Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

STUDI KASUS SPATIAL ORGANISATION

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Geografi

(ABKA510)

memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Geografi (ABKA510) Dosen Pengampu : Dr. Nasruddin, S.Pd., M.Sc. Oleh :

Dosen Pengampu :

Dr. Nasruddin, S.Pd., M.Sc.

Oleh :

SIFANI LULU NISFINAHARI (1710115220023) KELAS A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN

2017

LATAR BELAKANG

Pulau Kalimantan berdasarkan iklim tropis dan topografi yang kita ketahui luas kawasan yang kemungkinan tertutup berbagai tipe hutan dan dengan mempertimbangkan kondisi iklim dan lingkungan serta intervensi manusia) dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh wilayah pulau Kalimantan dulu tertutup hutan. Menurut model yang dikembangkan oleh Bank Dunia, tutupan hutan di tiga pulau terbesar di Indonesia, yaitu Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pada waktu itu luas hutannya mencapai 103 juta ha (Holmes, 2000). Luas ini mencerminkan penurunan sebesar 13 persen dari luas tutupan hutan yang diperkirakan oleh MacKinnon. Pulau Kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia karena luas hutannya, yaitu sekitar 40,8 juta hektar

Tingginya laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record menganugrahi Indonesia sebagai negara yang laju kerusakan hutannya tercepat di dunia. Sebuah prestasi yang tidak patut untuk dibanggakan. Deforestasi di Indonesia disebabkan oleh industri kayu yang semakin mempersempit hutan alami. Pengalihan fungsi (konversi) hutan untuk perkebunan kelapa sawit juga memberikan kontribusi besar terhadap semakin derasnya laju deforestasi. Berkurangnya luasan dan kualitas hutan di Kalimantan menjadi ancaman serius bagi berbagai jenis satwa langka di Kalimantan.

Sebenarnya ada banyak factor penyebab terjadinya wilayah tutupan hutan di pulau Kalimantan, akan tetapi hanya ada beberapa faktor yang sangat mencolok sebagai penyebabnya.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang seharusnya menjaga alam tetap lestari jangan membuat banyak kerusakan alam tercinta kita ini, manfaatkan dengan bijak alam dan jagalah untuk generasi yang akan dating.

PEMBAHASAN

PEMBAHASAN Sumber: Heart of Borneo Provinsi Kalimantan Tengah sebagai salah satu produsen hutan tropis di dunia

Sumber: Heart of Borneo

Provinsi Kalimantan Tengah sebagai salah satu produsen hutan tropis di dunia yang menjadi paru-paru dunia. Kalimantan Tengah memiliki luas wilayah 15.426.781 Ha dimana kawasan hutan l uas 12,7 juta ha (82,45 %).

Dana Lingkungan Hidup, World Wildlife Fund, memprediksi Kalimantan akan kehilangan 75 persen luas wilayah hutannya pada 2020 menyusul tingginya laju deforestasi. Hal itu diungkapkan dalam laporan tahunan mengenai situasi lingkungan di kalimantan yang dipublikasikan WWF Indonesia dan Malaysia. Terdapat 3 hal yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat di Pulau Kalimantan dan turut serta mempengaruhi identitas masyarakatnya, yaitu hutan, tanah, dan sungai. Berbicara tentang Kalimantan tidak dapat terlepas dari permasalahan terkait ketiga hal tersebut.

Kerusakan lingkungan di Indonesia saat ini sudah terlihat parah dan menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Perusakan dan penggundulan hutan serta tekanan terhadap lingkungan telah menyebabkan terjadinya bencana lingkungan yang luar biasa. Akibat dibukanya tutupan hutan, lanskap di pulau Kalimantan berkembang dari bentang lahan yang bertutupan hutan menjadi bentang lahan dengan kombinasi tutupan lahan belukar dan semak, perkebunan, tambak, tanah kosong, tambang, pertanian, pemukiman, dan rawa. Perlu diketahui bahwa konversi tutupan hutan yang terbesar di areal APL (Areal Penggunaan Lain) adalah konversi menjadi semak belukar.

Di kabupaten Ketapang misalnya, sasaran penebangan liar adalah Taman Nasional Gunung Palung. Sasaran penebangan adalah pohon-pohon dengan jenis Kayu Ramin, Meranti, Klansau, Mabang, Bedaru, dan jenis Kayu Tengkawang yang termasuk jenis kayu dilindungi.

Di sini hutan berfungsi sebagai pengatur hidro-orologis bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Selain banjir dan kekeringan, masih banyak lagi dampak negatif dari kerusakan hutan. Kerusakan lingkungan hutan seperti ini merupakan kerusakan akibat ulah manusia yang menebang pada daerah hulu sungai bahkan pembukaan hutan yang dikonversi dalam bentuk penggunaan lain.

Laporan FAO tahun 1989, laju kerusakan hutan di Kalimantan mencapai lebih dari 600 ribu hektare per tahun. Ini paling tinggi dibanding pulau-pulau lainnya di Indonesia. Menurut Save Our Borneo (SOB), Juni 2008 sekitar 80 persen kerusakan hutan di Kalimantan karena pengembangan sawit oleh perusahaan besar. Dalam kurun waktu 19972006, Provinsi Kalteng menempati urutan pertama dalam jumlah titik panas (hotspot) yang berarti sebagai daerah dengan potensi intensitas kebakaran hutan dan lahan terbesar di Indonesia Sekitar 20 persen karena pertambangan dan transmigrasi. Pada desa-desa transmigrasi, seperti di Kecamatan Sebangau Kuala, Pulang Pisau dan Kecamatan Mendawai, Katingan, pembakaran dilakukan sebagai teknik untuk membersihkan alang-alang, perdu, rumput dan tumbuhan liar dalam tahap penyiapan ladang untuk selanjutnya ditugal guna ditaburi benih padi. Perubahan tutupan hutan ditunjukkan dengan meluasnya perkebunan kelapa sawit dan meluasnya penebangan hutan. Peristiwa tersebut disebabkan oleh tiga faktor institusional (kelembagaan) yang saling terkait, yaitu: (1) kawasan hutan digunakan untuk mengembangkan investasi berbasis sumberdaya lahan; (2) hutan ditransaksikan

untuk penggunaan berbagai kepentingan; (3) situasi kaotik mewarnai pengelolaan hutan dengan terbukanya jejaring organisasi di masyarakat. Hutan digunakan untuk memenuhi kepentingan yang beragam (divergent) dan bersifat short sighted (borientasi ekonomi jangka pendek) serta berisiko tinggi.

Kerusakan sumberdaya hutan menghilangkan nilai guna Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) dimasa akan datang akibat pemanfaatan yang tidak lestari saat kini dan kehilangan nilai guna harapan dimasa akan datang dari keanekaragaman hayati yang saat kini belum dimanfaatkan. Tak hanya dari itu kebakaran hutan yang cukup besar menimbulkan dampak yang sangat luas disamping kerugian material kayu, non kayu dan hewan. Dampak negatif yang sampai menjadi isu global adalah asap dari hasil pembakaran yang telah melintasi batas negara. Sisa pembakaran selain menimbulkan kabut juga mencemari udara dan meningkatkan gas rumah kaca.

Di Kalimantan, kerusakan lahan dan lingkungan akibat dampak pertambangan sudah tampak di beberapa daerah, seperti di Kalimantan Timur, dimana lahan terbuka bekas tambang telah memakan korban akibat tenggelam di lubang bekas tambang. Di Galangan, Kalimantan Tengah, terdapat pertambangan emas yang terbentang sepanjang beberapa kilometer dengan pohon-pohon yang gundul dan ‘dihiasi’ dengan kolam ber-merkuri yang telah mengubah berhektar-hektar hutan hujan tropis menjadi gurun. Hal ini dikarenakan kegiatan pertambangan dalam waktu yang relatif singkat dapat mengubah bentuk topografi dan keadaan muka tanah (land impact), sehingga dapat mengubah keseimbangan sistem ekologi bagi daerah sekitarnya. Pertambangan yang dilakukan dengan mengabaikan kondisi geologi lapangan dan keselamatan kerja, berpotensi menimbulkan tanah longsor, ledakan tambang, keruntuhan tambang, dan gempa.

Pada tahun 2002, Menteri Kehutanan pernah mengeluarkan pernyataan bahwa perhutanan sosial akan menjadi payung bagi lima kebijakan prioritas Departemen Kehutanan (Warta, Februari 2003). Adapun yang menjadi lima kebijakan prioritas tersebut adalah pemberantasan penebangan liar, penanggulangan kebakaran hutan, restrukturisasi sektor kehutanan, rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan, dan penguatan desentralisai kehutanan (Hakim, 2010: 2).

KESIMPULAN

Kerusakan lingkungan di Indonesia saat ini sudah terlihat parah dan menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Seperti misalkan pulau Kalimantan, Provinsi Kalimantan Tengah sebagai salah satu produsen hutan tropis di dunia yang menjadi paru-paru dunia. Terdapat 3 hal yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat di Pulau Kalimantan dan turut serta mempengaruhi identitas masyarakatnya, yaitu hutan, tanah, dan sungai. Laporan FAO tahun 1989, laju kerusakan hutan di Kalimantan mencapai lebih dari 600 ribu hektare per tahun. Ini paling tinggi dibanding pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Provinsi Kalimantan Tengah menempati urutan pertama dalam jumlah titik panas (hotspot) yang berarti sebagai daerah dengan potensi intensitas kebakaran hutan dan lahan terbesar di Indonesia. Kalimantan Timur, dimana lahan terbuka bekas tambang telah memakan korban akibat tenggelam di lubang bekas tambang. Di Galangan, Kalimantan Tengah, terdapat pertambangan emas yang terbentang sepanjang beberapa kilometer dengan pohon-pohon yang gundul dan ‘dihiasi’ dengan kolam ber-merkuri yang telah mengubah berhektar-hektar hutan hujan tropis menjadi gurun.

Dana Lingkungan Hidup, World Wildlife Fund, memprediksi Kalimantan akan kehilangan 75 persen luas wilayah hutannya pada 2020 menyusul tingginya laju deforestasi

DAFTAR PUSTAKA

Budianta, D. (2009). PENTINGNYA ETIKA LINGKUNGAN UNTUK MEMINIMALKAN GLOBAL WARMING. 10.

Khulfi M Khalwani, B. L. (2015). NILAI KERUGIAN DAN EFEKTIFITAS PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN GAMBUT. STUDI KASUS DI TAMAN NASIONAL SEBANGAU KALIMANTAN TENGAH , 16.

Retno Maryani, S. A. (2016). PERUBAHAN TUTUPAN HUTAN DI KABUPATEN PASER. 12.

https://www.profauna.net/id/kampanye-hutan/hutan-kalimantan/tentang-hutan-

kalimantan#.Wgeejo-CzIU