Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah yang telah melimpahkan bermacam-macam nikmat
dan karunia kepada hamba-Nya, baik kekuatan fisik-material maupun kekuatan intelektual,
mental dan spiritual. Berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya, qudrah dan iradah-Nya
akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas laporan ini.
Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw,
penguhulu alam yang telah merintis jalan kebenaran dan memberi petunjuk bagi terbukanya
cakrawala ilmu dan pengetahuan, beserta para keluarganya, sahabatnya dan kita selaku
umatnya yang setia hingga akhir zaman.
Laporan Penelitian ini kami buat dalam rangka memenuhi salah satu tugas terstruktur pada
mata kuliah Perkembangan Peserta Diddik oleh Ibu Dra. Yuyun Yulianingsih, M.Pd. Adapun
Laporan Penelitian yang kami sajikan ini berjudul “Pengaruh Lingkungan Terhadap
Perkembangan Fisik, Intelektual, Sosial dan Keagamaan Anak Usia SD” yang diperoleh
melalui penelitian secara langsung dan tinjauan pustaka yang disadur dari berbagai sumber.
Melalui laporan ini semoga pembaca dapat menambah wawasan yang lebih luas dan
juga memperoleh manfaat baik tersurat maupun tersirat yang tertuang dalam Laporan ini.
Disamping itu Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah yang
senantiasa memberikan bimbingan dan motivasinya dalam kelancaran penyusunan laporan
ini.
Kami menyadari bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak
kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan masukan dan perbaikan dari dosen yang
bersangkutan serta kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk lebih baiknya
laporan ini. Demikianlah dan jika terdapat banyak kesalahan dalam laporan ini, kami selaku
penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR….................................................................................... i

DAFTAR ISI….................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN….………………………………….………….. 1
I.1 Latar Belakang…................................................................................ 1
I.2 Rumusan Masalah............................................................................... 1
I.3 Tujuan Penelitian................................................................................. 2
I.4 Batasan Masalah………………..…………………………………… 2
BAB II KAJIAN TEORI......…………………….………………………… 4
II.1 Perkembangan Fisik Anak…………………...................................... 4
II.2 Perkembangan Intelektual Anak......................................................... 5
II.3 Perkembangan Sosial Anak……......................................................... 7
II.4 Perkembangan Moral dan Keagamaan Anak....................................... 8
BAB III METODOLOGI PENELITIAN….….…………..………….……. 13
III.1 Waktu dan Tempat Penelitian.............................................................. 13
III.2 Subjek Penelitian…………………...……….….…………………..... 13
III.3 Teknik Pengambilan Data.................................................................... 14
III.4 Rancangan Tabulasi Data…….………………………...…………..... 14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN…................………………………. 15
IV.1 Hasil Penelitian…..………………….................................................. 15
IV.2 Pembahasan…..................................................................................... 15
IV.2.1 Pengaruh lingkungan terhadap pekembangan fisik, intelektual,
sosial dan keagamaan anak……………………………………….
IV.2.2 Cara mengoptimalkan pengaruh lingkungan terhadap
perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak…..
BAB V PENUTUP…………………....……………………………………. 19
V.1 Kesimpulan…...................................................................................... 19
V.2 Saran…................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA….………………………………………………….…… 20

LAMPIRAN…..…………………………………………………………….…... 21

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan merupakan suatu proses perubahan kuantitatif dan kualitatif individu


dalam tentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa kanak-kanak, masa
anak, masa remaja, sampai masa dewasa.
Perkembangan juga dapat diartikan juga sebagai “suatu proses perubahan dalam diri
individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat
kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan
berkesinambungan.”
Dalam prosesnya, perkembangan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu
dari dalam diri indivudu yang bersangkutan (genetis) maupun dari luar individu (lingkungan).
Hal tersebut dapat memberikan dampak yang berbeda bagi setiap anak sehingga setiap anak
memiliki bentuk perkembangan yang beragam. Ada yang berjalan dengan baik sebagaimana
mestinya sesuai dengan teori-teori yang telah dikembangkan dan ada juga yang mengalami
keterbelakangan sesuai dengan pengaruh-pengaruh yang diberikan kedua faktor tesebut.
Kedua faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain, yang memiliki pengertian
bahwa keduanya sangat berperan penting dalam proses berkembangnya suatu individu.
Perkembangan disini mencakup setiap aspek yang berkenaan dengan individu baik itu
perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaanya. Sebenarnya masih banyak
perkembangan yang dialami oleh individu khususnya usia anak, namun penulis hanya
meneliti beberapa perkembangan saja yang meliputi empat aspek tadi.
Perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak sangat dipengaruhi oleh
faktor genetis dan lingkunganya. faktor genetis tersebut dapat berupa keturunan dan sifat-sifat
orangtua yang dimiliki. sedangkan faktor lingkungan dapat berupa keluarga, teman, sekolah
dan lingkungan sosial lain.
Pada kesempatan ini penulis hanya meneliti mengenai pengaruh faktor lingkungan
terhadap perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak. Penulis meneliti anak
yang bernama Faiz Ridho Maulana yang masih menginjak bangku Sekolah Dasar di
Bandung. Untuk penjelasan lebih lanjut akan dipaparkan pada bab-bab berikutnya.

I.2 Rumusan Masalah

a) Apa yang dapat dilakukan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap


perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak?
b) Apa saja pengaruh lingkungan terhadap perkembangan fisik, intelektual, sosial dan
keagamaan anak khususnya Faiz?
c) Bagaimana cara mengoptimalkan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan fisik,
intelektual, sosial dan keagamaan anak?

I.3 Tujuan Penelitian

a) Untuk mengetahui apa yang dapat dilakukan untuk mengetahui pengaruh lingkungan
terhadap perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak.
b) Untuk mengetahui apa saja pengaruh lingkungan terhadap perkembangan fisik,
intelektual, sosial dan keagamaan anak.
c) Untuk mengetahui bagaimana cara mengoptimalkan pengaruh lingkungan terhadap
perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah pada penelitian ini yakni pengaruh lingkungan terhadap perkembangan
fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak sekolah dasar yang berumur 10 tahun.
BAB II
KAJIAN TEORI

II.1 Perkembangan Fisik Anak


Perkembangan fisik usia anak sekolah dasar umumnya berusia 6-12 tahun. Rentang usia
tersebut disebut sebagai masa anak. Yaitu fase antara masa kanak-kanak dan masa remaja.
Secara fisik, anak pada usia SD memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan
kondisi fisik sebelum dan sesudahnya. Pertumbuhan fisik anak dapat memberikan pengaruh
terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan. Selanjutnya, pembahasan
mengenai perkembangan fisik anak SD ini mencakup aspek-aspek :

1. Tinggi dan Berat Badan


Pertumbuhan fisik anak usia SD bila dibanding dengan masa usia remaja dan usia dini
cenderung lebih lambat dan bersifat konsisten. Perkembangan ini berlangsung sampai
terjadinya perubahan besar pada awal pubertas.
Tinggi dan berat badan anak secara bertahap terus bertambah, penambahan itu diperkirakan
berkisar 2,5 - 3,5 kg dan 5 – 7 cm pertahun. Kaki anak lazimnya menjadi bertambah panjang
dan tubuhnya bertambah kurus. Kekuatan fisik umumnya meningkat dua kali lipat. Selain
faktor kematangan, unsur latihan juga sangat membantu proses peningkatan dalam kekuatan
otot.

2. Proporsi dan Bentuk Tubuh


Proporsi dan bentuk tubuh anak usia SD kelas-kelas awal umumnya kurang seimbang.
Kekuranganseimbangan tubuh anak dapat diamati pada bagian kepala, badan, dan kaki.
Kepala masih terlalu besar jika dibanding bagian tubuh lainnya. Jaringan lemak anak SD
berkembang lebih cepat dari pada jaringan ototnya.
Berdasarkan tipologoi Sheldon, ada tiga kemungkinan bentuk primer tubuh anak SD yaitu :
(a) endomorph, yaitu yang tampak lebih luar berbentuk gemuk dan berbadan besar.
(b) mesomorph, yang kelihatan kokoh, kuat, dan lebih kekar.
(c) ectomorph yang tampak jangkung, dada pipih, lemah, dan seperti tak berotot.
Kondisi proporsi dan bentuk tubuh anak dapat memberikan dampak psikologis tertentu
kepada anak. Kondisi proporsi dan bentuk tubuh yang kurang seimbang dapat menumbuhkan
sikap-sikap negatif, bahkan penolokan terhadap dirinya sendiri.

3. Otak
Pertumbuhan otak dan sistem syarafmerupakan salah satu aspek terpenting dalam
perkembangan individu. Didalam otak terdapat pusat-pusat saraf yang mengendalikan
perilaku individu, yang berhubungan dengan perilaku kognisi juga emosi. Dalam otak bagian
tengah terdapat sistem limbik dengan pusatnya yang disebut dengan amigdala.
Bila dibanding pertumbuhan bagian-bagian tubuh lainnya, pertumbuhan otak dan kepala ini
jauh lebih cepat. Pertumbuhan otak itu terjadi pada masa usia dini.
Hal yang perlu dicatat bahwa kematangan otak yang yang dikombinasi dengan pengalaman
berinteraksi dengan lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognisi anak.
Dalam hal ini diperlukan kebutuhan nutrisi dan rangsangan – rangsangan yang membuat otak
anak tersebut berfungsi.

4. Keterampilan Motorik
Kemampuan gerak motorik menjadi jauh lebih halus dan lebih terkoordinasi daripada
sebelumnya selama masa anak. Anak laki-laki lazimnya memiliki kemampuan yang lebih
baik daripada perempuan, karena jumlah sel otot laki-laki lebih banyak daripada anak
perempuan. Anak-anak usia SD lebih mampu mengendalikan tubuhnya sehingga dapat duduk
dan memperhatikan sesuatu secara lebih lama. Namun anak SD lebih suka melakukan
berbagai aktifitas fisik daripada berdiaam diri.

II.2 Perkembangan Intelektual Anak


Perkembangan intelektual merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan
individu manusia. Dengan intelektualnya manusia dapat membedakan mana yang baik dan
mana yang buruk.
Intelegent Quotient dan Emotional Quotient
IQ biasanya digunakan untuk mengetahui kemampuan kognitif seorang anak. Kemampuan
kognitif menurut Piaget dibagi menjadi 4 tahap, yaitu :
1. Sensori-Motor (0-2) tahun
Sifat-sifat : Stimulus Bound, anak berinteraksi dengan stimuli dari luar. Lingkungan
dan waktu terbatas, kemudian berkembang sampai dapat berimajinasi. Konsep tentang benda
berkembang, mengembangkan tingkah laku baru, kemampuan untuk meniru. Ada usaha
untuk berfikir.
Perubahan yang terlihat : Gerakan tubuhnya merupakan aksi refleks, merupakan
eksperimen dengan lingkungannya.
2. Pra Operasional (2-7) tahun
Sifat-sifat : Belum sanggup melakukan operasi mental. Belum dapat membedakan
antara permainan dengan kenyataan atau belum dapat mengembangkan struktur rasional yang
cukup. Masa transisi antara struktur sensori motor ke berpikir operasional.
Perubahan yang terlihat : Sifat egosentris baru akan berkembang bila anak banyak
berinteraksi sosial. Konsep tentang ruang dan waktu mulai bertambah. Bahasa mulai
dikuasai.
3. Operasional Konkret ( 7-11) tahun
Sifat-sifat : Berpikir konkret, karena daya otak terbatas pada obyek melalui
pengamatan langsung. Dapat mengembangkan operasi mental, seperti menambah,
mengurangi. Mulai mengembangkan struktur kognitif berupa ide atau konsep. Melakukan
operasi logika dengan pola berpikir masih konkret.
Perubahan yang terlihat : Tidak egosentris lagi. Berpikir tentang obyek yang
berhubungan dengan berat, warna dan susunan. Melakukan aktivitas yang berhubungan
dengan obyek. Membuat keputusan logis.
4. Operasional Formal (11 tahun ke atas)
Sifat-sifat : Pola berpikir sistematis meliputi proses yang kompleks. Pola berpikir
abstrak dengan mempergunakan logika matematika. Pengertian tentang konsep waktu dan
ruang telah meningkat secara signifikan.
Perubahan yang terlihat : Anak telah mengerti tentang pengertian tak terbatas, alam
raya dan angkasa luar.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya intelegensi peserta didik para ahli telah
mengembangkan instrumen yang dikenal dengan tes intelegensi/ tes IQ. Berdasarkan hasil tes
IQ ini peserta didik dapat diklasifikasikan sebagai:

a. Anak jenius IQ diatas 140


b. Anak pintar 110-140
c. Anak normal 90-110
d. Anak kurang pintar 70-90
e. Anak debil 50-70
f. Anak dungu 30-50
g. Anak idiot IQ dibawah 30

Emotional Quotient atau sering disebut EQ merupakan kemampuan untuk mengenali


emosi diri sendiri, kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, kemampuan untuk
mengelola dan mengekspresikan emosi diri sendiri dengan tepat, kemampuan untuk
memotivasi diri sendiri, kemampuan untuk mengenal orang lain dan kemampuan untuk
membina hubungan dengan orang lain (Peter Salovey, Universitas Harvard dan John Mayer,
Universitas New Hamshire).
Kriteria EQ menurut John Mayer adalah sebagai berikut :
a. Empati
b. Mengungkapkan dan memahami perasaan
c. Mengendalikan amarah
d. Kemandirian
e. Kemampuan menyesuaikan diri
f. Disukai
g. Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
h. Ketekunan
i. Kesetiakawanan
j. Keramahan
k. Sikap hormat

II.3 Perkembangan Sosial Anak

A. Makna Perkembangan Sosial Anak


Perkembangan sosial adapt diartikan sebagai pencapaian kematangan dalam
hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk
menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri
menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. ( Syamsu Yusuf, 2007 )

Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki
kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari
berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.

Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat
itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak
mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang
mendengar suara keras) dan kasih sayang. Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan bahwa :
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling
membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh
kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia
menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat
kompleks.

Dari kutipan diatas dapatlah dimengerti bahwa semamin bertambah usia anak maka
semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang
lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu
hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan
kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia.

B. Bentuk – Bentuk Tingkah laku Sosial

1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap
berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara
kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam
keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya
keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.
Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak
ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri
terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.

2. Kematangan Anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain,
memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa
ikut pula menentukan.
Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan
fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

3. Status Sosial Ekonomi


Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial
keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai
anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam
keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak,
masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam
keluarganya.
Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif
yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial
anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu,
maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam
pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi
“terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan
normanya sendiri.

4. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan
sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial
anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan
dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan
keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara
sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah).
Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat,
tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan
antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

5. Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi


Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar,
memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan
berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi,
kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat
menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.
Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal
utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang
berkemampuan intelektual tinggi.

D. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku


Dalam perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan dirinya dan orang lain.
Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kepenilaian diri dan kritik
dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil pemikiran dirinya tidak akan diketahui oleh
orang lain, bahkan sering ada yang menyembunyikannya atau merahasiakannya.
Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap
kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan abstraksi
anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa
dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam pikirannya.
Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :

1. Cita-cita dan idealism yangbaik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan
akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan
tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.

2. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain daalm
penilaiannya.

Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi


pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah
sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.

II.4 Perkembangan Moral dan Kegamaan Anak


Pieget Dan Norman J.Bull berpendapat bahwa pendidikan moral akan berhasil , apabila
pendidikan itu dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan moral anak. Dengan kata lain
kedua ahli ini mencita-citakan adanya strategi pendidikan moral yang disesuaikan dengan
tahap-tahap perkembangan moral anak.
Pieget mendefinisikan perkembangan moral Sebagai berikut:
1. Pre-moral yaitu anak tidak merasa wajib untuk menaati peraturan.
2. Heteronomi, yaitu anak merasa bahwa yang benar adalah patuh pada peraturan dan harus
menaati kekuasaan.
3. Autonomi, yaitu anak telah mempertimbangkan tujuan dan konsekuensi ketaatanya kepada
peraturan.
Adapun Norman J.Bull (1969) berkesimpulan bahwa tahap perkembangan moral itu adalah:
1. Anomi , yaitu anak tidak merasa wajib untuk menaati peraturan.
2. Heteronomi, yaitu anak merasa bahwa yang benar adalah patuh pada peraturan yang
sesuai dengan peraturan kelompok.
3. Autonomi, yaitu anak telah mempertimbangkan konsekuensi ketaatanya pada peraturan.
Dalam perkembangan moral itu titik heteronomi dan autonomi leih menggambarkan
proses perkembangan darpiada toatalitas mental individu. Melalui pergaulannya anak
menegmbangkan pemahamanya mengenai tujuan dan sumber aturan . Pada tahap autonomi
anak menyadari akan aturan dan menghubungkanya dengan pelaksanaanya. Tahap berikutnya
adalah pelaksanaan autonomi.
1. Tahapan Perkembangan Moral Anak
Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori Piaget, yaitu
dengan pendekatan organismik (melalui tahap-tahap perkem-bangan yang memiliki urutan
pasti dan berlaku secara universal). Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses
berpikir yang mendasari perilaku moral (moral behavior).Tahapan perkembangan
moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan
penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Teori ini
berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai
enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari
keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget,yang menyatakan
bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg
memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral
pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama
kehidupan,walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.
Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia
tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila
mereka berada dalam persoalan moral yang sama.

Tiga Level dan Enam Tahap Penalaran Moral menurut Kohlberg


Level Rentang Usia Tahap Esensi Penalaran Moral

Level 1 : Ditemukan pada Tahap 1 : Orang membuat keputusan


Moralitas anak-anak Hukuman – berdasarkan apa yang terbaik
prakonvensional prasekolah, penghindaran bagi mereka, tanpa
sebagian besar dan kepatuhan mempertimbangkan kebutuhan
anak-anak SD, (Punishment – atau perasaan orang lain. Orang
sejumlah siswa avoidance and mematuhi peraturan hanya jika
SMP, dan obedience) peraturan tersebut dibuat oleh
segelintir siswa orang-orang yang lebih
SMU berkuasa, dan mereka mungkin
melanggarnya bila mereka
merasa pelanggaran tersebut
tidak ketahuan orang lain.
Perilaku yang “salah” adalah
perilaku yang akan mendapatkan
hukuman
Tahap 2 : Saling Orang memahami bahwa orang
memberi dan lain juga memiliki kebutuhan.
menerima Mereka mungkin mencoba
(Exchange of memuaskan kebutuhan orang
favors) lain apabila kebutuhan mereka
sendiri pun akan memenuhi
perbuatan tersebut (“bila kamu
mau memijat punggungku; aku
pun akan memijat
punggungmu”). Mereka masih
mendefinisikan yang benar dan
yang salah berdasarkan
konsekuensinya bagi diri mereka
sendiri.
Level 2 : Ditemukan pada Tahap 3 : Anak Orang membuat keputusan
Moralitas segelintir siswa baik (good melakukan tindakan tertentu
konvensional SD tingkat akhir, boy/good girl) semata-mata untuk
sejumlah siswa menyenangkan orang lain,
SMP, dan terutama tokoh-tokoh yang
banyak siswa memiliki otoritas (seperti guru,
SMU (Tahap 4 teman sebaya yang populer).
biasanya tidak Mereka sangat peduli pada
muncul sebelum terjaganya hubungan
masa SMU) persahabatan melalui sharing,
kepercayaan, dan kesetiaan, dan
juga mempertimbangkan
perspektif serta maksud orang
lain ketika membuat keputusan.
Tahap 4 : Hukum Orang memandang masyarakat
dan tata tertib sebagai suatu tindakan yang
(Law and utuh yang menyediakan
keteraturan). pedoman bagi perilaku. Mereka
memahami bahwa peraturan itu
penting untuk menjamin berjalan
harmonisnya kehidupan
bersama, dan meyakini bahwa
tugas mereka adalah mematuhi
peraturan-peraturan tersebut.
Meskipun begitu, mereka
menganggap peraturan itu
bersifat kaku (tidak fleksibel);
mereka belum menyadari bahwa
sebagaimana kebutuhan
masyarakat berubah-ubah,
peraturan pun juga seharusnya
berubah.
Level 3 : Jarang muncul Tahap 5 : Orang memahami bahwa
Moralitas sebelum masa Kontrak Sosial peraturan-peraturan yang ada
postkonvensional kuliah (Social contract). merupakan representasi dari
persetujuan banyak individu
mengenai perilaku yang
dianggap tepat. Peraturan
dipandang sebagai mekanisme
yang bermanfaat untuk
memelihara keteraturan social
dan melindungi hak-hak
individu, alih-alih sebgai
perintah yang bersifat mutlak
yang harus dipatuhi semata-mata
karena merupakan “hukum”.
Orang juga memahami
fleksibilitas sebuah peraturan;
peraturan yang tidak lagi
mengakomodasi kebutuhan
terpenting masyarakat bisa dan
harus dirubah.

Tingkat 6 : Orang-orang setia dan taat pada


Prinsip etika beberapa prinsip abstrak dan
universal (tahap universal (misalnya, kesetaraan
ideal yang semua orang, penghargaan
bersifat hipotetis, terhadap harkat dan martabat
yang hanya manusia, komitmen pada
dicapai segelintir keadilan) yang melampaui
orang) norma-normadan peraturan-
peraturan yang spesifik. Mereka
sangat mengikuti hati nurani dan
karena itu bisa saja melawan
peraturan yang bertentangan
dengan prinsip-prinsip etis
mereka sendiri.

2. Tahapan Perkembangan Keagamaan Anak


Adapun dalam pandangan para psikolog agama, perkembangan keberagamaan pada anak
melalui tiga tahapan penting, yaitu sebagai berikut :

1. The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng). Hal ini ditandai dengan kesenangan anak-
anak bercerita hal-hal yang luar biasa seperti kebesaran, kehebatan, dan kekuatan
Tuhan. Tidak jarang anak membandingkan Tuhan dengan tokoh-tokoh yang ia kenal
seperti Power Rangers.
2. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan). Ini tampak dengan mulai pahamnya anak-
anak tersebut tentang wujud Allah swt sebagai sosok yang Maha Besar dan Maha
Kuat, serta pencipta. Dari sini anak menyadari bahwa kepatuhan kepada-Nya adalah
suatu yang lumrah dan mesti. Inilah yang menyebabkan mereka bergairah mengikuti
acara-acara keagamaan.
3. The Individual Stage (Tingkat Individu). Tanda ini terlihat pada sensitivitas
keberagamaan anak. Tahap ini dibagi kepada tiga golongan :
1. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif. Anak takut kemurkaan
Allah; dan neraka; sedangkan orang baik akan dimasukkah surga, sebuah
taman bermain yang indah.
2. Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pendangan yang
bersifat personal (perorangan). Di sini anak ingin meniru Tuhan dan dekat
dengan-Nya; Ingin merasakan sentuhan kasih Tuhan dan menampung
internalisasi kekuatan Tuhan.
3. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Tanda ini tampak pada
pengakuan mereka akan pentingnya keadilan. Buruknya perbuatan jahat,
sehingga jika melakukannya anak akan gelisah, bingung, sedih, dan juga malu.

Adapun ciri dan sifat keberagamaan pada anak-anak sebagai berikut :

1. Unreflective (tidak mendalam). Ini kentara sekali pada ciri antropomorfisme, yang
mengungkapkan Tuhan seperti makhluk lainnya, misalnya punya mata, punya telinga,
dan lainnya.
2. Egosentris (Egocentric Orientation). Anak mengharapkan adanya imbalan bagi
semua aktivitas yang dilakukannya. Pada sisi lain anak cenderung tidak mau
disalahkan, tetapi senang mendapat pujian.
3. Eksperimentasi (Experimentation). Anak mengharapkan pembuktian akan keyakinan
yang ada dibenaknya.
4. Inisiatif (Initiative), misalnya ditandai dengan pikiran bahwa ia mudah keluar dari
kepungan api neraka, karena pengalamannya setiap berbuat kesalahan tidak
mendapatkan azab yang sering ditakut-takutan.
5. Spontanitas (Spontaneity). Misalnya, tampak pada pertanyaan atau jawaban yang
dilontarkan anak dengan polosnya. Dia mengemukakan persis seperti apa yang
diberitahukan guru atau orang tuanya.
6. Verbalis dan Ritualis, yang diindikasikan dengan hapalan-hapalan yang tanpa makna.
Saat ditanyakan “Apakah marah itu perbuatan baik atau buruk?” Mereka menjawab,
“Buruk!”. Kemudian saat diajukan proposisi logis, “kalau begitu Allah, dan orang
tuanya sering berbuat buruk karena sering marah-marah.” Anak bingung dan gelisah.
7. Imitatif, tampak pada peniruan yang nyata dilakukan anak, seperti berdoa dan salat.
Pembiasaan keluarga sangat berpengaruh pada anak, seperti berdoa mau makan, tidur,
senang ke mesjid beramai-ramai.
8. Rasa Heran dan Kagum, yaitu ditandai dengan keinginan kuat anak menjadi sakti dan
mendapat limpahan kekuatan Tuhan. Mempertanyakan kehebatan dan kebesaran
Tuhan yang menjadi pencipta manusia.

Sedangkan alur pembentukan pengetahuan keagamaan anak tersebut terjadi dalam enam
tahap, sebagai berikut :

1. Fitrah yang merupakan format khusus penciptaan manusia. Meskipun awalnya tidak
mendalam, tetapi menjadi model dan modal yang berharga bagi perkembangan
keberagamaan anak.
2. Pengetahuan imajinatif yang membuat anak penuh khayalan-khayalan. Imajinasi ini
menjadikan anak manafsirkan secara sendiri akan berbagai informasi yang
diterimanya selama ini dari lingkungan sekitarnya.
3. Pencarian dialektik yang dilakukan dengan melemparkan berbagai pertanyaan dan
menanggapi secara spontanitas berbagai jawaban yang diberikan untuk mendapatkan
informasi yang lebih banyak.
4. Pencarian maknawiyah yang diindikasikan dengan perilaku religius dan ritual-ritual
yang fantastis, penuh eksperimentasi, inisiatif, dan imitative. Pencarian maknawiyah
ini memberikan peran penting untuk membentuk sikap dan pandangan anak terhadap
agama, karena hal ini berhubungan secara langsung dengan pengalaman dirinya
sendiri saat memasuki ranah keberagamaan dengan berbagai ajaran dan ritual-
ritualnya.
5. Internalisasi pengetahuan ke dalam pikiran dan benak anak sehingga menjadi bagian
dari kehidupan dan keyakinannya. Ini bermanfaat untuk memberikan respon terhadap
informasi-informasi baru. Respon ini bisa lahir dalam bentuk kompromi, complaince,
atau juga konfrontatif.
6. Keyakinan yang dipegang teguh. Prinsip ini juga berbeda pada tiap anak yang secara
sederhana dapat digolongkan kepada dua yaitu keyakinan yang bersifat statis dan
keyakinan yang bersifat dinamis. Keyakinan yang statis berarti adalah keyakinan yang
tidak berkembang dan sulit menerima informasi baru yang menggugat keyakinannya.
Sedangkan keyakinan dinamis merupakan keyakinan yang penuh dengan kreatifitas,
selektifitas, dan analisis kritis terhadap informasi-informasi baru yang diterimanya.

Dengan memahami hal-hal di atas semoga para orang tua dapat mendidik jiwa keagamaan
anak-anaknya dengan lebih baik. Karena tidak ada bekal yang paling berharga di dunia dan di
akhirat bagi anak-anak kita kecuali bekal agama. Dengan bekal agama itulah, anak akan
meniti kehidupannya dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, sikap yang tulus, dan hati
yang suci.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Hari : Kamis - Selasa
Tanggal : 14 – 19 Mei 2015
Waktu : Kondisional
Tempat : Komplek Permata Biru H 120 Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi
Kabupaten Bandung

III.2 Subjek Penelitian


Nama Lengkap : Faiz Ridha Maulana
Nama Panggilan : Faiz
Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 24 Desember 2004
Jenis Kelamin : Laki-laki
Sekolah : SD Bakti Nusantara 666
Kelas : IV
Hobi : Menggambar, membaca
Cita-Cita : Ilmuwan
Umur : 10 tahun
Berat Badan : 38 kg
Tinggi Badan : 137,5 cm
Nama Ayah : Drs. Aep Saepurrohman, M.Ag.
Nama Ibu : Hindun Dahlia, S.Ag.
Pekerjaan Ayah : Dosen
Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Komplek Permata Biru H 120 Desa Cinunuk Kecamatan
Cileunyi Kabupaten Bandung

III.3 Teknik Pengambilan Data


a. Observasi; yaitu mengamati secara langsung perkembangan fisik, intelektual, sosial dan
keagamaan anak yang dihubungkan dengan konsep perkembangan peserta didik yang telah
dipelajari.
b. Wawancara; yaitu bertanya secara langsung kepada anak yang bersangkutan mengenai
perkembangan yang dialami sampai sekarang ini.
c. Angket; Anak mengisi kuesioner yang telah diberikan agar dapat dihasilkan data yang
objektif dan akurat.
d. Dokumentasi; yakni mengambil data berupa gambar dari setiap aktivitas anak yang
berkaitan dengan perkembangan yang dimaksud.

III.4 Rancangan Tabulasi Data


Rancangan tabulasi data merupakan kuesioner berupa tabel untuk memperoleh
beberapa data mengenai pengaruh lingkungan terhadap perkembangan fisik, intelektual,
sosial dan keagamaan anak.
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tidak
1 Apakah selalu minum susu?
2 Apakah suka makan tepat waktu?
3 Apakah suka berolahraga?
4 Apakah suka belajar?
5 Apakah berprestasi di sekolah?
6 Apakah Suka membaca?
7 Apakah suka menonton TV?
8 Apakah selalu bertengkar dengan kakak?
9 Apakah Selalu bermain dengan teman?
10 Apakah Selalu membantu orangtua?
11 Apakah selalu berbakti pada orangtua?
12 Apakah selalu melaksanakan sholat?
13 Apakah sudah lancar mengaji?
14 Apakah suka mengucapkan salam?
15 Apakah sering mengaji Al-quran?

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Penelitian


Dengan menggunakan angket, kita dapat memperoleh beberapa data mengenai pengaruh
lingkungan terhadap perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak. Hasil yang
diperoleh adalah sebagai berikut:
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tidak
1 Apakah selalu minum susu?
2 Apakah suka makan tepat waktu?
3 Apakah suka berolahraga?
4 Apakah suka belajar?
5 Apakah berprestasi di sekolah?
6 Apakah Suka membaca?
7 Apakah suka menonton TV?
8 Apakah selalu bertengkar dengan kakak?
9 Apakah Selalu bermain dengan teman?
10 Apakah Selalu membantu orangtua?
11 Apakah selalu berbakti pada orangtua?
12 Apakah selalu melaksanakan sholat?
13 Apakah sudah lancar mengaji?
14 Apakah suka mengucapkan salam?
15 Apakah sering mengaji Al-quran?
IV.2 Pembahasan Penelitian

IV.2.1 Pengaruh lingkungan terhadap pekembangan fisik, intelektual, sosial dan


keagamaan anak
Lingkungan sangat memiliki pengaruh terhadap perkembangan fisik, intelektual,
sosial dan keagamaan anak. Hal tersebut dapat kita ketahui melalui hasil-hasil yang diperoleh
setelah adanya perlakuan dari lingkungan tersebut. Adapun hasil dari pengaruh lingkungan
terhadap ke empat aspek perkembangan tersebut akan dipaparkan sebagai berikut.
IV.2.1.1 Perkembangan Fisik Anak
1. Tinggi dan Berat Badan
Faiz tidak terlalu tinggi untuk ukuran anak seusianya. Tingginya hanya 137,5 cm. Hal
tersebut dinilai proporsional mengingat pertumbuhan fisik anak usia SD bila dibanding
dengan masa usia remaja dan usia dini cenderung lebih lambat dan bersifat konsisten.
Perkembangan ini berlangsung sampai terjadinya perubahan besar pada awal pubertas.
Tinggi dan berat badan anak secara bertahap terus bertambah, penambahan itu
diperkirakan berkisar 2,5 - 3,5 kg dan 5 – 7 cm pertahun. Kaki anak lazimnya menjadi
bertambah panjang dan tubuhnya bertambah kurus. Namun untuk berat badan, Faiz termasuk
anak yang memiliki badan yang berat dan terkesan gendut. Hal ini disebabkan ia selalu
makan dan ngemil. Setiap ada makanan ia makan dengan lahapnya. Hal ini kontras berbeda
dengan kakak-kakaknya yang memiliki tubuh tidak gendut. Disamping sering makan,
kurangnya olahraga juga dapat menyebabkan tubuhnya menjadi gendut karena kalori yang
menumpuk. Setidaknya kecanggihan teknologi pada zaman sekarang ini membuat anak lebih
betah di rumah berkat gadget dan media elektronik yang memberikan hiburan bagi mereka
sehingga mereka jarang melakukan aktivitas terutama di luar ruangan.

2. Proporsi dan Bentuk Tubuh


Berdasarkan tipologoi Sheldon, ada tiga kemungkinan bentuk primer tubuh anak SD
yaitu :
(a) endomorph, yaitu yang tampak lebih luar berbentuk gemuk dan berbadan besar.
(b) mesomorph, yang kelihatan kokoh, kuat, dan lebih kekar.
(c) ectomorph yang tampak jangkung, dada pipih, lemah, dan seperti tak berotot.

Dari data diatas Faiz termasuk anak yang bersifat endomorph, karena dilihat dari
bentuk badannya tampak gemuk dan berbadan besar untuk anak seusia 10 tahun. Hal itu tidak
diimbangi dengan tinggi tubuh dikarenakan ia tidak minum susu secara teratur . Dalam sehari
kemungkinan hanya sekali saja pada saat malam hari , dimana anjuran seharusnya untuk anak
usia masa pertumbuhan minum susu itu 3 kali sehari.

IV.2.1.2 Perkembangan Intelektual Anak


Umur 10 tahun menurut Jean Piaget merupakan masa dimana anak mengalami tahap
operasional konkret (7-11) tahun yang memiliki sifat-sifat, Berpikir konkret, karena daya
otak terbatas pada obyek melalui pengamatan langsung. Dapat mengembangkan operasi
mental, seperti menambah, mengurangi. Mulai mengembangkan struktur kognitif berupa ide
atau konsep. Melakukan operasi logika dengan pola berpikir masih konkret. Faiz termasuk
anak yang cukup cerdas, tercacat selama ia duduk di bangku SD sampai kelas 4 sekarang ini
ia selalu mendapatkan prestasi di sekolahnya. Untuk prestasi kognitifnya sendiri ia selalu
mendapatkan ranking 1.
Pengetahuan umunya juga sudah cukup terasah, karena ia cepat tanggap dalam
menerima informasi. pernah suatu ketika saat keluarga sedang menonton TV , dan acara TV
tersebut menayangkan mengenai kuis pengetahuan, dia dapat menjawab pertanyaan tersebut
disaat keluarga yang lain terdiam tak bisa menjawab. Disamping itu ia juga selalu bercerita
dengan orangtua mengenai apa yang ia tahu baik itu dari TV ataupun dari buku, Dan itu
hanya sebatas informasi yang masih bersifat konkret saja dalam artian informasi tersebut
didapat setelah ia mengamati atau memperoleh informasi itu secara langsung.
Namun, dalam melakukan melakukan kegiatan belajar, ia belum bisa melakukannya
secara mandiri. Ia masih harus melalui perintah orangtua untuk melakukan belajar. Ia hanya
mendapatkan informasi sebatas dari apa yang ia suka, misalnya melalui tayangan TV dimana
ia lebih menyukai gambar-gambar untuk menyerap informasi. Hal ini sesuai dengan tahap
usia SD yang lebih mudah menyerap materi melalui panduan gambar-gambar , karena pada
masa itu pikiran fantasinya sangat kuat.
IV.2.1.3 Perkembangan Sosial Anak
Perkembangan sosial sangat dipengaruhi oleh keluarga dan teman sebaya. Barometer
perkembangan sosial anak dapat kita amati sesuai dengan bagaimana anak itu berinteraksi
dengan kedua aspek tersebut. dalam lingkungan sosialnya, Faiz tinggal bersama keluarga
yang hubungan sosialnya baik dengan orang lain. Sehingga ia dikenal oleh keluarga lain
lantaran kedua orangtuanya selalu menjalin silaturahmi. Akan tetapi, dalam bersosial dengan
teman sebaya, Faiz lebih banyak bercengkrama dengan temannya di sekolah daripada di
rumah. Saat di rumah ia jarang bermain ke luar dengan temannya, dikarenakan teman SD nya
tidak sekomplek dengannya.
Sebenarnya temannnya yang sebaya cukup banyak di sekitar rumahnya, mungkin
karena perbedaan sekolah yang melatarbelakangi sehingga ia kurang bersosialiasi ataupun
dari perlakuan si anak sendiri yang enggan mengusahakan untuk bersosial dengan teman
sebaya di sekitar rumahnya. Tak pelak, hal ini juga disebabkan oleh perkembangan zaman,
dimana kencanggihan teknologi dapat memberikan produk-produk yang membuat seseorang
lebih betah tinggal di rumah daripada menjejali kehidupan nyata. Banyak anak-anak zaman
sekarang, termasuk Faiz berkat Adanya TV dan handphone mereka menjadi punya
kehidupannya sendiri. Mungkin inilah dampak dari teknologi yang kebablasan sehingga
orang lupa akan kehidupan nyatanya.
Adapun bentuk-bentuk tingkah laku sosial jika dikaitkan teori yang ada, Faiz
mengalami hal-hal sebagai berikut.

1. Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan ini kadangkala terjadi pada faiz apabila ia mendapatkan
sesuatu yang tidak disukainya. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan
disiplin atau tuntutan orang tua yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Biasanya ia
melawan dengan berupa perkataan apabila ia dimarahi oleh orangtua.

2. Agresi (Agression)
Biasanya, bentuk tingkah laku sosial ini terjadi pada Faiz apabila keinginannya tidak
terpenuhi ataupun apabila ia dimarahi dan disuruh oleh orangtua. Namun hal ini jarang
terjadi, mengingat semakin bertambahnya usia ia sudah mulai berpikir akan kedewasaanya.
Kebanyakan tingkah agresi ini terjadi pada umur rentan 5 tahun kebawah. adapun pada saat
sekarang bentuk agresi yang ia lakukan hanya berupa perkataan dan itupun secara halus.
3. Berselisih (Bertengkar)
Untuk usia sekarang ini, Faiz sangat jarang sekali bertengkar. Ia lebih sering
bertengkar pada saat umurnya 6-7 tahun dan itupun ia lakukan dengan kakak perempuannya
yang umurnya tidak beda jauh. Biasanya tidak menutup kemungkinan ia juga bertengkar
dengan kakaknya yang lebih dewasa.

4. Mementingkan diri sendiri (selffishness)


Biasanya terjadi apabila ada kakak-kakaknya yang hendak meminta makanan ringan
padanya. Faiz kadangkala bersikap pelit ketika ia ingin memberi, dan lebih mementingkan
dirinya sendiri. Namun, setelah lama kelamaan, ketika ia sudah mulai kenyang terhadap
makananya lalu ia pun memberikannya pada kakak-kakaknya. Biasanya jika ingin mudah
untuk memberi, harus dengan rayuan terlebih dahulu dan berupa imbalan yang akan
diberikan sebagai gantinya.

IV.2.1.4 Perkembangan Keagamaan Anak


Pada Usia 10 tahun, perkembangan moral yang dialami oleh Faiz masih berupa tahap
Pre-moral yang dikemukakan oleh Jean Piaget. pada tahap Pre-moral ini, anak tidak merasa
wajib untuk menaati peraturan. Hal ini terjadi pada Faiz, dimana ia masih belum bisa menaati
peraturan yang ada. Seperti halnya waktu untuk menonton TV, bermain, dan belajar yang
masih belum teratur. Disamping itu, saat dibangunkan pada pagi hari juga cukup sulit. Hal ini
masih menunjukkan bahwasanya perkembangan moralnya masih dalam tahap yang kemudian
akan menuju tahap heteronomi dan autonomi.
Adapun tahap perkembangan keagamaanya, Faiz ini sudah berada pada tingkat The
Realistic Stage (Tingkat Kenyataan). dimana ia sudah mulai bergairah dengan melaksanakan
ajaran-ajaran agama seperti melaksanakan solat, puasa, membaca Al-Quran dan lain
sebagainya. Hal ini memberikan hasil yang cukup signifikan bagi anak seumuranya, dimana
banyak anak-anak yang seumuranya yang masih belum bisa membaca Al-Quran atapun
menghafal surat-surat pendek namun Faiz sudah cukup menguasainya. Faiz tinggal di
lingkungan yang cukup taat beragama, sehingga secara tidak langsung ia akan ikut
terpengaruh dengan keadaan keluarganya tersebut.
Seperti kebiasaan sholat berjamaah, harus ditekankan sejak dini pada seorang anak
agar nantinya terbiasa ketika telah dewasa. Peran orangtua dalam upaya pendidikan agama
pada anak sangatlah penting, karena disamping memberikan arahan, orangtua juga harus
memberikan contoh yang baik. Disamping itu, hal ini juga ditunjang oleh kondisi lingkungan
sekitar rumahnya apakah memiliki rutinitas keagamaan yang tinggi ataukah tidak .
Semua ini menunjukan bahwa faktor lingkungan sangatlah penting dalam upaya
perkembangan anak baik itu dari segi fisik, intelektual, sosial, keagamaan dan pekembangan-
perkembangan lainnya.
IV.2.2 Cara mengoptimalkan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan fisik, intelektual,
sosial dan keagamaan anak

IV.2.2.1 Mengotimalkan Perkembangan Fisik


Perkembangan fisik pada masa kanak-kanak hingga remaja merupakan saat yang paling
optimal dimana pada saat itu perkembangan fisik anak terjadi secara cepat. Oleh karena itu,
beberapa upaya dapat dilakukan untuk mengotimalkan perkembangan fisik pada anak
diantaranya:
1. memberikan asupan gizi yang teratur
2. mengawasi secara penuh terhadap segala aktivitas anak
3. Merangsang pertumbuhan anak dengan berolahraga
4. Memberikan waktu istirahat yang cukup
5. membiasakan pola hidup yang sehat

IV.2.2.2 Mengoptimalkan perkembangan intelektual


Perkembangan intelektual pada masa anak perlu diperhatikan guna menghasilkan pribadi-
pribadi anak yang cerdas, oleh karena itu terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengoptimalkan perkembangan intelektual pada masa anak, diantaranya:
1. Membimbing selalu anak-anak dalam memperoleh pengetahuan
2. Memberikan stimulus pada anak agar selalu belajar
3. Selalu memotivasi anak untuk terus berusaha
4. Memberikan asupan gizi yang maksimal bagi otak anak
5. Mengetes kemampuan anak secara berkala.

IV.2.2.3 Mengoptimalkan perkembangan sosial


Perkembangan sosial pada anak dapat kita optimalkan demi menghasilkan generasi yang
dapat berkiprah di masyarakat. Untuk itu langkah-langkah berikut dapat dilakukan dalam
merealisasikan hal tersebut.
1. Memberikan susana yang ridak kaku pada keluarga
2. Membimbing anak dalam setiap kegiatan sosial terutama dengan teman sebaya
3. membiasakan anak untuk dapat bersosial di masyarakat
4. memberikan pemahaman kepada anak mengenai hubungan sosial yang baik
5. Selalu adanya kasih sayang yang terjalin antara anak dengan orangtua

IV.2.2.4 Mengoptimalkan Keagamaan


Membina sikap religius pada anak sangat diperlukan demi mencapai individu yang
berbudi luhur dan dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Nilai religius pada saat ini
sangatlah penting dimiliki oleh anak, untuk itu terdapat beberapa upaya agar
perkembangan religius anak adapt optimal diantaranya:
1. Sebagai orangtua, hendaknya kita selalu memberikan pemahaman tentang
pendidikan agama yang baik
2. memasukan anak ke lembaga-lembaga pendidikan islam seperti pesantren atapun
tempat mengaji di sekitar rumah
3. Orangtua harus memberikan tauladan yang baik pada anak
4. membiasakan anak untuk patuh dan taat dalam menjalankan ajaran-ajaran agama
5. mengawasi lingkungan sekitar anak terutama dengan teman sebaya agar tidak
terjerumus kepada hal-hal yang tidak diinginkan.
BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Perkembangan fisik, intelektual, sosial dan keagamaan anak dipengaruhi oleh dua
faktor yakni keturunan (gen) dan lingkungan. Gen merupakan faktor yang bersifat statis,
dimana faktor tersebut sulit untuk diusahakan sesuai dengan harapan yang diinginkan. adapun
faktor lingkungan, faktor ini merupakan faktor yang dinamis dimana kita bisa
mengusahakannya sesuai dengan tindakan kita agar bisa sesuai dengan apa yang diharapkan.
Faktor lingkungan ini dapat berupa lingkungan ia tinggal ( keluarga ) maupun
lingkungan masyarakat ia hidup. disamping itu usaha-usaha lain yang dilakukan untuk
mengoptimalkan perkembangan juga termasuk kedalam faktor lingkungan. Berbagai cara
dapat dilakukan demi tercapainya hal tersebut, misalnya peranan orangtua dalai keluarga
sangat memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap perkembangan anak baik itu
dilihat dari segi fisik, intelektual, sosial maupun keagamaan.
Untuk perkembangan fisik misalnya, seorang anak akan memiliki fisik yang ideal jika
ia membiasakan pola hidup yang teratur dan diberi asupan gizi yang seimbang.
perkembangan lainnya seperti perkembangan keagamaan pada anak juga sangat dipengaruhi
oleh lingkungan. Dalam hal ini, orangtua sebagai transfer value dalam keluarga sangat
ditekankan agar menghasilkan anak yang religius dan berbudi luhur.
Untuk itu, perlakuan yang optimal sangat diperlukan agar perkembangan Fisik,
intelektual, sosial, dan keagamaan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan hasil yang
diharapakan demi terciptanya generasi yang tangguh dalam berkiprah di masyarakat.

V.2 Saran

1. Orangtua harus memberikan upaya yang optimal kepada anaknya terutama dalam proses
perkembangannya agar berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapakan.
2. Perkembangan anak juga harus ditunjang dengan kondisi lingkungan masyarakat yang baik
3. Upaya pemberian stimulus dan motivasi pada anak harus dilakukan demi meningkatnya
perkembangan anak tersebut ke arah yang lebih baik.
4. Pendidikan formal terutama sekolah harus ikut memberikan andil terhadap proses
perkembangan yang dialami oleh anak