Anda di halaman 1dari 14

http://www.merdeka.com/peristiwa/ketika-samad-ditanduk-banteng.

html

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menetapkan calon Kapolri Komjen Budi
Gunawan sebagai tersangka gratifikasi. Sejak saat itu, sejumlah serangan bertubi-tubi datang ke
lembaga antirasuah itu, khususnya kepada Ketua KPK Abraham Samad.

Selang satu hari penetapan tersangka Budi Gunawan, muncul foto mesra mirip Abraham dengan
Putri Indonesia Elvira Devinamira. Belakangan, diketahui foto itu palsu.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) paling geram dengan penetapan tersangka Budi
Gunawan ini. Wajar saja, Budi Gunawan adalah orang dekat Ketua Umum PDIP Megawati
Soekarnoputri.

Sejak penetapan tersangka pun PDIP paling ngotot ingin Budi Gunawan tetap dilantik jadi Kapolri.
Kini, partai berlogo Banteng itu secara terang-terangan menyerang pribadi Abraham Samad dengan
menyebut ada pertemuan beberapa kali jelang pilpres. Abraham disebut ingin jadi cawapres Jokowi.

Serangan ini berawal dari isi tulisan bebas netizen yang beredar di internet berjudul 'Rumah Kaca
Abraham Samad'. Di sana dijelaskan secara detail enam kali pertemuan antara elite PDIP dan
Abraham di sebuah apartemen, sampai di bandara.

Abraham melalui juru bicara KPK, Johan Budi sudah membantah hal ini. Menurut dia, tuduhan ini
hanya fitnah belaka.

Berikut serangan-serangan partai banteng itu kepada Abraham Samad, dihimpun merdeka.com,
Jumat (23/1)
Dampak Kenaikan BBM Dilihat dari Segi Ekonomi

Rencana pemerintah menaikkan harga BBM pada awal


April ramai menghiasi ruang public. Terlepas jadi atau tidaknya kebijakan ini, tentu
akan lebih baik jika kita sudah mempersiapkan dampaknya. Tanpa antisipasi dan
pengendalian yang baik, kenaikan harga BBM bukan hanya akan berdampak pada
aspek ekonomi, namun juga dapat merembet ke aspek sosial dan politik.

Rencana kenaikan BBM tahun 2012 juga bukannya tanpa tantangan. Rencana
kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), kenaikan harga komoditas global, pembatasan
impor hortikultura menjadi faktor-faktor potensial yang dapat semakin mengerek
angka inflasi. Karenanya, kita musti lebih bersiap-siap untuk mengantisipasi
kenaikan BBM tahun ini dengan mengelola hal-hal yang dapat dikontrol sehingga
dampak kenaikan BBM dapat ditekan serendah mungkin.

Ekspektasi Masyarakat
Kenaikan harga BBM sejatinya berpengaruh pada keranjang IHK untuk kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, khususnya sub kelompok transportasi.
Secara natural, rencana kenaikan harga BBM sebesar 33,3 persen sebenarnya tidak
terlalu berpengaruh besar terhadap pembentukan angka inflasi secara keseluruhan.
Namun kuatnya hubungan BBM dengan komoditas lain dan ekspektasi inflasi
masyarakat membuat pengaruh kenaikan BBM terhadap pembentukan angka inflasi
menjadi sangat besar.

Ekspektasi inflasi oleh Dornbusch dijelaskan sebagai perkiraan rasional mengenai


masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Masyarakat
berasumsi adanya kenaikan harga BBM akan diikuti oleh kenaikan harga barang-
barang lain. Sebagai langkah antisipasi, masyarakat melakukan belanja besar-
besaran (panic buying), selagi harga belum naik. Langkah antisipasi ini selintas
memang nampak rasional. Namun jika dilihat secara lebih makro, langkah antisipasi
ini justru menciptakan kenaikan permintaan yang cukup tinggi padahal sisi
penawaran tidak mengalami perubahan. Akibatnya, harga naik. Padahal jika saja
masyarakat tetap berlaku normal dan tidak melakukan panic buying, kenaikan harga
tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi.

Penimbunan
Sepeti tertulis dalam hukum ekonomi, manusia mempunyai kecenderungan untuk
mencari keuntungan sebesar-besarnya. Momentum kenaikan BBM bagi sebagian
kalangan juga dapat dijadikan kesempatan untuk mengail keuntungan sebesar-
besarnya. Menjelang kenaikan BBM, biasanya ada saja orang yang memborong
BBM dan barang kebutuhan pokok dalam jumlah besar untuk disimpan sampai
dengan terjadinya kenaikan harga. Sesaat, sang pelaku sepertinya memang
mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Padahal perilaku seperti ini akan
mengerek harga barang secara lebih luas. Dampak kenaikan harga ini jelas
merugikan masyarakat yang pada akhirnya juga berpengaruh pada pelaku
penimbun itu sendiri.

Perilaku penimbunan jelas merugikan. Oleh karena itu, perilaku ini harus diantisipasi
bersama-sama. Ujung tombak upaya ini adalah penegak hukum dalam hal ini
kepolisian. Polisi melakukan identifikasi lokasi dan pelaku penimbunan untuk
kemudian melakukan tindakan hukum. Apabila upaya ini dapat dilakukan secara
efektif, potensi penimbunan dapat direduksi sehingga dampak kenaikan harga BBM
dapat relatif terkendali.

Operasi Pasar dan Koordinasi


Dalam hal diperlukan, pemerintah juga dapat mengambil inisiatif dengan melakukan
operasi pasar untuk barang-barang kebutuhan pokok. Secara share, operasi pasar
memang tidak besar. Namun operasi pasar adalah bentuk kepedulian pemerintah
terhadap pergerakan harga yang terjadi di tengah masyarakat. Operasi pasar adalah
wujud nyata dari kepedulian pemerintah untuk membantu masyarakat memenuhi
barang kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Dampak operasi pasar, baik secara langsung maupun tidak, cukup positif terhadap
pengendalian harga. Secara psikologis, masyarakat merasa bahwa pemerintah
peduli akan pergerakan harga. Ketika harga naik, pemerintah akan turun tangan.
Pada jangka panjang hal ini akan berkontribusi positif pada pembentukan ekspektasi
inflasi masyarakat terhadap pengendalian harga. Di sisi pedagang, kepedulian
pemerintah akan membuat mereka berpikir dua kali untuk memainkan harga dengan
tidak wajar.

Menurut Tjahjo, pemerintah seharusnya tetap memberi subsidi dan menjaga harga
BBM dalam negeri tetap stabil. Karena, ia menambahkan, kenaikan harga BBM
akan berpengaruh pada kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat yang lain.
"Harusnya pemerintah mempunyai opsi lain selain kenaikan BBM, apapun yang
namanya subsidi untuk rakyat itu harus ada. Karena implikasi kenaikan BBM ini
termasuk kenaikan harga kebutuhan sehari-hari," jelas Tjahjo.
http://dalila-re.blogspot.com/2012/04/dampak-kenaikan-bbm-dilihat-dari-segi.html
RENCANA KENAIKAN BBM DARI SEGI EKONOMI (untung atau rugi?)

http://iyibatara.blogspot.com/2012/04/rencana-kenaikan-bbm-dari-segi-
ekonomi.html

Rencana pemerintah menaikkan harga BBM pada awal April mendatang ramai menghiasi
ruang publik akhir-akhir ini. Terlepas jadi atau tidaknya kebijakan ini, tentu akan lebih baik
jika kita sudah mempersiapkan dampaknya. Tanpa antisipasi dan pengendalian yang baik,
kenaikan harga BBM bukan hanya akan berdampak pada aspek ekonomi, namun juga dapat
merembet ke aspek sosial dan politik.
Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 mengingatkan kita
pada kenaikan BBM yang terjadi pada Maret 2005 dan Mei 2008 dengan besaran yang
kurang lebih sama yaitu sekitar ± 30 persen. Dampak kebijakan kenaikan BBM terasa lebih
besar pada 2008 karena dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas global yang berkorelasi
positif dengan kenaikan biaya produksi.
Rencana kenaikan BBM tahun 2012 juga bukannya tanpa tantangan. Rencana kenaikan Tarif
Dasar Listrik (TDL), kenaikan harga komoditas global, pembatasan impor hortikultura
menjadi faktor-faktor potensial yang dapat semakin mengerek angka inflasi. Karenanya, kita
musti lebih bersiap-siap untuk mengantisipasi kenaikan BBM tahun ini dengan mengelola
hal-hal yang dapat dikontrol sehingga dampak kenaikan BBM dapat ditekan serendah
mungkin.
EKSPEKTASI MASYARAKAT
Kenaikan harga BBM sejatinya berpengaruh pada keranjang IHK untuk kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, khususnya sub kelompok transportasi. Secara
natural, rencana kenaikan harga BBM sebesar 33,3 persen sebenarnya tidak terlalu
berpengaruh besar terhadap pembentukan angka inflasi secara keseluruhan. Namun kuatnya
hubungan BBM dengan komoditas lain dan ekspektasi inflasi masyarakat membuat pengaruh
kenaikan BBM terhadap pembentukan angka inflasi menjadi sangat besar.
Ekspektasi inflasi oleh Dornbusch dijelaskan sebagai perkiraan rasional mengenai masa
depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Masyarakat berasumsi adanya
kenaikan harga BBM akan diikuti oleh kenaikan harga barang-barang lain. Sebagai langkah
antisipasi, masyarakat melakukan belanja besar-besaran (panic buying), selagi harga belum
naik. Langkah antisipasi ini selintas memang nampak rasional. Namun jika dilihat secara
lebih makro, langkah antisipasi ini justru menciptakan kenaikan permintaan yang cukup
tinggi padahal sisi penawaran tidak mengalami perubahan. Akibatnya, harga naik. Padahal
jika saja masyarakat tetap berlaku normal dan tidak melakukan panic buying, kenaikan harga
tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi.
Pada konteks ini, peran pemerintah dan media massa menjadi sangat penting. Pemerintah
perlu melalui media massa perlu melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak
melakukan panic buying. Bahwa sesungguhnya yang mengalami kenaikan harga hanya BBM
saja, bukan semua barang kebutuhan masyarakat. Bahwa persediaan barang kebutuhan
masyarakat juga dalam keadaan cukup.
Pernyataan pemerintah ini juga harus diiringi dengan penyediaan barang kebutuhan
masyarakat yang memadai. Hal ini dapat dimulai dari persediaan BBM itu sendiri.
Pemerintah dapat meminta Pertamina untuk menjamin kebutuhan masyarakat menjelang dan
setelah kenaikan BBM dalam keadaan cukup. Kecukupan pasokan ini penting untuk menjaga
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas persediaan BBM. Selain BBM,
pemerintah melalui dinas teknis terkait juga harus memastikan bahwa persediaan barang-
barang kebutuhan pokok masyarakat dalam keadaan cukup.
Media massa selain sebagai jalur edukasi, media juga punya peran istimewa. Dalam dunia
jurnalisme modern, khususnya di era reformasi, media massa mempunyai keleluasaan untuk
membentuk frame sesuai dengan ide dan kepentingan media itu sendiri. Dalam konteks
kenaikan harga BBM, media dapat membentuk opini publik yang mengarahkan ekspektasi
inflasi masyarakat. Opini masyarakat dapat diarahkan untuk tidak melakukan panic buying
yang dapat menimbulkan kenaikan harga secara agregat.
Pada akhirnya, sinergi pemerintah dan media massa menjadi sangat penting mengingat
masyarakat terkadang membuat asumsi sendiri karena adanya informasi yang asimetrik.
Adanya informasi resmi dan berimbang yang disampaikan oleh otoritas berwenang—dalam
hal ini pemerintah—membantu masyarakat memperoleh informasi yang pasti sehingga dapat
mengambil keputusan yang tepat. Pengelolaan ekspektasi inflasi masyarakat yang baik akan
berpengaruh positif pada pengendalian dampak kenaikan harga BBM.
PENIMBUNAN
Sepeti tertulis dalam hukum ekonomi, manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari
keuntungan sebesar-besarnya. Momentum kenaikan BBM bagi sebagian kalangan juga dapat
dijadikan kesempatan untuk mengail keuntungan sebesar-besarnya. Menjelang kenaikan
BBM, biasanya ada saja orang yang memborong BBM dan barang kebutuhan pokok dalam
jumlah besar untuk disimpan sampai dengan terjadinya kenaikan harga. Sesaat, sang pelaku
sepertinya memang mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Padahal perilaku seperti ini
akan mengerek harga barang secara lebih luas. Dampak kenaikan harga ini jelas merugikan
masyarakat yang pada akhirnya juga berpengaruh pada pelaku penimbun itu sendiri.
Perilaku penimbunan jelas merugikan. Oleh karena itu, perilaku ini harus diantisipasi
bersama-sama. Ujung tombak upaya ini adalah penegak hukum dalam hal ini kepolisian.
Polisi melakukan identifikasi lokasi dan pelaku penimbunan untuk kemudian melakukan
tindakan hukum. Apabila upaya ini dapat dilakukan secara efektif, potensi penimbunan dapat
direduksi sehingga dampak kenaikan harga BBM dapat relatif terkendali.
OPERASI PASAR DAN KOORDINASI
Dalam hal diperlukan, pemerintah juga dapat mengambil inisiatif dengan melakukan operasi
pasar untuk barang-barang kebutuhan pokok. Secara share, operasi pasar memang tidak
besar. Namun operasi pasar adalah bentuk kepedulian pemerintah terhadap pergerakan harga
yang terjadi di tengah masyarakat. Operasi pasar adalah wujud nyata dari kepedulian
pemerintah untuk membantu masyarakat memenuhi barang kebutuhan pokok dengan harga
terjangkau.
Dampak operasi pasar, baik secara langsung maupun tidak, cukup positif terhadap
pengendalian harga. Secara psikologis, masyarakat merasa bahwa pemerintah peduli akan
pergerakan harga. Ketika harga naik, pemerintah akan turun tangan. Pada jangka panjang hal
ini akan berkontribusi positif pada pembentukan ekspektasi inflasi masyarakat terhadap
pengendalian harga. Di sisi pedagang, kepedulian pemerintah akan membuat mereka berpikir
dua kali untuk memainkan harga dengan tidak wajar.
Upaya lain yang lebih normatif dapat dilakukan dengan menggandeng para pelaku usaha
besar sebagai mitra dalam pengendalian dampak kenaikan harga BBM. Para pelaku usaha
diharapkan dapat tetap mempertahankan harga agar tetap pada level yang stabil. Kenaikan
harga barang sedapat mungkin dilokalisir hanya sebatas pada barang-barang yang memang
berhubungan kuat dengan BBM. Kombinasi upaya-upaya tersebut, jika dilakukan dengan
efektif dan terkoordinasi, akan dapat mengurangi dampak buruk akibat kenaikan harga BBM.

BBM Naik, Mari Baca Fikih


http://jurnalekis.blogspot.com/2012/05/bbm-naik-mari-baca-fikih.html

Harga BBM bakal dipastikan naik lagi. Perhitungan secara ekonomi, baik mikro maupun makro,
konon mengharuskannya. Para pengamat ekonomi pun berlomba berkomentar. Ada yang
mendorong secepatnya diberlakukan, mengkritisi, ataupun bersikap tengah-tengah. Soal apakah
kenyataan tersebut tidak terlepas dari ''salah urus'' kebijakan ekonomi selama ini, agaknya sudah
terlambat (atau tersumbat?) untuk didebat ulang.

Sementara, demo-demo mahasiswa telah berlangsung gegap gempita. 'Anjing menggonggong


kafilah berlalu'. Pepatah itu rasanya pas untuk menggambarkan kenaikan BBM. Pemerintah mungkin
saja pusing, tapi buktinya ''kepepet'' dan mau tidak mau menggulirkan kebijakan tersebut demi
memotong beban subsidi BBM yang membelit. Paras negeri kita memang masih dipolesi oleh tindak-
tindak KKN, eksploitasi, dan monopoli yang sudah terwarisi puluhan tahun. Penyelesaian hukum pun
masih jauh dari cita. Prakarsa Developmentalisme sebagai bentuk kapitalisme baru menjadi
''ideologi'' yang makin tangguh saja.

Hutang negara kian membengkak yang dikhawatirkan akan merapuhkan fundamental ekonomi kita.
Kucuran bantuan lembaga donor internasional dicermati sebagai bagian dari upaya penguatan Neo-
Liberalisme. Jangan-jangan, negara kita kadung kesengsem menikmati ekonomi biaya tinggi (high
cost economy). Rupiah pun kebat-kebit cenderung melemah. Dan rakyat lah yang ikutan tercekik, tak
henti merasakan getir dari kebijakan yang tak segera direformasi ini. Pembangunan yang bersifat
mercusuar tanpa pemerataan disebut-sebut sebagai biang keladi kesenjangan yang tampak
menganga. Daya beli masyarakat tidak seimbang dengan kian menanjaknya harga kebutuhan primer
hidup. Ongkos sosial yang ditanggung rakyat jadi semakin mahal.

Hitungan fikih
Sebagai rakyat biasa yang mencintai bangsa ini, saya merasa terpanggil untuk ikut bicara. Kali ini,
disiplin yang coba saya gunakan berkomentar yaitu melalui kaca mata fikih. Mungkin sekedar
secercah pandangan yang ditempa oleh harapan akan kearifan (wishfull thinking) di tengah
canggihnya pandangan lain, terutama dari segi disiplin ekonomi. Nyatanya, memang yang
dibutuhkan bukan lagi utak-atik matematis, tetapi praksis keadilan yang nyata.

Nah, bagaimana fikih bersikap? Pada dasarnya, fikih menghendaki tidak adanya rekayasa yang
merugikan dalam perputaran ekonomi. Penentuan harga diserahkan pada mekanisme pasar. Fakta
sejarah --seperti diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah-- pernah pada suatu saat harga barang-
barang di pasar Madinah membubung tinggi. Lalu umat Islam meminta Nabi Muhammad untuk
intervensi penentuan harga (ta'sir). Ternyata, Nabi menolak permintaan itu. Beliau tidak mau
intervensi dengan mematok harga tertentu. Artinya, Nabi memilih pasar bebas.

Berdasarkan riwayat ini, mayoritas ulama menetapkan keharaman intervensi harga (ta'sir). Menurut
mereka, ta'sir adalah kedzaliman. Alasan hukumnya ('illat) karena pada dasarnya masing-masing
orang diberi kemerdekaan untuk memutar hartanya. Intervensi penguasa dalam menentukan harga
merupakan pengekangan terhadap kebebasan orang. Di samping juga bertentangan dengan prinsip
jual beli yang saling rela ('an taradhin minkum).

Logika hukumnya seperti dinyatakan Syarbini Khathib dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj pada saat
yang sama, pemerintah berkewajiban memelihara kemashlahatan rakyat. Pemihakan pemerintah
untuk memelihara kemashlahatan pembeli dengan harga yang rendah, tidak lebih utama ketimbang
keinginan penjual untuk mendapatkan harga yang diinginkannya. Namun, jika pemerintah tidak
melakukan intervensi penetapan harga (ta'sir), tidakkah memberi peluang bagi pelaku ekonomi
untuk bermain harga semisal oligopoli? Jawabannya, tentu terbuka peluang ke arah itu.

Sejalan keharaman ta'sir, fikih tetap konsisten memotong segala tindakan dan rekayasa yang
membuat harga naik-turun, tidak alami lagi. Karena itu, fikih melarang penimbunan barang (ihtikar),
memborong barang di bawah standar sebelum masuk pasar (talaqi al-rukhban), mempermainkan
harga (tala'ub bi al-tsaman), menipu dalam jual beli (tagrir), riba, percaloan (najs), atau seperti kasus
membiarkan susu ternaknya tidak diperah agar dianggap selalu bersusu banyak (tashriyah), dan
masih banyak lagi praktik ekonomi yang dilarang fikih. Intinya, segenap bentuk tindakan nakal, baik
oleh pembeli maupun penjual yang bakal menimbulkan stabilitas pasar menjadi terganggu dengan
naik turunnya harga yang tidak alami, dilarang keras oleh fikih.

Simpulan yang bisa ditarik dari selintas penjelasan fikih ini, ta'sir adalah bentuk dari idealisme fikih
untuk mewujudkan ekonomi yang sehat dan adil. Ketiadaan kebijakan ta'sir memang menuntut
reformasi total dalam konteks perekonomian di negeri kita. Penyerahan harga pada mekanisme
pasar menuntut undang-undang antimonopoli, pemerintah yang bersih dan adil (clean government),
pemerataan sumber daya ekonomi, pendongkrakan daya beli masyarakat, dan tindakan konsisten
pemerintah untuk memerangi tindakan apapun yang menjadi virus bagi penyehatan ekonomi. Jika,
syarat-syarat ini terpenuhi, kebijakan ta'sir secara fikih bisa diwujudkan sepenuhnya.
Akan tetapi, apa boleh buat, kebijakan naiknya BBM sudah tak terelakkan lagi. Kita telah berhadapan
dengan alam nyata, bukan lagi hitung-hitungan di atas kertas. Lagi-lagi, rakyat kecil yang paling
merasakan beban berat menanggung biaya hidup yang kian melonjak tinggi. Pemerintah memang
memilih kebijakan menyediakan dana kompensasi bagi rakyat miskin. Ini setidaknya ''pelipur lara''
untuk mengurangi beban berat rakyat kecil. Yang penting, penyaluran dana itu berjalan dengan
mulus, tanpa ada penyelewengan yang sudah sekian lama kerap terpampang dihadapan mata dan
telinga rakyat. Dan mereka yang 'bermain di air keruh' dengan menyelundupkan BBM harus dihajar
habis lewat penegakan hukum.

Secara fikih, dalam kondisi seperti ini, pemerintah perlu turun tangan melakukan intervensi pasar.
Karenanya, kebijakan ta'sir menjadi keharusan pemberlakuannya. Kaidah fikih menyebutkan;
kemashlahatan umum bisa mengalahkan kemashlahatan khusus. Kalau tidak ada ta'sir, diasumsikan
akan mewujudkan kemashlahatan beberapa gelintir orang. Sementara, kebijakan ta'sir digunakan
untuk mewujudkan kemashlahatan masyarakat banyak (mashlahah al-'ammah).

Sudah barang tentu, fikih meneguhkan bahwa kebijakan ta'sir harus disesuaikan dengan tingkat
ekonomi rakyat. Abu Zakaria al-Nawawi, ulama fikih klasik dalam kitabnya al-Majmu' Syarah al-
Muhadzdzab, dan Yusuf al-Qaradhawi, ulama kontemporer dalam al-Halal wa al-Haram Fi al-Islam
sama-sama mewanti-wanti perlunya standardisasi bahwa mematok kebolehan ta'sir sampai pada
batas yang masih bisa dijangkau oleh kemampuan rakyat (tsaman al-mitsl). Sehingga, kalau saja ta'sir
yang dilakukan pemerintah ditetapkan pada harga tinggi, maka harus diturunkan sesuai dengan daya
beli masyarakat.

Walhasil, prinsipnya pemerintah harus selalu memperhatikan kemashlahatan rakyat, tidak


terkungkung oleh intervensi asing yang memendam kepentingan ekonomi ataupun politik. Dalam
kaidah fikih jelas ditegaskan: tasharruf al-imam 'ala al-ra'iyyah manuthun bi al-mashlahah, yakni
kebijakan pemerintah kepada rakyat harus selalu didasarkan pada kemashlahatan rakyat. Hanya
saja, pertanyaan kritis (atau mungkin na'if?) masih akan terus bergelayut di benak rakyat; apakah
kenaikan BBM yang otomatis berpengaruh pada kenaikan harga banyak barang konsumsi dan
lainnya telah mencerminkan perwujudan kemashlahatan umum?

Said Aqiel Siradj, Ketua PBNU

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

- See more at: http://jurnalekis.blogspot.com/2012/05/bbm-naik-mari-baca-


fikih.html#sthash.1Vfz8D7E.dpuf

Home » Ekonomi » Mikro

Daya Beli Turun Akibat BBM Naik, Sandiaga Uno: Hanya Sementara
Suci Sedya Utami - 25 November 2014 14:59 WIB
Ilustrasi aktivitas pengisian BBM di SPBU -- FOTO: Antara/Puspa

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengusaha yang juga merupakan Co-Founder of Saratoga Capital,


Sandiaga Uno, memandang positif langkah pemerintah yang telah menaikkan harga BBM subsidi.

"Menurut saya, para pengusaha harus lebih jeli bagaimana mengelola energi mereka dan menjaga
cost, mengelola biaya kita agar lebih berdaya saing," kata Sandiaga, ditemui dalam acara Indonesia
Economic Forum, di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (25/11/2014).

Dirinya mengakui, akibat kenaikan harga BBM subsidi daya beli masyarakat akan menurun. Namun
hal tersebut tentu hanya bersifat sementara. Ia yakin kedepannya daya beli masyarakat akan
kembali seperti sediakala.

"Saya yakin sih sebetulnya dari segi daya beli akan kembali dua tiga bulan ke depan," katanya
optimistis.

Namun tentu, katanya melanjutkan, harus ada bauran kebijakan yang tepat dari pemerintah untuk
menyokong pertumbuhan agar bisa tetap dijaga.

"Yang kita pikirkan itu harusnya adalah bukan ekonomi APBN gitu. Tapi ekonomi negara secara
keseluruhan. Begitu kita memiliki satu sumber pendapatan yang lebih berdaya saing atau kompetitif,
maka peluang itu akan lahir dengan sendirinya," pungkasnya
ANALISIS KEBIJAKAN SUBSIDI HARGA BBM : DAMPAK NEGATIF
KEBIJAKAN CEILING PRICE TERHADAP BEBAN SUBSIDI
PEMERINTAH

1. Latar Belakang

Di Indonesia, bahan bakar minyak atau yang kita sering menyebutnya dengan BBM
merupakan barang yang sangat berpengaruh terhadap stabilnya perekonomian. Karena naik
turunnya harga BBM sangat berpengaruh terhadap perubahan harga-harga barang lain.

Secara mekanisme pasar harga BBM akan menyesuiakan dengan harga minyak dunia. Ketika
minyak dunia mengalami kenaikan maka harga BBM akan juga ikut naik. Oleh karena itu diperlukan
penetapan harga BBM agar menstabilkan perekonomian. Tidak stabilnya perekonomian bisa
membawa kesejahteraan masyarakat mengalami penurunan.

Gambar 1

Perkembangan Harga BBM di Indonesia 1990-2011 (sumber diolah oleh Direktorat Jenderal
Minyak dan Gas Bumi)

Harga minyak dunia sendiri sering kali mnegalami naik turun. Perkembangan harga minyak
dunia sering kali dipengaruhi oleh pergolakan politik atau konflik di wilayah timur tengah yang
merupakan salah satu penyedia terbesar cadangan minyak mentah dunia. Dampaknya harga BBM di
Indonesia juga mengalami naik turun. Hal ini bisa dilihat di gambar 1.

Pemerintah sebagai pelaku kebijakan mempunyai andil besar dalam berjalannya


perekonomian suatu Negara. Untuk mengendalikan harga BBM biasanya pemerintah mengambil
kebijakan penetapan harga tertinggi untuk BBM. Konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah
pemerintah diharuskan mensubsidi harga BBM.

Subsidi BBM sangat membutuhkan dana yang besar sehingga akan mengurangi APBN untuk
program pembangunan. Pada tahun 2012 Indonesia hingga tutup buku 28 Desember 2012 lalu,
subsidi bahan bakar minyak mencapai Rp 211,9 triliun, atau mencapai 154,22% dari pagu subsidi
BBM dalam APBN-P 2012 sebesar Rp 137,4 triliun. Pada APBN 2013, Pemerintah dan DPR sepakat
mengalokasikan Rp 317,2 triliun untuk program subsidi, dengan rincian Rp 274,7 triliun untuk subsidi
energi dan Rp 42,5 triliun untuk subsidi non energi. Dari jumlah Rp 274,7 triliun itu, sebanyak Rp
193,8 triliun untuk subsidi BBM dan Rp 80,9 triliun untuk subsidi listrik (www.setkab.go.id).

Sehingga sangat penting bagi pemerintah untuk berupaya mengerem laju kenaikan subsidi
yang nantinya akan berpengaruh terhadap kesehatan APBN. Ketidaksehatan APBN akan
menyebabkan dampak negatif pada semua sektor yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat.
Upaya untuk mengerem besarnya subsidi salah satunya adalah menaikan harga BBM itu sendiri.
Namun opsi ini mudah sekaligus sulit, mudah karena tidak memerlukan waktu yang lama dan tidak
ada biaya implisit dan sulit karena ada campur tangan politik dalam keputusan kebijakan dan adanya
biaya-biaya eksplisit.

2. Efek Penetapan Price Ceiling (Harga Tertinggi) BBM

Price Ceiling atau harga tertinggi adalah harga maksimum yang ditetapkan berkenaan
dengan menurunnya penawaran barang di pasar. Price Ceiling efektif dalam melindungi konsumen
dari gejolak harga yang tak terhingga. Pada price ceiling, harga maksimum terdapat di bawah harga
keseimbangan. Dengan menurunnya harga jual, maka permintaan akan meningkat (hukum
permintaan).

Gambar 3. Analisis grafik Price Ceiling

Gambar 4.

Perkembangan subsidi Energi Indonesia 2006-2011 (sumber diolah : Direktorat Jenderal Minyak
dan Gas Bumi)

Pemerintah menetapkan harga BBM menggunakan ceiling price. Hal ini bertujuan menjaga
daya beli masyarakat agar tidak turun. Namun dampak dari kebijakan tersebut adalah semakin
membesarnya biaya untuk subsidi harga BBM. Hal ini diakibatkan tingginya permintaan terhadap
BBM. Sehingga semakin banyak BBM yang dikonsumsi oleh rumah tangga atau perusahaan maka
semakin tinggi pula biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk subsidi harga BBM. Hal ini bisa dilihat
di gambar 4 di mana dari tahun 2010 dan 2011 subsidi menagalami kenaikan yang signifikan.

Selain itu, subsidi juga membawa dampak naegatif yang lain. Subsidi sangat berpotensi
menyebabkan terjadinya kelangkaan, penyelewengan, dan penyelundupan, akibat masih tingginya
disparitas harga antara BBM subsidi dengan BBM non subsidi atau harga internasional.

3. Ketepatan Sasaran Subsidi BBM


Salah satu tujuan pengambilan kebijakan subsidi BBM adalah untuk menjaga daya beli
masyarakat agar tidak mengganggu permintaan domestik. Sehingga masyarakat/ rumah tangga
dapat membelanjakan pendapatannya dengan aman tanpa khawatir akan terjadi penurunan nilai
uang yang besar di masa akan yang datang. Masyarakat dalam segi ekonomi dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Masyarakat kelas bawah, yaitu tingkatan masyarakat yang membelanjakan pendapatannya di bawah
USD 2/hari atau sekitar Rp. 20.000 (dua puluh ribu rupiah) per hari.

2. Masyarakat kelas menengah, yaitu tingkatan masyarakat yang mampu membelanjakan


pendapatannya sekitar USD 2 - USD20/hari atau sekitar Rp. 20.000 – Rp. 200.000 per hari.

3. Masyarakat kelas atas, yaitu tingkatan masyarakat yang mampu membelanjakannya di atas USD
20/hari atau sekitar di atas Rp. 200.000/ hari.

Ketetapan sasaran pemberian subsidi menjadi acuan tercapainya tujuan pemerintah dalam
menjaga daya beli masyarakat. Namun dalam realitanya ketimpangan pengalokasian sasaran
penerima subsidi BBM. Hal ini bisa dilihat di gambar 2, 25% kelompok rumah tangga dengan
penghasilan (pengeluaran) per bulan tertinggi menerima alokasi subsidi sebesar 77 %. Sementara
25% kelompok rumah tangga dengan penghasilan (pengeluaran) per bulan terendah hanya
menerima alokasi subsidi sebesar 15%.

Gambar 5

Persentase Kelompok Rumah Tangga Penerima Subsidi (sumber diestimasi dari susenas 2008 dan
Bank Dunia 2010)

4. Beban Subsidi Pemerintah Indonesia

Dijelaskan di atas akibat kebijakan penetapan harga tertinggi BBM oleh pemerintah maka
permintaan BBM cenderung mengalami peningkatan. Akibat dari kenaikan permintaan BBM
tersebut maka pemerintah mempunyai beban subsidi yang semakin naik.

Sehingga ketika penetapan harga tertinggi BBM oleh pemerintah semakin jauh di bawah
harga normal maka permintaan BBM akan mengalami kenaikan. Dan saat permintaan BBM
mengalami kenaikan maka akan semakin besar pula beban subsidi yang akan ditanggung oleh
pemerintah.

Untuk mengurangi beban subsidi pemerintah dapat melakukan beberapa cara, yaitu :
1. Menaikan harga BBM/ mengurangi subsidi BBM

Seperti yang dijelaskan di latar belakang. Opsi ini mudah sekaligus sulit, mudah karena tidak
memerlukan waktu yang lama dan tidak ada biaya implisit dan sulit karena ada campur tangan
politik dalam keputusan kebijakan dan adanya biaya-biaya eksplisit. Dengan menaikkan harga BBM
maka harga akan semakin mendekati harga pasar, dalam artian ketika harga semakin mendekati
harga pasar maka beban subsidi pemerintah akan semakin kecil.

2. Diversifikasi BBM ke BBG

Merupakan upaya untuk mensubstitusi penggunaan BBM ke bahan bakar lain yaitu bahan bakar gas
(BBG). Namun program ini membutuhkan waktu yang lama, biaya yang tinggi, dan diperlukan kerja
sama dengan swasta agar berjalan dengan efektif dan efisien. Keunggulan dari program ini adalah
bagus dalam jangka panjang karena Indonesia merupakan sumber gas terbesar di dunia. Dengan
mengalihkan penggunaan BBM ke BBG maka beban subsidi yang ditanggung akan semakin kecil.

3. Revitalisasi transportasi publik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa penyerapan alokasi subsidi rumah tangga adalah kendaraan pribadi.
Dengan merevitalisasi transportasi publik maka diharapkan akan terjadi perpindahan dari kendaraan
pribadi ke transportasi public. Sehingga konsumsi BBM akan dapat diminimalisir.

5. Penutup

Kesimpulan

Pemerintah menetapkan harga BBM menggunakan ceiling price. Hal ini bertuj\uan menjaga
daya beli masyarakat agar tidak turun. Namun dampak dari kebijakan tersebut adalah semakin
membesarnya biaya untuk subsidi harga BBM.

Alokasi subsidi BBM yang masih belum merata. Di mana 25% kelompok rumah tangga
penghasilan tertinggi menerima subsidi sekitar 77% dan 25% kelompok rumah tangga dengan
penghasilan terendah menerima subsidi sekitar 15%.

Mengurangi beban subsidi BBM harus dilakukan oleh Indonesia. Pengurangan beban subsidi
bisa dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: menaikkan harga, diversifikasi BBM ke BBG, dan
revitalisasi transportasi public.

Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan melalui karya tulis ini adalah :
1. Untuk menjaga stabilitas harga BBM memang diperlukan. Namun tetap harus mempertimbangkan
dampak negatif dari ceiling price.

2. Diperlukannya peraturan yang menjawab masalah alokasi subsidi BBM. Diharapkan nantinya tujuan
adanya subsidi bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat.

3. Membangun sinergitas dengan swasta dalam perencanaan energi. Diharapkan nantinya


pertumbuhan ekonomi tidak bergantung dengan konsumsi BBM.

Daftar Pustaka

Anonim. 2011. Kebijakan Price Floor dan Price Ceiling. Diakses di


http://twentytwopm.wordpress.com/2011/11/04/kebijakan-price-floor-dan-
price-ceiling/ pada tanggan 1 Mei 2013.

Legowo, Evita H. 2012. Kebijakan Pengaturan BBM Bersubsidi. Direktorat Jenderal


Minyak dan Gas Bumi.

Mankiw Gregory N. 2004. Principles of Microeconomics, 3rd ed. Thomson. South


Western, USA.
Sekrertariat Kabinet RI. 2013. Menkeu: Realisasi Subsidi BBM 2012 Jauh Lebihi Pagu. Diakses di
http://www.setkab.go.id/kawal-apbn-6922-menkeu-realisasi-subsidi-bbm-2012-jauh-lebihi-
pagu.html pada tanggal 1 Mei 2013.

¡Compártelo!
Label: Ekonomi Publik

Diposkan oleh Cak Bihin di 23.31

0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Beranda

http://economist-bihin.blogspot.com/2013/05/analisis-kebijakan-subsidi-harga-bbm_22.html