Anda di halaman 1dari 16

1.

Filsafat Pancasila-Bayi Tabung

Awalnya tekhnik reproduksi ini ditunjukkan untuk pasangan infertile, yang mengalami kerusakan
saluran telur. Namun saat ini indikasinya telah diperluas, antara lain jika calon ibu mempunyai
lender mulut rahim yang abnormal, mutu calon ayah kurang baik, adanya antibody pada atau
terhadap sperma, tidah kunjung hamil walaupun endometriosis telah diobati, serta pada gangguan
kesuburan yang tidak diketahui penyebabnya maka program bayi tabung ini bias dilakukan. Bayi
tabung merupakan pilihan untuk memperoleh keturunan bagi ibu ibu yang memiliki gangguan
pada saluran tubanya.

Pro

 Program bayi tabung telah terbukti membantu jutaan orang untuk memperoleh keturunan.
 Teknologi yang digunakan pada program bayi tabung yaitu IVF membuka peluang bagi
para ilmuwan untuk mencegah terjadinya kemungkinan cacat lahir pada bayi. Hal ini
dikarenakan pembentukan embrio yang terjadi di luar tubuh dan dapat senantiasa diamati
dan diawasi oleh ilmuwan
 Melalui analisa selama bertahun-tahun, para dokter setuju bahwa anak yang lahir dari
program bayi tabung tidak rentan terhadap masalah kesehatan jika dibandingkan dengan
anak normal lainnya.
Kontra

 Merusak Tatanan Sosial: dalam artian banyak ketakutan terjadi sehubungan dengan
program bayi tabung ini antara lain ketakutan bahwa program ini akan menyalahi tatanan
dalam masyarakat dimana orang tidak perlu menikah karena bisa menciptakan bayi di
laboratorium, ketakutan bahwa wanita akan dijadikan sebagai mesin untuk melahirkan bayi
serta ketakutan bahwa bayi yang dilahirkan dengan cara ini tidak dapat diterima secara
sosial.
 Salah secara agama karena dianggap ikut campur tangan apa yang menjadi urusan Tuhan
 Adanya resiko besar timbulnya kembar dua atau tiga karena jumlah embrio yang
dimasukkan ke dalam rahim ibu lebih dari satu
 Ketakutan adanya efek samping dari obat-obatan yang digunakan
 Biaya yang dibutuhkan mahal dan memerlukan waktu lama
Dari segi Agama
2. Bedah Mayat

Segi Agama

Akhirnya sidang Komisi Fatwa MUI, empat bulan lalu, membuat keputusan dengan beberapa
klausul. Pertama, hukum asal pengawetan jenazah adalah haram. Sebab jenazah manusia itu
terhormat, sekalipun sudah meninggal. Orang yang hidup wajib memenuhi hak-hak jenazah.
Salah satunya, menyegerakan jenazah dikuburkan.

Kedua, pengawetan jenazah untuk penelitian dibolehkan, tapi terbatas (muqoyyad). Dengan
ketentuan, penelitian itu bermanfaat untuk pengembangan keilmuan dan mendatangkan
maslahat lebih besar: memberikan perlindungan jiwa. Bukan untuk praktek semata.

Ketiga, sebelum pengawetan, hak-hak jenazah muslim harus dipenuhi. Misalnya dimandikan,
dikafani, dan disalati. Pengawetan jenazah untuk penelitian harus dilakukan dalam batas
proporsional, hanya untuk penelitian. Jika penelitian telah selesai, jenazah harus segera
dikuburkan sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Keempat, negara diminta membuat regulasi
yang mengatur ketentuan dan mekanismenya.

1. Untuk Kepentingan Penegakkan Hukum


Autopsi untuk pemeriksaan mayat demi kepentingan pengadilan dengan maksud untuk
mengetahui sebab-sebab kematiannya di sebut juga obductie[16] Di Indonesia masalah
bedah mayat atau autopsi diatur di dalam Pasal 134 Undang-undang No 8 Tahun 1981
tentang Hukum Acara Pidana yang berbunyi sebagai berikut:
1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah
mayat tidak mungkin lagi dihindarkan, penyidik wajib memberitahukan
terlebih dahulu kepada keluarga korban.
2. Dalam hal keluarga keberatan penyidik wajib menerangkan dengan jelasnya
tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat 3 Undang-undang
ini.[17]
Pasal 133 dari Undang-undang tersebut berbunyi sebagai berikut:

1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban


baik keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada
ahli kedokteran dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah
mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat yang
dilakukan dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau
bagian lain pada mayat.[18]
Berpijak dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa autopsi atau bedah
mayat adalah suatu pembedahan atau pemeriksaan pada mayat yang dilakukan oleh
para tim dokter ahli dengan dilandasi oleh maksud atau kepentingan tertentu untuk
mengetahui sebab-sebab kematian mayat.[19]
Di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits tidak ditemukan anjuran yang tegas untuk
melaksanakan autopsi untuk keperluan-keperluan tertentu. Namun tindakan untuk
melakukan autopsi terhadap mayat, terutama untuk kepentingan pembuktian di
pengadilan semangatnya dapat diselaraskan dengan firman Allah dalam surat an-Nisa
ayat 58 yang berbunyi:

Artinya : Dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu


menetapkan dengan adil.
Semangat ayat ini dapat ditarik bahwa dalam menjatuhkan hukum harus
mengedepankan keadilan, meskipun misalnya untuk tegaknya keadilan tersebut
ditempuh melalui pembedahan mayat (autopsi) dan pembongkaran kuburan si mayat.

bedah mayat dari segi social

Sebagai etnik terbesar, Jawa memiliki konsep-konsep (selanjutnya akan disebut sebagai
falsafah). Falsafah Tri Bata memiliki tiga prinsip yaitu (1) rumongso melu handarbeni (merasa
ikut memiliki), (2) wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela dengan ikhlas), dan
(3) mulat sariro hangrasa wani (mawas diri dan memiliki sifat berani untuk
kebenaran). Falsafah ini masih relevan diaplikasi di masa kini (Tedjowulan dalam Falsafah
kepemimpinan dari Gadjah Mada secara garis besar memuat tiga dimensi, yaitu (1) Spiritual, (2) Moral, dan (3)
Manajerial. Dimensi Spiritual terdiri dari tiga prinsip, yaitu: wijaya yang berupa sikap tenang, sabar, bijaksana;
Dimensi Moral terdiri dari enam prinsip, yaitu: mantriwira yang berwujud berani membela dan menegakkan
kebenaran dan keadilan; rendah hati sifat tidak pilih kasih; tegas, jujur, bersih, berwibawa; dicintai segenap lapisan
masyarakat dan mencintai rakyat; mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan
keluarga. Dimensi Manajerial terdiri dari sembilan prinsip mendapat dan menjaga kepercayaan dari masyarakat,
loyal dan setia kepada nusa dan bangsa; pandai bicara dengan sopan; pandai diplomasi, strategi, dan sikap rajin
dan tekun bekerja dan mengabdi untuk kepentingan umum; lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang
lain; nayaken musuh dengan sikap menguasai musuh dari dalam dan dari luar; pandai menentukan prioritas yang
penting, serta selalu waspada dan introspeksi untuk melakukan perbaika

3. Hukuman Mati

Pro
Perlu diketahui oleh kita bersama terlebih dahulu fungsi dilakukannya hukuman
adalah sebagai alat untuk memaksa agar peraturan ditaati dan siapa yang
melanggar diberi sanksi hukuman sehingga terwujudnya rasa kesejahteraan dan
keamanan bagi masyarkat. Percumalah aturan dibuat bila tidak ada sanksi yang
diterapkan bila aturan itu dilanggar karena tidak ada efek jera atau pengaruh bagi
si pelanggar aturan tersebut. Sehingga kami sangatlah yakin kalau hukuman mati
itu sangat diperlukan karena selain dapat memberi efek cegah dan rasa takut
bagi orang lain untuk tidak melakukannya pelanggaran. Dan juga dapat
memberikan rasa aman dan terlindung bagi setiap orang. sesuai dengan Pasal
28 G UUD 1945 yang berbunyi setiap orang berhak atas perlindungan.
Bagaimana mungkin rasa aman & terlindung itu dapat terjadi, bila si pelaku
kejatahan tersebut masih diberi kesempatan di dunia ini.

 Pasal 28 G UUD 1945


Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,
martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak
atas rasa aman dan perlindungan dan ancaman kelakutan untuk berbuat
sesuatu yang merupakan hak asasi. **)
Dalam beberapa pendapat yang kami dapat di salahsatu forum
beralamatkan indonesiaindonesia.com bahwa Hukuman mati itu
melanggar hak asasi manusia seperti yang tertera pada pasal 28 A UUD
1945 yang berbunyi

 Pasal 28A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya.

Soal hukuman mati ini, Mahkamah Konstitusi pernah memutuskan bahwa hukuman mati yang
diancamkan untuk kejahatan tertentu dalam UU No 22 Tahun 1997 tentang Narkotika tidak
bertentangan dengan UUD 1945. Hukuman mati tidak bertentangan dengan hak untuk hidup
yang dijamin oleh UUD 1945, karena konstitusi Indonesia tidak menganut asas kemutlakan hak
asasi manusia (HAM).

 28 J ayat 2 UUD 1945

Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan
ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Negatif bila hukuman mati dihapus


1. Kejahatan akan meningkat karena tidak takut dijatuhi hukuman yang berat.
2. Biaya yang dikeluarkan lebih besar untuk hukuman penjara seumur hidup.
3. Akan ada rasa tidak aman dalam hidup rakyat karena takut akan penjahat yang berkeliaran
diantara mereka.
4.
Positif bila hukuman mati tetap di jalankan

1. Mencegah banyak orang untuk membunuh atau berbuat kejahatan berat lainnya karena gentar
akan hukuman yang sangat berat.
2. Pembunuh yang sudah dieksekusi bisa dipastikan tidak membunuh lagi sehingga tidak
memakan korban lainnya.
3. Menegakkan harga nyawa manusia yang mahal dan hanya bisa dibayar dengan nyawa
sehingga seseorang tidak dapat seenaknya membunuh orang lain.
4. Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit daripada hukuman penjara seumur hdup.

Kontra

Perlu kita ketahui bersama Sampai sekarang ini tidak ada yang bisa
membuktikan kalau efek jera dari hukuman mati dapat mengurangi tingkat
kejahatan. Masih banyak cara untuk menjatuhkan hukuman kepada pelaku
kejahatan ini misalnya hukuman seumur hidup, atau bahkan hukuman kumulatif
hingga ratusan tahun. Dan bukan dengan untuk mengambil hak hidup mereka
karena itu menentang Pasal 28 A UUD 1945 yang menjelaskan “Setiap orang
berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”.
Dan juga bertentangan dengan Deklarasi Universal of Human Rights. Pada isi
Hak Asasi Manusia & Pancasila sudah tertera jelas bila hukuman mati dianggap
sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang terdalam yakni hak untuk hidup
dan tidak ada satupun manusia di dunia ini mempunyai hak untuk mengakhiri
hidup manusia lain meskipun dengan atas nama hukum atau negara, apalagi
Indonesia menganut dasar Falsafah Pancasila yang menghormati harkat dan
martabat manusia serta berke-Tuhanan, karena yang paling berhak mencabut
nyawa mahluk hidup hanya Tuhan.
ABORSI

Para ahli agama memandang bahwa apapun alasannya, aborsi merupakan perbuatan yang
bertentangan dengan agama, karena bersifat menghilangkan nyawa janin yang berarti
melakukan pembunuhan, walaupun ada yang berpendapat bahwa nyawa janin belum ada
sebelum 90 hari.

Ahli kesehatan secara mutlak belum memberikan tanggapan yang pasti, secara samar-samar
terlihat adanya kesepakatan bahwa aborsi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan
penyebab, masa depan anak serta alasan psikologis keluarga terutama ibu, asal dilakukan
dengan cara-cara yang memenuhi kondisi dan syarat-syarat tertentu. Begitu juga dengan ahli
sosial kemasyarakatan yang mempunyai pandangan yang tidak berbeda jauh dengan ahli
kesehatan.

Dari sisi moral dan kemasyarakatan, sulit untuk membiarkan seorang ibu yang harus merawat
kehamilan yang tidak diinginkan terutama karena hasil pemerkosaan, hasil hubungan seks
komersial (dengan pekerja seks komersial) maupun ibu yang mengetahui bahwa janin yang
dikandungnya mempunyai cacat fisik yang berat. Anak yang dilahirkan dalam kondisi dan
lingkungan seperti itu, dikemudian hari kemungkinan besar akan tersingkir dari kehidupan sosial
kemasyarakatan yang normal, kurang mendapat perlindungan dan kasih sayang yang
seharusnya didapatkan oleh anak yang tumbuh dan besar dalam lingkungan yang wajar,
sehingga tidak tertutup kemungkinan anak tersebut akan menjadi sampah masyarakat.

Di sisi lain, dari segi ajaran agama, agama manapun tidak akan memperbolehkan manusia
melakukan tindakan penghentian kehamilan dengan alasan apapun, sedangkan dari segi
hukum, masih ada perdebatan-perdebatan dan pertentangan dari yang pro dan kontra soal
persepsi atau pemahaman mengenai undang-undang yang ada sampai saat ini.

B. dasar hukum aborsi


Abortus provocatus medicinalis secara hukum dibenarkan dan mendapat perlindungan hukum sebagaimana telah
diatur dalam Pasal 75 ayat (2) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam ketentuan Pasal 75 ayat (2)
disebutkan bahwa

indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau
janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga
menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau

akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

aborsi legal untuk dilakukan terhadap kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi
korban perkosaan. Meskipun demikian tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh
konselor yang kompeten dan berwenang sebagaimana diatur dalam Pasal 75 ayat (3) UU No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.

Ketentuan Pasal 194 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengatur bahwa, “sanksi bagi setiap orang yang
dengan sengaja melakukan aborsi yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 75 ayat (2) UU Kesehatan di pidana
dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar”.

Negara dan Konstitusi

Unsur-Unsur Terbentuknya Negara


Ada beberapa syarat minimal yang harus dipenuhi agar sesuatu dapat disebut sebagai
negara. Syarat tersebut berlaku secara umum dan merupakan unsur yang penting .
syarat-syarat tersebut digolongkan menjadi dua, yaitu unsur konstitutif dan unsur
deklaratif. Unsur konstitutif terbentuknya negara adalah unsur yang mutlak harus ada
pada saat negara didirikan. Unsur konstitutif ini meliputi rakyat, wilayah, dan
pemerintah yang berdaulat. Adapun unsur deklaratif adalah unsur yang tidak mutlak
ada pada saat negara berdiri, tetapi unsur ini boleh dipenuhi atau menyusul dipenui
setelah negara berdiri. Unsur deklaratif adalah pengakuan dari negara lain.
Menurut Oppenheimer dan Lauterpacht, suatu Negara harus memenuhi syarat-syarat :
a. Rakyat yang bersatu
b. Daerah atau wilayah
c. Pemerintahan yang berdaulat
d. Pengakuan dari negara lain
Menurut Konvensi Montevideo tahun 1933, yang merupakan Konvensi Hukum
Internasional, Negara harus mempunyai empat unsur konsititutif, yaitu :
a. Harus ada penghuni (rakyat, penduduk, warga Negara) atau bangsa (staatvolk).
b. Harus ada wilayah atau lingkungan kekuasaan.
c. Harus ada kekuasaan tertinggi (penguasa yang berdaulat) atau pemerintahan yang
berdaulat.
d. Kesanggupan berhubungan dengan Negara-negara lain.
4. Pengakuan Dari Negara lain

Pengakuan dari negara lain bukanlah merupakan unsur pembentuk negara, tetapi
sifatnya hanya menerangkan saja tentang adanya negara. Dengan kata lain pengakuan
dari negara lain hanya bersifat deklaratif saja. pengakuan dibagi menjadi dua, yaitu de
facto dan de jure:

a. Pengakuan secara de facto


Diberikan jika suatu Negara baru sudah memenuhi unsur konstitutif dan juga telah
menunjukkan diri sebagai pemerintahan yang stabil. Pengakuan de facto adalah
pengakuan tentang kenyataan (fakta) adanya suatu Negara.
 Pengakuan de facto bersifat sementara
Pengakuan yang diberikan oleh suatu Negara melihat bertahan tidaknya Negara
tersebut di masa depan. Jika Negara baru tersebut kemudian jatuh atau hancur, Negara
itu akan menarik kembali pengakuannya.
 Pengakuan de facto bersifat tetap
Pengakuan dari Negara lain terhadap suatu Negara hanya bisa menimbulkan hubungan
di bidang ekonomi dan perdagangan (konsul). Sedangkan dalam hubungan untuk
tingkat Duta belum dapat dilaksanakan.
b. Pengakuan secara de jure
Pengakuan secara de jure adalah pengakuan secara resmi berdasarkan hukum oleh
negara lain dengan segala konsekuensinya.
 Pengakuan de jure bersifat tetap
Pengakuan dari Negara lain berlaku untuk selama-lamanya setelah melihat adanya
jaminan bahwa pemerintahan Negara baru tersebut akan stabil dalam jangka waktu
yang cukup lama.
 Pengakuan de jure secara penuh
Terjadinya hubungan antara Negara yang mengakui dan diakui meliputi hubungan
dagang, ekonomi, dan diplomatik. Negara yang mengakui berhak menempatkan
Konsuler atau Kedutaan.

Berikut adalah hasil dari KMB


Belanda mengakui kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada akhir bulan
Desember 1949.
 Mengenai Irian Barat penyelesaiannya ditunda satu tahun setelah
pengakuan kedaulatan.
 Antara RIS dan kerajaan Belanda akan diadakan hubungan Uni Indonesia -
Belanda yang akan diketuai Ratu Belanda.
 Segera akan dilakukan penarikan mundur seluruh tentara Belanda.
 Pembentukan Angkatan Perang RIS (APRIS) dengan TNI sebagai intinya.
Dampak positif hasil KMB bagi Indonesia
Konferensi Meja Bundar memberikan dampak yang cukup menggembirakan bagibangsa.
Indonesia. Karena sebagian besar hasil dari KMB berpihak pada bangsa Indonesia,sehingga
dampak positif pun diperoleh Indonesia. Berikut merupakan dampak dari Konferensi Meja
Bundar bagi Indonesia:
 Berhentinya perang antara belanda dan Indonesia
 Diakuinya Indonesia sebagai sebuah negara oleh belanda
 Penarikan mundur tentara - tentara Belanda di wilayah Indonesia

Dampak negatif KMB bagi INDONESIA:

 Tertundanya penyelesaian masalah Irian Barat


 Hutang Belanda pada 1942 sampai disepakatinya RIS akan ditangung RIS
 Indonesia menjadi negara bagian RIS di mana menjadi bawahan dari pemerintahan
Belanda

Ada dua sifat pokok konstitusi negara, yaitu fleksibel (luwes) dan rigid (kaku). Konstitusi dikatakan fleksibel apabila
kontitusi itu memungkinkan adanya perubahan sewaktu-waktu sesuai perkembangan masyarakat, misalnya konstitusi
Inggris dan Selandia Baru. Sedangkan konstitusi dikatakan rigit apabila konstitusi itu sulit diubah kapanpun, misalnya
konstitusi Indonesia, Kanada, Amerika dan Jerman.

Fungsi pokok konstitusi adalah untuk membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan
kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan demikian, diharapkan hak-hak warga negara akan terlindungi.
Harapan atau gagasan agar hak-hak warga negara dapat terlindungi dinamakan “konstitusionalisme”.

Disamping sifat dan fungsi konstitusi sebagaimana tersebut diatas, konstitusi juga memuat hal-hal antara lain:
1. Organisasi negara, misalnya pembagian kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif, dan
yudikatif.
2. Wilayah negara
3. Warga negara dan penduduk
4. Hak-hak asasi manusia
5. Pertahanan dan keamanan negara
6. Perekonomian nasional dan kesejahteraan nasional
7. Perubahan konstitusi
Pada prinsipnya, konstitusi memiliki tujuan untuk membatasi kewenangan pemerintah dalam menjamin hak-hak yang
diperintah dan merumuskan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat. Dengan kata lain, konstitusi merupakan sarana
atau dasar untuk mengawasi proses-proses kekuasaan. Singkatnya, tujuan adanya konstitusi antara lain adalah:
1. Membatasi kekuasaan negara;
2. Menjamin hak-hak asasi (HAM) warga negara

Keberadaan konstitusi dalam kehidupan ketatanegaraan sutu negara merupakan sutu hal yang sangat krusial,
karena tanpa konstitusi bisa jadi tidak akan terbentuk sebuah negara.

5. Geopolitik
Perwujudan Kepulauan Nusantara Sebagai Kesatuan Pertahanan dan Keamanan
Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan pertahanan dan keamanan
akan menumbuhkan kesadaran cinta tanah air dan bangsa, yang lebih lanjut akan
membentuk sikap bela negara pada tiap warga negara Indonesia. Kesadaran dan
sikap cinta tanah air dan bangsa serta bela negara ini menjadi modal utama yang
akan mengerakkan partisipasi setiap warga negara indonesia dalam menghadapi
setiap bentuk ancaman antara lain :
a. Bahwa ancaman terhadap satu pulau atau satu daerah pada
hakekatnya merupakan ancaman terhadap seluruh bangsa dan negara.
b. Bahwa tiap-tiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang
sama dalam rangka pembelaan negara dan bangsa.
Wawasan Nusantara telah diterima dan disahkan sebagai konsepsi
politik kewarganegaraan yang termaktub / tercantum dalam dasar-
dasar berikut ini :
– Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973 tanggal 22 maret 1973
– TAP MPR Nomor IV/MPR/1978 tanggal 22 maret 1978 tentang
GBHN
– TAP MPR nomor II/MPR/1983 tanggal 12 Maret 1983
Factor yang mempengaruhi wawasan nusantara:
1. Wilayah (geografi)
a. Asas Kepulauan (Archipelagic Principle)
b. Kepulauan Indonesia
c. Konsepsi tentang wilayah lautan
d. Karakteristik wilayah nusantara

2. Geopolitik dan Geo Strategi


a. Geopolitik
b. Geostrategi

3. Perkembangan wilayah Indonesia dan dasar hukumnya


a. Sejak 17 Agustus 1945 sampai dengan 13 Desember 1957
b. Dari Deklarasi Juanda yaitu pada tahun 13 Desember 1957 sampai dengan
17 Februari 1969.
c. Dari 17 Februari 1969 (Deklarasi Landas Kontinen) sampai sekarang
d. Zona ekonomi ekslusif (ZEE) yang diumumkan pemerintah Negara terjadi
pada 21 Maret 1980.

Apa Manfaat Dari Wawasan Nusantara?

Wawasan Nusantara bermakna bahwa sebagai WNI wajib mengenal dan


mengetahuinya dengan maksud bahwa kedaulatan RI itu mempunyai daerah
Hukum secara defacto dan de Jure yaitu secara hukum maupun secara
pengakuan Internasional bahwa wilayah kekuasaan negara RI itu ada dimana
saja batas wilayahnya.
Dengan wilayah kedaulatan itu kita sebagai WNI wajib mempertahankan dan
menjaga dari ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dari pihak
manapun baik dalam maupun luar negeri.
Manfaatnya supaya WNI itu hidup dalam keadan damai dan tentram sebagai
WNI yang merdeka.

6. Geostrategi
Implementasi dalam Kehidupan Politik[sunting | sunting sumber]
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan wawasan
nusantara, yaitu:[7]

1. Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang - undang, seperti


UU Partai Politik, UU Pemilihan Umum, dan UU Pemilihan Presiden.[7] Pelaksanaan
undang-undang tersebut harus sesuai hukum dan mementingkan persatuan
bangsa.[7] Contohnya seperti dalam pemilihan presiden, anggota DPR, dan kepala
daerah harus menjalankan prinsip demokratis dan keadilan, sehingga tidak
menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.[7]
2. Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia harus sesuai
denga hukum yang berlaku.[7] Seluruh bangsa Indonesia harus mempunyaidasar
hukum yang sama bagi setiap warga negara, tanpa pengecualian. Di Indonesia
terdapat banyak produk hukum yang dapat diterbitkan
oleh provinsi dankabupaten dalam bentuk peraturan daerah (perda) yang tidak
bertentangan dengan hukum yang berlaku secara nasional.[7]
3. Mengembagkan sikap hak asasi manusia dan sikap pluralisme untuk
mempersatukan berbagai suku, agama, dan bahasa yamg berbeda, sehingga
menumbuhkan sikap toleransi.[7]
4. Memperkuat komitmen politik terhadap partai politik dan lembaga
pemerintahan untuk menigkatkan semangat kebangsaan dan kesatuan.[7]
5. Meningkatkan peran Indonesia dalam kancah internasional dan memperkuat korps
diplomatik ebagai upaya penjagaan wilayah Indonesia terutama pulau-pulau terluar
dan pulau kosong.[7]
Implementasi dalam Kehidupan Ekonomi[sunting | sunting sumber]

1. Wilayah nusantara mempunyai potensi ekonomi yang tinggi, seperti


posisi khatulistiwa, wilayah laut yang luas, hutan tropis yang besar, hasil tambang
dan minyak yang besar, serta memeliki penduduk dalam jumlah cukup besar.[7] Oleh
karena itu, implementasi dalam kehidupan ekonomi harus berorientasi pada sektor
pemerintahan, pertanian, dan perindustrian.[7]
2. Pembangunan ekonomi harus memperhatikan keadilan dan keseimbangan
antardaerah.[7] Oleh sebab itu, dengan adanya otonomi daerah dapat menciptakan
upaya dalam keadilan ekonomi.[7]
3. Pembangunan ekonomi harus melibatkan partisipasi rakyat, seperti dengan
memberikan fasilitas kredit mikro dalam pengembangan usaha kecil.[7]
Implementasi dalam Kehidupan Sosial[sunting | sunting sumber]
Tari pendet dari Bali merupakan budaya Indonesia yang harus dilestarikan sebagai
implementasi dalam kehidupan sosial.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial, yaitu :[7]

1. Mengembangkan kehidupan bangsa yang serasi antara masyarakat yang


berbeda, dari segi budaya, status sosial, maupun daerah.[7] Contohnya
dengan pemerataan pendidikan di semua daerah dan program wajib
belajar harus diprioritaskan bagi daerah tertinggal.[7]
2. Pengembangan budaya Indonesia, untuk melestarikan kekayaan
Indonesia, serta dapat dijadikan kegiatanpariwisata yang memberikan
sumber pendapatan nasional maupun daerah.[7] Contohnya dengan
pelestarian budaya, pengembangan museum, dan cagar budaya.[7]
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan pertahanan dan
keamanan, yaitu :[7]

1. Kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus memberikan


kesempatan kepada setiap warga negara untuk berperan aktif, karena
kegiatan tersebut merupakan kewajiban setiap warga negara, seperti
memelihara lingkungan tempat tinggal, meningkatkan kemampuan disiplin,
melaporkan hal-hal yang menganggu keamanan kepada aparat dan
belajar kemiliteran.[7]
2. Membangun rasa persatuan, sehingga ancaman suatu daerah atau pulau
juga menjadi ancaman bagi daerah lain.[7]Rasa persatuan ini dapat
diciptakan dengan membangun solidaritas dan hubungan erat antara
warga negara yang berbeda daerah dengan kekuatan keamanan.[7]
3. Membangun TNI yang profesional serta menyediakan sarana dan
prasarana yang memadai bagi kegiatan pengamanan wilayah Indonesia,
terutama pulau dan wilayah terluar Indonesia.[7]

Hak dan kewajiban memiliki hubungan yang cukup erat dan tidak dapat dipisahkan. Segala akibat yang
ditimbulkan dari adanya hak tentunya ada kewajiban, Untuk itu dalam menjalankan kehidupan sehari-hari,
antara hak dan kewajiban dapat dijalankan dengan imbang, karena kalau tidak dijalankan dengan imbang
maka akan menimbulkan pertentangan.
Hak warga negara Indonesia;
1. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan (pasal 27 ayat 2).
2. Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dalam
kehidupannya (pasal 28A).
3. Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui
perkawinan yang sah (pasal 28B ayat 1).
4. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak
atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (pasal 28B ayat 2).
5. Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejahteraan umat manusia (pasal 28C ayat 1).
Kewajiban warga negara Indonesia;
1. Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya (Pasal 27
ayat 1).
2. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Pasal 28J ayat 1).
3. Di dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata
untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain
dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai
agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis (pasal
28J ayat 2).
4. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara
(pasal 30 ayat 1).
Dengan adanya pemahaman mengenai hak dan kewajiban ini, diharapkan warga negara
Indonesia tidak akan mengalami pertentangan terhadap sesama. Disamping itu juga warga
negara bukan hanya menuntut haknya saja melainkan agar dapat melaksanakan kewajibannya
sebagai warga negara yang baik. Sebagaimana pernyataan John F Kennedy bahwa “jangan
tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan
kepada negaramu’’.