Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

STUDI KASUS STRUKTUR SPASIAL


Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Geografi
(ABKA510)

Dosen Pengampu :
Dr. Nasruddin, S.Pd., M.Sc.

Oleh :

SIFANI LULU NISFINAHARI (1710115220023)


KELAS A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017
LATAR BELAKANG

Indonesia saat ini memerlukan penanganan yang lebih mendalam untuk menekan
tingginya angka resiko terkena penyakit menular salah satunya malaria pada dewasa
ini. Penyakit malaria termasuk penyakit yang menyebabkan kematian pada kelomok
resiko tinggi yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil.
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001, terdapat 15 juta kasus
malaria dengan 38.000 kematian setiap tahunnya. Diperkirakan 35% penduduk
Indonesia tinggal di daerah yang beresiko tertular malaria. Dari 484 Kabupaten/Kota
yang ada di Indonesia, 338 Kabupaten/Kota merupakan kota daerah endemis malaria.
Seiring berkembangnya zaman seharusnya upaya yang dilakukan untuk membasmi
malaria di Indonesia juga harus lebih maksimal untuk menyensuaikan perkembangan
yang terjadi.
Oleh karena itu, kita sebagai seorang manusia yang memperdulikan kesehatan diri
sendiri maupun orang lain harus ikut serta dalaam mencegah ganasnya malaria yang
memakan banyak jiwa di Negara kita yang tercinta ini Indonesia. Tingkatkan
kesadaran masing-masing di dalam diri untuk mencegah penyakit ini.

Banjarmasin, Senin 16 Oktober 2017

Sifani Lulu Nisfinahari


(1710115220023)
PEMBAHASAN

Sumber: gambartop.com

A. Situasi Malaria di Indonesia.


Upaya penanggulangan penyakit malaria di Indonesia sejak tahun 2007
dapat dipantau dengan menggunakan indikator Annual Parasite Incidence
(API). Hal ini sehubungan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan mengenai
penggunaan satu indikator untuk mengukur angka kejadian malaria, yaitu
dengan API. Pada tahun 2007 kebijakan ini mensyaratkan bahwa setiap kasus
malaria harus dibuktikan dengan hasil pemeriksaan sediaan darah dan semua
kasus positif harus diobati dengan pengobatan kombinasi berbasis artemisinin
atau ACT (Artemisinin-based Combination Therapies).
Penyakit malaria masih ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia.
Berdasarkan API, dilakukan stratifikasi wilayah dimana Indonesia bagian
Timur masuk dalam stratifikasi malaria tinggi, stratifikasi sedang di beberapa
wilayah di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera sedangkan di Jawa-Bali masuk
dalam stratifikasi rendah, meskipun masih terdapat desa/fokus malaria tinggi.
API dari tahun 2008 – 2009 menurun dari 2,47 per 1000 penduduk menjadi
1,85 per 1000 penduduk. Bila dilihat per provinsi dari tahun 2008 – 2009
provinsi dengan API yang tertinggi adalah Papua Barat, NTT dan Papua
terdapat 12 provinsi yang diatas angka API nasional.
Sumber : Ditjen PP & PL Depkes RI, 2009
Gambar 4. API per 100.000 Penduduk per provinsi Tahun 2009

Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 pengendalian


malaria merupakan salah satu penyakit yang ditargetkan untuk menurunkan angka
kesakitannya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk. Dari gambar diatas angka
kesakitan malaria (API) tahun 2009 adalah 1,85 per 1000 penduduk, sehingga masih
harus dilakukan upaya efektif untuk menurunkan angka kesakitan 0,85 per 1000
penduduk dalam waktu 4 tahun, agar target Rencana Strategis Kesehatan Tahun 2014
tercapai.
Pada tahun 2009 penyebab malaria yang tertinggi adalah plasmodium vivax
(55,8%), kemudian plasmodium falsifarum, sedangkan plasmodium ovale tidak
dilaporkan. Data ini berbeda dengan data riskesdas 2010, yang mendapatkan 86,4%
penyebab malaria adalah plasmodium falsifarum, dan plasmodium vivax sebanyak
6,9%.
Dari hasil Riskesdas diperoleh Point prevalence malaria adalah 0,6%, namun hal
ini tidak menggambarkan kondisi malaria secara keseluruhan dalam satu tahun karena
setiap wilayah dapat mempunyai masa-masa puncak (pola epidemiologi) kasus yang
berbeda-beda.

B. Upaya Pengendalian Malaria


Sebagai upaya mewujudkan eliminasi malaria, Kementrian Kesehatan menyusun
Strategi Spesifik Program Malaria untuk Percepatan Eliminasi Malaria, terdiri dari:
1. Akselerasi
Kampanye kelambu anti nyamuk missal, penyemprotan dinding rumah di
seluruh desa dan penemuan dini pengobatan yang tepat.
2. Intensifikasi
Pemberian kelambu anti nyamuk di daerah beresiko tinggi, penemuan dini
pengobatan tepat, penyemprotan dinding rumah pada lokasi KLB Malaria dan
penemuan kasus aktif. Pengendalian di luar kawasan timur Indonesia seperti di
daerah tambang, pertanian, kehutanan, transmigrasi dan pengungsian.
3. Eliminasi
Dilakukan pada daerah endemis rendah. Kegiatan yang dilakukan adalah
penemuan dini pengobatan tepat, penguatan surveilans migrasi, surveilans
daerah yang rawan perindukan vector(reseptif), penemuan kasus aktif(Mass
Blood Survey), dan penguatan rumah sakit rujukan.
KESIMPULAN

Upaya penanggulangan penyakit malaria di Indonesia sejak tahun 2007 dapat


dipantau dengan menggunakan indikator Annual Parasite Incidence (API).
Tahap-tahap eleminasi malaria terdiri dari akselerasi, intensifikasi, pra eliminasi,
dan pemeliharaan(telah dinyatakan eliminasi). Salah satu upaya percepatan eliminasi
malaria adalah pemberian kelambu anti nyamuk, terutama bagi daerah endemis tinggi
dengan target minimal 80% penduduk di daerah tersebut mendapatkannya.
Sedangkan ntuk daerah endemis sedang, kelambu hanya dibagikan kepada kelompok
beresiko tinggi, yaitu ibu hamil dan bayi.
Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 pengendalian
malaria merupakan salah satu penyakit yang ditargetkan untuk menurunkan angka
kesakitan.
DAFTAR PUSTAKA

I, T. (2011). Epidemologi Malaria Di Indonesia. Data dan Informasi Kesehatan , 40.


Malaria. (2016). Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI , 8.
file:///C:/Users/Administrator/Downloads/InfoDatin-Malaria-2016.pdf