Anda di halaman 1dari 41

Laporan Draft Akhir

Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.1. Desain Kabupaten Lamongan


Desain Kabupaten Lamongan merupakan review pada desain tambak pada tahun 2012 berdasarkan kajian
lapangan, updating dan melengkapi data-data yang belum lengkap.

9.1.1. Layout Jaringan Irigasi Tambak Lamongan


Lokasi tambak di Kabupaten Lamongan termasuk dalam katagori Irigasi pasang surut merupakan suatu tipe
irigasi yang memanfaatkan pengempangan air sungai akibat peristiwa pasang surut air laut. Area yang
dimanfaatkan untuk tipe irigasi ini adalah area yang mendapat pengaruh langsung dari peristiwa pasang surut air
laut.

Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam layout adalah:


1) Saluran pasok dan buang terpisah dan tidak saling mempengaruhi.
2) Posisi dasar tambak terhadap keadaan pasang surut.
3) Penerapan tingkat teknologi budidaya disesuaikan dengan daya dukung lahan dan tingkat ketrampilan
petani.

Layout jaringan irigasi tambak mengacu Permen PUPR No. 21/PRT/M/2015, yaitu:
1) Memanfaatkan jaringan yang ada
Perencanaan didasarkan pada pemanfaatan jaringan yang ada semaksimal mungkin.
2) Pengendalian Air
Sistem tata air direncanakan mampu mengendalikan air di tambak, dengan mempertimbangkan:
a. Pengaruh pasang surut air laut terhadap ketersediaan air di lahan tambak .
b. Ketersediaan air tawar dan air asin yang akan digunakan sebagai bahan campuran air payau untuk area
tambak .
c. Kualiatas air yang digunakan untuk pengisisan tambak pada sumber air tawar dan sumber air asin yang
digunakan.
3) Saluran Air
Pemisahan saluran berdasarkan klasifikasi saluran dan berdasarkan fungsinya.
Saluran pada jaringan irigasi tambak dibedakan berdasarkan klasifikasi sebagai berikut:
a. Saluran primer adalah saluran utama dari jaringan irigasi tambak yang berfungsi untuk pemberi atau
pembuang.
b. Saluran sekunder adalah cabang utama dari saluran primer yang berfungsi untuk pemberi atau pembuang.
c. Saluran tersier adalah cabang saluran sekunder air payau yang berfungsi sebagai saluran pemberi atau
pembuang.

Halaman I - 1
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Saluran berdasarkan fungsi adalah sebagai berikut:


a. Saluran pemberi air tawar berfungsi mengalirkan air tawar dari bangunan pengambil air tawar ke bangunan
atau saluran pencampur.
b. Saluran pemberi air asin berfungsi mengalirkan air asin dari bangunan pengambil ke bangunan atau saluran
pencampur atau langsung ke jaringan irigasi tambak.
c. Saluran pemberi air payau adalah saluran untuk mengalirkan air payau dari sumber air payau ke petakan
tambak.
d. Saluran pembuang adalah saluran untuk membuang air yang telah digunakan ditambak pada saat melakukan
penggantian air, membuang air kelebihan atau untuk mengeringkan tambak. Pada jaringan irigasi teknis
tambak saluran pembuang sudah terpisah dengan saluran pemberi.

Layout desain 2012 dapat digunakan karena memenuhi acuan teknis dari Permen PUPR No. 21/PRT/M/2015.
Peta layout dapat dilihat pada Gambar 9.1.

Halaman I - 2
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Gambar 9.1. Peta Layout Tambak Kabupaten Lamongan

Halaman I - 3
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.1.2. Kondisi Saluran dan Bangunan di Tambak Lamongan


Skema saluran dan bangunan di Tambak Lamongan secara sistematis dibagi kedalam kelompok dengan nama
desa sebagai penanda yaitu: :
1) Desa Lohgung
2) Desa Labuhan
3) Desa Brekngkok
4) Desa Sedayu Lawas

Berdasarkan tinjauan di lapangan kondisi pada seluruh kali hampir memiliki permasalah yang sama. Kondisi umum
seluruh kali berupa saluran yang terbuat dari tanah, lebar penampang basah yang tidak beraturan,sedimentasi tinggi,
dan air tidak dapat mengaliri lokasi petani tambak. Kondisi beberapa kali dapat dilihat pada Gambar 9.2.

Gambar 9.2. Kondisi Beberapa Saluran di Kabupaten Lamongan

9.1.3. Usulan Pekerjaan di Tambak Lamongan


Berdasarkan kondisi di lapangan usulan pekerjaan diuraikan pada Tabel 9.1. untuk Desa Lohgung, Tabel 9.2.
untuk Desa Brengkok, Tabel 9.3. untuk Desa Labuhan dan Tabel 9.10. untuk Desa Sedayu Lawas.

Halaman I - 4
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Tabel 9.1. Usulan Pekerjaan pada Desa Lohgung

Tabel 9.2. Usulan Pekerjaan pada Desa Brengkok

Tabel 9.3. Usulan Pekerjaan pada Desa Labuhan

Halaman I - 5
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Tabel 9.4. Usulan Pekerjaan pada Desa Labuhan

9.1.4. Desain Saluran

Halaman I - 6
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Dikarenakan tambak Kabupaten Lamongan merupakan irigasi tambak pasang surut, maka yang berpengaruh
adalah pasang surut air laut. Berdasarkan hasil pengamatan pasang surut lokasi tambak Lamongan termasuk
dalam tipe Pasang Surut Campuran Condong Harian Tunggal yang memiliki komponen-komponen:
1) HHWL = 2,8
2) MHWS = 2,2
3) MHWL = 2,3
4) MSL = 1,5
5) MLWL = 0,7
6) MLWS = 0,8
7) LLWL = 0,2
8) LAT = 0,2

Curva Pasut dibuat sebagai rencana pengisian tambak dan mengatahui slope energy gradient Dipilih titik puncak
sama atau mendekati HWL kemudian diplot rencana muka air tambak (elevasi dasar tambak existing+kedalaman
genangan kolam tambak. Lama peluang pengisian tambak dinyakan dengan garis potong titik curva naik dan
curva turun. Beda tinggi rerata dibagi dengan panjang saluran menentukan slope energi gradient. Gambar curva
pasut dapat dilihat pada Gambar 9.3.

Elevasi dasar tambak = MSL – 40 cm


= 150 – 40
= 110 cm

Elevasi muka air tambak = Elevasi dasar tambak + 60 cm


= 110 + 60
= 170 cm

Halaman I - 7
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Beda tinggi hulu dengan hilir

Gambar X . 3 . Curva Pasut Rencana


Dari Gambar 9.3. dapat diketahui lama peluang pengisian kolam tambak = ± 9 Jam dan beda tinggi hulu dan hilir
= 0,35 m

Dimensi saluran dihitung dengan memperhitungkan kebutuhan air untuk tambak ikan. Berdasrkan SNI 19-
6728.1-2002, kebutuhan air tambak per hektar = 0,00833 m3/det/ha. dimensi saluran dicari dengan persamaan
X.1.
Q = 1/n R2/3S1/2 Lbasah. Persamaan 9.1.
Dimana:
Q = Debit aliran (m3/dt )
n = Nilai Manning
R = Jari-jari hidrolis (m )
S = Kemiringan Saluran
L = Luas penampang basah (m2)

Dengan cara coba-coba trial and eror dengan ketentuan vmak = 0,7 m/dt, Bmin = 30 cm dengan kelipatan 10 cm

Halaman I - 8
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Elevasi muka air saluran tambak rencana = elevasi muka air tambak = 170 cm
Elevasi tanggul tambak rencana = elevasi mua air saluran tambak rencana + 50 cm
= 170 + 50
= 220 cm
Elevasi dasar saluran = LLWL – 50 CM
= 20 – 50 cm
= - 30 cm

Desain DED 2012 masih bisa digunakan dengan dilakukan pengecekan dan perubahan dengan ketentuan:
1) Bila dimensi rencana ≤ dari dimensi DED 2012, maka digunakan dimensi DED 2012
2) Elevasi muka air rencana saluran = 1,7 m
3) Elevasi dasar saluran ≤ -0,3 m
4) Elevasi tanggul ≥ 2,2 m

Tipikal desain saluran diperlihatkan pada Gambar X.9.

Tipikal Saluran memakai berm :

Gambar X . 9 . Tipikal Desain Saluran Tambak (Pak Yitno)


Hasil perencanaan dimensi saluran diperlihatkan pada Tabel X.3

Tabel X.3. Perencanaan Dimensi Saluran (Pak Yitno)

Halaman I - 9
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.1.5. Perencanaan Tanggul


Tanggul direncanakan berfungsi sebagai pemnatas petak tambak dan menghindari luapan air baik dari banjir
dan muka air yang sedang pasang. Elevasi muka air banjir rencana akan ditetapkan berdasarkan debit banjir 10
tahunan dan pasang muka air laut yang tertinggi (HHWL) dipilih mana yang paling besar ditambah tinggi jagaan
50 cm. Tanggul akan sekaligus difungsikan sebagai jalan produksi dan jalan inspeksi serta operasi dan
pemeliharaan.

Kriteria perencanaan tanggul disesuaikan dengan keadaan lahan dan kualitas tanah serta beberapa perhitungan
sesuai dengan kebutuhan budidaya tambak yang terdiri dari :
1) Lebar tanggul sekunder antara 2,0 – 3,0 m tergantung pada kebutuhan, sedangkan lebar tanggul tersier
dapat dibuat antara 0,8 – 1,0 m. Untuk tanggul saluran primer yang digunakan sebagai jalan usaha tani,
lebar tanggul ditentukan 5,0 m.
2) Kemiringan tanggul dtetapkan antara 1 : 1,0 dan 1 : 1,5 dan harus memenuhi syarat kestabilan timbunan.
3) Tanggul dibuat dari hasil galian saluran, diratakan dan dirapikan dengan pemadatan sederhana dengan
menggunakan Bucket Excavator.
4) Tanggul harus kokoh tidak mudah longsor dan mampu menahan tekanan air di saluran

9.1.6. Perencanaan Jalan Produksi


Jalan produksi merupakan prasarana transportasi pada kawasan pertambakan yang berfungsi memperlancar
pengangkutan suplai sarana produksi dan mengangkut hasil produksi sehingga diharapkan dapat mengurangi
biaya operasional dan biaya produksi pasca panen.
Aspek yang diperhatikan dalam pengembangan jalan produksi adalah:
1) Pembuatan jalan produksi adalah membuat jalan baru sesuai kebutuhan
2) Peningkatan kapasitas jalan produksi adalah jalan produksi yang sudah ada
3) Rehabilitasi jalan produksi adalah memperbaiki kualitas jalan produksi yang sudah rusak tanpa ada
peningkatan
Penetapan jalan produksi berdasarkan rute lintasan pelaku usaha pertambakan dan usulan dari pelaku usaha
pertambakan. Jalan produksi direncanakan agar dapat dilalui mobil berupa rabat beton pada sisi kanan dan kiri dan
sirtu yang dipadatkan pada bagian tengah.

Tipikal desain jalan produksi diperlihatkan pada Gambar X.12.

Halaman I - 10
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Gambar 9.X. Gambar Penampang Melintang dan Tampak Atas Jalan Produksi

9.1.7. Perencanaan Jembatan


Jembatan adalah suatu konstruksi yang berfungsi meneruskan jalan produksi melalui suatu rintangan yang
barada pada ketinggian lebih rendah. Jembatan difungsikan untuk menunjang transportasi sehingga ditujukan
untuk dapat digunakan penyeberangan orang, kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat sehingga beban
yang diterapkan dalam perhitungan mengakomodasikan beban di atas dan beban untuk kendaraan roda empat.
Seluruh jembatan direncanakan dengan konstruksi beton selebar 3 m dengan perhitungan menggunakan muatan
jalan ringan. Tipe – tipe jembatan yang dibicarakan di sini adalah jembatan kendaraan yang digunakan pada
jalan produksi.

Jembatan-jembatan menggunakan pelat beton bila bentangannya kurang dari 5 m. Untuk bentangan yang lebih
besar dipakai balok T. Lantai jembatan terletak di atas tumpu (abutment) di kedua sisi saluran. Tumpu
meneruskan berat beban ke pondasi. Untuk jembatan yang bentangnya besar, diperlukan satu atau lebih tiang
pancang di saluran guna mendukung bangunan atas agar mengurangi beban tumpu.
Pondasi berupa “telapak sebar” (spread footing). Bila beban lebih besar dan daya dukung tanah bawah tidak
cukup kuat, dipakai tiang pancang. Tiang pancang dapat dibuat dari beton, baja atau kayu. Pada jembatan juga
diperlukan ruang bebas atau tinggi jagaan.

Tipikal desain jembatan diperlihatkan pada Gambar X.10.

Halaman I - 11
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.1.8. Perencanaan Pintu Air


Pintu air direncanakan berjenis pintu sorong terbuat dari bahan fiber resin yang beroperasi semi otomatis. Pintu
semi otomatis, dipakai untuk mengatur aliran, tinggi air, menghindari banjir yang datang dari luar, mengendalikan
air dan menahan air pada saat suru. Pengaturan tinggi ini ditentukan berdasarkan pasang surut air laut sehingga
mampu mengatur kelebihan dan kekurangan air Kelebihan pintu air tersebut tidak memperlukan operator dalam
pengoperasional. Pintu akan terbuka secara otomatis ketika air laut pasang dan tertutup ketika air laut surut.

Pintu air semi otomatis dengan bahan fiber resin memiliki kelebihan:
1) Bobot pintu (berat jenis) yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan bahan lain
2) Bobot pintu dapat diatur dengan mengisi rongga pintu dengan air
3) Dapat beroperasi dengan baik pada beda muka air antara muka air di hulu dan di hilir yang kecil, sekitar 2
cm
4) Lebih tahan terhadap keretakan (fracture) dibandingkan dengan bahan kayu
5) Fabrikasi (pembuatan dan kontrol mutu) lebih terjamin
6) Mobilisasi/transportasi relatif lebih mudah
7) Pemasangan dan pengoperasian lebih mudah
8) Kebocoran lebih kecil, sehingga mengurangi biaya pemeliharaan
9) Telah didukung oleh pengujian di laboratorium dengan uji model fisik dan kekuatan bahan.

Tipikal pintu air semi otomatis diperlihatkan pada Gambar X.11.

Halaman I - 12
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.1.9. Perencanaan Shelter


Shelter diperlukan untuk memberi fasilitas petani tambak berupa tempat bertemu dan berkomunikasi selain juga tempat
untuk transfer material yang keluar-masuk area tambak.

Tipikal desain saluran diperlihatkan pada Gambar X.13.

Gambar X.12. Tampak Depan dan Tampak Samping Shelter

Halaman I - 13
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.2. Desain Kabupaten Tuban


Desain Kabupaten Tuban merupakan review pada desain tambak pada tahun 2012 berdasarkan kajian lapangan,
updating dan melengkapi data-data yang belum lengkap.

9.2.1. Layout Jaringan Irigasi Tambak

Lokasi tambak di Kabupaten Tuban termasuk dalam katagori Irigasi pasang surut merupakan suatu tipe irigasi
yang memanfaatkan pengempangan air sungai akibat peristiwa pasang surut air laut. Area yang dimanfaatkan
untuk tipe irigasi ini adalah area yang mendapat pengaruh langsung dari peristiwa pasang surut air laut.

Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam layout adalah:


1) Saluran pasok dan buang terpisah dan tidak saling mempengaruhi.
2) Posisi dasar tambak terhadap keadaan pasang surut.
3) Penerapan tingkat teknologi budidaya disesuaikan dengan daya dukung lahan dan tingkat ketrampilan
petani.

Layout jaringan irigasi tambak mengacu Permen PUPR No. 21/PRT/M/2015, yaitu:
1) Memanfaatkan jaringan yang ada
Perencanaan didasarkan pada pemanfaatan jaringan yang ada semaksimal mungkin.
2) Pengendalian Air
Sistem tata air direncanakan mampu mengendalikan air di tambak, dengan mempertimbangkan:
d. Pengaruh pasang surut air laut terhadap ketersediaan air di lahan tambak .
e. Ketersediaan air tawar dan air asin yang akan digunakan sebagai bahan campuran air payau untuk area
tambak .
f. Kualiatas air yang digunakan untuk pengisisan tambak pada sumber air tawar dan sumber air asin yang
digunakan.
3) Saluran Air
Pemisahan saluran berdasarkan klasifikasi saluran dan berdasarkan fungsinya.
Saluran pada jaringan irigasi tambak dibedakan berdasarkan klasifikasi sebagai berikut:
a. Saluran primer adalah saluran utama dari jaringan irigasi tambak yang berfungsi untuk pemberi atau
pembuang.
b. Saluran sekunder adalah cabang utama dari saluran primer yang berfungsi untuk pemberi atau pembuang.
c. Saluran tersier adalah cabang saluran sekunder air payau yang berfungsi sebagai saluran pemberi atau
pembuang.
Saluran berdasarkan fungsi adalah sebagai berikut:

Halaman I - 14
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

a. Saluran pemberi air tawar berfungsi mengalirkan air tawar dari bangunan pengambil air tawar ke bangunan
atau saluran pencampur.
b. Saluran pemberi air asin berfungsi mengalirkan air asin dari bangunan pengambil ke bangunan atau saluran
pencampur atau langsung ke jaringan irigasi tambak.
c. Saluran pemberi air payau adalah saluran untuk mengalirkan air payau dari sumber air payau ke petakan
tambak.
d. Saluran pembuang adalah saluran untuk membuang air yang telah digunakan ditambak pada saat melakukan
penggantian air, membuang air kelebihan atau untuk mengeringkan tambak. Pada jaringan irigasi teknis
tambak saluran pembuang sudah terpisah dengan saluran pemberi.

Layout desain 2012 dapat digunakan karena memenuhi acuan teknis dari Permen PUPR No. 21/PRT/M/2015.
Peta layout dapat dilihat pada Gambar 9.1.

Halaman I - 15
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Gambar X.1. Peta Layout Tambak Kabupaten Tuban-Kecamatan Jenu

Halaman I - 16
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Gambar X.1. Peta Layout Tambak Kabupaten Tuban-Kecamatan Palang

Halaman I - 17
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Gambar X.1. Peta Layout Tambak Kabupaten Tuban-Kecamatan Tambakboyo

Halaman I - 18
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

9.2.2. Kondisi Saluran dan Bangunan di Tambak Tuban


Skema saluran dan bangunan di Tambak Tuban secara sistematis dibagi kedalam kelompok dengan nama
kecamatan sebagai penanda yaitu: :
1) Kecamatan Jenu
2) Kecamatan Palang
3) Kecamatan Tambakboyo
Berdasarkan tinjauan di lapangan kondisi pada seluruh kali hampir memiliki permasalah yang sama. Kondisi umum
seluruh kali berupa saluran yang terbuat dari tanah, lebar penampang basah yang tidak beraturan,sedimentasi tinggi,
dan air tidak dapat mengaliri lokasi petani tambak. Kondisi beberapa kali dapat dilihat pada Gambar X.2.

Gambar X.2. Kondisi Beberapa Saluran di Kabupaten Tuban

Halaman I - 19
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

9.2.3. Usulan Pekerjaan di Tambak Tuban


Berdasarkan kondisi di lapangan usulan pekerjaan diuraikan sebagai berikut:

1) Kecamatan Jenu

2) Kecamatan Palang

3) Kecamatan Tambakboyo

Halaman I - 20
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

9.2.4. Desain Saluran


Dikarenakan tambak Kabupaten Tuban merupakan irigasi tambak pasang surut, maka yang berpengaruh
adalah pasang surut air laut. Berdasarkan hasil pengamatan pasang surut lokasi tambak Tuban termasuk
dalam tipe Pasang Surut Campuran Condong Harian Tunggal yang memiliki komponen-komponen:
9) HHWL = 2,8
10) MHWS = 2,2
11) MHWL = 2,3
12) MSL = 1,5
13) MLWL = 0,7
14) MLWS = 0,8
15) LLWL = 0,2
16) LAT = 0,2

Curva Pasut dibuat sebagai rencana pengisian tambak dan mengatahui slope energy gradient Dipilih titik
puncak sama atau mendekati HWL kemudian diplot rencana muka air tambak (elevasi dasar tambak
existing+kedalaman genangan kolam tambak. Lama peluang pengisian tambak dinyakan dengan garis

Halaman I - 21
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

potong titik curva naik dan curva turun. Beda tinggi rerata dibagi dengan panjang saluran menentukan slope
energi gradient. Gambar curva pasut dapat dilihat pada Gambar X.8.
Elevasi dasar tambak = MSL – 40 cm
= 150 – 40
= 110 cm
Elevasi muka air tambak = Elevasi dasar tambak + 60 cm
= 110 + 60
= 170 cm

Beda tinggi hulu dengan hilir

Gambar X . 8 . Curva Pasut Rencana


Dari Gambar X.8. dapat diketahui lama peluang pengisian kolam tambak = ± 9 Jam dan beda tinggi hulu dan
hilir = 0,35 m

Dimensi saluran dihitung dengan memperhitungkan kebutuhan air untuk tambak ikan. Berdasrkan SNI 19-
6728.1-2002, kebutuhan air tambak per hektar = 0,00833 m 3/det/ha. dimensi saluran dicari dengan
persamaan X.1.

Q = 1/n R2/3S1/2 Lbasah. Persamaan X.1.

Halaman I - 22
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Dimana:
Q = Debit aliran (m3/dt )
n = Nilai Manning
R = Jari-jari hidrolis (m )
S = Kemiringan Saluran
L = Luas penampang basah (m2)

Dengan cara coba-coba trial and eror dengan ketentuan vmak = 0,7 m/dt, Bmin = 30 cm dengan kelipatan 10 cm

Elevasi muka air saluran tambak rencana = elevasi muka air tambak = 170 cm
Elevasi tanggul tambak rencana = elevasi mua air saluran tambak rencana + 50 cm
= 170 + 50
= 220 cm
Elevasi dasar saluran = LLWL – 50 CM
= 20 – 50 cm
= - 30 cm

Desain DED 2012 masih bisa digunakan dengan dilakukan pengecekan dan perubahan dengan ketentuan:
5) Bila dimensi rencana ≤ dari dimensi DED 2012, maka digunakan dimensi DED 2012
6) Elevasi muka air rencana saluran = 1,7 m
7) Elevasi dasar saluran ≤ -0,3 m
8) Elevasi tanggul ≥ 2,2 m

Tipikal desain saluran diperlihatkan pada Gambar X.9.

Tipikal Saluran memakai berm :

Halaman I - 23
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Gambar X . 9 . Tipikal Desain Saluran Tambak (Pak Yitno)


Hasil perencanaan dimensi saluran diperlihatkan pada Tabel X.3

9.2.5. Perencanaan Tanggul


Tanggul direncanakan berfungsi sebagai pemnatas petak tambak dan menghindari luapan air baik dari banjir
dan muka air yang sedang pasang. Elevasi muka air banjir rencana akan ditetapkan berdasarkan debit banjir
10 tahunan dan pasang muka air laut yang tertinggi (HHWL) dipilih mana yang paling besar ditambah tinggi
jagaan 50 cm. Tanggul akan sekaligus difungsikan sebagai jalan produksi dan jalan inspeksi serta operasi dan
pemeliharaan.

Kriteria perencanaan tanggul disesuaikan dengan keadaan lahan dan kualitas tanah serta beberapa
perhitungan sesuai dengan kebutuhan budidaya tambak yang terdiri dari :
5) Lebar tanggul sekunder antara 2,0 – 3,0 m tergantung pada kebutuhan, sedangkan lebar tanggul tersier
dapat dibuat antara 0,8 – 1,0 m. Untuk tanggul saluran primer yang digunakan sebagai jalan usaha tani,
lebar tanggul ditentukan 5,0 m.
6) Kemiringan tanggul dtetapkan antara 1 : 1,0 dan 1 : 1,5 dan harus memenuhi syarat kestabilan timbunan.
7) Tanggul dibuat dari hasil galian saluran, diratakan dan dirapikan dengan pemadatan sederhana dengan
menggunakan Bucket Excavator.
8) Tanggul harus kokoh tidak mudah longsor dan mampu menahan tekanan air di saluran

9.2.6. Perencanaan Jalan Produksi


Jalan produksi merupakan prasarana transportasi pada kawasan pertambakan yang berfungsi memperlancar
pengangkutan suplai sarana produksi dan mengangkut hasil produksi sehingga diharapkan dapat mengurangi
biaya operasional dan biaya produksi pasca panen.
Aspek yang diperhatikan dalam pengembangan jalan produksi adalah:
1) Pembuatan jalan produksi adalah membuat jalan baru sesuai kebutuhan
2) Peningkatan kapasitas jalan produksi adalah jalan produksi yang sudah ada
3) Rehabilitasi jalan produksi adalah memperbaiki kualitas jalan produksi yang sudah rusak tanpa ada
peningkatan
Penetapan jalan produksi berdasarkan rute lintasan pelaku usaha pertambakan dan usulan dari pelaku usaha
pertambakan. Jalan produksi direncanakan agar dapat dilalui mobil berupa rabat beton pada sisi kanan dan kiri
dan sirtu yang dipadatkan pada bagian tengah.

Tipikal desain jalan produksi diperlihatkan pada Gambar X.12.

Halaman I - 24
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Gambar 9.X. Gambar Penampang Melintang dan Tampak Atas Jalan Produksi

9.2.7. Perencanaan Jembatan


Jembatan adalah suatu konstruksi yang berfungsi meneruskan jalan produksi melalui suatu rintangan yang
barada pada ketinggian lebih rendah. Jembatan difungsikan untuk menunjang transportasi sehingga ditujukan
untuk dapat digunakan penyeberangan orang, kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat sehingga
beban yang diterapkan dalam perhitungan mengakomodasikan beban di atas dan beban untuk kendaraan
roda empat. Seluruh jembatan direncanakan dengan konstruksi beton selebar 3 m dengan perhitungan
menggunakan muatan jalan ringan. Tipe – tipe jembatan yang dibicarakan di sini adalah jembatan kendaraan
yang digunakan pada jalan produksi.

Jembatan-jembatan menggunakan pelat beton bila bentangannya kurang dari 5 m. Untuk bentangan yang
lebih besar dipakai balok T. Lantai jembatan terletak di atas tumpu (abutment) di kedua sisi saluran. Tumpu
meneruskan berat beban ke pondasi. Untuk jembatan yang bentangnya besar, diperlukan satu atau lebih
tiang pancang di saluran guna mendukung bangunan atas agar mengurangi beban tumpu.
Pondasi berupa “telapak sebar” (spread footing). Bila beban lebih besar dan daya dukung tanah bawah tidak
cukup kuat, dipakai tiang pancang. Tiang pancang dapat dibuat dari beton, baja atau kayu. Pada jembatan
juga diperlukan ruang bebas atau tinggi jagaan.

Tipikal desain jembatan diperlihatkan pada Gambar X.10.

Halaman I - 25
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

9.2.8. Perencanaan Pintu Air

Pintu air direncanakan berjenis pintu sorong terbuat dari bahan fiber resin yang beroperasi semi otomatis.
Pintu semi otomatis, dipakai untuk mengatur aliran, tinggi air, menghindari banjir yang datang dari luar,
mengendalikan air dan menahan air pada saat suru. Pengaturan tinggi ini ditentukan berdasarkan pasang
surut air laut sehingga mampu mengatur kelebihan dan kekurangan air Kelebihan pintu air tersebut tidak
memperlukan operator dalam pengoperasional. Pintu akan terbuka secara otomatis ketika air laut pasang dan
tertutup ketika air laut surut.

Pintu air semi otomatis dengan bahan fiber resin memiliki kelebihan:
1) Bobot pintu (berat jenis) yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan bahan lain
2) Bobot pintu dapat diatur dengan mengisi rongga pintu dengan air
3) Dapat beroperasi dengan baik pada beda muka air antara muka air di hulu dan di hilir yang kecil, sekitar
2 cm
4) Lebih tahan terhadap keretakan (fracture) dibandingkan dengan bahan kayu
5) Fabrikasi (pembuatan dan kontrol mutu) lebih terjamin
6) Mobilisasi/transportasi relatif lebih mudah
7) Pemasangan dan pengoperasian lebih mudah
8) Kebocoran lebih kecil, sehingga mengurangi biaya pemeliharaan
9) Telah didukung oleh pengujian di laboratorium dengan uji model fisik dan kekuatan bahan.

Tipikal pintu air semi otomatis diperlihatkan pada Gambar X.11.

Halaman I - 26
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

9.2.9. Perencanaan Shelter


Shelter diperlukan untuk memberi fasilitas petani tambak berupa tempat bertemu dan berkomunikasi selain juga
tempat untuk transfer material yang keluar-masuk area tambak.

Tipikal desain saluran diperlihatkan pada Gambar X.13.

Gambar X.12. Tampak Depan dan Tampak Samping Shelter

Halaman I - 27
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

9.3. Desain Kabupaten Gresik

Desain Kabupaten Gresik merupakan review pada desain tambak pada tahun 2012 berdasarkan kajian
lapangan, updating dan melengkapi data-data yang belum lengkap

9.3.1. Layout Jaringan Irigasi Tambak Gresik


Lokasi tambak di Kabupaten Gresik termasuk dalam katagori Irigasi pasang surut merupakan suatu tipe
irigasi yang memanfaatkan pengempangan air sungai akibat peristiwa pasang surut air laut. Area yang
dimanfaatkan untuk tipe irigasi ini adalah area yang mendapat pengaruh langsung dari peristiwa pasang surut
air laut.

Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam layout adalah:


1) Saluran pasok dan buang terpisah dan tidak saling mempengaruhi.
2) Posisi dasar tambak terhadap keadaan pasang surut.
3) Penerapan tingkat teknologi budidaya disesuaikan dengan daya dukung lahan dan tingkat
ketrampilan petani.

Layout jaringan irigasi tambak mengacu Permen PUPR No. 21/PRT/M/2015, yaitu:
4) Memanfaatkan jaringan yang ada
Perencanaan didasarkan pada pemanfaatan jaringan yang ada semaksimal mungkin.
5) Pengendalian Air
Sistem tata air direncanakan mampu mengendalikan air di tambak, dengan mempertimbangkan:
a. Pengaruh pasang surut air laut terhadap ketersediaan air di lahan tambak .
b. Ketersediaan air tawar dan air asin yang akan digunakan sebagai bahan campuran air payau untuk
area tambak .
c. Kualiatas air yang digunakan untuk pengisisan tambak pada sumber air tawar dan sumber air asin
yang digunakan.
6) Saluran Air
Pemisahan saluran berdasarkan klasifikasi saluran dan berdasarkan fungsinya.
Saluran pada jaringan irigasi tambak dibedakan berdasarkan klasifikasi sebagai berikut:
a. Saluran primer adalah saluran utama dari jaringan irigasi tambak yang berfungsi untuk pemberi atau
pembuang.
b. Saluran sekunder adalah cabang utama dari saluran primer yang berfungsi untuk pemberi atau pembuang.

Halaman I - 28
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

c. Saluran tersier adalah cabang saluran sekunder air payau yang berfungsi sebagai saluran pemberi atau
pembuang.
Saluran berdasarkan fungsi adalah sebagai berikut:
a. Saluran pemberi air tawar berfungsi mengalirkan air tawar dari bangunan pengambil air tawar ke bangunan
atau saluran pencampur.
b. Saluran pemberi air asin berfungsi mengalirkan air asin dari bangunan pengambil ke bangunan atau
saluran pencampur atau langsung ke jaringan irigasi tambak.
c. Saluran pemberi air payau adalah saluran untuk mengalirkan air payau dari sumber air payau ke petakan
tambak.
d. Saluran pembuang adalah saluran untuk membuang air yang telah digunakan ditambak pada saat
melakukan penggantian air, membuang air kelebihan atau untuk mengeringkan tambak. Pada jaringan
irigasi teknis tambak saluran pembuang sudah terpisah dengan saluran pemberi

Layout desain 2012 dapat digunakan karena memenuhi acuan teknis dari Permen PUPR No. 21/PRT/M/2015.
Peta layout dapat dilihat pada Gambar X.1.

Halaman I - 29
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Gambar X.1. Peta Layout Tambak Kabupaten Gresik

Halaman I - 30
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

9.3.2. Kondisi Saluran dan Bangunan di Tambak Gresik


Pada lokasi tambak di Kabupaten Gresik terdapat 9 (Sembilan) sungai yang digunakan sebagai saluran irigasi
tambak, yaitu:
1) Kali Srowo
2) Kali Ketode
3) Kali Kluwung
4) Kali Kalangkatir
5) Kali Ketapang Lor
6) Kali Tanjungawan
7) Kali Lenguk
8) Kali Celeng

Berdasarkan tinjauan di lapangan kondisi pada seluruh kali hampir memiliki permasalah yang sama. Kondisi umum
seluruh kali berupa saluran yang terbuat dari tanah, lebar penampang basah yang tidak beraturan,sedimentasi tinggi,
dan air tidak dapat mengaliri lokasi petani tambak. Kondisi beberapa kali dapat dilihat pada Gambar X.2.

Halaman I - 31
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Gambar X.2. Kondisi Beberapa Saluran di Kabupaten Gresik

Untuk kondisi bangunan terdapat beberapa titik yang memerlukan beberapa perhatian. Titik-titik tersebut adalah:
1) Intake Saluran Pasok Primer Kali Srowo (Pertemuan antara Kali Srowo dengan Sungai Bengawan Solo) pada
titik P9
Kondisi intake tidak terdapat pintu air dan dinding saluran sering mengalami erosi. Kondisi intake saluran pasok
primer kali srowo dapat dilihat pada Gambar X.3.

Gambar X.3. Kondisi Intake Saluran Pasok Primer Kali Srowo

2) Pertemuan antara Kali Srowo dan Kali Lenguk pada titik CP01
Tidak terdapat pintu air yang berfungi sebagai pembatas antara saluran pasok dengan saluran buang. Kondisi lokasi
ini dapat dilihat pada Gambar X.4.

Gambar X.4. Kondisi Pertemuan antara Kali Srowo dengan Kali Lenguk

3) Pertemuan Kali Ketapang Lor dengan Kali Srowo pada titik D8

Halaman I - 32
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Pada pertemuan antara saluran pasok sekunder dan buang sekunder diperlukan gorong-gorong sehingga antara
saluran pasok dan saluran buang terpisah. Terdapat jembatan dengan kondisi kurang. Kondisi lokasi ini dapat dilihat
pada Gambar X.5.

Gambar X.5. Kondisi Pertemuan antara Ketapang Lor dengan Kali Srowo

4) Kali Ketode pada titik B51


Terdapat jembatan dari kayu dengan kondisi hanya dapat dilewati motor dan tidak dapat dilalui mobil. Kondisi lokasi
ini dapat dilihat pada Gambar X.6.

Gambar X.6. Kondisi Kali Ketode pada titik B51

5) Pertemuan antara Kali Lenguk dengan Sungai Bengawan Solo pada Titik BM 02
Pintu air yang tidak berfungsi yang terletak dibawah jembatan. Dinding saluran yang terbuat dari pasangan batu kali
hanya terdapat pada satu sisi. Sementara sisi lainnya berupa dinding tanah yang sering mengalami erosi. Kondisi
lokasi ini dapat dilihat pada Gambar X.7.

Halaman I - 33
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Gambar X.7. Kondisi Pertemuan antara Kali Lenguk dengan Sungai Bengawan Solo

9.3.3. Usulan Pekerjaan di Tambak Gresik


Berdasarkan kondisi di lapangan usulan pekerjaan dapat dilihat pada Tabel X.1.
Tabel X.1. Rekapitulasi Usulan Pekerjaan
No Usulan Pekerjaan Kuantitas Satuan Jenis Pekerjaan
1 Normalisasi Saluran 9 Buah Perbaikan
2 Gorong-gorong 1 Buah Pembuatan
3 Pintu Air 3 Buah Pembuatan
4 Jembatan 3 Buah Perbaikan

9.3.4. Desain Saluran


Dikarenakan tambak Kabupaten Gresik merupakan irigasi tambak pasang surut, maka yang berpengaruh
adalah pasang surut air laut. Berdasarkan hasil pengamatan pasang surut lokasi tambak Gresik termasuk
dalam tipe Pasang Surut Campuran Condong Harian Tunggal yang memiliki komponen-komponen:
1) HHWL = 2,8
2) MHWS = 2,2
3) MHWL = 2,3
4) MSL = 1,5
5) MLWL = 0,7
6) MLWS = 0,8
7) LLWL = 0,2
8) LAT = 0,2

Curva Pasut dibuat sebagai rencana pengisian tambak dan mengatahui slope energy gradient Dipilih titik
puncak sama atau mendekati HWL kemudian diplot rencana muka air tambak (elevasi dasar tambak
existing+kedalaman genangan kolam tambak. Lama peluang pengisian tambak dinyakan dengan garis
potong titik curva naik dan curva turun. Beda tinggi rerata dibagi dengan panjang saluran menentukan slope
energi gradient. Gambar curva pasut dapat dilihat pada Gambar X.8.

Halaman I - 34
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

Elevasi dasar tambak = MSL – 40 cm


= 150 – 40
= 110 cm
Elevasi muka air tambak = Elevasi dasar tambak + 60 cm
= 110 + 60
= 170 cm

Beda tinggi hulu dengan hilir

Gambar X . 8 . Curva Pasut Rencana


Dari Gambar X.8. dapat diketahui lama peluang pengisian kolam tambak = ± 9 Jam dan beda tinggi hulu dan
hilir = 0,35 m

Dimensi saluran dihitung dengan memperhitungkan kebutuhan air untuk tambak ikan. Berdasrkan SNI 19-
6728.1-2002, kebutuhan air tambak per hektar = 0,00833 m 3/det/ha. dimensi saluran dicari dengan
persamaan X.1.
Q = 1/n R2/3S1/2 Lbasah. Persamaan X.1.
Dimana:
Q = Debit aliran (m3/dt )
n = Nilai Manning
R = Jari-jari hidrolis (m )
S = Kemiringan Saluran

Halaman I - 35
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

L = Luas penampang basah (m2)

Dengan cara coba-coba trial and eror dengan ketentuan vmak = 0,7 m/dt, Bmin = 30 cm dengan kelipatan 10 cm

Elevasi muka air saluran tambak rencana = elevasi muka air tambak = 170 cm
Elevasi tanggul tambak rencana = elevasi mua air saluran tambak rencana + 50 cm
= 170 + 50
= 220 cm
Elevasi dasar saluran = LLWL – 50 CM
= 20 – 50 cm
= - 30 cm

Desain DED 2012 masih bisa digunakan dengan dilakukan pengecekan dan perubahan dengan ketentuan:
1) Bila dimensi rencana ≤ dari dimensi DED 2012, maka digunakan dimensi DED 2012
2) Elevasi muka air rencana saluran = 1,7 m
3) Elevasi dasar saluran ≤ -0,3 m
4) Elevasi tanggul ≥ 2,2 m

Tipikal desain saluran diperlihatkan pada Gambar X.9.

Gambar X . 9 . Tipikal Desain Saluran Tambak


Hasil perencanaan dimensi saluran diperlihatkan pada Tabel X.3
Tabel X.3. Perencanaan Dimensi Saluran
Nama Saluran Kode Saluran L l m B V
(m) (m) (m/dt)
Saluran Pasok Primer Srowo SPP KSr 724,79
a. Ruas 1 SPP KSr R1 724,79 0,000056 1:1,0 7,50 0,09
Saluran Pasok Sekunder Srowo 1 SPS KSr1 6231,84
a. Ruas 1 SPS KSr1 R1 556,00 0,000090 1:1,0 13,20 0,14
b. Ruas 2 SPS KSr1 R2 1318,00 0,000038 1:1,0 4,31 0,22
c. Ruas 3 SPS KSr1 R3 900,00 0,000056 1:1,0 1,71 0,22
d. Ruas 4 SPS KSr1 R4 1527,00 0,000033 1:1,5 2,77 0,21
e. Ruas 5 SPS KSr1 R5 1164,00 0,000046 1:1,0 3,72 0,13
Saluran Pasok Sekunder Ketode SPS KKd 1608,69
a. Ruas 1 SPS KKd R1 618,00 0,000647 1:1,0 3,35 0,59

Halaman I - 36
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Gresik

b. Ruas 2 SPS KKd R2 22,49 0,000429 1:1,0 6,45 0,23


c. Ruas 3 SPS KKd R3 10,80 0,000205 1:1,0 10,06 0,12
Saluran Pasok Sekunder Kluwung SPS KKw 2532,50
a. Ruas 1 SPS KKw R1 505,00 0,000416 1:1,5 7,10 0,44
b. Ruas 2 SPS KKw R2 1254,00 0,000222 1:1,0 1,70 0,45
c. Ruas 3 SPS KKw R3 849,00 0,000317 1:1,0 3,40 0,50
Saluran Pasok Sekunder Kalangkatir SPS KKl 1364,36
a. Ruas 1 SPS KKl R1 192,00 0,002604 1:1,0 2,15 0,70
b. Ruas 2 SPS KKl R2 447,00 0,001118 1:1,0 9,50 0,48
c. Ruas 3 SPS KKl R3 786,00 0,000443 1:1,0 1,40 0,27
Saluran Pasok Sekunder Srowo 2 SPS KSr2 833,11
a. Ruas 1 SPS KSr2 R1 833,11 0,000102 1:1,5 2,70 0,36
Saluran Pasok Sekunder Tanjungawan SPS KTj 3045,74
a. Ruas 1 SPS KTj R1 811,00 0,001011 1:1,0 9,90 0,49
b. Ruas 2 SPS KTj R2 543,00 0,001097 1:1,0 7,00 0,45
c. Ruas 3 SPS KTj R3 1756,50 0,000169 1:1,0 12,60 0,18
Saluran Buang Sekunder Ketapang Lor SBS KKt 853,00
a. Ruas 1 SBS KKt R1 792,00 0,000500 1:1,0 3,40 0,42
b. Ruas 2 SBS KKt R2 61,00 0,000336 1:1,0 1,30 0,24
Saluran Buang Sekunder Lenguk SBS KLg 9278,40
a. Ruas 1 SBS KLg R1 2891,40 0,000005 1:1,5 4,4 0,09
b. Ruas 2 SBS KLg R2 2297,00 0,000004 1:1,5 11,2 0,09
c. Ruas 3 SBS KLg R3 4090,00 0,000004 1:1,5 4,20 0,08

Halaman I - 37
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.3.5. Perencanaan Tanggul


Tanggul direncanakan berfungsi sebagai pemnatas petak tambak dan menghindari luapan air baik dari banjir
dan muka air yang sedang pasang. Elevasi muka air banjir rencana akan ditetapkan berdasarkan debit banjir 10
tahunan dan pasang muka air laut yang tertinggi (HHWL) dipilih mana yang paling besar ditambah tinggi jagaan
50 cm. Tanggul akan sekaligus difungsikan sebagai jalan produksi dan jalan inspeksi serta operasi dan
pemeliharaan.

Kriteria perencanaan tanggul disesuaikan dengan keadaan lahan dan kualitas tanah serta beberapa perhitungan
sesuai dengan kebutuhan budidaya tambak yang terdiri dari :
1) Lebar tanggul sekunder antara 2,0 – 3,0 m tergantung pada kebutuhan, sedangkan lebar tanggul tersier
dapat dibuat antara 0,8 – 1,0 m. Untuk tanggul saluran primer yang digunakan sebagai jalan usaha tani,
lebar tanggul ditentukan 5,0 m.
2) Kemiringan tanggul dtetapkan antara 1 : 1,0 dan 1 : 1,5 dan harus memenuhi syarat kestabilan timbunan.
3) Tanggul dibuat dari hasil galian saluran, diratakan dan dirapikan dengan pemadatan sederhana dengan
menggunakan Bucket Excavator.
4) Tanggul harus kokoh tidak mudah longsor dan mampu menahan tekanan air di saluran

Jalan produksi merupakan prasarana transportasi pada kawasan pertambakan yang berfungsi memperlancar
pengangkutan suplai sarana produksi dan mengangkut hasil produksi sehingga diharapkan dapat mengurangi
biaya operasional dan biaya produksi pasca panen.
Aspek yang diperhatikan dalam pengembangan jalan produksi adalah:
1) Pembuatan jalan produksi adalah membuat jalan baru sesuai kebutuhan
2) Peningkatan kapasitas jalan produksi adalah jalan produksi yang sudah ada
3) Rehabilitasi jalan produksi adalah memperbaiki kualitas jalan produksi yang sudah rusak tanpa ada
peningkatan
Penetapan jalan produksi berdasarkan rute lintasan pelaku usaha pertambakan dan usulan dari pelaku usaha
pertambakan. Jalan produksi direncanakan agar dapat dilalui mobil berupa rabat beton pada sisi kanan dan kiri dan
sirtu yang dipadatkan pada bagian tengah.

Tipikal desain jalan produksi diperlihatkan pada Gambar X.12.

Halaman I - 38
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

Gambar 9.X. Gambar Penampang Melintang dan Tampak Atas Jalan Produksi

9.3.6. Perencanaan Jembatan


Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang barada
lebih rendah. Jembatan difungsikan untuk menunjang transportasi sehingga ditujukan untuk dapat digunakan
penyeberangan orang, kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat sehingga beban yang diterapkan dalam
perhitungan mengakomodasikan beban di atas dan beban untuk kendaraan roda empat. Seluruh jembatan
direncanakan dengan konstruksi beton selebar 3 m dengan perhitungan menggunakan muatan jalan ringan.
Tipe–tipe jembatan yang dibicarakan di sini adalah jembatan kendaraan yang dipakai di jalan inspeksi,
penyeberangan saluran, pembuang atau sungai, jembatan orang (footbridge).

Jembatan-jembatan menggunakan pelat beton bila bentangannya kurang dari 5 m. Untuk bentangan yang lebih
besar dipakai balok T. Lantai jembatan terletak di atas tumpu (abutment) di kedua sisi saluran. Tumpu
meneruskan berat beban ke pondasi. Untuk jembatan yang bentangnya besar, diperlukan satu atau lebih tiang
pancang di saluran guna mendukung bangunan atas agar mengurangi beban tumpu.
Pondasi berupa “telapak sebar” (spread footing). Bila beban lebih besar dan daya dukung tanah bawah tidak
cukup kuat, dipakai tiang pancang. Tiang pancang dapat dibuat dari beton, baja atau kayu. Pada jembatan juga
diperlukan ruang bebas atau tinggi jagaan.

Tipikal desain jembatan diperlihatkan pada Gambar X.10.

Halaman I - 39
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.3.7. Perencanaan Pintu Air


Pintu air direncanakan berjenis pintu sorong terbuat dari bahan fiber resin yang beroperasi semi otomatis. Pintu
semi otomatis, dipakai untuk mengatur aliran, tinggi air, menghindari banjir yang datang dari luar, mengendalikan
air dan menahan air pada saat suru. Pengaturan tinggi ini ditentukan berdasarkan pasang surut air laut sehingga
mampu mengatur kelebihan dan kekurangan air Kelebihan pintu air tersebut tidak memperlukan operator dalam
pengoperasional. Pintu akan terbuka secara otomatis ketika air laut pasang dan tertutup ketika air laut surut.

Pintu air semi otomatis dengan bahan fiber resin memiliki kelebihan:
1) Bobot pintu (berat jenis) yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan bahan lain
2) Bobot pintu dapat diatur dengan mengisi rongga pintu dengan air
3) Dapat beroperasi dengan baik pada beda muka air antara muka air di hulu dan di hilir yang kecil, sekitar 2
cm
4) Lebih tahan terhadap keretakan (fracture) dibandingkan dengan bahan kayu
5) Fabrikasi (pembuatan dan kontrol mutu) lebih terjamin
6) Mobilisasi/transportasi relatif lebih mudah
7) Pemasangan dan pengoperasian lebih mudah
8) Kebocoran lebih kecil, sehingga mengurangi biaya pemeliharaan
9) Telah didukung oleh pengujian di laboratorium dengan uji model fisik dan kekuatan bahan.

Tipikal pintu air semi otomatis diperlihatkan pada Gambar X.11.

Halaman I - 40
Laporan Draft Akhir
Review Desain Tambak di Kab. Lamongan, Tuban dan Lamongan

9.2.10. Perencanaan Shelter


Shelter diperlukan untuk memberi fasilitas petani tambak berupa tempat bertemu dan berkomunikasi selain juga tempat
untuk transfer material yang keluar-masuk area tambak.

Tipikal desain saluran diperlihatkan pada Gambar X.13.

Gambar X.12. Tampak Depan dan Tampak Samping Shelter

Halaman I - 41