Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

CEGUKAN / HICCUP

Pembimbing :
dr. Ricky Yue, Sp. THT

Penyusun :
Sena Yeftana ( 2010 – 061 – 044 )
Benny M. Halim ( 2011 – 061 – 009 )

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher
Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya
Periode 28 November 2011 – 7 Januari 2012
Jakarta
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmatNya referat yang berjudul “Cegukan/Hiccup” ini dapat kami selesaikan tepat pada
waktunya. Referat ini kami buat sebagai salah satu dari tugas yang wajib kami selesaikan dalam
kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher di RS Atma
Jaya, Jakarta.
Harapan kami, referat ini dapat berguna sebagai bahan untuk pembelajaran bersama bagi
mahasiswa tingkat pre-klinik dan mahasiswa tingkat klinik yang ingin mengetahui lebih banyak
tentang Tuli Sensorineural Mendadak dan semua hal yang berkaitan dengannya.
Dalam proses pembuatan refrat ini hingga selesai, kami mengucapkan terima kasih
kepada dr. Ricky Yue, Sp. THT-KL selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dan
arahan dalam pembuatan referat ini dan juga kepada semua pihak yang telah membantu baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan pada referat ini, maka kami akan
menghargai kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca untuk membuat referat
ini lebih baik lagi di kemudian hari.
Akhir kata, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 15 Desember 2011

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1


1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
BAB II : ISI................................................................................................................................ 2
2.1 Embriologi ........................................................................................................................ 2
2.1.1 Embriologi Diafragma ............................................................................................... 2
2.1.2 Embriologi Larynx .................................................................................................... 3
2.2 Anatomi ............................................................................................................................ 4
2.2.1 Anatomi Diafragma ................................................................................................... 4
2.2.2 Anatomi Larynx......................................................................................................... 6
2.3 Fisiologi .......................................................................................................................... 10
2.3.1 Diafragma ................................................................................................................ 10
2.3.2 Larynx...................................................................................................................... 10
2.4 Cegukan/Hiccup ............................................................................................................. 12
2.4.1 Definisi .................................................................................................................... 12
2.4.2 Epidemiologi ........................................................................................................... 13
2.4.3 Klasifikasi ................................................................................................................ 13
2.4.4 Etiologi .................................................................................................................... 13
2.4.5 Patofisiologi ............................................................................................................. 15
2.4.6 Diagnosis ................................................................................................................. 15
2.4.7 Tatalaksana .............................................................................................................. 17
2.4.8 Prognosis ................................................................................................................. 18
BAB III : KESIMPULAN ....................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 20


BAB I
PENDAHULUAN

Cegukan/hiccup merupakan suatu keadaan terjadinya spasme diafragma involuntir


sehingga menyebabkan inhalasi tiba-tiba dan terputus dengan reflex penutupan glottis sehingga
menimbulkan bunyi. Keadaan ini sangat umum terjadi, dapat mengenai semua orang tetapi dapat
juga terjadi sebagai komplikasi dari beberapa penyakit atau operasi besar, biasanya berat dan
menetap.
Kejadian ini sangat sering terjadi dan hampir selalu ringan dan dapat sembuh sendiri,
tetapi kadang-kadang dapat menjadi berat terutama pada kasus-kasus yang terjadi setelah operasi
besar atau komplikasi penyakit-penyakit serius.
Untuk kasus-kasus yang ringan umumnya tidak diperlukan pengobatan, tetapi pada
keadaan yang tidak menyenangkan pasien dan bersifat menetap ini menyebabkan pasien tidak
bisa istirahat sehingga diperlukan penatalaksanaan yang tepat pada keadaan seperti ini.
BAB II
ISI

2.1 Embriologi
2.1.1 Embriologi Diafragma1
Walaupun rongga pleura terpisah dari rongga pericardial, untuk sementara mereka
tetap berhubungan langsung dengan rongga perut, karena diafragma masih belum
sempurna. Pada perkembangan selanjutnya, tepi kaudal rongga pleura dibatasi oleh
lipatan-lipatan berbentuk bulan sabit, yaitu lipatan pleuroperitoneal. Lipatan lipatan ini
menonjol ke sebelah ujung kaudal saluran-saluran perikardioperitoneal. Dengan
berlanjutnya perkembangan, lipatan ini meluas kearah medial dan ventral dan
menjelang minggu ketujuh bersatu dengan mesenterium esophagus serta septum
transversum. Dengan demikian, hubungan antara bagian dada dan perut rongga selom
tertutup oleh selaput pleuraperitoneal. Ekspansi lebih lanjut dari rongga pleura relative
terhadap mesenkim dinding tubuh menyebabkan penambahan lembaran perifer selaput
pleuroperitoneal. Setelah lembaran ini terbentuk, mioblas yang berasal dari dinding
tubuh menembus selaput ini membentuk bagian otot diafragma.
Dengan demikian, diafragma berasal dari bangunan-bangunan berikut: septum
transversum yang membentuk bagian tendinosa diafragma, dua selaput
pleuroperitoneal, komponen-komponen otot dari dinding tubuh lateral dan dorsal, dan
mesenterium esophagus tempat berkembangnya krura diafragmatika.
Pada mulanya, septum transversum terletak berhadapan dengan somit-somit leher,
dan komponen-komponen saraf segmen leher ke-3, 4, 5 medula spinalis tumbuh
masuk ke dalam septum. Pada permulaannya, saraf yang dikenal sebagai nervus
frenikus, berjalan ke septum tersebut melalui lipatan pleuroperikardial. Hal ini
menerangkan mengapa, dengan perluasan paru lebih lanjut dan penurunan septum ini,
nervus frenikus terletak di dalam pericardium fibrosa dalam perjalanannya untuk
mempersarafi diafragma.
Walaupun septum transversum terletak berhadapan dengan segmen-segmen leher
pada minggu keempat, minggu keenam diafragma yang sedang berkembang terletak
setinggi somit-somit toraks. Penurunan diafragma ini tampaknya lebih disebabkan
oleh pertumbuhan cepat bagian dorsal mudigah (kolumna vertebralis), dibandingkan
terhadap bagian ventral. Pada permulaan bulan ketiga, beberapa pita dorsal diafragma
berorigo setinggi vertebra lumbalis pertama.

Saluran
Lipatan perikardioperitoneal Selaput
pleuroperitoneal pleuroperitoneal

A B C

Pertumbuhan otot dari


dinding tubuh
Septum transversum

Gambar 1. Gambar skematik melukiskan perkembangan diafragma. A. Lipatan pleuroperitoneal


tampak pada permulaan minggu kelima. B. Lipatan pleuroperitoneal telah menyatu dengan
septum transversum dari mesenterium esophagus pada minggu ketujuh, dengan demikian
memisahkan rongga dada dari rongga perut. C. potongan melintang pada perkembangan bulan
keempat. Sebuah lembaran tambahan yang berasal dari dinding tubuh, membentuk bagian yang
paling luar dari diafragma.

2.1.2 Embriologi Larynx1


Lapisan dalam larynx berasal dari endoderm, tetapi tulang rawan dan otot berasal
dari mesenkim lengkung faring ke-4 dan ke-6. Sebagai akibat dari proliferasi
mesenkim yang berlangsung cepat, aditus laringis berubah bentuknya dari sebuah
celah sagital menjadi lubang berbentuk T. Selanjutnya, ketika mesenkim kedua
lengkung faring tersebut berubah menjadi kartilago tiroidea, krikoidea serta
aritenoidea, bentuk dewasa aditus laringis yang khas sudah dapat dikenali.
Gambar 2. Gambar yang memperlihatkan aditus laringis dan tonjol-tonjol di sekitarnya pada
stadium perkembangan yang berurutan A. 6 minggu. B. 12 minggu.

Kira-kira pada saat terbentuknya tulang rawan tersebut, epitel laring juga
berproliferasi dengan cepat, sehingga untuk sementara menutup lumen. Selanjutnya,
ketika terjadi vakuolisasi dan rekanalisasi, terbentuklah sepasang resesus lateral yaitu
ventrikel laringealis. Resesus tersebut dibatasi oleh lipatan-lipatan jaringan yang tidak
menghilang melainkan berdiferensiasi menjadi pita suara palsu dan sejati.
Karena penurunan otot laring berasal dari mesenkim lengkung faring ke-4 dan ke-
6, semua otot laring dipersarafi oleh cabang-cabang saraf otak ke-10, yaitu nervus
vagus, nervus laringeus superior mempersarafi derivate lengkung faring ke-4 dan
nervus laringeus rekurens mempersarafi derivate lengkung ke-6.

2.2 Anatomi
2.2.1 Anatomi Diafragma2
Di inferior, thorax terbuka kearah abdomen melalui sebuah lubang besar. Lubang
ini dibatasi oleh symphysis xiphosternalis, arcus costae, dan corpus vertebrae
thoracica XII. Lubang ini ditutupi oleh sebuah septum muscular dan tendinosa,
diafragma, yang ditembus oleh alat-alat yang berjalan antara thorax dan abdomen.
Diafragma merupakan otot utama respirasi. Bentuknya seperti kubah dan terdiri
dari 2 bagian yaitu bagian tengah dan pinggir. Bagian pinggir merupakan bagian otot
yang berasal dari pinggir aperture thoracis inferior, sedangkan bagian tengah
merupakan tendonya. Origo diafragma dapat dibagi menjadi 3 bagian:
a. Pars sternalis diaphragmatic terdiri atas slip dextra dan slip sinistra kecil yang
berasal dari permukaan posterior processus xiphoideus
b. Pars costalis diaphragmatic terdiri atas 6 slip yang berasal dari permukaan dalam
6 costa bagian bawah dan cartilage costalisnya
c. Pars lumbalis diaphragmatic berasal dari columna vertebralis dalam bentuk crura
dan dari ligamentum arcuatum.
Pinggir medial kedua crura yang bersifat fibrosa dihubungkan oleh ligamentum
arcuatum medianum yang menyilang di atas permukaan anterior aorta.
Diafragma berinsersio pada centrum tendineum, yang berbentuk seperti tiga daun.
Sebagian permukaan superior centrum tendineum bersatu dengan permukaan inferior
pericardium fibrosum. Sebagian serabut otot crus dextrum berjalan ke atas kiri dan
melingkari hiatus esophagus sebagai lengkung yang melingkar. Serabut-serabut ini
kelihatannya bekerja sebagai sebuah sfingter dan mungkin membantu mencegah
regurgitasi isi lambung ke pars thoracica esophagus.

Gambar 3. Anatomi Diafragma


Bila dilihat dari depan, diafragma melengkung ke atas membentuk kubah kanan
dan kiri. Tinggi kubah kanan mencapai pinggir atas costae V, dan kubah kiri dapat
mencapai pinggir bawah costa V (kubah kanan terletak lebih tinggi mungkin akibat
adanya lobus hepatis dextra yang besar). Centrum tendineum terletak setinggi
symphysis xiphosternalis. Kubah menyokong paru kanan dan kiri, sedangkan centrum
tendineum menyokong jantung. Tinggi diafragma berbeda-beda sesuai tahapan
respirasi, sikap tubuh dan derajat pembesaran organ-organ abdomen. Diafragma lebih
rendah pada waktu posisi duduk atau berdiri; dan lebih tinggi pada waktu berbaring
atau setelah makan kenyang.
Bila dilihat dari samping, diafragma mempunyai bentuk seperti huruf J terbalik,
lengan panjang berjalan ke atas dari columna vertebralis dan lengan pendek berjalan
ke depan sampai pada processus xiphoideus.
Diafragma mempunyai tiga lubang utama yaitu Hiatus aorticus, yang terletak
anterior terhadap corpus vertebrae thoracica XII, di antara kedua crura. Lubang ini
dilalui aorta, ductus thoracicus dan vena azygos. Yang kedua ialah Hiatus esophagus
yang terletak setinggi vertebra thoracica X pada lengkungan serabut-serabut otot dari
crus dextrum. Lubang ini dilalui esophagus, nervus vagus dextra dan sinistra, rami
esophageales arteria dan vena gastric sinistra dan pembuluh limfatik dari sepertiga
bagian bawah esophagus. Yang ketiga ialah foramen vena cava yang terletak setinggi
vertebra thoracica VIII pada centrum tendineum. Lubang ini dilalui oleh vena cava
inferior dan cabang-cabang terminal nervus phrenicus dextra.
Persarafan motorik untuk masing-masing sisi diafragma hanya berasal dari nervus
phrenicus (C3, C4, C5). Saraf sensorik untuk pleura parietalis dan peritoneum yang
meliputi permukaan tengah diafragma berasal dari nervus phrenicus. Persarafan
sensorik bagian perifer diafragma berasal dari enam nervi intercostales yang
terbawah.
2.2.2 Anatomi Larynx2
Larynx merupakan katup biologis yang terletak di perbatasan antara saluran
respirasi dengan digestive. Perkembangan dari larynx menjadi suatu organ phonasi
dikarenakan posisinya yang terletak diatas cabang trakeobronkial dan fungsi katupnya
yang memberikan keunikan yang bermanfaat dalam mengatur jalan nafas.
Suara manusia adalah hasil dari interaksi kompleks dari seluruh elemen saluran
respirasi bagian atas tetapi ini juga tergantung dari ketepatan dari penutupan glottis
yang baik untuk pengeluaran suara.

Gambar 4. Anatomi Larynx


Kerangka dari larynx terdiri dari 1 tulang hyoid dan 4 kartilago (cricoids, tyroid,
dan arytenoids yang berpasangan). Kerangka luar terbentuk dari hyoid, tyroid dan
cricoids yang disambungkan dengan membrane tyrohyoid dan cricotyroid. Semua
elemen ini tergantung dari dasar tengkorak dan mandibula dengan perlekatan dari
jaringan-jaringan ikatnya. Dengan demikian larynx bergerak secara vertical sebagai
satu unit, tergantung dari hyoid yang merupakan elemen superiornya. Lokasi tersebut
penting tidak hanya untuk proteksi jalan nafas ketika menelan tetapi juga dalam
memodifikasi bentuk dari saluran resonansi supraglotical pada produksi suara.
Kartilago cricoid mungkin dianggap sebagai dasar dari larynx. Sebagai satu-
satunya yang berbentuk cincin penuh pada jalan nafas dalam, hal ini yang menjadi
penting dalam mempertahankan patensi dari jalan nafas. Bagaimanapun juga,
kekakuan dari segmen ini tampak sebagai factor predisposisi dalam terjadinya
kerusakan mukosa dari terkanan endoluminal seperti pada pemasangan ETT dan
stenosis.
Kartilago tyroid terletak diatas cricoids. Tanduk inferiornya berartikulasi dengan
permukaan luar dari cricoids secara posterior dan bentuk V nya membungkus
jaringan ikat dari glottis. sudut dimana 2 setengah dari kartilago tyroid bergabung
pada garis tegah anterior tengah lebih banyak terdapat pada leher pria.
Kartilago arytenoids berpasangan terletak pada lingkaran cephalic dari cricoids
posterior dan merupakan suatu pemberat untuk menghentikan bergerakan dari plica
vocalis. Arytenoids ini yang dianggap berfungsi dalam menerjemahkan vektor dari
segala usaha dari muskulus laryngeal interinsik menjadi suatu pergerakan abduksi dan
adduksi dari plica vocalis.
Epiglotis, suatu kartilago elastic yang tidak mempunyai peran structural pada orang
dewasa dan hanya menjadi sebagai elemen penyokong pada larynx dalam lingkup
ligament tyroepiglotis dan hyoepiglotis. Kartilago corniculata (Santorini) terletak
diatas dari arytenoids dan kartilago cuneiform (Wrisberg) yang terdapat didalamnya
lingkaran superior dari aryepiglotic fold.
Otot intrinsic dari larynx yang barasal dan masuk ke kartilago laryngeal
bertanggung jawab pada pergerakan plica vocalis. Abductor dari plica vocalis ialah
musculus cricoarytenoid posterior yang berasal dari permukaan posterior dari cricoids
yang terletak superolateral terhadap proses muscular dari arytenoids. Antagonis dari
otot ini ialah M. tyroarytenoid yang tertarik dari permukaan dalam dari tyroid ke
arytenoids. Bersama dengan M. cricoarytenoid lateral membentuk kompleks adductor
dari plica vocalis.
Setiap hemilarynx mendapat innervasi dari cabang ipsilateral dari vagus. Nervus
laryngeal superior berasal dari sebelah bawah ganglion nodosa, sekitar 36 mm
dibawah foramen jugular. Ini berjalan medial ke A. karotis interna dan eksterna dan
pecah menjadi 2 cabang. Pada bagian kanan, nervus rekuren berasal dari cabang
utama dari vagus yang melewati anterior ke a. subclavia dan melongkapi dibawah
struktur tersebut berjalan ke larynx. Pada bagian kiri mengikuti jalur yang sama tetapi
melompati sekitar aorta disamping a. subclavia.
Plica Vocalis
Plica vocalis terlindungi oleh suatu lapisan tipis epitel squamous bertingkat,
berlainan dari lapisan epitel dari permukaan lain dari larynx dan trakea. Dibawahnya
terdapat lamina propria, suatu lapisan lembut yang terdiri dari protein termasuk
elastin, kolagen dan elemen extraseluler lainnya. Lapisan superficial dari lamina
propria terdapat dibawah membrane basalis dari epitel dan mengandung konsentrasi
yang terendah dari protein fibrosa. Pada kenyataannya, karena ketebalannya sekitar
0.5 mm yang terletak di tengah dari plica vocalis orang dewasa, struktur ini tidak
seperti ruang antara pleura pulmonalis dan dinding dada. Dibawah lapisan superficial
dari lamina propria terdapat lapisan tengah dan dalam. Lapisan ini mengandung
sedikit elastin dan kolagen yang banyak. Kekakuan meningkat akibat kolagen yang
banyak. Kombinasi dengan lamina propria superficial, struktur ini membentuk
mukosa dari plica vocalis. Didalamnya terdapat m. tyroarytenoid, yang terdiri dari
kompartemen superficial dan dalam. Dalam diskusi tentang fisiologi phonasi, lapisan
dari plica vocalis dibagi menjadi lapisan luar dan bagian dalam, yang secara
fundamental mempunyai property fisik yang berbeda dalam peranannya dalam
phonasi. Lapisan luar termasuk dari epitel dan lamina propria superficial. Ligament
menunjukkan zona transisi, dan bagian dalam terdapat m. tyroarytenoid.

Gambar 6. Plica Vocalis


2.3 Fisiologi
2.3.1 Diafragma3
Salah satu fungsi penting dari dinding thorax dan diafragma ialah untuk
mengubah volume dari thorax dan dengan demikian dapat menyebabkan udara keluar
dan masuk ke dalam paru-paru.
Pernafasan dikendalikan oleh pusat pernafasan di medulla oblongata. Pusat
control pernafasan dibagi menjadi pusat inspirasi dan ekspirasi. Pusat inspirsi secara
spontan mengontrol diafragma dan m. intercostales yang bertanggung jawab pada
inspirasi. Sel-sel mengirim impuls melalui medulla spinalis menuju ke n. phrenicus
untuk diafragma dan saraf-saraf interkostales untuk otot-otot interkostales. Irama ini
dilengkapi dengan reflex Hering-Breuer. Reseptor regangan di jaringan paru
mengirim impuls melalui nervus vagus ke batang otak. Impuls ini menghambat
inspirasi saat paru-paru dikembangkan dan merangsang inspirasi bila paru
dikempeskan.
Ketika bernafas, dimensi dari thorax berubah dalam ukuran vertical, lateral dan
anteroposterior. Elevasi dan depresi dari diafragma secara signifikan mengubah
dimensi thorax secara vertical. Depresi dihasilkan ketika serat otot dari diafragma
mengalami kontraksi. Elevasi terjadi ketika diafragma mengalami relaksasi.
Perubahasan secara anteroposterior dan lateral dihasilkan dari elevasi dan depresi
dari iga. Akhir posterior dari iga berartikulasi dengan kolumna vertebralis, dimana
akhir anterior dari iga berartikulasi dengan sternum atau iga yang lain. Karena akhir
anterior dari iga letaknya inferior dari akhir posterior, ketika iga tersebut terelevasi,
dapat menggerakan sternum maju dan ke atas. Ketika iga tersebut depresi, sternum
bergerak ke bawah dan mundur. Setiap otot yang menghubungkan iga secara
potensial dapat menggerakan 1 iga secara relative terhadap yang lain dan dapat
berperan sebagai otot respirasi aksesori. Otot di leher dan abdomen dapat
memperbaiki atau mengubah posisi dari iga bagian atas dan bawah.
2.3.2 Larynx4
Fungsi dari larynx yaitu:
1. Proteksi dari jalan nafas
Fungsi biologis penting dari larynx ialah proteksi dari jalan nafas, yang
diperankan oleh penutupan dari glottis. Secara anatomi, larynx memiliki sphincter
untuk melindungi paru kemasukan air. Terdapat bukti bahwa larynx mempunyai
kesensitifan terhadap perubahan pH, ion klorida dan ion garam. Stimulasi ini
memicu penutupan laryngeal melalui reflex yang terjadi dari nervus laryngeal
superior dan nervus rekuren.
2. Respirasi
Larynx secara aktif berpartisipasi secara aktif dalam respirasi sebagai regulator
dari dimensi jalan nafas. Aktivitas respirasi pada larynx focus pada m.
cricoarytenoid posterior, otot abductor dari plica vocalis, yang teraktivasi untuk
mengantisipasi tekanan intraluminal negative yang berasal dari kontraksi
diafragma saat inspirasi. Otot tersebut mempunyai kemampuan dalam peranannya
untuk memonitoring tekanan udara, temperature, humidity dan konsentrasi CO2.
Terdapat controversial dimana plica vocalis mengalami adduksi ketika ekspirasi
menunjukkan adduksi aktif atau relaksasi secara pasif dari m. crycoarytenoid. Ini
jelas bahwa pada keadaan tertentu, adduksi terjadi secara aktif dan ukuran dari
pembukaan glottis menjadi penentu volume ekspirasi ketika terjadi ekshalasi
secara manual.
3. Suara
Suara terdiri dari 3 komponen penting yaitu produksi suara, resonansi dan
artikulasi. Suara pada dasarnya diproduksi oleh plica vocalis menghasilkan suatu
bunyi suara. Bunyi suara tersebut kemudian diamplifikasi oleh resonator
(tenggorok, kavitas mulut dan saluran nasal). Resonator ini yang membuat setiap
suara orang dapat dikenali. Suatu suara juga memerlukan articulator (lidah,
palatum molle dan bibir) untuk menghasilkan suara yang dapat dikenali.
Beberapa area di cerebri yang mengatur phonasi ialah pre dan post central gyrus
(Rolandic area), Broca’s area dan area motorik supplementary. Kemudian
berjalan melalui nervus vagus dan akhirnya bercabang menjadi n. laryngeal
superior dan rekuren.
Proses dari phonasi berbentuk suatu siklus glottal. Dimulai dengan akumulasi dari
tekanan udara terhadap dinding konvergen dari subglotis, hasil dari ekshalasi
udara yang menutup glottis. Pada batas tekanan tertentu, udara mulai untuk
mendorong bagian bawah dari plica vocalis. Ketika udara melewati konstriksi dari
plica vocalis, udara dipercepat sampai lumen supraglotis menjadi terbuka.
Tekanan yang rendah pada saat udara berjalan cepat menghasilkan efek Bernoulli
yang menyebabkan penutupan dari bagian bawah diikuti atas. Kemudian diikuti
siklus yang baru lagi.

Gambar 7. Diagram Vibrasi Plica Vocalis

2.4 Cegukan/Hiccup
2.4.1 Definisi5
Hiccup merupakan suatu keadaan yang sangat umum terjadi, hampir selalu ringan
dan dapat sembuh sendiri. Tapi kadang-kadang dapat menjadi berat terutama pada
kasus-kasus yang terjadi setelah operasi besar dan sebagai komplikasi penyakit-
penyakit serius lainnya. Untuk kasus-kasus yang ringan umumnya tidak diperlukan
pengobatan. Tetapi pada kasus-kasus yang berat, maka pengobatan dapat menjadi
sangat sukar karena bukan gejalanya saja yang diobati tetapi penyebabnya harus dicari.
Hiccup merupakan suatu kontraksi spasmodic involunteer pada diafragma,
menimbulkan permulaan inspirasi yang tiba-tiba terhenti oleh penutupan glottis,
menyebabkan bunyi yang khas. Disebut juga hiccough dan singultus (latin).

2.4.2 Epidemiologi6
Hiccup dapat terkena pada seluruh manusia. Insiden secara keseluruhan menurut
jenis kelamin adalah sama antara pria dan wanita; bagaimanpun juga, hiccup yang
sifatnya lebih berat and keras sering terjadi pada pria (82% kasus).
Hiccup dapat terjadi di semua umur dan in utero. Bayi premature menghabiskan
2.5% waktunya untuk terkena gejala ini. Meskipun hiccup terjadi tidak begitu sering
pada umur yang lebih tua, hiccup yang sifatnya keras terjadi lebih sering pada orang
dewasa. Wanita cenderung lebih sering mengalami hiccup pada dewasa muda
dibandingkan pria di tingkat umur yang sama.

2.4.3 Klasifikasi7
Klasifikasi dari hiccup dibagi menjadi tiga yaitu hiccup nonpatologis, hiccup
persisten, hiccup yang sering sampai mengganggu penderita. Untuk hiccup
nonpatologis gejalanya muncul sampai 48 jam, hiccup persisten lamanya 48 jam – 1
bulann, hiccup yang dapat mengganggu penderita biasanya lamanya lebih dari 1 bulan.
Hiccup persisten kadang biasanya berhenti ketika tidur dan lanjut kembali setelah
bangun kembali, yang mana berkaitan dengan aktivitas neuronal secara general. Total
dari karbondioksida arteri dan perubahan pada natrium serum juga diduga dapat
memicu terjadinya eksitabiliti system saraf pusat.

2.4.4 Etiologi8
Penyebab terjadinya singultus dapat dibedakan berdasarkan tipe Benign; self
limited singultus biasa disebabkan oleh distensi lambung akibat pola makan
berlebihan, minum minuman bersoda atau alkohol, atau aerofagia. Hal-hal seperti ini
dapat merangsang arkus singultus (N.Frenikus, N.Vagus, rantai simpatis, mediator
sentral, diafragma, glotis dan otot interkosta), konsumsi alkohol menginaktifkan
inhibitor fisiologik arkus singultus menjelaskan singultus pada orang mabuk,
perubahan mendadak dari suhu tubuh atau lingkungan atau stress psikis menyebabkan
singultus transien akibat dapat merangsang arkus singultus, terkadang singultus dapat
terjadi saat tidur mungkin dapat disebabkan karena perubahan fisiologi tubuh saat
tidur.
Pembagian kedua yaitu tipe kronis dan dapat dibagi lagi menjadi organic,
psikogenik, akibat medikasi dan lainnya. Proses dari sentral termasuk gangguan dari
batang otak dan otak bagian tengah. Penyebab pada system saraf perifer termasuk
iritasi dari n. vagus atau phrenicus bisa disepanjang perjalanan nervusnya (cranial,
cervical, thoraks dan abdomen).
Sekitar 80% dari hiccup persisten dan mengganggu terjadi pada pria. Penyebab
organic dapat diidentifikasi pada 93% pria dan 8% wanita, yang menghasilkan kira-
kira insidens penyebab organic yaitu 80% dan sisanya ialah psikogenik.

Stroke iskemik/hemoragik,
Vascular
AVM, trauma kepala, vaskulitis
Central encephalitis/meningitis, brain
Infeksi
abscess, neurosyphilis
Structural mass lesions
Meningeal/pharyngeal Meningitis/laryngitis/abses,
afferent goiter/cyst/tumor
Auricular afferent Benda asing
Trauma dada, neoplasma,
lymphadenopathy, MCI, edema
pulmo,
Thoracic afferent
perikarditis/pleuritis/esophagitis,
Perifer aortic aneurysm,
asma/pneumonia
Distensi lambung,
gastritis/hepatitis, peptic ulcer,
pancreas, obstruksi usus,
Abdominal afferent
apendisitis, IBD, operasi,
genitourinary disorders, iritasi
langsung diafragma
Psikogenik stress/excitement, anorexia nervosa, malingering
steroids, barbiturates, benzodiazepines, alpha-blockers,
Medikasi dopaminergic agonists, antibiotics, nonsteroidal
antiinflammatory
Lainnya idiopathic, toxic/metabolic, alcohol, tobacco, sepsis,
electrolyte abnormalities (sodium/calcium/potassium),
uremia, diabetes mellitus
Tabel 1. Penyebab Hiccup

2.4.5 Patofisiologi6,7
Hiccup terjadi karena kontraksi diafragma secara involunteer. Kadang, hanya satu
hemidiafragma yang dapat terkena. Tersering ialah hemidiafragma bagian kiri (80%
kasus), meskipun secara bilateral dapat terjadi juga.
Hiccup terjadi kira-kira 4-60 kali per menit. Secara tipikal, ini lebih rendah dari 4
atau lebih dari 30. Frekuensi ini cenderung konstan pada setiap individual dan
berbanding terbalik dengan PCO2 arteri. Hiccup cenderung lebih sering terjadi pada
sore hari dan berlanjut selama jam sebelum tidur. Hiccup sering terjadi ketika awal
sampai pertengahan siklus menstruasi, terutama beberapa hari sebelum menstruasi dan
menurun selama kehamilan.
Kontraksi secara involunteer dari diafragma dapat dipengaruhi oleh beberapa
penyebab yang sudah dijelaskan diatas. Inspirasi pada manusia yang terjadi secara
konstan diinterupsi oleh penutupan glottis secara instan yang terjadi selama kira-kira
30 ms dari awal penurunan yang terjadi pada diafragma. Waktu tersebut tidak berefek
secara besar terhadap respirasi karena inspirasi yang terhambat terjadi secara cepat
dengan penutupan glottis tersebut. Latensi yang singkat dari reflex penutupan glottis
membuktikan bahwa pusat dari reflex hiccup tidak terdapat di pusat respirasi.
Aktivitas neuronal yang berperan pada hiccup mungkin terdapat pada level medulla
spinalis atau batang otak bagian bawah.
Refleks hiccup, awalnya diperkenalkan oleh Bailey pada tahun 1943, terdiri dari:
- Afferent : n. vagus dan phrenikus dan rantai simpatetis sepanjang T6-12
- Pusat hiccup : lokasi tidak spesifik antara C3-5
- Koneksi dengan pusat respirasi, nuclei n.phrenicus, medullary reticular formation
dan hipotalamus
- Efferent : N. phrenicus (C3-5), M. scalene anterior (C5-7), intercostales external
(T1-11), glotis (komponen n. laryngeal rekuren dari vagus), proses inhibitori
autonomik, penurunan tonus kontraksi esofageal, penurunan tonus sphincter
esophageal.

2.4.6 Diagnosis6,8
a. Anamnesis
Dapat ditegakkan dari riwayat pasien berdasarkan pada onset dari singultus itu,
tingkat keparahannya, dan durasi dari singultus itu sendiri. Sebagai contoh, hiccup
yang muncul saat tidur dapat dikatakan sebagai hiccup yang disebabkan oleh
penyebab organik. Untuk hiccup kronik persisten dapat ditegakkan dari riwayat faktor
pencetus hiccup. Perlu diketahui juga apakah hiccup yang mereda dengan tidur dan
sementara tersebut berkaitan dengan kondisi stress yang mungkin dicetuskan oleh
penyebab psikogenik. Keadaan sinkop disebabkan aritmia dilaporkan dapat menjadi
penyebab dan efek dari hiccup. Penyakit GERD juga dapat menjadi penyebab atau
akibat dari hiccup. Penurunan berat badan, insomnia dan keadaan gangguan
emosional dapat menjadi komplikasi dari episode yang berkepanjangan. Pertanyaan
secara sistemik, riwayat operasi, riwayat pengobatan, alcohol perlu ditanyakan
kepada pasien.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan kepala dan leher; bertujuan untuk mencari adanya benjolan pada
leher, menilai anatomi leher apakan baik atau tidak, menilai adanya benda asing di
saluran nafas atau massa yang menimbulkan eksitasi pada N.Vagus sehingga dapat
menimbulkan singultus, dan fokus infeksi yang menyebabkan peradangan.
Limfadenopati, perbesaran kelenjar limfe dapat disebabkan oleh infeksi organ
yang bermuara pada kelenjar limfe, akibat perbesaran kelenjar limfe dapat
menimbulkan penekanan terutama jika letak kelenjar dekan dengan selubung karotis
dimana terdapat N.Vagus yang dapat memicu terjadinya singultus.
Pemeriksaan dada bertujuan untuk mengetahui bahwa gangguan struktur yang
dapat menyebabkan singultus berasal dari gangguan pada dada, dapat berupa
pneumonia atau sama.
Pada pemeriksaan abdomen untuk menilai apakah gangguan dari organ lambung,
hati atau pankreas seperti; distensi lambung, ulkus peptikum, pankreatitis atau
hepatitis, perbesaran organ yang bersinggungan langsung dengan diafragma atau
dipersarafi oleh N.Vagus dapat menyebabkan eksitasi yang menimbulkan gejala
berupa singultus.
Penyakit defisiensi neurologis seperti stroke, sklerotik multiple dapat dicurigai
sebagai penyebab hiccup.
c. Pemeriksaan penunjang
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat dipakai untuk menegakkan
diagnosa hiccup, namun beberapa pemeriksaan spesifik seperti pemeriksaan serum
alkohol atau serum elektrolit darah dapat menyingkirkan faktor gangguan metabolik
atau keracunan dalam diagnosis hiccup persisten.
Pemeriksaan laboratorium dapat berkontribusi untuk hiccup, tetapi tetap
tergantung dari anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien. Pemeriksaan elektrolit dapat
menunjukkan hiponatremi, hipokalemi, hipokalsemi dan hiperglikemia. Pemeriksaan
fungsi hepar dan ginjal juga dapat menjadi penentu bila pasien terdapat sindrom
uremia dan hepatitis. Pemeriksaan penunjang lainnya seperti foto Rontgen thoraks
dapat menyingkirkan faktor penyebab oleh kelainan jantung, paru dan mediastinum
sebagai penyebab eksitasi nervus. Pemeriksaan lainnya seperti Elektroensefalogram
(EEG), Magnetic Resonace Imaging (MRI) dan endoskopi dapat dipertimbangkan.

2.4.7 Tatalaksana6,7
a. Nonfarmakologis
Banyak pengobatan secara tradisional dilakukan yang memang terdengar bersifat
fisiologis yang mempengaruhi dari komponen reflex hiccup, seperti stimulasi dari
nasopharynx (traksi lidah dengan paksa, berkumur, minum dari sisi jauh gelas,
menelan gula pasir, menggigit lemon dan menghisap agen noxius seperti ammonia),
stimulasi dermatom C3-5 (menekan dan menggosok bagian belakang leher, coolant
spray, akupunktur), stimulasi pharyngeal direk (nasal/oral catheter:90% efektif),
stimulasi uvular direk (applicator sendok), dan pengeluaran dari isi gaster (emetic,
NGT).
Bisa dengan stimulasi vagal (hanya 1 teknik di 1 waktu yang dapat dilakukan),
seperti iced gastric lavage, Valsava maneuver, pijat sinus carotid (hanya oleh ahli),
tekanan pada bola mata (hanya oleh ahli), digital rectal massage).
Manipulasi dari system respirasi juga dapat dilakukan seperti tahan nafas,
hiperventilasi, keadaan termegap-megap, nafas melalui kantong plastic, tekuk lutut
sampai ke dada dan membungkuk ke depan, CPAP.
Yang lainnya seperti hypnosis, akupunktur, phrenic nerve block surgery dapat
dilakukan juga dalam tatalaksananya secara nonfarmakologis untuk hiccup.
b. Farmakologis
farmakologis ditujukan untuk menginhibisi stimulasi dari reflex hiccup, secara
luas memblok melalui neurotransmitter inhibitor. Kebanyakan dari terapi
farmakologis telah dievaluasi pada studi kasus daripada RCT. Hiccup biasanya
merespon cepat dari terapi jika terapi tersebut efektif. Bagaimanapun juga, banyak
agen yang diinisiasi sebelum obat-obatan yang lebih efektif ditemukan.
Obat Dosis Keterangan
25-50 mg IV di dalam 1 L saline inf,
diperlambat setelah bbrp jam; First drug of
Chlorpromazine
maintenance 25-50 mg untuk 7-10 choice
hari
5 mg setiap 8-12 jam PO, Hati-hati
Baclofen ditingkatkan bila perlu setiap 3 hari hipotensi &
(max dos 75 mg) sedasi
200 mg IV lambat; maintenance 300
diphenylhydantoin
mg/d
Asam valproat 15 mg/kg/d hepatotoksik
Amitriptyline 10-100 mg/d Prolonged QT int
Metoclopramide 10 mg PO setiap 6 jam GIT efek
Tabel 2. Terapi Farmakologis Hiccup

2.4.8 Prognosis
Hiccup secara umum bersifat dapat sembuh sendiri dan prognosis ialah baik.
Prognosis hiccup yang cukup berat dan mengganggu berkaitan dan tergantung dari
etiologi penyebab dasarnya.
BAB III
KESIMPULAN

Hiccup merupakan suatu keadaan yang sangat umum terjadi, hampir selalu ringan dan
dapat sembuh sendiri. Tapi kadang-kadang dapat menjadi berat terutama pada kasus-kasus yang
terjadi setelah operasi besar dan sebagai komplikasi penyakit-penyakit serius lainnya. Hiccup
merupakan suatu kontraksi spasmodic involunteer pada diafragma, menimbulkan permulaan
inspirasi yang tiba-tiba terhenti oleh penutupan glottis, menyebabkan bunyi yang khas. Disebut
juga hiccough dan singultus (latin).
Hiccup dapat terkena pada seluruh manusia. Insiden secara keseluruhan menurut jenis
kelamin adalah sama antara pria dan wanita; bagaimanpun juga, hiccup yang sifatnya lebih berat
and keras sering terjadi pada pria (82% kasus).
Hiccup dapat terjadi di semua umur dan in utero. Bayi premature menghabiskan 2.5%
waktunya untuk terkena gejala ini. Meskipun hiccup terjadi tidak begitu sering pada umur yang
lebih tua, hiccup yang sifatnya keras terjadi lebih sering pada orang dewasa. Wanita cenderung
lebih sering mengalami hiccup pada dewasa muda dibandingkan pria di tingkat umur yang sama.
Hiccup secara umum bersifat dapat sembuh sendiri dan prognosis ialah baik. Prognosis
hiccup yang cukup berat dan mengganggu berkaitan dan tergantung dari etiologi penyebab
dasarnya.
Daftar Pustaka

1. Sadler, T. W. Embriologi Kedokteran Langman. Ed ke-7. Suyono J, penerjemah; Ronardy


DH, editor. Jakarta: EGC; 1997
Terjemahan dari: Langman’s Medical Embriology

2. Snell, R. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Ed ke-6. Jakarta: EGC; 2006

3. Drake. R, Vogl. W. Gray’s Anatomy for Students. 3rd edition. McGraw-hill: 2007

4. Bailey, Byron J., Johnson, Jonas T., Newlands, Shawn D., (ed.). Head & Neck Surgery –
Otolaryngology. 4th edition. Lippincott Williams & Wilkins: 2006

5. Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC

6. Wilkes. G, MBBS. Hiccups. Medscape 2010 [terhubung berkala].


http://emedicine.medscape.com/article/775746-overview

7. Calhoun. K, Goldmann. D, Expert Guide to Otolaryngology. 2nd edition. American

8. Shifren. A. Washington Manual(R) Pulmonary Medicine Subspecialty Consult. 1st edition.


Lippincott Williams & Wilkins: 2006.