Anda di halaman 1dari 13

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny. I
Umur : 54 tahun
Agama : Islam
Alamat : Karang Malang 02/05, Gebog
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. RM : 649439
Tanggal Pemeriksaan : Rabu, 17 Januari 2018

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal 17 Januari 2018 jam 09.45 di Poli Mata.
A. Keluhan Utama :
Pandangan kabur pada kedua mata
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kedua mata kabur untuk melihat sejak 4 tahun yang lalu.
Keluhan ini dirasakan pada kedua mata. Selain itu pasien juga mengeluhkan
penglihatannya silau dan terkadang gatal pada kedua mata. Sebelumnya pasien sudah
pernah menjalani operasi katarak pada mata kanan dan kiri kurang lebih 4 tahun yang
lalu. Setelah operasi penglihatan pasien membaik, tetapi 2 tahun terakhir penglihatannya
menjadi kabur meskipun lebih baik daripada sebelum operasi. Mata nrocos (-), mata
merah (-), mata kering (-), berair (-), riwayat penggunaan kacamata (-).
C. Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat Hipertensi (-)
 Riwayat DM (+)
 Riwayat Trauma (-)
D. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluhan serupa di keluarga sebelumnya
E. Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien sebagai ibu rumah tangga, berobat dengan BPJS

III. PEMERIKSAAN FISIK

A. STATUS GENERALIS
 Keadaan Umum : Baik
 Kesadaran : Composmentis
 Vital Sign
 Tekanan Darah : 130/80 mmHg
 Nadi : 84 kali/ menit
 Suhu : 36,5 0C
 Respiration Rate (RR) : 20 x/ menit
 Status Gizi : baik

B. STATUS OFTALMOLOGI
Gambar :
OD OS
OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)
6/12, Pinhole  6/12 Visus 6/12, Pinhole :  6/12
Gerak bola mata normal, enoftalmus Gerak bola mata normal,
(-), eksoftalmus (-), strabismus (-) Bulbus okuli enoftalmus (-), eksoftalmus (-),
strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), nyeri tekan (-),
Palpebra
blefarospasme (-), lagoftalmus (-) blefarospasme (-), lagoftalmus (-)
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (-), injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat, jernih Bulat, jernih
edema (-), edema (-),
arkus senilis (-) Kornea arkus senilis (-)
keratik presipitat (-), infiltrat (-), keratik presipitat (-), infiltrat (-),
sikatriks (-) sikatriks (-)
Jernih, dalam, arkus senilis (-), Camera Oculi Jernih, dalam, arkus senilis (-),
hipopion (-), hifema (-), Anterior hipopion (-), hifema (-),

Digital N TIO Digital N


Kripta(+), atrofi (-) coklat, Kripta(+), atrofi (-) coklat,
Iris
edema(-), synekia anterior (-) edema(-), synekia anterior (-)

Bulat, Diameter ± 3mm Bulat, Diameter ± 3mm


Pupil
refleks pupil L/TL: +/+ refleks pupil L/TL: +/+
IOL, letak sentral Lensa IOL, letak sentral
Jernih Vitreus Jernih

Makula edema (+) ablatio (-), Makula edema (+) ablatio (-),
eksudat (-), excavation glaumatosa (- Retina eksudat (-), excavation
)
glaumatosa (-)
(+) cemerlang Funduscopy (+) cemerlang

Normal Sistem Lakrimasi Normal

IV. RESUME
Subjektif
Pasien datang dengan keluhan kedua mata kabur untuk melihat sejak 4 tahun yang
lalu. Keluhan ini dirasakan pada kedua mata. Selain itu pasien juga mengeluhkan
penglihatannya silau dan terkadang gatal pada kedua mata. Sebelumnya pasien sudah
pernah menjalani operasi katarak pada mata kanan dan kiri kurang lebih 4 tahun yang
lalu. Setelah operasi penglihatan pasien membaik, tetapi 2 tahun terakhir penglihatannya
menjadi kabur meskipun lebih baik daripada sebelum operasi. Riwayat DM (+).
Objektif
 Pemeriksaan fisik : dalam batas normal
 Pemeriksaan mata :
OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)
6/12, pinhole  6/12 Visus 6/12, pinhole  6/12
Gerak bola mata normal, enoftalmus Gerak bola mata normal,
(-), eksoftalmus (-), strabismus (-) Bulbus okuli enoftalmus (-), eksoftalmus (-),
strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), nyeri tekan (-),
Palpebra
blefarospasme (-), lagoftalmus (-) blefarospasme (-), lagoftalmus (-)
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
Konjungtiva
injeksi silier (-), injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (-), injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat, jernih Bulat, jernih
edema (-), edema (-),
arkus senilis (-) Kornea arkus senilis (-)
keratik presipitat (-), infiltrat (-), keratik presipitat (-), infiltrat (-),
sikatriks (-) sikatriks (-)
Jernih, dalam, arkus senilis (-), Camera Oculi Jernih, dalam, arkus senilis (-),
hipopion (-), hifema (-), Anterior hipopion (-), hifema (-),

Digital N TIO Digital N


Kripta(+), atrofi (-) coklat, Kripta(+), atrofi (-) coklat,
Iris
edema(-), synekia anterior (-) edema(-), synekia anterior (-)

Bulat, Diameter ± 3mm Bulat, Diameter ± 3mm


Pupil
refleks pupil L/TL: +/+ refleks pupil L/TL: +/+

IOL, letak sentral Lensa IOL, letak sentral


Jernih Vitreus Jernih

Edema macula (+), ablatio (-), Edema macula (+), ablatio (-),
eksudat (-), excavation glaumatosa (- Retina eksudat (-), excavation
)
glaumatosa (-)
(+) cemerlang Funduscopy (+) cemerlang

Normal Sistem Lakrimasi Normal

V. DIAGNOSA DIFFERENSIAL
 ODS Pseudofakia
 ODS Afakia

VI. DIAGNOSA KERJA


 ODS Pseudofakia

VII. DASAR DIAGNOSIS


a) ODS Pseudofakia
 Subjektif :
o Pandangan kabur sejak 4 tahun terakhir
o Riwayat operasi katarak kanan dan kiri, mengalami perbaikan penglihatan
 Objektif :
o Visus OD 6/12 OS 6/12 (tidak ada data visus pre-op)
o Lensa IOL ODS, jernih, letak sentral.
o Makula edema
o Tidak ditemukan kelainan lainnya pada iris, pupil, COA.

VIII. TERAPI
 Promotif :
 Edukasi pasien tentang penyakit katarak dan pseudofakia.
 Edukasi pasien bahwa dengan terapi obat dan pembedahan tidak akan
mengembalikan tajam penglihatan seperti orang normal.
 Preventif
 Edukasi untuk menjaga kadar gula darah agar tidak merusak saraf mata
dan akibatnya jika saraf mata rusak
 Segera berobat ke dokter jika ada keluhan pada mata
 Kuratif
 Sanbe tears ED fl. No I
S 4 dd gtt I ODS
 Ocuflam ED fl. No I
S 4 dd gtt I ODS

 Rehabilitative
 Kontrol kondisi mata rutin
 Menjaga kebersihan area mata dan sekitarnya
 Menjaga kadar gula darah

IX. PROGNOSIS

OKULI DEKSTRA (OD) OKULI SINISTRA (OS)

Quo Ad Visam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo Ad Vitam ad bonam ad bonam

Quo Ad Kosmetikam ad bonam ad bonam

Quo Ad Sanam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

X. USUL DAN SARAN


Usul :
 Dilakukan pemeriksaan fungsi retina, fungsi papil N. II, fungsi N. II
Saran :
 Dilakukan pemeriksaan rutin pada mata
TINJAUAN PUSTAKA

PSEUDOFAKIA

Pseudofakia adalah suatu keadaan dimana mata terpasang lensa tanam setelah operasi
katarak. Lensa ini akan memberikan penglihatan lebih baik. Lensa intraokular ditempatkan
waktu operasi katarak dan akan tetap disana untuk seumur hidup. Lensa ini tidak aakn
mengganggu dan tidak perlu perawatan khusus dan tidak akan ditolak keluar oleh tubuh.
Gejala dan tanda pseudofakia: penglihatan kabur, visus jauh dengan optotype snellen, dapat
merupakan miopi atau hipermetropi tergantung ukuran lensa yang ditanam (IOL), terdapat bekas
insisi atau jahitan.5,6
Letak lensa didalam bola mata dapat bermacam-macam, seperti:
a. Pada bilik depan mata, yang ditempatkan didepan iris dengan kaki penyokongnya
bersandar pada sudut bilik mata
b. Pada daerah pupil, dimana bagian 11 ulti lensa pada pupil denagn fiksasi pupil
c. Pada bilik mata belakang, yang diletakkan pada kedudukan lensa normal dibelakang iris,
lensa dikeluarkan dengan ekstraksi lensa ekstra kapsular
d. Pada kapsul lensa

Pada saat ini pemasangan lensa terutama diusahakan terletak di dalam kapsul lensa. Meletakkan
lensa tanam didalam bilik mata memerlukan perlindungan khusus:5
1. Endotel korena terlindung
2. Melindungi iris terutama pigme iris
3. Melindungi kapsul posterior lensa
4. Mudah memasukkannya karena tidak memberikan cedera pada zonula lensa

Keuntungan pemasangan lensa ini:5


1. Penglihtan menjadi lebih fisiologis karena letak lensa yang ditempatkan pada tempat
lensa asli yang diangkat
2. Lapang penglihatan sama denagn lapang pandangan normal
3. Tidak terjadi pembesaraan benda yang dilihat
4. Psikologis, mobilisasi lebih cepat
Pemasangan lensa tidak dianjurkan kepada:5
1. Mata yang sering mengalami radang intra okuer (uveitis)
2. Andak dibawah usai 3 tahun
3. Uveitis menahun berat
4. Retinopati 12 ultifocal berat
5. Glaukoma neovaskuler

LENSA INTRAOKULER DAN IMPLAN

Lensa intraocular (IOL) umum digunakan untuk memperbaiki atau menyembuhkan cacat visual.
IOL dikategorikan dalam dua jenis: monofocal atau 9ultifocal. Lensa 9ultifocal9 monofocal atau
9ultifocal dapat dimanfaatkan dalam penggantian Lensa mata rusak.

 IOL monofokal
IOL monofokal yang berarti mereka memberikan visi pada satu jarak saja (jauh,
menengah atau dekat) berarti bahwa pasien harus memakai kacamata atau lensa
kontak untuk membaca, menggunakan komputer atau melihat pada jarak lengan.
 IOL multifokal
IOL multifokal menawarkan kemungkinan melihat dengan baik pada lebih dari
satu jarak, tanpa kacamata atau lensa kontak.
 Toric IOL untuk Astigmatisma
IOL toric dirancang untuk mengoreksi astigmatisme. Toric IOL datang dalam
berbagai kekuatan visi jarak, dalam 2 versi. Satu, mengoreksi hingga 2,00 dioptri (D)
dari Silindris dan yang lain mengoreksi hingga 3,50 D. Model yang berbeda juga dapat
menyaring UV yang berpotensi merusak atau cahaya biru.
Kebanyakan ahli bedah yang merawat Silindris pada pasien katarak, cenderung
menggunakan astigmatik keratotomi (AK) atau limbal relaxation incision, yang
membuat sayatan di kornea. Selain astigmatisme kornea, beberapa orang mungkin
memiliki astigmatisme lenticular, yang disebabkan oleh ketidakteraturan dalam bentuk
lensa alami di dalam mata. Hal ini bisa diperbaiki dengan IOL toric namun dengan
risiko penglihatan memburuk karena lensa berputar dari posisi, sehingga butuh operasi
lebih lanjut untuk memposisikan atau mengganti IOL.
 Monovision dengan Lensa Intraokuler
Jika operasi katarak melibatkan kedua mata bisa dipertimbangkan menggunakan
monovision. Hal ini dengan menanamkan sebuah IOL di satu mata yang memberikan
penglihatan dekat dan IOL di mata lain yang menyediakan penglihatan jarak.
Biasanya orang dapat menyesuaikan diri. Tapi jika tidak bisa, penglihatan mungkin
menjadi kabur baik dekat dan jauh. Masalah lain adalah bahwa persepsi kedalaman dapat
menurun karena visus binokuler kurang – yang berarti, mata tidak bekerja sama.
 Aspheric IOL
IOL berbentuk bola, yang berarti permukaan depan secara seragam
melengkung. IOL aspheric, pertama kali diluncurkan oleh Bausch + Lomb pada tahun
2004, yang sedikit datar di pinggiran dan dirancang untuk memberikan sensitivitas
kontras yang lebih baik. Lensa ini memiliki kemampuan untuk mengurangi
penyimpangan visual.
Beberapa ahli bedah katarak memperdebatkan manfaat IOLs aspheric, karena
manfaat sensitivitas kontras tidak dapat berlangsung pada pasien yang lebih tua karena
sel-sel ganglion retina adalah penentu utama sensitivitas kontras dan pada usia tua secara
bertahap kehilangan sel-sel ini. Namun, orang muda yang menjalani operasi katarak
sekarang cenderung memiliki sel ganglion lebih banyak dan lebih sehat. Jadi mereka
akan dapat menikmati sensitivitas kontras yang lebih baik untuk waktu yang lama.

KOMPLIKASI

Komplikasi operasi dapat berupa komplikasi preoperatif, intraoperatif, postoperatif awal,


postoperatif lanjut, dan komplikasi yang berkaitan dengan lensa intra okular (intra ocular lens,
IOL).6

 Komplikasi preoperatif
a) Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat
ketakutan akan operasi. Agen anxiolytic seperti diazepam 2-5 mg dapat memperbaiki
keadaan.
b) Nausea dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid dan/atau
gliserol. Kasus ini dapat ditangani dengan pemberian antasida oral untuk mengurangi
gejala.
c) Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topical
preoperatif, ditangani dengan penundaan operasi selama 2 hari.
d) Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan
menggunakan tonometer Schiotz. Penanganannya berupa pemberian salep antibiotik
selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama 2 hari.
 Komplikasi intraoperatif
a) Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.
b) Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau selama
insisi ke bilik mata depan.
c) Cedera pada kornea (robekan membrane Descemet), iris, dan lensa; dapat terjadi
akibat instrumen operasi yang tajam seperti keratom.
d) Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
e) Lepas/ hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi akibat
ruptur kapsul posterior (accidental rupture) selama teknik ECCE.

 Komplikasi postoperatif awal


Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema, prolaps iris,
keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan endoftalmitis bakterial.

 Komplikasi postoperatif lanjut


Cystoid Macular Edema (CME), delayed chronic postoperative endophtalmitis,
Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina, dan katarak sekunder
merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah beberapa waktu post operasi.

 Komplikasi yang berkaitan dengan IOL


Implantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-glaucoma-hyphema
syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan sindrom lensa toksik (toxic lens
syndrome).6
DAFTAR PUSTAKA

1. Riordan-Eva P, Witcher. Vaughan & Asbury. Oftalmologi umum. Edisi 17. Jakarta:
EGC; 2010. h. 212-28.
2. Smith, Morton. Opthalmology Basic and Clinical Science Course. California: American
Academy of Ophthalmology ;2016.
3. Ilyas, H.S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta:FKUI.
4. PERDAMI. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2. Jakarta: Agung Seto; 2009.
5. Suhardjo SU, Hartono. Ilmu kesehatan mata. Edisi ke-2. Yogyakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada; 2012. H.111-43.
6. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th edition. New Delhi: New Age
International; 2007.
7. Tsai JC, Denniston A, Murray PI, et. Al, editors. Oxford American handbook of
ophthalmology. New York: Oxford University Press; 2011.
8. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Jakarta: Widya Medika; 2009.
9. Tan, D.T.H.2002. Ocular Surface Diseases Medical and Surgical Management. New
York: Springer. p.65 – 83