sejumlah uang yang telah
diinvestasikan secara pribadi dalam bisnis. Persekutuan terbatas relatif sedikit
jumlahnya, karena itu pembahasan persekutuan selanjutnya akan dititikberatkan pada
persekutuan biasa atau umum.
Keunggulan yang dimiliki :
Sangat sedikit pengeluaran yang dibutuhkan walaupun perlu diminta bantuan
pengacara yang baik untuk menggambarkan perjanjian persekutuan. Persekutuan
biasanya dapat mengumpulkan lebih banyak sumber daya daripada perusahaan
perorangan sebab lebih banyak orang yang terlibat. Sekutu-sekutu merupakan suatu tim,
dank arena setiap anggota tim berbagi tanggung jawab dan keuntungan, sekutu-sekutu
tampaknya lebih termotivasi daripada karyawan perusahaan perorangan atau perseroan.
Sekutu-sekutu secara perorangan hanya membayar pajak atas penghasilan yang
diperoleh sebagai bagian dari laba. Bisnis itu sendiri tidak dipajaki, dan ini dapat
merupakan keuntungan besar, tergantung dari penghasilan para sekutu. Perkara-perkara
bisnis persekutuan dibatasi pada persekutuan saja, dan unsure kerahasiaan ini
merupakan salah satu alasan utama mengapa banyak orang memiliki bentuk
persekutuan untuk melaksanakan bisnis.

Kelemahan yang dimiliki :


Sejauh ini kelemahan terbesar dari persekutuan terletak pada kewajiban yang
tidak terbatas dari sekutu umum. Ada banyak kasus yang tersiar luas, dimana seorang
sekutu membebani rekening persekutuan dengan transaksi penjualan dengan pihak luar

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


23

yang menaruh kepercayaan penuh, dan kemudian karena sekutu tersebut secara
perorangan tidak mampu membayarnya maka sekutu yang lain harus menanggung
rekening itu. Sekutu terbatas pun harus sangat berhati-hati, mereka sebaiknya tidak
memperlihatkan keaktifan dalam manajemen bisnis. Kerapkali pengenaan tuntutan
hukum didasarkan pada tindakan perorangan bukan pada dokumen tertulis.
Kelemahan lainnya adalah kurangnya kesinambungan dan kestabilan. Satu
prinsip terakhir dan sangat penting: penyiapan secara hati-hati konsep perjanjian
persekutuan secara tertulis akan lebih banyak gunanya untuk memastikan keberhasilan
persekutuan ketimbang faktor lainnya.

3. Perseroan
Perseroan (badan hukum) merupakan wujud buatan, dilengkapi secara hukum
dengan kekuasaan, hak, kewajiban, dan tugas seperti manusia biasa. Tanpa organisasi
berbentuk perseroan, tidak bisa kita bayangkan terciptanya satuan usaha seperti sekaran,
yang mempekerjakan ribuan orang dan bernilai milyaran dolar A S. Banyak perseroan
yang besarnya bagaikan raksasa, tetapi kebanyakan perseroan relative kecil, banyak
diantaranya merupakan bisnis perorangan yang pemiliknya telah memilih bentuk
organisasi perseroan sebagai yang terbaik untuk bisnisnya.

Organisasi Nirlaba
Hampir semua perseroan dibentuk untuk menghasilkan laba, akan tetapi ada
beribu-ribu perseroan yang tidak mencari laba. Organisasi nirlaba ini menggeluti
banyak lapangan usaha, termasuk keagamaan, pemerintahan, usaha tani, perburuhan,
dan organisasi-organisasi amal. Undang-undang Negara merinci sejumlah bentuk yang
boleh diambil oleh organisasi nirlaba, disertai dengan peraturan khusus mengenai tujuan
dan operasinya. Pengacara yang kompeten dapat menyarankan apakah bentuk perseroan
yang nirlaba merupakan bentuk paling sesuai untuk agribisnis tertentu. Sekali lagi
penafsiran hokum akan didasarkan pada cara peseroan tersebut bertindak, bukan pada

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


24

akta atau doukumen organisasi. Organisasi nirlaba dibebaskan dari pajak tertentu, dan
biasanya mereka tidak dapat secara financial memperkaya para anggotanya.

Sifat dan Bentuk Perseroan


Perseroan yang ada sekarang ini merupakan inovasi ata pembaruan yang lebih
mutakhir dibanding dengan perusahaan perseorangan dan persekutuan. Perbedaan yang
paling penting adalah bahwa pemilik (pemegang saham) dan para manajer tidak
memiliki sesuatu secara langsung. Semua aktiva (asset) perseroan dimiliki oleh badan
hokum itu sendiri.
Pembentukan perseroan menuntut kepatuhan yang teguh pada undang-undang
Negara, tempat bisnis dibentuk. Bila formalitas-formalitas resmi sudah cukup terpenuhi,
dan bila ongkos yang layak untuk pembentukan perseroan tersebut telah dibayar,
piagam yang member wewenang kepada pemohon untuk melakukan bisnis sebagai
perseroan diterbitkan. Perseroan memiliki dokumen-dokumen resmi sebagai berikut :
1. anggaran dasar (articles of incorporation) yang diajukan pada Negara dan yang
menguraikan maksud dasar perseroan itu dan bagaimana cara pembiayaan (keuangan).
2. anggaran rumah tangga (bylaws) yang menguraikan ketentuan-ketentuan operasi
seperti pemilihan direktur, tugas-tugas para direktur dan pejabat, prosedur pemungutan
suara, dan prosedur pembubaran.
3. persediaan sertifikat saham atau andil yang merinci jumlah investasi para pemilik.

Saham perseroan
Pada saat perseroan didirikan, saham modal (shares of stock) dijual kepada para
peminat yang tertarik untuk menanam dan merisikokan uangnya di dalam perusahaan.
Saham modal adalah secarik surat/kertas, yang bentuknya ditetapkan secara resmi guna
mewakili jumlah pemilikan (modal) setiap pemegangnya pada perseroan bersangkutan.
Saham biasa (common stock) biasanya memiliki hak istimewa dalam pemungutan suara
untuk memilih dewan direktur yang mengawasi kegiatan perseroan. Saham preferen

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


25

atau istimewa berbeda dari saham biasa karena saham semacam itu biasanya tidak
mempunyai hak suara, dan mempunyai posisi istimewa atau didahulukan dalam
penerimaan dividend dan dilunasi terlebih dahulu jika terjadi likuidasi. Jadi hak untuk
pemungutan suara ditukar dengan risiko penanaman modal yang lebih kecil. Setiap
Negara mempunyai apa yang disebut “blue-sky laws” yang mengatur cara-cara
penjualan saham perseroan dan melindungi hak-hak penanam modal.
Penjualan saham perseroan harus mematuhi persyaratan UU Negara yang
bersangkutan. Cara pembiayaan perseroan yang biasa ditempuh adalah melalui
penjualan saham, tetapi pembiayaan melalui obligasi (surat hutang berjaminan), wesel
bayar, surat hutang tidak berjaminan, dan melalui berbagai macam cara untuk
meminjam aktiva (harta) juga dipraktekan.

Cara Kerja Perseroan


Jumlah direktur pada tiap perseroan berbeda-beda tergantung pada anggaran
rumah tangga organisasi yang bersangkutan. Pemegang saham hanya memegang
kendali yang sangat terbatas disbanding direktur. Mereka yang dipilih sebagai direktur
tidak dikenal oleh para pemegang saham dan sering dipilih sebelumnya oleh
sekelompok kecil pemegang saham mayoritas yang bersekutu dengan manajemen
puncak. Dewan direktur mewakili kepentingan pemegang saham, dan fungsi utamanya
adalah untuk memilih para pejabat (officers), mengangkat manajemen puncak, dan
menilai kemajuan bisnis. Pada perseroan kecil biasanya hubungan sangat erat, pada
kenyataannya mungkin hanya ada seorang pemegang saham yang mengawasi perseroan
sepenuhnya.

Keunggulan yang dimiliki :


Pemegang saham (pemilik) tidak secara pribadi menanggung hutang-hutang
organisasi, dan pada umumnya tidak bertanggung jawab atas sesuatu kewajiban yang
terjadi melalui kegiatan bisnis perseroan. Aktiva (harta) perseroan semuanya menjadi

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


26

taruhan dalam penyelesaian sebagian besar gugatan. Struktur perseroan memungkinkan


pendeegasian wewenang, tanggung jawab, dan tanggung gugat (accountability), dan
menjamin tersedianya karyawan yang trampil dan bermotivasi tinggi. Perseroan
menawarkan kepada karyawannya keuntungan-keuntungan seperti pembagian laba dan
rencana penjualan saham, yang mendorong pengabdian dan loyalitas yang tinggi pada
perseroan.
Pemindahan kepemilikan juga lebih mudah dalam perseroan disbanding dalam
bentuk bisnis lainnya. Biasanya pemegang saham dapat menjual sahamnya kepada
seseorang menurut harga yang dikehendaki pembeli. Pemilik juga dapat mengalihkan
modal pribadi kepada pewaris atau orang lain dengan cara yang jauh lebih mudah.
Penjualan saham oleh perseroan kecil yang tidak terkenal tidaklah mudah. Untuk
menemukan sesorang yang mau mengambil risiko terhadap dananya, akan menjadi
lebih mudah bila saham telah pernah diperdagangkan, artinya bila perseroan menjadi
lebih besar dan mulai mengembangkan pasaran yang siap untuk saham-sahamnya,
saham dapat diperdagangkan lewat badan-badan perantara (broker atau pialang) yang
mengkhususkan diri dalam perdagangan saham dan mempunyai hubungan tetap dengan
penanam modal potensial. Saham yang baru diterbitkan mungkin akan dibeli oleh grup
pialang yang nantinya menjualnya kembali kepada masyarakat umum. Banyak
perusahaan memperdagangkan saham mereka di pasar sekunder yang mengumumkan
daftar harga setiap harinya dan memperlancar usaha pembelian dan penjualan saham
tersebut. Contohnya adalah Bursa Saham New York, Bursa Saham Amerika, dan Badan
Pelaksana Pasar Modal Indonesia.
Karena kepemilikan perseroan diperdagangkan secara bebas, maka relatif mudah
bagi perseroan tersebut untuk meningkatkan modal tetap dalam jumlah yang besar.
Keunggulan terakhir adalah bahwa perseroan bersifat “abadi”. Kematian, pengunduran
diri, atau masa pensiun pada pemegang saham mempunyai pengaruh yang kecil
terhadap keberlangsungan perseroan.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


27

Kelemahan yang dimiliki :


Perseroan dibebani pajak atas dana yang diperoleh sebagai laba, kemudian setelah
dividen dibayar kepada pemegang saham, pemegang saham juga harus membayar pajak
penghasilan terhadap jumlah dividen yang diterima. Banyak UU dan peraturan yang
mengawasi kegiatan perseroan daripada bentuk organisasi lainnya. Kerahasiaan
perseroaan kurang terjamin karena laporan harus disajikan kepada para pemegang
saham dan Negara, dan karena pemerintah bisa menuntut keterbukaan sekiranya
perseroan menawarkan saham kepada para calon investor. Perseroan besar hanya
mempunyai sedikit kendali terhadap manajemen dan kebijakan perseroan akibat
banyaknya peraturan yang harus dipenuhi dari pemerintah. Sering mereka hanya dapat
melampiaskan ketidakpuasaan dengan menjual saham kepada orang lain jika hal itu bisa
mereka lakukan. Biaya pajak, pencatatan yang harus sangat lengkap, dan operasi
perseroan bisa jadi lebih jauh tinggi daripada biaya bentuk organisasi lainnya.

Pemilik dan manajer harus memilih bentuk yang paling pantas untuk masing-
masing agribisnis yang unik. Agribisnis mungkin perlu mengubah bentuk hokum
organisasinya jika berkembang atau kondisinya berubah. Guna memutuskan bentuk
mana yang paling baik, pemilik atau para pemilik harus menganalisis beberapa factor :
1. Berapa jumlah biaya pengorganisasian dan seberapa mudah bentuk agribisnis ini
diorganisasi?
2. Berapa jumlah modal yang dibutuhkan untuk menjalankan agribisnis tersebut?
3. Berapa modal pemilik atau para pemilik yang telah tersedia?
4. Seberapa jauh kemudahan untuk memperoleh tambahan modal dalam agribisns
tersebut?
5. Kewajiban dan hak pilih atau opsi apa yang telah tersedia dalam perpajakan?
6. Bagaimana pemilik atau para pemilik akan dilibatkan secara perorangan dalam
manajemen dan pengendalian agribisnis?

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


28

7. Apa saja faktor stabilitas, kesinambungan, dan pengalihan pemilikan yang penting
untuk agribisnis?
8. Sampai sejauh mana kerahasiaan masalah agribisnis ingin dipertahankan?
9. Berapa besar risiko da kewajiban yang harus dipikul pemilik atau para pemilik?
10. Apakah jenis/tipe bisnisnya, dimana akan dilangsungkan, dan apa yang menjadi
sasaran dan falsafah pemilik atau para pemilik untuk agribisnis tersebut?
Penilaian dari masing-masing faktor ini akan memungkinkan pemilihan bentuk
organisasi bisnis yang paling sesuai untuk setiap kasus.

9). Pemilihan Bentuk Organisasi Agribisnis


Bentuk organisasi agribisnis tidak ditentukan oleh ukuran, komoditi, atau jenis
agribisnis, hampir setiap ukuran dan agribisnis yang ada dapat mengambil salah satu
bentuk dari keempat kategori tersebut diatas. Masing-masing bentuk organisasi
agribisnis memiliki keunggulan dan kelemahan, sehingga dalam pemilihan tersebut
perlu beberapa pertimbangan yang tepat. Faktor-faktor yang perlu dianalisis antara lain;
1. Berapa jumlah biaya organisasi dan seberapa mudah bentuk agribisnis ini diorganisir.
2. Berapa jumlah modal yang dibutuhkan untuk menjalankan agribisnis tersebut.
3. Berapa jumlah modal pemilik atau para pemilik yang telah tersedia.
4. Seberapa jauh kemudahan untuk memperoleh tambahan modal dalam agribisnis
tersebut.
5. Bagaimanakah pemilik atau para pemilik dilibatkan secara perorangan dalam
manajemen dan pengendalian agribisnis.
6. Kewajiban atau hak pilih atau opsi apa yang tersedia dalam perpajakan.
7. Apa saja faktor stabilitas, kesinambungan, dan pengendalian pemilikan yang penting
untuk agribisnis.
8. Sampai sejauh mana kerahasiaan masalah agribisnis ingin dipertahankan.
9. Berapa besar resiko dan kewajiban yang harus dipikul pemilik atau para pemilik.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


29

10. Apakah jenis/tipe bisnisnya, dimanakah akan dilangsungkan, dan apa yang menjadi
sasaran dan falsafah pemilik atau para pemilik untuk agribisnis tersebut.
(Sumber: 'Manajemen Agribisnis' oleh Hary Sulaksono, SE, MM)

10). Struktur dan Karakteristik Berbagai bentuk Organisasi Agribisnis

Organisasi agribisnis adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang


perekonomian dalam sektor pertanian. Pada umumnya berbentuk sebagai badan usaha.
Badan Usaha adalah kesatuan yuridis (hukum) dan ekonomis yang menggunakan modal
dan tenaga kerja untuk mencari keuntungan. Perusahaan adalah unit ekonomi yang
mengkombinasikan sumber daya manusia, alam, modal, dan pengusaha (wirausaha)
untuk menghasilkan sejumlah barang dan jasa tertentu.

Jenis-Badan-Usaha-:
Agraris adalah kegiatan mengolah sumber daya alam untuk menghasilkan suatu
barang tertentu. Contoh : perkebunan teh, kelapa sawit, perkebunan karet, dll.
Ekstraktif adalah kegiatan mengambil apa yang telah dihasilkan oleh sumber daya alam.
Contoh : hasil hutan, hasil laut, dll.
Perdagangan adalah kegiatan membeli dan menjual kembali suatu barang tanpa
mengubah bentuknya. Contoh : perdagangan beras dilakukan oleh seseorang dengan
membeli beras di daerah penghasil padi.
Industri adalah kegiatan mengolah bahan-bahan baku dan bahan penolong menjadi
barang setengah jadi atau barang siap pakai. Contoh : sepatu, pakaian, dsb.
Jasa adalah kegiatan yang memberikan pelayanan dan kemudahan dalam rangka
memenuhi kebutuhan. Contoh : jasa pengangkutan barang, jasa perbankan, dll.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


30

Jenis-Jenis Badan Usaha Menurut Kepemilikan Modal :


1) Badan Usaha Milik Swasta
Badan Usaha Milik Swasta adalah seluruh modal dimiliki oleh pihak swasta. Badan
usaha swasta dapat dibedakan juga menjadi perusahaan perseorangan, persekutuan
firma, perusahaan komanditer (CV), dan perseroan terbatas.
2) Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
kepemilikan modal yang bersumber dari kekayaan Negara yang dipisahkan, baik
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
3) Badan Usaha Koperasi
kepemilikan modal berada pada anggota-anggotanya, yang bersumber dari simpanan
wajib dan simpanan pokok.
Bentuk Badan Usaha :
1. Perusahaan Perseorangan atau Individu
Perusahaan Perseorangan adalah suatu bentuk badan usaha di mana pemilik
badan usaha itu adalah perseorangan yang melakukan pekerjaan untuk mendapatkan
laba.
Kelebihan Perusahaan Perseorangan :
Organisasi yang mudah
Kebebasan bergerak
Tidak ada yang mempersoalkan manajemen perusahaan perseorangan, sebab dia
sendiri yang memegang kekuasaan di dalam perusahaan.
Penerimaan seluruh keuntungan
Pajak yang rendah.
Ketidakmungkinan bocornya rahasia
Ongkos organisasi yang murah
Undang-undang dan peraturan yang membatasi gerak perusahaan perseorangan
relatif sedikit jika dibandingkan dengan peraturan pada bentuk-bentuk badan usaha lain.
Pemilik perusahaan perseorangan memiliki motivasi kuat untuk mendapatkan laba.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


31

Kekurangan Perusahaan Perseorangan :


Tanggung jawab perusahaan yang tidak terbatas
Besar perusahaan terbatas
Kontinuitas yang tidak terjamin
Kesulitan dalam soal pimpinan

2. Persekutuan Firma
Persekutuan Firma adalah usaha untuk menjalankan sebuah perusahaan dengan
memakai nama bersama. Atau Persekutuan Firma adalah Perjanjian antara dua orang
atau lebih di mana masing-masing pihak secara bersama-sama menyetor modal untuk
menjalankan usaha bersama dengan tanggung jawab bersama.
Persekutuan Firma dapat berakhir oleh karena beberapa hal :
Seorang sekutu meninggal atau jatuh pailit (guung tikar).
Dibubarkan hakim karena alasan-alasan sah.
Jangka waktu yang ditetapkan persekutuan firma telah habis.
Seorang sekutu menarik diri.
Kelebihan Persekutuan Firma :
Kebutuhan akan modal lebih mudah terpenuhi
Pada persekutuan firma ada beberapa pemilik, jadi setiap keputusan dapat diambil
berdasarkan pertimbangan berbagai pihak.
Perhatian sekutu yang sungguh-sungguh pada perusahaan.
Kekurangan Persekutuan Firma :
Tanggung jawab yang tidak terbatas daripada setiap sekutu
Pimpinan dipegang oleh lebih dari dari satu orang
Penanaman modal beku

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


32

3. Persekutuan Komanditer (CV)


Persekutuan Komanditer adalah suatu persekutuan di mana satu atau beberapa
orang sekutu mempercayakan uang atau barang kepada satu atau beberapa orang yang
menjalankan perusahaan, yang bertindak sebagai pemimpin.
Kelebihan Persekutuan Komanditer :
Mudah proses pendiriannya
Kebutuhan akan modal dapat lebih dipenuhi
Persekutuan komanditer cenderung lebih mudah memperoleh kredit
Dari segi kepemimpinan, persekutuan komanditer relatif lebih baik
Sebagai tempat untuk menanamkan modal, persekutuan komanditer cenderung lebih
baik, karena bagi sekutu diam akan lebih mudah untuk menginvestasikan maupun
mencairkan kembali modalnya.
Kekurangan Persekutuan Komanditer :
Kelangsungan hidup tidak menentu, karena banyak tergantung dari sekutu
komplementer yang bertindak sebagai pemimpin persekutuan.
Tanggung jawab para sekutu komanditer yang terbatas mengendorkan semangat
mereka untuk memajukan perusahaan jika dibandingkan dengan sekutu-sekutu pada
persekutuan firma.

4. Perseroan Terbatas (PT)


Perseroan Terbatas (PT) adalah suatu persekutuan untuk menjalankan
perusahaan dengan modal usaha terdiri atas beberapa saham (sero).
Ciri-ciri Persero adalah:
Tujuan utamanya mencari laba (Komersial)
Modal sebagian atau seluruhnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan yang
berupa saham-saham
Dipimpin oleh direksi
Pegawainya berstatus sebagai pegawai swasta

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


33

Badan usahanya ditulis PT (nama perusahaan) (Persero)


Tidak memperoleh fasilitas negara

Beberapa Jenis Perseroan Terbatas :


a. Perseroan Terbatas Terbuka
Kebutuhan modal diperoleh dengan menjual saham di bursa.
b. Perseroan Terbatas Tertutup
Saham-saham pada perseroan tertutup dimiliki oleh orang-orang tertentu dan seringkali
orang-orang itu memiliki hubungan kekeluargaan dan sahamnya berbentuk “atas nama”.
c. Perseroan Terbatas Milik Negara (Persero)
Sebagian atau seluruh saham pada perseroan terbatas ini dimiliki Negara atau disebut
Persero.
d. Perseroan Terbatas Kosong
Perseroan Terbatas Kosong adalah sudah bangkrut dan tidak ada aktifitas, tetapi masih
sah sebagai PT.
Kepengurusan Perseroan Terbatas antara lain :
Direksi Terdiri dari direktur utama dan direktur-direktur lainnya.
Tugas direksi adalah :
Menjalankan badan usaha sebaik-baiknya yang selanjutnya dapat bertindak sebagai
wakil PT, baik ke dalam maupun ke luar.
Memberikan laporan kepada rapat pemegang saham sekurang-kurangnya sekali
setahun, termasuk neraca rugi laba.
Dewan Komisaris , Tugasnya adalah :
Mengawasi jalannya perusahaan.
Memberikan nasihat-nasihat kepada direksi.
Melakukan tindakan bila diperlukan untuk kepentingan pemegang saham.
Rapat Pesero, dan memiliki beberapa Hak adalah :
Menetapkan pengangkatan dan pemberhentian anggota direksi dan dewan komisaris.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


34

Menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan pokok badan usaha.


Mengesahkan laporan neraca rugi/laba dan pembagian keuntungan untuk para
pemegang saham dalam bentuk dividen.
Kelebihan Perseroan Terbatas :
Tanggung jawab yang terbatas dari para pemegang saham.
Pemisahan pemilik dari pengurus.
Mudah mendapatkan modal.
Terdapat efisiensi dalam soal kepemimpinan.
Kekurangan Perseroan Terbatas :
Pemungutan pajak terhadap perseroan terbatas relatif besar.
Mendirikan perseroan terbatas lebih mahal.
Tidak terjaminnya rahasia.
Kurangnya perhatian para pemegang saham terhadap perusahaan.

5. Koperasi
Istilah koperasi berasal dari dua suku kata, co dan operation. Co berarti bersama
dan operation berarti pekerjaan, sehingga kalau digabung menjadi cooperation, atau
dengan kata lain, koperasi berarti pekerjaan bersama atau bersama-sama bekerja untuk
mencapai tujuan tertentu. Jadi, koperasi merupakan jenis badan usaha yang
beranggotakan orang-orang atau badan hukum. Koperasi melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.
Koperasi menurut UUD 1945 pasal 33 ayat 1 merupakan usaha kekeluargaan dengan
tujuan mensejahterakan anggotanya.
Misi Koperasi :
Memacu pengembangan usaha
Kemandirian
Profesionalisme

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


35

Peranan Pemerintah dalam Pasal 60 UU No.25 Tahun 1992:


Menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong pertumbuhan
serta pemasyarakatan koperasi.
Memberikan bimbingan kemudahan dan perlindungan kepada koperasi.
Susunan Organisasi Koperasi Kewajiban dan Tanggung Jawab adalah :
Landasan-landasan, asas, dan dasar koperasi.
Undang-undang, peraturan pelaksanaannya, anggaran dasar dan anggaran rumah
tangga koperasi.
Keputusan-keputusan rapat anggota.
Koperasi Memiliki Hak-Hak sebagai berikut :
Menghadiri, menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam Rapat Anggota.
Memilih dan atau dipilih menjadi anggota pengurus dan badan pemeriksa.
Meminta diadakannya rapat anggota menurut ketentuan-ketentuan dalam Anggaran
Dasar.
Mengemukakan pendapat atau saran-saran kepada pengurus di luar rapat, baik
diminta atau tidak diminta.
Mendapat pelayanan yang sama antara sesama anggota.
Melakukan pengawasan atas jalannya organisasi dan usaha-usaha koperasi menurut
ketentuan-ketentuan dalam anggaran dasar.

Kelebihan Koperasi :
Prinsip pengelolaan bertujuan memupuk laba untuk kepentingan anggota, misalnya
koperasi pertanian mendirikan pabrik penggilingan padi.
Anggota koperasi berperan sebagai konsumen dan produsen.
Dasar sukarela, orang terhimpun dalam koperasi atau masuk menjadi anggota
dengan dasar sukarela.
Mengutamakan kepentingan anggota.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


36

Kekurangan Koperasi :
Keterbatasan di bidang permodalan.
Daya saing lemah.
Rendahnya kesadaran berkoperasi pada anggota.
Kemampuan tenaga professional dalam pengelolaan koperasi.
Peran Koperasi dalam Peningkatan Kemakmuran Rakyat adalah :
Meningkatkan pendapatan rakyat dan pendapatan nasional.
Mengentaskan kemiskinan.
Meningkatkan kualitas hidup.
Memperkokoh perekonomian rakyat dan koperasi sebagai soko gurunya.
6. Perusahaan Negara (BUMN)
Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sedikit sulit karena perusahaan Negara di
Indonesia diatur oleh peraturan-peraturan yang berbeda sejak zaman penjajahan hingga
dewasa ini. Menurut pasal 9 UU No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
hanya membagi BUMN menjadi dua bentuk, Persero dan Perum.

Maksud dan Tujuan dari pendirian BUMN menurut UU No. 19 Tahun 2003
adalah :
Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada
umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya.
Mengejar keuntungan.
Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang/jasa yang
bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak.
Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor
swasta dan koperasi.
Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan
ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


37

BUMN seluruh atau sebagian modal pada BUMN itu dimiliki oleh Negara melalui
penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan.
Kekayaan Negara yang dipisahkan adalah kekayaan Negara yang berasal dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dijadikan modal Negara pada Persero
atau Perum serta Perseroan Terbatas lainnya.
Pengurusan BUMN dilakukan oleh Direksi. Direksi itu bertanggung jawab penuh
atas pengurusan BUMN untuk kepentingan dan tujuan BUMN serta mewakili BUMN,
baik di dalam maupun di luar pengadilan. Anggota Direksi harus mematuhi anggaran
dasar BUMN dan peraturan perundang-undangan serta wajib melaksanakan prinsip-
prinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas,
pertanggungjawaban, serta kewajaran.
Persero adalah BUMN berbentuk Perseroan Terbatas. Seluruh atau paling sedikit
51 % kepemilikan saham adalah milik Negara. Maksud dan tujuan pendirian Persero
adalah untuk menyediakan barang atau jasa bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, dan
juga untuk mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Organ atau
perangkat dalamPersero adalah RUPS, Direksi, dan Komisaris.
Perum seluruh modal dimiliki Negara dan tidak terbagi atas saham. Perum
didirikan dengan maksud dan tujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan
barang atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan
prinsip pengelolaan perusahaan. Organ Perum adalah Menteri, Direksi, dan Dewan
Pengawas.
BUMN memiliki kelebihan-kelebihan adalah :
Seluruh keuntungan BUMN menjadi keuntungan Negara.
Menyediakan jasa-jasa bagi masyarakat.
Merupakan sarana untuk melaksanakan pembangunan.
BUMN juga memiliki Kekurangan-keurangan adalah :
Pengelolaan BUMN sangat ditentukan oleh kemampuan keuangan Negara.
Sejumlah besar aturan (birokrasi) dapat menghambat pengembangan BUMN.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


38

7. Perusahaan Daerah
Perusahaan Daerah atau sering disebut Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) didirikan
berdasarkan Peraturan Daerah di mana modalnya baik seluruh atau sebagian merupakan
kekayaan daerah yang dipisahkan, kecuali ditentukan lain dengan atau berdasarkan
undang-undang. Perusahaan Daerah dipimpin oleh suatu Direksi. Anggota Direksi
diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah, setelah mendengar pertimbangan
DPRD untuk waktu maksimal empat tahun.
Tugas Direksi adalah :
Menentukan kebijaksanaan dalam pimpinan perusahaan.
Mengurus dan menguasai kekayaan Perusahaan Daerah.
Mewakili perusahaan daerah di dalam dan di luar pengadilan.
Mengirim laporan-laporan kepada Kepala Daerah.
Mengangkat dan memberhentikan pegawai Perusahaan Daerah sesuai dengan
peraturan kepegawaian yang disetujui oleh Kepala Daerah.
Kebaikan dan kelemahan pada BUMD hampir serupa dengan BUMN antara lain
mengingat sifat, maksud, dan tujuan pendirian BUMN dan BUMD hampir serupa.
Fungsi Badan Usaha
Fungsi Komersial ini dapat dicapai dengan penyediaan barang dan jasa. Perusahaan
harus mampu memproduksi barang dalam jumlah yang besar dan berkualitas tinggi.
Fungsi Komersial, badan usaha akan senantiasa berusaha memperoleh laba maksimal.
Tujuan itu dapat dicapai bila perusahaan mengelola secara optimal semua sumber daya
yang dimilikinya. Pengelolaan sumber daya tersebut dilakukan oleh setiap badan usaha
melalui fungsi manajemen dan fungsi operasional.
Fungsi Manajemen terkait dengan proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi lainnya, agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


39

Fungsi Operasi untuk mengoperasikan perusahaannya, badan usaha perlu


memperhitungkan faktor-faktor personalia, pembelanjaan, produksi,
pemasaran, danpengorganisasian.
Personalia, setiap badan usaha memerlukan pegawai untuk melaksanakn seluruh
kegiatan operasi perusahaan. Untuk mendapatkan orang yang sesuai dengan
pekerjaannya, perusahaan melakukan kegiatan personalia yang meliputi penarikan,
penempatan, pelatihan, dan pemberhentian pegawai. Bagian personalia menentukan
upah atau gaji para pegawai sesuai dengan pekerjaan/jabatan masing-masing.
Pembelanjaan, kegiatan perusahaan dibelanjai dengan sejumlah uang tertentu.
Dalam masalah pembelanjaan ini, pertimbangan yang diperlukan adalah tujuan,
kebijakan, dan prosedur pembelanjaan perusahaan. Ditetapkan kebijakan mengenai
sumber, penggunaan, pengawasan, pengaturan, dan pengandalian dana.
Produksi, kesinambungan perusahaan dapat terlaksana apabila perusahaan
mampu menghasilkan barang dan jasa secara terus-menerus. Pengertian menghasilkan
di sini adalah menciptakan danmeningkatkan daya guna barang/jasa itu, setiap
perusahaan berusaha menggunakan cara-cara yang terbaik sehingga dapat
meminimumkan biaya, dan pada gilirannya dapat menjualnya dengan harga yang murah
dibandingkan dengan barang sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan lainnya.
Pemasaran adalah semua kegiatan usaha yang berhubungan dengan arus
penyerahan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Penyerahan barang meliputi
kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan kepemilikan barang, cara-cara penjualan,
penentuan harga, promosi yang efektif, dan penentuan saluran distribusi yang digunakan
oleh perusahaan.
Fungsi Sosial adalah kegiatan perusahaan secara langsung atau tidak langsung yang
dapat dinikmati hasilnya oleh masyarakat.
Fungsi Sosial antara lain :

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


40

Penyediaan Lapangan Kerja, semakin maju perusahaan, semakin mampu perusahaan


tersebut menyerap tenaga kerja. Semakin meningkat pula upah atau kesejahteraan
para karyawannya. Tingkat kemakmuran bersama dapat tercapai.
Perbaikan Kualitas Lingkungan, perusahaan berperan serta
menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, agar masyarakat di lingkungannya
dapat hidup sehatdan dapat terhindar dari bencana alam di kemudian hari.
Fungsi Ekonomi Nasional
Perusahaan sebagai mitra kerja pemerintah ikut berperan serta dalam pembangunan
ekonomi. Kegiatan perusahaan searah dengan pembangunan yang dicanangkan
pemerintah. Perusahaan dapat membantu pemerintah dengan membayar pajak
perusahaan. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintah.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


41

IV. MANAJEMEN PRODUKSI AGRIBISNIS

GAMBARAN UMUM
Bidang pertanian agribisnis masih mendominasi ukmk

Pengertian
• Agribisnis adalah kegiatan usaha yangmembudidayakan tanaman, ternak mulai
dari saat awal pertumbuhan hingga menghasilkan produk siap konsumsi dan siap olah
untuk proses lebih lanjut.

1. Prospek Usaha Bidang Agribisnis


• Kebutuhan pasar domestik tinggikarena populasi penduduk banyak.

• Variabilitas produk yang dapatdihasilkan untuk pasar domestik dan ekspor tinggi

• Dukungan sumberdaya alam memadai

• Kondisi geografis Indonesiadiuntungkan

• Berada pada jalur lalu lintasperdagangan dunia

Karakteristik Produk Pertanian


• Mudah rusak karena pengaruh fisik, kimia atau biologi

• Bersifat klimaterik (respon terhadap udara luar disekeliling produk tinggi)

• Umur produksi agak lama (3 bulan hingga tahunan)

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


42

• Umur konsumsi dalam bentuk segar pendek

• Memegang peranan penting dalam pemenuhan sandang, papan, pangan, pakan

2. Beberapa Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam


Agribisnis/Agroindustri
• Umur tanam hingga produksi
• Lama konsumsi dari produk pertanian tersebut(umur simpan)
• Variabilitas bahan untuk diolah dari satu produk ke produk yang lain
• Cara penanganan pasca panen, penyimpanan dan penyajian
• Kesesuaian dengan standar yang ditetapkan
• Penampakan produk dalam rangka menarikminat konsumen
• Aspek lingkungan pemasaran

Rantai Nilai Usaha


• Pendukung Logistik
• Manajemen produksi
• Sistem distribusi
• Pemasaran
• Pelayanan pada pelanggan

Tahapan Kegiatan dalam Agribisnis


• Benih, bibit
• Pupuk
• Pengolahan tanah
• Pestisida

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


43

• Irigasi & drainase


• Pemeliharaan
• Pemanenan
• Keputusan dalam memasarkan produk (cara ijon atau dengan pemasaran sendiri )

Sektor Agribisnis dengan Dukungan BUMN


Sektor Pertanian
1. Pertanian Padi 2. Pertanian jagung 3. Pertanian palawija 4. Pertanian yang lain
tanaman

Sektor Peternakan
1. Peternak sapi/kerbau dll 2. Peternak kambing/domba biri-biri 3. Peternak ayam,
bebek dll payau/sungai 4. Peternak unggas ikan/udang 5. Budidaya pakan ternak dll

Sektor Holtikultura
1. Tani tanaman sayuran 2. Tani tanaman buah-buahan 3. Tani tanaman hias/bunga 4.
Budidaya pembibitan

Sektor Perikanan:
1. Peternak ikan air tawar 2. Peternak ikan air laut 3. Peternak ikan air 4. Budi daya
pembibitan

Acuan Pemilihan Komoditas Agribisnis


• Komoditas dengan tingkat produksi per satuan luas
• Profit per satuan produk
• Tingkat utilisasi lahan produksi yang lebih tinggi

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


44

• Kemungkinan diversifikasi olahan produk lebih banyak


• Titik pulang modal (break even point) atau periode kembali modal (pay back
period)
• Umur produksi yang sesingkat mungkin

Perencanaan Usaha Agribisnis


 Menganalisis situasi yang berhubungan usaha yang akan dilakukan.
 Permintaan pasar.
 Pangsa pasar & segmentasi pasar.
 Strategi memasuki pasar.
 Pemahaman tentang organisasi dan tata laksana perusahaan.
 Bagaimana menentukan harga pokok dan harga jual produk, penentuan volume
produksi dan perhitungan titik impas usaha, sistem pembukuan keuangan.
 Pengetahuan tentang konsep bunga uang (cara hitungbunga).
 Kemampuan dalam menganalisis alternatif usaha yang paling menguntungkan.
 Bagaimana cara menjalin kemitraan.
 Melakukan studi kelayakan usaha.
 Mengelola sistem produksi dalam berusaha dengan cara yang efektif dan efisien.
 Menjaga usaha yang dilakukan agar berkesinambungandengan mengacu pada
kaidah 3K yaitu : KAPASITAS, KUALITAS dan KONTINYUITAS.

Pedoman Sederhana Menghitung Kelayakan Usaha


• Perkiraan biaya investasi untuk kurun waktu usaha tertentu
• Perkiraan biaya produksi (operasi produksi)
• Perkiraan pendapatan selama periode usaha tertentu
• Perhitungan nilai bersih usaha dengan mempertimbangkan aspek bunga bank

Manajemen Produksi Agribisnis

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


45

Pengantar
Usaha tani sebagian besar masih dilakukan dengan cara tradisional dan belum
menerapkan teknologi maju.Akibat dari kondisi ini menyebabkan mutu rendah kurang
memiliki daya saing untuk pasar dalam dan luar negeri. Perlu upaya peningkatan
melalui perbaikan manajemen produksi yang berbasis mutu dan pasar
Pola manajemen produksi merupakan kegiatan yang terintegrasi sistem
produksi, manajemen tanaman, manajemen nutrisi, manajemen air, manajemen OPT,
manajemen panen dan pasca panen, manajemen SDM serta manajemen lingkungan.
Implementasi manajemen produksi menghendaki pelaksanaan yang ketat dalam rangka
peningkatan mutu dan produktivitas.
Pelaksanaan manajemen produksi perlu didukung kelembagaan/ organisasi
Manajemen tanaman sebagai salah satu kegiatan dalam manajemen produksi meliputi
berbagai kegiatan mulai dari penyiapan benih; persiapan lahan; penanaman;
pemangkasan; kebersihan hingga pada usaha induksi pembungaan.
Manajemen nutrisi meliputi kegiatan pemberian pupuk/ nutrisi yang dibutuhkan
tanaman.
Manajemen produksi perlu didukung hasil-hasil penelitian/kajian.
Upaya peningkatan mutu dilakukan melalui perbaikan manajemen produksi dapat
ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:
Penerapan Panduan Budidaya Peningkatan tuntutan konsumen terhadap mutu
dan keamanan pangan atas produk yang dikonsumsi mendorong pelaku agribisnis mulai
menerapkan Panduan seperti yang terjadi pada negara-negara maju maupun negara
berkembang.
Pengembangan Kebun Percontohan
Untuk mempercepat perbaikan manajemen produksi dapat dilakukan melalui
pengembangan kebun percontohan yang bertujuan untuk menyediakan percontohan
skala kecil yang dapat dijadikan acuan/contoh bagi para petani.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


46

Percontohan merupakan inti penerapan Panduan serta dapat digunakan sebagai uji coba
teknologi untuk menyusun panduan jeruk spesifik lokasi, sarana penyuluhan, diskusi,
pelatihan dan magang.
Percontohan ini juga dapat memberikan inspirasi dan kesadaran petani akan
pentingnya kebun yang dikelola dengan baik, membangkitkan jiwa profesionalisme,
mendorong pengembangan agribisnis buah bermutu.Percontohan perlu difasilitasi dan
dibina oleh Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP), Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), Balai Pengawasan
dan Sertifikasi Benih (BPSB), Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu), Loka
Penelitian Tanaman Jeruk (Lolit Jeruk ? Tlekung), Bappeda Provinsi/Kabupaten dan
berbagai instansi teknis terkait lainnya.
3. Pengembangan Sistem Mutu
Manajemen produksi perlu mendapatkan legalitas/jaminan mutu sehingga diperlukan
tersedianya aturan dan perangkat sistem jaminan mutu. Berkaitan dengan tersebut
pengembangan sistem mutu buah-buahan perlu dilakukan melalui integrasi sistem mutu,
penguatan lembaga sertifikasi, sosialisasi sistem mutu, harmonisasi sistem mutu dan
pengoptimalan peran Lembaga Serifikasi Sistem Mutu (LSSM)
a. Integrasi Sistem Mutu
Departemen Pertanian sudah mencanangkan sistem sertifikasi pertanianIndonesia (SI
SAKTI) yang merupakan sistem baru dalam penetapan standar mutu produk pertanian.
b. Penguatan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu
Lembaga yang diberi wewenang untuk memberikan sertifikasi yang perlu
didayagunakan dengan tenaga yang profesional di bidang mutu dan berupa otoritas
kompetensi dalam melakukan sertifikasi yang selanjutnya lembaga tadi terdaftar dan
terakreditasi.
c. Sosialisasi Sistem Mutu

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


47

Sosialisasi pengembangan sistem mutu perlu dilakukan baik yang menyangkut


kebijakan mutu, mekanisme dan lembaga yang mengatur sistem mutu kepada
stakeholder agribisnis yang terkait.
d. Harmonisasi Sistem Mutu
Upaya lain yang kini sedang dilakukan oleh Departemen Pertanian dalam rangka
pencapaian sistem mutu yaitu melalui harmonisasi sistem standar mutu di tingkat
ASEAN.

Ada empat jenis modal yang berasal dari pinjaman :


pinjaman jangka pendek,
jangka menengah,
jangka panjang dan
modal ekuitas.
Berbagai pinjaman ini berbeda dalam jangka waktu pengembalian, persyaratan
dan tujuan penggunaannya. Pinjaman akan membebani bisnis dengan biaya-biaya
khusus yang harus dibayar kepada pemberi pinjaman yang disebut biaya modal.
Dalam menentukan kebijakan pembiayaan agribisnis dapat digunakan tiga macam
pendekatan yaitu :
hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksi,
hubungan antar faktor produksi
hubungan antar hasil produksi.
Pengoperasian Agribisnis
Pada dasarnya terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pengoperasian agribisnis
yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal.

Faktor eksternal bersumber pada faktor alam dan ekonomi,


Faktor internal adalah kemampuan pelaku agribisnis dalam mengoperasikannya.
Dua fungsi penting dalam manajemen agribisnis adalah :

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


48

Perencanaan produksi
Pengendalian proses produksi.
Produksi merupakan seperangkat prosedur dan kegiatan yang dilakukan dalam
penciptaan produk atau jasa.
Manajemen produksi merupakan rangkaian keputusan yang kompleks dan rumit guna
mendukung proses produksi.
Proses produksi dibedakan menjadi empat jenis yaitu penguraian, peramuan, usaha
ekstraktif dan pengolahan.
Sedangkan tipe produksi terdiri dari produksi yang berkesinambungan dan produksi
yang terputus-putus.
Aspek yang dipertimbangkan dalam perencanaan produksi antara lain berkenaan
dengan lokasi, ukuran pabrik, dan tata letak fasilitas.
Pengendalian proses produksi yang dilaksanakan manajer agribisnis mencakup :
aktivitas pembelian,
persediaan,
penjualan
mutu.

Dalam pengendalian dapat digunakan model-model kuantitatif untuk membantu


pengambilan keputusan

5. Organisasi Industri
Struktur- perilaku-kinerja industri sangat erat hubungannya dengan persoalan-persoalan
ekonomi mikro..
Beberapa aspek yang dipelajari organisasi industri dalam kaitannya dengan struktur-
perilaku-kinerja industri adalahKebebasan memilih dan berusaha;Peluang yang sama,
baik dalam makna pembeli dan penjual maupun dalam kesempatan dan pemerataan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


49

pendapatan;Keadilan dan kewajaran;Aspek kesejahteraan masyarakat; danMenyangkut


kemajuan.
Dalam peristiwa jual beli ada satu aspek yang kurang terlihat oleh pembeli, baik
nyata maupun abstrak, yaitu pembeli sebenarnya berhadapan dengan satu atau lebih
penjual.Pada proses penyederhanaan analisis sering kali terjadi pengelompokan barang-
barang atas golongan tertentu. Penggolongan ini dibakukan oleh Organisasi Industri
pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO) yang terkenal dengan International
Standard Industrial Classification (ISIC).
Penggolongan terbesar dengan kode satu digit misalnya untuk sektor pertanian
yang merupakan sektor satu, pertambangan dan penggalian yang merupakan sektor dua,
industri pengolahan dan manufaktur adalah sektor tiga, sedangkan gas, listrik dan air
minum masukkan ke golongan empat, dan seterusnya.
Penggunaan klasifikasi dalam mengumpulkan dan memperlancar pertumbuhan
industri ini dapat mempermudah dalam penyajian data sehingga pembahasan data baik
untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam jangka waktu tertentu maupun
dalam wilayah tertentu dapat dilakukan dengan cepat.
Analisis komoditi lebih melihat industri sebagai proses pengolahan produk
sehingga diperlukan data yang spesifik. Data industri yang tersedia di negara maju jauh
lebih lengkap sehingga pembahasan tentang struktur-perilaku-kinerja industri dapat
dilakukan secara lebih mendalam.

Pola dan Strategi Kemitraan Agribisnis


Latar Belakang
► Masalah : Sifat komoditas Peretanian yang mudah rusak, dan mengalami susut yang
besar
► Resiko fisik menyebabkan masalah harga bagi pelaku agribisnis.
► Kualitas yang rendah berkaitan erat dengan sistem produksi, sistem panen,
penanganan pasca panen, sistem distribusi dan pemasaran.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


50

► Konsekuensinya, agar dapat memenuhi permintaan pasar dan preferensi konsumen


baik domestik maupun ekspor, maka masalah efisiensi, produktivitas, dan kualitas harus
mendapatkan prioritas perhatian.
► Dengan demikian dipandang penting membangun kelembagaan kemitraan usaha
► Tujuan : saling membutuhkan, memperkuat, menguntungkan serta menerapkan
manajemen mutu yang andal,
► Komoditas Pertanian dapat menjadi sumber akselerasi pertumbuhan
sektorlain karena sifat permintaan yang elastis terhadap pendapatan.
► Untuk memenuhi permintaan pasar dan preferensi konsumen, permasalahan
efisiensi, produktivitas, dan kualitas harus mendapatkan perhatian.
► Komoditas Pertanian dapat menjadi sumber akselerasi pertumbuhan
sektorlain karena sifat permintaan yang elastis terhadap pendapatan.
► Untuk memenuhi permintaan pasar dan preferensi konsumen, permasalahan
efisiensi, produktivitas, dan kualitas harus mendapatkan perhatian.

Model Kelembagaan
► (1) Membentuk Asosiasi Petani
► (2) Memberdayakan Pelayanan Informasi Pasar (PIP),
► (3) Mengefektifkan peran PPL dan dinas lain terkait,
► (4) Mengefektifkan jaringan komunikasi vertikal para pelaku agribisnis,
► (5) Pembenahan infrastruktur
► (6) memberdayakan lembaga pembiayaan.

Kendala Kemitraan
(1) SDM petani dan aparat (KCD/BPP/PPL) yang masih kurang dalam teknik
budidaya komoditas hortikultura, terutama yang memerlukan teknologi modern
(green house, sistem irigasi tetes, hidroponik);
(2) Sistem dan teknologi panen serta penanganan pasca panen masih lemah;

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


51

(3) Dukungan teknologi informasi masih lemah, sehingga dalam penentuan harga lebih
didominasi oleh pihak inti (pemilik modal);
(4) Biaya investasi relatif mahal,
(5) Belum ada jaminan pemasaran, terutama pada waktu produksi melimpah;
(6) Harga yang berfluktuasi, terutama saat-saat panen raya;
(7) Sistem pembayaran relatif lambat,
(8) Persaingan yang tidak sehat antar petani produsen dalam menjual hasil;
(9) Konsolidasi kelembagaan di tingkat petani masih lemah;
(10) Perusahaan pertanian yang bersedia sebagai avalis dan inti dalam kemitraan
agribisnis masih terbatas;
(11) Komitmen yang dibangun di antara pihak-pihak yang bermitra masih belum
optimal; da
(12) Kelembagaan ekonomi masyarakat relatif banyak yang bersifat informal,
sehingga kurang dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan yang secara umum
menghendaki adanya status Badan Hukum sebagai partner bisnis.
(13) Kebijakan pemerintah kurang mensupporting ataupun guidance seringkali
terjadi misleading

Kelemahan Kebijakan
► (1) Lemahnya sistem pengawasan terhadap produk pertanian impor, sehingga
produk luar negeri membanjiri pasar dalam negeri. Kondisi ini dapat menurunkan
pangsa pasar produk pertanian dalam negeri dan berpeluang mengganggu keberadaan
kelembagaan kemitraan yang sudah terbangun;
► (2) Standarisasi kualitas produk pertanian belum memadai, sehingga pihak mitra
(perusahaan) yang memiliki bargaining power lebih kuat cenderung
menetapkan sendiri standar yang belum tentu mampu dipenuhi petani;
► (3) Terbatasnya kredit dengan bunga lunak dalam pembiayaan di sektor pertanian

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


52

► (4) Program yang dicanangkan pemerintah cenderung menggunakan pendekatan


proyek sehingga tidak kontinyu dan kurang mengakar di masyarakat.

Solusi
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut diatas, beberapa hal pokok yang perlu
mendapatkan perhatian dalam kelembagaan kemitraan agribisnis antara lain:
► (1) Pentingnya manajemen yang bersifat transparan, terutama menyangkut harga
dan pembagian keuntungan;
► (2) Adanya komitmen yang tinggi antara pihak yang bermitra, sehingga terbangun
saling percaya-mempercayai;
► (3) Penyediaan instalasi penanganan pasca panen dan pemasaran hasil yang
memadai;
► (4) Adanya pendampingan dan pembinaan oleh PPL Ahli di bidang komoditas yang
dikembangkan; serta
► (5) Konsolidasi kelembagaan kelompok tani, sehingga terbangun kelembagaan
kelompok tani yang kuat

STRATEGI PENGEMBANGAN MODEL KELEMBAGAAN


Untuk membangun strategi model kelembagaan agribisnis perlu melihat tiga potensi :

► (1) Potensi kultural dan sosial,


► (2) Potensi regional, dan
► (3) Potensi struktural.

Potensi kultural dan sosial

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


53

► Potensi budaya dan hukum-hukum adat yang melekat pada masyarakat ( tergantung
lokalitas)
► Proses difusi inovasi baik teknologi maupun program-program pembangunan dapat
berjalan dengan baik.
► Perlu dicari kearifan lokal tentang kelembagaan yang tumbuh dan mengakar di
masyarakat, yang tumbuh dengan motivasi kultural.

Berdasarkan tinjauan antropologis terdapat dua subsistem kultural besar :

► (1) Budaya basah, yaitu kultur yang berkaitan dengan usahatani padi di sawah,
► (2) Budaya kering, yaitu budaya yang berkaitan dengan usahatani lahan kering.

Terdapat dua hal pokok dalam suatu kelembagaan, yaitu:


► (1) Basic institution endowment, dimana melekat dengan erat nilai-nilai budaya dan
adat istiadat,
► (2) Basic institution arrangement, artinya bahwa kultur sosial yang walau berbasis
agama memungkinkan terjadi modifikasi dalam menghadapi tantangan jaman
dan dalam rangka meningkatkan efisiensi, teknis yang praktis dan hal ini dapat
dimusyawarahkan dan
► disepakati oleh tokoh adat dan masyarakat.

(2) Potensi regional


► Resources endowment dengan berbagai potensi sumberdaya alam dapat
berimplikasinya pada :
► (1) Permintaan (demand) terhadap barang dan jasa termasuk produk pertanian;
► (2) Dapat mempercepat penguatan kelembagaan kemitraan produk pertanian
► (3) Meningkatnya pemahaman (capacity building) masyarakat petani terhadap arti
pentingnya kualitas dan interaksi dengan pihak lain (client).

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


54

(3) Potensi struktural


► Peraturan kelembagaan struktural harus dapat membangun kelembagaan kemitraan.
► UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah terdapat isi yang esensial bagi
sektor pertanian bahwa jika suatu wilayah yang menjadikan sektor pertanian
sebagai sektor utamanya, maka secara struktural dinas-dinas terkait merupakan
kelembagaan yang wajib mendukung, seperti Dinas Pertanian, Pemda, Bappeda,
DPRD dan Dinas Perindag.
Kelembagaan kemitraan menyangkut
► Adanya hubungan persaudaraan, dalam bernegosiasi dan melakukan kesepakatan-
kesepakatan atau mengakses informasi.
► Adanya jalinan yang kontinyu sehingga jaminan pasokan produk menjadi lebih
baik.
► Saling membantu dan menguntungkan
► Adanya jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi untuk melakukan
pengembangan komoditas;
► Konsolidasi anggota agar pemasaran dan pembinaan kualitas akan menjadi lebih
mudah dan efisien;
► Adanya mitra yang mau menjadi avalis dalam memperlancar sumber permodalan
bagi petani;
► Adanya peran dan partisifasi pemerintah dalam turut mendukung pengembangan
agribisnis hortikultura,

Model Kemitraan Ideal


1. Pembentukan Asosiasi Petani
(1) Posisi tawar yang tinggi, yang relatif lebih tinggi dibanding petani secara
individual.
(2) Negosiasi kelompok profesional

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


55

(3) Akses terhadap pembiayaan, teknologi lebih mudah

(2) Pemberdayaan Pelayanan Informasi Pasar (PIP)


► Berada di bawah koordinasi Dinas Pertanian Tanaman Pangan
► Dengan memanfaatkan teknologi informasi, para pelaku agribisnis dapat mengakses
beberapa informasi pokok seperti informasi peta produksi, peta perdagangan, serta
peta konsumsi (rumah tangga, hotel, dan restoran/ rumah makan), serta informasi
pasar (harga, tujuan pasar, daya serap pasar, dan jumlah yang diminta) secara Cepat

(3) Mengefektifkan Peran PPL dan Dinas Lain Terkait


► Kelembagaan penyuluh seyogyanya berfungsi sebagai ujung tombak dalam proses
difusi inovasi dan transfer teknologi ke petani.
► Beban wilayah binaan hendaknya berimbang dengan jumlah dan kapasitas
penyuluh pertanian lapang (PPL) termasuk dalam pengalokasian dana, karena
terdapat kecenderungan PPL overload dari sisi pekerjaan, sementara dana yang
diperoleh terbatas.
► Peran Pemda dalam transfer teknologi budidaya, penanganan panen maupun pasca
panen, serta dalam membangun kemitraan usaha, aspek mediasi, konsultasi, dan
fasilitasi
► Petani jangan dijadikan obyek untuk kepentingan institusional yang sekedar
administrasi keproyekan.
► Adanya koordinasi yang efektif antar kelembagaan pemerintah dan masyarakat
petani

(4) Mengefektifkan Jaringan Komunikasi Vertikal antara Para Pelaku Agribisnis


► Terkait dengan harga dan preferensi konsumen terhadap produk pertanian
► Kriteria produk, kualifikasi, spesifikasi mutu produk agar terbangun supply chain
management

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


56

► Informasi tersebut tidak hanya sampai pada level supplier/pedagang pengumpul dan
petani cenderung menjual produk lebih murah

(5) Pembenahan infrastruktur STA


► Pemerintah pusat perlu membuat standar mengenai Sub Terminal Agribisnis (STA),
baik yang menyangkut bangunan fisik, prasarana penunjang maupun sumberdaya
manusia yang mengelolanya.

► STA akan dianggap memadai bila memenuhi beberapa faktor penggerak


pembangunan, dan memiliki:
(1) Infrastruktur fisik berupa bangunan utama untuk kegiatan transaksi jual beli,
(2) Tempat penanganan pasca panen (pencucian, sortasi, grading, dan pengepakan) serta
gudang sebagai tempat penyimpanan,
(3) Sarana seperti keranjang, timbangan, dan meja,
(4) Kantor pengelola,
(5) Tempat bongkar muat dan jasa angkut, serta
(6) Prasarana jalan termasuk tempat parkir.

STA yang ada saat ini terkesan


► Seperti gudang penyimpanan produk pertanian dengan pengelolaan yang kurang
profesional.
► Dalam pengembangan STA perlu mengacu pada STA wilayah lain yang sudah
dikategorikan maju baik dari aspek infrastruktur fisik, fasilitas penunjang, maupun
manajemen operasional STA (termasuk di dalamnya sumberdaya manusia).
► Pengelolaan STA yang profesional akan memperlancar distribusi produk sehingga
permasalahan dalam pemasaran dapat diatasi dan petani produsen dapat termotivasi
untuk mengembangkan skala usahanya. Mengingat dalam era globalisasi dengan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


57

kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat dan persaingan pasar
yang semakin ketat menuntut efisiensi di semua unit usaha dalam sistem agribisnis,
termasuk di dalamnya efisiensi dalam pemasaran produk baik dalam bentuk segar
maupun olahan.
Manajemen produksi juga perlu dikaitkan dengan peluang pasar yang ada sehingga
tidak terjadi kelebihan pasokan (over supply) dan meminimalkan jatuhnya harga.
Artinya, petani produsen perlu memperhatikan kebutuhan pasar, baik jenis, mutu
maupun kontinyuitas pasokan sesuai dengan dinamika permintaan pasar komoditas.

(6) Pemberdayaan lembaga pembiayaan


► Lembaga pembiayaan mikro yang mampu menjangkau masyarakat petani/pedagang
pengumpul yang sebelumnya sangat sulit akses ke sistem keuangan komersial perlu
dikembangkan.
► Adanya dana yang diperuntukkan bagi pengembangan agribisnis, namun sulit
diimplementasikan oleh pihak perbankan memerlukan jalan pemecahan yang cepat
dan konkrit. Mengingat ketersediaan pembiayaan/modal merupakan salah satu
akselerator bagi keberhasilan pengembangan usaha. Selain mempermudah prosedur
peminjaman bagi nasabah (petani dan pedagang pengumpul), dan tidak
mensyaratkan adanya agunan yang tidak seimbang, perbankan perlu menyeleksi
nasabah berdasarkan:
(1) Kemampuan nasabah menggunakan pinjaman secara produktif;
(2) Kemampuan nasabah dalam membayar hutang; dan
(3) Adanya motivasi dari nasabah untuk mendapatkan pinjaman kembali, apabila
pinjaman sebelumnya telah dilunasi; serta
(4) Adanya rujukan dari lembaga Desa di mana nasabah bertempat tinggal.
Perbankan dapat terus memberikan kredit dengan jumlah yang semakin
meningkat berdasarkan catatan pembayaran nasabah dan kelayakan mendapatkan kredit

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


58

(creditworthiness), tentunya dengan memperhatikan karakteristik nasabah (kondisi


sosial ekonomi dan budaya).

V. MANAJEMEN DALAM AGRIBISNIS

1. Pengertian Manajemen
Dalam Encyclopedia of the Social Science, dikatakan bahwa manajemen adalah
suatu proses di mana pelaksanaan suatu tujan diselenggarakan dan diaawasi.
Menerut George R. Terry, Manajemen adalah sebuah proses yang khas, terdiri
dari kegiatan perencanaan, pengorganisasiaan, menggerakkan dan pengawasan yang
dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan dengan
bantuan manusia dan sumber-sumber daya yang lain.
Menurut Parker Follet, ia memberikan batasan manajemen sebagai seni untuk
melakukan suatu pekerjaan melalui orang-orang (the art getting think through people).
Menurut James A. F. Stoner, manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan anggota organisasi
dan proses penggunaan semua sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi
ang telah ditetapkan.
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa,
Manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengkoordinasian, dan pengendalian atas sumber daya, terutama SDM untuk mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

2. Fungsi-fungsi Manajemen terdiri atas:


1. Perencanaan (planning)
Dapat didefinisikan sebagai hasil pemikiran yang mengarah ke masa depan,
menyangkut serangkaian tindakan berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap
semua factor yang terlibat dan yang diarahkan kepada sasaran khusus.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


59

Dengan kata lain, perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan


berdasarkan pemilihan dari berbagai alternative data yang ada, dirumuskan dalam
bentuk keputusan yang dikerjakan untuk masa yang akan datang dalam usaha mencapai
tujuan yang diinginkan.
Dilihat dari bentuknya, perencanaan memiliki beberapa bentuk, yaitu
a. Sasaran/tujuan (objective)
b. Strategi
c. Kebijakan (policy)
d. Prosedur
e. Aturan
f. Program

2. Pengorganisasian (organizing)
Organisasi merupakan kelompok orang yang mempunyai kegiatan dan bekerja
bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Organisasi bukanlah suatu tujuan,
tetapi sebagai suatu alat untuk mecapai tujuan.
Pengorganisasian meliputi langkah-langkah atau usaha untuk:
a. menentukan struktur
b. menentukan pekerjaan yang harus dilaksanakan
c. memilih, menempatkan, dan melatih karyawan
d. merumuskan garis kegiatan
e. membentuk sejumah hubungan di dalam organisasi dan kemudian menunjuk stafnya.

3. Pengarahan (directing)
Pengarahan dapat diartikan sebagai aspek hubungan manusiawi dalam
kepemimpinan yang mengikat bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan
pikiran dan tenaganya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan ang telah
ditetapkan.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


60

Fungsi pengarahan ini merupakan gerak pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan fungsi


perencanaan dan pengorganisasian.
Menurut Downey dan Erickson (1992), pengarahan bertujuan untuk:
a. menentukan kewajiban dan tanggung jawab
b. menetapkan hasil yang harus dicapai
c. mendelegasikan wewenang yang diperlukan
d. menciptakan hasrat untuk berhasil
e. mengawasi agar pekerjaan benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya

4. Pengkoordinasian (coordinating)
Koordinasi merupakan daya upaya untuk mensinkronkan dan menyatukan
tindakan-tindakan sekelompok manusia. Koordinasi merupakan otak dalam batang
tubuh dari keahlian manajemen. Makin sedikit koordinasi yang harus dilakukan, makin
baik. Perintah yang baik dan lazim dari bidang keahlian menajemen lainnya akan
membuat koordinasi tidak begitu dibutuhkan.
Akan tetapi pada organisasi yang dikelola dengan baik sekalipun, ada bidang
yang memerlukan koordinasi. Adalah tanggung jawab manajer untuk melihat bahwa
pengoperasian departemen-departemen, divisi-divisi, dan individu-individu yang berda
di bawah kendalinya terintegrasi secara tepat untuk memproduksi hasil-hasil yang
menunjang tercapainya sasaran organisasi.
5. Pengendalian (controlling)
Pengendalian menurut manajemen menguraikan system informasi yang
memonitor rencana dan proses untuk meyakinkan bahwa hal itu selaras dengan tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya, dan member peringatan bila perlu sehingga tindakan
pemulihan dapat dilakukan.
Pengendalian merupakan merupakan pelengkap dari empat fungsi manajemen
lainnya. Pengendalian meluruskan keputusan yang salah, hal-hal yang tidak diharapkan,
dan dampak dari perubahan. Pengendalian yang tepat memberikan informasi yang

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


61

diperlukan dan waktu untuk memperbaiki program dan rencana organisasi yang telah
salah arah. Cara-cara untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan juga harus disajikan.
Manajer bisa menjadi sadar akan titik-titik lemah dalam pengorganisasian, pengarahan,
dan pengkoordinasian usaha bisnis melalui penggunaan pengendalian secara tepat.

3. Kekhususan Managemen Agribisnis


 Keanekaragaman jenis bisnis yg besar
 Besarnya jumlah Agribisnis
 Kanekaragaman ukuran usaha
 Agribisnis skala kecil hrs bersaing dgn yg skala besar
 Falsafah hidup tradisional
 Cenderung berorientasi pd keluarga & masyarakat
 Keanekaragaman jenis bisnis yg besar
 Besarnya jumlah Agribisnis
 Kanekaragaman ukuran usaha
 Agribisnis skala kecil hrs bersaing dgn yg skala besar
 Falsafah hidup tradisional
 Cenderung berorientasi pd keluarga & masyarakat

4. Tingkatan Manajemen
Manajemen dapat dklasifikasikan menurut tingkatannya, dalam organisasi atau menurut
ruang lingkup kegiatan yang dikelola manajer.
a. Manajemen puncak, berperan dalam menentukan kebijakan strategis dan
mempengaruhi jalannya perusahaan. Dan bertanggung jawab atas manajemen bidang
usaha dari perusahaan secara menyeluruh. Mereka dikenal sebagai Direktur atau CEO
(Chief Executive Officer).
b. Manajemen menengah, berperan memberi pengarahan kegiatan kepada manajer
bawahan atau dalam hal tertentu bisa juga kepada karyawan operasional. Dan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


62

bertanggung jawab terhadap implementasi kebijaksanaan organisasi.


c. Manajemen lini pertama/bawahan, bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain
(bawahannya) dan memberikan pengarahan kepada mereka.

5. Unsur-unsur Manajemen yang Baik


a. Manusia yang melaksanakan manajemen
Ada dua dimensi dalam manajemen yang baik yaitu dimensi manusia dan
dimensi waktu, tetapi dimensi manusia jauh lebih penting. Kemampuan manajer untuk
mencapai hasil melalui orang lain penting sekali dalam manajemen yang baik. Investasi
berupa waktu dan perhatian kepada bawahan sering mendatangkan imbalan yang sangat
berharga.
b. Seni
Manajemen adalah sebuah seni, bukan ilmu. Karena manajemen sangat terkait
dengan manusia, kita harus memandang prinsip-prinsip manajemen sebagai persamaan
yang tidak sempurna. Setiap orang dapat menggunakan prinsip-prinsip manajemen
untuk memelihara pertumbuhan dan kemajuan yang berkesinambungan menuju potensi
pengelolaan.

c. Berhasil/gemilang
Setiap manajemen yang baik, harus berhasil memenuhi sasaran atau hasil yang
diinginkan atau ditentukan sebelumnya. Para manajer harus tahu bidang apa yang
mereka kuasai agar dapat mencapai keberhasilan.
d. Sumber daya yang tersedia
Setiap organisasi memiliki atau mempunyai berbagai macam sumber daya yang
dikuasainya. Para manajer yang berhasil akan mengeruk hasil/pengembalian tertinggi
yang bisa diperoleh dari sumber daya yang tersedia. Mereka mengenali perbedaan
antara apa yang seharusnya dan apa yang menjadi kenyataan. Mereka menggunakan apa
yang mereka miliki untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, dan mereka
berurusan dengan kemungkinan, bukan fantasi.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


63

6. Prinsip-prinsip Manajemen
Menurut Henry Fayol, ada 14 prinsip manajemen yang harus diterapkan dalam
pelaksanaan tugas di dalam perusahaan, tetapi sifatnya fleksibel, diantaranya:
a. Pembagian kerja (Division of Work)
b. Kekuasaan/wewenang dan tanggung jawab (Authority and Responsibility)
c. Disiplin (Dicipline)
d. Kesatuan perintah (Unity of Command)
e. Kesatuan Arah (Unity of Direction)
f. Kepentingan individu di bawah kepentingan bersama (Subordinate of Individual
Interest to General Interest)
g. Pembayaran upah yang adil (Renumeration of Personal)
h. Pemusatan (Centralization)
i. Batas kekuasaan (Line of Authority)
j. Tata Tertib (Order)
k. Keadilan (Equity)
l. Stabilitas pegawai (Stability of Tenure of Personal)
m. Inisiatif (Initiative)
n. Jiwa kesatuan (Espirit de Corps)
7 Bidang-bidang Manajemen
Secara garis besar manajemen terdiri atas lima bidang, yaitu
a. Manajemen produksi
b. Manajemen pemasaran
c. Manajemen keuangan
d. Manajemen personalia
e. Manajemen administrasi/akuntansi

8 Rantai Nilai Kegiatan Usaha

Sebagai rantai awal yang sangat penting dan mendukung produksi suatu usaha,
tidak terkecuali kegiatan pertanian adalah dukungan logistik atau supplier. Bagian ini
merupakan unsur penunjang utama dalam kegiatan usaha yang terutama bergerak dalam
bidang produksi komoditas pertanian. Keberhasilan suatu usaha yang memproduksi
suatu komoditas sangat ditentukan oleh pengelolaan sistem produksi dan hubungannya
dengan pemasok bahan baku atau logistik. Dengan demikian bagian inipun sebenarnya
memiliki potensi ekonomi yang tinggi bila dikembangkan dengan baik, jadi tidak hanya
mengandalkan kepada kekuatan dalam memproduksi saja.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


64

Manajemen produksi dalam hal ini merupakan faktor utama yang menentukan
jalannya roda usaha produksi komoditas. Sedangkan sistem distribusi merupakan bagian
penyalur komoditas yang telah dibuat pada tingkat penyaluran produk dalam jumlah
yang banyak sebelum sampai kepada pelanggan atau pemakai. Untuk dapat
menyampaikan produk yang telah diproduksi diperlukan adanya jaringan pemasaran
pemasaran yang memadai sebagai kepanjangan tangan jaringan distribusi. Produk yang
diproduksi dan dipasarkan tidak akan bertahan lama untuk tetap diminati oleh pemakai
apabila aspek pelayanan kepada pelanggan (Service & maintenance) diabaikan.
Melihat keterkaitan diantara variabel yang satu dengan variabel lainnya dari
rantai nilai kegiatan usaha tersebut, dapatlah dipahami bahwa kebanyakan perusahaan-
perusahaan yang bertaraf internasional berhasil dalam menjalankan usahanya karena
mereka mampu menjalankan seluruh variabel yang ada pada rantai nilai tersebut.
Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan perusahaan di Indonesia, dimana masih banyak
diantara perusahaan tersebut yang belum dapat memadukan semua variabel rantai nilai
menjadi satu kesatuan yang utuh dan terintegrasi sehingga menciptakan suatu usaha
yang kuat. Sebagai contoh kasus misalnya pada bidang agribisnis.

VI. PENDEKATAN DAN ORIENTASI AGRIBISNIS

Sistem usaha pertanian yang mengintegrasikan faktor produksi lahan,


tenagakerja, modal dan teknologi/manajemen sangat dipengaruhi oleh kondisi spesifik
wilayah, yang mencakup bio-fisik, ekonomi, dan sosial. Sektor pertanian hingga saat ini
masih diartikan sebagai "sistem usaha pertanian" yang sangat berkaitan erat dengan
sistem lainnya seperti industri hulu, industri hilir, pemasraan/perdagangan dan
permintaan datri konsumen. Keseluruhan aspek-aspek ini SALING terintegrasi dan
dalam pengertian makna yang luas lazim disebut "Sistem Agribisnis" . Keseluruhan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


65

sistem yang berkaitan dengan sektor pertanian tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi
sumberdaya, kelembagaan, dan kebijaksanaan pembangunan pertanian.
Dari keseluruhan sistem agribisnis seperti yang diabstraksikan di atas, dapat
diambil beberapa aspek atau bidang kajian epenting, yaitu:
(a). Sistem Agribisnis dan Perdagangan/pemasaran
(b). Sumberdaya manusia dan kelembagaan
(c). Pengelolaan sumberdaya alam
(d). Sistem usaha pertanian (atau usahatani)
(e). Pengembangan agroindustri
(f). Rintisan dan pengembangan produk.

Istilah "agribisnis" telah menjadi semakin populer, berbagai macam pengertian


dan pemahaman tentang istilah ini telah berkembang. Dari asal katanya, "agribisnis"
terdiri dari dua suku kata, yaitu "agri" (agriculture = pertanian) dan "bisnis" (business =
usaha komersial). Oleh karena itu, agribisnis adalah kegiatan bisnis yang berbasis
pertanian. Sebagai konsep, agribisnis dapat diartikan sebagai jumlah semua kegiatan-
kegiatan yang berkecipung dalam industri dan distribusi alat-alat maupun bahan-bahan
untuk pertanian, kegiatan produksi komoditas pertanian, pengolahan, penyimpanan
dan distribusi komoditas pertanian atau barang-barang yang dihasilkannya (Davis dan
Golberg, 1957).
Menurut Snodgrass dan Wallace (1974), kegiatan agribisnis tersebut merupakan
kegiatan pertanian yang kompleks sebagai akibat dari pertanian yang semakin modern.
Pertanian meliputi perkebunan, pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan dan
kehutanan. Agribisnis dapat memfokuskan kegiatannya pada satu segmen dari
keseluruhan industri atau keseluruhan kegiatan secara terintegrasi. Agribisnis dapat
berupa perusahaan besar seperti perkebunan besar, pabrik pupuk, pabrik pestisida,
pabrik minyak, pabrik susu, perusahaan perikanan, dan lainnya. Selain itu juga dapat
berupa perusahaan kecil, seperti perkebunan rakyat, nelayan, petani, pedagang (bakul),

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


66

peternak, dan lainnya. Menurut Balbin dan Clemente (1986), pengertian agribisnis dapat
diperluas mencakup pemerintah, pasar, asosiasi perdagangan, koperasi, lembaga
keuangan, sekelompok pendidik dan lembaga lain yang mempengaruhi dan
mengarahkan bermacam-macam tingkatan arus komoditas. Halcrow (1981)
mengartikan agribisnis hanya meliputi kegiatan industri jasa dan material untuk
usahatani (produksi pertanian) dan industri pengolahan dan pemasaran hasil-hasil
pertanian. William dan Karen (1985) mengartikan agribisnis sebagai perusahaan besar
(profit company) yang berbeda dengan petani kecil.
Ciri-ciri agribisnis adalah merupakan suatu industri yang kompleks dan
berstruktur vertikal, setiap komponen secara terpisah independen tetapi dalam arti yang
luas saling tergantung membentuk sebuah sistem komoditas. Oleh karena itu
pengambilan keputusan yang baik memerlukan pengertian tentang keseluruhan
struktur industri dan harus mampu memahami titik sentral dari berbagai bagian yang
relevan dari berbagai bagian sistem struktural.
Berdasarkan keterangan di atas, "agribisnis" secara luas dapat dipandang sebagai
"bisnis" yang berbasis pertanian. Secara struktural usaha bisnis ini terdiri atas tiga
sektor yang saling bergantung, yaitu (i) sektor masukan, yang ditangani oleh berbagai
industri hulu yang memasok bahan masukan kepada sektor pertanian , (ii) sektor
produksi (farm), yang ditangani oleh berbagai jenis usahatani yang menghasilkan
produk-produk bio- ekonomik, dan (iii) sektor keluaran, yang ditangani oleh berbagai
industri hilir yang mengubah hasil usahatani menjadi produk konsumsi awetan/olahan
dan yang menyalurkan produk ini melalui sistem pemasaran kepada konsumen
(Downey dan Erickson, 1989).
Dengan demikian "agribisnis" meliputi seluruh sektor yang terlibat dalam
pengadaan bahan masukan /input usahatani; terlibat dalam proses produksi bio-
ekonomik; menangani pemrosesan hasil-hasil usahatani; penyebaran, dan penjualan
produk-produk pemrosesan tersebut kepada konsumen. Dalam kaitannya dengan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


67

komoditas di suatu wilayah , sebagian besar aktivitas ekonomi dapat dilakukan oleh
petani dan penduduk pedesaan dengan skala ekonomi yang berbeda-beda.

MODEL DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN AGRIBISNIS

Sumber: Sudradjat Laksana, 2001

Dalam arti yang sempit pertanian adalah usaha atau kegiatan bercocok tanam.
Sedangkan dalam arti luas pertanian adalah segala kegiatan manusia yang meliputi
kegiatan bercocok tanam, perikanan, peternakan dan kehutanan. cocok tanam perikanan
Terkait dengan pertanian, maka dikenal istilah petani (farmer) dan usaha
tani (farming). Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani,
sebagai contoh “petani tembakau” atau “petani ikan”. Usaha Tani (farming) adalah
sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budi daya (tumbuhan maupun hewan).
Cakupan obyek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman
(termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan
perikanan.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


68

1. Ruang Lingkup Pertanian


Ada beberapa jenis pertanian berdasarkan perkembangannya yaitu:
Pertanian ekstraktif, yaitu pertanian yang dilakukan dengan hanya mengambil
atau mengumpulkan hasil alam tanpa upaya reproduksi. Pertanian semacam ini meliputi
sektor perikanan dan ekstraksi hasil hutan.
Pertanian generatif yaitu corak pertanian yang memerlukan usaha pembibitan
atau pembenihan, pengolahan, pemeliharaan dan tindakan agronomis lainnya.
Berdasarkan tahapan perkembangannya pertanian generatif dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu:
Perladangan berpindah (shifting cultivation), danPertanian menetap (settled
agricultured)
Selanjutnya berdasarkan ciri ekonomis yang lekat pada masing-masing corak
pertanian dikenal dua kategori pertanian yakni pertanian subsisten dan pertanian
komersial. Pertanian subsisten ditandai oleh ketiadaan akses terhadap pasar. Dengan
kata lain produk pertanian yang dihasilkan hanya untuk memenuhi konsumsi keluarga,
tidak dijual. Pertanian komersial berada pada sisi dikotomis pertanian subsisten.
Umumnya pertanian komersial menjadi karakter perusahaan pertanian (farm) di mana
pengelola usahatani telah berorientasi pasar. Dengan demikian seluruh output pertanian
yang dihasilkan seluruhnya dijual dan tidak dikonsumsi sendiri.

2. Pertanian Sebagai Kegiatan Ekonomi


Sebagai kegiatan ekonomi, pertanian dapat dipandang sebagai suatu sistem yang
dinamakan agribisnis.Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain
yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Penyebutan "hulu" dan "hilir"
mengacu pada pandangan pokok bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan
(food supply chain). Dalam kerangka berpikir sistem ini, pengelolaan tempat usaha
pembibitan,penyediaan input produksi,dan sarana produksi, biasa diistilahkan sebagai
aspek “hulu”. Sementara kegiatan pasca panen seperti ; distribusi, pengolahan, dan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


69

pemasaran dimasukkan dalam aspek “hilir”. Sedangkan Budidaya dan pengumpulan


hasil merupakan bagian dari aspek proses produksi.
Agribisnis, dengan perkataan lain, adalah cara pandang ekonomi bagi usaha
penyediaan pangan. Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi
memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku,
pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran.
Agribisnis itu adalah suatu sistem yang utuh mulai sub-sistem penyediaan
sarana produksi dan peralatan pertanian; sub-sistem usahatani; sub-sistem pengolahan
atau agroindustri dan sub-sistem pemasaran. Agar sub-sistem ini bekerja dengan baik
maka diperlukan dukungan sub-sistem kelembagaan sarana dan prasarana serta sub-
sistem penunjang dan pembinaan.

3. Agribisnis sebagai suatu sistem


Agribisnis sebagai suatu sistem adalah agribisnis merupakan seperangkat unsur
yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Disini dapat
diartikan bahwa agribisnis terdiri dari dari berbagai sub sistem yang tergabung dalam
rangkaian interaksi dan interpedensi secara reguler, serta terorganisir sebagai suatu
totalitas.
Adapun kelima mata rantai atau subsistem tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut:

Subsistem Penyediaan Sarana Produksi


Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan
dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi,
teknologi dan sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani
memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk.

Subsistem Usahatani atau proses produksi

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


70

Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani


dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini
adalah perencanaan pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam
rangka meningkatkan produksi primer. Disini ditekankan pada usahatani yang intensif
dan sustainable (lestari), artinya meningkatkan produktivitas lahan semaksimal mungkin
dengan cara intensifikasi tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pelestarian sumber daya
alam yaitu tanah dan air. Disamping itu juga ditekankan usahatani yang berbentuk
komersial bukan usahatani yang subsistem, artinya produksi primer yang akan
dihasilkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka

4. Agroindustri/pengolahan Subsistem hasil


Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat
petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen
produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk
menambah value added (nilai tambah) dari produksi primer tersebut. Dengan demikian
proses pengupasan, pembersihan, pengekstraksian, penggilingan, pembekuan,
pengeringan, dan peningkatan mutu.

Subsistem Pemasaran
Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan
agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama subsistem ini
adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada
pasar domestik dan pasar luar negeri.

Subsistem Penunjang
Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang
meliputi:
Sarana Tataniaga
Perbankan/perkreditan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


71

Penyuluhan Agribisnis
Kelompok tani
Infrastruktur agribisnis
Koperasi Agribisnis
BUMN
Swasta
Penelitian dan Pengembangan
Pendidikan dan Pelatihan
Transportasi
Kebijakan Pemerintah
Strategi Pengembangan Agribisnis

Ada beberapa aspek yang dapat ditempuh dalam upaya mengembangkan kegiatan
agribisnis diantaranya :

Pembangunan Agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta


jasa yang dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis.
Yang sering kita dapatkan selama ini adalah industri pengolahan (Agroindustri)
berkembang di Indonesia, tapi bahan bakunya dari impor. Dipihak lain, peningkatan
produksi pertanian tidak diikuti oleh perkembangan industri pengolahan ( Membangun
industri berbasis sumberdaya domestik/lokal). Sehingga perlu pengembangan Agribisnis
Vertikal.Membangun Agribisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas
keunggulan komparatif
Dalam arti bahwa membangun daya saing produk agribisnis melalui
transformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, yaitu dengan cara:
Mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia) dan
pengembangan subsistem hilir yaitu pendalaman industri pengolahan ke lebih hilir dan
membangun jaringan pemasaran secara internasional, sehingga pada tahap ini produk
akhir yang dihasilkan sistem agribisnis didominasi oleh produk-produk lanjutan atau
bersifat capital and skill labor intensive.
1. Pembangunan sistem agribisnis yang digerakkan oleh kekuatan inovasi. Dengan
demikian produk utama dari sistem agribisnis pada tahap ini merupakan produk bersifat
Technology intensive and knowledge based.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


72

2. Perlu orientasi baru dalam pengelolaan sistem agribisnis yang selama ini hanya
pada peningkatan produksi harus diubah pada peningkatan nilai tambah sesuai dengan
permintaan pasar serta harus selalu mampu merespon perubahan selera konsumen
secara efisien..
3. Menggerakkan kelima subsistem agribisnis secara simultan, serentak dan
harmonis.
Untuk menggerakkan Sistem agribisnis perlu dukungan semua pihak yang berkaitan
dengan agribisnis/ pelaku-pelaku agribisnis mulai dari Petani, Koperasi, BUMN dan
swasta serta perlu seorang Dirigent yang mengkoordinasi keharmonisan Sistem
Agribisnis.
4. Menjadikan Agroindustri sebagai A Leading Sector.
Agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik langsung maupun
tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian. Keterkaitan langsung mencakup
hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku (input) bagi kegiatan agroindustri
maupun kegiatan pemasaran dan perdagangan yang memasarkan produk akhir
agroindustri. Sedangkan keterkaitan tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain yang
menyediakan bahan baku(input) lain diluar komoditas pertanian, seperti bahan kimia,
bahan kemasan, dll. Dalam mengembangkan agroindustri, tidak akan berhasil tanpa
didukung oleh agroindustri penunjang lain seperti industri pupuk, industri pestisida,
industri bibit/benih, industri pengadaan alat-alat produksi pertanian dan pengolahan
agroindustri seperti industri mesin perontok dan industri mesin pengolah lain.
5. Membangun Sistem agribisnis melaluiIndustri Perbenihan
Industri Perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam pembentukan atribut
produk agribisnis secara keseluruhan. Atribut dasar dari produk agribisnis seperti atribut
nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan atribut nilai (ukuran, penampakan, rasa, aroma
dan sebagainya) serta atribut keamanan dari produk bahan pangan seperti kandungan
logam berat, residu pestisida, kandungan racun juga ditentukan pada industri
perbenihan. Oleh karena itu Pemda perlu mengembangkan usaha perbenihan (benih

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


73

komersial) berdasar komoditas unggulan masing-masing daerah, yang selanjutnya dapat


dikembangkan menjadi industri perbenihan modern.
6. Dukungan Industri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem agribisnis.
Perlu adanya rental Agro-otomotif yang dilakukan oleh Koperasi Petani atau
perusahaan agro-otomotif itu sendiri.
7. Dukungan Industri Pupuk dalam pengembangan sistem agribisnis.
Pada waktu yang akan datang industri pupuk perlu mengembangkan sistem Networking
baik vertikal (dari hulu ke hilir) maupun Horisontal (sesama perusahaan pupuk), yaitu
dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk menjadi satu dimana yang
sekarang terjadi adalah perusahaan terpusat pada satu perusahaan pupuk pemerintah.
Oleh karena perusahaan-perusahaan pupuk harus dibiarkan secara mandiri sesuai
dengan bisnis intinya dan bersaing satu sama lain dalam mengembangkan usahanya.
Sehingga terjadi harmonisasi integrasi dalam sistem agribisnis. Serta perlu
dikembangkan pupuk majemuk, bukan pupuk tunggal yang selama ini dikembangkan.
8. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui Reposisi Koperasi Agribisnis.
Koperasi perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada kegiatan usahanya terutama
menjadi koperasi pertanian dan mengembangkan kegiatan usahanya sebagai koperasi
agribisnis. Untuk memperoleh citra positif layaknya sebuah koperasi usaha misalnya:
Koperasi Agribisnis atau Koperasi Agroindustri atau Koperasi Agroniaga yang
menangani kegiatan usaha mulai dari hulu sampai ke hilir.
9. Pengembangan Sistem Agribisnis melalui pengembangan sistem informasi
agribisnis. Dalam membangun sistem informasi agribisnis, ada beberapa aspek yang
perlu diperhatikan adalah informasi produksi, informasi proses, distribusi, dan informasi
pengolahan serta informasi pasar.
10. Membumikan pembangunan sistem Agribisnis dalam otonomi daerah
Pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, yang mengandalkan industri berbasis
Sumberdaya lokal. Pembangunan ekonomi nasional akan terjadi di setiap daerah.
11. Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agribisnis di daerah.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


74

Untuk membangun agribisnis di daerah, peranan perbankan sebagai lembaga


pembiayaan memegang peranan penting. Ketersediaan skim pembiayaan dari perbankan
akan sangat menentukan maju mundurnya agribisnis daerah. Selama ini yang terjadi
adalah sangat kecilnya alokasi kredit perbankan pada agribisnis daerah, khususnya pada
on farm agribisnis.
12. Pengembangan strategi pemasaran
Pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat penting peranannya terutama
menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahan,
keadaan pasar heterogen. Dari hal tersebut, sekarang sudah mulai mengubah paradigma
pemasaran menjadi menjual apa yang diinginkan oleh pasar (konsumen).
13. Pengembangan sumberdaya agribisnis.
Dalam pengembangan sektor agribisnis agar dapat menyesuaikan diri terhadap
perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya
pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan kemampuan
Sumberdaya Manusia (SDM) Agribisnis sebagai aktor pengembangan agribisnis.
14. Pengembangan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis.
Perlu pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis komoditas unggulan
yang didasarkan pada peta perkembangan komoditas agribisnis, potensi perkembangan
dan kawasan kerjasama ekonomi.
15. Pengembangan Infrastruktur Agribisnis.
Dalam pengembangan pusat pertumbuhan Agribisnis, perlu dukungan pengembangan
Infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat, sungai dan udara),
jaringan listrik, air, pelabuhan domestik dan pelabuhan ekspor dan lain-lain.

16. Kebijaksanaan terpadu pengembangan


Ada beberapa bentuk kebijaksanaan terpadu dalam pengembangan agribisnis.
a. Kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas ditingkat perusahaan.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


75

b. Kebijaksanaan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha


sejenis.
c. Kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnis yang mengatur keterkaitan antara
beberapa sektor.
d. Kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan perekonomian yang
berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap agribisnis.
17.Pengembangan agribisnis berskala kecil.
Ada 3 kebijaksanaan yang harus dilakukan adalah:
a. Farming Reorganization
Reorganisasi jenis kegiatan usaha yang produktif dan diversifikasi usaha yang
menyertakan komoditas yang bernilai tinggi serta reorganisasi manajemen usahatani.
Dalam hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan yang rata-rata kepemilikan hanya
0,1 ha.
b. Small-scale Industrial Modernization
Modernisasi teknologi, modernisasi sistem, organisasi dan manajemen, serta
modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.
c. Services Rasionalization
Pengembangan layanan agribisnis dengan rasionalisasi lembaga penunjang kegiatan
agribisnis untuk menuju pada efisiensi dan daya saing lembaga tersebut. Terutama
adalah lembaga keuangan pedesaan, lembaga litbang khususnya penyuluhan.

18.Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk mendukung pengembangan agribisnis


dan ekonomi
Dalam era Agribisnis, aktor utama pembangunan agribisnis dan aktor pendukung
pembangunan agribisnis perlu ada pembinaan kemampuan aspek bisnis, manajerial dan
berorganisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan agribisnis. Dalam hal ini perlu
reorientasi peran penyuluhan pertanian yang merupakan lembaga pembinaan SDM
petani. Oleh karena itu perlu peningkatan pendidikan penyuluh baik melalui pendidikan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


76

formal, kursus singkat, studi banding. Serta perlu perubahan fungsi BPP yang selama ini
sebagai lembaga penyuluhan agro-teknis, menjadi KLINIK KONSULTASI
AGRIBISNIS

Referensi Bacaan :
Agribisnis: Teori dan Aplikasinya. Artikel online dari http://id.shvoong.com/internet-
and-technologies/business-economy/1854032-agribisnis-teori-dan-aplikasinya-
agribusiness/#ixzz1f1WmTS1w.
R.Hermawan, SP,MP.Membangun Sistem Agribisnis. Artikel online. Makalah Seminar
Mahasiswa.tgl.20 Desember 2006. Faperta UGM Yogyakarta.
Wikipedia.com.Pengertian Agribisnis.

ANALISIS PEWILAYAHAN KOMODITAS

1. Seleksi Komoditas
Seleksi komoditas dilakukan untuk mendapatkan alternatif komoditas yang
sesuai dikembangkan di suatu wilayah dengan lngkungan tumbuh tertentu. Inventarisasi
dimulai dari jenis- jenis komoditas yang banyak diusahakan oleh rakyat, kemudian baru
melibatkan jenis-jenis komoditas yang belum dikenal. Kriteria yang digunakan sebagai
dasar seleksi tertumpu pada segi agroteknologinya untuk dikembangkan lebih lanjut
serta potensi pasarnya baik domestik maupun ekspor, nilai tambah ekonomi bagi petani
serta dampaknya terhadap kesempatan kerja dan kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Dari seleksi ini akan didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman
pangan, perkebunan, maupun tanaman hortikultura.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


77

2. Analisis Budidaya dan Pengkajian Kelayakan Usaha


Uraian tentang teknik budidaya meliputi persiapan tanam, pemeliharaan
pertanaman, sampai dengan pemungutan hasil. Berdasarkan pada teknologi budidaya
yang diterapkan di lapang saat ini, dengan penyesuaian seperti yang dianjurkan oleh
lembaga penelitian. Selain itu pemilihan teknologi terutama didasarkan pada
kemampuan produsen, baik dari segi managerial maupun parsialnya. Pertimbanagn
yang sama juga berlaku bagi industri pengolahan dengan mempertimbangkan skala
yang memadai dan kemungkinan tersedianya bahan baku. Modal usahatani maupun
industri pengolahan diasumsikan berasal dari sistem perbankan formal, sehingga tingkat
bunga harus disesuaikan.
Lama analisis keuangan atau finansial yang dilakukan akan bervariasi disesuaikan
selama satu siklus umur tanaman dengan lausan satu hektar. Untuk mengetahui tingkat
kelayakan usahanya digunakan beberap[a tolok ukur yaitu pendapatan B/C, MPV dan
IRR, kecuali untuk tanaman semusim digunakan pendapatn dan R/C.

STRATEGI PENANGANAN SISTEM AGRIKOMAN


Sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya, penyusunan konsep
penanganan Sistem Agribisnis Komoditas Andalan dilandasi dengan pendekatan
"Agrosistem" dengan tiga aspek utamanya, yaitu aspek teknis-teknologi (termasuk
pertimbangan bio-fisik), aspek ekonomi-bisnis, dan aspek sosial-budaya (termasuk
kelembagaan penunjang).

1. Penetapan Komoditas Unggulan


Suatu tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu lahan
pertanian apabila kondisi lahan tersebut memenuhi syarat. Masing-masing daerah
mempunyai ciri khusus tentang macam komoditi yang dikembangkan. Selain kondisi
lingkungan yang sesuai tentunya pengembangan komoditi juga harus mempertim-

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


78

bangkan tingkat keuntungan yang dapat dipetik. Kepentingan ini dapat direncanakan
sejak dini, misalnya dengan membuat peta wilayah komoditi pada masing-masing
daerah yang akan dikembangkan. Untuk menentukan peta wilayah komoditi dapat
dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu :

(a). Pendekatan ekonomi wilayah


Pendekatan ini dilakukan dengan cara menentukan jenis tanaman yang secara
ekonomi layak untuk dikembangkan dan dibudidayakan. Pewilayahan tanaman yang
dilakukan berdasar kepada keuntungan atau nilai tambah yang diterima petani dalam
upaya meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan kata lain tanaman tersebut
menguntungkan petani apabila dibudidayakan. Analisis ini diperoleh dari selisih antara
investasi yang ditanam dari usaha tersebut dengan hasil yang diperoleh. Dari sektor-
sektor usaha yang berkembang di masyarakat akan terpilih beberapa sektor dominan
yang layak untuk ditangani lebih serius, karena memberikan prospek baik.
Berdasarkan pendekatan ini dari seluruh sektor yang ada di masyarakat yaitu ,
tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan, tanaman hutan, peternakan,
industri,perdagangan, angkutan, jasa , tambang, ada lima sektor yang berperan dan
sangat menentukan tingkat pendapatan perkapita petani meliputi ; sektor peternakan,
industri, pertanian tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan serta tanaman
hutan. Dari lima sektor tersebut, masing-masing daerah mempunyai prioritas yang
berbeda-beda. Ini dikarenakan adanya perbedaan daya dukung lahan serta alam di lokasi
tiap-tiap wilayah.
Di Wilayah pedesaan biasanya terdapat dua sektor paling doniman memberikan
sumbangan terbesar bagi pendapatan petani yaitu sektor pertanian tanaman dan
subsektor peternakan. Dua sektor tersebut masing-masing memberi sumbangan sebesar
60-80 % dan 20-40% dari pendapatan petani. Dari hasil pengamatan didapatkan jenis
komoditi yang secara ekonomi berkembang di masyarakat dan banyak diusahakan oleh
petani sebagai tumpuhan hidup mereka, baik tanaman pangan dan hortiukltura maupun

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


79

tanaman perkebunan; diantaranya : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang
tanah, cabe, kelapa dan kapok randu. Sedang di sektor peternakan nampaknya kambing
dan sapi lokal merupakan primadona peternakan yang perlu mendapatkan perhatian
lebih serius.

(b).Pendekatan Ekologi Wilayah


Pendekatan ini didasarkan pada kesesuaian komoditi pertanian untuk dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu daerah. Untuk menentukan jenis
komoditi yang mampu berkembang, selain berdasar kepada komoditi yang sudah ada
tidak menutup kemungkinan mengembangkan jenis komoditi yang secara ekologis
sesuai. Penentuan jenis komoditi yang sesuai untuk dikembangkan di suatu wilayah
dilakukan dengan cara pendekatan secara ekologis yaitu dengan cara melihat syarat
tumbuh bagi masing-masing komoditi dan juga melihat kondisi wilayahnya.
Dari kedua faktor ekologis yang berperan menetukan tingkat kesesuaian lahan
yaitu konsidi wilayah dan syarat tumbuh yang dibutuhkan setiap komoditi, akan
diperoleh informasi tentang jenis komoditi yang secara ekologis sesuai untuk
dikembangkan. Berdasarkan hasil pengamatan secara ekologis jenis komoditi yang
dapat tumbuh dengan baik pada kondisi lahan di Kecamatan Kedungdung meliputi :
padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, cabe, kelapa, mangga, rambutan, melinjo , jeruk,
jambu mete dan kapok randu. Dengan diketahuinya jenis komoditi yang secara
ekomonis lebih menguntungkan atau lebih menguntungkan diantara komoditi lain yang
sudah ada dan secara ekologis daerah tersebut sesuai (baik syarat tumbuh maupun
kondisi wilayah bersangkutan), maka komoditi-komoditi tersebut perlu segera
dikembangkan.

2. Organisasi dan Kelembagaan


Untuk memperlancar program pengembangan Sistem AGRIKOMAN yang
sudah terencana, setelah diketahuinya komoditi andalan yang akan dekembangkan,

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


80

diperlukan langkah-langkah yang harus dilaksanakan. Paket pengembangan program


harus tersusun secara sistematis sehingga tahapan pelaksanaan dapat berjalan dengan
baik, mulai dari persiapan sampai usaha tersebut menghasilkan sesuatu.

(a). Penentuan Kelompok Sasaran (POKSAR)


Program pengembangan ini tentunya diproiritaskan bagi petani yang kurang mampu,
dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan petani kecil. Dasar
pertimbangannya adalah bahwa petani tersebut biasanya kurang berani mengambil
resiko kegagalan dan menanamkan modal untuk usaha yang belum pernah ditekuni.
Disamping itu petani tersebut kurang mampu untuk mencari modal yang cukup besar
untuk usahataninya.
Penentuan kelompok sasaran ini dilakukan dengan cara seleksi yang
mendasarkan kepada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai tolok ukur taraf
hidup petani. Kriteria pemilihan berpedoman kepada beberapa fasilitas sarana fisik
yang dimiliki seperti, pemilikan ternak, alat transport, luas lahan, rumah serta status
pekerjaan. Apabila petani tersebut lolos dari persyaratan minimal yang diajukan maka
tidak memenuhi syarat sebagai petani kurang mampu, sehingga tidak mendapatkan
prioritas bantuan dan sebaliknya.
Berdasarkan kenyataan bahwa suatu usaha adalah suatu investasi bisnis, maka prinsip
kelayakan usaha juga harus menjadi pertimbangan. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
(1). Kelayakan Usaha Berdasarkan Finansial, meliputi: Comparative advantage,
enterprise choice cabang usaha, Opportunity cost, dan Economic of scale.
(2). Kelayakan Usaha Berdasarkan Managerial, meliputi : Sistem pengorganisasian,
model kredit begulir, model pembinaan, model pelunasan pinjaman, sistem
keterkaitan dengan mitra usaha, dll.
(3). Kelayakan Usaha Berdasarkan Sosial, meliputi : respon masyarakat, Partisipasi,
dan daya jangkau kebutuhan masyarakat.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


81

(b). Penyuluhan
Mengingat tingkat pengetahuan petani lahan kering di wilayah pedesaan miskin
sangat terbatas, khususnya mengenai hal- hal yang mesih dianggap baru, maka petani
harus diperkenalkan dengan teknologi budidaya tanaman tersebut. Pengenalan IPTEK
baru ini meliputi beberapa aspek baik teknis maupun non teknis. Hal-hal yang bersifat
teknis misalnya teknologi budidaya yang perlu diperhatikan mulai dari penyediaan bibit
atau bahan tanam, pemupukan, pemeliharaan tanaman sampai kepada pasca panennya.
Hal yang bersifat noon teknis misalnya manfaat tanaman bagi peningkatan pendapatan,
prospek tanaman untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun peluangnya untuk
ekspor dan sebagainya. Dengan demikian petani akan terbuka wawasannya dan
mempunyai minat besar untuk mengembangkan komoditi tersebut.

(c). Penyediaan bahan tanam/Bibit


Salah satu aspek yang menentukan berhasil tidaknya suatu usahatani adalah
tersedianya bahan tanam baik berupa bibit maupun benih. Kesalahan dalam memilih
bahan tanam tersebut banyak yang mengakibatkan kerugian yang membawa akibat fatal
bagi petani. Sebagai contoh, kalau seandainya petani ingin menanam kelapa, sementara
mereka tidak memperhatikan bibit yang digunakan sebagai bahan tanam, maka
kesalahan penggunaan bibit ini akan baru dirasakan setelah menunggu selama 5 - 7
tahun berikutnya. Sehingga petani disamping rugi dengan biaya yang dikeluarkan, juga
akan rugi waktu. Karena mereka bersusah payah menunggu sampai bertahun-tahun
akhirnya tanaman yang diusahakan tidak memuaskan.

MANAGEMEN SUMBERDAYA DAN ORGANISASI

Agribisnis menghimpun sejumlah manusia yang bekerja sama untuk mencapai


maksud dan tujuan bersama. Segera setelah agribisnis melibatkan lebih dari satu orang,
berbagai hal mengenai organisasi, personalia, kepemiminan dan faktor pemotivasi pasti

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


82

langsung bermunculan. Semakin besar organisasi, semakin rumit dan semakin penting
permasalahannya. Oleh karena salah satu tanggung jawab dasar manajer adalah
memperoleh, menata, memotivasi dan mengnedlaikan sumberdaya manusia, untuk
mencapai tujuan bisnisnya seefektif mungkin, maka manajemen harus mengemban
tanggung jawab tersebut.

Pengelolaan sumberdaya manusia dalam agribisnis mempunyai banyak dimensi.


Pertama, melibatkan kesleuruhan fungsi personalia, yaitu perekrutan, pengangkatan,
pelatihan, pengevaluasian, pengajuan promosi, pengelolaan balas jasa dan tunjangan,
dan pada agribisnis tertentu berurusan dengan serikat pekerja. Selain itu, manajemen
juga harus mengembangkan struktur organisasi dimana tanbggung jawab, wewenang,
dan tanggung gugat perorangan dirumuskan dengna jelas. Kemudian manajemen harus
memusatkan perhatian pada pengarahan dan pemantauan kegiatan harian.
Kepemimpinan akan menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis apabila manajer
berupaya memotivasi dan mengendalikan sumberdaya manusia untuk memaksimasi
produk tivitas.
"Manajemen" dapat didefinisikan sebagai: seni untuk keberhasilan mencapai
hasil yang diinginkan secara gemilang dengan sumber-sumber yang tersedia bagi
organisasi.

(1). Manusia yang melaksanakan manajemen (Manajer)


Kemampuan manajer untuk mencapai hasil melalui ornag lain snagat epenting
sekali dlaam manajemen yang baik. Investasi berupa waktu dan perhatian kepada
bawahan sering mendatangkan imbalan sangat berharga.
(2). Seni dan bukan ilmu.
Setiap orang dapat menggunakan prinsip-prinsip manajemen untuk
mewujudkan pertumbuhan dan kemajuan secara berkelanjutan.
(3). Berhasil dengan gemilang.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


83

(4). Sumberdaya yang tersedia.

Manajer menggunakan apa yang dimiliki untuk memperoleh apa yang didinginkan, dan
mereka berurusan dengan peluang , bukan fantasi.

Konsep Manajemen
(1). Konsep 6M
Daya upaya untuk mencapai hasil yang diinginkan melalui pemanfaatan yang
efektif atas sumberdaya yang tersedia (Money, Markets, Material, Machinery, Methods,
dan Man).
(2). Konsep Perilaku
Manajer memperluas dan memperkaya pekerjaan; memberi lebih banyak
tanggungjawab dan wewenang kepada setiap pekerja, dan menciptakan lingkungan
kerja dimana para pekerja merasa puas karena kebutuhannya diakui, diterima dan
dipenuhi.
(3). Konsep 5P.
Manajemen merupakan sederetan fungsi : Perencanaan, Pengorganisasian,
Pengarahan, Pengendalian, dan Pengkoordinasian. Dua fungsi tambahan:
Pengkomunikasian dan Pemotivasian.
Keberhasilan agribisnis pada dasarnya tergantung pada efektif-tidaknya
pemanfaatan sumberdaya organisasi oleh manajer. Kemampuan untuk memanajemen
atau mengelola sesuatu merupakan bakat bawaan, namun dapat juga merupakan
keahlian yang dapat dan harus dipelajari. Bagi sementara orang, "manajemen"
dianggap sebagai suatu "kegaiban dan permainan sulap". Namun tentu saja kesan
seperti ini tidaklah profesional.
Dewasa ini pendidikan bisnis telah sedemikian canggihnya dengan berbagai
model dan kelengkapannya. Manajer bisnis yang berhasil dibimbing oleh pronsip dan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


84

pengetahuan manajemen, hal ini mengisyaratkan bahwa keahlian manajemen dapat


dipelajari.
Bisnis harus mencoba memahami, bahwa mereka harus bersedia menginvestasi
waktu, uang, dan daya-upaya untuk karyawan sebagaimana halnya dengan investasi
dalam bentuk tambahan peralatan dan perlengkapan.
Seorang manajer dapat dipandang sebagai seorang yang menyiapkan organisasi dengan
kepemimpinannya dan bertindak sebagai katalisator perubahan. Manajer yang baik
sangat efektif dalam lingkungan yang memungkinkan perubahan bersifat kreatif.
Manajer yang tidak efektif memusatkan pikirannya untuk melaksanakan sesuatu dengan
cara yang tepat, bukannya memikirkan apa yang tepat untuk dilakukan.
Ciri-ciri khusus manajemen agribisnis:
(1). Jenis-jenis bisnis yang sangat beraneka-ragam, mulai dari para produsen dasar
hingga para pengirim, perantara, pedagang borongan, penroses, pengepak,
pembuatn barang, usaha pergudangan, pengangkut, lembaga keuangan,
pengecer, kongsi bahan pangan, restoran dan lain sebagainya. Perjalanan
sepotong roti mulai dari bibit gandum hingga gudang grosir dan toko makanan
jelas melibatkan berbagai macam jenis usaha bisnis.
(2). Berjuta bisnis yang berbeda-beda telah lazim menangani route dari produsen
hingga pengecer dan konsumen.
(3). Pembentukan agribisnis dasar (primer) di sekeliling pengusaha tani. Para petani
(pengusaha tani) ini menghasilkan berbagai produk pertanian. Hampir semua
agribisnis terkait dengan pengusaha tani ini, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
(4). Ukuran agribisnis sangat beragam dan tidak menentu, mulai dari yang berukuran
raksasa hingga organisais yang dikelola oelh satu orang atau satu rumahtangga.
(5). Agribisnis berukuran kecil dan harus berjuang di pasar yang relatif bebas
dnegna penjual yang berjumlah banyak dan pembeli yang lebih sedikit.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


85

(6). Falsafah hidup tradisional yang dianut oleh para pelaku agribisnis cenderung
mengakibatkan agribisnis lebih kolot dibandingkan dengan bisnis lainnya.
(7). Badan usaha agribisnis cenderung berorientasi pada keluarga. Suami dan istri
seingkali terlibat dengna sangat baik pada tahap pengoperasian dan tahap
pengambilan keputusan bisnis berdasarkan mitra kerja penuh.
(8). Agribisnis cenderung berorientasi pada masyarakat . Banyak agribisnis
berlokasi di kota kecil dan pedesaan dimana hubungan antar perorangan sangat
penting dan ikatan ini bersifat jangka panjang. Antar ependuduk dan antar
rumahtangga saling kenal dalam jangka panjang.
(9). Agribisnis bersifat musiman. Maslaah-masalah khusus sering muncul sebagai
akibat dari eratnya ketergantungan antara agribisnis dengan pengusaha tani, dan
juga karena sifat musiman komoditas.
(10). Agribisnis bertalian dengan gejala alam, seperti kekeringna, banjir, hama &
penyakit, dan cuaca/iklim.
(11).Dampak dari program dan kebijakan pemerintah mengena langsung kepada
agribisnis.

Manajemen Sumberdaya Manusia


Pada dasarnya manajemen sumberdaya manusia dapat dibagi menjadi : (1)
pengelolaan fungsi dan (2) pengelolaan motivasi. Apabila orangnya dan pekerjaannya
tidak serasi, motivasi tidak akan timbul.
Tiga hal pokok fungsi sumberdaya manusia dalam kebanyakan agribisnis adalah (a)
ukuran perusahaan, (b) pengetahuan mengenai fungsi sumberdaya manusia, dan (c)
falsafah manajemen puncak mengneai sumberdaya manusia.
Fungsi manajemen sumberdaya manusia:
(1). Menentukan kebutuhan personil perusahaan
(2). Mencari dan merekrut tenagakerja

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


86

(3). Mengangkat atau memilih tenagakerja


(4). Mengorientasikan tenagakerja pada pekerjaannya
(5). Menetapkan persyaratan kompensasi dan tunjangan
(6). Mengevaluasi prestasi kerja
(7). Mengawasi pelatihan dan pengembangan
(8). Mengadakan promosi atau kenaikan jabatan
(9). Menangani pemutusan hubungna kerja atau pemindahan.
Langkah pertama manajemen sumberdaya manusia adalah perumusan pekerjaan
yang akan dilakukan. Tantangan perumusan pekerjaan terletak pada rencana
organisasional yang tersusun dan berwawasan mendalam. Setiap posisi harus
mempunyai job-goals yang menunjang keberhasilan perusahaan. Pekerjaan dapat
dirumuskan dengna menggunakan dua pendekatan: (1) spesifikasi kerja dan (2) uraian
kerja.
Spesifikasi kerja mengisyaratkan kualifikasi yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan secara memuaskan. Spesifikasi kerja ini dapat mencakup
beberapa aspek, yaitu:
(1). Maksud pekerjaan: tujuannya, kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan tersebut.
(2). Jenis pekerjaan: supervisi, pelatihan, tanggungjawabnya; apakah pekerjaan
merupakan tugas seumur hidup atau menjanjikan peningkatan karir.
(3). Persyaratan pekerja: pendidikan, pengalaman, ketrampilan khusus, kesehatan,
kepribadian dlsb.
(4). Cara-cara khusus untuk menentukan kemampuan pelamar: ujian, catatan kerja
masa lalu, dlsb.
Uraian kerja (job description) bertitik berat pada kegiatan dan tugas kerja .
Calon karyawan dapat dicari pada banyak sumber. Kualifikasi kerja, upah atau
gaji, jenis dan ukuran organisasi, dan lokasi agribisnis memainkan peranan penting
dalam perekrutan karyawan. Pertimbangan penting ialah rekomendasi dari karyawan

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


87

sendiri yang selama ini telah selalu bekerja dengan baik. Apabila pekerjaan memerlukan
pelatihan dan pendidikan khusus, Balai Latihan kerja atau penyuluh dapat diminta
untuk mencarikan calon pekerja.
Sumberdaya manusia merupakan aktiva terpenting pada setiap agribisnis. Fungsi
manajemen sumberdaya manusia bersnagkut paut dengan pengelolaan mekanisme
pengkaryaan. Semakin besar agribisnis, semakin formal dan rumit proses tersebut;
tetapi setiap agribisnis harus mampu menyelenggarakan fungsi personalia secara tuntas.
Manajemen sumberdaya manusia mengawalinya dengan menentukan kebutuhan
pengkaryaan. Dalam hal ini biasanya harus ada perumusan atas pekerjaan dan
pengembangan uraian kerja sehingga personil yang tepat dapat direkrut. Perekrutan
mencakup usaha mencari calon karyawan yang qualified atau berbobot, wawancara,
dan peran-serta dalam memilih yang terbaik. Setelah itu, fungsi personalia harus
senantiasa mengamati kegiatan-kegiatan pada masa awal pengkaryaan, orientasi, dan
pelatihannya.
Fungsi personalia lainnya ialah pengembangan dan pengelolaan program
tunjangan karyawan; asuransi, pensiun, kesehatan, kecelakaan kerja , pendidikan, dan
berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas kerja.
Pada kebanyakan agribisnis, fungsi personalia juga mencakup evaluasi prestasi kerja
karyawan secara teratur dan pengupayaan pertumbuhan profesional yang berkelanjutan
melalui program pelatihan dan pengembangan yang diselenggarakan. Pelatihan dapat
dilaksanakan secara informal, sambil kerja, atau berupa seminar formal, yang semuanya
harus mengarah kepada peningkatan produktivitas.
Pengelolaan sumberdaya manusia merupakan tanggungjawab dasar bagi manajer
agribisnis. Para manajer harus mengembangkan struktur organisasi dimana
tanggungjawab, wewenang, dan tanggung gugat perorangan ditentukan secara jelas.
Manajemen harus mengarahkan dan memantau kegiatan harian, memotivasi dan
mengnedalikan para karyawan agar berupaya mencapai produktivitas yang maksimum.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


88

Banyak agribisnis menggunakan bagan organisasi formal untuk memperjelas


tanggung jawab, wewenang dan tanggung uggat para karyawan. organisasi lini
merupakan struktur dimana setiap orang berada dalam rantai komando dan mempunyai
tanggungjawab langsung bagi fungsi- fungsi utama dalam bisnis. Dalam struktur
organisasi lini dapat ditambahkan tenaga staf ahli tanpa diberi wewenang dan hanya
berhak memberi nasihat kepada para manajer lini organisasi; sedangkan dalam struktur
organisasi fungsional para staf ahli diberi wwewenang untuk melaksanakan gagasan-
gagasan dalam bidang tanggung-jawabnya.
Kepemimpinan merupakan tugas yang menantang bagi hampir semua manajer
agribisnis. Banyak gaya kepemimpinan yang berbeda dan berjenjang mulai dari yang
bersifat otokratik, demokratik, hingga yang bersifat bebas.
Pemotivasian berarti mendorong karyawan agar bertindak dalam cara- cara tertentu.
Maslow menjelaskan kebutuhan pokok manusia sebagai hierarkhi, pemenuhan
kebutuhan pokok inilah yang memotivasi manusia. Namun demikian, faktor lainnya
seperti uang sudah merupakan bagian dari pengharapan wajar manusia sehingga hal ini
bukan lagi merupakan faktor pemotivasi tetapi sudah merupakan faktor higienik, yang
jika jumlahnya tidak memadai, akan menciptakan ketidak puasan.
Analisis transaksional merupakan salah satu model untuk memahami keinginan
karyawan dan dan faktor pemotivasinya. Analisis transaksional merupakan alat yang
bagus untuk membantu para manajer mengerti kehendak bawahan, tetapi hal ini hanya
perlu digunakan sebagai alat tambahan saja. Tidak ada rumus yang siap pakai atau
jawaban yang tepat dalam bentuk yang terbaik untuk memanajemeni manusia.
Manajemen merupakan proses rumit yang didasarkan pada sifat watak pemimpin, sifat
si terpimpin, dan situasi.

----- o Az o -----

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


89

DAFTAR PUSTAKA

Aravindakshan,M. dan J. Philip. 1995. Effect of varying doses of NPK on growth and
vigour of mango during prebearing stage. South Indian Horticulture 28(3): 94-
97

Arifin, M.S. 1996. Studi tentang Penggunaan Zat Penghambat Pertumbuhan pada
Buah Mangga (Mangifera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian,
Faperta Unibraw, Malang.

Das, G.C. dan J. Panda. 1995. Study on the effect of B- nine (N-Dimethyl Amino
Succinamic Acid) and Maleic Hydrazide on vegetative shoots of late occurrence
in mango. Orissa Jour. of Hort. 4(1&2): 33-36.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


90

Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 2001. Daftar Komposisi Bahan Makanan.
Bhatara Karya Aksara, Jakarta.

Downey, W.D. dan S.P. Ericson. 2003. Management Agribisnis. Penerbit Erlangga,
Jakarta.

FAO. 2004. A Framework for Land Evaluation. Soils Bulletin No. 32. Food and
Agriculture Organization of The United Nations. Rome.

FAO. 1998. Agro-ecological Zone Project. Soil Resources Report No. 48. .

Firdaus, Muhammad. 2009. Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara

Downey, W.D. & Erickson, S.P. 2004. Manajemen Agibisnisnis. Jakarta: Erlangga

Hanani, N. 2001. Studi Kelayakan Pengembangan Komoditas komoditas andalan dalam


Rangka Peningkatan Ekspor dan Agribisnis Hortikultura. Laporah Hasil
Penelitian No Kontrak 351/P4M DPPM/BD XXI/1990. Fakultas Pertanian
Unibraw.

Hussein, M.A., dan K.E. Youssef. 1973. Physico-chemical Parameter as An Index of


Optimum Maturity in Egyptian Mango Fruit, Mangifera indicaL. Hort. Dept.,
Univ. of Assiut, Assiut, Egypt.

Kartasapoetra, G., A.G. Kartasapoetra dan R.G. Kartasapoetra. 1995. Management


Pertanian (Agribisnis). Bina Aksara, Jakarta.

Notodimedjo, S. 1998. Pengantar Ilmu Hortikultura. Fakultas Pertanian.


Universitas Brawijaya Malang.

PPA. 1998. Commodity Profiles, Pusat Pengembangan Agribisnis, Jakarta.

Ryall, A.L. dan W.J. Lipton. 1998. Handling, Transportation and Storage of Fruits and
Vegetables. Volume I. AVI Publishing Company, Inc. Westport, Connecticut.

Sentra, I.W. 1998. Pengelolaan Kebun bibit buah-buahan Bank Indonesia, Pasuruan.
Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Unibraw, Malang.

Soemarno, N. Hanani, W. Susinggih, dan M. Dewani. 1999. Penelitian Pengembangan


Agroindustri Buah-buahan di Jawa Timur. Kerjasama antara Bappeda Tk I
Jawa Timur dan Pusat Penelitian Universitas Brawijaya, Malang.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015


91

Soemarno, K. Sukesi, B. Setiawan. L. Agustina, B.S. Suprih, dan Sudarto. 1995.


Identifikasi Potensi Komoditas Andalan Berdasarkan Agribisnis. Kerjasama
P2LK Pusat dengan Fakultas Pertanian Unibraw.

Soemarno dan Iksan Semaoen. 1999. Model Pengentasan Kemiskinan di Wilayah


Pedesaan. Prosiding Lokakarya Review Hasil- hasil Penelitian dalam Rangka
Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw.

Soemarno. 1999. Model Pewilayahan Komoditi Pertanian yang Berwawasan


Lingkungan. Makalah disampaikan dalam Seminar Ilmiah Tanggal 12 Juni 1991
di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

Soemarno. 1998. Konsep Sistem Agribisnis Komoditi Unggulan. Prosiding Lokakarya


Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw.
Lembaga Penelitian Unibraw.

SP2UK-PPLK. Jatim. 1999. Petunjuk Teknis Budidaya dan Konservasi Lahan Kering.
SP2UK-PPLK Jawa Timur, Malang.

Sunaryono, H. 1998. Pengenalan Jenis Tanaman Buah- Buahan dan Bercocok


Tanam Buah-Buahan Penting di Indonesia. Penerbit Sinar Baru. Bandung.

Tan Bock Thiam dan Shao-Er Ong. 1979. Readings in Asian Farm Management.
Singapore University Press.

Organisasi Manajemen Agribisnis – Azhar, APi, MM - STPP Bogor Tahun 2015