Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih
atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, Desember 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR................................................................................................................................1

DAFTAR ISI................................................................................................................................ .2

BAB I...............................................................................................................................................3

Latar Belakang.................................................................................................................................3

BAB II.............................................................................................................................................4

Anamnesa........................................................................................................................................4

Gejala Klinis....................................................................................................................................4

Diagnosa Banding...........................................................................................................................5

Diagnosa Penunjang........................................................................................................................5

Terapi.............................................................................................................................................6-7

BAB III...........................................................................................................................................8

Kesimpulan......................................................................................................................................8

Saran................................................................................................................................................8

DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................................................9

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kuda berkembang di Indonesia sesuai dengan kebudayaan dan pengalaman. Kuda-kuda yang
handal dalam berpacu, cerdas, patuh, setia, dan tangkas, harus disertai dengan usaha-usaha
seleksi dan pengaturan pembiakan serta manajemen yang baik dalam rangka meningkatkan
kuda, terutama kuda pacu khas indonesia yang disebut Kuda Pacu Indonesia (KPI) diharapkan
dapat menghasilkan kuda idaman yang sesuai dengan kondisi di Indonesia.

Populasi kuda di Indonesia menurun disebabkan karena penyakit. Kuda yang tidak terawat
dengan baik sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit. Pengobatan penyakit
cenderung membutuhkan lebih banyak tenaga,waktu dan biaya, sehingga diperlukan campur
tangan dari tenaga ahli. Dengan demikian, deteksi secara dini dapat dilakukan untuk
mencegah timbulnya penyakit. Kuku merupakan organ tubuh yang penting bagi kehidupan
kuda.

Kuku kuda mempunyai fungsi dan peran yang cukup berat, sehingga rentan akan terjadinya
kelainan dan penyakit. Kelainan atau penyakit pada kuku kuda dapat disebabkan oleh
kelainan konformasi, faktor kongenital, kesalahan penapalan dan perawatan yang tidak baik,
sehingga kuku kuda harus dirawat dengan baik dan teratur. Penyakit kuku yang sering terjadi
pada kuda adalah laminitis. Laminitis adalah penyakit radang pada syaraf kaki.Lamina ini
adalah membran yang membungkus os pedal (coffin). Saat terkena laminitis maka kuda tidak
dapat berpijak dengan benar karena adanya pembengkakan pada teracak.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anamnesa

Berdasarkan hasil anamnesis yang dilakukan, kuda berjenis kelamin jantan ini
dipelihara sejak berumur empat bulan. Klien mengadu selama pemeliharaan, kuda tersebut
menunjukan gejala yang terlihat seperti , gemetar, serta telapak kaki bengkak , panas pada
dinding kuku dan pulsus digitalis meningkat , tidak mau untuk berjalan atau ragu-ragu dalam
melangkah., kaki depan lebih menjulur ke depan dan kecenderungan untuk terus berbaring.

2.2 Gejala Klinis

Gejala klinis pada kejadian laminitis akut meliputi peningkatan pulsus (denyut nadi),
panas pada dinding kuku/wall, dan kepincangan. Peningkatan denyut nadi dan panas pada
dinding kuku sering mendahului kepincangan . Kepincangan sering dimulai pada 36 jam
setelah konsumsi karbohidrat secara berlebihan. Selain itu, gejala klinis laminitis dapat
terlihat dalam waktu 6 sampai 8 jam setelah menelan supernatan dari kayu walnut hitam. pada
kasus akut timbul rasa sakit dan kepincangan pada saat berjalan dan berlari, namun belum
diikuti dengan perpindahan os phalanx III. Kasus kronis dapat terjadi jika pada saat kasus akut
kuda masih bertahan hidup, biasanya ditandai dengan kepincangan yang ringan namun
berlangsung lama, sakit pada kaki yang parah, degenerasi laminae kuku, dan disertai dengan
perpindahan kuku serta penetrasi os phalanx III ke bagian telapak kaki (sole).

Gejala klinis laminitis bervariasi, dari ringan sampai sangat parah. Jika perubahan reaksi
laminae di kaki sangat cepat, maka menimbulkan rasa sakit yang parah. Kasus rotasi total
dapat dilihat dalam 48-72 jam setelah timbulnya rasa sakit. Variasi gejala klinis tersebut
karena faktor-faktor seperti berat badan, tingkat keparahan dari reaksi sistemik atau kerusakan
usus. Karakteristik kuda ketika mengalami laminitis adalah kaki depan diperluas ke depan
tubuh dalam upaya untuk meringankan rasa sakit saat menahan beban. Selain itu, tubuh
bagian depan ditempatkan lebih ke depan dalam upaya untuk menahan berat tubuh dengan
tungkai tertekuk untuk mengurangi tegang pada tendo fleksor. Otot-otot punggung dan
glutealis terlihat tegang dan kuda tidak pernah terlihat nyaman. Jika laminitis mempengaruhi
kaki belakang, keadaannya lebih dari kaki depan dan mirip dengan penyakit stringhalt. Hal
tersebut terjadi karena rasa sakit akibat menahan berat badan sehingga menyebabkan refleks

4
penarikan. Kuda akan melakukan penolakan dengan memukul atau memanipulasi gerakan
kaki, serta tidak mampu untuk berdiri pada satu kaki depan dalam waktu yang lama.

2.3. Diagnosa Banding

Ruminal Asidosis merupakan diagnosa banding dari penyakit laminitis. Kondisi


laminitis disebabkan oleh perubahan hemodinamik mikrovaskulatur perifer yang memicu
hipoksia dan malnutrisi struktur dinding laminar. Faktor nutrisi yang diketahui memicu
kondisi laminitis adalah kondisi asidosis. Asidosis disebabkan oleh peningkatan kuantitas dari
karbohidrat yang difermentasi dalam saluran cerna. Pada beberapa kasus pH rumen sudah
kembali normal ketika kondisi laminitis pertama kali didiagnosa. Gejala klinis yang terlihat
akibat konsumsi karbohidrat tinggi bervariasi tergantung kepada derajat keparahan.
Umumnya akut laminitis dapat terlihat 4 hingga 8 minggu setelah kondisi rumen asidosis
berlangsung. Sebagai hasil ketika suatu individu mengkonsumsi karbohidrat dan melebihi
batas fisiologis adalah penurunan pH yang mempengaruhi sistem metabolisme sistemik.
Kondisi ini tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan populasi mikroba dalam rumen,
tetapi juga berpengaruh terhadap dan kemampuan katabolisme dan atau eksresi hasil
metabolit.

2.4. Diagnosa Penunjang

Diagnosis kepincangan bergantung pada gejala klinis yang telah dievaluasi, tetapi
dibutuhkan evaluasi lanjutan untuk mendapatkan diagnosis akhir yaitu dengan melakukan
pengambilan radiograf. penggunaan radiografi pada kasus laminitis sangat bermanfaat karena
dapat menggambarkan status pergeseran dan perubahan dari os phalanx III di dalam hoof
capsule, serta memberikan informasi terhadap diagnosis dan prognosis kasus laminitis. Salah
satu parameter yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kasus laminitis adalah dengan
mengukur jarak antar os phalanx III dengan dinding luar kuku dan permukaan distal kuku,
hoof distal phalangeal distance (HDPD). Jika nilai HDPD melebihi nilai normal, kuda dapat
didiagnosis menderita laminitis dan peningkatan nilai HDPD sangat penting untuk
mengetahui tingkat keparahan laminitis.

Teknik diagnosis terhadap kasus laminitis juga dapat menggunakan Magnetic


Resonance Imagine (MRI), manfaat penggunaan MRI karena dapat menggambarkan
ketebalan dinding kuku bagian dorsal dan sudut rotasi os phalanx III. MRI juga dapat
memperlihatkan peningkatan ukuran dan jumlah saluran pembuluh darah, perubahan pada
5
coronae corium, distensi distal sendi interphalangeal, serta menginterpretasikan garis gas pada
laminae dan kerusakan pada permukaan os phalanx III yang lebih baik dari pemeriksaan
radiografi. MRI juga dapat digunakan untuk mengevaluasi tendon, ligament, cartilago, dan
struktur mineral kaki secara bersamaan. MRI adalah teknik pencitraan/penggambaran struktur
organ tubuh hewan berupa potongan-potongan halus cross-sectional.

2.5 Terapi

Terapi terhadap kasus laminitis dapat dilakukan dengan tahapan terapi secara causalis,
symptomatic, dan supportive. Terapi secara causalis diberikan sesuai dengan penyebab dan
perdisposisi terjadinya laminitis. Kuda yang menderita laminitis akibat resistensi insulin dan
Cushing’s Syndrome (EquineMetabolic Syndrome) dapat diberikan terapi berupa makanan
rendah glukosa seperti rice brain, karena pakan dengan kadar glukosa tinggi seperti biji-bijian
dan molasses mengakibatkan resistensi insulin yang menyerang kuda di kemudian hari

Terapi terhadap kasus laminitis dengan memberikan antibiotik, dalam penggunaannya


harus diperhatikan keamanan dan kontraindikasi terhadap spesies tertentu. Antibiotik
golongan tetrasiklin pada kuda merupakan kontraindikasi terutama pada kuda yang
mengalami stress karena tindak operasi, pembiusan dan trauma, karena dapat menginduksi
terjadinya diare yang parah atau kolik Antibiotik lain yang dapat diberikan pada kuda adalah
antibiotik golongan cephalosporins. Golongan ini hampir sama dengan penisilin karena
mempunyai cincin beta laktam dan secara umum aktif terhadap kuman gram positif dan gram
negatif. Pemberian cephalosporins pada kuda cukup baik karena low toxicity dan high margin
of safety.

Terapi secara supportive juga dapat dilakukan pada kuda yang menderita laminitis.
Terapi supportive merupakan terapi yang dapat diberikan untuk mendukung terapi lain yang
sudah dilakukan agar proses penyembuhan dapat berlangsung dengan baik. Konsumsi pakan
yang mengandung high fructan hays seperti timothy, orchard dan brome, serta cool season
grasses (rumput pada musim dingin) seperti bermuda baik diberikan pada kuda yang
menderita laminitis. Pengobatan menggunakan tanaman tradisional seperti Aconitum
napellus, Belladonna, Nux vom, Calcarea fluorica juga dapat diberikan pada kuda yang
menderita laminitis. Pemberian vitamin dan mineral dalam menjaga sistem imun dan
kesehatan kuku seperti vitamin C untuk mengobati peradangan dan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh. Vitamin E, zinc, biotin, dan methionine diberikan sebagai suplemen untuk

6
kuku dan membantu detoksifikasi hati dapat diberikan pada kuda yang menderita laminitis.
Suplemen seperti zinc, biotin, dan methionine dapat ditambahkan dalam pakan kuda yang
menderita laminitis. Manfaat pemberian suplemen tersebut adalah untuk pertumbuhan kuku,
perkembangan dinding kuku agar lebih kuat, kokoh dan mengkilat. Biotin merupakan
suplemen essential untuk sintesis keratin-protein dan formasi rantai panjang asam lemak
dalam perkembangan intercellular matrix dari tanduk kuku (hoof horn). Zinc dan methionine
berperan penting sebagai enzim katalisator dalam sintesis keratin yang berfungsi terhadap
kesehatan kuku

7
BAB III

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Penyakit kuku yang sering terjadi pada kuda adalah laminitis. Laminitis adalah
penyakit radang pada syaraf kaki.Lamina ini adalah membran yang membungkus os pedal
(coffin). Saat terkena laminitis maka kuda tidak dapat berpijak dengan benar karena adanya
pembengkakan pada teracak. Gejala klinis pada kejadian laminitis akut meliputi peningkatan
pulsus (denyut nadi), panas pada dinding kuku/wall, dan kepincangan. Peningkatan denyut
nadi dan panas pada dinding kuku sering mendahului kepincangan . Kepincangan sering
dimulai pada 36 jam setelah konsumsi karbohidrat secara berlebihan. Diagnosa penunjang
dapat dilakukan dengan melakukan pengambilan foto radiografi , juga dapat menggunakan
Magnetic Resonance Imagine (MRI). Terapi terhadap kasus laminitis dapat dilakukan dengan
tahapan terapi secara causalis, symptomatic, dan supportive.

4.2 Saran

Makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan , untuk itu kritik dan masukan dari
pembaca sangatlah dibutuhkan demi kesempurnaan makalah ini.

8
DAFTAR PUSTAKA

Wulandari Wuri.2015. laminitis dan hubungannya dengan anestrus pada kuda: Studi
Kasus di KPBS Pangalengan, Jawa Barat .Fakultas kedokteran hewan institut
pertanian bogor.