Anda di halaman 1dari 14

TUGAS

KESEHATAN KESELAMATAN KERJA


ANALISA KASUS DAN INSTRUMEN / ALAT OBSERVASI
EMERGENCY MANAGEMENT
SEMESTER I

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 5 AJ2/ B19

INTAN CAHYANTI SUGIANTO


GALUH RAHMAWATI G.P
YOGA TRILINTANG
DICKY RAHMATSYAH
NURUL DWI I.
SIMPLIANA ROSA
NINDHITA DS

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

i
BAB I
KASUS

Ny. A usia 23 tahun masuk IRD RSUD Dr. Soetomo rujukan bidan dengan
penurunan kesadaran dan kejang. Klien hamil 9 bulan mengalami kejang dirumah
dan dibawa ke bidan dan disarankan dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, kemudian
klien direncanakan dioperasi untuk menyelamatkan bayi, namun bayi meninggal
dan pasien mengalami penurunan kesadaran. Sekarang dirawat di ruang observasi
intensif. Klien sudah dirawat 1 hari dengan diagnosa medis : CHAP + Sepsis +
Eklampsia + Brain Edema.
Hasil pemeriksaan didapatkan :
TD = 143/76 mmHg, N = 96 kali/menit, S = 38 0 C, RR= 22 kali/ menit terpasang
ventilator Mode ASV, FiO2 = 30 %, SaO2= 98 %, TV = 65 %, GCS = 3x4,
terpasang sonde = 6 x 200 cc/ 24 jam
Hasil Laboratorium :
- Albumin : 3,0 g/dl
- Kreatinin : 3,11 g/dl
- SGPT : 50 u/L
- SGOT : 60 u/L
- Kalsium : 8,1 mg/dl
- WBC : 20.53 x 10^3 / uL
- RBC : 4,86 x 10^3 / uL
- Hb : 11,3 g/dL
- Hct : 34,9 %
- APTT : 26 detik
- PTT : 9,6 detik
- pH darah : 7, 45
- p CO2 : 30
- p O2 : 82
- HCO3 : 20,9 mmol
- Be ecf : -3,1 mmol/L

ii
- AaDO2 : 237 mmHg
- Natrium : 144 mmol/L
- Kalium : 5 mmol/L
- Clorida : 111 mmol/L
Terapi yang diberikan :
- Methyldopa : 3 x 250 mg bila TD > 160
- Nifedipin : 3 x 10 mg
- Paracetamol : 3 x 500 mg
- Phentoin : 3 x 100 mg
- Alinan F : 1 x 1 amp
- Ceftriaxone : 2 x 1 gr
- Furosemid : 3 x 1 amp
- Levofloxacin : 1 x 750 mg/48 jam
- D51/2 Ns : 1500 cc/ 24 jam
- KaEn 4B : 1000 cc
- KCL : 50 mEq/24 jam
BAB II
PEMBAHASAN

A. Keselamatan Pasien
Terdapat 6 sasaran keselamatan pasien antara lain:
1. Ketetapan Identitas Pasien
Pada pasien Ny. A saat masuk di rumah sakit sudah dipasangkan gelang
berwarna pink (karena perempuan) dan laki-laki berwarna biru di beri klip
berwarna. Didalam gelang tersebut tercantum nama pasien, tanggal lahir,
no RM, alamat, dan barcode. Elemen sasaran identitas pasien adalah :
 Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh
menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.
 Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk
darah.

14
 Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain
untuk pemeriksaan klinis.
 Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan
tindakan/prosedur.
 Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi
yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.
Untuk pasien pada kasus tersebut identifikasi saat melakukan tindakan
tidak mungkin dilakukan dengan cara wawancara kepada klien secara
langsung karena GCS pasien mengalami penurunan, identifikasi pasien
dengan cara mencocokan gelang pasien atau dengan keluarga yang
menunggu dapat ditanyakan kepada keluarga.

Gambar 1.1 gelang idetitas pasien

2. Peningkatan Komunikasi Efektif


Elemen Penilaian Sasaran Komunikasi Efektif yaitu :
 Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil
pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah.
 Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan
kembali secara lengkap oleh penerima perintah.
 Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah
atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan.
 Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi
keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten.
a. Sebelum menghubungi dokter untuk menyampaikan kondisi pasien
perawat harus mengkaji kondisi Ny. A , mengumpulkan data – data
yang berkaitan dengan kondisi Ny. A saat ini.

14
b. Menjelaskan setiap tindakan apa saja yang sudah dan belum dilakukan
oleh perawat kepada pasien.
c. Untuk system pelaporan kepada dokter penanggung jawab pertelpon
bisa menggunakan teknik SBAR. Pelaporan kondisi berdasarkan pada
teknik SBAR yaitu:
1) Situation : menyebutkan nama dan nama departemen,
menyebutkan nama pasien Ny. A, Umur Ny. A, Diagnosa medis
dan tanggal masuk, menjelaskan secara singkat kondisi pasien.
2) Background, latar belakang : menyampaikan data – data yang
berkaitan dengan kondisi pasien saat ini misalnya obat – obatan dan
infus yang digunakan Ny. A, hasil laboratorium, tanda – tanda vital.
3) Assessment, penilaian : menyampaikan hasil pemeriksaan yang
telah dilakukan pada Ny. A
4) Recommendation : tindakan selanjutnya untuk mengatasi masalah
pasien.
d. Untuk system pelaporan sesama perawat bisa menggunakan metode
SOAPIE

3. Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu Diwaspadai (High Alert)


Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat
yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel
event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan
kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau
Look Alike Soun Alike/LASA).
 Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses
identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan
elektrolit konsentrat.
 Implementasi kebijakan dan prosedur.
 Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali
jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah
pemberian yang kurang hati-hati di area tersebut sesuai kebijakan.

15
 Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien
harus
 diberi label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat
(restricted).
a. Sebelum memberikan obat kepada pasien, perawat harus membaca
ulang yaitu nama obat, dosis, cara, expired date, dan identifikasi pasien
ulang.
b. Untuk pemberian obat high alert dilakukan double check
c. Menyimpan obat LASA & H.A disimpan dilemari sendiri dan kulkas,
menyimpan obat-obat high-alert di tempat terpisah, menyimpan
elektrolit konsentrat di tempat terpisah, elektrolit konsentrat tidak
berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan dan bila
diperkenankan kebijakan, elektrolit konsentrat yang disimpan di unit
pelayanan pasien diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang
dibatasi ketat (restricted)

Perawat yang akan melakukan tindakan pemberian obat pada n hendaknya


melakukan cross check ulang identitas pasien, nama obat, dosis, cara
pemberian, dan waktu pemberian. Tidak lupa perawat melihat expired obat
yang akan diberikan.
Setelah obat diberikan, perawat memberikan paraf di form Rekam
Pemberian Obat sesuai tanggal pemberian.

4. Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat-Pasien Operasi


Salah lokasi, salah-prosedur, pasien-salah pada operasi, adalah
sesuatu yang menkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit.
Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang
tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di
dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk
verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen pasien yang tidak
adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak
mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan

16
yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible
handwritting) dan pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi
yang sering terjadi.
Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu
kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah
yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti
yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety
(2009), juga di The Joint Commission’s Universal Protocol for Preventing
Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi
operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan atas satu pada tanda yang
dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di rumah sakit
dan harus dibuat oleh operator/orang yang akan melakukan tindakan,
dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus
terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi operasi dilakukan pada
semua kasus termasuk sisi (laterality), multipel struktur (jari tangan, jari
kaki, lesi) atau multipel level (tulang belakang).
Maksud proses verifikasi praoperatif adalah untuk:
 Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar;
 Memastikan bahwa semua dokumen, foto (imaging), hasil
pemeriksaan yang relevan tersedia, diberi label dengan baik, dan
dipampang
 Melakukan verifikasi ketersediaan peralatan khusus dan/atau
implant2 yang dibutuhkan.

Tahap “Sebelum insisi” (Time out) memungkinkan semua pertanyaan


atau kekeliruan diselesaikan. Time out dilakukan di tempat, dimana
tindakan akan dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan
seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana proses itu
didokumentasikan secara ringkas, misalnya menggunakan checklist.
Elemen Penilaian Sasaran Ketepataan Operasi :

17
a. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dimengerti
untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam
proses penandaan.
b. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk
memverifikasi saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat
pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan
tersedia, tepat, dan fungsional.
c. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur
“sebelum insisi/time-out” tepat sebelum dimulainya suatu
prosedur/tindakan pembedahan.
d. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung proses
yang seragam untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan
tepat pasien, termasuk prosedur medis dan dental yang
dilaksanakan di luar kamar operasi.
Sebelum melakukan tindakan pre operasi dipastikan kembali tepat
lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan
yang diperlukan tersedia, tepat dan fungsional.
Saat akan dilakukan operasi dilakukan sign in kembali untuk memastikan
tidak ada kesalahan, time out dilakukan saat akan di mulai operasi dan sign
out dilakukan setelah operasi. Pada kasus Ny. A merupakan pasien yang
direncanakan operasi untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan, namun
bayi meninggal dan Ny. A mengalami penurunan kesadaran.

5. Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan


Penilaian Resiko Infeksi yakni :
 Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand
hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum
(al.dari WHO Patient Safety).
 Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif.
 Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan secara berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan.

18
Saat perawat akan melakukan tindakan keperawatan seperti pemberian
obat, perawatan luka post operasi, suction dan sebagainya, hendaknya
perawat melakukan hand hygiene sebelum dan sesudah melakukan
tindakan guna mengurangi risiko infeksi terhadap pasien.

Gambar 2.2 langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar

Perawat harus melakukan hand hygien berdasarkan 5 moment, yaitu:


a. Sebelum menyentuh pasien
Untuk melindungi pasien terhadap infeksi eksogen, oleh kuman
berbahaya pada tangan.
b. Sebelum melakukan prosedur aseptik
c. Setelah terpapar cairan tubuh pasien
d. Setelah bersentuhan dengan pasien
e. Setelah bersentuhan dengan lingkungan pasien.

19
Gambar : 5 moment cuci tangan

Selanjutnya perawat menggunakan alat perlindungan diri, seperti sarung


tangan dan masker untuk meminimalisir penyebab terjadinya infeksi pada
pasien. Melakukan perawatan luka operasi dengan tekhnik aseptic

6. Pengurangan Resiko Pasien Jatuh


Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi
pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani,
pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu
mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk
mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat

20
jatuh, obat dan telaah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan
keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.
Program tersebut harus diterapkan rumah sakit.
Penilaian penguranga pasien jatuh :
 Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal atas pasien terhadap
risiko jatuh dan melakukan asesmen ulang pasien bila diindikasikan
terjadi perubahan kondisi atau pengobatan, dan lain-lain.
 Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi
mereka yang pada hasil asesmen dianggap berisiko jatuh.
 Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik keberhasilan
pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian tidak
diharapkan.
 Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh di
ruma sakit.
Pengkajian resiko jatuh dilakukan di awal pada kasus Ny. A kita
menggunakan skala morse karena pasien dewasa

21
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
1. Pembagian Label
a. Pasien Gawat Darurat
Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan
terancam nyawanya dan atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila
tidak mendapatkan pertolongan secepatnya. Bisanya di lambangkan
dengan label merah. Misalnya AMI (Acut Miocart Infac).
b. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan
darurat. Bisanya di lambangkan dengan label Biru. Misalnya pasien
dengan Ca stadium akhir.
c. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam
nyawa dan anggota badannya. Bisanya di lambangkan dengan label
kuning. Misalnya : pasien Vulnus Lateratum tanpa pendarahan.
d. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Pasien yang tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan. Bisanya di
lambangkan dengan label hijau. Misalnya : pasien batuk, pilek.
e. Pasien Meninggal
Label hitam ( Pasien sudah meninggal, merupakan prioritas terakhir.
Adapun petugas triage di lakukan oleh dokter atau perawat senior yang
berpengalaman dan petugas triage juga bertanggung jawab dalam
operasi,pengawasan penerimaan pasien dan daerah ruang tunggu.
2. Pendekatan Pelayanan keperawatan gawat Darurat
Tepat adalah melakukan tindakan dengan betul dan benar, Cermat adalah
melakukan tindakan dengan penuh minat, perhatian, sabar, tanggap
terhadap keadaan pasient, penuh ketelitian dan berhati-hati dalam bertindak
serta hemat sesuai dengan kebutuhan sedangkan Cepat adalah tindakan
segera dalam waktu singkat dapat menerima dan menolong pasien, cekatan,
tangkas serta terampil. Sementara itu urutan prioritas penanganan
kegawatan berdasarkan pada 6-B yaitu :
a. B -1 = Breath – system pernafasan

22
b. B -2 = Bleed – system peredaran darah ( sirkulasi )
c. B -3 = Brain – system saraf pusat
d. B -4 = Bladder – system urogenitalis
e. B -5 = Bowl – system pencernaan
f. B -6 = Bone – system tulang dan persendian
Kegawatan pada system B-1, B-2, B-3, adalah prioritas utama karena
kematian dapat terjadi sangat cepat, rangkin pertolongan ini disebut “ Live
Saving First Aid “ yang meliputi :
a. Membebaskan jalan napas dari sumbatan
b. Memberikan napas buatan
c. Pijat jantung jika jantung berhenti
d. Menghentikan pendarahan dengan menekan titik perdarahan dan
menggunakan beban
e. Posisi koma dengan melakukan triple airway menuver, posisi shock
dengan tubuh horizontal, kedua tungkai dinaikan 200 untuk auto tranfusi
f. Bersikap tenang tapi cekatan dan berfikir sebelum bertindak, jangan
panic
g. Lakukan pengkajian yang cepat terhadap masalah yang mengancam jiwa
h. Lakukan pengkajian yang siatematik sebelum melakukan tindakan secra
menyeluruh.
Berdasarkan urain diatas dapat disimpulkan segera sesuai dengan standar
dan fasilitas yang tersedia karena faktor waktu dan infornasi terbatas untuk
mencegah kematian dan mencegah kecacatan.

23
Daftar Pustaka

Boswick John. 1997. Perawatan Gawat Darurat. Jakarta.EGC


Don Hillary. 1997. Perawatan Penderita Dalam Keadaan Kritis . Jakarta;
Binarupa Aksara
Gallok & Hudak. 1997. Keperawatan Kritis. Jakarta.EGC
Jevon & Beverley. 2008. Pemantuan pasien kritis. Jakarta.EMS
Krisanty Paula. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat darurat. Jakarta. CV
Trans info Media.
Pedoman Pelayanan Keperawatan Gawat Darurat di Rumah sakit.
2005. Direktorat bina keperawatan Departemen Kesehatan RI
Oman s kathleen dkk. 2008. Panduan belajar Keperawatan
Emergency. Jakarta.EGC
Rab Tabrani. 2007. Agenda Gawat Darurat Critical Care.Bandung, PT
Alumni
Talbot Laura. 1997. Pengkajian Keperawatan Kritis. Jakarta.EGC

24