Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

LAPORAN KEUANGAN-1

Oleh : Stefanus H.W (125150042)


Yosephine Manuella (1251500
Helena (1251500
Dosen Pembimbing : M.F. Djeni Indrayati, Dra., M.Si.

FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
2018
Pertimbangan Menyeluruh dalam Penyajian Laporan Keuangan
1. Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap IFRS

Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus
kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari
transaksi, peristiwa lain, dan kondisi sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan yang
diatur dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan (dapat
dimengerti, relevan, dapat diandalkan, dapat dibandingkan) dengan pengungkapan
tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan penyajian laporan keuangan secara
wajar.
Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK membuat pernyataan
eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK dalam catatan atas laporan
keuangan.
Entitas tidak dapat memperbaiki kebijakan akuntansi yang tidak tepat, baik dengan
pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan maupun pengungkapan dalam catatan
atas laporan keuangan atau materi penjelasan.

2. Going concern atau Kelangsungan Usaha

Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang


kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun
laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan
untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak mempunyai alternatif
lain yang realistis selain melakukannya.
Jika manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya
ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat
menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan ketidakpastian
tersebut.
Jika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan usaha,
maka entitas mengungkapkan fakta tersebut bersama dengan dasar yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan beserta alasannya.
Asumsi kelangsungan usaha adalah minimal selama 12 bulan ke depan sejak akhir
periode pelaporan atau satu tahun periode pelaporan ke depan.
3. Dasar akrual

Entitas akan mengakui dan mencatat setiap kejadian atau peristiwa dalam laporan
keuangan jika peristiwa atau kejadian tersebut memenuhi kriteria pengakuan, tanpa
mempertimbangkan apakah peristiwa tersebut akan mengakibatkan kas masuk atau kas
keluar.
4. Materialitas dan Agregasi
Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang material. Entitas
menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda kecuali pos
tersebut tidak material. Jika suatu klasifikasi pos tidak material, maka dapat digabungkan
dengan pos lain sejenis dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan.
Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan terpisah dalam laporan keuangan
tetapi cukup material untuk disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.
5. Saling Hapus (Offsetting)

Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan liabilitas atau penghasilan dan
beban, kecuali disyaratkan atau diizinkan oleh IFRS.
Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau laporan posisi keuangan
mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan baik untuk memahami transaksi,
peristiwa dan kejadian lain yang terjadi maupun untuk menilai arus kas entitas di masa
depan, kecuali saling hapus mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa. Pengukuran
aset secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (misalnya penyisihan keusangan
atas persediaan dan penyisihan piutang tak tertagih) bukan termasuk kategori saling hapus.
Entitas menyajikan keuntungan dan kerugian transaksi sejenis secara neto semisal
keuntungan / kerugian dari foreign exchange, atau instrument trading. Namun entitas
menyajikan keuntungan dan kerugian tersebut secara terpisah jika bersifat material.

6. Informasi Komparatif

Entitas yang mengungkapkan informasi komparatif menyajikan minimal dua laporan


posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis laporan lainnya, dan catatan atas laporan
keuangan. Jika entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif atas pos-pos
dalam laporan keuangan atau mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan, maka
entitas minimal tiga jenis laporan posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis laporan
lainnya, dan catatan atas laporan keuangan. Entitas menyajikan laporan posisi keuangan
pada :
a. Akhir periode berjalan;
b. Akhir periode sebelumnya (yang sama dengan awal periode berjalan),
Permulaan dari periode komparatif terawal.

7. Konsistensi penyajian.

Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antarperiode dilakukan secara
konsisten, kecuali :
1. Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau
mengkaji ulang atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau
pengklasifikasian yang lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan
mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan penerapan kebijakan akuntansi.
2. Perubahan tersebut diperkenankan oleh IFRS
Struktur dan Isi
1. Identification of the Financial Statements
Laporan keuangan diidentifikasikan dan dibedakan secara jelas dari informasi lain
dalam dokumen publikasi yang sama. Laporan keuangan sering disajikan sebagai bagian dari
suatu dokumen seperti laporan tahunan atau prospektus. Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan hanya berlaku untuk laporan keuangan dan tidak berlaku untuk informasi lain
yang disajikan dalam laporan tahunan atau dokumen lainnya. Oleh karena itu, sangat
penting bagi pengguna untuk mampu membedakan laporan yang disusun sesuai dengan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dari informasi lain yang juga bermanfaat bagi
pengguna laporan tetapi tidak perlu disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan.
Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas. Di samping itu,
informasi berikut ini disajikan dan diulangi, bilamana perlu, pada setiap halaman laporan
keuangan:
(a) nama perusahaan pelapor atau identitas lain;
(b) cakupan laporan keuangan, apakah mencakup hanya satu entitas atau beberapa
entitas;
(c) tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat
bagi setiap komponen laporan keuangan;
(d) mata uang pelaporan; dan
(e) satuan angka yang digunakan dalam pen yajian laporan keuangan.

2. Reporting Period
Laporan keuangan setidaknya disajikan secara tahunan. Apabila tahun buku
perusahaan berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih
panjang atau pendek dari periode satu tahun maka sebagai tambahan terhadap periode
cakupan laporan keuangan, perusahaan harus mengungkapkan:
(a) alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan; dan
(b) fakta bah wa jumlah komparatif dalam laporan laba rugi, laporan perubahan
ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat
diperbandingkan.

Dalam keadaan sangat luar biasa, perusahaan mungkin terpaksa atau memutuskan
untuk mengubah tanggal neracanya misalnya akibat di akuisisi oleh perusahaan lain yang
mempunyai tanggal neraca yang berbeda. Dalam kasus seperti ini, pengguna laporan perlu
mengetahui bahwa jumlah yang disajikan pada periode berjalan dan jumlah komparatif
tidak dapat dibandingkan dan alasan perubahan tanggal neraca diungkapkan.
3. Statement of Financial Position
Perusahaan menyajikan aktiva lancar terpisah dari aktiva tidak lancar dan kewajiban
jangka pendek terpisah dari kewajiban jangka panjang kecuali untuk industri tertentu yang
diatur dalam SAK khusus. Aktiva lancar disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan
kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya.
Perusahaan harus mengungkapkan informasi mengenai jumlah setiap aktiva yang
akan diterima dan kewajiban yang akan dibayarkan sebelum dan sesudah dua betas bulan
dari tanggal neraca.
Apabila perusahaan menyediakan barang atau jasa dalam siklus operasi perusahaan
yang dapat diidentifikasi dengan jelas, maka klasifikasi aktiva lancar dan tidak lancar serta
kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam neraca memberikan informasi yang
bermanfaat dengan membedakan aktiva bersih sebagai modal kerja dengan aktiva yang
digunakan untuk operasi jangka panjang. Pengklasifikasian tersebut juga menonjolkan aktiva
yang diharapkan akan direalisasi dalam siklus operasi berjalan dan kewajiban yang akan
jatuh tempo pada periode yang sama. Informasi tentang tanggal jatuh tempo aktiva dan
kewajiban bermanfaat dalam menilai likuiditas dan solvabilitas perusahaan.

Komponen Laporan Keuangan

1. Informasi yang disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan

a. Aset tetap

b. Properti investasi

c. Aset tak berwujud

d. Aset keuangan

e. Investasi dengan menggunakan metode ekuitas

f. Persediaan

g. Piutang dagang dan piutang lainnya.

h. Kas dan setara kas

i. Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset
termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual;
aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang dihentikan.

j. Utang dagang dan terutang lain.


k. Provisi

l. Liabilitas keuangan

m. Liabilitas dan aset untuk pajak kini; Pajak Penghasilan

n. Liabilitas dan aset pajak tangguhan

o. Liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai


dimiliki untuk dijual

p. Kepentingan nonpengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas

q. Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk

Perbedaan aset lancar dan tidak lancar serta liabilitas jangka pendek dan jangka panjang

 Entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar serta liabilitas jangka pendek dan
jangka panjang sebagai klasifikasi yang terpisah dalam laporan posisi keuangan.

 Jika penyajian berdasarkan likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan
dapat diandalkan, maka entitas menyajikan seluruh aset dan liabilitas berdasarkan
urutan likuiditas.

Aset Lancar

Aset sebagai aset lancar jika :

 Entitas memperkirakan akan merealisikan aset, atau bermaksud untuk menjual atau
menggunakannya, dalam siklus operasi normal

 Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagngkan

 Entitas memperkirakan akan merealisasi aset dalam jangka waktu dua belas bulan
setelah periode pelaporan.

 Kas atau setara kas, kecuali aset tersebut dibatasi pertukaran atau penggunaannya
untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode
pelaporan.

Entitas mengklasifikasikan aset yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai aset
tidak lancar.

Liabilitas Jangka Pendek

 Liabilitas diklasifikasikan sebagai liabilitas lancar jika :

 Entitas memperkirakan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi


normal.

 Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan


 Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua belas
bulan

 Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas
selama sekurang-kurannya dua belas bulan

Entitas mengklasifikasi liabilitas yang tidak termasuk pada kategori tsb sebagai
liabilitas jangka panjang

Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan atau Catatan atas Laporan
Keuangan

Entitas mengungkapkan dalam laporan posisi keuangan atau dalam catatan atas laporan
keuangan, subklasifikasi pos-pos yang disajikan, dan diklasifikasikan dengan cara yang tepat
sesuai dengan operasi entitas.

Rincian subklasifikasi bergantung pada ketentuan SAK, serta ukuran, sifat, dan fungsi jumlah
yang terkait. Entitas juga menggunakan faktor-faktor yang diatur di paragraf untuk
menentukan dasar subklasifikasi. Pengungkapan berbeda untuk setiap pos, misalnya:

a. pos-pos aset tetap dipisahkan sesuai dengan PSAK 16 (revisi 2007): Aset Tetap;
b. piutang dipisahkan menjadi jumlah piutang dagang, piutang dari pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa, pembayaran di muka dan jumlah lain;
c. persediaan dipisahkan sesuai dengan PSAK 14 (revisi 2008): Persediaan menjadi
kelompok barang dagangan, barang produksi, bahan baku, barang dalam proses, dan
barang jadi;
d. provisi dipisahkan menjadi provisi untuk imbalan kerja dan provisi lain; dan
e. ekuitas dan cadangan dipisahkan menjadi berbagai kelompok seperti modal disetor,
tambahan modal disetor, dan cadangan.

Entitas mengungkapkan hal-hal berikut dalam laporan posisi keuangan atau laporan
perubahan ekuitas, atau catatan atas laporan keuangan:

a. untuk setiap jenis saham:


b. jumlah saham modal dasar;
c. jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh, dan yang diterbitkan tetapi tidak
disetor penuh;
d. nilai nominal saham, atau nilai dari saham yang tidak memiliki nilai nominal;
e. rekonsiliasi jumlah saham beredar pada awal dan akhir periode;
f. hak, keistimewaan, dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham,
termasuk pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal;
g. saham entitas yang dikuasai oleh entitas itu sendiri atau oleh entitas anak atau
entitas asosiasi; dan
h. saham yang dicadangkan untuk penerbitan dengan hak opsi dan kontrak penjualan
saham, termasuk jumlah dan persyaratan;
i. penjelasan mengenai sifat dan tujuan setiap pos cadangan dalam ekuitas.

Entitas yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan atau unit perwalian,
mengungkapkan informasi yang setara dengan poin a di atas, yang memperlihatkan
perubahan selama suatu periode dari setiap jenis penyertaan, hak, keistimewaan dan
pembatasan yang melekat pada setiap jenis penyertaan.

2. Laporan Laba Rugi Komprehensif

Entitas menyajikan seluruh pos pendapatan dan beban yang diakui dalam satu
periode dalam bentuk :

(a) Dalam satu laporan laba rugi komprehensif atau

(b) Dalam bentuk dua laporan :

b.1 laporan yang menunjukan komponen laba rugi

(laporan laba rugi terpisah) dan

b.2 laporan yang dimulai dengan laba rugi dan

menunjukan komponen pendapatan komprehensif lain.

Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif


Laporan laba rugi komprehensif minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut
selama suatu periode:
a. pendapatan;
b. biaya keuangan;
c. bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang dicatat dengan
menggunakan metode ekuitas;
d. beban pajak;
e. suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari:
 laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan; dan
 keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok yang dilepaskan
dalam rangka operasi yang dihentikan;
f. laba rugi;
g. setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai dengan
sifat (selain jumlah dalam huruf (h));
h. bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang
dicatat dengan menggunakan metode ekuitas; dan
i. total laba rugi komprehensif.

Sehingga, total laba rugi komprehensif adalah perubahan ekuitas selama satu periode yang
dihasilkan dari transasksi dan peristiwa lainnya, selain perubahan yang dihasilkan dari
transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik. Total laba rugi komprehensif
terdiri dari komponen “laba rugi” dan “pendapatan komprehensif lain”. Sedangkan laba rugi
(profit or loss) atau laba bersih (net income) adalah total pendapatan (income) dan beban
(expenses), tidak termasuk komponen-komponen pendapatan komprehensif lain.
Entitas mengungkapkan pos-pos di bawah ini dalam laporan laba rugi komprehensif sebagai
alokasi laba rugi untuk periode:
a. laba rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:
 kepentingan nonpengendali; dan
 pemilik entitas induk
b. total laba rugi komprehensif periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:
 kepentingan nonpengendali; dan
 pemilik entitas induk

Karena dampak dari berbagai kegiatan, transaksi, dan peristiwa lain entitas berbeda dalam
frekuensi, potensi keuntungan atau kerugian dan kemampuan untuk dapat diprediksi, maka
pengungkapan unsur-unsur kinerja keuangan membantu pengguna laporan keuangan dalam
memahami kinerja keuangan yang dicapai dan dalam membuat proyeksi kinerja keuangan
masa depan. Entitas memasukkan pos pos tambahan dalam laporan laba rugi komprehensif
dan laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), perubahan istilah yang dipakai dan perubahan
urutan dari pos-pos jika hal ini diperlukan untuk menjelaskan elemen kinerja keuangan.
Entitas mempertimbangkan faktor-faktor termasuk materialitas, sifat dan fungsi dari
berbagai komponen pendapatan dan beban. Misalnya, suatu institusi keuangan dapat
mengubah istilah untuk memberikan informasi yang relevan dengan operasinya.
Entitas tidak diperkenankan menyajikan pos-pos pendapatan dan beban sebagai pos luar
biasa dalam laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), atau
dalam catatan atas laporan keuangan.

Laba rugi selama periode

 Entitas mengakui seluruh pos-pos penghasilan dan beban pada suatu periode dalam
laba rugi kecuali suatu PSAK mnsyaratkan atau memperkenankan lain.

 Entitas tdk diperkenankan menyajikan pos-pos pengahasilan dan beban sebagai pos
luar biasa dalam laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah, atau
catatan atas laporan keuangan.

Teknik penyajian dalam Laporan Laba Rugi

Ketika pos-pos pendapatan atau beban adalah material, maka entitas


mengungkapkan sifat dan jumlahnya secara terpisah.

Entitas menyajikan analisis beban yang diakui dalam laba rugi dengan menggunakan
klasifikasi berdasarkan sifat atau fungsinya dalam entitas, mana yg dapat
menydiakan informasi yg andal dan lebih relevan.
Perbandingan Metode Sifat Beban dan Metode Fungsi Beban

 Metode fungsi beban dapat memberikan informasi yang lebih relevan kepada
pengguna laporan keuangan dibandingkan dengan metode klasifikasi beban
berdasarkan sifat, namun pengalokasian biaya berdasarkan fungsi mungkin
membutuhkan pengalokasian secara arbiter dan pertimbangan yang matang.

 Metode sifat beban mudah diterapkan karena tidak memerlukan adanya alokasi
beban menurut klasifikasi fungsional.

Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif atau Catatan atas
Laporan Keuangan
Ketika pos-pos pendapatan atau beban bernilai material, maka entitas mengungkapkan sifat
dan jumlahnya secara terpisah.
Keadaan yang menyebabkan pengungkapan secara terpisah atas pos-pos pendapatan dan
beban adalah sebagai berikut:
a. penurunan nilai persediaan menjadi nilai realisasi neto atau penurunan nilai aset tetap
menjadi jumlah yang dapat dipulihkan kembali, sebagaimana pemulihan atas penurunan
tersebut;
b. restrukturisasi atas aktivitas-aktivitas suatu entitas dan untuk setiap provisi atas biaya
restrukturisasi;
c. pelepasan aset tetap;
d. pelepasan investasi;
e. operasi yang dihentikan;
f. penyelesaian litigasi; dan
g. pembalikan provisi lain.

Entitas menyajikan analisis beban yang diakui dalam laba rugi dengan menggunakan
klasifikasi berdasarkan sifat atau fungsinya dalam entitas, mana yang dapat menyediakan
informasi yang andal dan lebih relevan. Penyajian dilakukan dalam laporan laba rugi
komprehensif atau laporan laba rugi terpisah.

Beban disubklasifikasikan menjadi komponen utama dari kinerja keuangan yang dapat
berbeda dalam frekuensi, potensi keuntungan atau kerugian dan kemampuan untuk dapat
memprediksi. Analisis ini diberikan dalam satu dari dua bentuk.
Bentuk pertama analisis ini adalah metode “sifat beban”. Entitas menggabungkan beban
dalam laba rugi berdasarkan sifatnya (misalnya, penyusutan, pembelian bahan baku, biaya
transportasi, imbalan kerja, dan biaya iklan), dan tidak merealokasikan menurut berbagai
fungsi dalam entitas. Metode ini mudah diterapkan karena tidak memerlukan adanya
alokasi beban menurut klasifikasi fungsional. Contoh dari klasifikasi dengan menggunakan
metode sifat beban adalah sebagai berikut:
Pendapatan lainnya xxx
Perubahan atas persediaan barang jadi
dan barang dalam proses xxx
Bahan baku yang digunakan xxx
Beban imbalan kerja xxx
Beban penyusutan dan amortisasi xxx
Beban lainnya xxx
Total beban (xxx)
Laba sebelum pajak xxx

Bentuk kedua analisis ini adalah metode “fungsi beban” atau “biaya penjualan” dan
mengklasifikasikan beban berdasarkan fungsinya sebagai bagian dari biaya penjualan atau,
misalnya, biaya aktivitas distribusi atau administratif. Sekurang-kurangnya entitas
mengungkapkan biaya penjualan berdasarkan metode ini secara terpisah dari beban-beban
lainnya. Metode ini dapat memberikan informasi yang lebih relevan kepada pengguna
laporan keuangan dibandingkan dengan metode klasifikasi beban berdasarkan sifat, namun
pengalokasian biaya berdasarkan fungsi mungkin membutuhkan pengalokasian secara
arbiter dan pertimbangan yang matang. Contoh klasifikasi berdasarkan metode fungsi
beban adalah sebagai berikut:
Pendapatan xxx
Beban penjualan (xxx)
Laba bruto xxx
Pendapatan lainnya xxx
Beban distribusi (xxx)
Beban administratif (xxx)
Beban lainnya (xxx)
Laba sebelum pajak xxx

Entitas yang mengklasifikasikan beban berdasarkan fungsi mengungkapkan informasi


tambahan tentang sifat beban, termasuk beban penyusutan dan amortisasi, dan beban
imbalan kerja.

Pemilihan antara metode fungsi beban dan sifat beban tergantung pada faktor historis dan
industri serta sifat entitas. Kedua metode tersebut memberikan indikasi tentang biaya-biaya
tersebut yang mungkin berbeda, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tingkat
penjualan atau produksi entitas. Karena tiap metode penyajian memiliki manfaat untuk jenis
entitas yang berbeda, Pernyataan ini mensyaratkan manajemen untuk memilih penyajian
yang andal dan lebih relevan. Namun demikian, karena informasi atas sifat beban
bermanfaat dalam memprediksi arus kas masa depan, maka pengungkapan tambahan
diperlukan ketika metode fungsi beban digunakan.

3. Laporan Perubahan Ekuitas

Menunjukan :
a). Total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yg menunjukan secara
terpisah total jumlah yg dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada
kepentingan nonpengendali.

b). Untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian
kembali secara retrospektif yang diakui dengan PSAK 25.

c). Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan
akhir periode, secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan yg timbul
dari :

c.1 laba rugi

c.2 masing-masing pos pendapatan

komprehensif laidan

c.3 transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yg menunjukan


secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik dan perubahan
hak kepemilikan pada entitas anak yg tdk menyebabkan hilangnya pengendalian.

Penerapan retrospektif

 Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi, peraturan, dan praktik tertentu
yg diterapkan entitas dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan

 Penerapan retrospektif adalah penerapan kebijakan akuntansi baru untuk transaksi,


peristiwa, dan kondisi lain seolah-olah kebijakan tersebut telah diterapkan.

 Penyajian kembali restrospektif adalah koreksi pengakuan, pengukuran, dan


pengungkapan jumlah unsur-unsur laporan keuangan seolah-olah kesalahan periode
lalu tidak pernah terjadi.

Penyesuaian Reklasifikasi

Adalah jumlah yang direklasifikasi ke laba rugi periode berjalan yang sebelumnya
diakui dalam pendapatan komprehensif lain pada periode berjalan atau periode
sebelumnya.

4. Laporan Arus Kas


Sesuai dengan IAS 1: Penyajian Laporan euangan, informasi arus kas memberikan dasar bagi
pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan
setara kas dan kebutuhan entitas dalam menggunakan arus kas tersebut. Persyaratan
penyajian dan pengungkapan informasi arus kas diatur dalam IAS 7 : Laporan Arus kAs.
Laporan arus kas merupakan laporan yang menggambarkan aliran kas dari tiga aktivitas
utama, yaitu aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Ada dua metode dalam
penyusunan laporan arus kas, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung.
Perbedaan dalam kedua metode ini terletak pada aktivitas operasi. Secara sederhana,
metode langsung menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas langsung kepada pos-pos
utamanya, seperti penerimaan kas dari pelanggan dan pengeluaran kas kepada pemasok
dan karyawan, sedangkan metode tidak langsung diawali dari laba bersih yang disesuaikan
dengan pos-pos dalam laporan laba rugi.
5. Catatan atas laporan Keuangan
Struktur
Catatan atas Laporan Keuangan:
a. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi tertentu yang digunakan.
b. Mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh IFRS yang tidak disajikan di bagian
mana pun dalam laporan keuangan; dan
c. Memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian mana pun dalam laporan keuangan,
tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.

IAS 1,114 menunjukkan bahwa catatan biasanya harus disajikan dalam urutan sebagai
berikut:

 pernyataan kesesuaian dengan IFRS


 Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan, termasuk:
 [IAS 1,117] dasar pengukuran (atau dasar) yang digunakan dalam penyusunan
laporan keuangan
 kebijakan akuntansi lain yang digunakan yang relevan untuk memahami
laporan keuangan
 informasi pendukung untuk item yang disajikan di muka laporan posisi keuangan
(neraca), pernyataan dari laba atau rugi dan pendapatan komprehensif lain, laporan
perubahan ekuitas dan laporan arus kas, dalam urutan di mana setiap pernyataan
dan setiap item baris disajikan.
 pengungkapan lainnya, termasuk: kewajiban kontinjensi (lihat IAS 37) dan komitmen
kontrak yang belum diakui pengungkapan non-keuangan, seperti tujuan manajemen
risiko keuangan entitas dan kebijakan (lihat IFRS 7 Instrumen Keuangan:
Pengungkapan)

Sumber Estimasi Ketidakpastian

Entitas mengungkapkan informasi tentang asumsi yang dibuat mengenai masa depan,
dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lain pada akhir periode pelaporan, yang
memiliki risiko signifikan yang mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah
tercatat aset dan liabilitas dalam periode pelaporan berikutnya. Berkaitan dengan aset dan
liabilitas tersebut, catatan atas laporan keuangan memasukkan rincian atas:
a. sifat; dan
b. jumlah tercatat pada akhir periode pelaporan.

Modal
Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan
untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan proses entitas dalam mengelola permodalannya.

Pengungkapan Lain (Other Disclosure)

Entitas mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. Jumlah dividen yang diusulkan atau diumumkan sebelum tanggal penyelesaian


laporan keuangan tetapi tidak diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama
periode serta jumlah dividen per lembar saham; dan

b. Jumlah dividen preferen kumulatif yang tidak diakui.

Entitas mengungkapkan hal-hal berikut ini, jika tidak diungkapkan di bagian mana pun dalam
informasi yang dipublikasikan bersama dengan laporan keuangan:

a. domisili dan bentuk hukum, negara tempat pendirian, alamat kantor pusat entitas
(atau lokasi utama kegiatan usaha, jika berbeda dari lokasi kantor);

b. keterangan mengenai sifat operasi dan kegiatan utama;

c. nama entitas induk dan nama entitas induk terakhir dalam kelompok usaha; dan

d. bagi entitas yang mempunyai umur terbatas, informasi tentang lama umur entitas.