Anda di halaman 1dari 14

I.

Identitas

Nama : An. A

Usia : 9 tahun

Berat badan : 18 kg

Alamat : Legok Cau RT 02/03

Pekerjaan : Pelajar

Tanggal masuk RS : 10 Mei 2013

Tanggal pemeriksaan : 14 Mei 2013

II. Anamnesa
a. Keluhan utama

Bengkak pada bagian pipi kiri dekat hidung.

b. Keluhan tambahan

Nyeri pada daerah mata sesudah operasi.

c. Riwayat penyakit sekarang

±4 hari SMRS pasien mengalami kecelakaan lalu lintas dan wajah bagian kiri
terbentur mobil. Pasien datang ke UGD RS. Syamsudin dengan keluhan
pusing, mual dan muntah. Terdapat luka pada daerah mata kiri pasien dan pada
tanggal 13 Mei 2013 (3 hari setelah berada di rumah sakit) dilakukan operasi
pada bagian mata. Pasien mengeluhkan adanya bengkak pada bagian pipi kiri
dekat hidung dan nyeri pada daerah mata setelah operasi.

d. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat trauma pada daerah wajah disangkal. Riwayat penyakit sinusitis


disangkal.

III. Pemeriksaan Fisik


a. Status generalis

1
Keadaan Umum : tampak sakit ringan

Kesadaran : compos mentis

Kepala dan leher

Kepala : normocephali, deformitas (-)

Mata : konjungtiva anemis +/sulit dinilai, sklera ikterik -/sulit dinilai

Hidung: septum nasi di tengah, sekret +/+, mukosa basah

Thorax

Paru : Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris baik statis dan dinamis

Palpasi : Fremitus taktil teraba simetris, pergerakan dada simetris

Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi: Bunyi nafas vesikular +/+, wheezing -/-, rhonki -/-

Jantung: Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba pada linea midclavicularis kiri ICS IV

Perkusi : Batas-batas jantung dalam batas normal

Auskultasi: Bunyi jantung reguler, murmur(-), gallop(-)

Abdomen

Inspeksi : Tampak cembung, lesi(-), sikatriks(-), pelebaran vena(-)

Palpasi : Supel, nyeri tekan(-), massa(-)

Extremitas: Akral hangat, Capillary refill time <3 detik

b. Status THT

 Auris Dextra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus
hiperemis : (-)

2
edema : (-)
sekret : (-)
massa : (-)
laserasi : (-)
serumen : (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-), retraksi (-), refleks
cahaya (+)
- Retroaurikular : tidak ada kelainan

 Auris Sinistra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus
hiperemis : (-)
edema : (-)
sekret : (-)
massa : (-)
laserasi : (-)
serumen : (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-), retraksi (-), refleks
cahaya (+)
- Retroaurikular : tidak ada kelainan

 Cavum nasii
- Deviasi septum : (-)
- Mukosa : hiperemis - / -, edema - / -
- Konka : hipertrofi konka -/+
- Sekret :-/-
- Massa :-/-
- Laserasi :-/-
- Krusta :-/-
- Pasase udara : baik / baik

3
 Nasofaring dan orofaring
- Uvula : terletak di tengah
- Retrofaring : hiperemis (-), granul (-)
- Arcus faring : simetris
Dextra : hiperemis (-)
Sinistra : hiperemis (-)
- Tonsil
Dextra : T2, hiperemis (-), kripta melebar (-), detritus (-)
Sinistra : T2, hiperemis (-), kripta melebar (-), detritus (-)

 Maksilofasial : Asimetris, nyeri tekan -/+

 Leher : Tidak teraba pembesaran KGB

IV. Diagnosis Kerja


Hematosinus et causa fraktur orbita sinistra

V. Diagnosis Banding
Sinusitis maxillaris sinistra

VI. Saran Pemeriksaan


Darah rutin (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit)
Rontgen posisi waters

VII. Hasil Pemeriksaan Penunjang


 Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan 13 Mei 2013


Hemoglobin (gr/dL) 10,5
Leukosit (/µL) 6500
Hematokrit (%) 30,0
Platelet (/µL) 225.000

4
 Hasil Pemeriksaan Posisi Waters

VIII. Resume

Seorang pasien laki-laki berumur 9 tahun mengelukan adanya bengkak pada bagian pipi
kiri dan nyeri pada daerah mata setelah operasi satu hari sebelumnya. ±4 hari SMRS
pasien mengalami kecelakaan lalu lintas dan wajah bagian kiri terbentur mobil. Pasien
datang ke UGD RS. Syamsudin dengan keluhan pusing, mual dan muntah. Terdapat
luka pada kelopak mata kiri pasien dan pada tanggal 13 Mei 2013 (3 hari setelah berada
di rumah sakit) telah dilakukan operasi pada bagian mata. Riwayat trauma pada daerah
wajah disangkal. Riwayat penyakit sinusitis disangkal.

IX. Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

5
X. Follow Up

14 Mei 2013
Anamnesa KU : bengkak pada daerah pipi kiri dekat hidung
Pemeriksaan fisik KT : nyeri pada daerah mata bekas operasi
PF THT:
 Auris Dextra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus: hiperemis (-), edema(-),
sekret(-), massa(-), laserasi(-), serumen (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-),
retraksi (-), refleks cahaya (+)
 Auris Sinistra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus: hiperemis (-), edema(-),
sekret(-), massa(-), laserasi (-), serumen (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-),
retraksi (-), refleks cahaya (+)

 Cavum nasii
Deviasi septum (-), mukosa hiperemis -/-, edema - / -,
hipertrofi konka -/+, sekret -/-, massa - / -, laserasi
: - / -, krusta - / -, pasase udara baik / baik.
 Nasofaring dan orofaring
Hiperemis -/-, tonsil T2/T2

 Maksilofasial: Asimetris, nyeri tekan -/+

 Leher:Tidak teraba pembesaran KGB


Terapi Taxegram 2x500 mg
Biocef 2x250 mg
PCT Syrup 3x ½ cth
Gentamizin zalf

6
15 Mei 2013
Anamnesa KU : bengkak pada daerah pipi kiri dekat hidung
Pemeriksaan fisik KT : nyeri pada daerah mata bekas operasi
PF THT:
 Auris Dextra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus: hiperemis (-), edema(-),
sekret(-), massa(-), laserasi(-), serumen (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-),
retraksi (-), refleks cahaya (+)

 Auris Sinistra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus: hiperemis (-), edema(-),
sekret(-), massa(-), laserasi(-), serumen (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-),
retraksi (-), refleks cahaya (+)

 Cavum nasii
Deviasi septum (-), mukosa hiperemis -/-, edema - / -,
hipertrofi konka -/+, sekret -/+, massa - / -, laserasi:
- / -, krusta - / -, pasase udara baik / baik.

 Nasofaring dan orofaring


Hiperemis -/-, tonsil T2/T2

 Maksilofasial: Asimetris, nyeri tekan -/+ mulai

 Leher: Tidak teraba pembesaran KGB


Terapi Taxegram 2x500 mg
Biocef 2x250 mg
PCT Syrup 3x ½ cth
Gentamizin zalf

7
16 Mei 2013
Anamnesa KU : bengkak pada daerah pipi kiri dekat hidung
Pemeriksaan fisik PF THT:
 Auris Dextra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus: hiperemis (-), edema(-),
sekret(-), massa(-), laserasi(-), serumen (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-),
retraksi (-), refleks cahaya (+)
 Auris Sinistra
- Aurikula : tidak ada kelainan
- Canalis acusticus externus: hiperemis (-), edema(-),
sekret(-), massa(-), laserasi(-), serumen (+) minimal
- Membran timpani : intak, hiperemis (-), bulging (-),
retraksi (-), refleks cahaya (+)
 Cavum nasii
Deviasi septum (-), mukosa hiperemis -/-, edema - / -,
hipertrofi konka -/+, sekret -/+, massa - / -, laserasi:
- / -, krusta - / -, pasase udara baik / baik.
 Nasofaring dan orofaring
Hiperemis -/-, tonsil T2/T2
 Maksilofasial: Asimetris, nyeri tekan -/-
 Leher: Tidak teraba pembesaran KGB
Terapi Taxegram 2x500 mg
Biocef 2x250 mg
PCT Syrup 3x ½ cth
Gentamizin zalf

8
Fraktur Orbita

Tujuh tulang yang menyusun orbita yaitu : os frontalis, os sphenoid, os lakrimal, os


ethmoid, os maksilla, os zygoma dan os palatina. Dasar orbita terutama terdiri atas tulang
maksila, bersama-sama dengan tulang palatinum dan zigomatikus.
Rongga orbita berbentuk piramid dan terletak pada kedua sisi rongga hidung. Dinding
orbita terdiri atas tulang:
- Atap atau superior : os frontal
- Lateral : os frontal, os zigomatikus, ala magna os sfenoid
- Inferior : os zigomatikus, os maksila, os palatina
- Nasal : os maksila, os lakrimal, os etmoid.

Fisura orbita superior di sudut orbita atas temporal dilalui oleh saraf lakrimal, frontal
dan nasosiliar (cabang dari N.V), saraf troklear (N. VI), saraf okulomotor (N. III), saraf
abdusen (N VI) dan arteri vena oftalmik. Fisura orbita inferior terletak di dasar tengah
temporal orbita dilalui oleh saraf infra-orbita dan zigomatik, serta arteri infraorbital. Pada
kanal optikus terdapat nervus optik dan arteri optalmika.
Arteri infraorbital adalah arteri yang bercabang dari maxilla, lalu muncul melalui
foramen infraorbital, tepat di bawah orbit mata. Arteri infraorbital merupakan cabang dari
arteri maksillaris, tetapi sering muncul bersamaan dengan arteri posterior superior alveolar.
Arteri infraorbital berjalan di sepanjang alur infraorbital dan saraf infraorbital, dan muncul
pada wajah melalui foramen infraorbital. Cabang dari arteri infraorbital yaitu : cabang orbital
yang membantu dalam memperdarahi rektus inferior dan inferior oblique dan kantung
lakrimal, dan cabang yang lain yaitu arteri anterior superior alveolar- cabang yang turun

9
melalui kanal alveolar anterior untuk memperdarahi gigi insisivus atas dan gigi taring dan
selaput lendir dari sinus maksilaris.

Karena kompleks nya susunan dari tulang orbita, maka dapat terjadi berbagai macam
tipe fraktur pada orbita. Metode yang paling mudah untuk mengkategorikan fraktur orbit
yaitu berdasarkan intak atau tidaknya rongga orbita. Tipe 1 yaitu fraktur orbita dimana
rongga orbita masih intak, sedangkan pada tipe 2 yaitu dimana rongga orbita tidak intak.
Gejala pada mata yang dapat timbul dari fraktur orbita yaitu antara lain enopthalmus
yang disebabkan karena volume orbita yang meningkat, hipophtalmos, exopthalmos,
proptosis dan diplopia.
Terdapat dua teori tentang trauma pada lantai orbita, yaitu :
- Teori Hydraulic : yaitu dimana regio orbita mendapatkan tekanan yang kemudian
menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler sehingga menyebabkan fraktur pada
lantai orbita
- Teori Buckling : yaitu dimana tekanan diberikan langsung pada rongga orbita dan
terjadi fraktur lantai orbita secara langsung.
Beberapa jenis dari fraktur orbita yaitu :
- Tipe Sejati : fraktur yang meliputi hanya bagian sentral pada dinding atau lantai orbita
- Tipe Non Sejati : perluasan dari fraktur yang sampai di rongga orbita
- Tipe Junctional : yaitu fraktur yang meliputi lantai orbita dan dinding medial

Tatalaksana dari fraktur orbita yaitu dengan pembedahan. Indikasi untuk pembedahan
yaitu antara lain jika terjadi enopthalmus, hypophtalmus, diplopia, atau risiko tinggi untuk
terjadi enopthalmus dan atau hypophtalmus. Sedangkan kontraindikasi untuk dilakukan

10
pembedahan yaitu jika terjadi hifema, robekan retina, sinusitis. Selain itu perlu dilakukan
evaluasi untuk penglihatan. Waktu pembedahan yang paling ideal yaitu 7-10 hari setelah
tidak terdapat pembengkakan.

Anatomi sinus paranasal

Nasal cavity, coronal section

1. Frontal sinus
2. Eye
3. Ethmoid sinus
4. Maxillary sinus
5. Superior concha
6. Middle concha
7. Inferior concha
8. Nasal septum

Sinus parasanal adalah rongga udara yang terdapat pada tulang tengkorak disekitar
daerah hidung. Empat tempat sinus paranasal :

1. Sinus maksilaris
2. Sinus frontalis
3. Sinus ethmoid
4. Sinus sphenoid

1. Sinus maksilaris
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus
maksila bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya

11
mencapai ukuran maksimal yaitu 15ml saat dewasa. Sinus maksilaris berbentuk
segitiga dan juga dapat terbagi-bagi oleh adanya septum-septum. Dinding anterior
sinus adalah permukaan facial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding
posteriornya ialah permukaan infra temporal maksila, dinding medialnya ialah
dinding lateral hidung serta dinding inferiornya ialah prosessus alveolaris dan
palatum. Ostium sinus maksilaris berada di sebelah postero-superior dinding medial
sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksilaris adalah :

- Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar-akar gigi rahang atas ( premolar
1, premolar 2, molar 1, molar 2, kadang-kadang juga caninus dan molar 3 ), bahkan
akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi mudah naik ke
atas menyebabkan sinusitis.
- Letak sinus maksila berdekatan dengan orbita sehingga dapat menimbulkan
komplikasi ke orbita.
- Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, karenanya drenase sangat
tergantung pada gerak silia, disamping itu harus melalui infundibulum yang sempit.
Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat
radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drenase sinus maksila dan
selanjutnya menyebabkan sinusitis maksilaris.
Sinus Maksilla mendapat perdarahan dari cabang arteri sphenopalatina dan
arteri infraorbital. Cabang dari areteri sphenopalatina masuk ke sinus melalui hiatus
semilunaris atau nasal fontanelle.

2. Sinus frontalis

Sinus frontal yang terletak di os.frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat
fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah
lahir, sinus frontal mulai berkebang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran
maksimal sebelum usia 20 tahun.

Ukuran sinus frontal adalah 2,8cm tingginya, lebarnya 2,4cm dan dalamnya 2 cm.
Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya
gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen
menunjukkan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis

12
dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke
daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal.
Resesus frontal adalah bagian dari sinus etmoidalis anterior.

3. Sinus Ethmoidalis

Pada orang dewasa bentuk sinus etmoidalis seperti piramid dengan dasarnya
dibagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5cm, tinggi 2,4cm dan lebarnya
0,5cm dibagian anterior dan 1,5cm di bagian posterior. Berdasarkan letaknya sinus
etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bemuara di meatus medius dan sinus
etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel-sel sinus etomiod anterior
biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya dibawah perlekatan konka media, sedangkan
sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan
terletak di postero-superior dari perlekatan konka media.

Bagian anterior ada bagian yang sempit yang disebut resesus frontal. Bagian ini
berhubungan dengan sinus frontal. Sinus ini paling bervariasi dibanding dengan sinus –
sinus lainnya. Terletak di dalam massa bagian lateral os etmoid, sinus etmoid bentuknya
berongga – rongga terdiri dari sel – sel yang menyerupai sarang tawon. Ukuran anterior-
posterior sekitar 4-5 cm, tinggi 2,4 cm lebar di bagian anterior 0,5 cm, di bagian posterior
1,5 cm. Atap sinus etmoid disebut fovea etmoidalis yang berbatasan dengan lamina
kribrosa. Dinding lateral adalah lamina papirasea yang membatasi sinus etmoid dengan
rongga orbita. Bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid.

4. Sinus Sphenoidalis

Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus
sfenoid di bagi menjadi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya
adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari
5 sampai 7,5ml. Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os
sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai
indentasi pada dinding sinus sfenoid.

13
Fungsi Sinus Paranasal

Fungsi dari sinus paranasal sampai saat ini belum terdapat kesepakatan yang sama,
dan penelitian untuk mengungkapkan apa sesungguhnya fungsi dari sinus – sinus ini masih
terus dilakukan.

Beberapa teori yang diungkapkan untuk fungsi dari sinus paranasal ini adalah :

1. Sebagai pengatur kondisi udara


2. Sebagai penahan suhu.
3. Membantu keseimbangan kepala
4. Membantu resonansi suara
5. Peredam perubahan tekanan udara
6. Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung.
7. Mengurangi berat dari tengkorak.

14