Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kolibasilosis adalah penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh
bakteri Escherichia coli patogen sebagai agen primer ataupun sekunder. Infeksi E.
coli atau koliseptikemia ini dapat terjadi pada ayam pedaging dan petelur dari
semua kelompok umur, serta unggas lainnya seperti kalkun dan itik (C
HARLTON et al.,2000). Tanda klinis kolibasilosis tidak spesifik dan dipengaruhi
oleh umur ayam, lama infeksi, organ yang terserang dan adanya penyakit lain
bersamanya. Pada ayam pedaging umur 4 −8 minggu dan ayam petelur umur ±
20 minggu dapat terjadi septikemia akut dan menimbulkan kematian, yang
didahului dengan hilangnya nafsu makan, malas bergerak/inaktif dan mengantuk
(LEE dan LAWRENCE, 1998).

Kolibasilosis adalah penyakit menular pada unggas yang disebabkan oleh


bakteri Escherichia coli galur patogen. Sebagai infeksi primer atau sekunder,
penyakit ini menyerang ayam pedaging dan petelur, pada semua umur, tetapi lebih
sering pada umur muda dibanding yang tua. Wabah ini sering terjadi pada
kelompok ayam yang dipelihara di lingkungan yang kurang bersih dan sanitasinya
di bawah standar atau sesudah terjadi serangan penyakit penyebab imunosupresi
atau penyakit pernafasan. Ada tiga serotipe E. coli patogen terhadap unggas yaitu,
O2:K1, O1:K1, O78:K80 dan serotype lainnya, yang telah diidentifikasi dari
organ tubuh ayam sakit, pakan, air minum, dan litter, dari peternakan ayam di
wilayah Jawa dan Bali. Dalam kondisi normal E. coli terdapat di dalam saluran
pencernaan unggas, yang dapat ditularkan melalui kontaminasi feses, air, debu
dan lingkungan. Diagnosis kolibasilosis ini didasarkan atas gambaran klinis, lesi
patognomonis (septikemia, perikarditis, airsacculitis, perihepatitis)dan isolsi E.
coli. Wabah biasanya terjadi dari hasil kombinasi beberapa faktor, termasuk

1
adanya infeksi lain, seperti Swollen Head Syndrome (SHS), Chronic Respiratory
Disease (CRD), Newcastle Disease (ND) dan sebagainya.

Pengobatan akan efektif, bila diberikan pada awal kejadian dan dianjurkan
untuk dilakukan uji sensitivitas terhadap antibiotik dalam aplikasinya. Untuk
pengendalian penyakit ini, harus ditujukan pada perbaikan manajemen
peternakan, meliputi sanitasi/desinfeksi mesin penetas, program pencegahan
penyakit dan vaksinasi yang sesuai, terutama untuk pencegahan penyakit yang
bersifat imunosupresif dan pernafasan. Peternakan unggas mengalami
peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, baik dari segi produksi maupun
konsumsi produk unggas. Akan Tetapi perkembangannya mengalami berbagai
kendala, salah satunya akibat penyakit kolibasilosis yang disebabkan bakteri
patogen Escherichia coli. Penurunan produksi yang disebabkan kolibasilosis
cukup mengkhawatirkan. Hal itu ditunjukkan dengan tingginya angka morbiditas
dan mortalitas.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, adapun masalah yang dapat dirumuskan,


yaitu:
a. Apa pengertian dari Kolibasilosis pada?
b. Bagaimana Etiologi dari Kolibasilosis ?
c. Bagaimana patogenesis Kolibasilosis pada Ayam?
d. Bagaimana cara penularan Kolibasilosis pada Ayam?
e. Bagaimana gejala klinis Kolibasilosis pada Ayam?
f. Bagaimana diagnosis Kolibasilosis pada Ayam?
g. Bagaimana cara pengendalian dan pencegahan Kolibasilosis pada Ayam?
h. Bagaimana pengobatan Kolibasilosis pada Ayam?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Mengetahui pengertian dari Kolobasilosis pada ayam.
b. Mengetahui etiologi dari Kolibasilosis.
c. Mengetahui pathogenesis Kolibasilosis pada ayam.

2
d. Mengetahui cara penularan Kolibasilosis pada ayam.
e. Mengetahui gejala klinis Kolibasilosis pada ayam.
f. Mengetahui diagnosis Kolibasilosis pada ayam.
g. Mengetahui cara pengendalian dan pencegahan Kolibasilosis pada ayam.
h. Mengetahui pengobatan Kolibasilosis pada ayam.

1.4 Manfaat Penulisan


Dapat memberikan informasi mengenai penyakit Kolibasilosis pada ayam
(definisi penyakit, etiologi, pathogenesis,cara penularan, gejala klinis,
diagnosis, cara pengendalian dan pencegahan serta pengobatan).

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Etiologi
E. coli tergolong bakteri Gram Negatif, berbentuk batang yang tidak
membentuk spora, tidak tahan asam dan ukurannya 2−3 x 0,6 µm (GORDON dan
JORDAN, 1982). Bakteri ini dapat ditemukan pada berbagai infeksi pada hewan
dan merupakan agen primer atau sekunder dari infeksi tersebut. Berdasarkan
penyakit yang ditimbulkannya, dapat digolongkan menjadi dua kelompok.
Pertama, E. coli yang bersifat oportunistik, artinya dapat menyebabkan penyakit
dalam keadaan tertentu, misalnya kekurangan makanan atau mengikuti penyakit
lain. Kedua, bersifat enteropatogenik/enterotoksigenik, E. coli yang mempunyai
antigen perlekatan dan memproduksi enterotoksin sehingga dapat menimbulkan
penyakit. (LAY dan HASTOWO, 1992).
Faktor virulensi E. coli dipengaruhi oleh ketahanannya terhadap pagositosis,
kemampuan perlekatan terhadap epitel sel pernafasan dan ketahanannya terhadap
daya bunuh oleh serum. E. coli yang patogen ini mempunyai struktur dinding sel
yang disebut “pili”, yang tidak ditemukan pada serotipe yang tidak patogen
(TABBU, 2000), dan “pili” inilah yang berperan dalam kolonisasi (LAY dan
HASTOWO, 1992).
Ada tiga macam struktur antigen yang penting dalam klasifikasi E. coli yaitu,
antigen O (Somatik), antigen K (Kapsel) dan antigen H (Flagella) (GUPTE, 1990;
LAY dan HASTOWO, 1992). Determinan antigen (tempat aktif suatu antigen) O
terletak pada bagian liposakarida, bersifat tahan panas dan dalam
pengelompokannya diberi nomor 1,2,3 dan seterusnya. Antigen K merupakan
polisakarida atau protein, bersifat tidak tahan panas dan berinterferensi dengan
aglutinasi O, sedangkan antigen H mengandung protein, terdapat pada flagella
yang bersifat termolabil. Pada saat ini telah diketahui ada 173 grup serotipe
antigen O, 74 jenis antigen K dan 53 jenis antigen H (BARNES dan GROSS,
1997).

4
Serotipe yang banyak menyebabkan penyakit pada unggas adalah O1, O2,
O35 dan O78 (TABBU, 2000), dan dikenal patogenitasnya cukup tinggi
(CHARLTON et al., 2000). E. coli O111 juga tergolong patogen, karena dapat
mengakibatkan kematian mendadak pada ayam yang sedang mulai bertelur
dengan ditandai septikemia dan poliserositis fibrinosa (ZANELLA et al., 2000).
Selain itu, E. coli O111 ini juga merupakan salah satu jenis serotipe patogen
terhadap manusia dan dapat menyebabkan gastroenteritis pada bayi yang sifatnya
fatal (GUPTE, 1990).
Tiga serotipe E. coli O1 : K1, O2 : K1 dan O78 : K80 merupakan serotipe
yang sering ditemukan pada isolasi sewaktu ada wabah kolibasilosis pada ayam
(CHARLTON et al., 2000). Ketiga serotipe tersebut, merupakan serotipe yang
banyak menimbulkan koliseptikemia pada ayam. Artinya, E. coli masuk ke dalam
sirkulasi darah ayam, menginfeksi berbagai jaringan melalui luka usus atau
saluran pernafasannya. Biasanya mengikuti penyakit lain yang menyerang saluran
pencernaan ataupun pernafasan.

Gambar 1. E.Coli
(Sumber : http://www.poultryhub.org/health/diseases/types-of-
disease/colibacillosis/)

2.2 Patogenesis
Perjalanan penyakit ini dimulai dari bakteri E. coli patogen menginfeksi
saluran pernafasan dan pencernaan. Pada pencernaan dapat menyebabkan diare
karena bakteri tersebut masuk ke host mengadakan perlekatan berkolonisasi pada

5
saluran pencernaan kemudian berkembangbiak dan menginvasi sel-sel atau
jaringan setelah itu bakteri ini memproduksi toksin sehingga terjadi peradangan
pada organ. Diare terjadi oleh produksi toksin LT (heat–labile) dan ST (heat–
stabile) setelah itu akumulasi c AMP dan c GMP mengakibatkan absorbsi NaCl
menurun dan sekresi ion klorida meningkat sehingga tekanan osmotik lumen usus
meningkat dan terjadi peristaltik usus meningkat sehingga terjadi diare. Jumlah E.
coli yang terdapat pada unggas di lingkungan terjadi kontaminasi selain
pencernaan juga melalui saluran pernafasan.

Awal terjadinya patogen dari E. coli mungkin terjadi di hatchery yang


terjangkit atau terinfeksi atau dari telur, tetapi infeksi sistemik biasanya
membutuhkan faktor predisposisi atau faktor penyebab menular. Mycoplasmosis,
bronkitis, newcastle, radang usus yang menyebabkan hemoragi, dan turki
bordetellosis mendahului colibacillosis. Infeksi sistemik terjadi bila E. coli
pathogen mendapatkan akses ke darah dari saluran pernafasan atau usus. Pada
saluran pernafsan juga dapat menyebabkan terjadinya pendarahan pada paru-paru.
Bakteremia terdapat di darah dan menyebabkan kematian, atau infeksi meluas ke
permukaan serosal, selaput jantung, sendi, dan organ lainnya.

2.3 Cara Penularan


Sejumlah besar E coli berada di lingkungan kandang melalui kontaminasi
tinja. Paparan awal terhadap APEC dapat terjadi di tempat penetasan telur yang
terinfeksi atau terkontaminasi. Meskipun kebanyakan E coli yang diisolasi dari
tinja, colibacillosis dilengkapi dengan faktor virulensi yang membedakannya dari
strain komensal, infeksi sistemik sering melibatkan faktor lingkungan predisposisi
atau penyebab infeksi. Dengan demikian, mycoplasmosis, bronkitis menular,
penyakit Newcastle, enteritis hemoragik, dan bordetellosis kalkun, atau paparan
kualitas udara yang buruk dan tekanan lingkungan lainnya, dapat mendahului
colibacillosis.

Infeksi sistemik terjadi ketika sejumlah besar APEC mendapatkan akses ke


aliran darah dari saluran pernafasan atau usus. Bakteremia berkembang menjadi

6
septikemia dan kematian, atau infeksi meluas ke permukaan serosal, perikardium,
sendi, dan organ lainnya.

Morbiditas bervariasi, mortalitasnya 5-20%. Agen infeksius cukup tahan


terhadap lingkungan, namun rentan terhadap desinfektan dan suhu 80 ° C.Infeksi
melalui rute oral atau inhalasi, dan melalui membran selaput / kuning telur / pusar,
air, fomites, dengan masa inkubasi 3-5 hari.Kesembuhan tali pusar yang buruk,
kerusakan mukosa akibat infeksi virus dan imunosupresi merupakan faktor
predisposisi.

2.4 Gejala Klinis


Colibasilosis tidak spesifik dan dipengaruhi oleh umur ayam yang terserang
lama infeksi, organ yang terserang dan adanya penyakit lain bersamanya. Pada
ayam pedaging umur 4−8 minggu dan ayam petelur umur ±20 minggu dapat
terjadi septikemia akut dan menimbulkan kematian, yang didahului dengan
hilangnya nafsu makan, malas bergerak/inaktif dan mengantuk. Sering ditemukan
embrio mati sebelum telur menetas yang biasa terjadi pada periode akhir
pengeraman. Kematian anak-anak ayam dapat terjadi sampai umur 3 minggu
dengan gejala omhalitis, oedema, jaringan sekitar pusar mennjadi lembek, pada
anak ayam dapat juga menyebabkan radang sendi (synovitis ) dan osteomyelitis.

Bentuk Penyakit seperti:

1. Colicepticemia(C) bentuk pernapasan :E.coli masuk dlm sirkulasi darah


melalui luka mukosa.
2. pernapasan. PA : peradangan pada trakea,paru-paru, air sac, perikardium
dan peritonium.
3. Neonatal C : menyerang umur 1-2 hr,angka kematian 10-20% dan
gangguan pertumbu.5%.
4. E.coli dijumpai pada otak, mata, sendi, tendon dan tulang.
5. Panopthalmitis : mata bengkak, bola mata, keruh dan buram sehingga
ayam buta.
6. Meningitis dikenal juga sebagai enchepalitis.

7
7. Coligranuloma : bungkul-bungkul pada hati, sekum, doudenum dan
mesenterium.
8. Kematian sampai 75 %.

Gambar 2. Omphalitis pada anak ayam terinfeksi E.Coli

Gambar 3. Salphingitis pada burung akibat collibacilosis


(Sumber : http://www.thepoultrysite.com/publications/6/diseases-of-
poultry/178/scherichia-coli-infections)

2.5 Diagnosis
Pertimbangan diagnosis dengan memperhatikan predisposisi infeksi dan faktor
lingkungan. Patogenitas dari isolat diperlihatkan saat inokulasi parenteral dari
ayam muda atau dewasa dengan timbulnya fatal septisemia atau lesi tipikal dalam
3 hari (Aiello, 1998). Kolibasilosis memiliki angka morbiditas yang bervariasi dan
mortalitas 5-20% (Mc Mullin, 2004).
Isolasi dari kultur Escherichia coli yang diambil dari darah di jantung, hati,
atau lesi khas visceral pada karkas segar yang diindikasi primer atau sekunder
kolibasilosis (Aiello, 1998). Mc Mullin (2004), menambahkan dari kultur aerob

8
akan didapat koloni 2-5 mm pada plat agar darah (PAD) dan McConkey
agar setelah 18 jam, pada kebanyakan strain Escherichia coliakan memfermentasi
laktosa dan menghasilkan koloni merah terang pada McConkey agar
Kolibasilosis dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan
makroskopis maupun mikroskopis serta isolasi dan identifikasi
bakteri Escherichia coli. Isolasi bakteri dapat berasal dari swab organ visceral
seperti hepar, jantung, lien, perikardium, air sac dan yolk sac yang ditanam pada
Eosine Methylene Blue (EMB) yang merupakan media selektif untuk Escherichia
coli yang diinkubasikan selama 24 jam pada suhu 370C, yang akan menghasilkan
koloni berwarna metallic sheen. Identifikasi Escherichia coli berdasarkan tes
laboratorium yang meliputi pengecatan Gram atau sederhana, dan uji biokimia
(Giovanardi et al., 2005).
Differensial Diagnosa:
Penyakit yang menjadi diferensial diagnosa Kolibasilosis adalah
mycoplasmosis, salmonellosis, pasteurellosis, pseudotuberculosis, erysipelas,
chlamydiosis dan staphylococcosis (Purchase, 1989).

2.6 Pengendalian dan Pencegahan


1. Pelaporan

Pelaporan penyakit kolibasilosis dapat dilaporkan ke Dinas yang membidangi


fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat dan kemudian diteruskan
kepada Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan.

2. Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakuan yaitu dimulai dari seleksi secara ketat ayam
yang berkualitas pada awal pemeliharaan dan mencegah pencemaran bakteri pada
air minum ataupun pada pakan. Pencegahan penyakit yang bersifat imunosupresif
menjadi prioritas sehingga infeksi oleh bakteri e.coli dapat dicegah.

9
3. Pengendalian dan Pemberantasan

Karena kejadian kolibasilosis biasanya diawali oleh adanya infeksi penyakit


pernapasan yang disebabkan oleh virus maka hal penting yang harus diperhatikan
adalah saat membeli DOC harus ada sertifikat bebas CRD dan IB. Pengawasan
dilakukan terhadap kemungkinan masuknya serotipe baru pada suatu flok ayam,
disamping pelaksanaan desinfeksi dan fumigasi secara teratur terhadap kandang-
kandang ayam perlu diperhatikan. Sistem manajemen kandang yang baik serta
penekanan terhadap faktor-faktor penyebab timbulnya stres adalah hal yang
penting dalam menanggulangi kejadian kolibasilosis pada ayam. Pemberian
vaksin inaktif polyvalen yang berasal dari isolat lapangan dapat memberikan
perlindungan yang efektif.

2.7 Pengobatan
Terapi antimikrobial merupakan hal yang penting untuk menurunkan
angka kejadian maupun mortalitas akibat kolibasilosis (Freed et al., 1993; Goren,
1990; Watts et al., 1993). Mc Mullin (2004), merekomendasikan penggunaan
amoksisilin, tetrasiklin, neomisin (aktifitas lokal di usus), gentamisin
atau ceftiour (pada hatchery), sulfonamid, fluorokuinolon untuk terapi
kolibasilosis. Dan juga pengobatan Kolibasilosis dapat diberikan antibiotika
liannya, seperti oksitetrasiklin, klortetrasiklin, khlorampenikol, fluoroquinolon.
Adapun alternatif pengobatan kolibasilosis pada ayam dapat menggunakan
kombinasi imbuhan herbal kunyit dan zink dalam pakan (Wientarsih et al,. 2013).

10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari paparan materi diatas dapat penulis simpulkan bahwa , Kolibasilosis
merupakan penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh bakteri
Escherichia coli patogen sebagai agen primer ataupun sekunder. Sebagai infeksi
primer atau sekunder, penyakit ini menyerang ayam pedaging dan petelur, pada
semua umur, tetapi lebih sering pada umur muda dibanding yang tua. Tanda klinis
kolibasilosis tidak spesifik dan dipengaruhi oleh umur ayam, lama infeksi, organ
yang terserang dan adanya penyakit lain bersamanya.

3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna , kedepannya
penulis akan lebih baik lagi dalam menjelaskan tentang paper diatas dengan
sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan.

11
DAFTAR PUSTAKA

COLIBACILLOSIS PREVALENCE IN BROILER CHICKEN INFECTED BY


Escherichia coli WITH ADMINISTRATION OF BIO ADDITIVE,
PROBIOTIC, AND ANTIBIOTIC (PDF Download Available). Available
from:
Tarmudji. 2003. KOLIBASILOSIS PADA AYAM: ETIOLOGI, PATOLOGI
DAN PENGENDALIANNYA. WARTAZOA Vol. 13 No.2. Bogor
Julendra, H. dan A. Sofyan. 2007. In vitro inhibitory activity of Escherichia coli
with earthworm meal Lumbricus rubellus. Med. Pet 30: 41–47
Lohani, M. 2010. Immunomodulatory properties of noni (Morinda
citrifolia).Thesis.Graduate School of Clemson University, USA
Huff, G.R., W. E. Huff, N. C. Rath, and G. Tellez. 2006. Limited treatment with
β-1,3/1,6-glucan improves production values of broiler chickens
challenged with Escherichia coli. Poult. Sci. 85:613–618
Barnes, H.J., J.P. Vaillancourt, and W.B. Gross. 2003. Colibacillosis. In Diseases
of Poultry. Saif, Y.M., H.J. Barnes, J.R. Glisson, A.M. Fadly, L.R.
McDougald, and D.E. Swayne (Eds.). 11th ed. Iowa State University
Press, Ames
Alexander, D.J. 2003. Newcastle Disease, Other Avian Paramyxovirus, and
Pneumovirus Infections. In Diseases of Poultry. Saif, Y.M., H.J. Barnes,
J.R. Glisson, A.M. Fadly, L.R. McDougald, and D.E. Swayne (Eds). 11th
ed. Saif,. Iowa State University Press, Ames
Nolan, Lisa. K dan Dr. Stephen G. Juelsgaard Dean. 2018. Overview of
Colibacillosis in Poultry. IOWA State University: College of Veterinary
Medicine.
Anonim. 2014. Colibacillosis, Colisepticemia. England: 5m Publishing.
Tarmudji,2003, Kolibasilosis pada Ayam: Etiologi,Patologi dan
Pengendaliannya,Balai Penelitian Veteriner Bogor,Vol. 13 No.2
Adnan, Kunta. 2011. Kupas Penyakit Colibacillosis (akibat bakteri E. Coli) Pada
Ayam.

12
http://dokterternak.com/2011/05/31/penyakit-colibacillosis-akibat-bakteri-e-coli-
pada-ayam/. Diakses pada 5 feb 2018.
Adnan, Kunta. 2012. Diagnosa Kolibasilosis pada Ayam Layer.
http://dokterternak.com/2012/04/16/diagnosa-kolibasilosis-pada-ayam-
kolibasilosis-eschericia-coli-e-coli-air-saculitis-karakteristik-biokimia-
faktor-virulensi-patogenesitas-cara-penularan-diagnosa-pengoban/.
Diakses pada 5 feb 2018.
Wientarsih et al. 2013. Kombinasi Imbuhan Herbal Kunyit dan Zink dalam Pakan
sebagai Alternatif Pengobatan Kolibasilosis pada Ayam Pedaging. Bogor:
Jurnal Veteriner. Vol. 14 No. 3: 327-334.

13