Anda di halaman 1dari 7

JMMR (Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit), 6 (2): 122-129, Juli 2017

Website: http://journal.umy.ac.id/index.php/mrs
DOI: 10.18196/jmmr.6135

Panduan Praktek Klinis dan Clinical Pathway Sebagai Solusi


Efisiensi Pembiayaan Diagnosa Hernia Inguinalis, Appendisitis,
dan Sectio Caesarea di RSI Gondanglegi
Farida Rozany * Navis Yuliansyah, Siti J Susilo
* Penulis Korespondensi: farida.rozany@gmail.com
Rumah Sakit Islam Aisyiyah, Malang, Indonesia
INDEXING ABSTRACT
Keywords: Aim of this study are to describing factors inefficient in health insurance
Efficient; program in RSI Gondanglegi especially for operatif procedure. This
national health research was conducted with descriptive analysis method. Starting with
insurance; the observation in the medical record at diagnosis in the case above, and
clinical guideline; compare with form details the cost of the patients in the period from the
clinical pathway; first quarter of 2016. The results obtained financing on medical services
and medicines. By making the policy of medical services and medicines
for patients health insurance, standards of clinical care, effective
communication of team with related units, and an increase in the type of
hospital grade is expected to improve the efficiency of implementation in
RSIG.

Kata kunci: Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor dari sumber
Efisiensi; pembiayaan yang tidak efisien di dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan
JKN; Nasional di RSI Gondanglegi terutama pada kasus-kasus operatif adalah
PPK; untuk Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deskriptif. Diawali
clinical pathway; dengan melakukan observasi di status rekam medis pada diagnosis
kasus di atas, serta membandingkan dengan form rincian biaya pasien
pada periode triwulan I tahun 2016. Hasil didapatkan pembiayaan
terbesar pada jasa medis dan obat-obatan. Dengan membuat kebijakan
jasa medis dan obat-obatan untuk pasien JKN, standar asuhan klinis,
clinical pathway, komunikasi yang efektif dari tim JKN dengan unit terkait,
dan peningkatan tipe kelas rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan
efisiensi dari pelaksaan JKN di RSIG.
© 2017 JMMR. All rights reserved
Article history: received 5 Apr 2016; revised 15 May 2017; accepted 25 Jul 2017

PENDAHULUAN kesehatannya. Oleh karena itu pasien


memandang bahwa rumah sakit harus
Rumah sakit adalah suatu institusi lebih mampu dalam hal pemberian
penyelenggara pelayanan kesehatan yang pelayanan medik dalam upaya
merupakan bagian integral dari sistem penyembuhan dan pemulihan yang
pelayanan kesehatan yang memberikan berkualitas, cepat tanggap atas keluhan
pelayanan preventif, kuratif, dan serta penyediaan pelayanan kesehatan
rehabilitatif, berupa pelayanan rawat jalan yang nyaman (W, 2008).
dan rawat inap serta perawatan di rumah. Rumah sakit perlu melakukan suatu
Hakikat dasar dari penyelenggaraan upaya untuk tetap bertahan dan
pelayanan kesehatan di rumah sakit berkembang mengingat besarnya biaya
adalah pemenuhan kebutuhan dan operasional rumah sakit yang sangat tinggi
tuntutan dari para pemakai jasa pelayanan disertai meningkatnya kompetisi kualitas
kesehatan dimana pasien mengharapkan pelayanan jasa rumah sakit dari pesaing.
suatu penyelesaian dari masalah Adapun upaya yang harus dilakukan
|123 | Farida Rozany * Navis Yuliansyah, Siti J Susilo – Panduan Praktek …

rumah sakit adalah dengan Puskesmas, Praktek Dokter, Praktek


meningkatkan pendapatan dari pasien, Dokter Gigi, Klinik Pratama dan Rumah
karena pasien merupakan sumber Sakit Tipe D. Sedangkan fasilitas tingkat
pendapatan dari rumah sakit baik secara lanjutan yaitu; Klinik Utama, Rumah Sakit
langsung maupun secara tidak langsung Umum dan Rumah Sakit Khusus (Sandra
melalui asuransi kesehatan. Oleh sebab itu Aulia, 2015).
rumah sakit perlu untuk mempertahankan Berdasarkan peraturan BPJS Tahun
dan meningkatkan kunjungan pasien 2014, pembayaran pelayanan kesehatan
dengan menampilkan dan memberikan oleh BPJS ke fasilitas tingkat lanjut dengan
pelayanan kesehatan yang berkualitas (W, menggunakan tarif INA CBG’s. Tarif paket
2008). INA CBG’s adalah sistem pembayaran
Rumah sakit diharapkan dapat berdasarkan diagnosa. Dalam
berorientasi pada kualitas, sehingga hal ini pembayaran menggunakan sistem INA
akan mampu mendapatkan profitabilitas CBGs, baik Rumah Sakit maupun pihak
jangka panjang yang diperoleh dari pembayar tidak lagi merinci tagihan
kepuasan pasien. Kondisi demikian berdasarkan rincian pelayanan yang
membuat rumah sakit harus mulai diberikan, melainkan hanya dengan
merubah pola pikir yang berfokus pada menyampaikan diagnosis keluar pasien
patient retention. Tujuan dari program dan kode DRG (Disease Related Group).
kepuasan pasien harus mempunyai Besarnya penggantian biaya untuk
pemahaman dan pengertian yang lebih diagnosis tersebut telah disepakati
baik tentang pentingnya kepuasan dan bersama antara provider/asuransi atau
loyalitas pasien, yang akan meningkatkan ditetapkan oleh pemerintah sebelumnya.
patient retention (W, 2008). Perkiraan waktu lama perawatan (length of
Program Jaminan Kesehatan Nasional stay) yang akan dijalani oleh pasien juga
(JKN) diluncurkan oleh Presiden Susilo sudah diperkirakan sebelumnya
Bambang Yudhoyono pada tanggal 1 disesuaikan dengan jenis diagnosis
Januari 2014. JKN ini adalah program maupun kasus penyakitnya (Kesehatan,
jaminan berupa perlindungan kesehatan 2014).
agar peserta memperoleh manfaat RSI Gondanglegi merupakan rumah
pemeliharaan kesehatan dan perlindungan sakit swasta di bawah Yayasan Rumah
dalam memenuhi kebutuhan dasar Sakit Islam Gondanglegi. RSIG adalah RS
kesehatan yang diberikan kepada setiap tipe D dengan kapasitas 103 tempat tidur,
orang yang telah membayar iuran atau memiliki visi yaitu menjadikan rumah sakit
iurannya dibayar oleh pemerintah. pilihan utama di wilayah Malang Selatan
Program ini diselenggarakan oleh Badan yang bernuansa islami. Misi dari RSIG
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah melengkapi serta meningkatkan
Kesehatan, yang merupakan perubahan fasilitas pelayanan, meningkatkan kualitas
dari PT ASKES (Sandra Aulia, 2015). sumber daya manusia, dan meningkatkan
Berdasarkan peraturan BPJS tahun pendapatan dan kesejahteraan karyawan.
2014, peserta JKN dapat dilayani di Berdasarkan data pengamatan yang
fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia dilakukan di RSIG, terdapat permasalahan
dengan sistem berjenjang, yaitu mulai dari pada pelayanan pasien asuransi Jaminan
fasilitas kesehatan tingkat pertama sampai Kesehatan Nasional (JKN) didapatkan
fasilitas tingkat lanjutan. Fasilitas pembiayaan yang belum efisien, terutama
kesehatan ini bisa milik pemerintah, pada kasus-kasus pembedahan seperti
pemerintah daerah dan milik swasta yang hernia inguinalis, appendisitis akut, dan
memenuhi ketentuan BPJS dan sectio caesarea. Dampak yang ditimbulkan
bekerjasama dengan BPJS. Fasilitas dari permasalahan tersebut rumah sakit
kesehatan tingkat pertama antara lain; mengalami kerugian pada pembiayaan.
Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit, 6 (2), 122-129 | 124 |

Hal ini akan menurunkan keuntungan berbeda antara daerah yang satu dengan
RSIG dalam pengelolaan pasien tersebut. yang lain. Tarif Indonesian Casemix Based
Faktor-faktor yang menyebabkan belum Group merupakan tarif paket pada sistem
efisiennya pengelolaan kasus-kasus pembayaran prospektif yang diberlakukan
tersebut adalah belum adanya panduan di rumah sakit seiring dengan integrasi
praktek klinis (Jennifer N. program JKN. Menurut Komaryani, Case
Edwards)(Jennifer N. Edwards)(Jennifer N. Base Groups atau CBGs merupakan cara
Edwards)(Jennifer N. Edwards) dan clinical pembayaran perawatan pasien
pathway untuk penyakit tersebut, lama hari berdasarkan diagnosis-diagnosis atau
perawatan pasien yang berbeda-beda, kasus-kasus yang relatif sama. (Jennifer
koordinasi antara tim JKN dengan unit N. Edwards, 2011)
terkait yang belum optimal, dan diagnosa Standar Akreditasi RS versi Komite
yang belum tepat dari Unit Gawat Akreditasi Rumah Sakit 2012
Darurat.(KARS, 2012) menyebutkan pada standar Peningkatan
Pembiayaan Jaminan Kesehatan Mutu dan Keselamatan Pasien bahwa
Nasional (JKN) adalah dengan sistem rumah sakit harus membuat standar
prospektif, artinya rumah sakit akan asuhan klinik, hal ini bertujuan untuk :
menerima pembayaran untuk proses a. Standarisasi dari proses asuhan klinik
pelayanan terhadap pasien dalam jumlah di rumah sakit.
yang telah ditentukan berdasarkan sistem b. Memberikan asuhan klinik tepat waktu,
klasifikasi layanan, misalnya berdasarkan efektif dengan menggunakan sumber
kelompok diagnosis kasus bedah. Tujuan daya secara efisien.
dari sistem pembayaran prospektif ini c. Secara konsisten menghasilkan mutu
adalah untuk memotivasi penyedia pelayanan tinggi melalui cara-cara
layanan kesehatan, dalam hal ini rumah ”evidence-based”
sakit untuk memberikan perawatan pasien Bentuk standar asuhan klinik adalah
secara efektif dan efisien. Jennifer Panduan Praktek Klinis (PPK) dan clinical
mengungkapkan bahwa efisiensi dapat pathway, kedua hal tersebut juga berfungsi
terjadi apabila melibatkan seluruh staf untuk memastikan adanya integrasi dan
dalam proses tersebut termasuk para koordinasi dari pelayanan dengan
dokter, pemanfaatan teknologi untuk mengunakan sumber daya secara
sistem pelayanan kesehatan, membuat efisien.(KARS, 2012)
standar pada proses pelayanan, dan Clinical pathway dapat didefinisikan
melakukan manajemen staf dengan baik sebagai pendekatan multidisiplin yang
untuk mengurangi biaya. (Jennifer N. berbasis waktu yang digunakan untuk
Edwards, 2011) membantu pasien-pasien tertentu
Sistem pembayaran prospektif mencapai luaran positif yang diharapkan.
ditentukan dengan tiga komponen : Langkah-langkah dalam pathway
a. Standar pelayanan kesehatan rata-rata seharusnya berlaku bagi sebagian besar
di daerah tertentu, misalnya biaya pasien untuk suatu luaran yang
operasi rata-rata, perawatan kasus diharapkan. Kondisi klinis pasien tentulah
kompleks, dan biaya rawat inap. tidak sama, dan perubahan kondisi klinis
b. Standar upah minimum di suatu pastilah seringkali terjadi, sehingga
daerah diperlukan fleksibilitas suatu pathway.
c. Faktor pembobotan penyakit melalui Clinical pathway merupakan perangkat
sistem kelompok diagnosis atau koordinasi dan komunikasi bagi para
diagnosis related groups petugas yang terlibat dalam tatalaksana
Ketiga hal di atas menentukan besaran pasien yang sama. Clinical pathway
dari tarif pada sistem pembayaran merupakan perangkat bantu untuk
prospektif, oleh karena itu tarif INA CBG’s penerapan standar pelayanan medik
|125 | Farida Rozany * Navis Yuliansyah, Siti J Susilo – Panduan Praktek …

(evidence based clinical practice guideline) a. Lama hari perawatan pasien rata-rata
(Pinzon, 2009). untuk kasus appendisitis akut 4-5 hari,
Tujuan dari penelitian ini untuk kasus hernia inguinalis 4-5 hari, dan
mengidentifikasi faktor-faktor dari sumber sectio caesarea 3-4 hari. Berdasarkan
pembiayaan yang tidak efisien di dalam observasi pada status rekam medis
pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional pasien, terdapat satu kasus
di RSI Gondanglegi terutama pada kasus- appendisitis akut dengan lama
kasus operatif. perawatan hingga 6 hari, hal ini
disebabkan proses diagnosis di UGD
METODE PENELITIAN (Unit Gawat Darurat) yang belum tepat,
sehingga memperpanjang hari
Penelitian ini dilakukan dengan metode perawatan.
analisis deskriptif. Diawali dengan b. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan
melakukan observasi status rekam medis adalah darah lengkap, faktor
pasien pada diagnosis hernia inguinalis, pembekuan darah (bleeding time dan
appendisitis akut, dan sectio caesarea clotting time), foto thorak, dan
pada periode triwulan I tahun 2016. Melalui ultrasonography (USG) pada beberapa
kegiatan observasi status rekam medis kasus. Pada pemeriksaan penunjang
dilakukan analisa mengenai lama hari foto thorak, hal ini dilakukan sesuai
perawatan pasien, pemeriksaan penunjang dengan standar prosedur operasional di
yang dilakukan untuk menegakkan RSI Gondanglegi, jika pasien berusia
diagnosis tersebut, obat-obatan yang lebih dari 40 tahun akan menjalani
digunakan selama masa perawatan, dan operasi, maka dilakukan foto thorak.
kondisi luka operasi pada pasien. c. Obat-obatan yang digunakan pada
Dari hasil kegiatan observasi status rekam masa perawatan adalah obat
medis, langkah selanjutnya antibiotika, obat antimual dan analgetik.
membandingkan dengan form rincian biaya Obat-obatan yang digunakan bervariasi
pasien, untuk mengetahui besaran nama dagang, meskipun dengan
pembiayaan pada pasien, serta melihat kandungan sama. Pada kasus sectio
lebih jauh pos pembiayaan yang caesarea obat-obatan yang digunakan
menghabiskan biaya tertinggi. lebih banyak, diantaranya
menggunakan obat antikoagulan dan
HASIL DAN PEMBAHASAN vitamin.
d. Untuk outcome pasien didapatkan
Berdasarkan hasil observasi pada bahwa rata-rata pasien pulang dengan
status rekam medis pasien didapatkan kondisi luka operasi yang baik.
beberapa hal yaitu : Hasil analisis pada form rincian pasien
pulang didapatkan beberapa hal :
Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit, 6 (2), 122-129 | 126 |

Tabel 1. Beban Biaya Pasien


No. Pembanding Hernia % Appendisitis % Sectio %
Inguinalis akut Caesarea
1. Biaya kamar Rp.280.000,00 4% Rp.280.000,00 4% Rp. 280.000,00 5%
rawat inap
2. Jasa Visite Rp.175.000,00 3% Rp.175.000,00 3% Rp. 243.000,00 4%
3. Biaya obat- Rp.2.122.855,00 32% Rp.2.122.855,00 32% Rp.2.259.283,00 40%
obatan
4. Biaya jasa Rp.3.911.750,00 59% Rp.3.911.750,00 59% Rp.2.595.650,00 46%
medis
5. Tindakan Rp. 75.000,00 1% Rp. 75.000,00 1% Rp. 75.000,00 1%
keperawatan
6. Jasa dokter Rp.35.000,00 1% Rp.35.000,00 1% Rp.35.000,00 1%
UGD
7. Asuhan gizi Rp.15.000,00 0% Rp.15.000,00 0% Rp.15.000,00 0%
8. ECG/Doppler Rp. 56.500,00 1% Rp. 56.500,00 1% Rp. 175.000,00 3%
9. INA CBG’s Rp. - Rp. - Rp. -
3.008.900,00 2.195.100,00 3.656.500,00
Sumber : Hasil Analisis,2016

Tabel 1 menjelaskan bahwa beban penunjang dan obat-obatan, agar hal-hal


terbesar dalam pembiayaan sebesar 46%- tersebut tidak menjadi cost driver yang
59% adalah pada biaya jasa medis dokter, besar dalam pembiayaan pasien.(Sandra
beban kedua sebesar 32%-40% adalah Aulia, 2015) Sumber pembiayaan total dari
pada obat-obatan, obat-obatan ini adalah pasien terdiri dari biaya kamar,
termasuk obat-obatan pada masa pemeriksaan diagnosis, biaya operasi,
perawatan dan obat untuk pembiusan. obat-obatan, nutrisi, biaya visite dokter dan
Beban biaya yang lain tidak besar hanya konsultasi, serta terapi post operasi.
sekitar 1% yaitu biaya kamar rawat inap, Penilaian tentang outcome dari CP dinilai
jasa dokter UGD, pemeriksaan ECG, dan dari beberapa hal diantaranya adalah lama
asuhan gizi, kemudian diikuti beban biaya hari perawatan, angka mortalitas
sekitar 3% pada jasa visite dokter. perioperative, dan komplikasi post
Sehingga beban kerugian untuk masing- operative (Geoffrey A. Porter, 2000).
masing kasus yang ditanggung RSIG Clinical pathway dibuat oleh suatu tim yang
sebesar 40%-50% dari total pembiayaan di independen yang merupakan gabungan
RSIG. dari berbagai profesi, yaitu dokter,
Penelitian Budiarto dan Sugiarto perawat, dan perawat professional di
memberikan bukti bahwa biaya klaim rawat bidang penyakit yang diderita pasien. Pada
inap menurut INA-CBGs untuk penyakit pasien dengan kasus bedah, clinical
katastropik di kelas A lebih tinggi pathway dibuat mulai dari perioperative
dibandingkan dengan semua rumah sakit. care, post operative care, hingga discharge
Pada penelitian tersebut juga disebutkan planning. Hal spesifik yang dimasukkan ke
bahwa biaya klaim INACBGs lebih besar dalam pathway adalah alat drain, obat-
14.39% dibandingkan dengan biaya obatan, kriteria kapan peralatan tersebut
menurut tarif rumah sakit baik rumah sakit harus dilepas, diet pasien, pemeriksaan
kelas A,B dan RS Khusus. Komponen laboratorium dan radiologi.(Geoffrey A.
biaya paling banyak dikeluarkan dari biaya Porter, 2000)
klaim adalah biaya obat (11-31%), biaya Pada penelitian yang dilakukan
akomodasi (7-26%), tindakan ruangan (8- Geoffrey menyebutkan dampak dari
32%) dan pemeriksaan laboratorium (6- penggunaan CP pada pasien yang
19%). Jadi diharapkan pada kasus rawat dilakukan operasi pankreatoduodenectomy
inap ada pemilahan dalam pemeriksaan terdapat beberapa kesimpulan bahwa
|127 | Farida Rozany * Navis Yuliansyah, Siti J Susilo – Panduan Praktek …

terjadi penurunan biaya total dari $47,515 di dalam penggunaan sumber daya,
menjadi $36,627, lama hari perawatan dari sehingga rumah sakit dapat survive di
16 hari menjadi 13 hari, angka mortalitas dalam era pembayaran prospektif
menurun dari 3% menjadi 1 %, angka (M.H.Wilke, 2001).
readmission yang menurun dari 15%
menjadi 11%. Jadi dapat disimpulkan SIMPULAN
bahwa penggunaan CP memberi dampak
positif dalam mutu pelayanan pasien Pelaksanaan pembiayaan pasien JKN
(Geoffrey A. Porter, 2000). Hal ini sejalan di RSIG belum efisien disebabkan karena
dengan penelitian Nichol yang beberapa hal: Belum adanya standar
menyebutkan bahwa dengan adanya asuhan klinis, karena hal ini berfungsi
clinical pathway maka mengurangi untuk kendali mutu dan biaya. Standar
penggunaan sumber daya dan asuhan klinis berfungsi untuk kendali mutu
meningkatkan efisiensi pada pembiayaan, dan biaya, dengan adanya standar asuhan
terutama apabila digunakan pada kasus- klinis, maka variasi dari obat-obatan, lama
kasus dengan kondisi akut seperti infark hari perawatan, dan pemeriksaan
myokard akut (IMA). (Walls, 1997) penunjang bisa berkurang. Revisi kebijakan
Lehtonen (2007), telah melakukan kajian terkait tarif jasa medis, bahan habis pakai
literatur dengan periode yang sangat dan obat-obatan untuk kasus hernia
panjang, yaitu dari tahun 1983 sampai inguinalis, appendisitis akut, dan sectio
dengan tahun 2005, untuk mengetahui caesarea untuk pasien JKN Jasa medis
mekanisme penerapan DRG dan case-mix menyerap pembiayaan sekitar 46%-59%
accounting seperti apa yang telah sukses dari INA CBG’s, hal ini membutuhkan
diterapkan di rumah sakit. perhatian khusus dari manajemen RSIG
Hasil penelitiannya menunjukkan untuk membuat kebijakan tentang tarif jasa
bahwa penerapan DRG dan case-mix pelayanan antara pasien umum dan pasien
accounting di suatu rumah sakit akan JKN. Perlunya mengoptimalkan komunikasi
sukses jika pihak manajemen rumah sakit antara tim JKN dan unit terkait. Komunikasi
mengikutsertakan tenaga medis (seperti antara tim JKN dan unit terkait harus selalu
dokter) dalam perumusan sistem kontrol dibangun, agar koordinasi ini dilakukan
manajemen. Sistem ini juga akan berhasil rutin sebulan sekali, untuk menjaring
jika implementasi diterapkan secara permasalahan yang ada di unit.
bertahap dan ada tekanan yang intensif Peningkatan kelas rumah sakit menjadi tipe
dari manajemen untuk menerapkan sistem C. hal ini diharapkan dengan adanya
tersebut (Lehtonen, 2007). peningkatan kelas rumah sakit juga akan
Hiren menyebutkan bahwa di dalam meningkatkan besaran tarif INA CBG’s
sistem pembayaran prospektif, untuk biaya perawatan pasien.
penggunaan clinical pathway juga dapat Beberapa alternatif solusi untuk
menurunkan pembiayaan sekitar 11% pada permasalahan di atas sebagai berikut:
pasien post operatif lutut, hal ini Membuat standar dalam asuhan klinis,
disebabkan karena monitoring pasca karena hal ini berfungsi untuk kendali mutu
operasi yang lebih baik, sehingga masa dan biaya. Revisi kebijakan terkait tarif jasa
perawatan di rumah sakit lebih pendek dan medis, bahan habis pakai dan obat-obatan
penggunaan sumber daya lebih minimal untuk kasus hernia inguinalis, appendisitis
(Hiren, 2008). akut, dan sectio caesarea untuk pasien
Penelitian di Jerman tentang sistem JKN. Mengoptimalkan komunikasi antara
pembayaran prospektif menyebutkan tim JKN dan unit terkait. Peningkatan
bahwa pada kasus-kasus operatif kelas rumah sakit menjadi tipe C, hal ini
penggunaan panduan praktek klinis dan diharapkan untuk meningkatkan tarif INA
clinical pathway dapat membantu efisiensi CBG’s.
Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit, 6 (2), 122-129 | 128 |

DAFTAR PUSTAKA Kesehatan, Vol. 12, No. 1, Halaman 20-


23.
1. Geoffrey A. Porter, M, Peter W.T. 9. Sandra Aulia, S, Dewi Kartika Sari,
Pisters, MD, Carol Mansyur, MA, Arthaingan Mutiha. (2015). Cost
Annette Bisanz, MPH, Kim Reyna, Recovery Rate Program Jaminan
MBA, Pam Stanford, RN, Jeffrey E. Kesehatan Nasional BPJS Kesehatan.
Lee, MD, and Douglas B. Evans, MD. Jurnal Akuntabilitas, Vol. VIII No 2,
(2000). 'Cost and Utilization Impact of a Halaman 111 - 120.
Clinical Pathway for Patients 10. Putri Asmita W. (2008). Analisis
Undergoing Pengaruh Persepsi pasien tentang
Pancreaticoduodenectomy'. Annals of Mutu Pelayanan Dokter Terhadap
Surgical Oncology,Vol. 7, Halaman Loyalitas pasien di Poliklinik Umum
484–489. Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit
2. Hiren, P. The Effect of Clinical Pathway Panti Wilasa Citarum Semarang. Thesis
in Reducing Length of Stay and : Universitas Diponegoro.
Hospital Costs and Improving 11. NG, Walls. (1997). A Critical Pathway
Functional Outcome in Total Hip and for Management For Patients With
Arthroplasty: A Systematic Review, Acute Chest Pain. Ann Internal
Thesis MGH Institute of Health Medicine, Vol. 97, Halaman 996-1007.
Professionals.
3. Jennifer N. Edwards, SS-C, Aimee
Lashbrook.(2011).'Achieving Efficiency:
Lessons from Four Top-Performing
Hospitals'. Commonwealth Fundotion
Publication, Vol. 15, Halaman 1528
4. Komite Akreditasi Rumah Sakit
(KARS).(2012). Standar Akreditasi
Rumah Sakit.Jakarta:KARS
5. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan (BPJS).(2014). Peraturan
BPJS No 1 tentang Penyelenggaraan
Jaminan Kesehatan
6. T ,Lehtonen. (2007). DRG-based
prospective pricing and case-mix
accounting - Exploring the mechanisms
of successful
implementation.Management
Accounting Research, Vol. 18, Halaman
367-395.
7. M.H.Wilke. (2001). Introducing the new
DRG-based payment system in
German hospitals: a difficult operation?
Experience and attempts at a solution
from a surgery point of view.
HEPAC,Vol. 2, Halaman 79-85.
8. R,Pinzon.(2009). Clinical Pathway
Dalam Pelayanan Stroke Akut : Apakah
Pathway Memperbaiki Pelayanan?.
Jurnal Manajemen Pelayanan