Anda di halaman 1dari 39

TUGAS MATA KULIAH

MANAJEMEN DAN KESEHATAN BABI

“Manajemen Penyakit Kolibasilosis Pada Babi”

Oleh :
Kelas : 2015 A

1. Elis Mandari 1509005012


2. Christine Valeri Duwiri 1509005020
3. Ni Luh Lasmi Purwanti 1509005064
4. Herdi Wahyu Adi Prananda 1509005065
5. Ikhsan Mandara 1509005074
6. Reydanisa Noor Madania 1509005106

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2017

i
RINGKASAN

Pada saat ini ada berbagai penyakit pada babi yang dapat mengancam
produktivitas suatu peternakan. Salah satu faktor yang menghambat produktifitas
babi adalah infeksi penyakit, dalam hal ini ternak babi rentan sekali terinfeksi
penyakit kolibasilosis.
Penyakit ini disebabkan oleh Escherichia coli patogen, terutama infeksi E.
coli enterotoksigenik (ETEC). Gejala yang khas adalah mencret berwarna putih.
Sehingga penyakit ini sering disebut dengan white scours atau diare putih.
Kolibasilosis terjadi sepanjang tahun dan kejadiannya semakin meningkat pada
perubahan musim. Hal ini karena pengelolaan ternak babi pada peternakan
tradisional belum dikelola secara baik. Kandang babi masih sederhana dengan
beralaskan tanah. Upaya pembersihan kandang hampir tidak ada, serta upaya
penanggulangan penyakit baik dengan vaksinasi maupun pengobatan penyakit
jarang dilakukan.

Kata Kunci : Babi, Kolibasillosis, Escherichia coli

ii
SUMMARY

At this time there are a variety of diseases in pigs that can threat the
productivity of the farm. One of the facors that inhibits pig productivity is
infection of the disease. In this csae, pigs are at great risk of being infected with
colibasillosis.
The disease is caused by Escherichia coli pathogen, especially infections
of E. coli enterotoksigenik (ETEC). A typical symptom is a white diarrhea, so the
disease is often referred to as white scours. Colibasillosis often occurs throughout
the year and the incidence is increasing during the transition season. This is due to
the management of pigs on traditional farms has not been well managed. Pig cage
is still simple with grounded ground. Cage clearance efforts are almost non
existent, and efforts to control disease with vaccine and treatment of disease are
rare.

Keyword : Pig, Colibasillosis, Escherichia coli

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan bimbingan-Nya Penulis dapat menyelesaikan tugas Manajemen
dan Kesehatan Babi dengan judul “Manajemen Penyakit Kolibasilosis Pada
Babi”.
Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah tugas Manajemen dan
Kesehatan Babi. Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada
pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan tugas ini baik berupa
pikiran, tenaga, bahkan dana.
Penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna. Oleh karena itu,
Penulis menerima dengan senang hati apabila ada kritik dan saran yang
membangun dari pembaca. Akhir kata semoga paper ini dapat bermanfaat bagi
kita.

Denpasar, 26 April 2017

Hormat kami,

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Cover ........................................................................................................... i
Ringkasan .................................................................................................... ii
Summary .................................................................................................... iii
Kata Pengantar ............................................................................................ iv
Daftar Isi...................................................................................................... v
Daftar Gambar ............................................................................................. vi
Daftar Lampiran .......................................................................................... vii
Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .......................................................................... 3
Bab II Tujuan dan Manfaat Penulisan
2.1. Tujuan ........................................................................................... 4
2.2. Manfaat ......................................................................................... 4
Bab III Tinjauan Pustaka
3.1. Ternak Babi .................................................................................. 5
3.2. Escherichia coli ............................................................................ 6
3.3. Kejadian Kolibasilosis .................................................................. 7
Bab IV Pembahasan
4.1. Penyebab dan Cara Penularan Kolibasilosis Pada Babi ............... 8
4.2. Patogenesis Kolibasilosis Pada Babi ............................................ 9
4.3. Gejala Klinis Kolibasilosis Pada Babi ......................................... 11
4.4. Patologi Anatomi dan Histopatologi Kolibasilosis Pada Babi ..... 12
4.5. Diagnosa Kolibasilosis Pada Babi ............................................... 16
4.6. Pengobatan Kolibasilosis Pada Babi ............................................ 18
4.7. Pencegahan Kolibasilosis Pada Babi ........................................... 23
Bab V Simpulan dan Saran
5.1. Simpulan ....................................................................................... 24
5.2. Saran ............................................................................................. 25
Daftar Pustaka ............................................................................................. 26
Lampiran Jurnal .......................................................................................... 31

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ternak Babi.. ........................................................................... 5

Gambar 2. Struktur sel bakteri E. coli dengan mikrograf electron ............ 6

Gambar 3. Patogenesis Seluler Invasi E.col .............................................. 11

Gambar 4. Anak Babi yang Menderita Diare di Desa Sudimara,Tabanan .12

Gambar 5. Patologi Anatomi Kolibasilosis Pada Babi .............................. 13

Gambar 6.Infiltrasi Sel Radang Pada Paru (100X).................................... 15

Gambar 7. Terlihat adanya kongesti (panah putih) dan perdarahan (panah biru)
pada paru (HE,100X) ................................................................................. 15

Gambar 8. Terlihat adanya kongesti (panah putih) dan perdarahan (panah biru)
pada usus (HE, 40X) .................................................................................. 15

Gambar 9. Adanya infiltrasi sel radang neutrofil pada usus (HE,100X) ... 15

Gambar 10. Koloni kuman yang ditanam pada media EMBA .................. 16

Gambar 11. Kuman E. coli pada pewarnaan Gram tampak berwarna merah, dan
berbentuk batang ( Pembesaran 1000 X) ................................................... 17

Gambar 12. Daun Binahong Anredera cordifolia (Tenore) steenis .......... 20

Gambar 13. Kunyit .................................................................................... 21

Gambar 14. Daun, Buah dan Bunga Moringa oleifera.............................. 22

Gambar 15. Sistem pemeliharaan babi secara tradisional dan intensif ..... 23

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Besung, N.K. 2010. Kejadian Kolibasilosis Pada Anak Babi.


Majalah Ilmiah Peternakan. Vol 13, no. 1.
(http://ojs.unud.ac.id/index.php/mip/article/view/1742/0).

Lampiran 2. Darsana, I.G.O., Besung, I.N.K., Mahatmi, H. 2012. Potensi Daun


Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis) dalam Menghambat
Pertumbuhan Bakteri Escherichia Coli secara In Vitro. Indonesia Medicus
Veterinus. 1(3) : 337 – 351.

Lampiran 3. Dima, L.L.R.H., Fatimawali, Lolo, W.A. 2016. Uji Aktivitas


Antibakteri Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) Terhadap Bakteri
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmiah Farmasi. 5(2): 282-
289.

Lampiran 4. Meha, H.K.M., Berata, I.K., Kardena, I.M. 2016. Derajat


Keparahan Patologi Usus Dan Paru Babi Penderita Kolibasilosis. Indonesia
Medicus Veterinus. 5(1) : 13-22

Lampiran 5. Nugraha, Aditya., Besung, N.K., Mahatmi, H. 2013. Kepekaan


Eschericia coli Patogen yang Diisolasi dari Babi Penderita Kolibasilosis terhadap
Antibiotik di Kecamatan Kerambitan dan Tebanan Kabupaten Tabanan, Bali.
Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan. 1(2); 34-39.

Lampiran 6. Rahmawandani, F.I., Kardena, I.M., Berata, I.K. 2014. Gambaran


Patologi Kasus Kolibasilosis pada Babi Landrace. Indonesia Medicus Veterinus
3(4) : 300-309.

Lampiran 7. Suarjana, I.G.K., Tono P.G., K., Suwiti, N.K., Apsari, I.A.P. 2016.
Pengobatan Penyakit Diare (Kolibasilosis) Pada Babi Dalam Upaya
Meningkatkan Produktivitas Ternak Di Desa Sudimara Tabanan. Jurnal Udayana
Mengabdi. 15 (1) : 50-54.

vii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ternak babi merupakan salah satu komoditas peternakan yang cukup


potensial untuk dikembangkan. Sebagai komoditas ekspor nasional, ternak babi
ini masih terbuka lebar untuk dikirim ke berbagai negara seperti Singapura dan
Hongkong. Berdasarkan statistik peternakan tahun 2010, populasi ternak babi
tertinggi terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 1,637,351ekor, Bali (930,465
ekor), Sumatera Utara (734,222 ekor), Sulawesi Selatan (549,083 ekor),
Kalimantan Barat (484,299 ekor), Papua (546,696 ekor), Kalimantan Barat
(484,299 ekor), Sulawesi Utara (332 ,942 ekor), Bangka Belitung (268,220 ekor),
Sulawesi Tengah (215,973 ekor), Kepri (185,663 ekor) (Deptan, 2012).
Dalam dewasa ini usaha peternakan babi di Bali berkembang cukup pesat
seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan nilai gizi masyarakat khususnya
yang berasal dari protein hewani (Besung, 2010). Ada berbagai penyakit pada
babi yang dapat mengancam produktivitas suatu peternakan, apalagi bila babi
yang terserang penyakit tersebut sampai menimbulkan kematian. Adapun penyakit
yang dapat menyerang babi diantaranya: hog cholera, streptococcosis,
salmonellosis, dan kolibasilosis.
Salah satu faktor yang menghambat produktifitas babi adalah infeksi
penyakit, dalam hal ini ternak babi rentan sekali terinfeksi penyakit kolibasilosis.
Penyakit ini disebabkan oleh Escherichia coli patogen, terutama infeksi E. coli
enterotoksigenik (ETEC). E. coli tipe ini kebanyakan menyerang anak babi
berumur muda, khususnya pada umur 2 minggu (Suprat et al, 2011). Gejala yang
khas adalah mencret berwarna putih. Sehingga penyakit ini sering disebut dengan
white scours atau diare putih. Besung (2010) telah meneliti sebanyak 2005 ekor
anak babi yang berasal 200 induk babi di Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar
dan Kota Denpasar menderita kolibasilosis sebanyak 846 ekor (42%) lebih tinggi
dari pada penelitian Hartaningsih dan Hassan pada tahun 1985 sebanyak 26%.

1
Tingkat morbiditas, mortalitas, dan fatalitas juga telah diteliti oleh
Kardena et al (2012) pada peternakan babi semi intensif di Tabanan dengan angka
persentase masing-masing 8,60%, 2,05%, dan 23,8%. Hal ini tentu saja menjadi
salah satu dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan bagi peternak. Disamping
menimbulkan kerugian pada babi, E. coli patogen yang menginfeksi babi juga
berpeluang menjadi zoonosis, yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia. E.
coli yang bersumber dari babi menghasilkan verotoksin yang berakibat diare
berdarah pada manusia, gejala kencing darah, dan kematian (Eriksson, 2010).
Pemberian antibiotik merupakan salah satu pilihan untuk mengobati
infeksi kolibasilosis. Beberapa antibakteri yang efektif diantaranya adalah
golongan Penisilin, Cephalosporin, Tetrasiklin, Kloramfenikol, Aminoglikosid
(Sornplang et al, 2010). Tetrasiklin dan aminoglikosid berfungsi sebagai
penghalang terikatnya RNA pada bagian spesifik dari ribosom, akibatnya sintesis
protein mengalami hambatan sangat tinggi, maka antibakteri ini sering digunakan
untuk penanganan kolibasilosis pada babi (Rostinawati, 2009). Namun pemberian
antibiotik sebagai penanganan penyakit mempunyai kelemahan yaitu timbulnya
resistensi apabila tidak digunakan sesuai aturan (Hammerum and Heuer, 2009),
sehingga menyebabkan pengobatan tidak efektif dan masa pengobatan menjadi
lebih panjang serta ternak menjadi tidak produktif.
Dari latar belakang diatas kolibasilosis menyebabkan kerugian ekonomi
bagi peternak dan beberapa pemberian antibiotik menimbulkan beberapa kerugian
sehingga kami penulis akan membahas tentang manajemen penyakit kolibasilosis
pada babi.

2
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana penyebab dan cara penularan kolibasilosis pada babi?


2. Bagaimana patogenesis kolibasilosis pada babi?
3. Bagaimana gejala klinis kolibasilosis pada babi?
4. Bagaimana patologi anatomi dan histopatologi kolibasilosis pada
babi?
5. Bagaimana diagnosis kolibasilosis pada babi?
6. Bagaimana cara pengobatan kolibasilosis pada babi?
7. Bagaimana cara pengendalian kolibasilosis pada babi?

3
BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

2.1 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penyebab dan cara penularan penyakit kolibasilosis
pada babi.
2. Untuk mengetahui patogenesis dari penyakit kolibasilosis pada babi.
3. Untuk mengetahui gejala klinis dari penyakit kolibasilosis pada babi.
4. Untuk mengetahui patologi anatomi dan histopatologi dari penyakit
kolibasilosis pada babi.
5. Untuk mengetahui cara diagnosis penyakit kolibasilosis pada babi.
6. Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit kolibasilosis pada babi.
7. Untuk mengetahui cara pengendarian penyakit kolibasilosis babi.

2.2 Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas, adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan
karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Mahasiswa atau pembaca mampu memahami apa itu dan bagaimana
menejemen dan akibat yang ditimbulkan penyakit kolibasilosis pada babi.
2. Manfaat Empiris
Melalui kajian materi dari karya tulis ini, diharapkan mahasiswa atau
pembaca mampu menginformasikan kepada masyarakat tentang
menejemen dan akibat yang ditimbulkan penyakit kolibasilosis pada babi.

4
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Ternak Babi

Babi merupakan hewan ternak dengan nilai ekonomis tinggi khususnya di


Bali, karena babi memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan masyarakat Bali
antara lain sebagai sarana upacara adat, sumber protein hewani dan sumber
pendapatan (Kardena et al., 2012). Ternak babi terbilang sangat menguntungkan
karena babi merupakan ternak yang sangat efisien dalam pembentukan daging,
walaupun yang mengkonsumsi daging babi hanya sebagian kecil rakyat Indonesia.
Babi merupakan hewan omnivora atau pemakan segala jenis pakan baik yang
berasal dari tumbuhan ataupun berasal dari hewan dan babi dapat dipelihara di
berbagai tempat dengan memanfaatan sumber makanan setempat.
Menurut Holden and Ensminger (2005), secara zoologis ternak babi
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kelas : Mamalia
Ordo : Artiodactyla
Sub Ordo : Suina
Family : Suidae
Genus : Sus
Spesies : Sus scrofa, Sus vittatus, Sus cristatus, Sus domesticus, Sus
barbatus dan Sus verrucocus

Gambar 1. Ternak Babi


Sumber : Budaarsa, Komang. 2014

5
3.2 Escherichia coli

Bakteri E. coli merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang pendek


yang memiliki panjang sekitar 2 μm, diameter 0,7 μm dan lebar 0,4 - 0,7μm,
bersifat motil dengan flagel peritrika, mempunyai kapsul dan bersifat anaerob
fakultatif. Bakteri Escherichia coli ditemukan pertama kali oleh Theodor
Escherich dan merupakan flora normal dalam saluran pencernaan hewan dan
manusia. Bakteri E. coli dapat menfermentasi karbohidrat dan menghasilkan gas
dari glukosa. Pada biakan E. coli akan membentuk koloni yang sirkular, konveks
dan halus dengan tepi tegas. Fermentasi laktosa cepat merupakan karakteristik
yang banyak dimiliki oleh E. coli. Bakteri ini juga tidak memakai asam sitrat dan
garam dari asam sitrat tidak dapat sebagai satu-satunya sumber karbon (Amanda
2014).
Taksonomi bakteri E.coli dalam Bergey's Manual Of Systematic
Bacteriology sebagai berikut (Brenner et al. 1923):
Domain : Bacteria
Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Family : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia coli

Gambar 2. Struktur sel bakteri E. coli dengan mikrograf electron


Sumber : Thanassi et al. 2012

6
3.3 Kejadian Kolibasilosis

Kolibasilosis terjadi sepanjang tahun dan kejadiannya semakin meningkat


pada perubahan musim. Distribusi penyakitnya hampir menyebar merata di
seluruh kabupaten di Bali, dan terkonsentrasi pada peternakan tradisional. Hal ini
karena pengelolaan ternak babi pada peternakan tradisional belum dikelola secara
baik. Kandang babi masih sederhana dengan beralaskan tanah, upaya pembersihan
kandang hampir tidak ada, serta upaya penanggulangan penyakit baik dengan
vaksinasi maupun pengobatan penyakit jarang dilakukan.
Kejadian kolibasilosis di Bali pada tahun 2009-2010 khususnya di
Kabupaten Badung kematian karena kolibasilosis mencapai 1083 ekor babi
sedangkan untuk ayam sebanyak 1945 kasus (Disnak, 2009). Pada babi,
prevalensi Escherichia coli antara 13,40-43,70% dengan rata-rata 24,70% dan
mortalitas anak babi 12,20-31,60% dengan rata-rata 17,90%. Kasus diare pada
anak sapi pada daerah sentra pengembangan sapi perah (Jawa Barat) berkisar
antara 19-40%, dengan kematian pedet dibawah umur 1 bulan berkisar antara 8-
19%, yang terjadi sepanjang tahun (Supar, 2001).
Kejadian kolibasilosis berdasarkan atas umur yang terserang terlihat
bahwa kolibasilosis tertinggi terjadi pada umur 0-2 minggu, yaitu sebesar 62%.
Sedangkan pada umur 3-4 minggu, 5-6 minggu, 7-8 minggu, 9-10 minggu, dan
umur lebih dari 10 minggu didapatkan berturut-turut : 46%, 46%, 32%, 31%, dan
19%. Data ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya umur semakin
menurun kejadian kolibasilosis (Besung, INK. 2010).

7
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Penyebab dan Cara Penularan Kolibasilosis Pada Babi

Kolibasilosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Escherichia coli


pathogen dan kebanyakan menyerang anak babi berumur muda, dan dominan
pada umur 2 minggu pertama, tetapi selain itu juga menyerang pada babi lepas
sapih yaitu terjadi setelah penyapihan (Suprat et al, 2011). Escherichia coli
merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek yang memiliki panjang
sekitar 2 μm, diameter 0,7 μm, lebar 0,4-0,7μm dan bersifat anaerob fakultatif.
Koloninya berbentuk bulat, cembung, dan halus (Kusuma, 2010). Di Indonesia
penyebab utama diare neonatal pada anak babi adalah ETEC (Enterotoxin E.coli)
yang mempunyai antigen fimbrie K 88 F41, dan 987P (Supar, 2002). Dalam uji
laboratorium, E.coli K 88 bersifat hemolitik dan mampu memproduksi
enterotoksin yang tidak tahan pans atau heat labile toxin (LT). Namun, E.coli
K99, F41, atau 987P bersifat non-hemolitik dan memproduksi enterotoksin yang
tahan panas atau heat stabile toxin (ST) (Supar, 2002). Toksin dan antigen fimbrie
(pili) dinamakan faktor virulensi.
Penelitian yang dilakukan Besung (2010) menunjukkan anak babi berumur
0-2 minggu sangat rentan terhadap penyakit kolibasilosis dengan persentase 62%
dibandingkan pada babi umur 3-4 minggu 2 46%, 5-6 minggu 46%, 7-8 minggu
32%, 9-10 minggu 31%, dan umur lebih dari 10 minggu didapatkan 19%.
Tingginya kejadian kolibasilosis pada anak babi sangat bergantung pada sanitasi
perkandangan. Dalam hal ini kandang yang jarang dibersihkan dan tidak kena
sinar matahari secara langsung merupakan sumber pencemaran penyakit. Kuman
di dalam kandang dapat bertahan selama seminggu bahkan lebih. Kuman ini
setiap saat dapat menginfeksi anak babi baik melalui makanan, puting susu yang
masih basah, tali pusar, maupun melalui saluran pernafasan.
Escherichia coli ini juga dapat menyebar melalui debu yang
terkontaminasi atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan
feses (Ginns, 2000). Faktor predisposisi yang paling banyak menyebabkan

8
timbulnya penyakit kolibasilosis yang disebabkan oleh E. coli Enterotoksigenik
pada anak babi adalah rendahnya immunoglobulin yang seharusnya diperoleh dari
kolostrum induk. Immunoglobulin mampu mengadakan opsonisasi sehingga
mampu mencegah pertumbuhan bakteri dalam lumen usus anak babi yang baru
lahir (Lyutskanov. 2011). Menurut Lyutskanov (2011) pakan dan manajemen
kandang merupakan faktor resiko yang juga mempengaruhi tingkat morbiditas dan
mortalitas terhadap kejadian dari penyakit.

4.2 Patogenesis Kolibasilosis Pada Babi


E coli yang bersifat komensal dapat berubah menjadi pathogen karena
beberapa factor diantaranya karena factor lingkungan, faktor hospes, dan factor
agen infeksi (E.coli) (Todar, 2012). Dalam pathogenesis terdapat 5 strain berbeda
dari E.coli tergatung mekanisme pathogenesis, antara lain:
 Enterotoxigenic E. coli (ETEC)
ETEC menghasilkan satu atau dua jenis toksin protein yaitu heat
labil (LT) dan heat stabil (ST). ETEC mempunyai antigen perlekatan atau
antigen pili K88 (F4), K99 (F5), 987P (F6) dan F41 (Schierack et al,
2006). ETEC K88 memproduksi toksin yang tidak tahan panas atau heat
labile toxin (LT) dan tahan panas atau heat stable toxin (ST).Sementara itu
E. coli K99, F41 atau 987P memproduksi enterotoksin ST (Fairbrother et
al, 2005). Toksin LT bekerja merangsang enzim adenil siklase yang
terdapat di dalam sel epitel mukosa usus halus, menyebabkan peningkatan
aktivitas enzim tersebut dan terjadinya peningkatan permeabilitas sel epitel
usus. Hal ini akan menyebabkan terjadinya akumulasi cairan di dalam usus
dan berakhir dengan diare. Toksin ST bekerja dengan cara mengaktivasi
enzim guanilat siklase menghasilkan siklik guanosin monofosfat,
menyebabkan gangguan absorbsi klorida dan natrium dan menurunkan
motilitas usushalus (Supar, 2001). Patogenesa diare yang terjadi akibat
ETEC meliputi terjadinya kolonisasi pada usus kecil dan produksi serta
aksi enterotoksin yang bertangggung jawab dalam merusak keseimbangan
pergerakan cairan dan elektrolit di dalam epitel usus. Kolonisasi pada usus

9
kecil oleh ETEC tergantung pada pili. Pili berperan dalam penempelan
yang spesifik oleh bakteri pada titik sel epitel.

 Enteropathogenic E. coli (EPEC)

Enteropathogenic E. coli menyebabkan diare yang berakhir pada


kematian yang menyerang individu, dengan dosis infeksi berkisar antara 108-
1010 organisme. Transmisi terjadi secara kontak langsung dari individu yang
terinfeksi ke individu yang lain tanpa melalui air yang terkontaminasi.
Terjadinya diare karena strain ini menyerang sel mukosa usus dengan
menggunakan Tir (reseptor) translocated intimin sehingga terjadi perubahan
struktur sel usus (Kenny and Jepson, 2000). Perubahan pada ultrastruktur sel
usus merupakan penyebab utama terjadinya diare (Gyles, 2007).

 Enteroinvasive E. coli (EIEC)

Pasien yang terinfeksi dengan EIEC ditandai dengan diare berair


sampai berkembang menjadi diare berdarah. Dosis infeksi berkisar antara
106-1010 organisme. Masa inkubasi di dalam saluran pencernaan berkisar
antara 1-3 hari, dengan durasi infeksi selama 1-2 minggu (Percival 2004).
Strain ini menginvasi sel di kolon dan menyebar secara lateral dari satu sel ke
sel yang lain. Gejala yang ditimbulkan hampir sama dengan Shigella yaitu
diare profus (disentri), kedinginan, demam, sakit kepala, kelemahan otot dan
kram (Kaper, 2005).

 Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC)

Jenis strain ini menghasilkan shiga-like toxin yang bersifat sitotoksik.


Masa inkubasi berkisar antara 3-8 hari dengan durasi infeksi 1-12 hari. Strain
ini juga menyebabkan dua kondisi yang berbeda yaitu colitis haemorrhagic
dan haemolytic uraemic syndrome (HUS).Kondisi HUS ditandai dengan
terjadinya trombositopenia, mikroangiopati, anemia hemolitik dan gagal
ginjal (Rendon et al, 2007).

10
 Enteroaggregative E. coli (EAEC)

Strain ini menyebabkan diare berair yang tidak mengandung darah


dan tidak diikuti dengan demam. Strain ini melekat di usus halus dan
menghasilkan toksin (Gyles, 2007).

Gambar 3 . Patogenesis Seluler Invasi E.coli


Sumber : Ardana, IB & Putra, DKH. 2008

4.3 Gejala Klinis Kolibasilosis Pada Babi

Kolibasilosis yang menyerang anak babi dapat mengakibatkan


menurunnya berat badan, pertumbuhan terhambat, dan jika tidak segera ditangani
akan mengakibatkan kematian. Diare hebat dan berlangsung cukup lama
merupakan klinis dari penyakit ini, sehingga bisa menyebabkan kematian bagi
babi penderita akibat kekurangan cairan tubuh. Diare pada hewan muncul akibat
dilepaskannya enterotoksin dari bakteri E.coli pathogen sehingga mengakibatkan
menurunnya absorbsi NaCl sedangkan sekresi Chlorida meningkat. Dengan
adanya enterotoksin ini akan berakibat menurunnya absorbsi natrium pada usus
dan lumen usus meregang yang diikuti dengan peningkatan peristaltik usus
sehingga terjadi diare ini. (Duan et al., 2011).
Untuk perkembangan kuman di dalam tubuh yang melebihi batas normal
akan menimbulkan gejala klinis seperti mencret berwarna putih, dan badan lemas.
Jika kejadian penyakitnya melanjut tanpa mendapat penanganan yang memadai
akan berakibat kematian (Owusu-Asiedu et al, 2003). Mencret atau diare sangat

11
umum terjadi pada anak babi pada minggu pertama dimana penyebab utamanya
adalah bakteri E. coli patogen (Besung, 2010). Sedangkan menurut penelitian
Rahmawandani, et al (2014) Adanya gangguan dan kerusakan organ usus halus,
dapat mengakibatkan gejala klinis lain berupa dehidrasi, syok, dan diikuti
kematian. Kematian biasanya terjadi bila individu kehilangan cairan tubuh
sebanyak 10-16% dari berat badannya.

Gambar 4. Anak Babi yang Menderita Diare di Desa Sudimara, Tabanan


Sumber : Suarjana, I.G.K et al. 2016

4.4 Patologi Anatomi dan Histopatologi kolibasilosis Pada Babi


Kolibasilosis adalah penyakit bakterial yang sangat umum menyerang
ternak babi terutama umur muda. Kolibasilosis disebabkan oleh bakteri
Escherichia coli, yang sering ditemukan pada feses dan karkas baik babi maupun
ruminansia (Barco,et al. 2014).
Patologi kolibasilosis dapat diamati pada bagian sistem gastrointestinal
dan sistem respirasi. Perubahan patologi anatomi yang terjadi yaitu terjadi
enteritis dan edema pada dinding lambung dan pembengkakan pada kelenjar
pertahanan mesenterika. Pada usus halus babi yang terinfeksi kolibasilosis, terjadi
distensi, kongesti maupun perdarahan pada saluran pencernaan. Sedangkan pada
organ paru terjadi nekrosis, secara makroskopis lesi peradangan pada paru tidak
jelas tampak, namun paru-paru berwarna merah coklat menyerupai daging dan
terasa berat (Meha, et al. 2016).

12
Namun pada hasil penelitian Rahmawandani , F.I. et al. (2014) patologi
anatomi diketahui bahwa teramati adanya distensi usus dan pembengkakan pada
usus halus babi Landrace yang terinfeksi kolibasilosis baik pada umur babi
sebelum maupun setelah disapih. Hal ini sejalan dengan pernyataan Pfizer (1990)
tidak ada perubahan patologi anatomi yang spesifik pada babi muda maupun
dewasa yang terserang kolibasilosis, perubahan yang nyata terlihat hanya
inflamasi dan distensi usus halus. Kebengkakan terjadi sebagai akibat dari filtrat
plasma yang berakumulasi di daerah interstitium dari jaringan usus yang
mengalami peradangan. Distensi usus terjadi akibat akumulasi cairan dan gas
bertambah di dalam usus.

Keterangan :
1.A. Kolibasilosis pada usus halus babi Landrace sebelum disapih.
( = pembengkakan usus, = distensi usus )
1.B. Kolibasilosis pada usus halus babi Landrace setelah disapih.
( = pembengkakan usus, = distensi usus )

Gambar 5. Patologi Anatomi Kolibasilosis Pada Babi


Sumber : Rahmawandani , F.I et al. (2014)

Rahmawandani (2013) menyatakan bahwa ada perbedaan derajat


keparahan infiltrasi sel radang pada babi yang terinfeksi kolibasilosis berdasarkan
umur. Perubahan histopatologis pada babi terinfeksi kolibasilosis sangat
bervariasi seperti adanya kongesti, peradangan dan perdarahan pada mukosa usus
maupun pada paru. Perubahan histopatologi pada kasus kolibasilosis tampaknya
bervariasi dan umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor predisposisi seperti

13
tidak mendapatkan kolostrum dan lingkungan kandang babi yang kotor. Selain itu
faktor penunjang lain seperti umur merupakan kajian penelitian terhadap
perubahan histopatologi usus dan paru babi penderita kolibasilosis.
Menurut penelitian (Meha, H.K.M. et al. 2016) Histopatologi E. coli pada
usus dan paru babi yang terinfeksi kolibasilosis menunjukkan lesi berupa
kongesti, peradangan dan perdarahan dengan derajat keparahan lesi yang
bervariasi. Pada kasus ini lesi yang ditemukan dikategorikan menjadi tiga yaitu
lesi ringan, lesi sedang dan lesi berat. Persentase perbedaan derajat keparahan
patologi berupa kongesti, infiltrasi sel radang dan perdarahan usus dan paru babi
penderita kolibasilosis dikaitkan dengan umur kurang dari 2 minggu, 2-4 minggu
dan diatas 4 minggu.
Pada babi dengan umur dibawah 2 minggu, pada organ usus terjadi
kongesti dengan derajat ringan, infiltrasi sel radang derajat berat dan perdarahan
dengan derajat ringan, masing-masing sebanyak 100%. Sedangkan pada organ
paru didapatkan kongesti dan infiltrasi sel radang derajat sedang masing-masing
sebanyak 100% dan tidak ditemukan adanya perdarahan. Pada kasus kolibasilosis
dengan umur 2–4 minggu, pada organ usus didapatkan kongesti derajat ringan
sebanyak 20%, kongesti dengan derajat sedang 80%, infiltrasi sel radang derajat
sedang 100% dan perdarahan derajat ringan 20%, derajat berat 80%. Sedangkan
pada organ paru kongesti derajat sedang 60%, infiltrasi sel radang derajat sedang
80% dan perdarahan derajat sedang 25%, derajat sedang 50%. Pada kasus
kolibasilosis dengan umur diatas 4 minggu, pada usus diperoleh kongesti dengan
derajat ringan 16,67%, kongesti derajat sedang 66,67%, infiltrasi sel radang
derajat ringan 8,33%, derajat sedang 91,67% dan terjadi perdarahan dengan
derajat ringan 50% dan perdarahan dengan derajat sedang 33,33% (Meha, HKM.
et al. 2016).

14
Gambar 6. Infiltrasi sel radang pada Gambar 7. Terlihat adanya kongesti
paru (HE,10X) (panah putih) dan perdarahan(panah
Sumber : Meha, HKM. et al. 2016 biru) pada paru (HE,100X)
Sumber : Meha, HKM. et al. 2016

Gambar 8. Terlihat adanya kongesti Gambar 9. Adanya infiltrasi sel


(panah putih) dan perdarahan (panah radang neutrofil pada usus
biru) pada usus (HE, 40X) (HE,100X)
Sumber : Meha, HKM. et al. 2016 Sumber : Meha, HKM. et al. 2016

Adanya perbedaan derajat kategori lesi histopatologi dapat dipengaruhi


oleh faktor ketahanan tubuh hal ini sejalan dengan pernyataan Besung, INK
(2010) bahwa semakin meningkat umur semakin menurun kejadian kolibasilosis.
Anak babi umur 0-4 minggu tergolong rentan terserang kolibasilosis disebabkan
karena ketahanan tubuh yang belum optimal terbentuk dan lambung hewan yang
baru lahir memiliki pH lambung netral sehingga E.coli patogen berkembang biak

15
dengan baik. Sedangkan pada umur 4-8 minggu sistem kekebalan tubuh sudah
mulai optimal sehingga tubuh relatif lebih tahan terhadap infeksi E.coli
patogen.E.coli yang masuk melalui makanan didalam lambung akan mengalami
degradasi dengan adanya pH lambung dan produksi IgM oleh dinding lambung,
yang mampu mengurangi jumlah E.coli berkembang di usus

4.5 Diagnosa Kolibasilosis Pada Babi


Diagnosis kolibasilosis pada babi dapat dilakukan dengan cara mengamati
gejala klinis, serta isolasi dan identifikasi kuman. Dengan gejala klinis yang
diamati yaitu mencret berwarna putih yang khas. Sehingga penyakit ini sering
disebut dengan white scours atau diare putih (Suprat et al. 2011).
Dengan isolasi dan identifikasi kuman menurut hasil penelitian Besung,
INK (2010) dilakukan dengan menggunakan sampel feses dari anak babi yang
menunjukkan mencret warna putih yang ditanam pada EMBA secara dominan
tampak koloninya berwarna gelap dengan kilat logam. Koloni yang berwarna
gelap disertai dengan kilat logam patut dicurigai sebagai E. coli.

Gambar 10. Koloni kuman yang ditanam pada media EMBA


Sumber : Besung, INK. 2010

Setelah diidentifikasi lebih lanjut dengan pewarnaan Gram, maka kuman


tampak berukuran besar berwarna merah atau Gram negatif berbentuk batang
dengan ujung membulat, terlihat berdiri sendiri atau kadang bergerombol
(Besung, INK. 2010).

16
Gambar 11. Kuman E. coli pada pewarnaan Gram tampak berwarna merah,
dan berbentuk batang ( Pembesaran 1000 X)
Sumber : Besung, INK. (2010)

Identifikasi lebih lanjut dengan media TSIA, Simmons Citrate Agar, SIM
dan MRVP memperlihatkan sifat sebagai berikut : pada TSIA, kuman
menghasilkan asam baik daerah miring atau tegak dengan menghasilkan gas dan
tanpa menghasilkan H2S. Pada simmons citrate agar kuman tidak mampu tumbuh,
pada SIM terlihat menghasilkan indol tanpa H2S, dan bersifat motil. Pada MRVP
terlihat bahwa MR positif dan VP negatif. Koloni yang memiliki sifat seperti di
atas merupakan kuman E. coli (Besung, INK. 2010).
Hasil isolasi dan identifikasi sampel feses yang diambil dari anak babi
yang menderita mencret berwarna putih memiliki sifat: koloninya berwarna gelap
dengan kilat logam, kuman berbentuk batang Gram negatif, menghasilkan asam
dengan gas, H2S negatip, simmons citrate negatip, indol positip dan bersifat
motil. Sifat seperti itu merupakan sifat E. coli. Dengan demikian sampel yang
diisolasi adalah kuman E. coli. (Besung, INK. 2010).

17
4.6 Pengobatan Kolibasilosis Pada Babi
Pemberian antibakteri merupakan salah satu pilihan dalam menangani
infeksi kolibasilosis. Contohnya menggunakan antibiotik golongan Penisilin,
Cephalosporin, Tetrasiklin, Kloramfenikol, Aminoglikosid (Sornplang et al,
2010). Pada tetrasiklin dan aminoglikosid berfungsi sebagai penghalang terikatnya
RNA pada bagian spesifik dari ribosom, akibatnya sintesis protein mengalami
hambatan sangat tinggi. Dalam pengobatan menggunakan antibiotik akan
menimbulkan masalah yang muncul dari penggunaan antibakteri adalah residu
obat pada daging. Residu antibakteri pada produk ternak dapat menimbulkan
resistensi bakteri, masalah dalam pengolahan produk asal daging, dan gangguan
kesehatan bagi konsumen (Gavalov et al., dalam Soeripto 2002).
Selain hal tersebut, banyaknya terjadi kasus bakteri yang resisten terhadap
antibakteri dan harga obat antibakteri yang relatif mahal. Terjadinya resistensi ini
disebabkan karena penggunaan obat yang tidak terkontrol sehingga obat tersebut
tidak mampu menghambat atau membunuh bakteri yang bersangkutan, akibatnya
pengobatan akan sia-sia (Besung, 2009). Sehingga dalam hal ini diperlukan
penggunaan obat tradisional berasal dari tanaman yang dapat membunuh bakteri
untuk menghindari terjadinya resistensi seperti dalam penggunaan antibakteri.
Misalnya dengan menggunakan yaitu :

a. Pengobatan dengan Daun Binahong (Anredera cordifolia (Tenore)


Tanaman yang secara empiris digunakan sebagai obat antibakteri
salah satunya adalah “Binahong” (Anredera cordifolia (Tenore) steenis)
(Setiaji, 2009). Selain mudah di dapat dan harganya yang cukup murah,
tanaman binahong ini memiliki khasiat menghambat beberapa penyakit,
diantaranya tersebab mikroorganisme (Yuswantina, 2009).
Menurut penelitian Darsana, IGO., et al. (2012) dinyatakan bahwa
perasan daun binahong memberikan pengaruh yang sangat nyata (P <
0,01) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli ATCC 25922 dengan
terbentuknya daya hambat di sekitar kertas cakram yang berisi hasil
perasan daun binahong. Hal ini dapat diperhatikan dari signifikan 0.00 (P
< 0,01). Pada Perasan daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore)
steenis) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara in

18
vitro. Dan meningkatnya konsentrasi perasan daun binahong (Anredera
cordifolia (Tenore) steenis) meningkatkan daya hambat terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara in vitro (Darsana, I.G.O., et
al. (2012).
Daya hambat dapat terbentuk dari daun Binahong menurut hasil
penelitian-penelitian yang sudah ada dinyatakan bahwa pada kultur in vitro
daun binahong terkandung senyawa aktif flavonoid, alkaloid, terpenoid
dan saponin. Seperti penelitian Rochani (2009), melakukan ekstraksi
dengan cara maserasi daun binahong dengan menggunakan pelarut
petroleum eter, etil asetat dan etanol, setelah dilakukan uji fitokimia
ditemukan kandungan alkaloid, saponin dan flavonoid. Kemampuan
binahong untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit ini berkaitan erat
dengan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Flavonoid dapat
berperan langsung sebagai antibakteri dengan menggangu fungsi dari
mikroorganisme bakteri (Manoi & Balittro, 2009). Selain hal tersebut
senyawa lain seperti alkaloid, saponin, dan terpenoid juga merupakan
senyawa yang berkhasiat sebagai antibakteri (Robinson, 1995).
Saponin merupakan glukosida yang larut dalam air dan etanol,
tetapi tidak larut dalam eter. Saponin bekerja sebagai antibakteri dengan
mengganggu stabilitas membran sel bakteri sehingga menyebabkan sel
bakterilisis, jadi mekanisme kerja saponin termasuk dalam kelompok
antibakteri yang mengganggu permeabilitas membran sel bakteri, yang
mengakibatkan kerusakan membran sel dan menyebabkan keluarnya
berbagai komponen penting dari dalam sel bakteri yaitu protein, asam
nukleat dan nukleotida (Ganiswarna, 1995).
Khunaifi (2010) menambahkan bahwa senyawa-senyawa flavanoid
umumnya bersifat antioksidan dan banyak yang telah digunakan sebagai
salah satu komponen bahan baku obat-obatan. Senyawa flavanoid dan
turunanya memilki dua fungsi fisiologi tertentu, yaitu sebagai bahan kimia
untuk mengatasi serangan penyakit (sebagai antibakteri) dan anti virus
bagi tanaman. Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang
terbesar. Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Mekanisme

19
yang diduga adalah dengan cara mengganggu komponen penyusun
peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak
terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Robinson,
1995). Pada senyawa terpenoid dapat menghambat pertumbuhan dengan
mengganggu proses terbentuknya membran dan atau dinding sel, membran
atau dinding sel tidak terbentuk atau terbentuk tidak sempurna (Ajizah,
2004).

Gambar 12. Daun Binahong Anredera cordifolia (Tenore) steenis


Sumber : http://daunbinahong.org/

b. Pemberian Ekstrak Kunyit


Kunyit merupakan salah satu obat tradisional yang sering dipakai
untuk menangani mules, mencret, mual dan masuk angin. Kandungan
kurkuminoid pada kunyit mampu membunuh bakteri E. coli. Kurkuminoid
merupakan senyawa fenolik, oleh sebab itu diduga mempunyai mekanisme
yang sama dengan senyawa fenol lainnya dalam fungsinya sebagai
antibakteri (Parvathy et al., 2009). Disamping efektif membunuh E. coli,
kurkuminoid juga mampu membunuh Staphylococcus aureus, Bacillus
cereus and Listeria monocytogenes (Norajit et al., 2007). Senyawa fenol
dapat masuk ke dalam sitoplasma sel bakteri dan merusak sistem kerja sel
dan berakibat lisisnya sel bakteri. Pengujian secara in vitro, kandungan
fenol pada kunyit mampu menghambat pertumbuhan E. coli (Kasihani,
2000).

20
Pada penelitian Besung, INK. (2009) Pada hari pertama sampai
hari ke empat semua perlakuan belum mampu menekan kejadian diare
pada anak babi yang menderita kolibasilosis, namun setelah hari ke lima
baik kunyit maupun sulfonamida sudah mampu menekan diare. Secara
statistik terlihat bahwa pada hari ke lima kunyit atau sulfonamide mampu
menekan terjadinya diare secara bermakna dibandingkan dengan control
namun antara kunyit dengan sulfonamida tidak menunjukkan perbedaan
yang bermakna. Rata-rata jumlah bakteri E. coli pada pemberian kunyit
maupun sulfonamida semakin hari semakin menurun. Penurunan rata
jumlah bakteri terlihat mulai dari hari ke dua sampai hari ke tujuh. Jika
dibandingkan dengan kontrol, maka penurunan jumlah kuman ini terlihat
berbeda secara sangat bermakna, namun antara perlakuan kunyit dengan
sulfonamida penurunan jumlah bakteri tidak menunjukkan perbedaan yang
bermakna.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa kemampuan kunyit setara
dengan kemampuan sulfonamide dalam membunuh kuman E. coli pada
babi yang menderita kolibasilosis. Dari hasil penelitian Besung, INK.
(2009) bahwa kunyit dan sulfonamide mempunyai kemampuan yang sama
dalam menekan terjadinya mencret serta menurunkan jumlah bakteri E.
coli pada feses anak babi yang menderita kolibasilosis. Dengan demikian
kunyit dapat dipakai sebagai obat alternatif dalam menangani kolibasilosis
pada anak babi.

Gambar 13. Kunyit


Sumber : http://khasiatkunyit.org/

21
c. Pemberian Ekstrak Daun Kelor
Berbagai tanaman obat Indonesia yang digunakan sebagai alternatif
obat sangatlah banyak. Penggunaan tanaman obat pun saat ini berkembang
sangat cepat. Salah satu contoh tanaman obat Indonesia yang sudah lama
digunakan adalah kelor (Moringa oleifera) (Prasetyo et al, 2012). Hampir
semua bagian dari tanaman kelor ini dapat dijadikan bahan antimikroba.
Bagian-bagian tanaman kelor yang telah terbukti sebagai bahan
antimikroba di antaranya daun, biji, minyak, bunga, akar, dan kulit kayu
tanaman kelor (Bukar et al, 2010). Daun kelor (Moringa oleifera) terdapat
senyawa benzil isotiosianat dan dari hasil studi fitokimia daun kelor
(Moringa oleifera) juga mengandung senyawa metabolit sekunder
flavonoid, alkaloid, phenols yang juga dapat menghambat aktivitas bakteri
(Pandey et al, 2012).
Ekstrak daun Kelor dengan menggunakan pelarut etanol menurut
(Vinoth et al, 2012) dapat menarik sebagian besar senyawa aktif yang
terdapat pada daun kelor, dan menurut dari hasil penelitian (Dima et al.
2016) telah dilakukan cara yang sama maka tidak ada perbedaan sehingga
menunjukan hasil yang sesuai bahwa daun kelor mempunyai senyawa
yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri khususnya E.coli. Hasil
penelitian Dima et al. (2016) ini juga memberikan hasil yang sama dari
(Vinoth et al, 2012) bahwa penggunaan pelarut etanol untuk mengambil
senyawa-senyawa aktif yang ada di daun kelor memberikan zona hambat
terhadap bakteri-bakteri uji. Sehingga ekstrak daun kelor ini dapat
digunakan sebagai pengobatan alternatif pengganti antibiotika.

Gambar 14. Daun, Buah dan Bunga Moringa oleifera


Sumber : Hsu et al. 2006

22
4.7 Pencegahan Kolibasilosis Pada Babi

Penyakit kolibasilosis dapat terjadi pada peternakan tradisional maupun


peternakan yang intensif. Dampak dari penyakit kolibasilosis sangat merugikan
peternak baik secara ekonomi maupun psikologis. Dari laporan kasus-kasus
penyakit babi, maka penyakit kolibasilosis menempati peringkat terbanyak
terutama anak babi atau babi muda (Todar, 2012). Sehingga harus ada upaya
untuk meningkatkan tindakan pengendalian dan pencegahan penyakit kolibasilosis
dengan beberapa cara yaitu dengan sanitasi yang baik dan pemberian antibiotik.
Kesadaran dan pengetahuan peternak yang rendah terhadap pemakaian antibiotik
akan berdampak buruk pada perkembangan resistensi kuman (Nugraha, Aditya et
al. 2013).
Menurut Ardana (2004) ada lima tindakan yang saling berkaitan dalam
manajemen kesehatan ternak yang dikenal dengan panca usada satwa. Tindakan-
tindakan tersebut meliputi : menjaga bibit tetap sehat , menjaga kandang higienis
dan nyaman, memberi pakan yang seimbang, mencegah dan memberantas
penyakit dan mengelola usaha ternak dengan baik. Sistem pemeliharaan ternak
memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak.

Gambar 15. Sistem pemeliharaan babi secara tradisional dan intensif


Sumber : Budaarsa, Komang. 2014

23
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Kolibasilosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Escherichia coli
pathogen dan kebanyakan menyerang anak babi berumur muda. E. coli yang
bersifat komensal dapat berubah menjadi pathogen karena beberapa factor
diantaranya karena factor lingkungan, faktor hospes, dan factor agen infeksi.
Dalam pathogenesis terdapat 5 strain berbeda dari E.coli tergatung mekanisme
pathogenesis, antara lain Enterotoxigenic E. coli (ETEC), Enteropathogenic E.
coli (EPEC), Enteroinvasive E. coli (EIEC), Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC),
dan Enteroaggregative E. coli (EAEC).
Gejala klinis umum kolibasilosis yang menyerang anak babi dapat
mengakibatkan menurunnya berat badan, pertumbuhan terhambat, dan jika tidak
segera ditangani akan mengakibatkan kematian. Diare hebat, berwarna putih dan
berlangsung cukup lama merupakan klinis dari penyakit ini, sehingga bisa
menyebabkan kematian bagi babi penderita akibat kekurangan cairan tubuh.
Diagnosa penyakit ini melalui pengamatan gejala klinis dan hasil isolasi dan
identifikasi sampel feses yang diambil dari anak babi yang menderita mencret
berwarna putih memiliki sifat: koloninya berwarna gelap dengan kilat logam,
kuman berbentuk batang Gram negatif, menghasilkan asam dengan gas, H2S
negatip, simmons citrate negatip, indol positip dan bersifat motil.
Pemberian antibakteri merupakan salah satu pilihan dalam menangani
infeksi kolibasilosis. banyaknya terjadi kasus bakteri yang resisten terhadap
antibakteri disebabkan karena penggunaan obat yang tidak terkontrol sehingga
obat tersebut tidak mampu menghambat atau membunuh bakteri yang
bersangkutan, akibatnya pengobatan akan sia-sia . Sehingga dalam hal ini
diperlukan penggunaan obat tradisional berasal dari tanaman yang dapat
membunuh bakteri untuk menghindari terjadinya resistensi seperti dalam
penggunaan antibakteri.

24
5.2 Saran
Dengan adanya karya tulis ini diharapkan kepada seluruh pihak yang
terlibat, khususnya para mahasiswa yang masih dalam masa masa pembelajaran
agar karya tulis ini bisa dijadikan pembelajaran. Semoga dengan adanya karya
tulis ini juga dapat menambah pengetahuan para mahasiswa akan menejemen
penyakit kolibasilosis pada babi. Saran dan masukan yang membangun dari
pembaca sangat dibutuhkan untuk menambah pengetahuan bagi para mahasiswa.

25
DAFTAR PUSTAKA

Ajizah, A. 2004. Sensitivitas Salmonella Typhimurium Terhadap Ekstrak Daun


Psidium Guajava L. Bioscientie, Vol 1 No.1. Hal : 31-8.

Amanda, F.R. 2014. Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli.

Ardana,I.B., 2004. Penerapan Panca Usada Satwa Untuk Kesehatan Babi.


Laboratorium Manajemen dan Penyakit Babi. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana.

Barco,L., Belluco,S. Roccato, A and Ricci, A. 2014. Escherichia coli and


Enterobacteriaceae counts on pig and ruminant carcasses along the
slaughterline, factors influencing the counts and relationship between
visual faecal contamination of carcasses and counts: a review. Istituto
Zooprofilattico Sperimentale delle Venezie.

Besung, N.K. 2009. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kunyit Pada Anak Babi Yang
Menderita Colibacillosis. Majalah Ilmiah Peternakan. Vol 12, no. 3.
(http://ojs.unud.ac.id/index.php/mip/article/view/1735).

Besung, N.K. 2010. Kejadian Kolibasilosis Pada Anak Babi. Majalah Ilmiah
Peternakan. Vol 13, no. 1.
(http://ojs.unud.ac.id/index.php/mip/article/view/1742/0).

Bukar, A., Uba, A. and Oyeyi, T.I.. 2010. Antimicrobial Profile of Moringa
oleifera Lam. Extracts Against Some Food –Borne Microorganisms.
Bayero Journal of Pure and Applied Sciences, 3(1): 43 –48.

Darsana, I.G.O., Besung, I.N.K., Mahatmi, H. 2012. Potensi Daun Binahong


(Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis) dalam Menghambat Pertumbuhan
Bakteri Escherichia Coli secara In Vitro. Indonesia Medicus Veterinus.
1(3) : 337 – 351.

Deptan (2012).Pedoman Penataan Usaha Budidaya Babi Ramah Lingkungan.


Kementrian Pertanian dan Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan
Hewan Direktorat Budidaya ternak.

Dima, L.L.R.H., Fatimawali, Lolo, W.A. 2016. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Daun Kelor (Moringa oleifera L.) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmiah Farmasi. 5(2): 282-289.

Disnak. 2009. Laporan Dinas Peternakan Propinsi Bali. Dinas Peternakan Provinsi
Daerah Tingkat I Bali. Denpasar, hal 1 –5.

Duan Q, Yao F, Zhu G. 2011.Major Virulence Factor of Enterotoxigenic


Escherichia coli in Pigs.Annals of Microbiology.

26
Eriksson.E, 2010.Verotoxinogenic Escherichia coli O157:H7 in Swedish Cattle
and Pigs. Doctoral Thesis.Swedish University of Agricultural Sciences.
Uppsala 2009. Pp. 11-30
(http://pub.epsilon.slu.se/2213/1/eriksson_e_100115.pdf ericson doktoral).

Fairbrother, J. M., E. Nadeau and C. L. Gyles (2005).Escherichia coli in


postweaning diarrhea in pigs: an update on bacterial types, pathogenesis,
and prevention strategies. Anim. Health Research Reviews. 6:17-39.
(http://journals.cambridge.org)

Ganiswarna, S. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Penerbit UI : Jakarta.

Ginns, C. A. 2000. Colonization o the Respiratory Tract by a Virulent Strain of


Avian Escherichia coli Requires carriage of a Conjugatitive Plasmid.
Infection and Immunity. Vol 3(68). Hal 1535-1541. Terdapat pada
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/. Diakses tanggal 24 April 2017.

Gyles, C.L. 2007. Shiga toxin-producing Escherichia coli: an overview. J Anim


Sci 85(13 Suppl), E45-62.
(http://www.journalofanimalscience.org/content/85/13_suppl/E45.full.pdf.

Hammerum, A.M., and O.E. Heuer. 2009. Human Health Hazards from
Antimicrobial-Resistant Escherichia coli of Animal Origin. National
Center for Antimicrobials and Infection Control, Statens Serum Institut,
Copenhagen, and National Food Institute, Technical University of
Denmark, Søborg, Denmark
(http://cid.oxfordjournals.org/content/48/7/916.full.pdf+html).

Holden, J. P. dan M. E. Ensminger. 2005. Swine Science, Seventh Edt. United


States Press. New York.

Kaper, J.B. 2005.Pathogenic Escherichia coli.Int J Med Microbiol295(6-7), 355-


6. (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16238012).

Kardena, I.M., I.G.K. Suarjana., P.Udayani. 2012. Studi Kasus Perhitungan


Tingkat Morbiditas, Mortalitas, dan Fatalitas Kolibasilosis pada Babi yang
Dipelihara Semi-intensif. Buletin Veteriner. Vol. 4 No.1.:17-22.

Kasihani, N.M.O., 2000. Daya Hambat Kunyit terhadap Pertumbuhan


Escherichia coli Penyebab Colibacillosis pada Babi secara In Vitro.
Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Denpasar. Hal
19 – 24.

Kenny, B., and M. Jepson. 2000. Targeting of an enteropathogenic Escherichia


coli (EPEC) effector protein to host mitochondria. Cellular Microbiology
(2000)2(6), 579±590. (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1046/j.1462-
5822.2000.00082.x/full).

27
Khunaifi, M. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Binahong (Anredera
cordifolia (Tenore) steenis) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Dan
Pseudomonas Aeruginosa. Terdapat pada http://lib.uin-
malang.ac.id/fullchapter/03520025.pdf. Diakses pada tanggal 24 April
2017.

Kusuma, S. 2010. Escherichia coli., pp.1-11.

Lyutskanov M. 2011. Epidemiological Characteristics of Post-Weaning Diarrhoea


Associated with ToxinProducing Escherichia coli in Large Intensive Pig
Farms. Trakia Journal of Sciences. 9(3): 68-73. http://www.uni-sz.bg.

Manoi, F. & Balittro. 2009. Binahong (Anredera Cordifolia) Sebagai Obat. Bogor
: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

Meha, H.K.M., Berata, I.K., Kardena, I.M. 2016. Derajat Keparahan Patologi
Usus Dan Paru Babi Penderita Kolibasilosis. Indonesia Medicus Veterinus.
5(1) : 13-22

Mursito, B. 2001. Ramuan Tradisional untuk Kesehatan Anak. PT Penebar


Swadaya Jakarta.

Norajit, K., Laohakunjit, N., and Kerdchoechuen,O. 2007. Antibacterial Effect of


Five Zingiberaceae Essential Oils. Molecules 2007, 12, 2047-2060

Nugraha, Aditya., Besung, N.K., Mahatmi, H. 2013. Kepekaan Eschericia coli


Patogen yang Diisolasi dari Babi Penderita Kolibasilosis terhadap
Antibiotik di Kecamatan Kerambitan dan Tebanan Kabupaten Tabanan,
Bali. Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan. 1(2); 34-39.

Owusu-Asiedu, A.. Nyachoti, C. M Baidoo, S. K.. Marquardt R. R and Yang. X.


2003. Response of early-weaned pigs to an enterotoxigenic Escherichia
coli (K88) challenge when fed diets containing spray-dried porcine plasma
or pea protein isolate plus egg yolk antibody. J Anim Sci . 81:1781-1789.

Pandey, A., R.D. Pandey., P. Tripathi., P.P. Gupta., J. Haider., S. Bhatt and A.V
Singh. 2012. Moringa Oleifera Lam. (Sahijan) - A Plant with a Plethora of
Diverse Therapeutic Benefits: An Updated Retrospection. Pandeyet al.
Medicinal Aromatic Plants 2012.
(http://omicsgroup.org/journals/MAP/MAP-1-101.pdf).

Parvathy, K.S., Negi, P.S. and Srinivas, P. 2009. Antioxidant, antimutagenic and
antibacterial activities of curcumin-β-diglucoside. Food Chemistry.
Volume 115, Issue 1, Pp 265-271.

Percival S. 2004. Microbiology of Waterborne Disease. India: Elsevier Academic


Press.

Pfizer. 1990. Beternak Babi Sukses. Buku Pegangan Pfizer. Divisi Kesehatan
Hewan, PT. Pfizer Indonesia Bogor.

28
Rahmawandani FI. 2013. Skripsi. Studi Patologi Kasus Kolibasilosis Pada Babi
Landrace Berdasarkan Umur. FKH Universitas Udayana.Denpasar.

Rahmawandani, F.I., Kardena, I.M., Berata, I.K. 2014. Gambaran Patologi Kasus
Kolibasilosis pada Babi Landrace. Indonesia Medicus Veterinus 3(4) :
300-309.

Rendon, M.A., Z. Saldana., A.L. Erdem., V. Monteiro-Neto., A. Va ´zquez., J.B.


Kaper., J. ´ L. Puente., and J.A. Giro ´n. 2007. Commensal and pathogenic
Escherichia coli use a common pilus adherence factor for epithelial cell
colonization. Arizona State University, Tempe, AZ, May 2.
(http://www.pnas.org/content/104/25/10637.full.pdf).

Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi keenam.


Terjemahan Padmawinata K. Penerbit ITB : Bandung.

Rochani, N. 2009. Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Daun Binahong (Anredera


cordifolia (Tenore) Steenis) Terhadap Candida albicans Serta Skrining
Fitokimianya. Skripsi Tidak Diterbitkan. Surabaya : Fakultas Farmasi
UMS Surakarta.

Rostinawati, T. 2008. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Ekstrak Air


Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap Mycobacterium
tuberculosis Galur Labkes-026 (Multi Drug Resisten) dan L.) dan
Mycobacterium tuberculosis Galur H37Rv Secara In Vitro. Fakultas
Farmasi Universitas Padjadjaran. (http://repository.unpad.ac.id).

Schierack, P., H. Steinruck., S. Kleta., and W. Vahjen., 2006. Virulence Factor


Gene Profiles of Escherichia coli Isolates from Clinically Healthy Pigs.
Appl. Environ. Microbiol. 2006, 72(10):6680. DOI: 10.1128/AEM.02952-
05. (http://aem.asm.org/content/72/10/6680.full.pdf+html).

Setiaji, A. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Petroleum Eter, Etil Asetat Dan
Etanol 70% Rhizoma Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steen)
Terhadap Staphylococcus Aureus Atcc 25923 Dan Escherichia Coli Atcc
11229 Serta Skrining Fitokimianya. Terdapat pada http://etd.eprints.
ums.ac.id/5253/1/K100050288.pdf. Diakses pada tanggal 24 April 2017.

Soeripto. 2002. Penerapan Konsep Kesehatan Hewan Melalui Vaksinasi. Jurnal


Litbang Pertanian. Vol 21(2). Hal 48-55. Terdapat pada
http://pustaka.litbang. deptan.

Sornplang, P., N, Na-ngam, and S, Angkititrakul. 2010. Antimicrobial Resistance


Profile of Escherichia coli isolates From Fattening Pigs in Khon Kaen
Province, Thailand.Departement of Veterinary Public Health.Faculty of
Veterinary Medicine Khon Kaen University.
(http://ora.kku.ac.th/RES_KKU/ATTACHMENTS_PROCEEDING_PUB
LIC ATION/7832.pdf?).

29
Suarjana, I.G.K., Tono P.G., K., Suwiti, N.K., Apsari, I.A.P. 2016. Pengobatan
Penyakit Diare (Kolibasilosis) Pada Babi Dalam Upaya Meningkatkan
Produktivitas Ternak Di Desa Sudimara Tabanan. Jurnal Udayana
Mengabdi. 15 (1) : 50-54.

Supar. 2001. Pemberdayaan Plasma Nutfah Mikroba Veteriner dalam


pengembangan Peternakan: Harapan Vaksin Escherichia coli
Enterotoksigenik, Enteropatogenik dan Verotoksigenik Isolat Lokal untuk
Pengendalian Kolibasilosis Neonatal pada Anak Babi dan Sapi. Balai
Penelitian Veteriner 11:36-43.
(http://peternakan.litbang.deptan.go.id/fullteks/wartazoa/wazo111-5.pdf)

Supar. 2002. Escherichia coli dan Kolibacilosis. Balai Penelitian Veteriner Bogor.

Suprat, A.S., Pascu, C., Costinar, L., Vaduva., I., Faur, B., Tatar, D., Herman, V.,
2011. Escherichia coli Strains Characterization Isolated from Post-
Weaning Diarrhea in Pigs. Faculty of Veterinary Medicine Timisoara,
Calea Aradului No.119, 300645, Timisoara, Romania.
(http://journals.usamvcj.ro/veterinary/article/viewFile/6933/6196)

Todar, K. 2012. Pathogenic E.coli. In: Todar’s Online Texbook of Bacteriology.


Madison – Wnconsin

Vinoth, B., Manivasagaperumal, R., and Balamurugan, S., 2012. Phytochemical


Analysis and Antibacterial Activity of Moringa Oleifera Lam.International
Journal of Research in Biological Sciences 2012; 2(3): 98-102.
(http://urpjournals.com/tocjnls/27_12v2i3_2.pdf)

Yuswantina, R. 2009. Uji Aktivitas Penangkap Radikal Dari Ekstrak Petroleum


Eter, Etil Asetat Dan Etanol Rhizoma Binahong (Anredera Cordifolia
(Tenore) Steen) Dengan Metode Dpph (2,2-Difenil-1-Pikrihidrazil).
Terdapat pada http://etd.eprints.ums.ac.id/5283/1/K100050315.pdf.
Diakses pada tanggal 24 April 2017.

30
LAMPIRAN JURNAL

31