Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Susu Ibu (ASI)

2.1.1 Defenisi ASI

ASI adalah susu yang diproduksi seorang ibu untuk konsumsi bayi dan

merupakan suber gizi utama bayi yang belum bisa mencerna makanan padat. ASI

diproduksi di dalam alveoli karena pengaruh hormone prolactin dan axytocin setelah

kelahiran bayi. ASI tersebut dapat mengalir masuk berkat kerja otot-otot halus yang

mengelilingi alveoli. Air susu kemudian mengalir ke saluran yang lebih besar yang

selanjutnya masuk ke dalam jaringan penyimpanan air susu yang terletak tepat di bawah

areola. Jaringan ini berfungsi seperti bak penampung air susu sementara, sampai saat nya

tiba menghisapnya, melalui celah pada putting susu.1

ASI adalah hadiah terindah dari ibu kepada bayi yang disekresikan oleh kedua

belah pihak kelenjar payudara ibu berupa makanan alamiah atau susu terbaik bernutrisi

dan berenergi tinggi yang mudah di cerna dan mengandung komposisi nutrisi yang

seimbang dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi yang tersedia setiap saat, siap

disajikan dalam suhu kamar dan bebas dari kontaminasi.2

2.1.2 Manfaat ASI

Menyusui merupakan kegiatan yang menyenang kan bagi ibu, sekaligus

memberikan manfaat yang tak terhingga pada anak.

Manfaat yang dimaksud tersebut,antara lain:

a. Bayi mendapatkan nutrisi dan enzim terbaik yang di butuhkan.

b. Bayi mendapat zat-zat imun, serta perlindungan dan kehangatan melalui kontak

dari kulit ke kulit dengan ibunya.

c. Meningkatkan sensitivitas ibu akan kebutuhan bayinya.


d. Mengurangi perdarahan, serta konservasi zat besi,protein, dan zat lainnya,

mengingat ibu tidak haid sehingga menghemat zat yang terbuang.

e. Penghematan karena tidak perlu membeli susu.

f. ASI eksklusif dapat menurunkan angka kejadian alergi, terganggunya pernafasan,

diare, dan obesitas pada anak.

Manfaat lain dari ASI adalah menangkal alergi susu. Alergik mengenal usia,

termasuk pada belita. Justru merekalah yang paling rentanmengalami alergi, baik

terhadap lingkungan yang tidak sehat maupun dari makanan yang di konsumsi.

Kematangan atau maturasi saluran cerna pun sangat penting. Bayi semangkin rentan

karena maturasinya belum sempurna.

2.1.3 Komponen ASI

Susu menjadi salah satu sumber nutrisi bagi manusia, komponen ASI sangat

rumit dan berisi lebih dari 100.000 biologi komponen unik, yang memainkan peran utama

dalam perlawanan penyakit pada bayi. Meskipun tidak semua keuntungan dari semua

komponen yang telah sepenuh nya diteliti atau belum ditemukan, berikut daftar elemen

penting dari ASI :

a. Kolostrum

Cairan susu kental berwana kekuning – kekuningan yang di hasilkan

pada sel alveoli payudara ibu. Sesuai untuk kapasitas pencernaan bayi dan

kemampuan ginjal baru lahir yang belum mampu menerima makanan dalam

volume besar. Jumlahnya tidak terlalu banyak tetapi kaya akan gizi dan sangat

baik bagi bayi. Kolostrum mengandung karoten dan vitamin A yang sangat

tinggi.

b. Protein
Protein dalam ASI terdiri dari casein (protein yang sulit dicerna) dan

whey (protein yang mudah dicerna). ASI lebih banyak mengandung whey dari

pada casein sehingga protein ASI mudah dicerna. Sedangkan pada susu sapi

kebalikanya.

c. Lemak

Lemak ASI adalah penghasil kalori (energi) utama dan merupakan

komponen zat gizi yang sangat bervariasi. Lebih mudah dicerna karena sudah

dalam bentuk emulsi. Penelitian OSBORN membuktikan, bayi yang tidak

mendapat kan ASI lebih banyak menderita penyakit jantung coroner di usia

muda.

d. Laktosa

Merupakan karbohidrat utama pada ASI. Funsinya sebagai sumber

energi, meningkatka absorbs kalsium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus

bifidus.

e. Vitamin A

Konsentrasi vitamin A berkisar pada 200 IU/dl.

f. Zat Besi

Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0,5-1,0 mg/liter), bayi yang

menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia). Hal ini dikarenakan zat besi pada

ASI yang lebih mudah diserap.

g. Taurin

Berupa asam amino dan berfungsi sebagai neurotransmitter, berperan

penting dalam maturisi otak bayi. DHA (docosahexaenoic acid) dan ARA

(arachidonic acid)merupakan bagian dari kelompok molekul yang di kenal

sebagai omega fatty acids.

h. Lactobacillus
Berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri

E.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi.

i. Lactoferin

Sebuah besi-batas yang mengikat protein ketersediaan besi untuk bakteri

dalam intestines, serta memungkinkan bakteri sehat tertentu untuk berkembang.

Memiliki efek langsung pada antibiotik berpotensi berbahaya seperti bakteri

staphylococci dan E.Coli.

j. Lisozim

Dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries

dentis maloklusi (kebiasaan lidah yang mendorong kedepan akibat menyusu

dengan botol dan dot).

2.1.4 Kesulitan Dalam Pamberian ASI

Hal yang tidak menyenang kan adalah ketika payudara menjadi terlalu penuh

dengan susu (enggargement), membengkak dan menjadi sakit, terutam ketika mulai

mengalir susu pertama setelah lahir. Memompa susu dari payudara sebelum menyusui

dapat memberikan bantuan untuk mengurangi rasa nyeri akibat pembengkakan payudara.

Enggargement adalah suatu kondisi sementara. Produksi ASI akan menyesuai kan suplai

susu untuk memenuhi permintaan bayi. Puting susu akan saat pertama kali menyusui,

akan tetapi dengan posisi menyusui yang benar akan mengurangi rasa tersebut. Mastitis

(infection of the breast) menjadi hambatan dalam menyusui. Kelenjar dada (infeksi pada

payudara),jika kelenjar susu diblokir, bakteri akan menyumbat bagian dada, payudara

dapat menjadi bengkak, merah dan sakit. Banyak wanita yang menyusui mendapatkan

rasa nyeri pada putting susu. Puting susu yang bengkak adalah umum saat pertama kali

mulai menyusui segera setelah bayi lahir. Kegelisahan yang terakhir untuk 1 minggu

sampai 6 minggu setelah mulai menyusui. Puting susu yang bengkak merupakan hal yang

normal dan biasanya pergi jauh atau menurun setelah tujuh hari. Intensitas menyusui dan
durasi untuk menyusui tidak meningkatkan resiko infeksi puting. Kegelisahan yang dapat

berkisar dari ringan ke parah (sangat buruk), tergantung pada penyebabnya. Puting

menjadi pecah, ada kupasan kulit dan kering. Hal yang brurk putting dapat keluar darah,

puting merah,bengkak dan sakit.

2.1.5 Kontra Indikasi Pemberian ASI

Banyak situasi atau keadaan yang dapat mengubah rencan untuk menyusui.

Bagaimana dan apa yang bayi makan pada akhirnya tergantung pada kondisi fisik dan

kesehatan ibu setelah melahirkan. Ada beberapa factor yang menyebabkan bayi tidak

dapat menyusui yaitu karena:

a. Bayi premature

b. Ukuran kecil

c. Kondisi fisik lemah

d. Kesulitan menghisap

e. Kecacatan lahir dari mulut (celah bibir atau celah langit-langit)

f. Masalah pencernaan

Dari sisi lain, ibu juga tidak dapat menyusui bayinya oleh karena adanya:

a. Infeksi dada atau abses payudara

b. Kanker payudara atau kanker lainya

c. Sebelumnya operasi atau terapi radiasi

d. Kurangnya pasokan susu (jarang terjadi)

Beberpa ibu disarankan untuk tidak menyusui karena masalah-masalah kesehatan

seperti:

a. Penyakit serius (misalnya: penyakit jantung atau kanker)


b. Galaktosemia (kelainan kongenital dimana terdapat ketidak mampuan untuk

melakukan metabolism galaktosa, yaitu suatukomponen laktosa) pada yang baru

lahir

c. Eklampsia

d. Nephritis radang buah pinggang

e. TBC aktif

f. HIV

g. Luka herpes pada payudara

h. Kekurangan gizi parah

2.1.6 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Pola Pemberian ASI

A. Obat-obatan Selama Menyusui

Penggunaan obat-obatan antikanker, tirotoksik, dan obat imunosupresan

(penurunan kekebalan tubuh) tidak diperbolehkan selama menyusui. Menyusui dapat

dapat di lanjut kan apabila ibu sedang dalam terapi antibiotic. Meskipun obat

antikejangyang diminum oleh ibu terdapat juga di dalam ASI, namun obat ini tidak perlu

dihentikan kecuali bayi mengalamisedasi. Obat-obatan yang merupakan kontraindikasi

selama menyusui adalah sebagian besar antineoplastic dan antimetabolite.

B. Kontrasepsi Selama Menyusui

Pada wanita yang tidak menyusui, waktu rata-rata ovulasi berikutnya adalah 45

hari setelah wanita tersebut melahirkan (jangka waktu 25-72 hari). Pada wanita menyusui,

waktu rata-rata ovulasi berikutnya adalah 190 hari.

C. Nifas

Periode 6 minggu pasca persalinan, disebut juga masa ovulasi yaitu periode

dimana system reproduksi wanita postpartum kembali kepada keadaannya seperti


sebelum hamil. Di masyarakat Indonesia periode 40 hari. Menyusui merupakan tantangan

bagi wanita karier yang dituntut untuk terus bekerja, akan tetapi keuntungan menyusui

jauh lebih penting dari apapun karena hal itu untuk kebaikan bayi.

D. Mastitis

Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2% wanita yang menyusui.

Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan. Mastitis ditandai dengan

nyeri pada payudara, kemerahan, area payudara yang bengkak, demam, menggigil, dan

lemah. Penyebabnya adalah infeksi stafilokokus aureus. Ibu yang menyusui mungkin

mengalami putting serasa sakit, payudara enggargement, payudara bocor, let-down

refleks ( selain saat menyusui), kurangnya pasokan susu dan kesulitan mengetahui berapa

banyak susu yang bayi minum.

2.2. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

2.2.1 Defenisi MP-ASI

Makanan pendamping ASI (MP-ASI), yaitu makanan semi padat atau padat yang

diberikan kepada bayi selain ASI. Dari uraian terdahulu dianjurkan bahwa seyogyanya

bayi diberikan asi eksklusif sampai berumur 6 bulan, baru kemudian boleh diberikan

makanan sapihan atau makanan pendamping ASI. Sebernarnya dalam praktek pemberian

sebelum 6 bulan,tetapi minimal 4 bulan dengan berat badan mencapai 2 x BB lahir.

Secara ilmiah sebernya bayi akan memperlihatkan tanda_tanda apabila ia sudah

membutuhkan makanan sapihan.

2.2.2 Kebutuhan Gizi Balita

Kebutuhan gizi bayi lebih sedikit dari kebutuhan orang dewasa, namun jika

dibandingkan per unit berat badan makan kebutuhan gizi bayi jauh lebih besar dari usia

perkembangan lain. Makanan bergizi menjadi kebutuhan utama bayi pada proses tumbuh
kembangnya, sehingga kelengkapan unsur pada gizi hendaknya perlu diperhatikan dalam

makanan sehari-hari yang dikonsumsi bayi.

a. Energi

Kebutuhan energi pada bayi dapat diperoleh dari karbohidrat, lemak,

protein yang terkandung dalam makanan sehari-harinya. Kebutuhan energi pada

bayi meningkat sejalan dengan kenaikan berat badanya. Hal ini dikarenakan pada

masa bayi terjadi proses pertumbuhan yang sangat cepat sehingga kebutuhan

energi juga besar. Kebutuhan energi pada 2 bulan pertama adalah 120 kkal per

kilogram berat badan. Selama 6 bulan pertama kehidupanya, bayi membutuhkan

energi sebanyak 115-120 kkal per kilogram berat badan, sedangkan bayi usia 6

sampai 12 bulan rata-rata kebutuhan energinya 105-110 kkal per kilogram berat

badan. Kebutuhan energi bayi diantaranya digunakan untuk meningkatkan berat

badan melakukan aktifitas fisik ketika tidur dan bangun, mengatur suhu tubuh,

metabolisme makanan, serta untuk proses penyembuhan dari sakit.

b. Protein

Protein sangat penting pada tumbuh kembang bayi sejak di dalam

kandungan ibu sampai dilahirkan, sehingga protein harus selalu ada dalam

makanan yang di konsumsi. Asupan protin pada bayi sejak lahir samapai usia 6

bulan sekitar 2,2 gram per kilogram berat badan, sedangkan untuk bayi usia 6

bulan samapai 12 bulan membutuhkana protein 1,6 gram per kilogram berat

badan.

Asupan protein yang urang akan menyebabkan terhambatnya

pertumbuhan jaringan dan organ serta terhambatnya pertumbuhan yang akan

berpengaruh terhadap tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala. Sedangkan

asupan yang berlebihan pada bayi akan menyebabkan kelebihan asam amino
yang harus dimetabolisasi dan dieliminasi sehingga akan memperberta kerja

ginjal dan hati.

c. Lemak

Tidak ada rekomendasi khusus akan kebutuhan lemak pada bayi. ASI

menyiapkan 55% energy yang bersal dari lemak, hal ini memperlihatkan bahwa

betapa pentingnya asupan lemak bagi bayi. Kebutuhan lemak pada bayi semua

nya bersal dari ASI, ataupun susu formula, serta makanan pendamping ASI. ASI

lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang proses penyerapannya di

dalam alat pencernaan bayi akan lebih cepat dibanding asam lemak jenuh yang

berasal dari susu sapi. ASI juga mengandung asam lemak omega 3 yang

dibutuhkan untuk perkembangan otak.

d. Karbohidrat

Kebutuhan karbohidrat sangat tergantung pada besarnya kebutuhan

energi. Sumber karbohidrat pertama bagi bayi adalah laktosa yang terdapat dalam

ASI. ASI yang di konsumsi bayi mengandung laktosa sebesar 7%. Kadar laktosa

yang tinggi akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan lactobacillus dalam

usus bayi sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi. Selain itu, kadar laktosa

yang tinggi dapt memperbaiki penahanan (retensi) beberapa mineral penting

untuk pertumbuhan bayi, seperti kalium, fosfor, dan magnesium.

Bayi yang telah mulai mendapatkan makanan padat akan memperoleh

kabohidrat dari makanan jenis buah-buahan (glukosa), madu (fruktosa), sera gula

pasir (sukrosa). Karbohidta sebagai sumber energy dibutuhkan dalam jumlah

yang besar guna proses pertumbuhan bayi yang cepat sejak dilahirkan.

e. Vitamin

Vitamin merupakan unsur esensial bagi gizi normal. Vitamin adalah suatu zat

organik yang tidak dapat di buat oleh tubuh, tetapi di perlukan oleh tubuh untuk

pertumbuhan, perkembangan tubuh dan pemeliharaan kesehatan. Kecuali vitamin


D, semuakebutuhan vitamin pada bayi yang mendapatkan air susu ibu akan

terpenuhi selama mendapatkan ASI dalam jumlah cukup dan ibu memiliki status

gizi yang baik. Kebutuhan vitamin D yang ada dalam tubuh bayi dengan cara

mendapatkanpenyinaran sinar matahari. Penyinaran oleh sinar matahri

berlangsung selama 10-15 menit setiap hari. Hal ini akan memenuhi kebutuhan

bayi akan vitamin D sebesar 5 microgram (200 IU) per hari. Setelah bayi mulai

dengan makanan padat, bayi memperoleh vitamin dari asupan makanan padatnya

di samping dari ASI yang masih terus diberikan.

2.2.3 Tanda-tanda Kesiapan Bayi Menerima Makanan Pendamping ASI

Ada beberapa tanda bahwa bayi siap menerima makanan pendamping ASI yaitu:

1. Berat badan bayi adalah 2 x berat badan lahir.

2. Sudah mampu mengangkat kepala.

3. Sudah dapat didudukan tanpa di topang

4. Tangan mulai melakukan gerakan menggenggam.

5. Lebih sering menuntut minu susu.

6. menjulurkan lidah.

7. Senang/bergairah apabila di beri makan/minum yang didekatkan padanya.

8. Kadang-kadang memperlihatkan gerakan mengunyah.

9. Sering bangun tengah malam.

10. Apabila orang di sekitarnya sedang makan, kelihatan ada keinginan untuk

makan.

2.2.5. Manfaat Pemberian Makanan Pendamping ASI

Pemberian makanan pendamping asi mempunyai banyak manfaat untuk bayi

apabila disesuaikan dengan umur, adapun beberapa manfaat tersebut yaitu:


1. Menambah energy dan zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan bayi untuk

membantu proses pertumbuhan dan perkembangan.

2. Membantu bayi dalam proses beljar makan, di mulai dari makanan yang

bentuknya cair, semi padat dan padat

3. Mengembangkan kemampuan bayi untuk belajar mengunyah dan menelan.

Pemberian makanan pendamping ASI yang tidak sesuai dengan umur atau

disebut dengan pemberian makanan pendamping ASI dini (pada bayi usia kurang dari

6 bulan), maka dapat meningkatkan angka morbiditas pada bayi. Beberapa factor

yang menjadi alas an agar tidak memberikan makanan pendamping ASI dini,

diantaranya:

1. Memberikan perlindungan yang lebih baik pada bayi dari berbagai penyakit.

2. Memberikan kesempatan pada system pencernaan bayi agar berkembang

menjadi lebih matang.

3. Mengurangi resiko alergi makanan, resiko obesitas/gizi lebih.

2.2.6 Factor-faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makanan Pendamping

ASI

Secara umum pemberian makanan pendamping ASI di pengaruhi oleh beberapa factor,

diantaranya yaitu:

1. Faktor ekonomi, meliputi pendapatan keluarga dan harga pangan

2. Faktor social budaya, meliputi pantangan dalam mengkonsumsi jenis makan

tertentu yang lamba laun akan berubah menjadi kebiasaan/adat.

3. Agama, meliputi pantangan yang didasari oleh agama seperti makanan/minuman

tertentu dari sisi agama yang dianggap membahayakan jasmani dan rohani
4. Pendidikan, biasanya dikaitkan dengan pengetahuan yang akan berpengaruh

terhadap pemilihan bahan makanan yang akan diberikan untuk bayi atau anak.

5. Lingkungan, meliputi lingkungan keluarga, serta keterpaparan media.

2.3 Status Gizi

2.3.1 defenisi status gizi

Kata gizi berasal dari bahasa Arab yaitu ghidza yang berarti makanan sedangkan

menurut dialek Mesir, istilah ghidza dibaca ghizi. Ilmu gizi adalah ilmu yang

mempelajari tentang zat-zat gizi yang terdapat didalam makanan serta penggunaannya

didalam tubuh yang mencangkup beberapa proses, diantaranya pemasukan, pencernaan,

penyerapan, pengangkutan, metabolism, interaksi, penyimpanan dan pengeluaran.

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

penggunaan zat-zat gizi. Status gizi dibedakan menjadi status gizi kurang, baik dan lebih.

Untuk menilai satatus gizi, di gunakan indicator barat badan menurut umur (BB/U),

tinggi badan menurut umur (TB/U), ataupun berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

2.3.2 Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi bias di lakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1. Pengukuran antopometri

Pengukuran status gizi dengan cara antropometri menggunakan perhitungan

berdasarkan kurva WHO Z-Score. Parameter pengukuran antropometri yang dipakai

untuk menilai pertumbuhan fisik bayi dan anak yaitu:

A. Pengukuran berat badan menurut umur (BB/U)


Berat badan adalah salah satu parameter antropometri untuk menunjukan massa

tubuh. Dalam keadaan normal, penambahan berat badan sesuai dengan

pertambahan umur, hal ini disebabkan karena keadaan kesehatan yang baik,

keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi tercukipi sedangkan dalam

keadaan abnormal , terdapat 2 kemungkinan proses perkembangan berat badan,

yaitu proses perkembangan berat badan dapat berlangsung atau lambat dari

keadaan normal.

Pengkuran berat badan dapat menggunakan beberapa timbangan, diantaranya

adalah:

a. Timbangan injak otomatis/tidak otomatis

Cara pengukuran:

- Letakan timbangan di lantai yang datar sehingga tidak mudah bergerak

- Liat posisi jarum atau angka harus menunjukan angka 0

- Anak sebaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis, tidak memegang

atau mengantungi sesuatu

- Anak berdiri di atas timbangan tampa di pegangi

- Liat jarum sampai jarum berhenti

- baca angka yang di tunjukan oleh jarum timbangan

- Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan pergerakan jarum, baca

angka di tengah-tengah antara gerakan jarum kekanan dan kekiri .

b. Timbangan otomatis/tidak otomatis untuk bayi

Cara pengukuran:

- Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun

atau selama anak masih bisa berbaring

- Letakan timbangan pada meja/permukaan yang datar, keras dan tidak

goyang
- Bayi diletakan dalam papan sehingga berat badan dapat seimbang

disetiap sisi dari tengah papan

- Liat jarum timbangan samapai berhenti. Baca angka yang di tunjukan

oleh jarum timbangan

- Bila bayi terus menerus bergerak perhatikan gerakan jarum baca angka di

tengah-tengah antara gerakan jarum kekanan dan kekiri (catat pada status

bahwa pengukuran di lakukan dalam keadaan bayi bergerak terus/rewel).

c. Timbangan gantung (dacin) untuk bayi dan balita

Cara pengukuran:

- Timbangan dacin dan sarung timbangan digunkan untuk mengukur berat

badan bayi di bawah kurang 2 tahun

- Bayi ditimbang dalam keadaan memakai baju sehari-hari

- Letakan bayi dalam sarung

- Berat badan diukur dengan membaca skala.

d. Timbangan yang lengkap dengan pengukur tiggi badan yang biasanya di

gunakan untuk remaja dan dewasa.

Klasifikasi status gizi berdasarkan index BB/U:

1. Gizi baik : Kurva WHO Zscore ≥ - 2 SD

2. Gizi kurang : Kurva WHO Zscore ≥ - 3 SD s/d < - 2 SD

3. Gizi buruk : Kurva WHO Zscore < - 3 SD

B. Pengukuran Panjang Badan/Tinggi Badan menurut umur (TB/U)

Pengukuran panjang badan biasanya digunakan untuk anak yang berusia < 2

tahun dan panjang badan ≤ 50 cm dengan menggunakan alat yang di kenal

dengan length board atau infantometer. Pada usia 0-6, penambahan panjang

badan bayi sekitar 2,5 cm setiap bulan sedangkan pada usia 6-12 bulan hanya

1,25 cm setiap bulannya. Cara pengukuran :


- Pengukuran dilakukan oleh 2 orang

- Bayi di baringkan terlentang pada alas yang datar

- Posisi kepala bayi menempel pada pembatas angka 0

- Petugas 1: memegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas

angka 0 dengan menggunakan kedua tangan

- Petugas 2: tangan kiri memegang lutut bayi agar dalam posisi lurus dan

tangan kanan untuk menekan batas kaki ketelapak kaki

- Petugas 2 membaca skala ditepi luar pengukur.

Pengukuran tinggi badan menggambarkan status gizi di masa lalu dan

digunakan untuk angka yang berusia > 2 tahun dengan panjang badan ≥ 80

cm atau untuk anak yang sudah bias berdiri tanpa adanya bantuan.

Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan meggunakan alat yang di kenal

dengan micro toise yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. konverdi dari panjang

badan ketinggi badan (dengan mengurangi 0,7 cm) begitu pula sebaliknya.

Cara pengukuran :

- Pasang micro toise terlebih dahulu

- Posisi standar kepala yang dipakai adalah posisi pada bidang horizontal

dan melewati bagian meatus telinga

- Disarankan pada posisi berdiri menggunakan pemberat kepala ± 0,5 kg

untuk menekan rambut dalam posisi datar pada saat alat digerakan keatas

atau kebawah

- Pada posisi yang benar, subyek diinstruksikan untuk menarik nafas

dalam dalam posisi tegak dan pada saat yang sama pengukur menekan

pada tulang mastoid yang menonjol untuk menahan posisi pada saat

menarik nafas tadi, lalu berikan instruksi pada subyek untuk

menghembuskan nafas dan relaksi menurunkan posisi bahunya.


Klasifikasi status gizi berdasarkan TB/U:

1. Normal : Kurva WHO Zscore ≤ - 2 SD

2. Pendek : Kurva WHO Zscore ≥ - 3 SD s/d < - 2 SD

3. Sangat pendek : Kurva WHO Zscore < - 3 SD

C. Pengukuran Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Pengukuran berat badan menurut tinggi badan merupakan indicator yang

baik untuk menilai keadaan status gizi masa sekarang. Menurut beberapa ahli,

mereka menyatakan bahwa dalam keadaan normal perkembangan berat badan

akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu atau

dengan kata lain berat badan memiliki hubungan linear dengan tinggi badan.

Klasifikasi status gizi berdasarkan BB/TB:

1. Normal : Kurva WHO Zscore < - 3 SD

2. Kurus : Kurva WHO Zscore ≥ - 3 SD s/d < - 2 SD

3. Sangat kurus : Kurva WHO Zscore ≥ - 2 SD s/d ≤ 2 SD

4. Gemuk : Kurva WHO Zscore > 2 SD

D. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)

Pengukuran lingkar lengan atas pada anak usia 1-5 tahun merupakan

salah satu indicator status gizi. Interprestasi dari pengukuran LILA adalah

sebagai berikut:

1. Gizi baik : > 13,5 cm

2. Gizi kurang : 12,5 – 13,5 cm

3. Gizi buruk : < 12,5 cm

E. Pengukuran Lingkar Kepala Menurut Umur (LK/U)


Cara pengukuran:

- Alat pengukur dilingkarkan pada kepala anak dimulai dari glabella,

menutupi alis, diatas kedua telingga, samapai ke bagian belakang kepala

yang menonjol dan ditarik agak kencang

- Baca angka pada pertemuan angka 0

- Tanyakan identitas bayi atau anak meliputi tanggal lahir dan hitung umur

bayi atau anak

- Hasil pengukuran dicatat pada grafik kepala dari nellhaus sesuai dengan

umur dan jenis kelamin

- Buat garis yang menghubungkan umur dengan ukuran lingkar kepala

- Interpretasi:

1. Normal : antara - 2 SD dengan + 2 SD

2. Makrosefal : > + 2 SD

3. Mikro : < - 2 SD

2. Penilaian secara Biokimia

Penilaian biokimia dapat digunakan untuk mendeteksi keadaan defisiensi

subklinis. Penilaian status gizi dengan cara biokimia meliputi pemeriksaan specimen yang

diuji secara laboraturium yang dilakukan pada berbagai jaringan tubuh. Pemeriksaan

specimen tersebut mencakup pemeriksaan darah, urin, tinja, dan jaringan tubuh yang lain

seperti pada hati dan otot.

3. Penilaian sacara Klinis

Penilaian status gizi secara klinis dapat diperoleh melalui pemeriksaan fisik.

Metode ini didasarkan pada perubahan-perubahan klinis yang dikaitkan dengan

kekurangan gizi meliputi tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Penilaian dengan
metode ini dapat dinilai melalui jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, mukosa atau

organ yang dekat dengan permukaan tubuh.

2.3.3 Masalah Gizi

Akibat yang ditimbulkan dari masalah gizi yaitu adanya hambatan dalam proses

tumbuh kembang, baik fisik maupun mentalnya. Selain itu, gizi kurang juga akan

mempengaruhi perkembangan otaknya sehingga jika tidak di tangani dengan baik,

penderita kurang gizi akan mengalami penurunan dalama tingkat kecerdasan.

1. Marasmus

Marasmus merupakan gangguan akibat kekurangan zat gizi yng di

butuhkan oleh tubuh. Marasmus terjadi bukan saja disebabkan kekurangan

protein melainkan juga menderita kekurangan protein maelainkan juga menderita

kekurangan energi dan zat gizi lainnya. Istilah marasmus di gunakan untuk

menggambarkan seorang anak yang berat badannya sangat kurang dari berat

badan seharusnya.

Ciri-ciri utama anak yang mengalami marasmus adalah otot yang

mengecil (atropi), hamper tidak ada lapisan lemak di bawah kulit, wajah tampak

tua, berat badan sangat kurang yaitu kurang dari 60% dari berat badan.

Biasanya marasmus terjadi karena kelaparan atau kemiskinan. Marasmus

dapat terjadi pada usia yang masi sangat dini yaitu pada bulan setelah lahir. Hal

ini tentu saja sangat membahayakan karena apabila hal ini berlangsung terus

menerus dapat menyebabkan terjadinya hambatan dalam proses rumbuh kembang

anak bahkan dapat menyebabkan kematian.

2. Obesitas atau kegemukan

Bayi yang gemuk memang meggemaskan, tetapi perlu disadari bahwa

bayi yang gemuk tidak selamanya baik. Bayi yang kegemukan mempunyai
kemungkinan lebih besar untuk tetap kegemukan pada masa pubertas dan dewasa

serta mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit degenerative, seperti

penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan lain-lain.

Obesitas atau kegemukan disebabkan oleh penumpukan lemak yang

berlebihan sebagai akibat konsumsi energi yang melebihi kebutuhan termasuk

kebutuhan untuk pertumbuhan energy untuk pertumbuhan. Hal ini desebabkan

tidak seimbangnya julah energy yang di keluarkan untuk melakukan aktivitas

dengan jumlah energy yang masuk kedalam tubuhnya. Penyebab gangguan ke

seimbangan energy antara lain factor keturunan, konsumsi energi, dan

pengeluaran energi.

Salah satu cara untuk mengatasi obesitas pada bayi adalah dengan

mengatur pola makan sehari-hari. Usahakan agar jumlah energi yang di konsumsi

seimbang dengan aktifitas.

2.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi

Kebutuhan zat gizi seseorang di pengaruhi beberapa factor, yaitu:

1. Umur

Semangkin bertambah umur maka kebutuhan zat gizi seseorang relatih lebih

rendah untuk tiap kilogram berat badannya . hal ini desebabkan oleh usia balita

terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.

2. Aktivitas

Makin berat aktivitas yang dilakukan maka kebutuhan akan zat gizi seseorang

akan meningkat, terutama energy.

3. Jenis kelamin
Kebutuhan zat gizi berbeda antara laki-laki dengan perempuan. Hal ini

disebabkan karena jenis aktivitas dan jaringan penyusun tubuh seperti jaringan

lemak yang cenderung lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

4. Kondisi khusus

Kondisi khusus yang dimaksud adalah kondisi hamil, menyusui dan sakit.

5. Lingkungan

orang yang tinggal didaerah pegununganyang dingin membutuhkan zat gizi lebih

tinggi dibandingkan daerah pesisir yang panas.


2.4. Kerangka Teori
2.5. Kerangka Kosep