Anda di halaman 1dari 2

Pencabutan Surat Izin Apotek

Kepala kantor wilayah Departemen Kesehatan RI dapat mencabut Surat Izin


Apotek apabila:
1.Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan sebagai Apoteker Pengelola Apotek
(pasal 5)
2.Apoteker tidak memenuhi kewajibannya dalam hal:
a.Menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu
baik dan yang keabsahannya terjamin
b.Memusnahkan sediaan farmasi yang karena suatu hal tidak dapat digunakan lagi
atau dilarang digunakan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara
lain yang ditetapkan.
3.Apoteker mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat paten
4.Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari dua tahun
secara terus menerus
5.Terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang
kesehatan, Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika, Undang-
Undang No. 22 tahun 1997 tentang narkotika, serta ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.
6.Surat Izin Kerja (SIK) Apoteker Pengelola Apotek dicabut
7.Pemilik Sarana Apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan di
bidang obat
8.Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan apotek (pasal 6)

Pelaksanaan pencabutan Surat Izin Apotek dilakukan setelah dikeluarkan:


1.Peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak tiga kali
berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing dua bulan
2.Pembekuan izin apotek dilakukan untuk jangka waktu selama-lamanya enam bulan
sejak dikeluarkan penetapan pembekuan kegiatan apotek

Pembekuan Surat Izin Apotek dapat dicairkan kembali apabila apotek telah
membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam
peraturan.
Apabila Surat Izin Apotek dicabut, Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker
Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan tersebut mengikuti tata cara sebagai
berikut:
1. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras tertentu
dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia di apotek
2. Narkotika, psikotropika, dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup
dan terkunci
3. Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tentang penghentian kegiatan disertai laporan
inventarisasi yang dimaksud pada point (1)

PERATURAN MENTERI KESEHATAN No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang KETENTUAN DAN


TATA CARA PEMBERIAN IZIN APOTEK

Nb: ini dp nya g search punya…… g nda dapat permenkes yang baru…. Isinya g ikut laporan
tahun lalu punya kak arita dkk….. yang beda cuman undang-undang narkotik psikotropik
yang baru. Kalo dapat yang baru pake dp yang baru ja y……..