Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Transesterifikasi
Transesterifikasi adalah tahap konversi dari trigliserida (minyak nabati)
menjadi alkil ester, melalui reaksi dengan alkohol, dan menghasilkan produk
samping yaitu gliserol. Di antara alkohol-alkohol monohidrik yang menjadi
kandidat sumber atau pemasok gugus alkil, metanol adalah yang paling umum
digunakan, karena harganya murah dan reaktifitasnya paling tinggi (sehingga
reaksi disebut metanolisis). Reaksi transesterifikasi terjadi karena alkohol pada
gliserida mengalami substitusi dengan alkohol sehingga terbentuk alkil ester dan
gliserol. Reaksi transesterifikasi trigliserida menjadi alkil ester ini dapat dilihat
pada Gambar 1. [1]

Gambar 1 Reaksi Transesterifikasi dari Trigliserida Menjadi Alkil Ester Asam-


Asam Lemak

Reaksi transesterifikasi disebut juga reaksi alkoholisis yang melibatkan


peruraian atau pemaksapisahan (cleavage) trigliserida oleh alkohol sehingga
dibutuhkan alkohol dengan kereaktifan besar. Alkohol yang digunakan adalah
metanol karena alkohol dengan jumlah atom karbon sedikit mempunyai
kereaktifan lebih besar daripada alkohol dengan atom karbon lebih banyak.
Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi reversible sehingga penggunaan
alkohol berlebih menggeser kesetimbangan kearah kanan. Metanol, etanol,
propanol, butanol dan amil alkohol banyak digunakan dalam reaksi ini. Metanol
lebih banyak dipilih karena berharga lebih murah daripada alkohol lainnya dan
merupakan senyawa polar berantai karbon terpendek sehingga bereaksi lebih
cepat dengan trigliserida serta melarutkan semua jenis katalis (baik alkali maupun
asam). Transesterifikasi adalah reaksi berantai. Pertama, trigliserida (TG)
direduksi menjadi digliserida (DG), selanjutnya digliserida direduksi menjadi
monogliserida (MG) yang akhirnya membentuk fatty acid methyl ester (FAME).[2]
4

Proses transesterifikasi secara kimia hanya mengambil molekul trigliserida


atau asam lemak kompleks, menetralisasi asam lemak besar, mengeluarkan
gliserin atau ester membuat ester alkohol. Pada prakteknya bisa dilakukan dengan
mencampur alkohol dengan natrium hidroksida untuk membuat natrium
metoksida. Campuran ini kemudian direaksikan dengan minyak tumbuh -
tumbuhan.
Terdapat 3 jenis reaksi tranesterifikasi, yaitu :
1. Pertukaran gugus alkohol (alkoholis)
R1COOR2 + R3OH  R1COOR3 + R2OH
2. Pertukaran gugus asam (asidolisis)
R1COOR2 + R3COOH  R3COOR2 + R1COOH
3. Ester – Ester interchange
R1COOR2+R3COOR4  R1COOR4 + R3COOR2
Ketiga reaksi tersebut adalah reaksi kesetimbangan yang dipercepat dengan
adanya katalis asam (H2SO4 dan HCl) atau katalis basa biasanya ion alkosida.
Katalis ini digunakan dalam bentuk sistem anhidroses karena air dapat
menghidrolisa ester. Pada prakteknya biasanya dilakukan dengan melarutkan
sejumlah natrium didalam alkohol untuk selanjutnya ditambahkan ke ester. [3]
Reaksi transesterifikasi untuk memproduksi biodiesel adalah reaksi
alkoholisis. Reaksi ini hampir sama dengan reaksi hidrolisis tetapi menggunakan
alkohol. Reaksi ini bersifat reversible dan menghasilkan alkil ester dan gliserol.
Alkohol berlebih digunakan untuk memicu reaksi pembentukan produk. Jumlah
alkohol yang dianjurkan sekitar 1,6 kali jumlah yang dibutuhkan secara teoritis.
Jumlah alkohol yang lebih dari 1,75 kali jumlah teoritis tidak mempercepat reaksi
bahkan mempersulit pemisahan gliserol selanjutnya. Literatur menyebutkan
bahwa untuk transesterifikasi menggunakan katalis basa, nisbah mol metanol
dengan minyak yang optimal sebesar 6:1. [4]
Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 300C – 650C (titik
didih metanol sekitar 650C). Pada temperatur tinggi, konversi yang diperoleh akan
semakin tinggi untuk waktu yang lebih singkat. Temperatur yang rendah akan
menghasilkan konversi yang lebih tinggi namun dengan waktu reaksi yang lebih
lama. [5]
Katalis yang banyak digunakan adalah katalis basa, namun katalis asam juga
dapat digunakan terutama pada minyak nabati yang kadar asam lemak bebasnya
tinggi. Katalis basa yang umum digunakan adalah NaOH, KOH, karbonat dan
alkoksida dari natrium dan kalium seperti natrium metoksida, etoksida,
propoksida dan butoksida. Katalis basa dinilai lebih baik dari katalis asam karena
dengan katalis basa reaksi dapat berjalan pada suhu lebih rendah dan bahkan pada
suhu kamar. Namun demikian pada reaksi dengan menggunakan katalis basa,
5

minyak yang digunakan harus netral. Kadar asam lemak bebas yang lebih dari 0,5
% dapat menurunkan rendemen trasesterifikasi minyak. [6].
Mekanisme dari reaksi transesterifikasi minyak dengan katalis basa dan
asam adalah sebagi berikut.

Gambar 2 Reaksi Transesterifikasi dengan Katalis Basa


6

Gambar 3 Reaksi Transesterifikasi dengan Katalis Asam

2.2 Biodiesel
Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak
nabati, baik minyak yang belum digunakan maupun minyak bekas dari
penggorengan dan melalui proses transesterifikasi. Biodiesel digunakan sebagai
bahan bakar alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk motor diesel,
dan dapat diaplikasikan baik dalam bentuk 100% (B100) atau campuran dengan
minyak solar pada tingkat konsentrasi tertentu (BBX), seperti 10% biodiesel
dicampur dengan 90% solar yang dikenal dengan nama B10. [7]
Biodiesel mempunyai keunggulan dibandingkan dengan bahan bakar diesel
dari minyak bumi. Bahan bakar biodiesel dapat diperbaharui. Selain itu, juga
dapat memperkuat perekonomian negara dan menciptakan lapangan kerja.
7

Biodiesel merupakan bahan bakar ideal untuk industri transportasi karena dapat
digunakan pada berbagai mesin diesel, termasuk mesin-mesin pertanian.
Jika 0.4% - 5% biodiesel dicampur dengan bahan bakar diesel minyak bumi
otomatis akan meningkatkan daya lumas bahan bakar. Biodiesel mempunyai rasio
keseimbangan energi yang baik. Rasio keseimbangan energi biodiesel minimum 1
sampai 2.5. Artinya,untuk setiap satu unit energi yang digunakan pada pupuk,
minimum terdapat 2.5 unit energi dalam biodiesel berbagai rasio. Campuran 20%
biodiesel dan 60% bahan bakar diesel minyak bumi disebut dengan B2O.
Campuran B2O merupakan bahan bakar alternative yang terkenal di Amerika
Serikat, terutama untuk bus dan truk. B2O mengurangi emisi, harganya relatif
murah dan tidak memerlukan modifikasi mesin.[8]
Biodiesel juga merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang ramah
lingkungan, tidak mempunyai efek terhadap kesehatan yang dapat dipakai sebagai
bahan bakar kendaraan bermotor yang dapat menurunkan emisi bila dibandingkan
dengan minyak diesel. Biodiesel terbuat dari minyak nabati yang berasal dari
sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Bahan baku yang berpotensi sebagai
bahan baku pembuat biodiesel antara lain kelapa sawit, kedelai, jarak pagar,
alpukat dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. [9]
Pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel memiliki beberapa
kelebihan, diantaranya sumber minyak nabati mudah diperoleh, proses pembuatan
biodiesel dari minyak nabati mudah dan cepat, serta tingkat konversi minyak
nabati menjadi biodiesel yang tinggi (95%). Minyak nabati memiliki komposisi
asam lemak berbeda-beda tergantung dari jenis tanamannya. Zat-zat penyusun
utama minyak-lemak (nabati maupun hewani) adalah trigliserida, yaitu triester
gliserol dengan asam-asam lemak (C8 – C24). Komposisi asam lemak dalam
minyak nabati menentukan sifat fisik kimia minyak.

2.3 Minyak Jelantah


Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan untuk
menggoreng. Dengan meningkatkan produksi dan konsumsi minyak goreng,
ketersediaan minyak jelantah kian hari kian melimpah. Minyak jelantah (waste
cooking oil) merupakan limbah dan bila ditinjau dari komposisi kiminya, minyak
jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi
selama proses penggorengan. Pemakaian minyak jelantah yang berkelanjutan
dapat merusak kesehatan manusia, menimbulkan penyakit kanker, dan akibat
selanjutnya dapat mengurangi kecerdasan generasi berikutnya. Untuk itu perlu
penanganan yang tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat dan
tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan.
Salah satu bentuk pemanfaatan minyak jelantah agar dapat bermanfaat dari
berbagai macam aspek adalah dengan mengubahnya melalui proses kimia menjadi
8

biodiesel. Hal ini dapat dilakukan karena minyak jelantah juga merupakan minyak
nabati, turunan dari CPO (Crude Palm Oil). Pembuatan biodiesel dari minyak
jelantah ini menggunakan reaksi transesterifikasi seperti pembuatan biodiesel
pada umumnya, dengan pretreatment guna menurunkan angka asam pada minyak
jelantah. Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan bakar motor diesel
merupakan suatu cara pengurangan limbah (minyak jelantah) yang menghasilkan
nilai ekonomis serta menciptakan bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar
solar.
Kandungan asam lemak bebas Free Fatty Acid (FFA) bahan baku (minyak
jelantah) merupakan salah satu faktor penentu metode pembuatan biodiesel.
Untuk itu, sebelum dilakukan proses transesterifikasi terlebih dahulu dilakukan
proses pemurnian terhadap minyak jelantah. Pemurnian ini terdiri dari
penghilangan bumbu, netralisasi, dan pemucatan. Proses penghilangan bumbu
bertujuan untuk menghilangkan partikel tersuspensi seperti protein, karbohidrat,
dan bumbu rempah. Netralisasi merupakan proses untuk memisahkan asam lemak
bebas menggunakan larutan basa sehingga terbentuk sabun. Minyak yang sudah
dinetralisasi ditambahkan abu sekam padi untuk proses pemucatan dengan tujuan
untuk menghilangkan zat warna pada minyak sehingga warna minyak menjadi
lebih jernih.

2.4 Metanol
Jenis alkohol yang selalu dipakai pada proses transesterifikasi adalah
methanol dan etanol. Metanol merupakan jenis alkohol yang paling disukai dalam
pembuatan biodiesel karena metanol (CH3OH) mempunyai keuntungan lebih
mudah bereaksi atau lebih stabil dibandingkan dengan etanol (C2H5OH) karena
metanol memiliki satu ikatan karbon sedangkan etanol memiliki dua ikatan
karbon, sehingga lebih mudah memperoleh pemisahan gliserol dibanding dengan
etanol.
Kerugian dari metanol adalah metanol merupakan zat beracun dan berbahaya
bagi kulit, mata, paru-paru dan pencernaan dan dapat merusak plastik dan karet
terbuat dari batu bara metanol berwarna bening seperti air, mudah menguap,
mudah terbakar dan mudah bercampur dengan air. Etanol lebih aman, tidak
beracun dan terbuat dari hasil pertanian, etanol memiliki sifat yang sama dengan
metanol yaitu berwarna bening seperti air, mudah menguap, mudah terbakar dan
mudah bercampur dengan air. Metanol dan etanol yang dapat digunakan hanya
yang murni 99%. Metanol memiliki massa jenis 0,7915 g/m3, sedangkan etanol
memiliki massa jenis 0,79 g/m3.
9

2.5 Katalis dalam Pembuatan Biodiesel


Katalis adalah suatu zat yang berfungsi mempercepat laju reaksi dengan
menurunkan energi aktivasi, namun tidak menggeser letak keseimbangan.
Penambahan katalis bertujuan untuk mempercepat reaksi dan menurunkan kondisi
operasi. Tanpa katalis reaksi transesterifikasi baru dapat berjalan pada suhu
2500C. Ketika reaksi selesai, kita akan mendapatkan massa katalis yang sama
seperti pada awal kita tambahkan. Katalis yang dapat digunakan dapat berupa
katalis homogen atau heterogen.
Katalis homogen merupakan katalis yang mempunyai fasa sama dengan
reaktan dan produk. Katalis homogen yang banyak digunakan pada reaksi
transesterifika adalah katalis basa/alkali seperti kalium hidroksida (KOH) dan
natrium hidroksida (NaOH). Penggunaan katalis homogen ini mempunyai
kelemahan yaitu: bersifat korosif, berbahaya karena dapat merusak kulit, mata,
paru-paru bila tertelan, sulit dipisahkan dari produk sehingga terbuang pada saat
pencucian,mencemari lingkungan, tidak dapat digunakan kembali. Keuntungan
dari katalis homogen adalah tidak dibutuhkannya suhu dan tekanan yang tinggi
dalam reaksi.[10]
Katalis heterogen merupakan katalis yang mempunyai fasa yang tidak sama
dengan reaktan dan produksi. Jenis katalis heterogen yang dapat digunakan pada
reaksi transeseterifikasi adalah CaO, MgO. Keuntungan menggunakan katalis ini
adalah: mempunyai aktivitas yang tinggi, kondisi reaksi yang ringan, masa hidup
katalis yang panjang biaya katalis yang rendah, tidak korosif, ramah lingkungan
dan menghasilkan sedikit masalah pembuangan, dapat dipisahakan dari larutan
produksi sehingga dapat digunakan kembali.[11]
Terdapat dua jenis katalis basa yang dapat digunakan dalam pembuatan
biodiesel, yaitu katalis basa homogen dan katalis basa heterogen.
Katalis basa homogen seperti NaOH (Natrium Hidroksida) dan KOH (Kalium
Hidroksida) merupakan katalis yang paling umum digunakan dalam proses
pembuatan biodiesel karena dapat digunakan pada temperatur dan tekanan operasi
yang relatif rendah serta memiliki kemampuan katalisator yang tinggi. Akan
tetapi, katalis basa homogen sangat sulit dipisahkan dari campuran reaksi
sehingga tidak dapat digunakan kembali dan pada akhirnya akan ikut terbuang
sebagai limbah yang dapat mencemarkan lingkungan.
Di sisi lain, katalis basa heterogen seperti CaO, meskipun memiliki
kemampuan katalisator yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan katalis
basa homogen, dapat menjadi alternatif yang baik dalam proses pembuatan
biodiesel. Katalis basa heterogen dapat dengan mudah dipisahkan dari campuran
reaksi sehingga dapat digunakan kembali, mengurangi biaya pengadaan dan
pengoperasian peralatan pemisahan yang mahal serta meminimasi persoalan
limbah yang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan.
10

Meskipun katalis basa memiliki kemampuan katalisator yang tinggi serta


harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan katalis asam, untuk
mendapatkan performa proses yang baik, penggunaan katalis basa dalam reaksi
transesterifikasi memiliki beberapa persyaratan penting, diantaranya alkohol yang
digunakan harus dalam keadaan anhidrous dengan kandungan air < 0.1 - 0.5 %
berat serta minyak yang digunakan harus memiliki kandungan asam lemak bebas
< 0.5%. Keberadaan air dalam reaksi transesterifikasi sangat penting untuk
diperhatikan karena dengan adanya air, alkil ester yang terbentuk akan
terhidrolisis menjadi asam lemak bebas. Lebih lanjut, kehadiran asam lemak
bebas dalam sistem reaksi dapat menyebabkan reaksi penyabunan yang sangat
menggangu dalam proses pembuatan biodiesel. [12]

Gambar 4 Reaksi Transesterifikasi Trigliseida Katalis Basa

Akibat reaksi samping ini, katalis basa harus terus ditambahkan karena
sebagian katalis basa akan habis bereaksi membentuk produk samping berupa
sabun. Kehadiran sabun dapat menyebabkan meningkatnya pembentukkan gel dan
viskositas pada produk biodiesel serta menjadi penghambat dalam pemisahan
produk biodisel dari campuran reaksi karena menyebabkan terjadinya
pembentukan emulsi. Hal ini secara signifikan akan menurunkan keekonomisan
proses pembuatan biodiesel dengan menggunakan katalis basa.
Alternatif lain yang dapat digunakan untuk pembuatan biodiesel adalah
dengan menggunakan katalis asam. Selain dapat mengkatalisis reaksi
transesterifikasi minyak tumbuhan menjadi biodiesel, katalis asam juga dapat
mengkatalisis reaksi esterifikasi asam lemak bebas yang terkandung di dalam
minyak menjadi biodiesel mengikuti reaksi berikut ini:

Gambar 5 Reaksi Transesterifikasi Trigliserida dengan Katalis Asam


11

Katalis asam umumnya digunakan dalam proses pretreatment terhadapat


bahan baku minyak tumbuhan yang memiliki kandungan asam lemak bebas yang
tinggi namun sangat jarang digunakan dalam proses utama pembuatan biodiesel.
Katalis asam homogen seperti asam sulfat, bersifat sangat korosif, sulit dipisahkan
dari produk dan dapat ikut terbuang dalam pencucian sehingga tidak dapat
digunakan kembali sekaligus dapat menyebabkan terjadinya pencemaran
lingkungan. Katalis asam heterogen seperti Nafion, meskipun tidak sekorosif
katalis asam homogen dan dapat dipisahkan untuk digunakan kembali, cenderung
sangat mahal dan memiliki kemampuan katalisasi yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan katalis basa.

2.6 Faktor yang Mempengaruhi Transesterifikasi


Berikut ini merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi konversi serta
perolehan biodiesel melalui transesterifikasi :
a. Suhu Reaksi
Kecepatan reaksi akan meningkat sejalan dengan kenaikan temperature.
Semakin tinggi temperatur, bearti semakin banyak energi yang dapat
digunakan oleh reaktan untuk mencapai energi aktivasi. Ini akan
menyebabkan tumbukan terjadi lebih sering diantara molekul-molekul reaktan
untuk kemudian melakukan reaksi, sehingga kecepatan reaksi meningkat.
Semakin tinggi suhu reaksi, konstanta laju reaksi semakin meningkat,
peningkatan konstanta laju reaksi pembentukan produks lebih besar dari
konstanta laju reaksi balik. Sesuai dengan hukum Arrhenius bahwa laju reaksi
sebanding dengan suhu reaksi. Dimana suhu reaksi semakin tinggi, konstanta
laju reaksi (k) semakin besar, sehingga laju reaksi semakin besar. Semakin
tinggi suhu reaksi, konversi reaksi semakin tinggi karena molekul yang
bergerak didalam larutan memiliki sejumlah energi potensial dalam ikatan-
ikatan dan sejumlah tambahan energi kinetik, lebih sering menjadi tumbukan
dan bertenaga, dan mengubah energi kinetik menjadi energi potensial. Agar
bereaksi, molekul-molekul yang bertumbukan harus mengandung cukup
energi potensial untuk mencapai keadaan transisi pada saat bertumbukan dan
terjadi pematahan ikatan. Energi yang harus dimiliki molekul untuk melewati
keadaan transisi ini merupakan energi aktivasi, sehingga semakin besar energi
potensial yang dimiliki molekul akibat pemanasan atau kenaikan suhu,
semakin mudah molekul melewati keadaan transisi dan reaksi yang terjadi
semakin cepat. Suhu reaksi yang tinggi dapat memicu laju reaksi
transesterifikasi seiring dengan meningkatnya kontanta laju reaksi namun
perlakuan ini sekaligus memperbesar resiko terjadinya reaksi oksidasi yang
dapat meningkatkan viskositas kinematik biodiesel.
12

b. Lama Reaksi
Semakin lama waktu reaksi transesterifikasi maka semakin banyak produk
yang dihasilkan yaitu metil ester yang lebih banyak, karena keadaan ini akan
memberikan kesempatan terhadap molekul-molekul reaktan untuk
bertumbukan satu sama lain. Namun setelah kesetimbangan tercapai tambahan
waktu reaksi tidak mempengaruhi reaksi.
c. Rasio perbandingan alkohol dengan minyak
Rasio molar antara alkohol dengan minyak nabati sangat dipengaruhi
dengan metil ester yang dihasilkan. Banyak penelitian yang menganjurkan
penggunaan metanol berlebih untuk memicu jalannya reaksi pembentukan
metil ester, jumlah metanol yang ditingkatkan untuk mempengaruhi
kesetimbangan sehingga reaksi bergeser kearah pembentukan produk.
Semakin banyak jumlah alkohol yang digunakan maka konversi ester yang
dihasilkan akan bertambah banyak. Perbandingan molar antara alkohol dan
minyak nabati yang biasa digunakan dalam proses industri untuk mendapatkan
produksi metil ester yang lebih besar dari 98% berat adalah 6 : 1. Agar reaksi
transesterifikasi bergeser kekanan/produk (Metil Ester), maka diperlukan
alkohol berlebih didalam reaksi. Laju reaksi memberikan level tertinggi jika
kelebihan 100 % ( 2 kali lipat ) metanol yang digunakan
d. Jenis Katalis
Katalis berfungsi mempercepat reaksi dan menurunkan energi aktivitas
sehingga reaksi dapat berlangsung pada suhu lebih rendah dan suhu kamar( 25
0 C), sedangkan tanpa katalis ( Alkohol Superkritis ) reaksi dapat berlangsung
pada suhu 250oC, Metode Alkohol Superkritis adalah metode transesterifikasi
trigliserida dengan alkohol pada suhu dan tekanan diatas titik kritis
alkoholnya. Katalis yang biasa digunakan dalam reaksi transesterifikasi adalah
katalis basa seperti kalium hidroksida (KOH) dan natrium hodroksida
(NaOH). Reaksi transesterifikasi dengan katalis basa akan menghasilkan
konversi minyak nabati menjadi metil ester yang optimum (94% - 99%)
dengan jumlah katalis 0,5%-1,5% bb minyak nabati. Jumlah katalis KOH
yang efektif untuk menghasilkan konversi yang optimum pada reaksi
transesterifikasi adalah 1 % bb minyak nabati
e. Pengaruh air dan asam lemak bebas
Keberhasilan produksi biodiesel ditentukan pada banyaknya air dan asam
lemak bebas yang terkandung dalam bahan baku yang digunakan. Kandungan
air merupakan faktor yang lebih dominan bila dibandingkan dengan
kandungan asam lemak bebas, karena air dapat menyebabkan terjadinya
hidrolisis dari minyak menjadi asam lemak bebas. Besarnya kandungan air
pada minyak harus lebih kecil dari 0,06% sedangkan besarnya kandungan
asam lemak bebas harus diantara 0,5-1%. Jika kandungan asam lemak bebas
13

terlalu tinggi dalam minyak, maka akan terjadi reaksi antara katalis basa
dengan asam lemak bebas membentuk sabun sehingga kerja dari katalis
menjadi tidak efektif. Sabun juga menyulitkan proses pemisahan antara
biodiesel dan gliserol.

2.7 Sifat-Sifat Penting Bahan Bakar Mesin Diesel


a. Viskositas
Viscositas adalah ukuran hambatan cairan untuk mengalir secara gravitasi,
untuk aliran grafitasi dibawah tekanan hidrostatis, tekanan cairan sebanding
dengan kerapan cairan, satuan viscositas dalam cgs adalah cm2/second
(stokes), satuan SI untuk viscositas m2/second (104 St), lebih sering digunakan
centistokes (cSt) ( 1cSt = 10-2 St = 1 mm2/s). Viskositas merupakan sifat fisis
yang sangat penting bagi bahan bakar mesin diesel. Viskositas ( kekentalan )
merupakan sifat intrinsik fluida yang menunjukkan resistensi fluida terhadap
alirannya, karena gesekan didalam bagian cairan yang berpindah dari suatu
tempat ke tempat yang lain mempengaruhi pengatoman bahan bakar dengan
injeksi kepada ruang pembakaran, akibatnya terbentuk pengendapan pada
mesin. Viskositas yang terlalu tinggi dapat mempersulit proses pembentukan
butir-butir cairan / kabut saat penyemprotan / atomasi. Viskositas bahan bakar
yang terlalu rendah akan dapat mengakibatkan kebocoran pada pompa injeksi
bahan bakar. Viskositas yang tinggi atau fluida yang masih lebih kental akan
mengakibatkan kecepatan aliran akan lebih lambat sehingga proses derajat
atomisasi bahan bakar akan terlambat pada ruang bakar.
b. Densitas
Massa jenis adalah perbandingan massa sample pada suhu 250C dengan
massa air pada volume dan suhu yang sama. Massa jenis minyak biasanya
diukur pada suhu 250C, akan tetapi dapat pula diukur pada suhu 400C atau
600C untuk minyak dengan titik cair yang tinggi. Densitas biodiesel berkaitan
dengan proses penginjeksian bahan bakar melalui pompa keruang bakar
sehingga diperoleh jumlah bahan bakar yang tepat pada proses pembakaran.
Jumlah bahan bakar yang diinjeksikan, waktu injeksi akan meningkatkan
droplet bahan bakar. Densitas bahan bakar juga mempengaruhi emisi yang
dihasilkan. Densitas berkaitan dengan partikulat matter dan emisi NOx. Bahan
bakar dengan densitas tinggi akan menghasilkan partikulat matter dan NOx
yang tinggi pula. Massa jenis menunjukkan perbandingan massa biodiesel
persatuan volume, karakteristik ini berkaitan dengan nilai kalor dan daya yang
dihasilkan oleh mesin diesel persatuan volume bahan bakar. Kerapatan suatu
fluida (ρ) dapat didefenisikan sebagai massa persatuan volume.
Jika densitas rendah maka kemampuan bahan bakar minyak tinggi. Selain
viscositas, apabila lebih besar akan menyebabkan massa yang diinjeksi lebih
14

besar pula. Densitas biodiesel akan meningkat dengan meningkatnya ikatan


rangkap dan berkurangnya panjang rantai.
c. Titik Kabut dan Titik Tuang
Titik kabut adalah temperature saat bahan bakar mulai tampak berkeruh
bagaikan kabut ( berawan = cloudy ) pada suhu rendah. Hal ini terjadi karena
munculnya kristal-kristal ( padatan ) didalam bahan bakar. Meski bahan bakar
masih dapat mengalir pada suhu ini, keberadaan Kristal dalam bahan bakar
dapat mempengaruhi kelancaran aliran bahan bakar didalam filter, pompa dan
injector. Titik kabut dipengaruhi oleh bahan baku biodiesel. Semakin rendah
nilai titik kabut, biodiesel semakin bagus digunakan pada daerah yang
suhunya rendah. Pada hasil penelitian sebelumnya nilai Cloud point 1ºC
dan1,5ºC, hal ini menunjukkan masih terdapat pada biodiesel campuran
monogliserida, digliserida dan trigliserida yang besar yang menunjukkan
masih terdapat kandungan airnya. Pada standart Biodiesel Indonesia nilai
Cloud Point maks 18ºC, dengan berkurangnya nilai viskositas akan
menurunkan nilai Cloud Point.
Pour point adalah titik suhu terendah dimana bahan bakar masih dapat
mengalir. Pour point yang tinggi akan menyebabkan mesin sulit dihidupkan
pada suhu rendah. Titik Tuang adalah temperature terendah yang masih
memungkinkan bahan bakar masih dapat mengalir atau temperatur dimana
bahan bakar mulai membeku atau mulai berhenti mengalir, dibawah titik tuang
bahan bakar tidak dapat lagi mengalir karena terbentuknya kristal yang
menyumbat aliran bahan bakar. Untuk daerah bersuhu rendah, bahan bakar
dipersyaratkan tidak membeku. Titik tuang yang terlalu tinggi akan
menyebabkan kesulitan pada pengaliran bahan bakar. Titik tuang ini
dipengaruhi oleh derajat ketidakjenuhan (angka iodium), jika semakin tinggi
ketidakjenuhan maka titik tuang akan semakin rendah dan juga dipengaruhi
oleh panjangnya rantai karbon, jika semakin panjang rantai karbon maka titik
tuang akan semakin tinggi.
d. Bilangan Iod
Bilangan Iod pada biodiesel menunjukkan tingkat kejenuhan senyawa
penyusun biodiesel. Disatu sisi, keberadaan senyawa lemak tak jenuh
meningkatkan performasi biodiesel pada suhu rendah, karena senyawa ini
memiliki titik leleh (melting point) yang lebih rendah sehingga berkorelasi
dengan titik kabut (cloud point) dan titik tuang (pour point) yang juga rendah
namun disisi lain, banyaknya lemak tak jenuh didalam biodiesel memudahkan
senyawa tersebut bereaksi dengan oksigen di atmosfer dan terpolimerisasi.
Bilangan Iod yang tinggi cenderung membentuk polimer dan membentuk
deposit pada injektor nozel, cincin piston jika dipanaskan. Namun demikian
hasil uji mesin mengindikasikan bahwa reaksi terjadi secara signifikan hanya
15

pada ester asam lemak yang mengandung 3 atau lebih ikatan rangkap. Itulah
sebabnya lebih baik membatasi kandungan ketidakjenuhan yang tinggi
didalam biodiesel dibandingkan total ketidakjenuhan seperti yang dikatakan
oleh bilangan Iod.
e. Kadar Air
Kadar air merupakan ukuran untuk kebersihan bahan bakar. Jumlah air
yang tinggi harus dihindari karena air dapat bereaksi dengan ester membentuk
asam lemak bebas, dan dapat mendorong pertumbuhan mikroba pada tangki
penyimpanan yang dapat menyebabkan terbentuknya sendimen. Sendimen
dapat menyumbat saringan dan dapat berkontribusi pada pembentukan deposit
pada injektor dan kerusakan mesin lainnya. Jumlah sendimen pada biodiesel
dapat meningkat sepanjang waktu sebagaimana bahan bakar ini mengalami
degradasi selama penyimpanan yang lama. Kadar air dalam minyak
merupakan salah satu tolak ukur mutu minyak. Makin kecil kadar air dalam
minyak maka mutunya makin baik, hal ini dapat memperkecil kemungkinan
terjadinya reaksi hidrolisis yang dapat menyebabkan kenaikan kadar asam
lemak bebas, kandungan air dalam bahan bakar dapat juga menyebabkan
turunnya panas pembakaran, berbusa dan bersifat korosif jika beraksi dengan
sulfur karena akan membentuk asam.
f. Bilangan Setana
Bilangan setana adalah ukuran kualitas penyalaan sebuah bahan bakar
diesel dalam keadaan terkompresi. Bilangan setana menunjukkan seberapa
cepat bahan bakar mesin diesel yang dapat diinjeksikan keruang bahan bakar
agar terbakar secara spontan. Bilangan setana dari minyak diesel konvensional
dipengaruhi oleh struktur hidrokarbon penyusun. Normal parafin dengan
rantai panjang mempunyai bilangan setana lebih besar dari pada cylo paraffin,
iso paraffin, olefin dan aromatik. Bilangan setana dari biodiesel juga sangat
bervariasi. Metil ester dari asam lemak palmitat dan stearat mempunyai
bilangan setana hingga 75, sedangkan bilangan setana untuk linoleat hanya
mencapai 33. Semakin rendah bilangan cetana maka semakin rendah pula
kualitas penyalaan karena memerlukan suhu penyalaan yang lebih tinggi.
g. Flash Point
Flash point adalah temperatur terendah yang harus dicapai dalam
pemanasan biodiesel untuk menimbulkan uap yang dapat terbakar dalam
jumlah yang cukup, untuk nyala atau terbakar sesaat disinggungkan dengan
suatu nyala uap. Apabila flash point bahan bakar tinggi, akan memudahkan
bahan bakar tersebut karena bahan bakar tidak perlu disimpan pada temperatur
rendah, sebaliknya jika flash point terlalu rendah, akan berbahaya karena
menimbulkan resiko tinggi bagi penyalaan, sehingga harus disimpan pada
suhu rendah.
16

Titik nyala atau flash point adalah suhu terendah dimana bahan bakar
dalam campurannya dengan udara akan menyala. Bila nyala tersebut terjadi
secara terus menerus maka suhu tersebut dinamakan titik nyala ( fire point ).
Titik nyala yang terlampau tinggi dapat menyebabkan keterlambatan
penyalaan, sementara apabila titik nyala terlampau rendah akan menyebabkan
timbulnya detonasi yaitu ledakan-ledakan kecil yang terjadi sebelum bahan
bakar masuk ruang bakar. Hal ini juga dapat meningkatkan resiko bahaya pada
saat penyimpanan. Dengan meningkatnya konsentrasi katalis maka akan
meningkat Flash Point yang tinggi. Flash Point yang tinggi akan memudahkan
penanganan dan penyimpanan bahan bakar, dan tidak perlu disimpan dalam
suhu yang terlalu rendah. Flash Point yang terlalu rendah akan berbahaya,
berisiko tinggi bagi penyalaan sehingga harus disimpan pada suhu terendah.

Tabel 1 Syarat Mutu Biodiesel sesuai SNI


17

DAFTAR PUSTAKA

[1]
Dewanto, Raka dan Aulia Dewi Rahmawati. 2011. Studi Pembentukan Metil
Ester Dengan Transesterifikasi Sebagai Emulsifier Berbahan Baku
Minyak Kelapa Sawit. Surabaya : Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
[2]
Rachmaniah, Orchidea. 2005. Studi Transesterifikasi berkatalis Asam
Triglyceride dan Fatty Acid dari Minyak Mentah Dedak Padi menjadi
Biodiesel Surabaya : Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.
[3]
Khan, A.K. 2002. Research into Biodiesel Kinetics and Catalyst Development.
Queensland : Departemen Teknik Kimia Universitas Queensland.
[4]
Swern, Daniels. 1979. Baileys Industrial Oil and Fat Product. New York :
Interscience Publisher
[5]
Destianna, Mescha, Agustinus Zandy, Nazef dan Soraya Puspasari.2007.
Intensifkasi Proses Produksi Biodiesel. Bandung : Fakultas Teknologi
Industri Institut Teknologi Bandung
[6]
Sumangat, Djajeng dan Tatang Hidayat. 2008. Karakteristik Metil Ester Minyak
Jarak Pagar Hasil Proses Transesterifikasi Satu Dan Dua Tahap. Bogor :
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian
[7]
Syah , Andi Nur Alam. 2006. Biodiesel Jarak Pagar Bahan bakar yang Ramah.
Jakarta : PT Agromedia Pustaka
[8]
Affandi ,Ranggita Dwi Nindya, dan Toni Rizky. 2013. Produksi Biodiesel Dari
Lemak Sapi Dengan Proses Transesterifikasi Dengan Katalis Basa NaOH.
Medan : Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
[9]
Hambali, Erliza, Siti Mujdalipah, Armansyah Haloman, Abdul Waries, dan Roy
Hendroko . 2007. Teknologi Bioenergi. Jakarta : PT Agromedia Pustaka.
[10]
Widyastuti, L.,2007. Skripsi : Reaksi Metanolisis Minyak Biji Jarak Pagar
Menjadi Metil Ester Sebagai Bahan Bakar Pengganti Minyak Diesel
Dengan Menggunakan Katalis KOH. Semarang : Jurusan Kimia
Universitas Negeri Semarang.
[11]
Darnoko, D. dan Cheryan, M. 2000. Kinetics of Palm Oil Transesterification in
a Batch Reactor. USA : Journal of the American Oil Chemists’ Society.
[12]
Lotero, E. 2005. Synthesis of Biodiesel via Acid Catalysis, Industrial &
Engineering Chemistry.
[13]
Freedman, B dan Pryde,E.H. 1984. Variable Affecting the Yields of fatty Ester
from Transesterification Vegetable Oil. USA : Journal of The American
Oil Chemists’ society.
[14]
Badan Standarisasi Nasional. 2006. Standar Mutu Biodiesel SNI SNI 04-7182-
2006. Jakarta : Dewan Standarisasi Nasional.