Anda di halaman 1dari 12

Referat

FRAKTUR ZYGOMA

Disusun oleh:
YOLANDA JULIA PEREL PUTRI
NIM. 1608438300

Pembimbing

dr. Fakhrul Hendra, Sp.BP-RE

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh.

Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu

tulang frontal, temporal, orbitozigomatikus, nasal, maksila dan mandibula. Fraktur

maksilofasial lebih sering terjadi sebagai akibat dari faktor yang datangnya dari

luar seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan akibat olah raga

dan juga sebagai akibat dari tindakan kekerasan. Fraktur midfasial terdiri dari

fraktur zigomatikomaksilar (zygomaticomaxillary complex/ZMC) termasuk

fraktur Le fort, dan fraktur nasoorbitoethmoid (nasoorbitalethmoid /NOE).

Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan terjadi dan bagian yang

lemah seperti sutura, foramen, dan apertura. Fraktur zigoma merupakan salah satu

fraktur midfasial yang paling sering terjadi, umumnya sering terjadi pada trauma

yang melibatkan 1/3 bagian tengah wajah, hal ini dikarenakan posisi zigoma agak

lebih menonjol pada daerah sekitarnya. Fraktur ZMC biasanya melibatkan dinding

bawah orbita tepat diatas nervus alveolaris inferior, sutura zigomatikofrontal,

sepanjang arkus pada sutura zigomatikotemporal, dinding lateral

zigomatikomaksila, dan sutura zigomatikosplenoid yang terletak di dinding lateral

orbita, sedangkan dinding medial orbita tetap utuh.

Fraktur midfasial merupakan tantangan di bidang bedah karena struktur

anatomi yang kompleks dan padat. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek

2
samping baik anatomis, fungsi, dan kosmetik. Tujuan utama perawatan fraktur

fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang

yang cepat, pengembalian fungsi okuler, fungsi pengunyah, fungsi hidung,

perbaikan fungsi bicara, mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi

estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya

mobilitas segmen tulang.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Epidemiologi

Fraktur zygoma merupakan cedera apapun yang menyebabkan terputusnya 5

hubungan antara zigoma dengan tulang-tulang kraniofasial di dekatnya yaitu

sutura zigomatikofrontal, rima infraorbita, zigomatikomaksila, arkus zigoma dan

sutura zigomatikosfenoid. Fraktur zygoma adalah cedera wajah yang umum

terjadi atau kedua setelah fraktur nasal. Cedera zygoma biasanya terjadi karena

kecelakaan kendaraan bermotor. Zygoma memainkan peran penting dalam kontur

wajah. Bilateral fraktur zigoma jarang terjadi, hanya sekitar 4 % dari 2067 kasus

yang diteliti oleh Ellis et al.

Zygoma mempunyai peran yang penting dalam membentuk struktur wajah,

dan disrupsi dari posisi zigoma dapat mengganggu fungsi okular dan mandibular;

oleh karena itu trauma pada zygoma harus didiagnosa secara tepat dan ditangani

secara adekuat. Gangguan posisi zygoma memiliki makna fungsional yang besar

karena menyebabkan kerusakan mata dan fungsi mandibula. Zygoma berartikulasi

dengan empat tulang: frontal, temporal, maksila, dan sphenoid.

4
Gambar 1. Os Zygoma

2.2 Klasifikasi Fraktur Zygoma

Klasifikasi fraktur zygoma digunakan untuk memprediksi yang bagian

yang mengalami patah tulang akan tetap stabil setelah reduksi. Secara klinis, hal

ini akan memungkinkan ahli bedah untuk mengidentifikasi apakah fraktur tersebut

akan memerlukan reduksi terbuka dan beberapa metode fiksasi. Pada tahun 1961,

Knight dan North, mengklasifikasikan fraktur zygoma berdasarkan arah dan pola

pergeseran anatomis fragmen tulang, yang terdiri atas :

• Grup I

• Tidak ada pergeseran yang signifikan, fraktur terlihat pada foto

rontgen namun fragmen tetap segaris (6%)

• Grup II

• Fraktur arkus zigoma dengan arkus mendesak ke dalam tanpa

keterlibatan orbita atau bagian anterior (10%)

• Grup III

• Fraktur korpus, bergeser ke bawah dan ke dalam namun tidak ada

rotasi (33%)

• Grup IV

• Fraktur korpus zigoma dengan rotasi ke medial, bergeser ke bawah,

ke dalam dan ke belakang dengan rotasi (11%)

• Grup V

• Fraktur korpus dengan rotasi ke lateral, bergeser ke bawah,

belakang dan medial dengan rotasi zigoma (22%)

5
• Grup VI

• Semua kasus dengan garis fraktur tambahan melewati fragmen

utama (18%)

Gambar 2. Klasifikasi fraktur zygoma menurut Knight and North

6
Pada tahun 1990, Manson dan rekannya mengusulkan metode klasifikasi

yang didasarkan pada pola segmentasi dan perpindahan. Fraktur yang

menunjukkan sedikit atau tidak ada perpindahan, diklasifikasikan sebagai cedera

ringan. Fraktur menengah melibatkan semua sendi dengan pergeseran ringan

hingga sedang. Cedera berat ditandai dengan keterlibatan lateral orbita dan

pergeseran lateral dengan segmentasi zygomatic arch.

Zincc dan rekannya melakukan review pada fraktur zygoma dan

mengklasifikasikan cedera pada fraktur menjadi 3, yaitu:

a. Tipe A

Merupakan fraktur ringan yang hanya melibatkan satu pilar zygoma:

zygomatic arch, dinding lateral orbital, atau infraorbital rim.

b. Tipe B

Merupakan fraktur lengkap “monofragment” dengan fraktur dan

perpindahan sepanjang semua empat sendi.

c. Tipe C

Merupakan fraktur "multifragment" yakni termasuk fragmentasi tubuh

zygoma.

2.3 Diagnosa Fraktur Zygoma

Diagnosa dari fraktur zygoma didasarkan pada pemeriksaan klinis dan

pemeriksaan penunjang. Riwayat trauma pada wajah dapat dijadikan informasi

7
kemungkinan adanya fraktur pada kompleks zigomatikus selain tanda-tanda

klinis. Tetapi pemeriksaan klinis seringkali sulit dilakukan karena adanya

penurunan kesadaran, oedem dan kontusio jaringan lunak dari pasien yang dapat

mengaburkan pemeriksaan klinis, dan pula tidak ada indikator yang sensitif

terhadap adanya fraktur zigoma. Dari anamnesis dapat ditanyakan kronologis

kejadian trauma, arah dan kekuatan dari trauma terhadap pasien maupun saksi

mata. Trauma dari arah lateral sering mengakibatkan fraktur arkus zygoma

terisolasi atau fraktur zygoma komplek yang terdislokasi inferomedial. Trauma

dari arah frontal sering mengakibatkan fraktur yang terdislokasi posterior maupun

inferior.

Pemeriksaan zygoma termasuk inspeksi dan palpasi. Inspeksi dilakukan

dari arah frontal, lateral, superior, dan inferior. Diperhatikan simetri dan

ketinggian pupil yang merupakan petunjuk adanya pergeseran pada dasar orbita

dan aspek lateral orbita, adanya ekimosis periorbita, ekimosis subkonjungtiva,

lekukan palpebra superior yang dalam (sunken eye) abnormal sensitivitas nervus,

diplopia dan enoptalmus; yang merupakan gejala yang khas efek pergeseran

tulang zigoma terhadap jaringan lunak sekitarnya. Tanda yang khas dan jelas pada

trauma zigoma adalah hilangnya tonjolan prominen pada daerah zigomatikus atau

depresi malar iminen. Selain itu hilangnya kurvatur cembung yang normal pada

daerah temporal berkaitan dengan fraktur arkus zigomatikus. Deformitas pada tepi

orbita sering terjadi jika terdapat pergeseran, terutama pada tepi orbital lateral dan

infraorbita (mata anti mongoloid). Dapat juga ditemukan epistaksis unilateral sisi

yang terkena, maloklusi atau kesulitan menggerakan rahang bawah, eksoftalmus.

8
Ahli bedah juga meletakkan jari telunjuk dibawah margin infraorbita,

sepanjang zigoma, menekan ke dalam jaringan yang oedem untuk palpasi secara

simultan dan mengurangi efek visual dari oedem saat melakukan pemeriksaan ini

dan juga dapat menilai adanya diskontinuitas pada os zygoma.

Penggunaan CT Scan dan foto roentgen sangat membantu menegakkan

diagnosa, mengetahui luasnya kerusakan akibat trauma, dan perawatan. CT scan

pada potongan axial maupun coronal merupakan gold standard pada pasien

dengan kecurigaan fraktur zigoma, untuk mendapatkan pola fraktur, derajat

pergeseran, dan evaluasi jaringan lunak orbital. Secara spesifik CT scan dapat

memperlihatkan keadaan pilar dari midfasial: pilar nasomaxillary,

zygomaticomaxillary, infraorbital, zygomaticofrontal, zygomaticosphenoid, dan

zygomaticotemporal. Penilaian radiologis fraktur zigoma dari foto polos dapat

menggunakan foto waters, caldwel, submentovertek dan lateral. Dari foto waters

dapat dilihat pergeseran pada tepi orbita inferior, maksila, dan bodi zigoma. Foto

caldwel dapat menunjukkan region frontozigomatikus dan arkus zigomatikus.

Foto submentovertek menunjukkan arkus zigomatikus.

2.4 Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi berdasarkan waktunya dapat dilihat pada table

berikut :

Early Late
Udem Skar
Hematom Malunion/Non union
Perdarahan Non viable teeth
Gangguan sensasi Osteomyelitis
Dehisence Komplikasi plate
Kebutaan Komplikasi orbita (diplopia,

9
penurunan visus, enoftalmus /

eksoftalmus, ektropion sementara

2.5 Tata Laksana

Penatalaksanaan fraktur zigoma tergantung pada derajat pergeseran tulang,

segi estetika dan defisit fungsional. Perawatan fraktur zigoma bervariasi dari tidak

ada intervensi dan observasi meredanya oedem, disfungsi otot ekstraokular dan

parestesi hingga reduksi terbuka dan fiksasi interna. Intervensi tidak selalu

diperlukan karena banyak fraktur yang tidak mengalami pergeseran atau

mengalami pergeseran minimal. Penelitian menunjukkan bahwa antara 9-50% dari

fraktur zigoma tidak membutuhkan perawatan operatif. Jika intervensi diperlukan,

perawatan yang tepat harus diberikan seperti fraktur lain yang mengalami

pergeseran yang membutuhkan reduksi dan alat fiksasi.

Indikasi operasi pada patah tulang zigoma adalah fraktur dengan deformitas

disertai diplopia, menyebabkan hiperaestesi, atau juga menyebabkan trismus.

Fraktur dengan pergeseran minimal dan sedang yang tidak mengakibatkan

gangguan penglihatan bisa direduksi secara konservatif, dengan pengangkatan,

disertai insersi pengait tulang atau trakeal melalui kulit.

Adapun Prinsip penatalaksanaan fraktur zigoma adalah sebagai berikut:


 Alignment zigoma harus ditetapkan pada setidaknya 3 area dan difiksasi di

setidaknya 2 area.
 Buttress zygomatikomaksila adalah determinan yang paling baik untuk

reduksi, rima infraorbita. Sedangkan sutura zygomatikofrontal merupakan

determinan yang kurang baik.

10
 Arkus zigoma bila di reduksi akan mengembalikan lebar midface dan

dalam waktu bersamaan proyeksi eminensia malar.

Daftar Pustaka

1. Sofii I, Dachlan I. Correlation between midfacial fractures and


intracranial lesion in mild and moderate head injury patients. (online),
(http://bedahugm.com/Correlation-between-midfacial-fractures-and
intracranial-lesion-in-mild-and-moderate-head-injury-patients.php ,
diakses 18 april 2008).

2. Dwidarto D. Affandi M. Pengelolaan deformitas dentofasial pasca fraktur


panfascial (Management of the Dentofacial Defomity Post Panfacial
Fracture : Case Report). (online), (http://www.pdgionline.com/web/index.
php ?option=co ntent &task=category&sectionid=4&id=10&Itemid=26,
diakses 18 april 2008).

11
3. Tucker MR, Ochs MW. Management of facial fractures. Dalam : Peterson
lj et al. contemporary oral and maxillofacial surgery. St louis: mosby co.
2003

4. Prasetiyono A. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus.


Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons. Feb 2005 no 1
tahun IX hal 41-50.

12