Anda di halaman 1dari 3

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media

Muda Green Jakarta Fiksiana


Home
Ekonomi
Moneter
Artikel

Moneter

Ariyani Na
Hidup tidak selalu harus sesuai dengan yang kita inginkan ... Follow me on twitter : @Ariyani12

TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan
0inShare

Polemik Naik Turun Harga BBM


OPINI | 20 January 2015 | 14:25 Dibaca: 75 Komentar: 47 17

Masih teringat pada tanggal 18 November 2014, dimana hari itu mulai diberlakukan harga baru
BBM Subsidi Rp. 8.500,- yang awalnya Rp. 6.500,- semua angkutan umum langsung menaikan
tarifnya, sampai-sampai asisten harian saya datang-datang langsung curhat karena uang
ongkosnya kurang dan Pak sopir tidak mau toleransi. Belum lagi harga sayur di pasar, pedagang
menaikan harga dengan alasan ongkos angkutnya naik.

Kondisi diatas tidak berlaku sebaliknya saat Pemerintah menurunkan harga BBM Subsidi, dari
Rp. 8.500 menjadi Rp. 7.600 pada tanggal 1 Januari 2015 dan Rp. 6.600,- pada tanggal 19
Januari 2015. Meskipun pengumuman harga baru dilakukan 2 hari sebelum hari H, namun pada
saat hari H tidak ada tanda-tanda adanya penurunan harga barang, ongkos angkutan tidak semua
mau menurunkannya.

Kenaikan dan penurunan harga BBM subsidi memang biasa terjadi, namun bila dilakukan
dengan dengan jarak waktu yang sangat berdekatan baru terjadi di pemerintahan Jokowi dan ini
menimbulkan sejumlah permasalahan yang berujung pada kerugian konsumen.

BBM Naik - Harga Naik, BBM Turun - Harga Belum Tentu Turun

Kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan harga barang karena besarnya kenaikan
tersebut akan masuk kedalam biaya operasional produksi, dan sejumlah perusahaan mungkin
juga sudah menaikan tunjangan transport pegawai dan inipun dihitung ke dalam biaya produksi.

Penurunan harga BBM tidak dapat serta merta menurunkan kembali harga barang mengingat
tidak mungkin perusahaan menurunkan tunjangan transport pegawai dan biaya produksi lain
yang sudah terlanjur dinaikkan. Belum lagi harga bahan baku yang sudah dibeli dengan harga
ikut naik ketika harga BBM dinaikan.

Tidak ada pedagang yang mau mengalami kerugian, artinya meskipun harga BBM turun, harga
barang kebutuhan pokok belum tentu langsung dapat mengalami penurunan, pedagang akan tetap
menjual sesuai harga saat mereka membeli dan konsumen tidak mendapatkan dampak positif
dari penurunan harga BBM subsidi tersebut.

Kelangkaan BBM

Mengingat prilaku masyarakat kita yang rela berjuang dan menahan diri demi dapat menghemat
sejumlah uang meskipun bila dihitung selisihnya tidak begitu besar, namun akan dapat
menimbulkan masalah.

Malam menjelang diberlakukan penurunan harga BBM, banyak SPBU sepi pengunjung, rupanya
banyak yang menahan diri untuk mengisi bahan bakar kendaraannya dan menunggu
diberlakukan harga baru. Kondisi ini bertolakbelakang bila harga BBM subsidi naik, SPBU
ramai-ramai diserbu pengunjung hingga terjadi antrian panjang yang mengakibatkan kemacetan
panjang.
Karena banyak yang menahan diri dan menunggu membeli harga baru, maka di hari H saat harga
baru berlaku, tentu SPBU akan ramai dan tentu akan kehabisan stock, sehingga menyebabkan
kelangkaan BBM, seperti yang ditulis mbak Fidiawati
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2015/01/20/curhat-imajinasiku-dengan-pak-presiden-
jokowi-bbm-turun-697509.html

Masalah harga BBM ini tentu akan terus menjadi masalah selama negara kita masih melakukan
impor bahan baku, karena harga BBM akan sangat dipengaruhi harga minyak dunia dan nilai
tukar rupiah terhadap USD, namun sebaiknya pemerintah juga perlu mempertimbangkan dampak
ekonomi dan sosial yang terjadi bila kenaikan dan penurunan harga BBM dilakukan dengan
jarak waktu yang pendek, karena stabilitas harga pasar akan terganggu dan berdampak pada
inflasi.