Anda di halaman 1dari 8

ALASAN INDONESIA DALAM MELAKUKAN HUBUNGAN

KERJASAMA DENGAN MELANESIAN SPEARHEAD GROUP (MSG)

Wirda Wanda Sari Bekarekar


Magister Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Yogyakarta, Indonesia
Email: wirda.bekarekar@yahoo.com

Abstrak-Penelitian ini menjelaskan mengapa Indonesia teritori yang amat kecil, namun sebagian besar
melakukan kerjasama dengan Melanesian Spearhead eksistensinya berada dalam suatu kawasan yang relatif
Group. Anggota dari Melanesian Spearhead Group "terang dan stabil". Negara-negara tersebut sangat
adalah negara-negara di wilayah Pasifik Selatan yang rentan terhadap intervensi asing akibat kondisi
memiliki ras Melanesia. Visi dari Melanesian
geografis mereka yang sangat strategis untuk
Spearhead Group adalah dekolonisasi dan kebebasan
seluruh negara Melanesia dengan upaya melakukan kegiatan dagang dan untuk menaruh
mengembangkan identitas dan keterkaitan budaya, pangkalan militer di masa Perang Dunia. Sampai saat ini
politik, sosial dan ekonomi masyarakat Melanesia. proses dekolonisasi di kawasan Pasifik Selatan belum
West Papua National Coalition for Liberation selesai secara menyeluruh. Sejak terjadinya proses
terdaftar sebagai observer di Melanesian Spearhead dekolonisasi, muncul negara-negara kecil baru di
Group. Dengan status associate member, Indonesia kawasan Pasifik yang menjadikan kawasan ini semakin
mencoba untuk mencegah meningkatnya penting artinya.1 Terdapat beberapa karakteristik yang
pergerakan kelompok Papua merdeka sebagai menjadikannya negara-negara Pasifik Selatan berbeda
bagian dari Melanesian Spearhead Group.
dengan kawasan lain. Pertama, negara di kawasan
Keterlibatan Indonesia di dalam Melanesian
Spearhead Group menjadi ancaman bagi kelompok Pasifik Selatan disebut dengan ‘microstate’ karena
Papua merdeka untuk memisahkan diri dari Negara memiliki jumlah populasi yang sedikit, serta areanya
Kesatuan Republik Indonesia. Melalui konsep Politik yang sempit. Kedua adalah letaknya yang berada di
Luar Negeri dengan model Aktoor Rasional oleh pulau, jauh dengan pusat dunia. Ketiga adalah negara
Graham T. Allison bahwa terdapat alternatif- yang berada di kawasan ini merupakan negara
alternatif haluan kebijaksanaan yang bisa di ambil berkembang. Karena karakateristik ini, diperlukanlah
oleh pemerintah dalam memperhitungkan untung kerjasama antar kawasan untuk menjaga eksistensinya
dan rugi atas masing-masing alternatif tersebut. Para dalam hubungan internasional.2 Kestabilan politik Luar
pembuat keputusan harus selalu siap untuk
Negeri di wilayah Pasifik Selatan penting bagi Indonesia
melakukan perubahan atau penyesuaian dalam
kebijaksanaannya. Konsep ini digunakan oleh peneliti untuk menunjukkan eksistensi dan konsistensinya di
untuk mengetahui keterlibatan Indonesia di dalam kawasan Pasifik Selatan dalam menangani masalah-
Melanesian Spearhead Group. Alasan utama masalah regional.
mengapa Indonesia melakukan kerjasama dengan
Melanesian Spearhead Group karena Indonesia mau Wilayah Pasifik merupakan wilayah yang cukup
mendapatkan dukungan dari negara-negara anggota strategis dalam kaitannya dengan politik luar negeri
Melanesian Spearhead Group untuk mencegah Indonesia. Salah satu kepentingan utama Indonesia
kelompok Papua merdeka menjadi anggota tetap dalam menjaga hubungan dengan negara-negara Pasifik
untuk menghambat pergerakan dalam adalah untuk menjaga stabilitas nasional dan regional
memerdekakan Papua.
Pasifik. Asia Pasifik dalam keterkaitannya dengan politik
Keywords: Aktor Rasional, Melanesian Spearhead Group, luar negeri Indonesia, merupakan bagian dari lingkaran
WPNCL, West Papua konsentris. Dibuatnya lingkaran konsentris salah
satunya didasari oleh kepentingan antarnegara,
sehingga hubungan baik antarnegara pun selalu
I. PENDAHULUAN diupayakan demi kerjasama dan pencapaian
Penelitian ini membahas mengenai rasionalitas
Indonesia dalam melakukan kerjasama dengan 1 Adil, Hilman. 1993. Dinamika Perkembangan Pasifik Selatan
Melanesian Spearhead Group. Dalam hal ini peneliti Dan Implikasinya Terhadap Indonesia. Jakarta : Pusat
memfokuskan pada pengambilan kebijakan politik luar Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan
negeri Indonesia, dimana Presiden Joko Widodo Kebudayaan PDII-LIPI.
2 Ogashiwa, Yoko. 2002. “South Pacific Forum: Survival
menjadi subjek utama pelaku pembuat kebijakan.
Under External Pressure” in New Regionalisms in the
Global Political Economy, by Shaun Breslin, Christopher W.
Pasifik Selatan merupakan sebuah kawasan yang Hughes, Nicola Phillips and Ben Rosamond (eds). London:
terdiri dari negara-negara kepulauan dengan wilayah Routledge.
Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1st
245 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3
kepentingan. Indonesia telah memupuk hubungan yang keterkaitan budaya, politik, sosial dan ekonomi
baik dengan negara-negara ASEAN sejak awal. Selain masyarakat Melanesia.3
itu, Indonesia dan negara-negara di Asia Pasifik pun
memiliki dinamika tersendiri dalam hubungan Kawasan kepulauan pasifik memilki peranan
antarnegara, seperti hubungannya dengan Australia, penting bagi kedaulatan Indonesia terutama mengenai
Timor Timur, dan Papua New Guinea. permasalahan Papua Barat. Rasa solidaritas sebagai
sesama bangsa Melanesia membuat gerakan-gerakan
Kondisi dan posisi geografis Indonesia yang yang menginginkan Papua Barat untuk merdeka
sangat prospektif di Kawasan Asia Pasifik. Indonesia mendapat sambutan hangat di negara-negara Melanesia.
merupakan negara yang berada diantara dua samudra Negara-negara tersebut tergabung kedalam Melanesian
yaitu samudera Pasifik dan Hindia. Semua jalan Spearhead Group. Keberadaan negara-negara tersebut
pengubung antara kedua samudra melewati Kepulauan penting bagi Indonesia mengingat kasus kemerdekaan
Indonesia. Secara geografis 1/3 jalur perdagangan dunia Papua Barat merupakan hal yang sensitif terutama dari
melewati selat Lombok, selat Malaka, dan selat Sunda. dunia internasional karena menyangkut Hak Asasi
Selain itu dari sisi politik Indonesia memiliki peranan manusia. Hubungan dengan negara-negara pasifik jika
penting di Asia Pasifik, mengingat lingkaran konsentris tidak dikelola dengan baik di khawatirkan oleh
pertama Politik Luar Negeri Indonesia adalah ASEAN. pemerintah Indonesia bahwa akan mengakibatkan
Kontribusi Indonesia di Asia Pasifik adalah sebagai mereka berpihak pada gerakan Papua Merdeka. Suara
motor penggerak terciptanya stabilitas perdamaian dan negara pasifik dalam PBB juga cukup didengar, sehingga
keamanan yang tertera dalam pasal 1 UU No. 37 tahun menyulitkan posisi Indonesia di dunia Internasional.
1999 tentang hubungan luar negeri. Keterlibatan aktif Meskipun pemerintah negara anggota Melanesian
Indonesia di Asia Pasifik dapat dilihat dari terciptanya Spearhead Group mengakui integritas Papua dalam
berbagai forum-forum multilateral seperti ASEAN Negara Kesatuan Republik Indonesia semenjak
Regional Forum (ARF), East Asian Summit (EAS) dan disahkannya Resolusi PBB No. 2504 pata tanggal 19
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) lainnya. Strategi November 1969 tentang status Papua yang sah
Indonesia yang lain untuk berperan dalam menurut hukum internasional menjadi bagian dari
pengembangan kawasan Pasifik Selatan adalah melalui NKRI,4 namun kenyataannya Melanesian Spearhead
bantuan kapasitas. Group melakukan bentuk-bentuk intervensi terhadap
gerakan separatisme di Papua.
Kawasan Pasifik Selatan sendiri didiami oleh
tiga budaya besar, yaitu Melanesia, Polinesia dan Pada KTT Melanesian Spearhead Group ke-18 di
Mikronesia. Pengaruh budaya Melanesia terlihat dalam Fiji, Indonesia diterima dan diberikan status sebagai
hubungan antara budaya dan kepemimpinan, konstitusi, observer. Pada forum ini Presiden Susilo Bambang
dan pemerintahan, dan juga hubungan internasional. Yudhoyono menjelaskan mengenai kondisi Papua serta
Melanesia merupakan gugus kepulauan yang mempersilakan perwakilan Melanesian Spearhead Group
memanjang dari Maluku lalu ke timur sampai Pasifik melakukan kunjungan ke Papua untuk mendengar
bagian barat, serta utara dan timur laut Australia. langsung terkait kebijakan pembangunan ekonomi serta
Indonesia memiliki 3 wilayah yang memilki rumpun aspek keamanan di Papua dan melihat kondisi di Papua
Melanesia yaitu wilayah Papua, Maluku dan Nusa secara langsung.5 Hal tersebut dilakukan terkait isu
Tenggara Timur. Dengan adanya semangat solidaritas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang diduga
etnis yang tinggi dari beberap negara ras Melanesia, dilakukan oleh pemerintah Indonesia di Papua.
kemudian terbentuklah sebuah organisasi antar Keterlibatan Indonesia dalam Melanesian Spearhead
pemerintah (intergovernmental organization) yaitu Group, berdampak pada munculnya perlawanan dari
Melanesian Spearhead Group (MSG). gerakan separatis di Papua yang terancam dipersulit
untuk memerdekakan Papua. Pada Juni 2013, The West
Melanesian Spearhead Group didirikan di Port Papuan National Coalition for Liberation (WPNCL) /
Vila pada 14 Maret 1988 dan merupakan kelompok Koalisi Nasional Papua Barat untuk Pembebasan yang
sub-regional di kawasan kepulauan Pasifik yang terdiri memperjuangkan kemerdekaan Papua, mendaftarkan
dari negara-negara Melanesia di Pasifik Barat, yang diri sebagai anggota Melanesian Spearhead Group pada
berdekatan dengan Australia, yaitu: Vanuatu, Fiji, Papua
Nugini, Kepulauan Salomon dan New Caledonia. Selain
untuk memajukan kebudayaan dan nilai-nilai tradisi 3 Pentingnya Kerjasama Ekonomi Indonesia-Vanuatu.
Melanesia, tujuan terbentuknya Melanesian Spearhead http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/pentingnya-kerja-sama-
Group sendiri adalah untuk meningkatkan ekonomi-indonesia-%E2%80%93-vanuatu Diakses pada 9 Mei
perekonomian di negara-negara Melanesia yang 2016, pukul 11.30 WIB
4 Bhakti, Ikrar Nusa. 2006. Merajut Jaring-Jaring Kerja Sama
tergabung dalam Melanesian Spearhead Group. Visi yang
dimiliki oleh Melanesian Spearhead Group adalah Keamanan Indonesia-Australia: Suatu Upaya Menstabilkan
Hubungan Bilateral Kedua Negara. Jakarta: LIPI
dekolonisasi dan kebebasan seluruh negara Melanesia 5 SBY Kunjungi Fiji Untuk Jelaskan Kondisi Papua.
dengan upaya mengembangkan identitas dan http://www.voaindonesia.com/content/sby-kunjungi-fiji-
untuk-jelaskan-kondisi-papua/1938483.htm di akses pada 10
Mei 2016, pukul 20.30 WIB
Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1st
246 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3
KTT yang dilaksanakan di Noumea. Permintaan Melanesian Sperahead Group terkait status keanggotaan
keanggotaan ini menjadi bahan pertimbangan bagi Papua yang masi dipertanyakan. Pelanggaran Hak Asasi
negara-negara anggota Melanesian Spearhead Group, Manusia di Papua menjadi bahan pertimbangan utama
yang akhirnya pada Juni 2015 WPNCL diberikan status untuk mendukunng Papua menjadi bagian dari
sebagai observer. WPNCL sendiri adalah salah satu Melanesian Sperahead Group. Keinginan Indonesia
gerakan separatisme Papua yang dapat dikatakan menjalin hubungan dengan Melanesian Sperahead Group
merupakan anak turunan dari OPM. terlihat sebagai suatu cara untuk menghentikan aspirasi
Papua tergabung dalam forum yang sama. Dengan
RUMUSAN MASALAH diberikannya status observer kepada Papua Barat
menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia jika status
Berkaitan dengan latar belakang yang telah tersebut adalah langkah awal bagi Papua Barat untuk
dipaparkan diatas maka dapat ditarik rumusan masalah menjadi anggota tetap walaupun pemimpin Melanesian
sebagai berikut: Sperahead Group menyatakan bahwa Papua Barat hanya
- Mengapa Indonesia melakukan kerjasama akan mewakili masyarakat Papua yang berada di luar
dengan Melanesian Spearhead Group (MSG)? wilayah Papua. Indonesia telah mengajukan petisi keras
untuk mencegah kelompok separatis Papua diterima
TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT sebagai anggota penuh Melanesian Spearhead Group.
PENELITIAN 3. Ronald May
Ronald May dalam “The Melanesian Spearhead
Adapun yang akan menjadi tujuan penelitian ini Group: testing Pacific island solidarity” menguraikan
adalah untuk mengetahui dan menjelaskan rasionalitas tentang hubungan kerjasama yang dilakukan antara
Indonesia dalam melakukan kerjasama dengan anggota-anggota wilayah Pasifik yang tergabung ke
Melanesian Spearhead Group (MSG). dalam forum Melanesian Spearhead Group. Dikatakan
bahwa awal pembentukan Melanesian Spearhead Group
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORITIK adalah untuk melakukan kerjasama perekonomian
Studi Pustaka digunakan untuk mendukung antara negara-negara anggota sehingga dapat
penelitian sebagai bahan acuan sekaligus untuk membentuk wilayah sub-regional perdagangan bebas di
menambah kajian mengenai keterlibatan Indonesia di Pasifik, akan tetapi pada kenyataannya Melanesian
dalam Melanesian Spearhead Group. Beberapa penelitian Spearhead Group dibentuk bukan dengan tujuan
yang sebelumnya telah dilakukan dapat dijadikan acuan perekonomian tetapi lebih kepada politik. Melanesian
dengan tujuan mengembangkan pengetahuan yang Spearhead Group memiliki solidaritas dan tekat yang
dihasilkan dalam penelitian ini. kuat untuk menyuarakan ras Melanesia di wilayah
1. Dame Meg Taylor Pasifik, baik kepada member countries maupun non-
Menurut Dame Meg Taylor dalam tulisannya member countries.
“Pacific Regiolism: Understanding the Pacific’s regional Dari uraian beberapa tulisan yang ditemukan,
architecture” menguraikan tentang beberapa forum dalam penelitian ini penulis menemukan persamaan dan
regional di wilayah Pasifik. Salah satunya adalah perbedaan untuk dapat mendukung dan menunjukan
Melanesian Sperahead Group (MSG), terdiri dari Fiji, studi kebaruan dalam tulisan ini. Letak persamaan dari
Papua New Guinea, Solomon Islands, Vanuatu dan tulisan yang telah penulis jabarkan adalah sama-sama
New Caledonia, yang telah menjadi pemecah politik menjelaskan mengenai keterlibatan Melanesian
yang efektif bagi permasalahan regional. Melanesian Spearhead Group, Indonesia, dan West Papua di wilayah
Sperahead Group telah menerapkan perjanjian Pasifik Selatan. Kemudian perbedannya adalah terletak
perdagangan bebas yang komprrehensif bagi barang pada Indonesia debagai unit analisanya untuk
dan jasa, termasuk peningkatan keterampilan para menjelaskan rasionalitas Indonesia melakukan
tenaga kerja dan mencapai tingkat integrasi ekonomi kerjasama dengan Melanesian Spearhead Group dan
yang belum ditemukan di wilayah pasifik secara dalam penelitian ini penulis menggunakan konsep
menyeluruh. Tahun 2003 Pacific Plan Review Politik Luar Negeri.
menemukan bahwa sebagian besar pemimpin 1. Konsep Politik Luar Negeri
mengartikan kemunculan Melanesian Sperahead Group
lebih bersifat melengkapi dari pada bersaing. Kepentingan nasional merupakan landasan
Melanesian Sperahead Group diartikan sebagai cerminan terpenting dalam Politik Luar Negeri suatu negara.
keistimewaan dari ras Melanesia, Polinesia, dan Dalam hal ini kepentingan nasional adalah hal vital
Micronesia, serta sebagai perwujudan nyata dari dalam perumusan kebijakan luar negeri suatu negara.
Melanesia Way. Melanesian Sperahead Group Pada umumnya kepentingan nasional selalu berkaitan
menghadapi beberapa tantangan terkait keaadan buruk dengan kemanan, kesejahteraan, dan kekuasaan.6
West Papua, di bawah kekuasaan Indonesia, dengan Politik luar negeri secara umum merupakan suatu
memberikan status sebagai observer. perangkat formula nilai, sikap, arah serta sasaran untuk
2. Gregory Poling
Gregory Poling melalui tulisannya yang berjudul
“The Upside of Melanesian Leaders’ West Papua 6 Budiono Kusumohamidjojo, 1987, Hubungan Internasional:
Compromise” menguraikan tentang perjuangan Kerangka Studi Analisis, Jakarta: Bina Cipta, hal 35
Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1st
247 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3
mempertahankan, mengamankan dan memajukan 5. Berdikari di bidang ekonomi, diwujudkan
kepentingan nasional di dalam pencaturan dunia dalam pembangunan demokrasi ekonomi yang
internasional.7 Sehingga bisa dikatakan Politik Luar menempatkan rakyat sebagai pemegang
Negeri juga sebagai penentu arah bahkan menentukan kedaulatan di dalam pengelolaan keuangan
posisi suatu negara dalam dalam dunia internasional. negara dan pelaku utama pembentukan
Politik luar negeri merupakan refleksi dari produksi
realitas yang terjadi di dalam negeri serta juga 6. Berkepribadian dalam kebudayaan, diwujudkan
dipengaruhi oleh situasi internasional. Hal ini diperkuat melalui pembangunan karakter dan kegotong-
oleh Rosenau yang menjelaskan pengkajian kebijakan royongan berdasar pada realitas kebhinekaan
luar negeri suatu negara akan menghadapi situasi yang dan kemaritiman sebagai kekuatan potensi
kompleks meliputi kebutuhan eksternal dan kehidupan bangsa dalam mewujudkan implementasi
internal.8 Berarti kedua kebutuhan tersebut sangat demokrasi politik dan demokrasi ekonomi
mempengaruhi perumusan kebijakan luar negeri. Indonesia masa depan.
Adanya faktor internal merupakan tempat pertautan Presiden Joko Widodo dalam menerapkan
kepentingan nasional, sedangkan eksternal merupakan Politik Luar Negeri Bebas dan Aktif adalah
tempat dimana negara dapat mengartikulasikan menginterpretasikan makna “Bebas” didasarkan pada
kepentingan nasional sehingga kepentingan tersebut kemandirian, dan kedaulatan dari Indonesia dalam
dapat tercapai. menentukan kebijakan dan arah politik itu sendiri.11
Politik luar negeri Indonesia memiliki landasan Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat beberapa
idiil yaitu dasar negara RI yang berpedoman pada agenda ataupun misi yang akan ditempuh, sebagai
Pancasila, sedangkan landasan konstitusional Politik berikut:12
Luar Negeri RI adalah UUD 1945 alinea pertama dan a. Mewujudkan keamanan nasional yang
alinea keempat, Alinea Pertama Pembukaan UUD 1945 mampu menjaga kedaulatan wilayah,
berbunyi:9“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah menopang kemandirian ekonomi dengan
hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di mengamankan sumberdaya maritim, dan
atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan mencerminkan kepribadian Indonesia
perikemanusiaan dan perikeadilan”. Sedangkan alinea sebagai negara kepulauan;
Keempat Pembukaan UUD 1945 adalah: “....dan ikut b. Mewujudkan masyarakat maju,
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan berkeseimbangan dan demokratis
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, ....”. berlandaskan negara hukum;
Sebagai Landasan operasional Politik luar c. Mewujudkan politik luar negeri bebas aktif
negeri Indonesia adalah prinsip bebas aktif. Agar dan memperkuat jati diri sebagai negara
prinsip bebas aktif dapat dioperasionalkan, maka setiap maritim;
periode pemerintahan menetapkan landasan d. Mewujudkan kualitas hidup manusia
operasional yang senantiasa berubah disesuaikan Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera;
dengan kepentingan nasional. Pada masa e. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing;
pemerintahannya Joko Widodo mengungkapkan f. Mewujudkan Indonesia menjadi negara
prinsip “bebas-aktif” dalam politik luar negeri maritim yang mandiri, maju, kuat, dan
Indonesia, namun landasan operasionalnya adalah berbasiskan kepentingan nasional;
menganut pada prinsip Trisakti. Prinsip Trisakti ini g. Mewujudkan masyarakat yang
merupakan arah Politik Luar Negeri Presiden berkepribadian dalam kebudayaan;
Soekarno. Makna dari prinsip Triskati yang diterapkan Sedangkan pemaknaan “Aktif” dalam Politik
oleh Presiden Joko Widodo di masa pemerintahannya Luar Negeri Presiden Joko Widodo adalah dimaknai
adalah sebagai berikut:.10 dengan mewujudkan misi yaitu terselip makna gotong
4. Berdaulat di bidang politik, hakikat terpenting royong yang dalam hal ini dimaknai dengan menciptakan
dari negara yang berdaulat. kemampuan untuk kemndirian kedaulatan tidak bisa dilakukan sendiri
menjaga kemandirian dan mengaktualisasikan namun dapat merangkul berbagai kekuatan dan terlibat
kemerdekaannya dalam seluruh aspek aktif dalam berbagai momentum-momentum
kehidupan bernegara kerjasama. Keterlibatan Aktif Indonesia dalam
penerapannya terlihat dalam beberapa agenda Politik
Luar Negeri Indonesia, sebagia berikut:13
7 Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, a. Memperluas mandala keterlibatan regional di
2005, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung: kawasan Indo-Pasifik (kepemimpinan
PT.Remaja Rosdakarya
8Ibid
Indonesia di ASEAN; arsitektur kawasan
9 Reni Windiani, Politik Luar Negeri Indonesia dan Globalisasi,

Vol. 1, No.2 (2010), dalam 11 ibid


http://ejournal.undip.ac.id/index.php/politika/article/download 12 Visi misi Jokowi-JK “Jalan Perubahan Untuk Indonesia yang
/4894/4438, di unduh pada 5 Juni 2015, pukul 09.45 WIB Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”,
10 Nur Amaliyah, 2015, Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia http://kpu.go.id/koleksigambar/VISI_MISI_Jokowi-JK.pdf,
Di Bawah Pemerintahan Presiden Jokowi, Makassar: Universitas diunduh pada 5 Juni 2016, pukul 10.30 WIb
Hasanuddin 13 Nur Amaliyah, op.cit

Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1st


248 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3
East Asia Summit; kemitraan strategis rasional/intelektual dan kalkulasi untung rugi sehingga
bilateral; integrasi ekonomi regional; dan diyakini menghasilkan keputusan yang matang, tepat,
perdagangan bebas; IORA). dan prudent.
b. Melibatkan peran, aspirasi, dan kepentingan 2. Model Proses Organisasi (the Organizational
masyarakat, serta melakukan penataan Process)
infrastruktur diplomasi (penguatan Kemlu, Model ini menekankan bahwa suatu proses
diplomasi publik, koordinasi antar pengambilan keputusan merupakan suatu proses
Kementerian dan DPR dalam politik luar mekanistis yang melewati tahapan, prosedur, dan
negeri, pendidikan dan pelatihan Kemlu). mekanisme organisasi dengan prosedur kerja baku
c. Mengembalikan Indonesia sebagai negara (standard operating procedure) yang telah berlaku selama
maritim. Samudra, laut, selak, dan teluk ini. Keputusan yang ditetapkan dipandang sebagai
sebagai masa depan peradaban Indonesia. output organisasi yang telah mempertimbangkan
“Untuk membangun Indonesia menjadi tujuan, sasaran, dan skala prioritas organisasi.
negara besar, negara kuat, negara makmur, 3. Model Politik Birokratik
negara damai, Indonesia harus memiliki jiwa (Bureaucratic/Governmental Politics)
Cakrawati Samudra; jiwa pelaut yang berani Model ini menekankan bahwa suatu proses
mengarungi gelombang dan hempasan pengambilan keputusan dirumuskan oleh berbagai
ombak yang menggulung”. aktor, kelompok, dan pihak yang berkepentingan
d. Meningkatkan peran global Indonesia sebagai melalui proses tarik menarik, tawar menawar, saling
kekuatan middle power regional secara mempengaruhi dan kompromi antar stake holders
selektif (multilateralisme; kekuatan terkait. Keputusan yang ditetapkan merupakan proses
demokrasi dan Islam moderat; kerjasama G- resultan politik yang melewati deliberasi yang panjang
20; transnational crimes and issues; dan komplek
perdamaian dunia). Asumsi dasar perspektif model aktor rasional
2. Model Aktor Rasional Graham T. Allison yaitu bahwa negara-negara dapat dianggap sebagai
Allison membuat kajian politik luar negeri aktor yang berupaya untuk memaksimalkan pencapaian
yang revolusioner karena dianggap menantang asumsi tujuan mereka berdasarkan kalkulasi rasional di dalam
rasionalisme dalam politik luar negeri yang mengikuti kancah politik global.15 Dalam model aktor rasional,
prinsip-prinsip ekonomi dan sedikit banyak dianut juga negara digambarkan sebagai sebuah aktor individu
oleh realisme dalam menjelaskan politik luar negeri rasional, memiliki pengetahuan yang sempurna
suatu negara.14 Dalam asumsi rasionalisme, tindakan terhadap situasi dan mencoba memaksimalkan nilai dan
suatu negara dianalisis dengan asumsi bahwa negara tujuan berdasarkan situasi yang ada. Berbagai tindakan
mempertimbangkan semua pilihan dan bertindak negara-negara dianalisis dengan asumsi bahwa negara-
secara rasional untuk memaksimalkan keuntungan. negara mempertimbangkan semua pilihan dan
Politik luar negeri dilihat sebagai akibat dari tindakan- bertindak rasional untuk memaksimalkan keuntungan.
tindakan aktor rasional. Bagi Allison, analisis rasional Dalam proses pembuatan kebijakan, pemerintah
yang disebut ‘Model Aktor Rasional’ mendasarkan diri dihadapkan dengan berbagai pilihan kebijakan dimana
pada imajinasi karena tidak mendasarkan analisis pada masing-masing pilihan kebijakan tersebut memiliki
fakta empirik yang sering di sebut melanggar prinsip konsekuensi. Negara sebagai aktor rasional akan
hukum falsifiablility. memilih alternatif kebijakan yang memiliki konsekuensi
Dalam perspektif “Decision Making Process”, paling tinggi (menguntungkan) dalam memenuhi tujuan
Graham T Allison dalam bukunya Essence of Decision: yang ingin dicapai (goals and objectives).16
Explaining The Cuban Missile Crisis, yang diterbitkan Keamanan nasional dan kepentingan nasional
Boston: Little, Brown and Company tahun 1971, merupakan prinsip utama dan tujuan strategis dalam
mengajukan tiga model pengambilan keputusan, yaitu menyusun kebijakan luar negeri. Proses pembuatan
Model Aktor Rasional (MAR), Model Proses kebijakan luar negeri dilakukan oleh aktor yang mana
Organisasi (MPO), dan Model Politik Birokratik (MPB), masing-masing berperan sebagai pemain. Hubungan
yang akan diuraikan secara singkat berikut ini: antar aktor secara umum digambarkan dalam proses
1. Model Aktor Rasional (Rational Actor) tarik ulur satu sama lain (pulling and hauling). Kebijakan
Model ini menekankan bahwa suatu proses luar negeri dipahami sebagai political outcomes.
pengambilan keputusan akan melewati tahapan Menurut Allison outcomes bukanlah penyelesaian yang
penentuan tujuan, alternatif/opsi, konsekuensi, dan dipilih oleh para aktor tetapi merupakan hasil dari
pilihan keputusan. Model ini menyatakan bahwa kompromi, koalisi dan kompetisi antar aktor.17
keputusan yang dibuat merupakan suatu pilihan
rasional yang telah didasarkan pada pertimbangan
15 Bruce Russet dan Harvey Starr. 1998. World Politics: The
14Allison, Graham T.1971. Essence of Decision: Explaining Menu for Choice. 2nd ed. New York: W.H. Freeman and Co.
the Cuban Missile Crisis. Boston: Little, Brown and 16 Allison, Graham T.1971. Essence of Decision : Explaining
Company. Dalam Hara, A Eby. 2011. Pengantar Analisis Politik the Cuban Missile Crisis. Boston: Little, Brown and
Luar Negeri: dari Realisme sampai Konstruktivisme. Bandung: Company.
Nuansa. 17
Ibid
st
Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1
249 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3
Menganalisa foreign policy sebagai bentuk proses aspek keamanan di Papua dan melihat kondisi di Papua
rasionalitas atau disebut foreign policy making as secara langsung.18 Hal tersebut dilakukan terkait isu
rational process menurut Allison bahwa Rational pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang diduga
decision making model terbentuk dari aktor kesatuan dilakukan oleh pemerintah Indonesia di Papua.
(unitary actor) yang menjalankan peran sebagai rasional Keterlibatan Indonesia dalam Melanesian Spearhead
aktor dalam pengambilan sebuah keputusan. Kebijakan Group, berdampak pada munculnya perlawanan dari
luar negeri tersebut menjadi sebuah langkah dalam gerakan separatis di Papua yang terancam dipersulit
menangani konflik maupun permasalahan yang dihadapi untuk memerdekakan Papua. Pada Juni 2013, The West
negara. Seperti dikatakan dalam kaitannya mengenai Papuan National Coalition for Liberation (WPNCL),
Rational Decision-Making Model adalah bahwasanya “Koalisi Nasional Papua Barat untuk Pembebasan” yang
sebagai “foreign policy as results from an intellectual memperjuangkan kemerdekaan Papua, mendaftarkan
process where the actors choose what is the best for the diri sebagai anggota Melanesian Spearhead Group pada
country and select”. Maka dalam rasionalitas KTT yang dilaksanakan di Noumea. Permintaan
pengambilan kebijakan sebagai tujuan menjalankan keanggotaan ini menjadi bahan pertimbangan bagi
kebijakan yang terbaik bagi negara. negara-negara anggota Melanesian Spearhead Group,
yang akhirnya pada Juni 2015 WPNCL diberikan status
sebagai observer. WPNCL sendiri adalah salah satu
II. METODE PENELITIAN gerakan separatisme yang dapat dikatakan merupakan
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif anak turunan dari OPM.
dengan menggunakan metode eksplanatif. Metode
eksplanatif bertujuan untuk menerangkan dan menguji Banyak faktor menjelaskan munculnya separatisme
hipotesis dari veariable-variabel penelitian. Penulis yaitu sejarah, ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan
menggunakan metode eksplanasi untuk menjelaskan politik, dan perasaan dimarginalkan oleh sistem politik
tentang kebijakan Politik Luar Negeri Republik dan ekonomi. Masalah ini akan makin rumit karena
Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko globalisasi dan keterbukaan menjadikan mereka yang
Widodo. terlibat mempunyai ruang lebih bebas untuk bergerak
ke luar batas nasional. Organisasi Papua Merdeka
muncul ketika salah satu wilayah di Indonesia yaitu
III. HASIL DAN PEMBAHASAN Papua diperdebatkan perihal statusnya di dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah konflik di Papua
Dalam praktik Politik Luar Negeri Indonesia yang diawali sejak penyatuan wilayah Papua ke dalam
bebas aktif, Indonesia selalu berusaha berada di poisisi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk
netral sebagai penengah dalam permasalahan. Indonesia memenangkan proses referendum tahun 1969, maka
dibawah kepemimpinan pemerintah Joko Widodo pemerintah NKRI mengambil langkah Operasi Militer
melaksanakan hubungan bilateral dengan negara-negara untuk membasmi seluruh Perlawanan Rakyat Pribumi
yang mampu memberikan keuntungan bagi kepentingan Papua yang menentang NKRI. Sidang Umum PBB
nasional Indonesia. memutuskan hasil penjajakan opini, dan secara resmi
Papua menjadi provinsi kedua puluh tujuh Indonesia
Indonesia menempuh cara diplomasi dalam
pada tanggal 19 November 1969. Namun di sisi lain,
menjalin kerjasama dengan Melanesian Sperahead
hasil referendum mendapat pergolakan dari kelompok
Group. Cara ini dilakukan melihat adanya dukungan dari
yang menghendaki Papua menjadi negara yang bebas,
negara anggota Melanesian Sperahead Group kepada
tidak terikat, dan merdeka. Kelompok ini menamakan
kelompok Papua Merdeka. Namun disisi lain negara
anggota Melanesian Sperahead Group memberikan diri mereka dengan sebutan Organisasi Papua Merdeka
(OPM) atau Free Papua Organization.19
dukungan kepada Indonesia untuk memperjuangkan
Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Faktor lainnya dalam permasalahan Papua adalah
Indonesia. Kerjasama dilakukan karena setiap negara kurang jelasnya undang-undang yang telah dibuat serta
memiliki tujuannya masing-masing. Setiap negara keterbatasan kemampuan lokal dalam mengelola
merumuskan kebijakan terkait kepentingan negara sumber daya alam secara berkelanjutan. Tingginya
tersebut dan atas dasar kepentingan nasional. potensi konflik antar penduduk lokal dan non lokal
Kebijakan luar negeri merupakan salah satu strategi memunculkan tingkat kesenjangan dan perubahan
yang dibentuk suatu negara dalam menghadapi negara sosial yang dialami oleh penduduk lokal.
lain.

Indonesia diterima dan diberikan status sebagai


observer pada KTT Melanesian Spearhead Group ke-18
18
di Fiji. Pada forum ini Presiden Susilo Bambang SBY Kunjungi Fiji Untuk Jelaskan Kondisi Papua.
Yudhoyono menjelaskan mengenai kondisi Papua serta http://www.voaindonesia.com/content/sby-kunjungi-fiji-untuk-
jelaskan-kondisi-papua/1938483.htm di akses pada 10 Mei 2016,
mempersilakan perwakilan Melanesian Spearhead Group pukul 20.30 WIB
melakukan kunjungan ke Papua untuk mendengar 19
The New York Agreement. (1962). Article 18. New York: United
langsung terkait kebijakan pembangunan ekonomi serta Nations tanggal 15 Agustus 1962. Dalam Prosiding The 5th International
Conference on Indonesian Studies: “Ethnicity and Globalization”
Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1st
250 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3
Adanya Otsus (Otonomi Khusus) yang telah Papua merdeka dengan memberikan dukungan dan
disepakati oleh Pemerintah Indonesia dan masyarakat bantuan berupa akses keterlibatan sebagai bagian dari
Papua menjadi kurang optimal. Beberapa kendala yang Melanesian Spearhead Group. Di sisi lainnya, negara-
muncul sehingga mengganggu efektifitas dalam negara anggota Melanesian Spearhead Group menjadikan
penerapan Otonomi Khusus adalah sebagai berikut:20 Indonesia sebagai rekan yang baik dlam meningkatkan
lambatnya penerbitan Peraturan Pemerintah No. 54 hubungan kerjasama. Indonesia melakukan kerjasama
Tahun 2004 tentang Pembentukan Majelis Rakyat dengan Melanesian Spearhead Group karena Indonesia
Papua, minimnya aturan pelaksanaan dalam bentuk ingin mendapatkan dukungan dari negara-negara
Perdasi dan Perdasus, lemahnya konsistensi atas anggota Melanesian Spearhead Group untuk mencegah
perlindungan dan penegakan Hak Asasi Manusia, kelompok Papua merdeka menjadi anggota tetap guna
konflik pemekaran wilayah, keterbatasan dan lemahnya menghambat pergerakan dalam memerdekakan Papua
sumber daya manusia Papua dalam merespon dan Indonesia juga ingin menjadi aktor penggerak
kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar. untuk menciptakan stabilitas di Pasifik Selatan.
Papua dilihat dari perspektif pembangunan merupakan
salah satu daerah yang paling banyak tantangannya di
Indonesia. Percepatan pembangunan Provinsi Papua DAFTAR PUSTAKA
dilaksanakan melalui kebijakan pembangunan sosial [1] 1 Adil, Hilman. 1993. Dinamika Perkembangan Pasifik Selatan
ekonomi dan kebijakan pembangunan sosial politik Dan Implikasinya Terhadap Indonesia. Jakarta : Pusat
budaya.21 Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan
Kebudayaan PDII-LIPI.
[2] 1 Ogashiwa, Yoko. 2002. “South Pacific Forum: Survival
Kepentingan Indonesia secara umum terkait Under External Pressure” in New Regionalisms in the Global
hubungannya dengan negara-negara Pasifik dalah Political Economy, by Shaun Breslin, Christopher W. Hughes,
menjaga kestabilan regional wilayah Pasifik. Nicola Phillips and Ben Rosamond (eds). London: Routledge.
Perkembangan domestik suatu negara tidak luput dari [3] 1 Pentingnya Kerjasama Ekonomi Indonesia-Vanuatu.
perselisihan atau bentrokan antara satu kelompok http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/pentingnya-kerja-
sama-ekonomi-indonesia-%E2%80%93-vanuatu Diakses
dengan kelompok lain atau etnis tertentu yang pada 9 Mei 2016, pukul 11.30 WIB
menentang pemerintahan untuk memenuhi tuntutan [4] 1 Bhakti, Ikrar Nusa. 2006. Merajut Jaring-Jaring Kerja Sama
mereka. Perkembangan keamanan domestik Keamanan Indonesia-Australia: Suatu Upaya Menstabilkan
berpengaruh dalam politik luar negeri suatu negara Hubungan Bilateral Kedua Negara. Jakarta: LIPI
1 SBY Kunjungi Fiji Untuk Jelaskan Kondisi Papua.
terhadap negara lain dalam sistem internasional. Suatu [5]
http://www.voaindonesia.com/content/sby-kunjungi-fiji-
negara akan berusaha menyelesaikan konflik dengan untuk-jelaskan-kondisi-papua/1938483.htm di akses pada
mengambil kebijakan luar negeri dalam menjalin 10 Mei 2016, pukul 20.30 WIB
hubungan kerjasama dengan negara lain, sama halnya [6] 1 Budiono Kusumohamidjojo, 1987, Hubungan Internasional:

dengan Indonesia yang melakukan kerjasama dengan Kerangka Studi Analisis, Jakarta: Bina Cipta, hal 35
negara-negara Melanesian Spearhead Group dalam [7] 1 Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani,
2005, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung:
menjaga keutuhan NKRI di Papua. Dalam persoalan ini, PT.Remaja Rosdakarya
Indonesia harus mengambil kebijakan yang signifikan [8] 1Ibid
untuk menghentikan perselisihan di Papua, mengingat [9] 1 Reni Windiani, Politik Luar Negeri Indonesia dan Globalisasi,
kedekatan geografis antara Indonesia dan negara- Vol. 1, No.2 (2010), dalam
negara Melanesian Spearhead Group lainnya. Adanya http://ejournal.undip.ac.id/index.php/politika/article/dow
dukungan dari negara-negara Melanesia terhadap nload/4894/4438, di unduh pada 5 Juni 2015, pukul
09.45 WIB
gerakan separatisme di Papua menjadi faktor 1
[10] Nur Amaliyah, 2015, Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia
pendukung untuk merdeka. Di Bawah Pemerintahan Presiden Jokowi, Makassar:
Universitas Hasanuddin
[11] 1 ibid

IV. KESIMPULAN [12] 1 Visi misi Jokowi-JK “Jalan Perubahan Untuk Indonesia yang
Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”,
Dukungan dalam melakukan kerjasama sangat http://kpu.go.id/koleksigambar/VISI_MISI_Jokowi-JK.pdf,
penting bagi kelancaran suatu hubungan antar negara. diunduh pada 5 Juni 2016, pukul 10.30 WIb
Kerjasama menjadi sebuah alat dalam berdiplomasi [13] 1 Nur Amaliyah, op.cit

yang kemudian diharapkan sikap kedua negara selaras [14] 1 Allison, Graham T.1971. Essence of Decision: Explaining the

dengan tujuan yang ingin dicapai. Dua sisi dukungan Cuban Missile Crisis. Boston: Little, Brown and Company.
dari Melanesian Spearhead Group menjadikan Indonesia Dalam Hara, A Eby. 2011. Pengantar Analisis Politik Luar
Negeri: dari Realisme sampai Konstruktivisme. Bandung:
harus lebih bijaka dalam mengambil keputusan. Di satu Nuansa.
sisi Melanesian Spearhead Group mendukung organisasi [15] 1 Bruce Russet dan Harvey Starr. 1998. World Politics: The
Menu for Choice. 2nd ed. New York: W.H. Freeman and Co.
[16] 1 Allison, Graham T.1971. Essence of Decision : Explaining the
20
Azmi Muttaqin. 2014. Otonomi Khusus Papua Sebuah Upaya Cuban Missile Crisis. Boston: Little, Brown and Company.
Merespon Konflik dan Aspirasi Kemerdekaan Papua. Dalam JOM [17] 1
Ibid
FISIP Volume 2 No. 2 Oktober 2015 1
21 [18] SBY Kunjungi Fiji Untuk Jelaskan Kondisi Papua.
Tampubolon, Lia Kartika. 2015. Kerjasama Teknik Indonesia –
http://www.voaindonesia.com/content/sby-kunjungi-fiji-untuk-
Melanesian Spearhead Group Terhadap keutuhan NKRI di Papua Tahun
2011-2014. Universitas Riau
Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1st
251 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3
jelaskan-kondisi-papua/1938483.htm di akses pada 10 Mei
2016, pukul 20.30 WIB
[19] 1 The New York Agreement. (1962). Article 18. New York:
United Nations tanggal 15 Agustus 1962. Dalam Prosiding The
5th International Conference on Indonesian Studies: “Ethnicity
and Globalization
[20] 1 Azmi Muttaqin. 2014. Otonomi Khusus Papua Sebuah Upaya
Merespon Konflik dan Aspirasi Kemerdekaan Papua. Dalam
JOM FISIP Volume 2 No. 2 Oktober 2015
[21] 1 Tampubolon, Lia Kartika. 2015. Kerjasama Teknik Indonesia
– Melanesian Spearhead Group Terhadap keutuhan NKRI di
Papua Tahun 2011-2014. Universitas Riau

Prosiding Interdisciplinary Postgraduate Student Conference 1st


252 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPs UMY)
ISBN: 978-602-19568-2-3