Anda di halaman 1dari 74

.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. W POST OPERASI HERNIA


INGUINALIS LATERALIS HARI KE-1 DI RUANG PERABU 3
SILIWANGI RSUD GUNUNG JATI KOTA CIREBON
TAHUN 2018

PROPOSAL
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Keperawatan

Disusun Oleh
IRFAN RISMAYUDA
NIM. 4201.0415.A.042

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes Cirebon)


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
CIREBON
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dewasa ini di zaman modern dengan adanya peningkatan derajat

ekonomi yang juga terjadi pada masyarakat sangat berpengaruh terhadap

gaya hidup sehari-hari,misalnya pola aktifitas dan pekerjaan,namun tanpa

disadari bahaya yang mengancam kesehatan juga tidak dapat di

hindari.hernia merupakan masalah kesehatan yang sering muncul karena

hal tersebut. (1)

Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur

melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-

bagian tersebut. (1)

Secara umum hernia lebih sering terjadi pada orang yang sudah

lanjut usia, karena pada usia lanjut dinding otot sudah lemah, sehingga

sangat berpeluang terjadinya hernia. Dan umumnya terjadi pada laki-laki

dari pada perempuan dan lebih sering pada sisi kanan dari pada kiri. Dan

adapun faktor presipitasi yang dapat mengakibatkan hernia antara lain :

obesitas, kehamilan, mengejan, batuk kronis, mengangkat beban berat. (1)

Tanda dan gejala lebih dini/ awal biasanya tidak mereka sadari,

namun keadaan tersebut akan baru mereka sadari apabila sudah

menimbulkan rasa sakit. Seperti juga tanda dan gejala dari penyakit hernia

inguinalis yang pada waktu umumnya ada benjolan di lipat paha yang

1
muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang

setelah berbaring. Karena keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada

biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau para umbilical berupa Tneri

visceral. (2)

Maka seseorang biasanya akan membiarkan saja karena tidak

menimbulkan sakit, bila terasa sakit baru mereka berorat ke dokter atau

tenaga kesehatan lain. (2)

Keadaan ini timbul biasanya pada golongan menengah kebawah

dimana gizi yang buruk dapat mempengaruhi perkembangan otot perut.

Insiden hernia inguinalis pada bayi dan anak –anak antara 1 dan 2%.

Kemungkinan terjadi hernia pada sisi kanan 60%, sisi kiri 20-25% dan

bilateral 15%. Insiden hernia inguinalis pada orang dewasa kira-kira 2%.

Kemungkinan kejadian hernia bilateral dari insiden tesebut mendekati

10% . Insiden hernia meningkat dengan bertambahnyaa umur. Pada usia

produktif meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra

abdomen dan berkurangnya kekuatan jaringan penunjang. (3)

Berdasarkan buku laporan RSUD Gunung Jati Kota Cirebon angka

kejadian Hernia Inguinalis di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon secara

umum tidak menjadi prioritas dalam 10 besar kasus di Rekam Medik. Data

di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon tercatat dari bulan Oktober sampai

dengan Desember 2017 terdapat kasus hernia sebanyak 71 orang. (4)

2
Berdasarkan data tersebut diatas mendorong penulis untuk

mengangkat permasalahan yang ada pada gangguan sistem pencernaan

yaitu Post Op Hernia Inguinalis, Maka penulis memaparkan untuk

menyusun Asuhan Keperawatan Post Operasi Hernia Inguinalis Pada

Tn.W di Ruang Perabu Siliwangi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon Tahun

2018.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka penulis melakukan

pengkajian lebih lanjut dengan melakukan Asuhan Keperawatan Post

Operasi Hernia Inguinalis Hari Ke-1 Pada Tn. W di Ruang Perabu

Siliwangi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon Tahun 2018 dengan membuat

rumusan masalah, yaitu “ Bagaimana Asuhan Keperawatan Post Operasi

Hernia Inguinalis Pada Tn. W di Ruang Prabu Siliwangi RSUD Gunung

Jati Kota Cirebon Tahun 2018.

1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan post

operasi Hernia penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan secara

komprehensif dan sesuai standar asuhan keperawatan yang berlaku.

1.3.2. Tujuan Khusus

3
Setelah melakukan asuhan keperawatan pasien dengan post operasi

apendisitis penulis dapat:

a. Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data baik

melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

yang dibutuhkan untuk menilai keadaan pasien secara meTneluruh

pada pasien dengan post operasi hernia inguinalis.

b. Mampu menganalisa masalah- masalah yang muncul pada pasien

dengan post operasi hernia inguinalis.

c. Mampu merumuskan diagnosa dan memprioritaskan masalah pada

pasien dengan post operasi hernia inguinalis.

d. Mampu membuat perencanaan tindakan asuhan keperawatan pada

pasien dengan operasi hernia inguinalis.

e. Mampu melaksanakan rencana asuhan keperawatan pada pasien

dengan post operasi hernia inguinalis.

f. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada

pasien dengan post operasi hernia inguinalis.

g. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah

dilaksanakan.

1.4. Ruang Lingkup

Berdasarkan uraian diatas maka ruang lingkup penulisan adalah

pelaksanaan Asuhan Keperawatan Post Operasi operasi hernia inguinalis.

4
Hari ke-1 Pada Tn. W di Ruang Prabu Siliwangi RSUD Gunung Jati dari

tanggal 05 Sampai dengan 07 Januari 2018.

1.5. Manfaat

1.5.1. Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi

referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya

dalam hal asuhan keperawatan pasien yang mengalami Post Operasi

Hernia Inguinalis Hari ke-1 Pada Tn. W di Ruang Prabu Siliwangi RSUD

Gunung Jati Kota Cirebon

1.5.2. Secara Praktis

1. Bagi Mahasiswa

a. Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam

pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi

hernia inguinalis.
b. Menambah ketrampilan atau kemampuan mahasiswa dalam

menerapakan asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi

hernia inguinalis.

2. Bagi Institusi

Sebagai bahan evaluasi sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam

melakukan asuhan keperawatan pada pasien post operasi khususnya

post operasi hernia inguinalis.

5
3. Bagi Lahan Praktik

Dapat dijadikan bahan masukan bagi perawat di rumah sakit dalam

melakuakan tindakan asuahan keperawatan dalam rangka

meningkatkan mutu pelayanan yang baik khususnya pada pasien

dengan post oprasi hernia inguinalis.

1.6. Metode Penulisan

1.6.1. Metode Penyusunan

Penulis menggunakan metode deskriptif yaitu metode ilmiah yang bersifat

mengumpulkan data, menganalisa data dan menarik kesimpulan dengan

pendekatan studi kasus. Penulis menggambarkan suatu proses keperawatan

pada Tn. W dengan post operasi hernia inguinalis hari ke-1 dari pengkajian

sampai evaluasi.

1.6.2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :

1. Observasi partisipatif

Observasi partisipatif adalah suatu teknik pengumpulan data

yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan melaksanakan

asuhan keperawatan pada pasien selama dirawat di rumah sakit dan

lebih bersifat obyektif, yaitu dengan melihat respon pasien setelah

dilakukan tindakan. Penulis melakukan observasi partisipatif dengan

cara melihat respon pasien setelah penulis melakukan tindakan

keperawatan.(5)

2. Wawancara

6
Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab

tentang masalah yang dihadapi pasien. Penulis melakukan wawancara

langsung dengan pasien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lain

mengenai tentang teori keadaan pasien dengan posthemoroidektomi.

Penulis melakukan perawatan secara langsung pada Tn. W dengan post

operasi hernia inguinalis hari ke-1 di ruang Prabu Siliwangi RSUD

Gunung Jati. (5)

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik adalah teknik pemgumpulan data dengan

melakukan pemeriksaan mulai dari inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi untuk mendapatkan data fisik pasien secara keseluruhan.

Penulis melakukan pemeriksaan fisik secara langsung pada Tn. W

dengan post operasi hernia inguinalis di ruang Prabu Siliwangi RSUD

Gunung Jati Cirebon. (5)

1.7. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan terdiri dari 5 bab yaitu :

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan

masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, sistematika

penulisan, metode penulisan dan teknik pengumpulan data.

BAB II : Tinjauan Pustaka yang terdiri dari konsep medis sinusitis dan

konsep asuhan keperawatan.

BAB III : Metode Penelitian

7
BAB IV : Tinjauan Kasus yang terdiri dari pengkajian, perumusan

diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.

BAB V : Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian

Hernia merupakan suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu

rongga melalui lubang.(1)

Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur

melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-

bagian tersebut. (1)

Hernia merupakan masuknya organ kedalam rongga yang

disebabkan oleh prosesus vaginalis berobliterasi. Sumber lain mengatakan

bahwa hernia merupakan sebuah tonjolan atau benjolan yang terjadi

disalah satu bagian tubuh yang seharusnya tidak ada. (1)

Secara umum hernia merupaka tonjolan yang terjadi akibat protrusi

abnormal jaringan, organ atau bagian organ melalui struktur yang secara

normal berisi.

2.1.2 Anatomi Fisiologi

Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima

makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh

dengan jalan proses pencernaan dengan enzim dan zat cair yang terbentang

mulai dari mulut sampai anus. (1)

9
Berikut ini adalah bagian-bagian dari anatomi struktur sistem

pencernaan. (2) Struktur pencernaan adalah:

1. Mulut

Mulut merupakan permulaan saluran pencernaan, selaput lendir

mulut ditutup epithelium yang berlapis-lapis. Dibawahnya terletak

kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan lendir. Selaput ini kaya

akan pembuluh darah dan memuat ujung akhir saraf sensoris didalam

rongga mulut. (3)

2. Faring

Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dan

kerongkongan (esofagus). Didalam lengkung faring terdapat tonsil

(amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung

limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak

persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya

dibelakang rongga mulut dan hidung.

3. Esofagus/Kerongkongan

Esofagus merupakan saluran pencernaan yang menghubungkan

tekak dengan lambung, 25cm, mulai dari faring sampai pintu masuk

kardiak dibawah ± panjangnya lambung.

4. Gaster/Lambung

Lambung merupakan bagian dari saluran yang dapat

mengembang paling banyak terutama di daerah spingter. Lambung

terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan osofagus

10
melalui orifisium pilorik, terletak dibawah diafragma didepan pankreas

dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri. (4)

5. Usus halus

Merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang

berpangkal dari pilorus dan berakhir pada sekum, panjangnya ± 6

meter, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan

dan absorbsi hasil pencernaan. (4) Usus halus dibagi tiga bagian, yaitu:

a) Duodenum/Usus 12 jari, panjang ± 25cm berbentuk seperti tapal

kuda melengkung kekiri, bagian kanan duodenum terdapat selaput

lendir yang disebut papilla vateri, disini terdapat muara saluran

empedu dan saluran pankreas. Empedu dibuat dihati untuk

dikeluarkan di duodenum melalui duktus koleduktus yang

fungsinya mengemulsikan lemak dengan bantuan lipase. Pankreas

menghasilkan amilase yang berfungsi mencerna hidrat arang

menjadi disakarida dan tripsin yang berfungsi mencerna protein

menjadi asam amino atau albumin dan polipeptida. (4)

b) Yeyunum/Jejunum, terletak di regio abdominalis media sebelah

kiri dengan panjang ± 2-3 meter. (4)

c) Ileum, terletak di regio abdominalis bawah dengan panjang ± 4-5

meter, lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen

posterior dengan perantara lipatan peritonium yang berbentuk

kipas atau yang dikenal sebagai mesenterium. (4)

11
6. Usus besar/Intestinum mayor

Usus besar/Intestinum mayor 1,5m, lebarnya ± 5-6cm. Bagian-

bagian usus besar yaitu kolon asenden panjangnya 13cm, apendik

(usus buntu), kolon tranversum panjangnya ± 38cm, kolon desenden

panjangnya ± 25cm, kolon sigmoid, anus. (4)

7. Peritonium (selaput perut)

Peritonium terdiri dari dua bagian yaitu: peritonium parietal yang

melapisi dinding rongga abdomen dan peritonium viseral yang

melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Fungsi

peritonium:

a) Menutupi sebagian dari rongga abdomen dan pelvis.

b) Membentuk pembatas yang halus sehingga organ yang ada dalam

rongga peritonium tidak saling bergesekan.

c) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ

terhadap dinding posterior abdomen.

d) Kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi

terhadap infeksi. (9)

Bagian – bagian hernia:

1) Kantong hernia

Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis.

Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia

incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis.

12
2) Isi hernia

Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong

hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus

(omentum).

3) Pintu hernia

Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui

kantong hernia.

4) Leher hernia

Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan

kantong hernia. (4)

2.1.3 Etiologi

Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup

atau melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi. (8) Adapun

beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hernia antara lain

sebagai berikut:

1. Kongenital

Terjadi akibat prosesus vaginalis peritonium disertai dengan

annulus inguinalis yang cukup lebar, terutama ditemukan pada bayi.

Lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat

kemudian dalam hidup. Adapun penyebab kongenital atau bawaan

dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kelainannya:

a) Hernia congenital sempurna. Bayi sudah menderita hernia kerena

adanya defek pada tempat – tempat tertentu. (5)

13
b) Hernia congenital tidak sempurna. Bayi dilahirkan normal

(kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat-

tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0 – 1 tahun)

setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena

dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan,

batuk, menangis). (4)

2. Prosesus vaginalis yang terbuka, yang disebabkan oleh:

a) Pekerjaan mengangkat barang-barang berat.

b) Batuk kronik, bronchitis kronik, TBC.

c) Hipertropi prostat dan konstipasi.

d) Pekerja keras(4)

3. Kelemahan otot dinding perut, yang disebabkan oleh:

a) Usia tua, sering melahirkan.

b) Perubahan defek setelah appendiktomy(4)

4. Aquisial, aquisial adalah hernia yang terbuka disebabkan karena

adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh fakor lain yang dialami

manusia selama hidupnya, antara lain :

a) Tekanan intraabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien

yang sering mengejan yang baik saat BAB maupun BAK. (4)

b) Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan

ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat

terkena hernia karena banyaknya jaaringan lemak pada tubuhnya

yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong pada LMR.

14
c) Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.

d) Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intra

abdominal. (4)

2.1.4 Klasifikasi Hernia


(10)
Terdapat pembagian hernia atau klasifikasi hernia. Berikut ini

adalah pembagian atau klasifikasi dari hernia:

1. Hernia Menurut Lokasinya.

a) Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha.

Batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran

sperma masuk ke dalam kanalis inguinalis. Jenis ini merupakan

yang tersering ditemukan atau terjadi pada pasien dan dikenal

dengan istilah turun berok atau burut. (5)

b) Hernia Scrotalis adalah hernia yang terjadi apabila usus masuk

kedalam kantung scrotum ini terjadi bila batang usus melewati

cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk ke dalam

kanalis inguinalis kemudian masuk kedalam kantong scrotum dan

menekan pada isi kantung scrotum sehingga scrotum membesar.

c) Hernia umbilikus adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk

melalui prosecus discus pada pusat atau sering disebut hernia di

pusat, hernia jenis ini terjadi pada bayi yang baru lahir yang

disebabkan karena kelainaan kongenital. (5)

d) Hernia femoralis adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk

melalui prosecus discus di paha. (5)

15
2. Hernia Menurut Isinya(6)

a) Hernia usus halus adalah hernia yang terjadi bila yang melewati

cincin abdomen adalah usus halus.

b) Henia Omentum

c) Hernia omentum adalah hernia yang terjadi bila yang melewati

cincin abdomen adalah penyangga usus. Omentum adalah berupa

organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya

usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).

d) Hernia Nukleus Pulposus

e) Adalah jenis hernia yang terjadi apabila, system syaraf pusat atau

sumsum tulang belakang pada vertebra terjepi pada discus

vertebrae terjadi karena trauma yang melibatkan tulang belakang

misalmya jatuh dalam posisi terduduk. (6)

3. Hernia Menurut Sifatnya(6)

a) Hernia Reponibel

Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengejan

dan masuk jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan

nyeri/gejala.

b) Hernia Ireponibel

Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga,

ini disebabkan oleh perlengketan isi kantong pada peritonial.

Penatalaksanaan harus dengan operasi. (6)

c) Hernia Inkaserata/Hernia Stragulata

16
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak

dapat kembali ke dalam rongga perut. (6)

Bagian – bagian hernia :

1) Kantong hernia

Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak

semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional,

hernia adiposa, hernia intertitialis. (6)

2) Isi hernia

Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong

hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus

(omentum).

3) Pintu hernia

Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui

kantong hernia.

4) Leher hernia

Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong

hernia. (6)

2.1.5 Patofisiologi

Pada hernia karena kelainan kongenital yang terjadi bawaan lahir,

kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke – 8

dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut.

Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga

17
terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis

peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami

obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut.

Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri

turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan

lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan

menutup pada usia 2 bulan. (7)

Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila

kanal terbuka terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul

hernia inguinalis lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa

ini terjadi karena usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga

perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan

tubuh mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah

menutup. (7)

Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka

pada keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat

seperti batuk – batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang –

barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali

dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan

tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding

rongga yang telah tertekan akibat trauma, hipertropi prostat, asites,

kehamilan, obesitas dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua.

18
Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses

perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. (7)

Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan

dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan

kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin

banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan

menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi

obtruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian

terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul

perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama

kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah

dan terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan

ususnya terputar. Bila isi perut terjepit dapat terjadi shock, demam,

asidosis metabolik, abses. (7)

Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi

hernia. Antara lain obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya)

usus yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.

Hernia eksternal merupakan protrusi abnormal organ intra-abdominal

melewati defek faskia pada dinding abdominal. Hernia yang sering terjadi

adalah inguinal, femoral, umbilical, dan paraumbilikal. (7)

Hernia indirek bersifat congenital dan disebabkan oleh kegagalan

penutupan prosesus vaginalis (kantong hernia) sewaktu turun ke dalam

skrotum. Kantong yang dihasilkan bisa meluas sepanjang kanalis

19
inguinalis; jika meluas kedalam skrotum maka disebut hernia lengkap.

Karena processus vaginalis terletak didalam funikulus spermatikus, maka

prosessus ini dikelilingi oleh muskulus kremater dan dibentuk oleh pleksus

venosus pampiniformis, duktus spermatikus dan arteria spermatika.

Lubang interna ke dalam kavitas peritonealis selalu lateral terhadap arteria

epigastrica profunda dngan adanya hernia inguinalis indirek, sedangkan

lubang interna medial terhadap pembuluh darah ini bila hernianya direk.(12)

Hernia inguinalis dan scrotalis sering timbul pada pria dan lebih

sering pada sisi kanan dibandingkan sisi kiri. Peningkatan tekanan intra

abdomen akibat berbagai sebab, yang mencakup pengejanan yang

mendadak, gerak badan yang terlalu aktif, obesitas, batuk menahun, asites,

mengejan pada waktu buang air besar, kehamilan dan adanya massa

abdomen yang besar, mempredisposisi pasien ke perkembangan hernia. (7)

Peningkatan tekanan intra abdomen ini akan mendorong bagian dari

usus dan lambung ke dalam kanalis ini, atau bahkan kedalam scrotum.

Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis

yang terbuka, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Proses

turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonatus kurang lebih

90% prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu

tahun sekiar 30% prosesus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia

pada umur ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan

prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan hernia

unilateral dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari

20
separo, sedangkan insidens hernia tidak melebihi 20%. Umumnya

disimpulkan bahwa adanya prosesus vaginalis yang paten bukan

merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor

lain seperti anulus ingunalis yang cukup besar. (7)

Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk

kronik, hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites sering disertai hernia

ingunalis. (7)

Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin

karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen

dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya. (7)

Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi

anulus internus turut kendur. Sebaliknya bila otot dinding perut

berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus

inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam

kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat

kerusakan N.Ilioinguinalis dan N.Iliofemoralis setelah apendektomi. (7)

Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut

hernia skrotalis. Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut

lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut indirek karena keluar

melalui dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis inguinalis; berbeda

dengan hernia medialis yang langsung menonjol melalui segitiga

Hesselbach dan disebut sebagai hernia direk. (7)

21
Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk

lonjong sedangkan hernia medial berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan

anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak

menutupnya prosesus vaginalis peritonium sebagai akibat proses

penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi disebelah kanan

atau kiri. Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan

sebagian kolon asendens, sedangkan sebelah kirinya terdiri dari sebagian

kolon desendens. Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa

benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau

mengangkat beban berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Pada

bayi dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha

biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak atau

bayi sering gelisah, banyak menangis dan kadang-kadang perut kembung,

harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. (7)

Defek pada dinding abdomen dapat kongenital (misalnya: hernia

umbilikalis, kanalis femoralis) atau didapat (misalnya akibat suatu insisi)

dan dibatasi oleh peritoneum (kantung). Peningkatan tekanan

intraabdomen lebih lanjut membuat defek semakin lemah dan

menyebabkan beberapa isi intraabdomen (misalnya: omentum, lengkung

usus halus), keluar melalui celah tersebut. Isi usus yang terjebak di dalam

kantung menyebabkan inkarserasi (ketidakmampuan untuk mengurangi

isi) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran darah ke daerah

yang mengalami inkarserasi). (7)

22
Pasien datang dengan benjolan di tempat lokasi hernia. Hernia

femoralis berada di bawah dan lateral dari tuberkulum pubikum. Biasanya

hernia ini mendatarkan garis-garis kulit di lipatan paha dan 10 kali lebih

sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. 50% kasus merupakan kasus

kegawatdaruratan bedah akibat terobstruksinya isi hernia dan 50% dari

kasus ini membutuhkan reseksi usus halts. Hernia femoralis tidak dapat

dikembalikan ke tempat semula (irreducible). Hernia inguinalis dimulai

pada bagian atas dan medial terhadap tuberkulum pubikum namun dapat

turun lebih luas jika membesar, biasanya mempertegas garis-garis lipatan

paha. Sebagian besar ringan dan jarang mengalami komplikasi. (8)

23
2.1.6 Pathway

Gambar 1. Pathway Hernia inguinalis (9)

24
2.1.7 Manifestasi Klinis

Pada kebanyakan kasus hernia, tanda dan gejala yang sering muncul

pada pasien yang dapat ditemui antara lain:

1. Berupa benjolan keluar masuk/keras

2. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan

3. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada

komplikasi.

4. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang

berisi kandung kencing. (10)

Hernia yang tak memperlihatkan gejala-gejala diketemukan pada

waktu pemeriksaan rutin. Suatu penonjolan atau gumpalan pada skrotum,

dan pada waktu batuk dan defekasi penonjolan semakin menonjol. Juga

pada waktu meningkat sesuatu atau kegiatan fisik lainnya. Pada beberapa

kasus tertentu massa menjulur sampai ke dalam skrotum, daerah pangkal

paha terasa tidak enak, terutama kalau hernia membesar. (15)

1. Suatu massa di daerah pangkal paha, reponibel atau inkarserata,

kadang-kadang sampai ke daerah skrotum. Pada bayi dan wanita

adanya masa itu satu-satunya tanda yang ada. Hernia kecil yang tak

memperlihatkan gejala tak akan terlihat dari luar.

2. Pada anak laki yang lebih besar dan pria, maka harus dilakukan

penanganan sebagai berikut. Skrotum dimasuki jari telunjuk dan jari

ditempatkan pada atau melalui annulus inguinalis eksterna. Instrusikan

pada pasien untuk menekan (mengedan) seakan-akan hendak buang air

25
besar. Ini akan meningkatkan tekanan intraabdominal. Kantung hernia

merupakan suatu struktur bagaikan balon yang menekan jari secara

langsung atau dari sisi lateral. Annulus eksterna yang membesar bukan

hernia, meskipun kemungkinan hernia yang menyebabkan pembesaran

itu dan hernia harus dicari dengan cermat kalau annulus cukup besar

sehingga jari telunjuk dapat masuk. Hernia inguinalis paling mudah

diperagakan kalau pasien berdiri tetapi periksalah pasien baik dalam

posisi berdiri maupun dalam posisi telentang. (10)

3. Indirek versus direk. Hernia indirek merupakan suatu massa elips yang

berjalan turun dan miring ke dalam kanal inguinalis. Mungkin akan

masuk ke dalam skrotum. Massa ini menekan sisi lateral jari yang

dipakai untuk memeriksa. Dengan menekan bagian atas annulus

interna dengan satu tangan maka dapat dicegah jangan sampai hernia

masuk ke dalam kanalis inguinalis. (10)

4. Hernia direk adalah suatu massa sferis, yang jarang turun sampai ke

skrotum. Massa itu menekan jari yang memeriksa langsung dari

sebelah depan. Dengan menekan annulus interna dengan tangan kita

tak dapat mengurangi hernia tersebut. (10)

Sebagian besar hernia adalah asimtomatik, dan kebanyakan

ditemukan pada pemeriksaan fisik rutin dengan palpasi benjolan pada

annulus inguinalis superfisialis atau suatu kantong setinggi annulus

inguinalis profundus. Yang terakhir dibuat terasa lebih menonjol bila

pasien batuk. Salah satu tanda pertama adalah adanya massa dalam daerah

26
inguinalis manapun atau bagian atas skrotum. Dengan berlalunya waktu,

sejumlah hernia turun ke dalam skrotum sehingga skrotum membesar.

Pasien hernia sering mengeluh tidak nyaman dan pegal pada daerah ini,

yang dapat dihilangkan dengan reposisi manual hernia ke dalam kavitas

peritonealis. Tetapi dengan berdiri atau terutama dengan gerak badan,

maka biasanya hernia muncul lagi. (3)

Umumnya pasien pengatakan turun berok, burut atau kelingsir,

mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut

bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur, dan bila menangis,

mengejan, atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri

dapat timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri.
(5)

Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak,

pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan

berdiri. Bila ada hernia maka akan tampak benjolan. Bila memang sudah

tampak benjolan, harus diperiksakan apakah benjolan tersebut dapat

dimasukkan kembali. Pasien diminta berbaring, bernapas dengan mulut

untuk mengurangi tekanan intraabdominal, lalu skrotum diangkat

perlahan-lahan. Diagnosis pasti hernia pada umumnya sudah dapat

ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti.(5)

Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari

telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti

fasikulus spermatikus sampai ke annulus inguinalis internus. Pada keadaan

27
normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta mengejan dan

merasakan apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa

tersebut menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis,

sedangkan bila menyentuh sisi jari maka diagnosisnya adalah hernia

inguinalis medialis.(5)

Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada annulus inguinalis

eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek

pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi irreponibilis.

Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju annulus inguinalis

eksterna sehingga meskipun annulus inguinalis interna ditekan bila pasien

berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai

ke skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan

testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari massa hernia.

Bila jari dimasukkan dalam annulus inguinalis eksterna, tidak akan

ditemukan dinding belakang. Bila pasien disuruh mengejan tidak akan

terasa tekanan dan ujung jari dengan mudah dapat meraba ligamentum

Cowperi pada ramus superior tulang pubis. Pada pasien kadang-kadang

ditemukan gejala mudah kencing karena buli-buli ikut membentuk dinding

medial hernia. .(5)

Umumnya penderita hernia menyatakan adanya benjolan di

kemaluan. Benjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis

mengejan waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul

28
kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala

muntah dan mual bila telah ada komplikasi. .(6)

Umumnya klien mengatakan adanya benjolan pada lipatan paha.

Pada bayi dan anak adanya benjolan yang hilang timbul dilipatan paha,

dan hal ini biasanya diketahui oleh orang tuanya. Pada inspeksi,

diperhatikan pada keadaan osimetris pada kedua sisi, lipatan paha, posisi

berdiri dan berbaring. Pada saat batuk dan mengedan biasanya akan timbul

benjolan. Pada palpasi, teraba bising usus, suara omentum (seperti karet).
(16)

2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik

Meskipun hernia dapat didefinisikan sebagai setiap penonjolan

viskus, atau sebagian daripadanya, melalui lubang normal atau abnormal,

90% dari semua hernia ditemukan di daerah inguinal. Biasanya impuls

hernia lebih jelas dilihat daripada diraba. (17)

Pasien disuruh memutar kepalanya ke samping dan batuk atau

mengejan. Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat

timbulnya benjolan mendadak selama batuk, yang dapat menunjukkan

hernia. Jika terlihat benjolan mendadak, mintalah pasien untuk batuk lagi

dan bandingkan impuls ini dengan impuls pada sisi lainnya. Jika pasien

mengeluh nyeri selama batuk, tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah

kembali daerah itu. (9)

29
Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di

dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam.

Harus ada kulit skrotum yang cukup banyak untuk mencapai cincin

inguinal eksterna. Jari harus diletakkan dengan kuku menghadap ke luar

dan bantal jari ke dalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada

pinggul kanan pasien untuk sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan

pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam

kanalis inguinalis sejajar dengan ligamentum inguinalis dan digerakkan ke

atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak superior dan lateral dari

tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki oleh

jari tangan. (9)

Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam

kanalis inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping

dan batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-

tiba yang menyentuh ujung atau bantal jari penderita. Jika ada hernia,

suruh pasien berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia itu

dapat direduksi dengan tekanan yang lembut dan terus-menerus pada

massa itu. Jika pemeriksaan hernia dilakukan dengan perlahan-lahan,

tindakan ini tidak akan menimbulkan nyeri.(17)

Setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai

jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih

suka memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan pasien, dan

30
jari telunjuk kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Cobalah kedua teknik

ini dan lihatlah cara mana yang anda rasakan lebih nyaman.(9)

Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya,

suatu hernia inguinal indirek mungkin ada di dalam skrotum. Auskultasi

massa itu dapat dipakai untuk menentukan apakah ada bunyi usus di dalam

skrotum, suatu tanda yang berguna untuk menegakkan diagnosis hernia

inguinal indirek. Jika anda menemukan massa skrotum, lakukanlah

transluminasi. Di dalam suatu ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan

pada sisi pembesaran skrotum. Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan

testis normal tidak dapat ditembus sinar. Transmisi cahaya sebagai

bayangan merah menunjukkan rongga yang mengandung cairan serosa,

seperti hidrokel atau spermatokel. Dalam menegakkan diagnostik pada

penderita hernia dapat dilakukan:

1. Pemeriksaan fisik, pasien diminta untuk mengejan dengan menutup

mulut dalam keadaan berdiri bila ada hernia maka akan tampak

benjolan.(17)

2. Bila sudah ada benjolan dapat diperiksa dengan cara meminta pasien

untuk berbaring bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan

intra abdominan, lalu scrotum diangkat perlahan-lahan. (17)

3. Limfadenopati inguinal. Perhatikan apakah ada infeksi pada kaki

sesisi. (9)

4. Tindakan diagnostik yaitu :

31
a. Foto thoraks: Menunjukan adanya massa tanpa udara jika omentum

yang masuk dan massa yang berisi udara jika lambung adalah usus

yang masuk.

b. Laboratorium : Menunjukan adanya peningkatn pada hasil

pemeriksaan SGOT.

c. EKG : Biasanya dilakukan untuk persiapan operasi. (9)

2.1.9 Penatalaksanaan

Pada hernia inguinalis lateralis responbilitas maka dilakukan

tindakan bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi. Pada yang

iresponbilitas, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali.

Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan

tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik

juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan

usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian

dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi. (17)

Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.

Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan

herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka,

isi hernia dimasukkan kantong diikat dan dilakukan “bassin plasty” untuk

memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pada bedah darurat,

maka prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan

dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke

32
rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomois end to

end. (17)

1. Konservatif

Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan

reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk

mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. (7)

2. Operatif

Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia

inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis

ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang

terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. (7)

3. Herniotomi

Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai

ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada

perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi

mungkin lalu dipotong. (7)

4. Hernioplasti

Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus

inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis

inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah

terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai

metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus

dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa,

33
dan menjahitkan pertemuan muskulus tranversus internus abdominis

dan muskulus oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama

conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode

Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa musculus transversus

abdominis, musculus oblikus internus abdominis ke ligamentum

cooper pada metode Mac Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi

residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti

mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek. (7)

Dalam melaksanakan tindakan penatalaksanaan pada pasien

dengan hernia maka yang hal-hal yang harus diperhatikan antara lain

adalah prinsip pembedahan:

a) Herniotomi: eksisi kantung hernianya saja untuk pasien anak.

b) Herniorafi: memperbaiki defek, perbaikan dengan pemasangan

jaring (mesh) yang biasa dilakukan untuk hernia inguinalis,

yang dimasukkan melalui bedah terbuka atau laparoskopik. (7)

Setelah dilakukan tindakan pembedahan herniotomy yang

harus diperhatikan adalah perawatan untuk post operasi:

a) Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan,

Syok, Muntah, Distensi, Kedinginan, Infeksi, Dekubitus, Sulit

buang air kecil.

b) Observasi keadaan klien.

c) Cek Tanda-tanda vital pasien.

34
d) Lakukan perawatan luka dan ganti balutan operasi sesuai

dengan jadwal.

e) Perhatikan drainase.

f) Penuhi kebutuhan nutrisi klien.

g) Mobilisasi diri secara dini terutama pada hari pertama dan hari

kedua.

1) Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 45o - 60o).

2) Hari kedua boleh duduk (untuk herniotomi hari ke-5).

3) Hari ketiga boleh jalan (untuk herniotomi hari ke-7).

h) Diet dan pemenuhan kebutuhan nutrisi:

1) Hari 0: Bila pengaruh obat anestesi hilang boleh diberi

minum sedikit-sedikit

2) Hari 1: Diet Vloiher atau bubur sumsum dan susu cair

(herniotomi diet sama dengan post laparatomi)

3) Hari 2: Diet bubur saring

4) Hari 3: Berturut-turut diet ditingkatkan(7)

2.1.10 Komplikasi dan Dampak Pembedahan Herniotomy

1. Hemtoma (luka atau pada skrotum).

2. Retensi urin akut.

3. Infeksi pada luka.

4. Gangguan aktivitas

5. Nyeri kronis.

6. Nyeri dan pembengkakan testis yang menyebabkan atrofi testis

35
7. Rekurensi hernia (sekitar 2%).(7)

Dampak post herniotomi terhadap sistem tubuh dan system

kelangsungan aktivitas pasien setelah dilakukan post operasi herniotomy

antara lain adalah sebagai berikut:

1. Sistem Gastrointestinal

Pembedahan traktus gastrointestinal sering kali mengganggu

proses fisiologi normal pencernaan dan penyerapan. Mual, muntah

dan nyeri dapat terjadi selama pembedahan ketika digunakan

anestesia spinal. Dan penurunan peristaltik usus ini mengakibatkan

distensi abdomen dan gagal untuk mengeluarkan feses dan flatus.

motalitas gastrointestinal dapat mengakibatkan distensi abdomen dan

gagal untuk mengeluarkan feses dan flatus. (8)

2. Sistem Neurologi

Luka pembedahan mengakibatkan spasme otot dan pembuluh

darah sehingga merangsang pelepasan mediator kimia ( seratonin,

bradikinin, histamin ). Proses ini merangsang reseptor nyeri

kemudian rangsangan ditransmisikan ke thalamus, kortek cerebri

sehingga terasa nyeri. Nyeri akan merangsang RAS ( Retikular

Activating Sistem ) stimulus ini menyebabkan sikap terjaga dan

berkurangnya stimulus untuk mengantuk. (8)

3. Sistem Pernapasan

Peningkatan frekuensi nafas dapat terjadi akibat nyeri pada

luka operasi, hal ini merangsang sinyal dari sum-sum tulang

36
belakang yang dihantarkan melalui dua jalur yaitu Spinal Thalamus

Traktus ( STT ) ke Spinal Respiratory Traktus ( SRT ). Dari spinal

thalamus traktus akan dihantarkan ke korteks cerebri sehingga nyeri

dipersepsikan, sedangkan dari spinal respirator, traktus akan

dihantarkan ke medula oblongata sehingga mengakibatkan neural

inspiratory yang akan meningkatkan frekuensi pernapasan. Nyeri

pada luka operasi dapat menekan pengembanahan rongga dada dan

pasien dapat memerlukan sangat banyak dorongan untuk beergerak,

ambulasi dan bernafas dalam. (8)

4. Sistem Kardiovaskuler

Pada klien post herniotomi biasanya dapat terjadi peningkatan

denyut nadi, hal ini disebabkan dari rasa nyeri akibat luka operasi

sehingga mengakibatkan medula oblongata untuk meningkatkan

frekuensi pernapasan dan merangsang epineprin sehingga

menstimulasi jantung untuk memompa lebih cepat selain itu juga

dapat terjadi akibat faktor metabolik, endokrin dan keadaan yang

menghasilkan adrenergik sehingga dimanifestasikan peningkatan

denyut nadi.

5. Sistem Integumen

Luka operasi akan mengakibatkan kerusakan kontinuitas

jaringan dan keterbatasan gerak dapat mengakibatkan kerusakan

kulit pada daerah yang tertekan karena sirkulasi perifer terhambat.

Akibat dari keadaan post operatif seperti peradangan, edema dan

37
perdarahan, sering terjadi pembekakan skrotum setelah perbaikan

hernia inguinal lateral. (8)

6. Sistem Muskuloskeletal

Nyeri pada luka operasi timbul akibat terputusnya kontinuitas

jaringan serta adanya spasme otot, terjadi penekanan pada pembuluh

darah yang mengakibatkan metabolisme anaerob sehingga

menghasilkan asam laktat, hal ini mengakibatkan terjadinya

gangguan pergerakan ( otot persendian ) sehingga aktivitas sehari-

hari dapat terganggu. Selain itu nyeri akibat luka operasi dapat

mengakibatkan klien mengalami keterbatasan gerak.

7. Sistem Perkemihan

Terjadinya retensi urine dapat terjadi setelah prosedur

pembedahan. Retensi terjadi paling sering setelah pembedahan pada

rektum, anus dan vagina setelah pembedahan pada abdomen bagian

bawah, penyebabnya diduga adalah spasme spinkter kandung kemih.


(17)

2.2 Tinjauan Teori Manajemen Keperawatan

2.2.1 Pengkajian

Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan

menentukan hasil dari tahap berikutnya. Pengkajian dilakukan secara

sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi dan evaulasi status

kesehatan klien. (10)

38
Pengkajian data fisik berdasarkan pada pengkajian abdomen dapat

menunjukan benjolan pada lipat paha atau area umbilikal. Keluhan

tentang aktivitas yang mempengaruhi ukuran benjolan. Benjolan mungkin

ada secara spontan atau hanya tampak pada aktivitas yang meningkatkan

tekanan intra abdomen, seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau

defekasi. Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan

dialami karena tegangan yang meningkatkan tekanan intra abdomen,

seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi. (10)

Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan

dialami karena tegangan. Nyeri menandakan strangulasi dan kebutuhan

terhadap pembedahan segera. Selain itu manifestasi obstruksi usus dapat

dideteksi (bising usus, nada tinggi sampai tidak ada mual/muntah).Data

yang diperoleh atau dikaji tergantung pada tempat terjadinya, beratnya,

apakah akut atau kronik apakah berpengaruh terhadap struktur

disekelilingnya dan banyaknya akar saraf yang terkompresi atau tertekan.

Pengkajian secara teoritis yang dapat muncul diantaranya:

1. Aktivitas/Istirahat

Gejala : Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat,

duduk, mengemudi dalam waktu lama. Membutuhkan

matras/papan yanag keras saat tidur. Penurunan rentang

gerak dari ekstremitas pada salah satu bagian tubuh.

Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa

dilakukan. (11)

39
Tanda : Atropi otot pada bagian yang terkena. Gangguan dalam

berjalan.

2. Eliminasi

Gejala : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi,

adanya inkontinensia atau retensi urine. (11)

3. Integritas Ego

Gejala : Ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas masalah

pekerjaan, finansial keluarga.

Tanda : Tampak cemas, depresi menghindar dari keluarga atau

orang terdekat. (11)

4. Neuro Sensori

Gejala : Kesemutan, kekauan, kelemahan dari tangan atau kaki.

Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot,

hipotonia. Nyeri tekan atau spasme otot pada

vertebralis. Penurunan persepsi nyeri (sensorik). (20)

5. Nyeri/Kenyamanan

Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin

memburuk dengan adanya batuk, bersin,

membengkokan badan, mengangkat, defekasi,

mengangkat kaki atau fleksi pada leher, nyeri yang

tiada hentinya atau adanya episode nyeri yanag lebih

berat secara intermiten. Nyeri yang menjalar pada kaki,

bokong (lumbal) atau bahu/lengan, kaku pada leher

40
atau servikal. Terdengar adanya suara ‘krek’ saat nyeri

bahu timbul/saat trauma atau merasa ‘punggung patah’.

Keterbatasan untuk mobilisasi atau membungkuk

kedepan.

Tanda : Sikap dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang

tekena. Perubahan cara berjalan, berjalan dengan

terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian

tubuh yang terkena. Nyeri pada palpasi. (11)

2.2.2 Diagnosa Keperawatan Post Operasi

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan

Hernia Scrotalis pasca operasi antara lain sebagai berikut:

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan dan proses inflamasi luka operasi

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

3. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post

operasi dan efek anastesi

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi

41
5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri

akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan

immobilisasi post operasi

6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat

trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi

7. Resiko tinggi retensi urine yang berhubungan dengan nyeri, trauma

dan penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen

8. Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial komplikasi

Gastrointestinal yang berkenaan dengan adanya hernia post operasi

dan kurangnya informasi. (11)

2.2.3 Intervensi Keperawatan

Dari beberapa diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada

pasien dengan Hernia pasca operasi, intervensi pada masing-masing

diagnosa antara lain sebagai berikut:

1. Diagnosa 1 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan

terputusnya konti-nuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi.(11)

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat

berkurang sampai hilang. (11)

Kriteria hasil :

a. Ekspresi wajah pasien rileks dan tidak menahan nyeri

42
b. Klien menyatakan nyeri berkurang sampai hilang, skala

nyeri berkurang

c. Tanda–tanda vital dalam batas normal. (11)

Intevensi

a. Monitor tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien dan

jadwal

b. Kaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri

pasien.

c. Posisikan yang nyaman dengan sokong/tinggikan dengan

ganjal pada posisi anatomi ekstremitas yang sakit dan kurangi

pergerakan dini pada area luka operasi

d. Ajarkan tekhnik relaksasi dan dextrasi nafas dalam untuk

mengurangi nyeri saat nyeri muncul

e. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan massase pada area

abdomen yang nyeri tapi bukan area luka operasi.

f. Kolaborasi dengan tim medis dalam program therapy analgetik

Rasional: Program terapi sebagai system kolaboratif dalam

menyelesaikan masalah nyeri.

Rasional :

a. Tanda-tanda vital merupakan pedoman terhadap perubahan pada

kondisi klien dan abnormalitas pada kondisi klien

b. Mengetahui status nyeri pada klien

43
c. Latihan aktivitas bertahan mengurangi respon nyeri tapi tetap

pertahan kenyamanan klien dan mengurangi rasa nyeri klien

d. Nafas dalam dan tekhnik relaksasi mengurangi nyeri secara

bertahap dan dapat dilakukan mandiri.

e. Relaksasi dan pengalihan merupakan rasa mengalihkan rasa nyeri

dan menciptakan kenyamanan klien(11)

2. Diagnosa 2 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya

keterbatasan rentang gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon

nyeri dan prosedur infasive. (11)

Tujuan :

Intoleransi aktifitas dapat teratasi setelah dilakukan tindakan

keperawatan

Kriteria hasil :

a. Klien tidak lemah

b. Klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri

c. Klien tidak takut bergerak lagi dan mau beraktivitas mandiri.

Intervensi

a. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.

b. Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

c. Bantu klien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat

dan tidur.

44
d. Dorong partisipasi klien dalam semua aktifitas sesuai kemampuan

individual.

e. Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat dalam

latihan gerak.

f. Berikan lingkungan tenang dan mempertahankan tirah baring.

g. Bantu aktifitas atau ambulasi pasien sesuai dengan kebutuhan

h. Memperbaiki kondisi klien(11)

Rasional:

f. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.

g. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk

membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan

h. Membantu klien seperlunya dalam latihan beraktivitas

i. Melatih klien untuk beraktivitas secara mandiri dan meningkatkan

kemampuan klien.

j. Melatih klien beraktivitas dan kemandirian klien dalam memenuhi

kebutuhan sehari-hari

k. Meningkatkan kenyaman dan kecemasan klien.

l. Meningkatkan kemandirian klien dalam beraktivitas(11)

3. Diagnosa 3 : Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder

akibat post operasi dan efek anastesi(11)

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat BAB

secara rutin dan tidak terjadi konstipasi

45
Kriteria hasil :

a. Pasien bisa BAB minimal 1x dalam sehari

b. Konsistensi feses lunak

c. Nyeri berkurang saat BAB.

d. Tidak ada penumpukan masa feses pada abdomen

Intervensi

a. Kaji dan observasi adanya kesulitan BAB dan masalah dalam

BAB pasien

b. Anjurkan pasien untuk alih posisi tiap 2 jam sekali

c. Anjurkan pada pasien untuk minum banyak 1500–3000cc tiap hari

dan makanan yang mengandung serat.

d. Anjurkan pada pasien makan makanan yang lunak porsi sedikit-

sedikit tapi sering

e. Kaji peristaltik usus setiap pagi dan sesuai kondisi klien

f. Anjurkan pasien menghindari mengejan saat BAB

Rasional:

Mengetahui masalah dan hambatan dalam pola eliminasi klien

a. Meningkatkan peristaltik usus dan meningkatkan kemampuan

BAB

b. Asupan cairan memungkinkan feses lunak dan klien dapat

melakukan BAB

c. Makanan yang lunak dan berserat sangat mudah dicerna sehingga

system pencernaan membaik dan klien mampu BAB

46
d. Peningkatan peristaltic usus mengidentifikasikan adanya

kelancaran dalam metabolisme pencernaan

e. Rasional: Mengejan saat BAB meningkatkan rasa nyeri pada

klien.

4. Diagnosa 4 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma

jaringan akibat prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses

inflamasi luka post operasi(11)

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak

terjadi.

Kriteria hasil :

a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi seprti pada luka operasi

terdapat pus dan kemerahan, oedem.

b. Tanda–tanda vital dalam batas normalLaboratorium leukosit, dan

hemoglobin normal.

c. Luka kering dan menunjukan penyembuhan(11)

Intervensi

a. Observasi tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien.

b. Kaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi adanya

kemerahan sekitar luka dan pus pada luka operasi.

c. Lakukan medikasi luka steril/bersih tiap hari.

d. Pertahankan tekhnik aseptic antiseptik/kesterilan dalam perawatan

luka dan tindakan keperawatan lainnya.

47
e. Jaga personal hygiene pasien.

f. Manajemen kebersihan lingkungan pasien.

g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy antibiotik

Rasional:

a. Tanda-tanda vital merupakan pedoman terhadap perubahan pada

kondisi klien dan abnormalitas pada kondisi klien

b. Adanya kemerahan, oedem, pus, dan rasa panas pada luka

merupakan adanya infeksi pada luka operasi

c. Mensterilkan luka dan menjaga luka agar tetap steril/tidak infeksi

dan cepat sembuh.

d. Meningkatkan penyembuhan dan menghindari infeksi pada luka

operasi.

e. Meningkatkan sterilan pada luka dan personal hygiene klien

f. Agar ruangan tetap steril

g. Mempercepat penyembuhan luka agar tidak terjadi infeksi.

5. Diagnosa 5 : Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan

kelemahan dan nyeri akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat

prosedur invasive dan immobilisasi post operasi. (11)

Tujuan :

Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan

keperawatan.

Kriteria hasil :

a. Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin

48
b. Mempertahankan posisi fungsional

c. Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit

d. Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas

Intervensi :

a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan

b. Tinggikan ekstrimitas yang sakit

c. Instruksi klien/bantu dalam latihan rentang gerak pada ekstremitas

yang sakit dan tak sakit.

d. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas

e. Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas dalam

lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan. Awasi

tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas

f. Ubah posisi secara periodic tiap 2 jam

Rasional:

a. Tirah baring mengistirahatkan muskuloskelektal sehingga aktivitas

bertahap tidak kelelahan

b. Sebagai relaksasi mmengurangi rasa nyeri dan kenyamanan

mobilitas fisik

c. Latihan secara bertahap dapat meningkatkan kemandirian klien

dalam beraktivitas.

d. Keterbatasan gerak dapat dimanfaatkan untuk istirahat dan

kenyamanan klien dan latihan bertahap dapat meningkatkan

kemampuan klien dalam beraktivitas.

49
e. Untuk meningkatkan kemandirian klien dalam beraktivitas dan

mobilisasi, latihan secara bertahap menghindari kelelahan dan

injury

f. Meningkatkan kenyamanan dan keamanan klien dan mencegah

dekubitus.

6. Diagnosa 6 : Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek

tekanan akibat trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi. (11)

Tujuan :

Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan

perawatan.

Kriteria hasil :

a. Penyembuhan luka sesuai waktu

b. Tidak ada laserasi, integritas kulit baik

Intervensi :

a. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi

atau drainage.

b. Monitor tanda-tanda vital dan suhu tubuh pasien

c. Lakukan perawatan pada luka operasi sesuai dengan jadwal

d. Lakukan alih posisi dengan sering pertahankan kesejajaran tubuh

e. Pertahankan sprei tempat tidut tetap kering dan bebas kerutan

f. Gunakan tempat tidur busa atau kasut udara sesuai indikasi

g. Kolaborasi pemberian antibiotic

50
Rasional:

a. Untuk mengetahui tingkat kerusakan integritas kulit dan derajat

keparahan.

b. Tanda-tanda vital untuk memonitor keadaan dan perubahan status

kesehatan klien

c. Mencegah keparahan dan memperbaiki jaringan kulit yang rusak

d. Menghindari dekubitus

e. Menghindari adanya decubitus pada klien

f. Menghindari adanya decubitus pada klien

g. Mempercepat proses penyembuhan luka operasi dan decubitus.

7. Diagnosa 7 : Resiko tinggi retensi urine yang berhubungan dengan

nyeri, trauma dan penggunaan anestetik selama pembedahan

abdomen. (11)

Tujuan :

Tidak terjadi retensi urine dan klien mampu memenuhi keutuhan

eliminasi urine dan tidak nyeri saat BAK.

Kriteria hasil :

a. Dalam 8-10 jam pembedahan, pasien berkemih tanpa kesulitan.

b. Haluaran urine  100 ml setiap berkemih dan adekuat (kira-kira

1000-1500 ml) selama periode 24 jam.

Intervensi :

a. Kaji dan catat distensi suprapubik atau keluhan pasien tidak dapat

berkemih.

51
b. Pantau haluaran urine dan endapan darah pada urine

c. Anjurkan klien BAB agar tigak mengejan

d. Lakukan bleder training

Rasional :

a. Untuk mengetahui masalah dan kelainan dalam pola eliminasi

urine klien

b. Mengetahui jumlah urine yang keluar mencegah adanya dehidrasi

dan overhidrasi dan masalah dalam pola eliminasi klien

c. Mengejan saat BAK akan meningkatkan rasa nyeri

d. Untuk meningkatkan kemandirian dalam eliminasi urine

8. Diagnosa 8 : Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial

komplikasi Gastrointestinal yang berkenaan dengan adanya hernia

post operasi dan kurangnya informasi(11)

Tujuan:

Keluarga mampu merawat mengenal masalah hernia dan pencegahan

komplikasi dan perawatan pasien post operasi.

Kriteria hasil:

a. Keluarga mampu menyebutkan mengenai masalah hernia.

b. Keluarga mampu menyebutkan perawatan hernia.

Intervensi:

a. Kaji pengetahuan keluarga tentang pengertian, tanda gejala,

penyebab dan perawatan hernia.

b. Diskusikan dengan keluarga tentang komplikasi hernia.

52
c. Evaluasi semua hal yang telah dilakukan bersama keluarga.

d. Beri penyuluhan pada klien dan keluarga tentang penyakit hernia

Rasional :

a. Mengetahui tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang

penyakit yang diderita klien

b. Agar keluarga memahami bagaimana pencegahan komplikasi dan

perawatan setelah operasi

c. Agar keluarga memahami bagaimana pencegahan komplikasi dan

perawatan setelah oparasi

2.2.4 Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai

tujuan spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan

disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien

mencapai tujuan yang diharapkan. (10)

Pelaksanaan tindakan kepewaratan pada klien dengan post op hernia

inguinalis dilakukan sesuai dengan perencanaan keperawatan yang telah

ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara

optimal. Pelaksanaan adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana


(11)
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Jenis

tindakan:

1. Mengkaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri

pasien.

53
2. Mengawasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

3. Mengkaji peristaltik usus setiap pagi dan sesuai kondisi klien

4. Mengkaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi adanya

kemerahan sekitar luka dan pus pada luka operasi.

5. Mempertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan

6. Mengkaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi

atau drainage. (11)

2.2.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah intelektual untuk melengkapi proses asuhan

keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,

rencana tindakan, dan pelaksanaanya yang berhasil dicapai. Meskipun

evaluasi diletakkan pada akhir asuhan keperawatan, evaluasi merupakan

bagian integral pada setiap tahap asuhan keperawatan. (22)

Setelah data dikumpulkan tentang status keadaan klien maka perawat

memebandingkan data dengan outcomes. Tahap selanjutnya adalah

membuat keputusan tentang pencapaian klien outcomes, ada 3

kemungkinan keputusan tahap ini :

1. Klien telah mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan.

2. Klien masih dalam catatan hasil yang ditentukan.

3. Klien tidak dapat mencapai hasil yang ditentukan.

54
BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian

1. Identitas

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan

merupakan suatu proses yang sistematis dalam mengumpulkan data

dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi

status kesehatan klien.(10)

Pengkajian dalam sistem imun meliputi riwayat kesehatan,

pemeriksaan fisik, dan prosedur diagnostik yang merupakan data yang

menunjang keadaan klinis dari pasien. (10)

Identitas klien yang terdiri dari nama, umur, suku/bangsa, status

perkawinan, agama, pendidikan, alamat, nomor register, tanggal datang

ke rumah sakit. (10)

Identitas klien yang biasa dikaji pada post op hernia inguinalis

adalah usia dan pekerjaan.

2. Keluhan Utama

Keluhan utama adalah keluhan atau gejala apa yang

menyebabkan pasien berobat atau keluhan atau gejala saat awal

dilakukan pengkajian pertama kali yang utama. Keluhan utama klien

tonsilitis biasanya nyeri pada tenggorokan dan pada saat menelan

disertai demam. (9)

55
Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan hernia

inguinalis seperti: muncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan

dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong. Klien mengeluh

terdapat benjolan disebelah kanan bawah dekat lipatan paha.

3. Riwayat penyakit sekarang

Riwayat kesehatan sekarang adalah faktor yang melatarbelakangi

atau mempengaruhi dan mendahuli keluhan, bagaimana sifat terjadinya

gejala (mendadak, perlahan-lahan, terus menerus atau berupa serangan,

hilang dan timbul atau berhubungan dengan waktu), lokalisasi

gejalanya dimana dan sifatnya bagaimana (menjalar, menyebar,

berpindah-pindah atau menetap). Bagaimana berat ringannya keluhan

berkurang, lamanya keluhan berlangsung atau mulai kapan serta upaya

yang telah dilakukan apa saja.(10)

Riwayat kesehatan saat ini berupa uraian mengenai penyakit

yang diderita oleh klien dari timbulnya keluhan yang dirasakan sampai

klien dibawa ke Rumah Sakit, dan apakah pernah memeriksakan diri

ke tempat lain selain Rumah Sakit umum serta pengobatan apa yang

pernah diberikan dan bagaimana perubahannya dan data yang

didapatkan saat pengkajian.

4. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit hernia inguinalis sebelumnya, riwayat

pekerjaan pada pekerja yang berhubungan dengan adanya riwayat

56
penyakit hernia inguinalis, penggunaan obat-obatan, riwayat

mengkonsumsi alkohol dan merokok.

5. Riwayat penyakit keluarga

Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang menderita

penyakit yang sama karena faktor genetic/keturunan.

6. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum

Keadaan umum klien mengeluh adanya sensasi nyeri yang

menyebar biasanya pada hernia ingunalis lateralis, perasaan nyeri

yang menyebar hingga ke scrotum.

b. Kesadaran

Kesadaran klien biasanya composmentis.

c. Tanda-tanda Vital

1) Suhu meningkat (>37o C).

2) Nadi meningkat (N : 86x/menit).

3) Tekanan darah 110/70 mmHg

d. Pemeriksaan Review Of System (ROS)

1) Sistem Pernafasan (B1 : Breathing)

Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau masih

dalam batas normal.

2) Sistem Sirkulasi (B2 : Bleeding)

Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apical, sirkulasi

perifer, warna, dan kehangatan.

57
3) Sistem Persarafan (B3 : Brain)

Kaji adanya hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot, terlihat

kelemahan/hilang fungsi. Pergerakan mata/kejelasan melihat,

dilatasi pupil. Agitasi (mungkin berhubungan dengan

nyeri/ansietas).

4) Sistem Perkemihan (B4 : Bleder)

Perubahan pola berkemih, seperti inkotinensia urin, disuria,

distensi kandung kemih, warna dan bau urin, dan

kebersihannya.

5) Sistem Pencernaan (B5 : Bowel)

Konstipasi, konsisten feses, frekuensi eliminasi, auskultasi

bising usus, anoreksia, adanya distensi abdomen, nyeri tekan

abdomen.

6) Sistem Muskuloskeletal (B6 : Bone)

Kaji adanya nyeri berat tiba-tiba/mungkin terlokalisasi pada

area jaringan, dapat berkurang pada imobilisasi, kekuatan otot,

kontraktur, atrofi otot, laserasi kulit dan perubahan warna.

e. Pola fungsi kesehatan

Yang perlu dikaji adalah aktivitas apa saja yang biasa dilakukan

sehubungan dengan adanya nyeri pada persendian,

ketidakmampuan mobilisasi.

58
1) Pola presepsi dan tata laksana hidup sehat

Menggambarkan presepsi, pemeliharaan, dan penanganan

kesehatan.

2) Pola nutrisi

Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan, dan

elektrolit, nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan,

mual/muntah, dan makanan kesukaan.

3) Pola eliminasi

Menjelaskan fungsi ekskresi, kandung kemih, defekasi, ada

tidaknya masalah defekasi, masalah nutrisi, dan penggunaan

kateter.

4) Pola tidur dan istirahat

Menggambarkan pola tidur, istirahat, dan presepsi terhadap

energi, jumlah jam tidur pada siang dan malam, masalah tidur,

dan insomnia.

5) Pola aktivitas dan istirahat

Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernafasan, dan

sirkulasi, riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama, dan

kedalaman pernapasan.

6) Pola hubungan peran

Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran klien

terhadap anggota keluarga dan masyarakat ke tempat tinggal,

pekerjaan, tidak punya rumah, dan masalah keuangan.

59
7) Pola sensori dan kognitif

Pola presepsi sensori meliputi pengkajian penglihatan,

pendengaran, perasaan, dan pembau.

8) Pola presepsi dan konsep diri

Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan presepsi

terhadap kemampuan konsep diri. Konsep diri menggambarkan

gambaran diri, harga diri, peran, identitas diri.

9) Pola seksual dan reproduksi

Menggambarkan kepuasan/masalah terhadap seksualitas.

10) Pola mekanisme/penanggulangan stress dan koping

Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress.

11) Pola tata nilai dan kepercayaan

Menggambarkan dan menjelaskan pola, nilai keyakinan

termasuk spiritual

3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan

respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu

atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi

dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan

menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah.(10)

Diagnosa yang mungkin timbul pada klien post op hernia inguinalis :

60
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan dan proses inflamasi luka operasi.(11)

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive. (11)

3. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post

operasi dan efek anastesi(11)

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi(11)

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri

akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan

immobilisasi post operasi(11)

6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat

trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi11

3.3 Rencana Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah deskripsi untuk perilaku spesifik

yang diharapkan oleh pasien dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh

perawat. (10)

Tindakan/perencanaan keperawatan dipilih untuk membantu pasien

dalam mencapai hasil yang diharapkan dan tujuan pemulangan.(20)

61
Perencanaan keperawatan pad apasien post op hernia inguinalis

adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi, intervensi

keperawatan yang dilakukan yaitu :

a. Memonitor tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien dan

jadwal

b. Mengkaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri

pasien.

c. Memposisikan yang nyaman dengan sokong/tinggikan dengan

ganjal pada posisi anatomi ekstremitas yang sakit dan kurangi

pergerakan dini pada area luka operasi

d. Mengajarkan tekhnik relaksasi dan dextrasi nafas dalam untuk

mengurangi nyeri saat nyeri muncul

e. Menganjurkan pada keluarga untuk memberikan massase pada area

abdomen yang nyeri tapi bukan area luka operasi. (11)

2. Kolaborasi dengan tim medis dalam program therapy analgetik

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive, intervensi keperawatan yang dilakukan yaitu :

a. Mengkaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.

b. Mengawasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

62
c. Membantu klien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat

dan tidur.

d. Mendorong partisipasi klien dalam semua aktifitas sesuai

kemampuan individual.

e. Mendorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat dalam

latihan gerak.

f. Memberikan lingkungan tenang dan mempertahankan tirah baring.

g. Membantu aktifitas atau ambulasi pasien sesuai dengan kebutuhan

h. Memperbaiki kondisi klien(11)

3. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post

operasi dan efek anastesi, intervensi keperawatan yang dilakukan

yaitu:

a. Mengkaji dan observasi adanya kesulitan BAB dan masalah dalam

BAB pasien

b. Menganjurkan pasien untuk alih posisi tiap 2 jam sekali

c. Menganjurkan pada pasien untuk minum banyak 1500–3000cc tiap

hari dan makanan yang mengandung serat.

d. Menganjurkan pada pasien makan makanan yang lunak porsi

sedikit-sedikit tapi sering

e. Mengkaji peristaltik usus setiap pagi dan sesuai kondisi klien

f. Menganjurkan pasien menghindari mengejan saat BAB(11)

63
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi, intervensi keperawatan yang dilakukan yaitu :

a. Mengobservasi tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien.

b. Mengkaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi

adanya kemerahan sekitar luka dan pus pada luka operasi.

c. Melakukan medikasi luka steril/bersih tiap hari.

d. Mempertahanka tekhnik aseptic antiseptik/ kesterilan dalam

perawatan luka dan tindakan keperawatan lainnya.

e. Menjaga personal hygiene pasien.

f. Memanajemen kebersihan lingkungan pasien.

g. Mengkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy

antibiotik(11)

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri

akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan

immobilisasi post operasi, intervensi keperawatan yang dilakukan

yaitu :

a. Mempertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan

b. Meninggikan ekstrimitas yang sakit

c. Menginstruksi klien/bantu dalam latihan rentang gerak pada

ekstremitas yang sakit dan tak sakit.

d. Menjelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas

64
e. Memberikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas

dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan.

f. Mengawasi tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas

g. Mengubah posisi secara periodic tiap 2 jam(11)

6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat

trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi, intervensi yang

dilakukan yaitu :

a. Mengkaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi

atau drainage.

b. Memonitor tanda-tanda vital dan suhu tubuh pasien

c. Melakukan perawatan pada luka operasi sesuai dengan jadwal

d. Melakukan alih posisi dengan sering pertahankan kesejajaran

tubuh

e. Mempertahankan sprei tempat tidut tetap kering dan bebas kerutan

f. Menggunakan tempat tidur busa atau kasut udara sesuai indikasi

g. Mengkolaborasi pemberian antibiotic(11)

3.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi atau pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan

untuk mencapai tujuan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan

dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan,

mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan,

serta menilai data yang baru. (10)

65
Implentasi merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan

dengan melaksanakan berbagai strategi (tindakan keperawatan) yang te;ah

direncanakan. Dalam tahap ini perawat harus mengetahuiberbagai hal,

diantaranya bahaya fisik dan pelindungan kepada pasien, teknik

komunikasi kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang

hak-hak pasien, tingkat perkembangan pasien. Dalam tahap pelaksanaan ,

terhadap dua tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi. (10)


Tujuan implementasi
1. Membantu klien dalam mencapai tujuan yag telah ditetapkan
2. Mencankup peningkatan kesehatan
3. Mencegah penyakit
4. Pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. (10)

Perencanaan keperawatan pad apasien post op hernia inguinalis

adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi, intervensi

keperawatan yang dilakukan yaitu :

a. Bantu kaji tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien dan

jadwal

b. Bantu kaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala

nyeri pasien.

c. Bantu pasien posisikan yang nyaman dengan sokong/tinggikan

dengan ganjal pada posisi anatomi ekstremitas yang sakit dan

kurangi pergerakan dini pada area luka operasi

d. Bantu ajarkan pasien tekhnik relaksasi dan dextrasi nafas dalam

untuk mengurangi nyeri saat nyeri muncul

66
e. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan massase pada area

abdomen yang nyeri tapi bukan area luka operasi. (11)

2. Kolaborasi dengan tim medis dalam program therapy analgetik

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive, intervensi keperawatan yang dilakukan yaitu :

a. Bantu kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.

b. Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

c. Bantu klien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat

dan tidur.

d. Dorong partisipasi klien dalam semua aktifitas sesuai kemampuan

individual.

e. Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat dalam

latihan gerak.

f. Berikan lingkungan tenang dan mempertahankan tirah baring.

g. Bantu aktifitas atau ambulasi pasien sesuai dengan kebutuhan

h. Memperbaiki kondisi klien(11)

3. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post

operasi dan efek anastesi, intervensi keperawatan yang dilakukan

yaitu:

a. Kaji dan observasi adanya kesulitan BAB dan masalah dalam BAB

pasien

67
b. Anjurkan pasien untuk alih posisi tiap 2 jam sekali

c. Anjurkan pada pasien untuk minum banyak 1500–3000cc tiap hari

dan makanan yang mengandung serat.

d. Anjurkan pada pasien makan makanan yang lunak porsi sedikit-

sedikit tapi sering

e. Kaji peristaltik usus setiap pagi dan sesuai kondisi klien

f. Anjurkan pasien menghindari mengejan saat BAB(11)

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi, intervensi keperawatan yang dilakukan yaitu :

a. Observasi tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien.

b. Kaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi adanya

kemerahan sekitar luka dan pus pada luka operasi.

c. Lakukan medikasi luka steril/bersih tiap hari.

d. Pertahankan tekhnik aseptic antiseptik/kesterilan dalam perawatan

luka dan tindakan keperawatan lainnya.

e. Jaga personal hygiene pasien.

f. Manajemen kebersihan lingkungan pasien.

g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy

antibiotik(11)

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri

akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan

68
immobilisasi post operasi, intervensi keperawatan yang dilakukan

yaitu :

a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan

b. Tinggikan ekstrimitas yang sakit

c. Instruksi klien/bantu dalam latihan rentang gerak pada ekstremitas

yang sakit dan tak sakit.

d. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas

e. Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas dalam

lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan. Awasi

tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas

f. Ubah posisi secara periodic tiap 2 jam(11)

6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat

trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi, intervensi yang

dilakukan yaitu :

a. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau

drainage.

b. Monitor tanda-tanda vital dan suhu tubuh pasien

c. Lakukan perawatan pada luka operasi sesuai dengan jadwal

d. Lakukan alih posisi dengan sering pertahankan kesejajaran tubuh

e. Pertahankan sprei tempat tidut tetap kering dan bebas kerutan

f. Gunakan tempat tidur busa atau kasut udara sesuai indikasi

g. Kolaborasi pemberian antibiotic(11)

69
3.5 Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan

keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang

dibuat pada tahap perencanaan.(10)

1. Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian dengan cara membandingkan perubahan

keadaan pasien (hasil yan diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang

dibuat pada tahap perencanaan. (11)


2. Tujuan Evaluasi
a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan
b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan
c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan. (11)
3. Jenis-jenis Evaluasi
a. Frekuensi Proses (promotif)
1) Evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan.
2) Berorientasi pada etiologi.
3) Dilakukan secara terus menerussampai tujuan yang telah

ditentukan tercapai. (11)


b. Evaluasi hasil
1) Evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan

secara paripurna..
2) Berorientasi pada masalah keperawatan.
3) Menjelaskan keberhasilan atau ketidakberhasilan.
4) Rekapulasi dan kesimpulan status kesehatan klien sesuai

dengan kerangka waktu yang diharapkan. (11)


1. Komponen SOAP/ SOAPIER

Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau

perkembangan klien, digunakan komponen

SOAP/SOAPIE/SOAPIER. Penggunaannya tergantung dari

kebijakan setempat .

a. S : Data Subjektif

70
Perawat menuliskan keluham pasien yang masih

dirasakan setelah dilakukan tindakan keperawatan.


b. O : Data Objektif
data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi

perawat secara langsung kepada klien , dan yang dirasakan klien

setelah dilakuikan tindakan keperawatan.


c. A : Analisis
Interpretasi dan data subjektif dan data objektif ,

analis merupakan suatu maslah atau diagnosis keperawatan

yang masih terjadi atau juga dapat dituliskan masalah baru yang

terjadi akibat perubahan setatus kesehatan klien yang telah

terdentifikasi datanya dalam data subjektif dan objektif.


d. P : Planning
Perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan ,

dihentikan , dimodifikasi , dari rencana tindakan keperawatan

yang telah ditentukan sebelumnya.


Tindkan yang erlu dilanjutkan adalah tindakan yang masih

kompeten untuk menyelesaikan masalah klien, tetapi perlu

ditingkatkan kualitasnya atau mempunyai alternatif pilihan yang

lain, sedangkan rencana atindakan yang baru atau sebelumnya

tidak dapat ditentukan bila timbul masalah baru atau rencana

tindakan yang ada sudah tidak kompeten lagi untuk

menyelesaikan masalah yang ada.

Setelah dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan, pasien

diharapkan :

1. Mampu mengurangi gangguan rasa nyaman nyeri(11)

a. Mengetahui status nyeri pada klien

71
b. Latihan aktivitas bertahan mengurangi respon nyeri tapi tetap

pertahan kenyamanan klien dan mengurangi rasa nyeri klien

c. Program terapi sebagai system kolaboratif dalam menyelesaikan

masalah nyeri.

2. Intoleransi aktifitas dapat teratasi setelah dilakukan tindakan

keperawatan

a. Mampu melakukan aktifitas secara mandiri

b. Tidak takut bergerak lagi dan mau beraktivitas mandiri.

3. Dapat BAB secara rutin dan tidak terjadi konstipasi

a. Pasien bisa BAB minimal 1x dalam sehari

b. Konsistensi feses lunak

c. Nyeri berkurang saat BAB.

d. Tidak ada penumpukan masa feses pada abdomen

4. Tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien

a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi seprti pada luka operasi terdapat

pus dan kemerahan, oedem.

b. Tanda–tanda vital dalam batas normalLaboratorium leukosit, dan

hemoglobin normal.

c. Luka kering dan menunjukan penyembuhan

5. Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan

keperawatan.

a. Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin

b. Mempertahankan posisi fungsional

72
c. Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit

d. Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas

6. Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan

a. Penyembuhan luka sesuai waktu

b. Tidak ada laserasi, integritas kulit baik

73