Anda di halaman 1dari 3

Nama : Ari Yanto

NIRM : 04.1.17.0977

Tingkat : 1C

Intensifikasi Budidaya Tanaman Stevia Secara Hidroponik Dengan Metode Irigasi


Tetes

Pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat terus mengharuskan untuk


peningkatan produksi pangan. Peningkatan produksi pangan dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu ekstensifikasi (perluasan area pertanian) dan intensifikasi
(peningkatan produktivitas tanaman). Ekstensifikasi yang dilakukan dengan
pembukaan lahan baru sangat terbatas. Apalagi luas area pertanian cenderung
menurun khususnya di Indonesia karena adanya alih guna lahan tanaman pangan
untuk berbagai tujuan misalnya perumahan, pabrik, dan sebagainya.

Keberhasilan usaha peningkatan produksi pertanian memang dipengaruhi


oleh banyak faktor. Namun dari banyak faktor tersebut, ada beberapa faktor yang
sangat tergantung pada upaya yang dilakukan oleh sumber daya manusia,
diantaranya penyiapan lahan, penerapan tata cara budidaya yang benar, cara panen
yang tepat dan pengolahan pasca panen yang bagus. Hal-hal tersebut tentu
memiliki konten teknologi yang berpengaruh secara langsung dan harus
mendorong peningkatan produktivitas.

Banyak pelaku pertanian di Indonesia yang mengeluhkan rendahnya hasil


atau tingkat produktivitas panen. Namun jarang di antara mereka yang mau
melakukan evaluasi dan introspeksi lebih jauh. Kebanyakan dari mereka
melakukan aktivitas pertanian dari mulai pengolahan hingga pemanenan dengan
cara-cara konvensional. Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh petani untuk
meningkatkan hasil produksi tanaman budidayanya adalah dengan perlakuan
intensifikasi pertanian.

Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan


sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan
berbagai sarana. Intensifikasi pertanian banyak dilakukan di Pulau Jawa dan Bali
yang memiliki lahan pertanian sempit. Intensifikasi pertanian dapat dilakukan
dengan berbagai cara, antara lain dengan cara budidaya tanaman secara
hidroponik dengan menggunakan metode irigasi tetes.

Irigasi tetes merupakan cara pemberian air pada tanaman secara langsung,
baik pada permukaan tanah maupun di dalam tanah melalui tetesan secara
berkesinambungan dan perlahan pada tanah dekat tanaman. Setelah keluar dari
penetes (emiter), air menyebar ke dalam profil tanah secara vertikal maupun
horizontal akibat gaya kapilaritas dan gravitasi (Hansen, dkk., 1979). Secara
teoritis, tingkat efisiensi irigasi tetes lebih tinggi jika dibandingkan dengan irigasi
permukaan dan irigasi curah, karena pada irigasi tetes selain dapat dihindari
kehilangan air berupa perkolasi dan limpasan, sistem ini hanya memberikan air
pada daerah perakaran sehingga air yang diberikan dapat langsung digunakan oleh
tanaman (Susanto, 2006).

Manfaat irigasi tetes antara lain ialah penghematan air, waktu, tenaga
kerja, dan biaya tenaga kerja. Penghematan air karena diberikan ke tanaman
sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penyiraman dengan irigasi tetes menghemat
waktu karena penyiraman dilakukan secara otomatis dengan hanya membuka
kran. Penggunaan tenaga kerja menjadi berkurang karena penyiraman dilakukan
secara serentak. Pada irigasi tradisional (kocor), petani membutuhkan banyak air
dan banyak alokasi tenaga kerja karena dilakukan secara manual dan satu per satu
tanaman.
Stevia rebaudiana (Bertoni) adalah tanaman dari family Compositae yang
berasal dari Paraguay. Daunnya telah digunakan selama berabad-abad sebagai
pemanis (Talha, 2012). Tanaman stevia merupakan tanaman semak yang tumbuh
tegak hingga 65 cm (Brandle, 1998). Daun berbentuk lonjong langsing sampai
oval, bergerigi halus, terletak berhadapan, panjang 2-4 cm, lebar 1-5 cm, dan
tulang daun menyirip. Batang tanaman stevia berbentuk bulat lonjong dan berbulu
halus, memiliki banyak percabangan. Bunga stevia merupakan bunga sempurna
(hermaphrodite), bentuk terompet, dengan mahkota berbentuk tabung, tangkai
benang sari dan tangkai putik pendek, kepala sari kuning, putik berbentuk
silindris, putih kotak, bentuk jarum. Bunga stevia kecil (7-15 mm), berwarna putih
(Talha, 2012). Perakaran tanaman stevia merupakan akar serabut yang terbagi
menjadi dua bagian, yaitu perakaran halus dan perakaran tebal. Tanaman ini
memiliki daya regenerasi yang kuat sehingga tahan terhadap pemangkasan.

Stevia dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah yang


mempunyai ketinggian antara 500-1000 meter dari permukaan laut (dpl), suhu
udara antara 140º C-270ºC, curah hujan antara 1600-1850 mm/tahun. Tanaman ini
menghendaki tempat yang terbuka atau cukup mendapat sinar matahari, dengan
panjang penyinaran lebih dari dua belas jam per hari (Rukmana, 2003).

Beberapa kelebihan stevia antara lain (Mishra, 2010): (1) Stevia adalah
produk alami dan bukan sintetik: pemanis stevia (steviosida) tidak mengandung
kalori, (2) Daun stevia sebagai pemanis dapat digunakan langsung secara alami
sehingga dalam jumlah kecil dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, (3)
Tidak beracun, (4) Daun serta ekstrak steviosida murni dapat dimasak langsung,
(5) Stabil bila dipanaskan hingga 2000ºC, (6) Non-fermentasi, (7) Memiliki nilai
rasa tinggi, dan (8) Teruji secara klinis dan sering digunakan oleh manusia tanpa
ada pengaruh negatif.