Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

GD 3103 FOTOGRAMETRI I

MODUL 1

Modul 1 Stereotrainer (STR)

Pengamatan Px dan Py Plotting Planimetris Digital Terrain Model / Surfer

Oleh :

RENO WIBOWO PUTRA

15114017

Kelompok B

Model / Surfer Oleh : RENO WIBOWO PUTRA 15114017 Kelompok B PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI DAN

PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2016

1.

Pendahuluan

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Fotogrametri umumnya dilakukan menggunakan pesawat udara, sehingga produk dari fotogrametri adalah foto udara. Foto udara yang dihasilkan selanjutnya

harus diproses terlebih dahulu agar mendapatkan peta foto yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Jika pada daerah pemotretan merupakan daerah yang berbukit maka akan ada pergeseran relief dan hal tersebut perlu dihilangkan dengan proses restitusi foto stereo. Salah satu caranya dengan menggunakan alat yang digunakan untuk proses restitusi foto udara yaitu alat stereotrainer. Maka pada praktikum modul ini praktikan akan belajar menggunakan alat stereotrainer untuk melakukan restitusi foto udara, dengan menghilangkan paralaks y (perbedaan ketinggian).

Kemudian setelah itu kita bisa menggambarkan planimetris dan kontur dari foto stereo yang kita lihat. Melalui praktikum ini praktikan juga akan mempelajari metode penggambaran planimetris menggunakan alat stereotrainer dan konturing dengan software surfer setelah sebelumnya melakukan interpolasi.

Sejak dahulu telah dilakukan pemodelan bentuk permukaan bumi secara horizontal maupun vertical. Bentuk pemodelan permukaan bumi tersebut disajikan pada bidang datar yaitu sebuah peta planimetris yang mempunyai kontur. Cara lain bentuk pemodelan permukaan bumi yang berkembang adalah pemodelan bentuk permukaan bumi secara tiga dimensi yaitu digital terrain model atau digital elevation model. Salah satu metode pengambilan data kedua model tersebut adalah dengan menggunakan fotogrametri. Pengolahan data fotogrametri tersebut dilakukan secara stereokopis sehingga didapatkan data ketinggian dari sebuah objek melalui pertampalan foto tersebut.

1.2. Tujuan Pratikum

a. Menentukan paralaks x dan paralaks y.

b. Membuat plotting planimetris.

1.3.

Waktu dan Tempat Praktikum

Hari/Tanggal

: Rabu dan Jumat/ 9 dan 11 November 2016

Waktu

: 9.00 11.00 WIB

Tempat

: Laboratorium Fotogrametri

1.4. Peralatan yang digunakan

a. Stereotrainer

b. Dua buah dias foto

c. Kertas karton putih

d. Pensil

e. Formulir data

2. Dasar Teori

2.1. Overlap

BAB 2

DASAR TEORI

Overlap adalah pertampalan depan dua foto udara.

DASAR TEORI Overlap adalah pertampalan depan dua foto udara. 2.2. Paralaks X dan Y Salah satu

2.2. Paralaks X dan Y Salah satu metode pemetaan secara fotogrametris adalah dengan menggunakan

alat stereotrainer dimana pada alat ini seseorang akan dilatih untuk melihat gambar

stereoskopis dari sepasang foto udara berupa dias (dia positif) yang terpasang pada

alat sedemikian rupa sehingga praktikan dapat melihat bentuk stereoskopis secara

terus menerus dan teliti. Pengamatan stereoskopis ini bertujuan untuk

menghilangkan perbedaan ketinggian saat pemotretan dengan menghilangkan

paralaks y (Py).

Pengukuran paralaks secara stereoskopik dilakukan dengan menggunkan

batang paralaks atau meter paralaks (parallax bar) terdiri dari dua keping kaca yang

diberi tanda padanya. Tanda ini disebut tanda apung (floating mark).Masing-

masing keping kaca dipasang pada batang yang dapat diatur panjangnya yang diatur

dengan memutar sekrup mikrometer.Pengukuran dilakukan setelah foto disetel di

bawah pengamatan stereoskopik. Tanda apung kiri diletakkan pada titik yang akan

diukur paralaksnya di foto kiri, dan tanda apung kanan diletakkan pada titik yang

akan diukur paralaksnya pada foto kanan, dimana peletakan dilakukan dengan

melihat dari stereoskop. Kemudian dilakukan pembacaan pada sekrup mikrometer

yang dibaca dalam milimeter (mm).

Jika ada dua berkas sinar dan ada 5 pasang sinar yang berpotongan, maka

seluruh sinar akan berpotongan. Tetapi yang dicari adalah enam pasang berkas

sinar yang berpotongan karena satu pasang berfungsi kebagai penguji untuk

mengecek apakah sinar sudah berpotongan semua. Yang perlu diperhatikan adalah

keenam pasang berkas tersebut harus berada pada daerah pertampalan foto.

Penglihatan stereoskopis pada objek mengakibatkan titik apung terjadi seperti

berikut:

a. Titik berimpit (tepat posisi titik pada objek pengamatan) di tanah, dan atau

objek.

b. Titik tidak berimpit (terapung dan tenggelam), mungkin bisa berjauhan

hingga menimbulkan stereoskopis tidak nampak.

Syarat dapat melihat pasangan foto secara stereoskopik, yakni :

a. Daerah yang akan diamati secara stereoskopik difoto dari posisi eksposur

yang berbeda yaitu pada daerah pertampalannya,

b. Skala dari kedua foto kurang lebih sama,

c. Pasangan obyek padai foto kiri dan kanan dan kedua mata kurang lebih

harus dalam satu bidang yang sama atau sumbu optik kedua mata harus

satu bidang.

2.3. Penggambaran Planimetris Penggambaran planimetris dari foto udara akan menghasilkan peta garis.

Peta garis ini merupakan gambaran dari keseluruhan objek-objek yang terlihat

pada foto udara atau posisi planimetris dari objek-objek yang nampak pada

model stereoskopis atau bagian overlap dari foto udara. Penggambaran

planimetris ini merupakan salah satu metode pemetaan fotogrametri. Dari peta

garis ini akan diketahui posisi objek-objek dalam koordinat lokal setelah titik

ikat dan titik di lapangan disamakan referensinya.

2.4. Digital Terrain Model (DTM) / Surfer Data Terain Model ( DTM ), adalah data tinggi yang diperoleh dari hasil pengamatan atau pengukuran berupa titik di model absolut Tanah, dan atau penempatan titikuntuk harga tinggi dipilih secara acak sesuai dengan bentuk relief tanah yanq akan dibentuk garis kontumya. Digital Terrain Model (DTM) adalah pemodelan pemukaan tanah tidak termasuk dari objek-objek di atas permukaan tanah secara tiga dimensi . Dengan kata lain DTM adalah bentuk kontur yang dibuat secara tiga dimensi. DTM ini sering disebut juga dengan Digital elevation model (DEM).

sering disebut juga dengan Digital elevation model (DEM). Digital Surface Model (DSM) adalah pemodelan digital

Digital Surface Model (DSM) adalah pemodelan digital permukaan bumi termasuk objek diatas permukaan tanah secara 3 dimensi.

Surface Model (DSM) adalah pemodelan digital permukaan bumi termasuk objek diatas permukaan tanah secara 3 dimensi.

Pembuatan Model DTM atau DEM ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu

system gridding atau raster, maupun system TIN (triangular irregular network).

a. Pemodelan secara grid/raster

atau raster, maupun system TIN (triangular irregular network). a. Pemodelan secara grid/raster b. Pemodelan secara tin.

b. Pemodelan secara tin.

atau raster, maupun system TIN (triangular irregular network). a. Pemodelan secara grid/raster b. Pemodelan secara tin.
atau raster, maupun system TIN (triangular irregular network). a. Pemodelan secara grid/raster b. Pemodelan secara tin.
atau raster, maupun system TIN (triangular irregular network). a. Pemodelan secara grid/raster b. Pemodelan secara tin.

2.5. Penggambaran Kontur Garis kontur adalah garis khayal di lapangan yang menghubungkan titik dengan ketinggian yang sama. Cara membuat garis kontur dengan Stereotrainer, yaitu dengan menentukan dua titik terletak sesuai batas kertas latihan, dimana titik tersebut menunjukan pada posisi sebagai berikut:

Titik 1 dengan tinggi lokasi = 10.50, Titik 2 dengan tinggi lokasi = 12.01, dan titik 3 dengan tinggi lokasi = 22.0 1. Hasil tinggi lokasi berdasarkan hasil dari bacaan Paralaks X ( (Px ) Lihat gambar bawah ini.

hasil dari bacaan Paralaks X ( (Px ) Lihat gambar bawah ini. Hitung selisih Tinggi sebagai

Hitung selisih Tinggi sebagai berikut :

Selisih tinggi titik 2 dengan titik 1 yaitu 12.0 1 - 10.50 = 1.51 Selisih tinggi titik 3 dengan titik 1 yaitu 22.01 - 10.50 = 11.51 Maka untuk menggambar garis kontur di set pada :

a. Selisih 1.51 harga kontur awal yaitu = 10.5

b. Selisih 11.51 harga kontur akhir yaitu = 22.00

c. Dengan interval kontur 0.50 minimal atau sesuaikan dengan beda tinggi dan skala Peta.

d. Misalkan kita akan membuat garis kontur secara manual dengan harga kontur 21.00, pada Stereorainer dilakukan sebagai berikut :

i. Set Bacaan Px pada 21.00 dengan memutar footdisk, Selanjutnya gerakan tracing unit sedemikian rupa hingga titik apung berimtpit pada ( Objek Model Tanah ), menurut penglihatan mata kita pada binokuker di stereotrainer.

ii. Pasang pensil pada lembar peta di meja kerja dan jalankan tracing unit secara pelan hingga tergambar garis kontur tersebut ( Garis kontur harga 21.00 ).

iii. Lakukan

cara

di

atas

untuk

garis

kontur

dengan

harga

yang

lainnya,hingga terbentuk garis kontumya ( Lihat gambar di bawah ).

cara di atas untuk garis kontur dengan harga yang lainnya,hingga terbentuk garis kontumya ( Lihat gambar

BAB 3

LANGKAH KERJA PRAKTIKUM

3. Langkah Kerja Praktikum

3.1. Pengamatan Paralaks x (Px) dan Paralaks y (Py) Langkah-langkahkerjadaripraktikumPengamatan Paralaks x (Px) dan Paralaks y (Py)iniadalahsebagaiberikut:

a. Nyalakan alat dengan menekan tombol on pada sebelah kiri alat kemudian set basis mata melalui kedua okuler

b. Tutup mata kiri, perhatikan posisi titik apung berada pada objek apa. Jika titik apung kurang terlihat jelas, perjelas dengan memutar pengaturan titik apung.

c. Buka mata kiri, ingat-ingat objek titik apung pada okuler kiri kemudian perhatikan okuler kiri dan kanan bersamaan. Jika titik apung belum berhimpit, akan terlihat ada dua titik apung dari okuler kiri dan okuler

kanan

objek yang sama.

Namun, jika sudah berhimpit akan terlihat satu titik apung di titik

d. Jika sudah terlihat dengan kedua mata (binokuler), seharusnya otomatis akan terlihat bentuk tiga dimensinya.

e. Gerakkan tracing unit pada titik satu yang telah tersedia pada kertas karton putih.

f. Perhatikan titik apung pada kedua okuler, apakah sudah berhimpit atau belum. Jika belum berhimpit, atur sedemikian rupa sehingga titik apung berada pada objek yang sama dengan memutar paralaks x (Px) dan

paralaks y (Py).

g. Catat nilai paralas x (Px) dan paralaks y (Py) yang tertera pada bacaan setelah itu lakukan hal yang sama untuk titik 2 s.d. 6.

3.2.

Plotting Planimetris Langkah pengerjaan untuk praktikum ini adalah :

a. Pastikan objek yang akan digambar sudah dapat diinterpretasikan dan sesuai

menurut mata nampak bentuk asli di lapangannya (bentuk tiga dimensi).

b. Pastikan posisi titik apung menempel dengan objek-objek yang akan digambar,

dalam hal ini titik apung akan terlihat menurut pengamatan kita berimpit

(Px = Py = 0)

c. Pasang/turunkan pensil pada tracing unit agar dapat menggores kertas, hingga

apa yang kita gambar akan tergambar berupa garis pada kertas kerja, lalu

berikan simbol apa yang digambar tadi.

d. Ulangi langkah di atas sedemikian rupa hingga tergambar semua objek yang

dinterpretasikan.

3.3. Digital Terrain Model (DTM) / Surfer

Langkah pengerjaan untuk praktikum ini adalah :

a. Nyalakan alat dengan menekan tombol on pada sebelah kiri alat

b. Set basis mata melalui kedua okuler

c. Tentukan / tempatkan kertas pada meja kerja sedemikan rupa hingga

mencangkup daerah yang akan dicari bentuk garis kontumya (minimal 25 Titik)

d. Buat nomor titik pada kertas kerja secara acak sesuai kebutuhan ( Bentuk relief

tanah )

e. Lakukan pengamatan titik-titik tersebut melalui penglihatan tiga dimensi pada

binokuler serta dicatat bacaan Pxuntuk setiap titik dan baca koordinat x, dan

koordinat y pada kertas kerja.

f. Ketikan data hasil pengarnatan tersebut pada Notepad selanjutnya eksport ke

Excel jadi hasilnya harus berupa data dalam bentuk file Excel .

g. Operasikan Surfer sedemikan rupa, guna membentuk garis kontur dari data

yang ada

h. Bandingkan hasil create Kontur dari Surfer dengan manual di Stereotrainer.

BAB 4

PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

4. Pengolahan Data dan Analisis

4.1.Pengolahan Data

 

4.1.1.

Pengamatan Px dan Py

 
 

Pengamatan Paralaks Y

 

Iterasi

 

1

 

2

 

3

 

4

/ Titik

Py

ΔPy

ΔPy 2

Py

ΔPy

ΔPy 2

Py

ΔPy

ΔPy 2

Py

ΔPy

ΔPy 2

1

2.74

0.33

0.11

2.67

0.24

0.06

2.79

0.42

0.18

2.72

0.33

0.11

2

2.20

-0.22

0.05

2.17

-0.26

0.07

2.24

-0.13

0.02

2.25

-0.14

0.02

3

2.20

-0.22

0.05

2.34

-0.09

0.01

2.24

-0.13

0.02

2.25

-0.14

0.02

4

2.35

-0.06

0.00

2.35

-0.08

0.01

2.24

-0.13

0.02

2.25

-0.14

0.02

5

2.81

0.40

0.16

2.78

0.35

0.12

2.57

0.20

0.04

2.60

0.21

0.04

6

2.19

-0.23

0.05

2.27

-0.16

0.03

2.15

-0.22

0.05

2.26

-0.13

0.02

Jumlah 14.49 0.00 0.41 14.58 0.00 0.29 14.23 0.00 0.32 14.33 0.00 0.23
Jumlah
14.49
0.00
0.41
14.58
0.00
0.29
14.23
0.00
0.32
14.33
0.00
0.23
Rata- 2.42 rata 2.43 2.37 2.39 D 0.29 0.24 0.25 0.21
Rata- 2.42
rata
2.43
2.37
2.39
D 0.29
0.24
0.25
0.21

Pengamatan Paralaks X

Iterasi

 

1

 

2

 

3

 

4

/ Titik

Px

ΔPx

ΔPx 2

Px

ΔPx

ΔPx 2

Px

ΔPx

ΔPx 2

Px

ΔPx

ΔPx 2

1

15.91

-1.40

1.95

15.14

-2.08

4.31

15.05

-2.22

4.94

15.09

-2.03

4.13

2

18.20

0.89

0.80

18.98

1.76

3.11

18.97

1.70

2.88

18.05

0.93

0.86

3

16.54

-0.77

0.59

16.48

-0.74

0.54

16.56

-0.71

0.51

16.53

-0.59

0.35

4

16.50

-0.81

0.65

16.34

-0.88

0.77

16.56

-0.71

0.51

16.45

-0.67

0.45

5

16.20

-1.11

1.22

15.94

-1.28

1.63

16.09

-1.18

1.40

16.10

-1.02

1.05

6

20.48

3.18

10.08

20.42

3.20

10.26

20.40

3.13

9.79

20.52

3.40

11.54

Jumlah 103.83 0.00 15.28 103.30 0.00 20.62 103.63 0.00 20.02 102.74 0.00 18.38 Rata- 17.31
Jumlah
103.83
0.00
15.28
103.30
0.00
20.62
103.63
0.00
20.02
102.74
0.00
18.38
Rata- 17.31
17.22
17.27
17.12
rata
D 1.75 2.03 2.00 1.92
D 1.75
2.03
2.00
1.92

Perhitungan Paralaks

Rata-rata

:

Selisih

:

Standar Deviasi

:

̅ = Σ

̅

Δ =

D

= 2

−1

4.1.2.

Plotting Planimetris

Data terlampir

4.1.3. Digital Terrain Model (DEM) / Surfer

Data ketinggian titik:

X

Y

Z

7

8

17.47

3

14.6

16.56

3.5

18.05

16.19

7.7

7.3

15.15

10.25

5.65

19.49

10.45

13.45

15.98

13.4

6.55

20.61

13.65

9.15

19.66

14.3

14.5

16.98

14.5

18.1

16.7

Hasil interpolasi menggunakan Surfer :

X

Y

Z

9.92

17.32

16.05

11.35

17.30

16.18

12.88

17.52

16.41

13.53

17.67

16.53

13.61

16.95

16.57

13.56

14.81

16.75

13.90

13.11

17.40

4.29

15.47

16.36

5.52

15.70

16.24

4.37

13.04

16.59

7.72

7.23

15.30

7.30

6.91

15.94

7.80

6.58

16.09

6.57

6.75

16.57

6.05

6.80

16.82

5.47

7.26

17.02

5.12

8.25

17.13

4.59

9.94

16.97

3.84

12.59

16.66

5.30

12.46

16.61

7.27

11.44

16.67

8.25

10.01

16.92

9.52

8.13

17.38

9.97

6.76

18.34

8.95

6.21

17.49

10.85

6.36

19.36

12.00

6.40

19.97

13.53

6.35

20.62

13.60

7.51

20.25

11.58

7.88

19.10

Hasil plotting kontur menggunakan Surfer :

Hasil plotting kontur menggunakan Surfer :

4.2.

Analisis

a. Modul 1a

Pada praktikum modul 1a, praktikan ditugaskan untuk mengamati paralaks

X dan paralaks Y menggunakan alat stereotrainer (STR). Praktikan melihat

dengan seksama pergerakan paralaks X dan paralaks Y dari 6 titik yang

diberikan dan kemudian menentukan nilai Px dan Py selama 4-6 kali

pengulangan. Seharusnya nilai Px dan Py dari pengamatan 6 titik yang diulang

sebanyak 4 kali memiliki hasil yang sama, tapi nyatanya ada perbedaan dari

tiap nilai Px dan Py di masing-masing titik. Perbedaan nilai pada saat

mengamati Px dan Py saat pengulangan tersebut dapat terjadi karena :

Faktor alat : alat stereometri yang digunakan mengalami penyusutan secara

kualitas. Saat praktikan melakukan pengamatan, untuk mata kiri terlihat lebih

gelap dibanding mata kanan sehingga kemungkinan titik apung antara mata kiri

dan mata kanan tidak berimpit secara tepat.

Faktor pengamat : mata tiap-tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda

dalam melihat objek khususnya 3D. Tidak semua orang dapat melihat objek

tiga dimensi dengan mudah. Saya pasti pusing ketika harus mengamati objek

tiga dimensi terlalu lama. Hal inilah yang menyebabkan kemungkinan

pengamatan Px dan Py yang saya lakukan kurang tepat.

Berdasarkan hasil dari pengamatan, nilai Py lebih stabil dbanding nilai Px.

Nilai standar deviasi Py lebih kecil dibanding nilai standar deviasi Px.

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa praktikan belum mahir dalam

membedakan kedalaman streokopik. Pengamatan paralaks X dan Y ini

bertujuan untuk melatih pengamat untuk membaca kedalaman stereoskopik

karena data Px dan Py ini digunakan untuk menentukan ketinggian suatu objek

pada sebuah citra. Kesalahan dalam menentukan Px dan Py ini terjadi karena

belum terbiasanya pengamat melakukan pengambilan data Px dan Py.

b. Modul 1b Pada modul 1b praktikan ditugaskan untuk melakukan plotting secara planimetris. Maksudnya, praktikan seakan-akan menggambarkan kembali daerah yang dilihatnya dalam alat stereotrainer. Dalam praktikum modul 1b, praktikan membuat garis dengan alat stereotrainer sehingga membentuk suatu daerah yang sesuai dengan gambar yang ditampilkan pada alat stereotrainer, kemudian digambarkan pada kertas dengan ukuran 15 x 10 cm. Dalam proses ploting ini terjadi proses akusisi data spasial menjadi sebuah produk fotogrametrik yaitu peta garis. Daerah yang praktikan lihat pada alat stereotrainer berupa daerah aliran sungai. Di daerah aliran sungai tersebut tidak terdapat pemukiman ataupun bangunan-bangunan yang ada hanyalah hamparan tanah sehingga tidak terlalu sulit untuk digambarkan dengan detail. Selain itu, praktikan juga mengalami kesulitan untuk membedakan antara jalan dan sungai, karena dari segi bentuk sama-sama meliuk dan terkadang lurus juga. Dalam proses penggambaran terdapat beberapa kendala yang dialami yaitu dalam pembentukan garis, ketebalan pensil yang digunakan lebih tebal daripada garis yang terdapat pada gambar stereotrainer sehingga dalam menggambarkan jalan yang kecil menjadi satu garis. Selain itu, keterbatasan penglihatan pada saat penggambaran juga menjadi kendala bagi praktikan. Keterbatasan penglihatan atau kurang cermat dalam melihat bentuk tiga dimensi menyebabkan praktikan sulit membedakan kontur atau perbedaan ketinggian dalam foto tersebut. Sehingga dalam penggambaran pun diperoleh hasil yang kurang maksimal. Untuk itu dalam melakukan proses plotting ini diperlukan kecermatan dan kesabaran dalam mengamati bentuk-bentuk objek pada foto serta diperlukan konsentrasi agar tetap terlihat tiga dimensi.

c. Modul 1c Pada praktikum modul 1 C menentukan koordinat 10 titik yang telah ditentukan dengan cara menggambarkan titik-titik tersebut pada kertas millimeter blok kemudian dicatat bacaan paralaks X nya sehingga dari bacaan tersebut kita dapat menentukan ketinggian suatu tempat di foto tersebut. Dari 10 titik tersebut, praktikan melakukan interpolasi sehingga menjadi 30 titik. Interpolasi dilakukan dengan menentukan titik tambahan diantara 10 titik yang sudah ditentukan dari awal. Setelah itu, praktikan menentukan nilai paralaks X yang diinginkan dari titik tambahan tersebut. Kemudian dengan perbandingan jarak, diperoleh jarak dari titik yang diketahui ke titik yang akan ditentukan koordinatnya. Setelah diperoleh posisi titik tambahan pada milimeter block, kemudian praktikan membaca koordinat X dan Y pada milimeter block sehingga diperoleh koordinat X, Y, dan Z (dengan Z merupakan nilai dari paralaks X yang menggambarkan ketinggian titik tersebut). Setalah diperoleh koordinat X, Y, Z dari 30 titik, titik-titik tersebut digambarkan garis konturnya menggunakan program SURFER. Namun dalam menggunakan program SURFER terdapat kendala karena belum pernah menggunakan software tersebut sehingga sering kali banyak menemui kesulitan dalam proccesing data elevasi titik. Adapun model DTM yang dihasilkan kasar disebabkan sedikitnya dalam melakukan interpolasi titik-titik tinggi. Sehingga akan berbeda jika interpolasi dilakukan dalam jumlah yang cukup banyak karena akan mempengaruhi kualitas DTM, artinya semakin banyak titik-titik tinggi yang diinterpolasi maka akan semakin halus dan lebih teliti model yang dihasilkan.

5.

Penutup

5.1.Kesimpulan

BAB 5

PENUTUP

a. Pada praktikum menentukan parallax x dan y, hasil yang didapatkan dari ploting

tersebut seharusnya mempunyai ketelitian yang baik karena data px dan py ini

digunakan untuk menentukan ketinggian suatu objek pada sebuah citra. Kesalahan

dalam menentukan px dan py ini terjadi karena belum terbiasanya operator melakukan

pengambilan data px dan py. Contoh belum terbiasanya operator adalah belum dapat

melihat secara 3 dimensi dari stereotrainer sehingga terjadi kesalahan dalam penitikan

dan mengakibatkan kesalahan dalam membaca px dan py.

b. Pada praktikum plotting planimetris, hasil yang didapatkan dipengaruhi oleh ketelitian

penitikan oleh operator, dan koordinat yang dihasilkan dari alat stereotrainer tersebut

adalah koordinat lokal yang didefinisikan sendiri oleh operator.Dalam proses ploting

ini terjadi proses akusisi data spasial menjadi sebuah produk fotogrametrik yaitu peta

garis.

c. Pada praktikum digital terrain model/surfer, pembuatan garis kontur langsung dari

stereotrainer dapat sangat teliti bergantung pada operator stereotrainer tersebut.

Sedangkan pembuatan garis kontur dan model DTM dari Surfer kurang teliti karena

masih terjadi proses interpolasi yang bergantung dari densitas spot height tersebut.

5.2.Saran

a. Dalam melakukan pengamatan paralaks x dan paralaks y sebaiknya titik terang pada masing-masing teropong objektif lensa kiri dan kanan harus dihimpitkan terlebih dahulu sehingga memperkecil kesalahan dalam mementukan nilai paralaks x maupun paralaks y.

b. Dalam plotting planimetris, sebaiknya selalu memperhatikan titik terang pada masing- masing teropong objektif lensa kiri dan kanan agar dalam plotting planimetris meminimalisir kesalahan dalam menentukan objek.

c. Dalam menentukan Digital Terrain Model (DTM), sebaiknya melakukan interpolasi titik dan menggunakan metode interpolasi yang tepat agar Digital Terrain Model (DTM) yang dihasilkan seperti yang sebenarnya dilapangan.

LAMPIRAN

LAMPIRAN Gambar Hasil Pengamatan Paralaks x dan Paralaks y

Gambar Hasil Pengamatan Paralaks x dan Paralaks y

Gambar Plotting Planimetris

Gambar Plotting Planimetris

Gambar Interpolasi Data Digital Terrain Model

Gambar Interpolasi Data Digital Terrain Model

DAFTAR PUSTAKA

Wolf, Paul R dan Dewwit, Bon A. 2004.Elements of Photogrammetry with Applications in GIS 3rd edition.The McGraw-Hill Companies.