Anda di halaman 1dari 12

DESAIN ULANG KEMASAN BISKUIT NISSIN “BUTTER

COCONUT”

Makalah Metodelogi Desain

Disusun oleh:
Fahmi Afrizal (5016020037)

Dosen:

Dina Martin, M.Ds

Program Studi Desain Grafis


Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan
Politeknik Negeri Jakarta
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-

Nya sehingga penulisan makalah ini dapat siselasaikan dengan tepat waktu.

Makalah yang berjudul Desain Ulang Kemasan Biskuit Nissin “Butter Coconut”,

ditulis untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metodelogi Desain. Pada kesempatan

yang baik ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada Ibu

Dina Martin, M.Ds selaku dosen mata kuliah Metodelogi Desain, dan teman-teman kelas

DG 3F yang penulis sayangi.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan baik bentuk isi,

maupun teknik penyajiannya. Oleh sebab itu, kritik yang bersifat membangun dari

berbagai pihak, penulis terima dengan tangan terbuka serta sangat diharapkan. Semoga

makalah ini memenuhi tujuan yang diharapkan.

Depok, Oktober 2017

Penulis
A. Latar Belakang

Nissin adalah merek dagang dari perushaan PT Nissin Biscuit Indonesia.

Memiliki varian produk terkenal seperti Nissin Wafers, Nisin Wales Choco Shoe,

dan Nissin Butter Cocounut.

Dalam kemasan Nissin Butter Coconut memiliki kekurangan baik dari

prinsip dan elemen desain, serta penyampaian komunikasi. Untuk itu perlunya

desain ulang kemasan Nissin Butter Coconut guna memberikan citra produk yang

lebih baik, serta diharapkan dapat meningkatkan penjualan produk.

B. Pofil Perusahaan PT Nissin Biscuit Indonesia

PT Nissin Biscuit Indonesia berdiri pada Januari 1997 di atas lahan seluas

delapan hektare serta memiliki pabrik di Semarang, Jawa Tengah tepatnya di

Ungaran. PT Nissin Biscuit Indonesia memiliki tiga brand yaitu Nissin, Monde,

dan Khong Guan.

Foto 2.1: Pabrik PT Nissin Biscuit Indonesia di Semarang


http://seputarsemarang.com

Produk dari brand Nissin berjumlah 56 antara lain: Butter Coconut, Nissin

Wafers, Assorted Nissin, Walens Choco Soes, , Vegetable Crackers, Biskuit

Kelapa, Peanut Creakers, Mini Stick, Nissin Marie Biscuit, Cryspy roll dll.
Selanjutnya produk dari brand Monde berjumlah empat belas antara lain: Monde

Butter Cookies, Serena Egg Roll, Serena Snack, Pin Pin Danish dll. Sementara

produk dari Khong Guan berjumlah empat belas antara lain: Asorted Red, Khong

Guan Marie Biscuit, Malkist, Crackers dll.

PT Nissin Biscuit Indonesia memiliki standar mutu tinggi antara lain

penerapan CPMB (Cara Produksi Makanan yang Baik), SSOP (Sanitation

Standard Operating Procedure), HACCP (Hazzard Analysis and Critical Control

Point) dan ISO 22000:2005 serta label halal dari Majelis Ulama Indonesia dan

berbagai sertifikat lainnya.

(a) (b) (c)

Foto 2.2: Produk brand Nissin (a)Nissin Wafers, (b) Wales


Choco Soes, dan (c) Biscuit Coconut

(a) (b) (c)

Foto 2.3: Produk brand Monde (a) Monde Butter Cookies, (b)
Serena Egg Roll, dan (c) Serena Snack
(a) (b) (c)

Foto 2.4: Produk brand Khongguan (a) Assorted biscuit, (b)


Marrie, dan (c) Crackers

C. Client Brief Biskuit Nissin Butter Coconut

Berikut adalah client brief dari Biskuit Nissin Butter Coconut.

a. Product Knowledge

Berikut adalah product knowledge Biskuit Nissin Butter Coconut:

1 Foto produk

Foto 2.5: Foto kemasan produk


Sumber gambar: dokumen pribadi
2 Dimensi kemasan 26 x 7 x 4 cm

3 Bahan kemasan primary packaging : Plastik jenis foil-PET

4 Berat bersih 200 g

5 Dimensi biskuit 5,5 x 3,5 cm dengan tepian bergelombang

6 Rasa Kelapa

7 Toping Gula dan gula yang sudah mencair

b. Analisis Pasar Biskuit Nissin Butter Coconut

Berikut adalah client brief dari Biskuit Nissin Butter Coconut.

-Ibu dan atau bapak usia 30-45 tahun.

1 Target Audience -Kelas ekonomi A&B (menengah atas dan

menegah)

Produk ini ingin menyampaikan biskuit dengan


2 Key Message
kehangatan kekeluargaan.

Komunikasi yang ingin disampaikan adalah

kekeluargaan

What, How, and Cara menyampaikan komunikasi desain via desain


2
Whent to say? kemasan

Didistribusikan setiap hari untuk target pasar, tidak

terpaut di waktu-waktu tertentu


Strengths:

-Biskuit yang terjangkau dengan harga Rp7.000-

Rp8.000

-Rasa yang relatif enak dan disukai pria dan atau

wanita dewasa

Weaknesses:

-Bentuk kemasan yang kurang modern

-Hanya menggunakan plastik, sehingga konsumen

sulit untuk mengambil biskuit dari samping

kemasan.

-Hanya dijual di mini market dan super market,

4 SWOT analysis sehingga penjualan produk tidak sampai ke warung-

warung

Opportunities:

-Produk dari PT Nissin Biscuit Indonesia, tidak

asing bagi masayarakat Indonesia dan telah menjadi

pelopor perindustrian biskuit di Indonesia

-Dapat dijumpai di mini market dan super market di

Indonesia

Threats:

-Kemasan yang kurang menarik dan kurang

modern, sehingga konsumen lebih memilih produk


lain yang kemasannya menarik

-Kurangnya media promosi seperti media sosial

instagram, TV commercial, dan billboard.

5 Positionong Biskuit dengan rasa kehangatan keluarga

6 Competitor Roma Biskuit Kelapa

d. Hasil Angket Mengenai Biskuit Nissin Butter Coconut

Angket dibuat menggunakan google formulir, dengan 74 peserta. Sebelum mengisi

angket, disajikan gambar kemasan Biskuit Nissin Butter Coconut. Peserta dapat memilih

jawaban lebih dari satu. Berikut adalah pertanyaan dan jawaban peseta:

1. Apakah Anda tahu perusahaan Nissin dan produknya?

Dalam pertanyaan ini terdapat 72 tanggapan dengan jawaban:

Tahu : 88,9%
Tidak tahu : 11,1%

2. Menurut Anda bagaimana keadaan desain kemasan Biskuit Nissin Butter

Coconut?

Dalam pertanyaan ini terdapat 71 tanggapan dengan jawaban:

Jadul : 47,9%
Tidak Menarik : 35,2%
Tidak Relevan dengan Zaman Sekarang : 22,5%
Sudah Baik : 15,5%
Lainnya : 6%

3. Apa yang mengganggu dalam kemasan Biskuit Nissin Butter Coconut?

Dalam pertanyaan ini terdapat 70 tanggapan dengan jawaban:

Tulisan tidak terlihat : 48,6%


Background terdapat illustrasi abstrak berwarna putih : 47,1%
Illustrasi kelapa lebih kecil dari pada biskuit : 25,7%
Illustrasi kelapa kurang menarik : 20%
Lainnya : 19,6%

4. Menurut Anda target audiance-nya untuk produk ini siapa?

Dalam pertanyaan ini terdapat 71 tanggapan dengan jawaban:

Kakek-Nenek 60 tahun keatas : 50,7%


Keluarga (keluarga kecil/besar) : 43,7%
Ibu-ibu : 29%
Lainnya : 1,4%
5. Apakah Anda pernah melihat iklan dari produk tersebut?

Dalam pertanyaan ini terdapat 71 tanggapan dengan jawaban:

Tidak pernah : 60,6%


Pernah, namun produk nissin yang lain : 50,7%
Pernah di sosial media : 2,8%

6. Apa saran Anda untuk me-redesign kemasan ini?

Dalam pertanyaan ini terdapat 71 tanggapan dengan jawaban:

Desain sederhana (simple) : 45,1% :


Desain mengikuti target pasar : 38%
Desain modern : 38%
Tidak ada ide : 9,9%

D. Analisis Masalah Desain Kemasan Biskuit Nissin Butter Coconut

Permasalahan yang timbul dalam desain kemasan produk ini dari hasil angket dan

dapat disimpulkan sebagai barikut.

1. Tipografi

Tpografi yang digunakan dalam kemasan ini tidak memiliki kesatuan desain

(untiy of design). Dalam tulisan “Coconut” font yang digunakan dalam huruf pertama

berjenis script, sedangkan untuk huruf selanjutnya menggunakan jenis serif. Hal ini
menyebabkan persepsi konsumen dengan membaca “oconut” bukan “Coconut”. Saran

dalam masalah ini yaitu untuk menyamakan jenis huruf salam satu kata.

Selanjutnya pemilihan warna untuk tipografi yaitu merah, mungkin mengikuit

color corporate dari PT Nissin Biscuit Indonesia. Pemilihan warna merah pada

tipografi terkesan tidak ramah, karena merah sendiri memiliki arti agresif walaupun

dapat diartikan sebagai enegi;gairah. Saran dalam hal ini yaitu memilih warna untuk

tipografi yang ramah;kalem;hangat.

Sumber: dokumen pribadi

Foto 2.6: Jenis font yang tidak sama pada kalima “Coconut” dengan “C”
berjanis script, dan “oconut” berjenis serif

2. Warna

Warna yang digunakan dalam kemasan ini untuk background adalah abu-abu.

Pemilihan warna ini menurut saya sudah tepat, karena psikologi warna dari abu-abu

sendiri yaitu netral. Namun yang menjadi masalah adalah warna abu-abu dibuat

metalik (silver) karena dipengaruhi dari jenis pelastik yang digunakan.

Warna silver ini membuat kesan terang (karena pantulan cahaya) membuat

konsumen sulit untuk melihat elemen-elemen desain di dalam kemasan. Konsumen

harus melihat dari sudut pandang yang berbeda untuk melihat jelas elemen-elemen

visual pada kemasan. Saran dalam masalah ini mungkin dapat di desain warnanya

sedemikian rupa agar konsumen dapat melihat jelas menggunakan teori dasar warna.
Sumber: dokumen pribadi

Foto 2.7: Kurangnya keterbacaan elemen viusal pada kemasan

3. Terdapat illustrasi abstrak berwarna putih

Mungkin ilustrasi abstrak tersebut merupakan manifestasi dari bentuk parutan

kelapa, mengingat biskuit ini mempunyai rasa kelapa. Namun illustrasi abstrak yang

berwarna putih pada background membuat kesan retakan;lecek,lesu sehingga persepsi

konsumen bahwa produk tersebut sudah tidak terjaga kualitasnya. Juga illustrasi

tersebut menggangu untuk elemen-elemen visual lainnya (tidak terlihat). Saran dalam

kasus ini yaitu menghilangkan illustrasi tersebut.

Sumber: dokumen pribadi

Foto 2.8: Illustrasi abstak pada background kemasan

4. Pemilihan kemasan plastik

Pemilihan kemasan plastik yang mengkilau (karena pantulan cahaya) membuat

konsumen sulit melihat elemen-elemen viusual di permukaan kemasan. Saran untuk


masalah ini yaitu pemilihan plastik seperti plastik laminasi doff atau plastik jenis lain

guna menghindari kilauan.

5. Hanya menggunakan primary packaging

Pada kemasan ini hanya menggunakan plastik pembungkus sebagai primary

packaging. Konsumen merasa kesulitan untuk mengambil biskuit apabila kemasan

dibuka dari sisi samping. Perlunya tambahan secondary packaging untuk menunjang

fleskibelitas seperti penambahan plastik tray. Mengingat key message dalam produk

ini “kekeluargaan”, dengan adanya penambahan plastik tray konsumen dengan mudah

berbagi kebersamaan dalam kekeluargaan dan tidak perlu menggambil wadah piring

untuk meletakan biskuit.

Sumber: allforpack.eu

Foto 2.8: Plastik tray

6. Desain keseluruhan tidak menarik

Desain keseluruhan relatif terlihat tidak menarik bagi masyarakat era sekarang.

Kemasan terkesan jadul dan tidak modern. Perlunya desain yang simple serta modern

namun tidak mengurangi komunikasi yang disampaikan dan desain menyesuaikan

target pasar.