Anda di halaman 1dari 15

ILUSTRASI KASUS

Seorang Pasien Wanita berumur 42 tahun masuk bangsal Neurologi RSAM Bukittinggi
pada tanggal 7 Januari 2009

A.ANAMNESIS:Diperoleh dari Suami Pasien

1.Keluhan Utama :Pandangan Kabur,sejak 2 bulan yang lalu.

2.Riwayat Penyakit Sekarang:

 Selama 2 bulan ini pasien sering mengeluhkan sakit kepala dan muntah setiap Siang dan
Malam
 Penglihatan Pasien mulai kabur sejak 2 bulan ini
 Pasien merasa kakinya kesemutan kalau akan tidur
 Pasien tidak bias berdiri ataupun berjalan,hanya bias duduk dan tidur saja.
 Tidak ada Penurunan Kesadaran
 Pasien tidak bisa mencium bau-bauan

3.Riwayat Penyakit Dahulu

 Riwayat Diabetes Mellitus(+).Dialami 2 bulan yang lalu.GDS:378 mg/dl.Tetapi sekarang


tidak ada lagi.GDS:74 mg/dl.Keluarga yang lain tidak ada riwayat Diabetes Melitus

4.Riwayat Penyakit Keluarga

 Riwayat Hipertensi(+).Ayah Pasien(Sudah almarhum)juga menderita


Hipertensi.Keluarga yang lain tidak ada riwayat Hipertensi

B.PEMERIKSAAN FISIK

1.Vital Sign

Keadaan Umum :Sedang Frekuensi Nadi :72x/menit

Kesadaran :Komposmentis frekuensi Nafas :25x/menit

Suhu :36,40C Tekanan Darah :160/100mmHg

2.Status Internus:Tidak Ditemukan Kelainan

Leher:

Bising Carotis(-)

1
Thorak:

Paru-paru

Inspeksi :Pergerakan Simetris kiri dan kanan

Palpasi :Fremitus kiri sama dengan kanan

Perkusi :Sonor

Auskultasi :Bunyi nafas vesikuler,ronki tidak ada,wheezing tidak ada

Jantung

Inspeksi :Iktus Kordis tidak terlihat

Palpasi :Iktus Kordis teraba di 2 jari medial linea midklavikularis ruang


interkostal V

Perkusi :Batas-batas Jantung

Atas :Ruang Interkostal II

Kanan :Linea sternalis dextra

Kiri :2 jari medial linea midklavikularis ruang interkostal V

Abdomen:

Inspeksi :Perut tidak membuncit

Palpasi :Hepar dan lien tidak teraba

Perkusi :timpani

Auskultasi :Bising Usus positif normal

3.Status Neurologikus

1.GCS: E4 M6 V5 : 15

2.Tanda Rangsang Meningeal

a) KAku Kuduk : (-)


b) Brudzinski I : (-)
c) Brudzinski II : (-)
d) Kernig : (-)

3.Tanda Peningkatan Tekanan Intrakranial :

Muntah Proyektil dan sakit kepala progresif ada

2
4.Nervus Kranial

a) NErvus I :penciuman terganggu


b) Nervus II :penglihatan kabur.Visus Mata kanan:1/300,Visus Mata Kiri:1/2 /
60
c) Nervus III , IV, VI :pupil isokor,bulat,diameter 3 mm,gerakan bola mata bias
digerakkan ke segala arah
d) NErvus V :Bisa Membuka mulut,menggerakkan rahang ke kiri dan ke
kanan
e) Nervus VII :Bisa Menutup mata,mengangkat alis:simetris
f) Nervus VIII :Fungsi pendengaran baik
g) Nervus IX, X :Arcus faring simetris,uvula di tengah
h) NErvus XI : bisa mengangkat bahu dan bisa melihat kiri dan kanan
i) Nervus XII : lidah bisa dikeluarkan,tremor(-)

Kekuatan

Anggota gerak kanan :

Kekuatan : 5/5/5

5/5/5

Tonus : eutonus

Trof : eutrof

Anggota gerak kiri :

Kekuatan : 5/5/5

5/5/5

Tonus : eutonus

Trof : eutrof

6.Sensorik

Eksteroseptif : rasa raba baik

- Proprioseptif : rasa tekan baik

7.Otonom

BAK normal.BAB kurang lancar

Eksresi keringat Normal

3
8.Refleks Fisiologis

a) Refleks Biseps :++/++


b) Refleks Triseps :++/++
c) APR :++/++
d) KPR :++/++

9.Refleks Patologis

a) Babinski : -/-
b) Chaddock : -/-
c) Gordon : -/-
d) Oppenheim : -/-

C.PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Darah : Hb :11,0 gr/dl GDR :74 mg/dl

Leukosit :9800/mm3 Ureum :10,6 mg/dl

Ht :31% Kreatinin :0,7 mg/dl

Trombosit :243.000 mm3 Bilirubin total :0,42 mg/dl

Protein total :7,2 g/dl Bilirubin D :0,13 mg/dl

Albumin :3,7 g/dl Bilirubin I :0,29 mg/dl

Globulin :3,5 g/dl SGOT :13 U/I

Kolesterol total :206 mg/dl SGPT :17 U/I

Kolesterol HDL :38 mg/dl Kolesterol LDL :151 mg/dl

D.DIAGNOSIS

 Diagnosis Klinis : SOL


 Diagnosa Topik :-
 Diagnosis Diferensial :-
 Diagnosis Sekunder :-

TERAPI :

 Captopril 12,5 mg
 Asam Mefenamat 3x1
 Laxadine 2x1@60mL sebelum tidur(Untuk Sembelit)

4
Pemeriksaan Anjuran :

 CT Scan dengan kontras


 Dirujuk Ke RSUP dr.M.Djamil untuk pemeriksaan Penunjang Lebih lengkap dan untuk
dirawat di Bagian Bedah Syaraf sambil menunggu diagnosis pasti.

FOLLOW UP

Kamis,8 Januari 2009

S/ -Pandangan Kabur

-Penciuman Terganggu(Tidak bisa mencium bau-bauan)

-Muntah(-),Mual(-),Sakit Kepala(-)

-BAK lancer,BAB Belum ada

O/ KU :Sedang Kesadaran :Komposmentis

TD :170/120 mmHg Nadi :64x/menit

Nafas :23x/menit Suhu :36,40C

SN :GCS: E4 M6 V5 :15

TRM(-) Peningkatan TIK(-)

Motorik : 5/5

5/5

A/ Suspect SOL

Terapi: - IVFD RL 12 jam/kolf

-Neurodex 2x1

-As.Mefenamat 3x1

Jumat,9 Januari 2009

S/ -Pandangan Kabur

5
-Penciuman Terganggu(Tidak bisa mencium bau-bauan)

-Muntah(-),Mual(-),Sakit Kepala(-)

-BAK lancer,BAB Belum ada

O/ KU :Sedang Kesadaran :Komposmentis

TD :170/100 mmHg Nadi :68x/menit

Nafas :23x/menit Suhu :36,40C

SN :GCS: E4 M6 V5 :15

TRM(-) Peningkatan TIK(-)

Motorik : 5/5

5/5

A/ Suspect SOL

Terapi: -Neurodex 2x1

-As.Mefenamat 3x1

-Laxadine 2x1 cth sebelum tidur

Sabtu,10 Januari 2009

S/ -Pandangan Kabur

-Penciuman Terganggu(Tidak bisa mencium bau-bauan)

-Muntah(-),Mual(-),Sakit Kepala(-)

-BAK lancer,BAB ada

O/ KU :Sedang Kesadaran :Komposmentis

TD :160/100 mmHg Nadi :72x/menit

Nafas :25x/menit Suhu :36,40C

SN :GCS: E4 M6 V5 :15

TRM(-) Peningkatan TIK(-)

Motorik : 5/5

5/5

A/ Suspect SOL

6
Terapi: -Neurodex 2x1

-Captopril 2x25

Minggu,11 Januari 2009:Pasien Pulang

7
Analisa Kasus

Teori

Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak. Yang terdiri atas
Tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal di
dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna adalah kanker di dalam otak yang
berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan di sebelahnya atau yang telah menyebar
(metastase) ke otak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.

Tumor otak dibagi menjadi dua tipe :

1. Tumor primer, yaitu tumor yang berasal dari dalam otak sendiri. Bisa berasal dari astrosit,
oligodendrosit, ependimosit, fibroblast arakhnoidal, neuroblas-meduloblas.

2. Tumor sekunder, yaitu tumor yang berasal dari karsinoma metastasis yang terjadi di bagian
tubuh lainnya, contohnya yang paling sering adalah yang berasal dari tumor paru-paru pada pria
dan tumor payudara pada wanita.

Insidens tumor otak primer terjadi pada sekitar enam kasus per 100.000 populasi per tahun.
Dimana tumor otak primer tersebut kira-kira 41% adalah glioma, 17% meningioma, 13%
adenoma hipofisis dan 12% neurilemoma. Pada orang dewasa 60% terletak supratentorial sedang
pada anak 70% terletak infratentorial. Pada anak yang paling sering ditemukan adalah tumor
serebellum yaitu meduloblastoma dan astrositoma, sedangkan pada dewasa adalah glioblastoma
multiforme.

II. KLASIFIKASI

Ada beberapa macam klasifikasi, tetapi yang paling sering dijumpai adalah klasifikasi
berdasarkan lokasi, yaitu :

1. Tumor supratentorial

a. Hemisfer otak, terbagi lagi :

Glioma :

- Glioblastoma multiforme

- Astrositoma

- Oligodendroglioma
Meningioma

Tumor Metastasis

b. Tumor struktur median

- Adenoma hipofisis

- Tumor glandula pienalis

- Kraniofaringioma

2. Tumor infratentorial

a. Schwanoma akustikus

b. Tumor metastasis

c. Meningioma

d. Hemangioblastoma

II. ETIOLOGI

Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah banyak
penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :

1. Herediter

Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma,
astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis
tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan
baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada
bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada
neoplasma.

2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)

Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai


morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan
embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya.
Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan
kordoma.

3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan
degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah
dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.

4. Virus

Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan
maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga
saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada
sistem saraf pusat.

5. Substansi-substansi Karsinogenik

Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui
bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini
berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan

IV. GEJALA KLINIK

Gejala klinik pada tumor intrakranial dibagi dalam 3 kategori, yaitu :

1. Gejala umum

2. Gejala lokal

3. Gejala lokal yang menyesatkan (False lokalizing features)

1. Gejala Klinik Umum

Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat infiltrasi difus dari
tumor. Gejala yang paling sering adalah sakit kepala, perubahan status mental, kejang, nyeri
kepala hebat, papil edema, mual dan muntah. Tumor maligna (ganas) menyebabkan gejala yang
lebih progresif daripada tumor benigna (jinak). Tumor pada lobus temporal depan dan frontal
dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang sangat besar tanpa menyebabkan defisit
neurologis, dan pada mulanya hanya memberikan gejala-gejala yang umum. Tumor pada fossa
posterior atau pada lobus parietal dan oksipital lebih sering memberikan gejala fokal dulu baru
kemudian memberikan gejala umum.

Nyeri Kepala

Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian berkembang
menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat juga sering diperhebat oleh
perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri
kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80 %
dan terutama pada bagian frontal. Tumor pada fossa posterior memberikan nyeri alih ke oksiput
dan leher. (4,9,10)
Perubahan Status Mental

Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan berkurangnya inisiatif
adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor lobus frontal atau temporal. Gejala ini
bertambah buruk dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma. Tumor
di lobus frontalis daerah prefrontal bisa memberikan gejala gangguan mental sebelum
munculnya gejala lainnya, berupa perubahan perasaan, kepribadian dan tingkah laku serta
menderita merasakan perasaan selalu senang (euforia); jadi menyerupai gejala psikiatris. Makin
besar tumomya, gejala gangguan mental ini semakin nyata dan kompleks. Afasia motorik
(gangguan bicara bahasa berupa hilangnya kemampuan mengutarakan maksud) bisa terjadi bila
tumor mengenai daerah area Broca yang terletak di belahan kiri belakang. Reflck me-megang
(grasp reflex) juga khas untuk tumor di lobus frontalis ini. Pada stadium yang lebih lanjut bisa
terjadi gangguan pembauan (anosmia), gangguan visual, gangguan keseimbangan dalam
berjalan, gangguan bola mata karena kelumpuhan sarafnya serta edema papil

Seizure

Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti astrositoma,
oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor di lobus frontal baru
kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.

Edema Papil

Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik neuroimaging tumor
dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak menimbulkan gejala hilangnya kemampuan
untuk melihat, tetapi edema papil yang berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta,
penyempitan lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap.
Tumor di lobus oksipitalis memberikan gejala awal ter-utama nyeri kepala. Gejala khas yang
muncul yaitu defek lapangan penglihatan sebagian. Lesi di hemisfer dominan bisa menimbulkan
gejala tidak mengenal benda yang dilihat (visual object agnosia) dan kadang-kadang tidak
mengenal warna (agnosia warna), juga tidak mengenal wajah orang lain (prosopagnosia)

Muntah

Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa tumor tersebut juga
mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada pagi dan malam hari, dimana
muntah yang proyektil tanpa didahului mual menambah kecurigaan adanya massa intrakranial.

2. Gejala Klinik Lokal


Manifestasi lokal terjadi pada tumor yeng menyebabkan destruksi parenkim, infark atau edema.
Juga akibat pelepasan faktor-faktor ke daerah sekitar tumor (contohnya : peroksidase, ion
hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin), semuanya dapat menyebabkan disfungsi fokal yang
reversibel.

Tumor Kortikal

Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti paralisis pos-iktal.
Meningioma kompleks atau parasagital dan glioma frontal khusus berkaitan dengan kejang.
Tanda lokal tumor frontal antara lain disartri, kelumpuhan kontralateral, dan afasia jika hemisfer
dominant dipengaruhi. Anosmia unilateral menunjukkan adanya tumor bulbus olfaktorius.

Tumor Lobus Temporalis

Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, defisit
lapangan pandang homonim, perubahan kepribadian, disfungsi memori dan kejang parsial
kompleks. Tumor hemisfer dominan menyebabkan afasia, gangguan sensoris dan berkurangnya
konsentrasi yang merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Adapun gejala yang lain
diantaranya disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, hemianopsia/ quadrianopsia inferior
homonim kontralateral dan simple motor atau kejang sensoris.

Tumor Lobus Oksipital

Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang kongruen. Kejang fokal
lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral episodic terhadap cahaya senter,
warna atau pada bentuk geometri.

Tumor pada Ventrikel Tiga dan Regio Pineal

Tumor di dalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat ventrikel atau aquaduktus
dan menyebabkan hidrosepalus. Perubahan posisi dapat meningkatkan tekanan ventrikel
sehingga terjadi sakit kepala berat pada daerah frontal dan verteks, muntah dan kadang-kadang
pingsan. Hal ini juga menyebabkan gangguan ingatan, diabetes insipidus, amenorea, galaktorea
dan gangguan pengecapan dan pengaturan suhu.

Tumor Batang Otak

Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan pandang, nistagmus, ataksia dan
kelemahan ekstremitas. Kompresi pada ventrikel empat menyebabkan hidrosepalus obstruktif
dan menimbulkan gejala-gejala umum.

Tumor Serebellar

Muntah berulang dan sakit kepala di bagian oksiput merupakan gejala yang sering ditemukan
pada tumor serebellar. Pusing, vertigo dan nistagmus mungkin menonjol.
3. Gejala Lokal yang Menyesatkan (False Localizing Features)

Gejala lokal yang menyesatkan ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor yang
sebenarnya. Sering disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial, pergeseran dari struktur-
struktur intrakranial atau iskemi. Kelumpuhan nervus VI berkembang ketika terjadi peningkatan
tekanan intrakranial yang menyebabkan kompresi saraf. Tumor lobus frontal yang difus atau
tumor pada korpus kallosum menyebabkan ataksia (frontal ataksia).

V. DIAGNOSIS

Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita tumor otak yaitu melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologik yang teliti, adapun pemeriksaan penunjang yang
dapat membantu yaitu CT-Scan dan MRI. () Dari anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala
yang dirasakan oleh penderita yang mungkin sesuai dengan gejala-gejala yang telah diuraikan di
atas. Misalnya ada tidaknya nyeri kepala, muntah dan kejang. Sedangkan melalui pemeriksaan
fisik neurologik mungkin ditemukan adanya gejala seperti edema papil dan deficit lapangan
pandang.

Pemeriksaan Penunjang

CT scan dan MRI memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi
awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit otak yang
difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor. Kadang
sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.

Foto polos dada dan pemeriksaan lainnya juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah
tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun
multiple pada otak.

Pemeriksaan cairan serebrospinal juga dapat dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan
juga marker tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan
massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan
patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses
infeksi (abses cerebri).

VI. TERAPI

Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain :

- kondisi umum penderita

- tersedianya alat yang lengkap

- pengertian penderita dan keluarganya

- luasnya metastasis.
adapun terapi yang dilakukan, meliputi Terapi Steroid, pembedahan, radioterapi dan kemoterapi.

Terapi Steroid

Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak berefek
langsung terhadap tumor.

Pembedahan

Pembedahan dilaksanakan untuk menegakkan diagnosis histologik dan untuk mengurangi efek
akibat massa tumor. Kecuali pada tipe-tipe tumor tertentu yang tidak dapat direseksi.

Radioterapi

Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi total sebesar 5000-6000 cGy tiap
fraksi dalam beberapa arah. Kegunaan dari radioterapi hiperfraksi ini didasarkan pada alasan
bahwa sel-sel normal lebih mampu memperbaiki kerusakan subletal dibandingkan sel-sel tumor
dengan dosis tersebut. Radioterapi akan lebih efisien jika dikombinasikan dengan kemoterapi
intensif.

Kemoterapi

Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi tetap diperlukan
sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada tumor-tumor tertentu seperti
meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak, terapi tambahan
berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif.

VII. DIAGNOSIS BANDING

Gejala yang paling sering dari tumor otak adalah peningkatan tekanan intrakranial, kejang dan
tanda deficit neurologik fokal yang progresif. Setiap proses desak ruang di otak dapat
menimbulkan gejala di atas, sehingga agak sukar membedakan tumor otak dengan beberapa hal
berikut :

- Abses intraserebral

- Epidural hematom

- Hipertensi intrakranial benigna

- Meningitis kronik. (5)

VIII. PROGNOSIS

Prognosisnya tergantung jenis tumor spesifik. Berdasarkan data di Negara-negara maju, dengan
diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan
radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan angka
ketahanan hidup 10 tahaun (10 years survival) berkisar 30-40%. Terapi tumor otak di Indonesia
secara umum prognosisnya masih buruk, berdasarkan tindakan operatif yang dilakukan pada
beberapa rumah sakit di Jakarta.