Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan adalah elemen terpenting dalam kehidupan yang dibutuhkan

seluruh umat manusia. Sesuai dengan isi dari UU Kesehatan Nomor 36 tahun

2009 pasal 4 yang berbunyi “setiap orang berhak tas kesehatan”. Sehat sebagi

hidup yang merupakan hak dasar yang tidak bisa diganggu gugat dalam

keadaan apapun.

Indonesia merupakan negara tropis dimana wilayah tropis memang baik

untuk kuman berkembangbiak dengan mudah contohnya flu, malaria, demam

berdarah, diare. Selain faktor wilayah tropis yang mempengaruhi seringnya

seseorang mengalami sakit. Kondisi dari sehat menjadi sakit mengakibatkan

tubuh bereaksi untuk meningkatkan suhu yang disebut sebagai demam.

Menurut Kementrian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di

Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita

DBD dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang

mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44 % dan

usia 15-44 tahun mencapai 33,25%. Provinsi Sumatera Selatan menduduki

posisi nomer 2 setelah provinsi Banten terkena penyakit DBD.

(Depkes,2016).

1
2

Demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas normal. Kenaikan suhu

tubuh merupakan bagian dari reaksi biologis kompleks, yang diatur dan

dikontrol oleh susunan saraf pusat . Demam itu sendiri merupakan gejala dari

kenaikan suhu tubuh oleh karena berbagai penyakit infeksi dan noninfeksi.

(Sarasvati, 2010).

Demam merupakan akibat kenaikan set point (oleh sebab infeksi) atau

oleh adanya ketidakseimbangan antara produksi panas dan pengeluarannya.

Demam pada infeksi terjadi akibat mikro organisme merangsang makrofag

atau PMN membentuk PE (faktor pirgen endogenik), zat ini bekerja pada

hipotalamus dengan bantuan enzim cyclooxygenase pembentuk

prostaglandin. Prostaglandin-lah yang meningkatkan set point hipotalamus.

Pada keadaan lain misalnya pada tumor, penyakit darah dan keganasan,

penyakit kolagen, penyakit metabolik, sumber pelepasan PE bukan dari

PMN tapi dari tempat lain. (Sari Pediatri, 2000).

Ketika sesorang demam, selain mengkonsumsi obat penurun panas juga

dapat dibantu dengan kompres. Akan tetapi sebagian besar orang salah

kaprah dalam mengompres yaitu menggunakan kompres air dingin, karena

kompres ini tidak digunakan lagi karena hanya menurunkan demam sesaat

dan justru akan menimbulkan demam lebih tinggi setelahnya. Selain itu

letak kompres pada dahi merupakan cara yang salah, karena hal ini tidak

mampu mengoptimalkan proses penurunan suhu tubuh lantaran kompres

terhalang oleh kepala tengkorak pada kepala, sebaiknya kompres diletakkan


3

pada bawah ketiak ataupun lipatan paha yang memiliki ukuran pembuluh

darah lebih besar sehingga suhu tubuh segara turun.

Salah satu teknik untuk menurunkan suhu tubuh adalah dengan tepid

sponge. Tepid sponge merupakan alternatif teknik kompres hangat yang

marak diteliti dinegar maju maupun negara berkembang lainnya. Tujuan

utama teknik kompres ini adalah untuk menurunkan suhu tubuh febris.

Teknik ini mulai dikembangkan dan diteliti di negara maju seperti Amerika

dan Inggris. Hingga akhir-akhir ini teknik ini terus diteliti dan meluas ke

negara lain seperti Brazil, Singapura dan India (Alves et all, 2008).

Teknik tepid sponge merupakan kombinasi teknik blok dengan seka.

Teknik ini menggunakan kompres blok tidak hanya disuatu tempat saja,

melainkan langsung dibeberapa tempat yang memiliki pembuluh darah besar.

Selain itu masih ada perlakuan tambahan yaitu dengan memberikn seka

dibeberapa area tubuh. Dengan kompres blok langsung diberbagai tempat ini

akan memfasilitasi sinyal ke hipotalamus dengan lebih cepat. Selain itu

pemberian seka akan mempercepat pelebaran pembuluh darah perifer dan

memfasilitasi perpindahan panas dari tubuh keluar yang akan semakin

mempercepat penurunan suhu tubuh (Reiga,2010).

Berdasarkan permasalahan diatas, penulis tertarik untuk meneliti

kompres hangat tepid sponge terhadap penurunan suhu pada anak. Maka

penulis ingin mengetahui “Pengaruh Kompres Hangat Tepid Sponge

Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Dengan Hipertermi Di Rumah Sakit....”


4

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah terebut diatas,

maka penulis dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah

“Adakah Pengaruh Kompres Hangat Tepid Sponge Terhadap Penurunan

Suhu Tubuh Dengan Hipertermi di Rumah Sakit Charitas Palembang.”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh

kompres hangat tepid sponge terhadap penurunan suhu tubuh anak dengan

hipertermi.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui pengaruh kompres hangat tepid sponge terhadap penurunan

suhu tubuh.

b. Mengetahui kenyamanan pasien setelah diberikan kompres hangat tepid

sponge.

D. Manfaat Penelitian

1. Intitusi Pendidikan
5

Dapat memberi masukan bagi institusi pendidikan khususnya

pengetahuan di bidang keperawatan medikal bedah mengenai pengaruh

kompres hangat tepid sponge terhadap penurunan suhu tubuh anak dan

menjadikan sumber buku dalam membantu penelitian terutama untuk

kepustakaan agar menjadi sumber referensi bagi peneliti yang tertarik

membahas tentang kompres hangat tepid sponge ini.

2. Bagi Pasien dan Keluarga

Memberikan informasi dan motivasi kepada pasien dan keluarga

untuk memenuhi dan menerapkan perawatan demam dengan tepat dan

mandiri.

3. Bagi Masyarakat

Memberikan informasi dan pengetahuan tambahan kepada masyarakat

tentang pentingnya teknik kompres yang tepat untuk menangani masalah

demam dikehidupan sehari-hari.

4. Bagi Peniliti Selanjutnya

Menjadi landasan dan pengembangan pada peneliti berikutnya dalam

memperluan keilmuan keperawatan khusnya pada daerah Keperawatan

Medikal Bedah.

E. Ruang Lingkup Penelitian


6

Ruang lingkup penelitian ini masuk ke dalam ranah di Keperawatan

Medikal Bedah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompres

hangat tepid sponge terhadap penurunan suhu tubuh anak dengan hipertermi

di Rumah Sakit Charitas Palembang.

F. Penelitian Terkait

Adapun penelitian terkait yang sudah diteliti yang berhubungan dengan

penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu:

1. Penelitian Deni Yuliana, dkk (2012), tentang tepid sponge terhadap suhu

tubuh pasien demam akibat dengue haemorrhagic fever. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tepid sponge

terhadap suhu tubuh pada pasien demam akibat dengue hemorragik.

Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental study pre dan

post test control group dengan menggunakan concecutive samping.

Subjek penelitian ini adalah pasien demam akibat DHF. Metode

pengumpulan data ini dilakukan dengan observasi dan wawancara guna

menunjang data mengenai kenyamanan pasien. Hasil dari penelitian

tersebut di dapat bahwa terdapat pengaruh tepid sponge terhadap

penurunan suhu tubuh pada pasien DHF.

2. Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ali Ahmad

(2015), tentang perbandingan keefektifan kompres tepid sponge dan

kompres hangat terhadap penurunan suhu tubuh pada anak demam tifoid

dengan hipertermi di RSUD Sukoharjo. Rancangan penelitian yang


7

digunakan adalah quasi experimental design dengan rancangan pretest –

postest two group. Subjek penelitian ini adalah 38 responden dibagi dalam

dua kelompok berjumlah 19 responden. Hasil dari penelitian ini adalah

teknik kompres tepid sponge lebih efektif terhadap penurunan suhu tubuh.

3. Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan I Gusti Ayu (2015),

tentang perbedaan ektivitas penggunaan tepid sponging dan plester

komprres terhadap penurunan suhu tubuh pada anak demam. Metode yang

diganakan adalah eksperimental dengan pret-est dan post-test design.

Metode pengumpulan data yaitu menggunakan lembaran observasi. Subjek

penelitian ini adalah 32 sampel diambil di ruang rawat inap dan poli UPT

Puskesamas Mengwi I. Hasil Penelitian ini adalah tepid sponge memiliki

efektivitas yang lebih tinggi secara signifikan dalam penurunan suhu tubuh

dibandingkan dengan plester kompres.