Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Banyak sekarang anak-anak dibawah umur 5 tahun kehilangan masa depannya,


masa bermainnya sebagai anak-anak, dikarenakan menderitya Leukimia atau khususnya
LLA.

Leukimia adalah suatu jenis kanker yang dimulai dari sel darah putih, dimana
dalam keadaan normal sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh.Sel darah putih
ini akhirnya berpoliferasi tetapi masih imatur dalam jaringan pembentuk darah.

LLA merupakan leukimia yang paling sering terjadi pada anak-anak. Leukimia
jenis ini merupakan 25% dari semua jenis kanker yang mengenai anak-anak dibawah
umur 15 tahun, dan paling sering terjadi pada anak usia 3-5 tahun.

Pada penderita leukimia sum-sum tulang memproduksi sel darah putih yang tidak
normal yang disebut sel leukimia. Sel leukimia yang terdapat didalam sum-sum tulang
akan terus membelah dan semakin mendesak sel normal, sehingga produksi sel darah
merah normal akan mengalami penurunan.

B. TUJUAN

a. Tujuan Umum
Perawat mampu memahami gambaran tentang Leukimia Limfositik Akut dan
menerapkan proses keperawatan dengan standar yang benar.

b. Tujuan Khusus

1. Perawat mampu memahami teori tentang Leukimia Limfositik Aku

2. Perawat mampu melaksanakan pengkajian terhadap klien dengan LLA

1
3. Perawat mampu menetapkan diagnosa keperawatan untuk anak dengan LLA

4. Perawat mampu menyusun rencana tinddakan keperawatan untuk memenuhi


kebutuhan klien sesuai dengan prioritas masalah

5. Perawat mampu menerapkan tindakan keperawatan yang nyata sesuai dengan


prioritas masalah

6. Perawat mampu mengevaluasi dan mendokumentasikan sesuai tindakan


keperawatan

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI LEUKIMIA

Leukemia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupaproliferasi
patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang dalam
membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain. (Arief
Mansjoer, dkk, 2002 : 495).
B. ETIOLOGI

Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang
menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :

1. Faktor genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (Tcell
Leukemia – Lhymphoma Virus/ HLTV).

2. Radiasi

3. Obat-obat imunosupresif, obat-obat kardiogenik seperti diethylstilbestrol.

4. Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot.

5. Kelainan kromosom, misalnya pada down sindrom.

C. KLASIFIKASI

Berdasarkan morfologi sel terdapat 5 golongan besar leukemia, sesuai dengan 5


macam system hemopeitik dalam sumsum tulang, yaitu:
a. leukemia system eritropoeitik : mielosis eitremika atau penyakit di guglielmo
b. leukemia system granulopoeitik : leukemia granulositik atau mielositik
c. leukemia system trombopoetik : leukemia megakariositik
d. leukemia system lomfopoetik : leukemia lomfositik
e. leukemia system RES : retikuloendoteliosis atau retikulosis yang dapat berupa leukemia
monositik, leukemia plasmositik (penyakit Kahler), histiositosis.

3
Pada anak yang sering ditemukan adalah Leukemia Lomfoblastik Akut (LLA). Jenis
lain, seperti leukemia Mieloblastik Akut (LMA), Leukemia Limfositik Kronik (LLK),
Leukemia Mielositik Kronik (LMK) jarang ditemukan.
1. Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
LLA adalah kanker pada jaringan yang menghasilkan leukosit.Dihasilkan leukosit
yang imatur atau abnormal dalam jumlah berlebihan, dan leukosit-leukosit tersebut
menyusut keberbagai organ tubuh.
Penyebab LLA sampai saat ini belum jelas, diduga kemungkinan besar karena
virus (virus onkogonik). Factor lain yang ikut berperan adalah:
a. Factor eksogen seperti sinar X, sinar radioaktif, hormone, bahan kimia (Benzol,
Arsen, preparat sulfat), infeksi (virus dan bakteri)
b. Factor endogen, seperti ras (orang Yahudi mudah menderita LLA kelainan kromosom
(sindrom down), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus leukemia pada kakak
beradik atau kembar satu telur).
2. Leukemia Mielogenus Kronis
CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak
sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang
menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi
tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun,
peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
3. Luekemia Limfositik Akut
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast.Sering terjadi pada anak-anak, laki-
laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL
jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan
jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
4. Leukemia Limfositik Kronis
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi
klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau
penanganan penyakit lain.

4
D. GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang khas adalah pucat, panas, dan perdarahan disertai splenomegali
dan kadang-kadang hepatomegali, serta limfadenopati.Perdarahan berupa ekimosis, peteki,
epistaksis, dan perdarahan gusi.Gejala yang tidak khas adalah sakit sendi atau sakit tulang.
Gejala lain dapat timbul sebagai akibat infiltrasi sel leukemia pada alat tubuh, seperti lesi
purpura pada kulit, efusi pleura, kejang pada leukemia serebral.

E. PATOFISIOLOGI

Leukemia akut dan kronis merupakan suatu bentuk keganasan ataumaligna


yang muncul dari perbanyakan koloni sel-sel pembentuk sel darah yangtidak terkontrol.
Mekanisme kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja denganbaik akibat adanya
perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung jawab atas pengaturan
pertubuhan sel dan diferensiasi.Sel-sel leukemia menjalani waktu daur ulang yang
lebih lambatdibandingkan sel normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak
lengkapdan lambat serta dapat bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel
sejenis yangnormal.
Jika dilihat dari proses diferensiasi sel darah penggolongan leukemia limfoblastik
dan mieloblastik dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

-Mielosit
- Netrofil
Sel - Eosinofil
Mieloblast -Netrofilik
induk - Basofil
pluripo -Basofilik
tensial
-Eosinofilik
- Bursa - Limf. B
Limfoblast
Equivalen - Limf. T
- Timus

Gambar 1. Leukemia dapat terjadi sebagai akibat diferensiasi abnormal pada salah
satu proses diatas.

Walaupun leukemia menyerang kedua jenis kelamin, tetapi pria terserang sedikit
lebih banyak dibanding wanita.Leukemia limfositik, terutama akut menyolok pada anak-anak
umur kurang dari 15 tahun, dengan puncaknya pada umur 2-4 tahun.

5
Penyebab leukemia secara jelas hingga saat ini belum diketahui dengan pasti, tetapi
pengaruh lingkungan dan genetik diperkirakan memegang peranan penting.Faktor genetik
dapat dilihat pada tingginya kasus leukemia pada anak kembar monozigot.Faktor lingkungan
berupa kontak dengan radiasi ionisasi disertai manifestasi leukemia timbul bertahun-tahun
kemudian. Zat kimia misalnya : benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazone, dan agen
antineoplastik, dikaitkan dengan frekwensi yang meningkat , khususnya agen alkil. Agent
virus HTLV-1 dari leukemia sel T sejak lama dapat menyebabkan timbulnya leukemia.

Leukemia akut baik granulositik atau mielositik merupakan jenis leukemia yang
banyak terjadi pada orang dewasa. Manifestasi klinis berkaitan dengan berkurangnya atau
tidak adanya sel hematopoietik (Clarkson, 1983).Tanda dan gejala leukemia akut berkaitan
dengan netropenia dan trombositopenia.Ini adalah infeksi berat yang rekuren disertai
timbulnya tukak pada membrana mukosa, abses perirektal, pnemonia, septikemia disertai
menggigil, demam, tachikardi dan tachypnea.Trombositopenis menyebabkan perdarahan
yang tak terkontrol.Tulang mungkin sakit dan lunak.Anemia bukan merupakan manifestasi
awal disebabkan karena umur eritrosit yang panjang.Gejala anemia berupa pusing, malaise,
dan dispnea waktu kerja fisik yang melelahkan.Pensitopenia dapat terjadi setelah dilakukan
kemoterapi.

Leukemia limfositik akut (LLA), paling sering menyerang anak-anak dibawah 15


tahun dan mencapai puncaknya pada umur 2-4 tahun.Manifestasi LLA berupa proliferasi
limfoblas abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat ekstra medular seperti kelenjar limfe
dan limpa.Tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan pada unsur – unsur sum-sum tulang
normal.Karena itu, infeksi, perdarahan dan anemia merupakan manifestasi utama. Tanda lain
berupa limfadenopati, hepatosplenomegali, nyeri tulang, sakit kepala, muntah, kejang,
gangguan penglihatan. Data laboratorium berupa leukositosis, limfositosis, trombosit dan sel
darah merah rendah, hiperseluler sum-sum tulang belakang

6
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Hitung darah lengkap complete blood cell (CBC). Anak dengan CBC kurang dari
10.000/mm3 saat didiagnosis memiliki memiliki prognosis paling baik; jumlah lekosit
lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
2. Pungsi lumbal untuk mengkaji keterlibatan susunan saraf pusat
3. Foto toraks untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum.
4. Aspirasi sumsum tulang. Ditemukannya 25% sel blas memperkuat diagnosis.
5. Pemindaian tulang atau survei kerangka untuk mengkaji keterlibatan tulang.
6. Pemindaian ginjal, hati, limpa untuk mengkaji infiltrat leukemik.
7. Jumlah trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan.(Betz, Cecily L. 2002. hal : 301-
302).
G. KOMLIPKASI

1. Gagal sumsum tulang

2. Infeksi

3. Hepatomegali

4. Splenomegali

5. linfadenopati

H. PENATALAKSANAAN

1. Transfusi Darah : biasanya diberikan pada kadar Hb < 6gr%, pada trombositopenia
yang berat dan perdarahan massif dapat diberikan transfuse trombosit.

2. Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametasol)

3. Sitostatika

4. Infeksi sekunder dihindarkan, dirawat dikamar isolasi

5. Transplantasi sumsum tulang

7
I. LANDASAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Data Klinis
 Nama : No. Rekam Medik:

 Usia :

 Jenis Kelamin :

 LILA :

 Suhu :

 Nadi :

 Tekanan Darah :

 Tanggal : Waktu kedatangan : orang yang dihubungi:

 Telepon :

 Catatan kedatangan: Kursi roda: Ambulans: Brankar:

 Alasan Dirawat di Rumah Sakit:

b. Riwayat Kesehatan

1) Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien dapat mengalami sakit sedang, cemas, lemas dan bedrest, aktivitas dibantu oleh
keluarga dan perawat, sclera ikterik, bentuk abdomen cembung, warna sama dengan
daerah sekitar, ada pembesaran perut (asites) dan nyeri tekan pada daerah kuadran I
dan ulu hati (Siti Rochani, 2000).

2) Riwayat Kesehatan Dahulu


Pasien pernah memiliki riwayat penyakit hepatitis B, alkoholisme, klien mengalami
malnutrisi, dan pernah terpapar dengan zat toksik (Hendro Susilo, 2000).

8
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien memiliki riwayat hepatitis pada keluarga (Hendro Susilo, 2000).

2. NANDA

a. Nyeri kronik berhubungan dengan penyakit kronik


Batasan karakteristik :

 Ketidakmampuan melakukan aktifitas seperti biasanya

 Anoreksia

 Perubahan pola tidur

 Melaporkan nyeri

 Ekspresi wajah meringis

 Lemah

 Respon verbal nyeri

b. Resiko Infeksi

Faktor Resiko

 Penyakit kronik

 Pertahanan kedua yang tidak adekuat (pengurangan hemoglobin, leucopenia, respon


yang menekan sesuatu yang menyebabkan radang)

 Pertambahan pembukaan lingkungan pada pathogen

 Penekanan imun

 Malnutrisi

 Agen farmasi (ex: zat yang menghambat reaksi imun)

9
c. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

Batasan Karakteristik :
 Nafsu makan menurun
 Berat badan menurun (20% atau lebih dibawah ideal)
 Kelemahan/ kerapuhan pembuluh kapiler
 Penurunan berat badan dengan intake makanan yang cukup
 Kurangnya informasi
 Konjungtiva dan membran mukosa pucat
 Tonus otot buruk
 Melaporkan intake makanan yang kurang dari kebutuhan makanan yang tersedia

3. NOC

1.a Tingkat kenyamanan


 Melaporkan kenyamanan fisik
 Melaporkan kenyamanan psikologis
1.b Tingkat Nyeri
 Melaporkan nyeri
 Bagian tubuh yang diserang
 frekuensi nyeri
 Panjangnya episode nyeri

2. Hasil yang disarankan :

 Status imun

 Pengetahuan : Kontrol infeksi

 Status nutrisi

 Kontrol resiko

 Deteksi resiko

10
 Kebiasaan pengobatan : Sakit atau luka

3.aStatus nutrisi

Indikator :

 intake nutrisi dalam batas normal


 intake makanan dalam batas normal
 intake cairan dalam batas normal
 Energi
 Indeks masa tubuh

3.bStatus nutrisi : asupan makanan dan cairan

Indikator :

 Intake makanan melalui oral dalam batas normal


 intake cairan melalui oral dalam batas normal
 intake cairan melalaui intravena

3.cStatus nutrisi : intake nutrisi

Indikator :

 intake kalori dalam batas normal


 intake protein dalam batas normal
 intake lemak dalam batas normal
 intake karbohidrat dalam batas normal
 intake serat dalam batas normal
 intake mineral dalam batas normal

11
4. NIC

1.a Pengaturan Nyeri

1) Melakukan pengkajian yang komprehensif dari nyeri termasuk lokasi, karakteristik,


serangan/durasi, frekuensi, kuaalitas, intensitas atau penyebaran dan factor-faktor
pencetusnya.
2) Mengobservasi tanda-tanda non verbal dari ketidaknyamanan terutama
padaketidakmammpuan berkomunikasi secara efektif.
3) Memastikan klien mendapatkan perawatan analgesic
4) Menggunakan teknik komunikasi terapeutik dan mengetahui pengalaman nyeri dan
respon klien terhadap nyeri
5) Menyediakan informasi tentang nyeri seperti penyebab,lamanya,dan cara-cara untuk
mengantisipasi ketidaknyamanan.
6) Mengontrol factor-faktro lingkungan yang dapat mempengaruhi responketidaknyamanan
klien
7) Mengurangi atau menghilangkan factor-faktor pencetus yang dapatmeningkatkan nyeri.
8) Menggunakan teknik konrol nyeri sebelum nyeri menyebar
9) Mendorong klien untuk dapat berbicara tentang pengalaman nyeri
10) Memantau kepuasaan klien terhadap management nyeri

2.a Kontrol Infeksi

1) Ganti peralatan pengobatan pasien setiap protocol/pemeriksaan.

2) Isolasi orang yang mempunyai penyakit menular.

3) Letakkan di tempat isolasi yang sudah dirancang sesuai aturan dengan benar.

4) Atur teknik isolasi dengan tepat.

5) Batasi jumlah pengunjung/pembezuk.

6) Ajarkan mencuci tangan untuk memperbaiki kesehatan pribadi..

12
7) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan pada pasien.

8) Tutup/jaga kerahasiaan system ketika melakukan pemeriksaan invasive hemodynamic.

9) Pastikan keadaan steril saat menangani IV.

10) Pastikan teknik perawatan luka yang tepat.

11) Tingkatkan pemasukkan nutrisi yang tepat.

12) Tingkatkan pemasukan cairan yang tepat.

13) Banyak istirahat.

14) Lakukan terapi antibiotic yang tepat.

15) Ajarkan pasien untuk memakan antibiotic sesuai resep.

16) Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala infeksi dan kapan harus
melaporkannya pada tim kesehatan.

2.b Perlindungan terhadap infeksi

1) Memeriksa system dan tanda-tanda dan gejala-gejala infeksi.

2) Mengontrol mudahnya terserang infeksi.

3) Mengontrol jumlah granulosit, WBC, dan hasil yang berbeda.

4) Mengikuti pencegahan dengan neutropenic.

5) Membatasi jumlah pengunjung/pembezuk.

6) Membersihkan pengunjung dari penyakit yang dapat menular.

7) Menjaga kebersihan pasien yang beresiko.

8) Melakukan teknik isolasi.

9) Memberikan perawatan kulit yang tepat pada daerah edema.

13
10) Mendapatkan pemeliharaan sesuai kebutuhan.

11) Meningkatkan kebutuhan nutrisi yang cukup.

12) Mendorong pemasukan cairan.

13) Meningkatkan istirahat.

14) Memeriksa perubahan tingkat energy.

15) Menginstruksikan pasien menggunakan antibiotic sesuai resep.

16) Mengajarkan pasien dan keluarga mengenai gejala-gejala infeksi dan melaporkannya
kepada pemberi layanan kesehatan lainnya.

17) Mengajarkan pasien dan keluarga bagaimana mencegah infeksi..

18) Menyediakan ruangan khusus sesuai kebutuhan.

3.a Manajemen Nutrisi

1) Mengkaji adanya pasien alergi terhadap makanan

2) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis gizi yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien

3) Mengatur pola makan dan gaya hidup pasien

4) Mengajarkan pasien bagaimana pola makan sehari- hari yang sesuai dengan kebutuhan

5) Memantau dan mencatat masukan kalori dan nutrisi

6) Timbang berat badan pasien dengan interval yang sesuai

7) Memberikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana cara
memenuhinya

8) Membantu pasien untuk menerima program gizi yang dibutuhkan

14
3.b Therapy nutrisi
1) Memantau makanan dan minuman yang dimakan dan hitung intake kalori sehari yang
sesuai

2) Memantau ketepatan anjuran diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehari- hariyang
sesuai

3) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis gizi yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien

4) Memberikan makanan sesuai dengan diet yang dianjurkan

5) Memantau hasil labor Memberikan

6) Mengajari kepada keluarga dan pasien secara tertulis contoh diet yang dianjurkan

3.c Pemantauan Gizi

1) Memantau berat badan pasien

2) Memantau turgor kulit

3) Memantau mual dan muntah

4) Memantau albumin, total protein, Hb, hematokrit, dan elektrolit

5) Memantau tingkat energi, lemah, letih, rasa tidak enak

6) Memantau apakah konjungtiva pucat, kemerahan, atau kering

7) Memantau intake nutrisi dan kalori

15
BAB III
TINJAUAN KASUS

NamaKelompok : Kelompok 4
Tempat Pengkajian : RSUP DR. M.Djamil
Tanggal Pengkajian : 4 Mei 2012
Tanggal Klien Masuk RS : 3 April 2012 No.MR: 640286

I. IDENTITAS DATA
Nama.Anak : An.P
Tempat Tanggal Lahir/Usia : Pekanbaru, 14 November 2009/ 2,6tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Pendidikan Anak : belum sekolah Anak Ke: 2

II. KELUHAN UTAMA(Alasan Masuk RS)


Klien masuk RS dengan keluhan klien sering merasa pusing, muntah dan nyeri sendi,
orang tua klien juga mengatakan anaknya semakin hari semakin pucat.

III. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN


Prenatal
Ibu klien sewaktu hamil jarang minum susu, makanan yang dikonsumsi
gizinya cukup. Ibu klien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan
hormonal dan tidak ada mengalami trauma kehamilan.
Intranatal
Cara lahir : secsio
Usia kehamilan ibu : 10 bulan
Berat badan lahir : 3000 gram
Panjang badan lahir : 48 cm
Pertolongan kelahiran : dokter

16
Postnatal
Ibu klien mengatakan perkembangan anaknya sesudah lahir normal.

IV. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


Klien sudah menderita penyakit ini semenjak 10 bulan yang lalu. Semenjak
didiagnosa penyakit LLA, klien sering dirawat di RS untuk menjalani kemoterapi.
Riwayat imunisasi klien lengkap. Klien tidak pernah mengalami kecelakaan atau
trauma sebelumnya dan tidak ada riwayat alergi.
Riwayat Imunisasi

I II III Ulangan

BCG Lahir

DPT 2 Bln 2 Bln 4 Bln

Polio 1 Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln

Campak 9 Bln

Hep. B 1 Bln 3 Bln 5 Bln

V. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


Klien masuk RSUP DR.M.Djamil tanggal 3 April 2012dengan keluhan klien tampak
pucat, rewel tak menentu, dan nyeri kepala, klien meringis kesakitan dan memegang
kepalanya. Klien juga tidak mau makan serta muntah-muntah.Pada saat dilakukan
pengkajian tanggal 4 Mei 2012 Ibu klien mengatakan anaknya sering menangis
karena mengeluh sakit kepala.

VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Ibu klien mengatakan tidak ada yang menderita penyakit ini sebelumnya atau jenis
kanker lainnya, serta juga tidak riwayat penyakit menular dan keturunan.

17
VII. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG
- Kemandirian dan bergaul : Klien bersikap manja dengan anggota
keluarganya, seperti klien sering menangis dan minta kebutuhannya harus
terpenuhi. Klien tampak tidak bersemangat untuk bermain dengan teman-
teman satu kamar dengannya.
- Personal sosial : Klien mampu melepas pakaian sendiri. Perkembangan
sesuai dengan umur klien
- Motorik Halus : Klien mampu meniru membuat garis lurus.
Perkembangan sesuai dengan umur klien
- Motorik Kasar : Berdiri satu kaki tanpa berpegangan
minimal 1
hitungan

Kognitif dan Bahasa : Tidak ada gangguan dan sesuai dengan umur klien. Bicara
dimengerti serta mengetahui sedikitnya 2 kegiatan

VIII. RIWAYAT SOSIAL


Klien diasuh dengan orang tua klien, klien bersikap manja dengan anggota
keluarganya, seperti klien sering menangis dan minta kebutuhannya harus terpenuhi.
Klien tampak tidak bersemangat untuk bermain dengan teman-teman satu kamar
dengannya karena mengeluh kepalanya nyeri,capek dan lelah.

IX. PEMERIKSAAN FISIK


1. TTV
Suhu : 37.5
Pernapasan : 28x/i
Nadi : 90x/i
TB : 79 cm
BB :10 kg
LIKA : 48 cm

18
Gigi pertama tumbuh : gigi seri bawah umur 6 bulan.
2. BB/TB : 89, 28 % (Gizi Sedang)
3. Rambut dan kepala

Rambut dan kepala klien bersih.Rambut klien tidak ada sejak dikemotrapi.

4. Mata

Simetris kiri dan kanan

Palpebra : tidak oedem

Konjunctiva : anemis

Sklera : tidak ikterik

Pupil : isokor

5. Telinga

Simetris kiri dan kanan

Pinna telinga tidak ada radang

Liang telinga lapang

Serumen tidak ada

Tes pendengaran tidak terganggu

6. Hidung

Septum ada, simetris kiri dan kanan

Tidak ada sekret, polip tidak ada

Epitaksis tidak ada

19
7. Mulut dan gigi

Gigi klien lengkap dan masih gigi susu.

Mulut bersih, mukosa mulut kering dan terlihat pucat.

Lidah terlihat sedikit kotor

8. Leher

Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar getah bening. JVP 5-2 cm H2O

9. Tenggorokan

Tonsil tidak hiperemis

Faring tidak hiperemis

10. Thorak

Jenis pernapasan : abdominal Torasikal

I : simetris kiri dan kanan

P : fremitus kiri dan kanan

P : sonor kiri dan kanan

A : vesikuler

11. Jantung

I : iktus tidak terlihat

P : iktus cordis teraba 1 jari medial lmcs RIC V

P : batas jantung atas RIC II, kanan: LSD, kiri: 1 jari Mid LMCS RIC V

A : irama teratur, mur-mur tidak ada

20
12. Abdomen

I : tidak membuncit

P : hati/lien sukar dinilai

P :-

A : bising usus + (normal)

10. Punggung: bentuk normal

11. Ekstremitas

Akral

Reflek fisiologis baik pada kedua ekstremitas

Reflek patologis tidak ada kedua teraba panas

Pengisian kapiler < 2 detik ekstremitas.

Klien mengatakan terasa nyeri pada tangan yang terpasang infuse


12. Genetalia
Penis normal dari ukuran serta bentuknya
13. Kulit
Tidak ada sianosis, turgor kulit baik, pengisian kapiler < 2 detik.
14. Pemeriksaan Neurologis
Status mental : Ekspresi wajah tampak gelisah dan kesakitan,
kemampuan bicara baik, kesadaran composmentis
Saraf Kranial : Nervus Olfaktorius (Nervus I) utuh.
Nervus Optikus (Nervus.II) utuh
Nervus Occulomotorius/Trochlear/Abdusens
(Nervus III, IV, VI) utuh
Nervus Trigeminus (Nervus.V) utuh
Nervus Fasialis (Nervus.VII) utuh

21
Nervus Akustikus (Nervus.VIII) utuh
Nervus Glosofaringeal & Nervus Vagus
(Nervus.IX / X) utuh
Nervus Accesorius (Nervus.XI) utuh
Nervus Hipoglosus (Nervus.XII) utuh
Motoris : Cara berjalan baik, koordinasi baik, keseimbangan
baik
Sensoris : Sentuhan baik, membedakan stimulus (tajam/
tumpul) baik, membedakan suhu baik
DTR : Reflek Triceps +/+; Reflek Biceps +/+;
Reflek patella +/+; Reflek archiles +/+
Lainnya : Tidak ada

13. PEMERIKSAAN TUMBUH KEMBANG


- DDST
 Personal sosial : Klien mampu mencuci dan mengeringkan tangan
Perkembangan sesuai dengan umur klien
 Motorik Halus : Klien mampu meniru menara 4 kubus
Perkembangan sesuai dengan umur klien
 Motorik Kasar : Mampu melempar bola keatas dan melompat
 Kognitif dan Bahasa : Tidak ada gangguan dan sesuai dengan umur klien.
Bicara dimengerti serta mengetahui sedikitnya 2 kegiatan
- STATUS NUTRISI
Umur : 2 tahun 6 bulan= 30 bulan
BB : 10 kg

TB : 79 cm

Jenis Kelamin : laki-laki

BB/U : BB saat ini x 100 %

BB sesuai umur digrafik

22
10 kg x 100 %

13,4

= 74, 62% (KEP II Sedang)

TB/U : TB saat ini x 100 %

BB sesuai umur digrafik

79 cm x 100 %

91,5

= 86,33% (KEP II Sedang)

BB/TB : BB saat ini x 100 %

BB yang sesuai menurut TB

10 kg x 100 %

11,2

= 89,28 % ( Gizi sedangl)

14. PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL

 Klien tampak akrab dengan anggota keluarga yang lain


 Klien sudah mempunyai hubungan yang akrab dalam bermain selama di rumah
 Klien selama dirumah sakit sering menangis kalau perawat menghampirinya dan
klien tidak mau makan, klien tidak bersosialisasi dan tidak semangat untuk
bermain dengan teman 1 kamar dengannya karena anak mengeluh capek dan
lelah.

23
15. PEMERIKSAAN SPIRITUAL
Klien beragama Islam sesuai yang dianut oleh keluarganya.Klien belum mengerti
tentang ibadahnya dan agamanya.

16. PEMERIKSAAN PENUNJANG

- Hasil Pemeriksaan Hematologi (4 April 2012 )


 Hb : 8,3 g/% (12-14%)
 Leukosit : 55.000/mm³ (5.000-10.000)
 Hitung Jenis Leukosit
o Basofil :0 (0-1,0)
o Eosonofil :2 (1,0-3,0)
o N. Batang :0 (2-6)
o N. Segmen :2 (50-70)
o Limfosit :4 (20-40)
o Monosit :0 (2,0-8,0)
o Sel Patologis Blast : 92%
o Eritrosit : 2,85
o Ht : 26 g/%
o Gambaran darah tepi
 Eritrosit : omisositosis, normokrom, polikron (+)
 Leukosit : leokositosis, ditemukan sel muda 92%
o Trombosit : 119000/mm³ (150.000-400.000)
o Retikolosit : 20% (5-15%)
- Hasil Pemeriksaaan Sum-sum Tulang (BMP)
 Makroskopis : (-)
 Mikroskopis
o Porokel : ada
o Kepadatan Sel : meningkat
o Sel Lemak : sedikit

24
 Tromboponosit :
o Jumlah Megakariosit : tidak ditemukan
 Hitung Jenis
o Limfosit : 65 % (0-1)
o Progranulasit :0 (1-5)

- Hasil Pemeriksaan Hematologi (22 April 2012)


 Hb : 10,1 g/% (12-14)
 Leukosit : 2900 (5000-10.000)
 Ht : 30
 Trombosit : 75.000 (150.000-400.000)

- Hasil Pemeriksaan Urine

 Makroskopis : (-)

 Mikroskopis

o Leukosit : 1-2/LPB

o Eritrosit : 0-1/LPB

o Silinder :-

o Kristal : (-)

o Epitel : (+) gepeng

 Kimia

o Protein :-

o Glukosa :-

o Bilirubin :-

o Urobilinogen :+

25
- Hasil Pemeriksaan Hematologi (6 Mei 2012)

 Hb : 10,5 g/% (12-14)

 Leukosit : 1500/mm³ (5.000-10.000)

 Trombosit : 10.000/mm³ (150.000-400.000)

17. KEBUTUHAN DASAR SEHARI-HARI

No Jenis Sebelum sakit/ Di rumah Di rumah sakit


. Kebutuhan
1. Makan Tak menentu kadang banyak, kadang ±3-4x/hari, sedikit-
sedikit, 4-5x/hari, terdiri dari sedikit tapi sering,
nasi+lauk+sayur hanya habis
seperempat porsi
terdiri dari
nasi+lauk+sayur +
buah-buahan
2. Minum ± 1300-1500 cc/ hari, air putih+ susu ±5-6 gelas sehari,
terdiri dari susu
dan air putih
3. Tidur Klien tidur siang ±2 jam/ hari Klien sering tidur
Klien tidur malam ±7 jam, sering siang tapi hanya
terbangun dan tidur lagi sebentar ± 1 jam/
hari, terbangun dan
beberapa jam
kemudian tidur lagi
Klien tidur malam
± 7 jam, sering
terbangun dan tidur

26
lagi.

4. Mandi Klien mandi 2x sehari dikamar mandi Klien mandi 2x


dibantu oleh ibunya sehari dikamar
mandi dibantu oleh
ibu klien
5. Eliminasi BAB BAB
Konsistensinya padat, dengan frekuensi Konsistensinya
1/ hari, baunya khas, warna kuning padat, dengan
kecoklatan. frekuensi 1/ hari,
baunya khas,
warna kuning
kecoklatan

BAK BAK
Frekuensinya 3-4x/hari,± 600 cc, Frekuensinya 3-4x/
baunya khas, berwarna kekuning- hari,±650 cc,
kuningan baunya khas,
berwarna kuning
bening
6. Bermain Klien terlihat aktif dan terlihat tertarik Klien tidak
dengan lingkungannya bersemangat
bermain karena
mengeluh
kepalanya terasa
sakit, dan lelah.
Dan kurang tertarik
dengan
lingkungannya.

27
ANALISA DATA

Data Etiologi Masalah


Data subyektif: Penyakit kronik, Nyeri
- Klien mengatakan kepalanya kimia misalnya
terasa nyeri pengobatan anti
- Klien mengatakan nyeri pada leukimia,
kedua tangan yang terpasang (Khemotherapi)
infus (skala 6)
Data obyektif:
- Tampak gelisah dan meringis
kesakitan
- Tampak memegang daerah
yang nyeri dengan hati-hati
- Mengerakkan tangan dengan
hati-hati
- TTV :
Suhu : 38.5
Pernapasan : 28x/i
Nadi : 90x/i

Data subyektif: - Risiko tinggi infeksi Tidak adekuat pertahanan


Data obyektif: sekunder : gangguan dalam
- Suhu : 37,50 C. kematangan SDP
DPL tanggal 6/05/12
- Leukosit 1500/mm³
- Hb : 10,5 gr/dL
- Trombosit : 10.000
Hasil BMP
- Megakariosit : tidak ditemukan

28
- Limphocyte : 65 %
- Jml sel leukosit >1 juta
Data Subjektif : Ketidakmampuan Ketidakseimbangan nutrisi
- Ibu klien mengatakan nafsu untuk memasukkan : kurang dari kebutuhan
makan anaknya menurun atau mencerna tubuh
- Ibu klien mengatakan anaknya nutrisi oleh karena
sering muntah-muntah faktor biologis,
- Ibu klien mengatakan anaknya psikologis atau
sering rewel, tampak lelah dan ekonomi.
tidak bersemangat
Data Objektif :
- Klien hanya menghabiskan ¼
sampai ½ porsi dari diit yang
diberikan
- Hb : 10,5 gr%
- Klien terlihat pucat
- Konjungtiva anemis
- Klien terlihat lemah

29
NO NANDA NOC NIC

1 Nyeri kronik berhubungan 1. Tingkat kenyamanan a) Pengaturan Nyeri


dengan penyakit kronik  Melaporkan kenyamanan fisik 1. melakukan pengkajian yang komprehensif
Batasan karakteristik  Melaporkan kenyamanan psikologis dari nyeri termasuk lokasi, karakteristik,
 Ketidakmampuan
2. Tingkat Nyeri serangan/durasi, frekuensi, kuaalitas,
melakukan aktifitas
seperti biasanya  Melaporkan nyeri intensitas atau penyebaran dan factor-faktor
 Anoreksia  Bagian tubuh yang diserang pencetusnya.
 Perubahan pola tidur
 Melaporkan nyeri  frekuensi nyeri 2. Mengobservasi tanda-tanda non verbal
 Ekspresi wajah meringis  Panjangnya episode nyeri dari ketidaknyamanan terutama
 Lemah
 Respon verbal nyeri padaketidakmammpuan berkomunikasi
secara efektif.
3. Memastikan klien mendapatkan perawatan
analgesic
4. Menggunakan teknik komunikasi terapeutik
dan mengetahui pengalaman nyeri dan
respon klien terhadap nyeri
5. Menyediakan informasi tentang nyeri seperti
penyebab,lamanya,dan cara-cara untuk
mengantisipasi ketidaknyamanan.
6. Mengontrol factor-faktro lingkungan
yang dapat mempengaruhi
responketidaknyamanan klien
7. Mengurangi atau menghilangkan factor-
faktor pencetus yang dapatmeningkatkan
nyeri.
8. Menggunakan teknik konrol nyeri
sebelum nyeri menyebar
9. Mendorong klien untuk dapat berbicara
tentang pengalaman nyeri
10. Memantau kepuasaan klien terhadap
management nyeri

2. RESIKO INFEKSI RESIKO INFEKSI 1. KONTROL INFEKSI


Faktor Resiko Hasil yang disarankan :  Ganti peralatan pengobatan pasien setiap
 Penyakit kronik  Status imun protocol/pemeriksaan.
 Pertahanan kedua yang  Pengetahuan : Kontrol infeksi  Isolasi orang yang mempunyai penyakit
tidak adekuat (pengurangan  Status nutrisi menular.
hemoglobin, leucopenia,  Kontrol resiko  Letakkan di tempat isolasi yang sudah
respon yang menekan  Deteksi resiko dirancang sesuai aturan dengan benar.
sesuatu yang menyebabkan  Kebiasaan pengobatan : Sakit atau  Atur teknik isolasi dengan tepat.
radang) luka  Batasi jumlah pengunjung/pembezuk.
 Pertambahan pembukaan  Ajarkan mencuci tangan untuk
lingkungan pada pathogen memperbaiki kesehatan pribadi..
 Penekanan imun  Cuci tangan sebelum dan sesudah
 Malnutrisi melakukan perawatan pada pasien.
 Agen farmasi (ex: zat yang  Tutup/jaga kerahasiaan system ketika
menghambat reaksi imun) melakukan pemeriksaan invasive
hemodynamic.
 Pastikan keadaan steril saat menangani

31
IV.
 Pastikan teknik perawatan luka yang
tepat.
 Tingkatkan pemasukkan nutrisi yang
tepat.
 Tingkatkan pemasukan cairan yang tepat.
 Banyak istirahat.
 Lakukan terapi antibiotic yang tepat.
 Ajarkan pasien untuk memakan antibiotic
sesuai resep.
 Ajarkan pasien dan keluarga tentang
tanda-tanda dan gejala infeksi dan kapan
harus melaporkannya pada tim kesehatan.

2. PERLINDUNGAN TERHADAP
INFEKSI
 Memeriksa system dan tanda-tanda dan
gejala-gejala infeksi.
 Mengontrol mudahnya terserang infeksi.
 Mengontrol jumlah granulosit, WBC, dan
hasil yang berbeda.
 Mengikuti pencegahan dengan
neutropenic.
 Membatasi jumlah
pengunjung/pembezuk.
 Membersihkan pengunjung dari penyakit
yang dapat menular.
 Menjaga kebersihan pasien yang beresiko.
 Melakukan teknik isolasi.
 Memberikan perawatan kulit yang tepat
pada daerah edema.

32
 Mendapatkan pemeliharaan sesuai
kebutuhan.
 Meningkatkan kebutuhan nutrisi yang
cukup.
 Mendorong pemasukan cairan.
 Meningkatkan istirahat.
 Memeriksa perubahan tingkat energy.
 Menginstruksikan pasien menggunakan
antibiotic sesuai resep.
 Mengajarkan pasien dan keluarga
mengenai gejala-gejala infeksi dan
melaporkannya kepada pemberi layanan
kesehatan lainnya.
 Mengajarkan pasien dan keluarga
bagaimana mencegah infeksi..
 Menyediakan ruangan khusus sesuai
kebutuhan.

3. Ketidakseimbangan nutrisi : 1) Status nutrisi 1. Manajemen Nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh Indikator :  Mengkaji adanya pasien alergi terhadap
berhubungan dengan  intake nutrisi dalam batas normal makanan
ketidakmampuan untuk  intake makanan dalam batas normal  Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk
memasukkan atau mencerna  intake cairan dalam batas normal menentukan jumlah kalori dan jenis gizi
nutrisi oleh karena faktor  Energi yang dibutuhkan untuk memenuhi
biologis, psikologis atau  Indeks masa tubuh kebutuhan gizi pasien
ekonomi.  Mengatur pola makan dan gaya hidup
Batasan Karakteristik : 2) Status nutrisi : asupan makanan dan pasien

33
 Nafsu makan menurun cairan  Mengajarkan pasien bagaimana pola
 Berat badan menurun (20% Indikator : makan sehari- hari yang sesuai dengan
atau lebih dibawah ideal)  Intake makanan melalui oral dalam kebutuhan
 Kelemahan/ kerapuhan batas normal  Memantau dan mencatat masukan kalori
pembuluh kapiler  intake cairan melalui oral dalam batas dan nutrisi
 Penurunan berat badan normal  Timbang berat badan pasien dengan
dengan intake makanan yang  intake cairan melalaui intravena interval yang sesuai
cukup  Memberikan informasi yang tepat tentang
 Kurangnya informasi 3) Status nutrisi : intake nutrisi kebutuhan nutrisi dan bagaimana cara
 Konjungtiva dan membran Indikator : memenuhinya
mukosa pucat  intake kalori dalam batas normal  Membantu pasien untuk menerima
 Tonus otot buruk  intake protein dalam batas normal program gizi yang dibutuhkan
 Melaporkan intake makanan  intake lemak dalam batas normal
yang kurang dari kebutuhan  intake karbohidrat dalam batas 2. Therapy nutrisi
makanan yang tersedia normal  Memantau makanan dan minuman yang
 intake serat dalam batas normal dimakan dan hitung intake kalori sehari
 intake mineral dalam batas normal yang sesuai
 Memantau ketepatan anjuran diet untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-
hariyang sesuai
 Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan jenis gizi

34
yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan gizi pasien
 Memberikan makanan sesuai dengan diet
yang dianjurkan
 Memantau hasil labor Memberikan
 Mengajari kepada keluarga dan pasien
secara tertulis contoh diet yang dianjurkan

3. Pemantauan Gizi
 Memantau berat badan pasien
 Memantau turgor kulit
 Memantau mual dan muntah
 Memantau albumin, total protein, Hb,
hematokrit, dan elektrolit
 Memantau tingkat energi, lemah, letih,
rasa tidak enak
 Memantau apakah konjungtiva pucat,
kemerahan, atau kering
 Memantau intake nutrisi dan kalori

35
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penyakit kronis dan mengancam kehidupan seperti leukimia adalah salah satu
penyakit yang ada pada anak.Leukimia adalahsuatu jenis kanker yang dimulai dari sel
darah putih, dimana dalam keadaan normal sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan
tubuh.

Pada penderita leukimia sum-sum tulang memproduksi sel darah putih yang tidak
normal yang disebut sel leukimia. Sel leukimia yang terdapat didalam sum-sum tulang
akan terus membelah dan semakin mendesak sel normal, sehingga produksi sel darah
merah normal akan mengalami penurunan.

B. SARAN

b. Diharapkan kepada semua tenaga kesehatan khususnya perawat dapat


meningkatkan pelayanan kesehatan pada anak yang mengalami penyakit pada
anak yang mengalami penyakit kronis dan mengancam, sehingga dapat
mengurangi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak.

c. Diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan


tepat sehingga mempercepat proses penyembuhan anak dan mengurangi
komplikasi yang lebih berat atau bahkan kematian.

36
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 Bagian I. Media Aesculapius,
FKUI. Jakarta.

Wong, Donna L , dkk . 2008. “ Wong Buku Ajar Keperawatan Pediatrik volume 2 ”.
Jakarta : EGC

Moorhead, Sue dkk. 2008.Nursing Outcomes Classification (NOC),Fourth Edition.United


State:Mosby

Herdman, T. Heather. 2009. Nanda International, Nursing Diagnosis: Deffintion &


Classification 2009-2011. Singapure: Markono Print Media Pte Ltd

Bulecheck,Gloria dkk. 2008Nursing Interventions Classification (NIC),Fifth


Edition.United State : Mosby

http://www.scribd.com/doc/33202855/Askep-Leukimia

37