Anda di halaman 1dari 14

INTENSIP

IDENTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN IRIGASI


DENGAN MENGGUNAKAN GIS

JURNAL

Oleh

JUMADIL MURSALIM

312 11 040 312 11 008

PROGRAM STUDI KONSTRUKSI SIPIL

JURUSAN TEKNIK SIPIL

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

MAKASSAR

2014
IDENTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN IRIGASI
DENGAN MENGGUNAKAN GIS
Jumadil , Mursalim2, Aksan Djamal3, Haeril Abdi Hasanuddin4
1

Teknik Konstruksi Sipil, Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Ujung Pandang
Jalan Perintis Kemerdekaan KM.10 Tamalanrea , Makassar 90245
1
adildjumadil7@gmail.com,2underground31shalim@gmail.com, 3aksanana@gmail.co.id,4haeril@gmail.com

ABSTRAK
( Jumadil & Mursalim), Identifikasi tingkat kerusakan Irigasi dengan menggunakan GIS ( Aksan
Djamal dan Haeril Abdi Hasanuddin).

Keterbatasan data dan informasi terutama yang berbasis geografi/spasial (keruangan)


yang akurat sebagai alat untuk mengetahui lokasi jaringan Irigasi serta prasarana – prasarana
pemerintah lainnya merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh instansi – instansi
pemerintah maupun swasta pada umumnya dan tidak adanya pedoman yang jelas untuk
membedakan klasifikasi suatu objek untuk mendeteksi setiap permasalahan.
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun system informasi geografi (SIG) berupa bank
data yang dapat menampilkan data informasi mengenai kerusakan yang ada pada irigasi kalola
dan selanjutnya dapat menghitung renncana anggaran biaya untuk rehabilitasi saluran tersebut.
Setelah melakukan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat kerusakan pada irigasi
kalola berada pada level rusak ringan dan penggunaan SIG dalam pemberian informasi
mengenai hal tersebut sangat menguntungkan oleh karena pengguna dengan mudah membuka /
mengakses data meski tanpa harus terjun langsung dilapangan dan sewaktu – waktu data dapat
diperbahrui sesuai dengan fakta / perkembangan dilapangan.

PENDAHULUAN
Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan untuk
pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan,pengambilan, pembagian, pemberian dan
penggunaannya. Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan jaringan tersier.
Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran sekunder. Sedangkan jaringan tersier
terdiri dari bangunan dan saluran yang berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang
mendapatkan air dari suatu jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.
Pengelolaan irigasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam menunjang
produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, sistem irigasi perlu dikelola
dengan baik, dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat, berdasarkan
prinsip dan pendekatan partisipasi masyarakat.
Dengan melihat kondisi Irigasi kalola yang ada di Kabupaten Wajo mengalami
penurunan fungsi disebabkan karena banyaknya titik saluran yang mengalami kerusakan
sehingga distribusi air yang sampai kepersawahan jauh dari harapan masyarakat dan juga
disebabkan umur dari irigasi tersebut sudah melewati masa operasi insfrastruktur.

Keterbatasan data dan informasi terutama yang berbasis geografi/spasial (keruangan)


yang akurat sebagai alat untuk mengetahui lokasi jaringan Irigasi serta prasarana – prasarana
pemerintah lainnya merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh instansi – instansi
pemerintah maupun swasta pada umumnya dan tidak adanya pedoman yang jelas untuk
membedakan klasifikasi suatu objek untuk mendeteksi setiap permasalahan.
Dalam hal ini kami bermaksud menggunakan System Informasi Geografis ( SIG)
yang berbasis spasial ( peta ) digital yang memudahkan dalam pemberian informasi mengenai
kondisi saluran tersebut, sehingga dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga serta diharapkan
akan memudahkan dalam monitoring dan evalusi secara berkala dan berkelanjutan.
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat diambil rumusan masalah sebagai
berikuti:
1. Bagaimana mengidentifikasi tingkat kerusakan dengan menggunakan System Informasi
Geografi ( SIG ) pada Irigasi Kalola ?
2. Bagaimana menentukan jenis kerusakan pada saluran Irigasi Kalola ?
3. Bagaimana menghitung rencana anggaran biaya ( RAB) rehabilitasi saluran Irigasi
Kalola ?
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Dapat menyusun system informasi berupa bank data / data base yang dapat menampilkan
data informasi mengenai titik kerusakan pada Irigasi Kalola.
2. Dapat menentukan prosentase tingkat kerusakan Irigasi Kalola.
3. Dapat menentukan rencana anggaran biaya rehabilitasi saluran.
C. Manfaat Penelitian
1. Pada penelitian ini diharapkan dapat memudahkan dalam pemberian informasi mengenai
kondisi irigasi kalola Kab. Wajo. Menggunakan program SIG.
2. Sebagai referensi bagi pihak manapun yang ingin mengembangkan pengetahuannya
mengenai SIG.
3. Hasil program ini dapat diterapkan oleh pihak pengelola irigasi Kalola ataupun pihak –
pihak lainnya, sebagai alat untuk menidentifikasi infrastruktur Irigasi.

LANDASAN TEORI
A. Irigasi dan Pemeliharaan Irigasi
1. irigasi
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (No.32/PRT/M/2007), disebutkan bahwa
jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkap yang merupakan satu
kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan
pembuangan air irigasi.Ada beberapa jenis jaringan irigasi yaitu:
a. Jaringan irigasi primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri atas
bangunan utama, saluran induk/primer, saluran pembuangannya, bangunan bagi,
bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.
b. Jaringan irigasi sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri atas
saluran sekunder, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagisadap,
bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.
c. Jaringan irigasi tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana
pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri atas saluran tersier, saluran
kuarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter, serta bangunan
pelengkapnya.
2. Pemiliharaan jaringan irigasi
Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan
irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi
dan mempertahankan kelestariannya melalui kegiatan perawatan, perbaikan, pencegahan
dan pengamanan yang harus dilakukan secara terus menerus. Adapun jenis pemeliharaan
jaringan irigasi terdiri dari:
a. Pengamanan jaringan irigasi.
Pengamanan jaringan irigasi merupakan upaya untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh daya
rusak air, hewan atau manusia guna mempertahankan fungsi dari jaringan irigasi
tersebut.
b. Pemeliharaan rutin.
Pemeliharaan rutin merupakan kegiatan perawatan dalam rangka
mempertahankan kondisi jaringan irigasi yang dilaksanakan secara terus menerus
tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti.
c. Pemeliharaan berkala
Pemeliharaan berkala merupakan kegiatan perawatan dan perbaikan yang
dilaksanakan secara berkala yang direncanakan dan dilaksanakan oleh dinas yang
membidangi irigasi dan dapat bekerja sama dengan P3A/ GP3A/ IP3A secara
swakelola berdasarkan kemampuan lembaga tersebut dan dapat pula dilaksanakan
dengan kontraktual.
d. Perbaikan darurat.
Perbaikan darurat dilakukan akibat bencana alam dan atau kerusakan
beratakibat terjadinya kejadian luar biasa (seperti pengrusakan/ penjebolan
tanggul, longsoran tebing yang menutup jaringan, tanggul putus dll) dan
penanggulangan segera dengan konstruksi tidak permanen agar jaringan irigasi
tetap berfungsi.
B. Kriteria kerusakan saluran Irigasi
Berdasarkan hasil inventori lapangan yang sudah dilaksanakan, dilakukan
pembagian kriteria kerusakan menjadi 3 yaitu rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat /
rusak parah dan yang dimaksud kriteria penanganan kerusakan tersebut sebagai berikut :
1. Rusak ringan
kerusakan pada kriteria ini bisa diakibatkan karena kerusakan teknis maupun
fungsi. Kerusakan ini hanya merupakan penurunan fungsi jaringan tetapi tidak sampai
mengganggu sistim jaringan secara keseluruhan. Penanganan dilakukan pada lokasi-
lokasi yang mengalami kerusakan dengan skala kecil, seperti penutupan saluran
pengambilan air, pembersihan sedimen dan tanaman liar di saluran dan bangunan,
penggantian stang penggerak pintu, pengecatan dan pelumasan pintu pada bangunan
sadap serta kerusakan kecil lain yang hanya mengembalikan ke kondisi semula.
2. Rusak sedang
Penanganan ini dilakukan pada lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan
dengan skala menengah/sedang, kerusakan ini menyebabkan penurunan fungsi
bangunan dan saluran serta mengganggu kelancaran sistim jaringan yang ada, seperti
pada rehabilitasi saluran dikiri dan kanan saluran, rahabilitasi dasar, rehabilitasi
dengan penambahan tinggi jagaan saluran. Rusak sedang jika tidak segera
ditindaklanjuti / antisipasi maka lama-kelamaan akan menjadi rusak parah/ berat,
munkin saja pada jenis kerusakan ini air masi mampu mengalir ke pesawahan namun
jauh dari harapan para petani
3. Rusak berat/ rusak parah
Penanganan ini akan dilakukan pada lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan
total karena rusak oleh alam maupun karena umur bangunan maupun karena keperluan
desain untuk mengoptimalkan fungsi jaringan, baik saluran maupun bangunan.
Kerusakan ini menyebabkan penurunan fungsi saluran dan bangunan serta
menyebabkan sistim hampir tidak berfungsi. Sumber (Dep PU Dirjen SDA).
C. Rencana Anggaran Biaya ( RAB )
Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah perhitungan banyaknya biaya yang
diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan
pelaksanaan proyek. RAB memuat keseluruhan item pekerjaan yang menjadi tanggung jawab
kontraktor dan diperinci lagi sehingga RAB juga berisi volume pekerjaan, kebutuhan bahan
bangunan dan peralatan, alokasi dan upah tenaga kerja serta pengeluaran lainnya. Dari real
cost ini kemudian ditentukan harga borongan untuk lelang. Anggaran biaya pada bangunan
yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah, disebabkan karena perbedaan harga
bahan dan upah tenaga kerja.
1. Perhitungan Volume Pekerjaan
Yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah
banyaknya volume pekerjaan dalam satu-satuan. Volume juga disebut sebagai kubikasi
pekerjaan, jadi volume (kubikasi) suatu pekerjaan, bukanlah merupakan volume (isi
sesungguhnya), melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan,
Bacthiar Ibrahim (1993 : 23)
Sebelum menghitung volume masing-masing pekerjaan terlebih dahulu harus
dikuasai membaca gambar bestek berikut gambar detail atau penjelasan. Perhitungan
volume galian dan timbunan, volume pekerjaan dan harga satuan pekerjaan digunakan
sebagai acuan di dalam perhitungan anggaran. Dalam perhitungan volume galian dan
timbunan untuk embung dilakukan dengan cara menghitung dimensi konstruksi,
mengacu pada gambar teknis yang telah dibuat.
2. Harga Satuan Pekerjaan
Yang dimaksud dengan harga satuan pekerjaan adalah jumlah harga bahan dan
upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis, Bacthiar Ibrahim (1993 : 133).
Harga bahan didapat dipasaran, dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan daftar
harga satuan bahan. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi, dikumpulkan dan dicatat
dalam satu daftar yang dinamakan daftar harga satuan upah.
Harga satuan bahandan upah tenaga kerja disetiap berbeda-beda. Jadi dalam
menghitung dan menyusun anggaran biaya dalam suatu bangunan atau proyek, harus
berpedoman pada harga satuan bahan dan upah tenaga kerja dipasaran dan lokasi
pekerjaan.
3. Analisa Bahan dan upah
a. Analisa harga satuan bahan bangunan
Untuk menentukan biaya bangunan / building cost rancangan pekerjaan
konstruksi dari suatu bangunan gedung, jalan dll, diperlukan suatu acuan dasar.
Acuan tersebut adalah analisa biaya konstruksiyang disusun melalui kegiatan
penelitian produktifitas pekerja dilapangan
Koefisien analisa harga satuan adalah angka – angka jumlah kebutuhan
bahan maupun tenaga yang diperlukan untuk mengerjakan suatu pekerjaan dalam
satu satuan tertentu. koefisien analisa harga satuan berfungsi sebagai pedoman
awal perhitungan rencana anggaran biaya bangunan, kondisi tersebut membuat
koefisien analisa harga satuan menjadi kunci menghitung dengan tepat perkiraan
anggaran biaya bangunan.
Contoh koefisien analisa harga satuan bangunan ( SNI 03-2835-2002) Misalnya
untuk 1 m2 pekerjaan plesteran dinding koefisien analisa harga satuanya adalah
sebagai berikut:
Analisa untuk 1 m2 pekerjaan plesteran 1 pc : 5 ps tebsl 15 mm adalah
koefisien analisa bahan
• 4,320 kg Semen Portland
• 0,022 m3 pasir pasang
koefisien analisa tenaga
• 0.010 hari mandor
• 0.015 hari kepala tukang
• 0.150 hari tukang batu
• 0.200 hari pekerja
• Angka – angka diatas merupakan koefisien analisa harga satuan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan 1m2 pekerjaan plesteran membutuhkan
4,320 kg Semen Portland, sehingga jika kita akan mengerjakan 100 m2
pekerjaan plesteran maka kita harus membeli atau menyediakan semen
sebanyak 4,320x 100 = 432 kg atau (432 / 40 = 9 zak) ≈ 1 zak semen 40 kg.
Begitu juga dengan kebutuhan tenaga sesuai koefisien analisa harga
satuan diatas untuk menyelesaikan 1m2 pekerjaan plesteran diperlukan 0.150 hari
tukang batu, maka untuk menyelesakan 100 m2 plesteran dibutuhkan 0.150 x 100
= 15 hari kerja untuk satu tukang, ketika kita ingin menyelesaikan pekerjaan
plesteran tersebut dalam waktu 5 hari maka diperlukan tukang batu sebanyak 3
orang. Adapun cara mendapatkanya yaitu 15 / 5 = 3 orang.
b. Upah
Upah merupakan gaji yang diberikan kepada masing – masing tenaga
kerja. Besarnya upah ditentukan oleh jabatan masing – masing pekerja dan
ditentukan oleh harga standar upah setiap daerah.
D. System Informasi Geografis ( SIG )
SIG adalah system informasi yang berbasis data spasial geografis yang
digunakanuntuk menyimpan dan memanipulasi informasi – informasi geografis (
Prahasta,2001).
1. Sub system dalam SIG
Keutamaan SIG dengan menggunakan system digital atau computer antara
lain : (1) memperkecil kesalahan manusia; (2) kemampuan memanggil; (3)
menggabungkan tumpang susun; dan (4) memperbaharui data dengan memperhatikan
perubahan lingkungan,data statistic dan area yang Nampak
SIG memiliki perbedaan mendasar dari system informasi yang lainnya yaitu
kemanpuannya untuk mengintegrasikan setiao data yang berkaitan secara spasial dan
data atributnya ( table )
Sub system yang mendukung SIG ada sebanyak 3 buah, yaitu geodatabase,
geoprocessing, dan geovisualization yang masing – masing mempunyai fungsi yang
berbeda.
a. Geodatabase
Geodatabase adalah system manajemen database yang berisi kumpulan
data – data spasial yang mempresentasikan informasi geografis, dari model data
sig yang umum seperti raster ,topologi, jaringan dan lainnya. Ada beberapa
model data yang merupakan reprentasi dari keadaa bumi sub system ini
dijalankan dalam ArcCatalog. Model reprentasi permukaan bumi dalam sig ada
2 macam yaitu model data vector dan raster.
b. Geoprocessing
Geoprocessing adalah sekumpulan tool pengubah informasi yang dapat
menghasilkan informasi geografis baru dari kumpulan data yang sudah ada.
Subsistem ini dijalankan dalam software ArcMap yang dilengkapi dengan
ArcTollbox.
c. Geovisualisation
Geovizulisation adalah kemampuan dari SIG untuk memperlihatkan data
– data spasial beserta hubungan antar data spasial tersebut yang merupakan
reprentasi dari permukaan bumi dalam berbagai bentuk digital seperti peta
interaktif, table, dan grafik pada dinamis dan skema jaringan. Su-bsistem ini
dijalankan dalam software Arcmap.
System computer untuk SIG terdiri dari perangkat keras ( hardware)
perangkat lunak ( software ) dan prosedur untuk penyusunan pemasukan
data,pengolahan, analisis, pemodellan ( modelling) dan penayangan data
geospasial.
Sumber – sumber data geospatial adalah peta digital,foto udara, citra
satelit, table statistic dan dokumen lain yang berhubungan. Data geospatial
dibedakan menjadi data grafis ( atau disebut juga data geometris ) dan data
atribut (data tematik) lihat gambar 3 data grafis mempunyai 3 elemen : titik (
node ), garis (arc), da luasan ( polygon ) dalam bentuk vector ataupun raster
yang mewakili geometri topologi,ukuran, posisi dan arah.
Komponen struktur data terdiri dari dua unsur, yaitu (1) struktur data
spatial (grafis) dan (2) struktur data non- spasial ( tabular /atribut). Data
spasial adalah data grafis yang berkaitan dengan lokasi,posisi dan area pada
koordinat tertentu.
Sedangkan data atribut merupakan data yang menguraikan karakteristik
obyek – obyek geografis dari spasialnya.data ini dapat berupa data kuantitatif dan
data kualitatif. Data kualitatif misalnya status irigasi peranan irigasi dsb.
Sedangkan data kuantitatif berupa satuan atau besaran, jumlah , tingkat atau
interval. Data atribut tersebut disajikan menurut konsep model data relasional.
2. Aplikasi SIG Dalam bidang Irigasi
Untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan Irigasi, SIG berperan
dalam hal (1) penanganan data (data handling), (2) pentayangan (3) pemutakhiran
data (4) perbandingan antar set data ( 5) pemodelan ( modeling ) Dalam bidang
SIG adalah sebagai alat bantu (tools ) dalam perencanaan dan pengelolaan.informasi
yang dihasilkan oleh SIG merupakan infut dalam proses perencanaan dan
pengelolaan.
Dalam berbagai model perencanaan dan pengambilan keputusan umumnya
tidak seluruh kondisi atau keadaan lapangan diperlukan melainkan hanya informasi
obyek – obyek tertentu yang dipertimbangkan sebagai factor dominan dalam
menetukan kondisi yang ada.
Untuk dapat memperoleh informasi tersebut perlu dilakukan
a. Pengmpulan data yang relevan untuk disajikan sebagai informasi,
b. Proses pengolahan dan pengelolaan data, serta
c. Analisis data dan penyajian informasi.
Aplikasi SIG pada bidang keairan :
a. Inventarisasi jaringan irigasi
b. Analisis kesesuaian/studi kelayakan
c. Penentuan rute – rute alternative
d. Analisis kerusakan pada saluran
e. Manajemen pemeliharaan irigasi
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Loppong, kecamatan maniang pajo, Kab. Wajo.
Pemilihan lokasi karena pertimbangan :
a. Fungsi dari irigasi yang ada pada daerah tersebut mengalami penurunan
sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat setempat dikarenakan
banyaknya infrastrukturnya mengalami kerusakan.
b. Mudah dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor karena lokasinya
tidak jauh dari kota wajo.
2. Waktu penelitian
Penelitian dilakukan dengan menempuh tahapan – tahapan dari
prapenelitian ( persiapan dan penyusunan proposal), pengolahan data dan program
sampai dengan tahap akhir yaitu laporan akhir (seminar hasil). Penelitian dimulai dari
bulan November 2013 – November 2014
B. Alat dan software yang digunakan
1. Alat survey lapangan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Kendaraan berupa sepeda motor
b. Gps (global posytion system ) garmin 76 cxs
c. Meteran 5 m
d. Kamera digital
e. APD (Alat Pelindung Diri)
2. Software pengolahan data
Adapun software / aplikasi computer yang digunakan untuk pengolahan data
adalah sebagai berikut :
a. Microsoft office 2013
b. ArcGis 9.3
c. MapInfo 10
d. Visual studio 10
e. Mapsouce
C. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah survey
lapangan dengan strategi deskriptif kuantitatif, dimana penelitian lebih mengarah pada
pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta
– fakta yang ada. Serta kunjungan terhadap Instansi terkait untuk kebutuhan data sekunder.
Pemilihan metode pengolahan data dengan menggunakan SIG dipilih karena
kemampuan program SIG yang dapat menjawab kebutuhan system informasi yang efisien
yang mampu mengelola data dengan struktur yang kompleks dan berbasis geografis (
keruangan ) seperti Identifikasi tingkat kerusakan pada saluran irigasi serta karena SIG
mampu menyimpan, menganalisis, menyajikan data baik data spasial (berapa jarak, posisi
kerusakan objek / irigasi tertentu dll) dan pertanyaan non spasial
( berapa panjang,berapa lebar dll) sehingga dapat memberikan data yang informative
dibandingkan dengan system informasi berbasis computer lainnya dan akhirnya membantu
proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Parameter yang digunakan untuk menetukan tingkat kerusakan pada irigasi dan
seberapa besar tingkat kebutuhan biaya rehabilitasinya. Parameter ini ditinjau pada masing –
masing sisi saluran yang disurvey.
D. Prosedur penelitian
Prosedur penelitian ini meliputi pengumpulan data, survey lapangan, analisis data
sampai dengan pembuatan system informasi Geografis.
Adapun prosedurnya sebagai berikut :
1. Tahap I : Persiapan
Tahap Persiapan / pendahuluan meliputi
a. Permohonan perizinan secara tertulis kepada instansi pengelola Irigasi.
b. Survey / peninjauan lapangan.
2. Tahap II : Pengambilan data Primer terdiri dari :
a. Penelusuran disepanjang saluran sekunder irigasi kalola
( tracking ) dan menandai setiap kerusakan menggunaka GPS.
b. Merekam serta mengambil foto sebagai dokumentasi penelitian disetiap titik
kerusakan.
c. Pengukuran terhadap dimensi kerusakan.
3. Tahap III pengumpulan data primer dan data sekunder
4. Tahap IV pengolahan data
E. Teknik pengolahan data
1. Registrasi peta kabupaten wajo dengan nomor reigistrasi (120°00’00’’BT )
(3°45’00’’LS) dan (120°45’00”BT)(4°15’00”) pada ArcMap yang merupakan bagian
dari program Argis.
2. Editing peta dasar dengan membuat batas kecamatan dan Batas Kabupaten Wajo.
3. Menyimpan data – data layer tersebut sebagai Shapefile( SHP ) dalam suatu folder di
ArcCatalog.
4. Mengubah setiap layer SHP menjadi Mapinfotab dengan menggunakan universal
translator pada Aplikasi Mapinfo.
5. Menyimpan hasil translate kedalam satu folder agar memudahkan dalam pencarian.
6. Menggabungkan semua Tab menjadi satu layer kecuali Tab point sebagai titik rusak
saluran.
7. Data hasil track GPS dicopy kedalam folder bersama dengan file textnya agar
program mampu membacanya,, oleh karna data ini tidak diolah seperti data- data
sebelumnya.
Setelah peta digitalnya digabung menjadi satu layer dan track GPSnya selesai diolah
serta data letak kerusakan ( titik rusak saluran) sudah dalam file mapinfo tab maka proses
selanjutnya yaitu
8. Menjalankan aplikasi Visual studio dan Merunning Sig Irigasi Kalola yang telah buat
dengan bahasa pemprograman.
Setelah program tersebut sudah bisa dijalankan dengan sempurna maka langkah
selanjutnya yaitu
9. Memasukkan peta kabupaten wajo
10. Memasukkan jalur Irigasi dan point/titik Kerusakan.
11. Perhitungan rencana anggaran biaya ( RAB )
12. Memasukkan data mengenai Kerusakan pada setiap pointnya seperti foto, video dan
Rencana Anggaran Biaya.
13. Selesai.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Gambaran umum Irigasi Kalola
Irigasi kalola terletak di Kecamatan Maniangpajo Kab. Wajo kurang lebih 210
km dari kota Makassar. Irigasi Kalola mulai dibangun pada bulan Agustus 1993 dengan
waktu pelaksanaan 365 hari kalender dan selesai pada bulan Agustus 1994.
Adapun data mengenai Irigasi Kalola dapat dilihat pada tabel berikut:
2. Kriteria kerusakan dan Daftar kerusakan Irigasi Kalola
Pada penelitian ini menggunakan volume dalam menetukan jenis kerusakan pada
setiap titik rusak saluran, semakin besar volume kerusakan maka akan diberikan bobot 1
dengan jenis kerusakan rusak berat/parah. Namun jika kerusakannya tergolong memiliki
volume yang rendah maka akan diberikan bobot nomor 3 dengan jenis kerusakan rusak ringan
atau rusak sedang.
Untuk melihat kriteria kerusakan dapat diliha pada tabel berikut :
Tabel 2 Kriteria rusak
Volume ( m3 ) Jenis Kerusakan Bobot
≤ 4 RR ( Rusak Ringan ) 1
4-8 RS ( Rusak Sedang ) 2
>8 RP ( Rusak Parah/Berat) 3
Dengan dasar penetuan tersebut maka, data hasil survey lapangan khususnya pada
dimensi kerusakan dengan melakukan perhitungan besarnya volume setiap titik yang
mengalami kerusakan kemudian menetukan jenis kerusakan pada titik tersebut.
a. Kerusakan Berat / Parah
Kerusakan ini banyak ditemukan pada saluran Induk dan saluran sekunder
awatanae. Dapat ditandai dengan besarnya volume kerusakan seperti pada jebolnya
dinding sehingga mudahnya air meresap kedalam tanah yang mengakibatkan debit air
yang mengalir menjadi berkurang.
Disamping kehilangan air, kebocoran dan resapan air sepanjang tanggul dan dasar
saluran juga dapat menimbulkan kelongsoran atau amblasnya saluran. Biasanya
kebocoran yang terjadi menunjukkan peningkatan jumlah dan besarnya, serta posisi yang
sering berpindah-pindah. Jadi disini permasalahan kebocoran pada saluran mengurangi
pemasokan air untuk irigasi dan rusaknya badan saluran.
Dari hasil penelitian ditemukan Sembilan (9) titik kerusakan yakni empat (4) titik
rusak pada saluran suplesi, dua (2) titik pada saluran sekunder calaccu dan tiga (3) titik
rusak berat pasa saluran sekunder awatanae.
b. Kerusakan sedang
Kerusakan seperti ini mendominasi setiap saluran pada saluran induk terdapat
tujuh(7) titik kerusakan, saluran sekunder kalosi terdapat empat(4) titik kerusakan,
saluran sekunder calaccu enam(6) titik kerusakan, saluran sekunder kalola terdapat
tiga(3) titik kerusakan dan saluran sekunder awatanae terdapat tujuh(7) titik kerusakan.
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa yang termasuk dalam kategori rusak
sedang ialah rusak parah yang volumenya antara empat sampai delapan meter kubik ( m3
). Kerusakan seperti ini juga sangat mempengaruhi debit air yang mengalir sehingga hasil
pertanian masyarakat tidak seperti pada saat kondisi saluran masih sempurna.
c. Kerusakan ringan
Kerusakan seperti ini tidak terlalu mempengaruhi aliran air akan tetapi kerusakan
seperti ini perlu segera ditindak lanjuti mengingat sifat air yang selalu mencari celah
untuk membuat dinding – dinding saluran menjadi retak atau jebol. Kerusakan seperti ini
dapat ditandai dengan adanya keretakan pada dinding saluran meskipun dinding saluran
terlihat masih utuh. Kerusakan seperti ini banyak dijumpai pada saluran sekunder dengan
rincian terdapat duapuluh delapan ( 28 ) titik rusak dan hanya tiga (3) titik rusak pada
saluran suplesi atau saluran Induk.
3. Hasil identifikasi saluran Suplesi / Induk
Saluran suplesi merupakan saluran Induk dari bendungan Kalola yang
menyupali air untuk saluran sekunder Kalola, sekunder Calaccu, sekunder kalosi dan
sekunder Awatanae.
Dengan dimensi saluran :
Tinggi : 2.3 m
Panjang : 4.61 km

Prosentase kerusakan saluran suplesi :


Total panjang kerusakan
Kriteria rusak = x 100
Panjang Saluran

76
Rusak berat/parah ( L= 76m) = x 100 =1.65%
4610

84.60
Rusak sedang ( L=84.60m) = x 100 = 1.83 %
4610
17
Rusak ringan ( L = 17m ) = x 100 = 0.37 %
4610

4432.4
Kondisi baik ( L = 5602.4m) = x 100 = 96.15 %
4610
4. Hasil identifikasi saluran sekunder kalosi
Dimensi saluran :
Tinggi : 1.7 m
Panjang : 4.8 km ( Batasan masalah penelitian )
Prosentase kerusakan saluran :
Rusak berat/parah ( L = 0 m) : 0%
Rusak sedang ( L = 45.5m) : 0.95%
Rusak ringan ( L = 55.30m) : 1.15%
Kondisi baik (L = 4699.2m) : 97.90 %
5. Hasil identifikasi saluran sekunder calaccu
Dimensi saluran :
Tinggi : 1.7 m
Panjang : 5.4 km ( Batasan masalah penelitian )

Prosentase kerusakan saluran :


Rusak berat/parah ( L = 45m ) : 0.83 %
Rusak sedang ( L = 68.40m) : 1.26%
Rusak ringan ( L = 67.80m ) : 1.25%
Kondisi baik ( L =5218.8m ) : 96.64 %
6. Hasil identifikasin saluran sekunder kalola
Dimensi saluran :
Tinggi : 2.1 m
Panjang : 6.1 km ( Batasan masalah penelitian )

Dengan prosentase kerusakan saluran :


Rusak berat/parah ( L = 0m ) : 0%
Rusak sedang ( L = 43.10m) : 0.71 %
Rusak ringan ( L = 27.30m ) : 0.45 %
Kondisi baik ( L = 6029m ) : 98.85 %
7. Hasil identifikasi aluran sekunder awatanae
Dimensi saluran :
Tinggi : 1.5 m
Panjang : 5.2 km ( Batasan masalah penelitian )
Tabel 8 Identifikasi saluran sekunder Awatanae
Dengan prosentase kerusakan saluran :
Rusak berat/parah ( L = 81.40m ) : 1.56 %
Rusak sedang ( L = 108.3m ) : 2.08 %
Rusak ringan ( L = 28.30m) : 0.54 %
Kondisi baik ( L = 5076m ) : 95.81 %
8. Identifikasi SIG
Setelah data primer dan data sekunder telah rampung, maka langkah selanjutnya
adalah analisis data dalam bentuk aplikasi software.
Aplikasi ini menggabungkan beberapa layer seperti layer peta, layer tarck saluran
dan titik rusak saluran. Layer peta dapt ditandai sebagai line polygon, layer track saluran
dalam bentuk line dan layer titik rusak dapat ditandai dengan titik berbentuk bintang.
likasi ini juga dapat menampilkan data informsai mengenai titik kerusakan
misalnya foto, video dan dokumen.
9. Rencana Anggaran Biaya ( RAB )
Perhitungan rencana anggaran biaya Rehabilitasi Irigasi Kalola didapatkan
dengan cara mengalikan harga satuan pekerjan dengan volume pekerjaan. Penggunaan
harga dan upah kerja disesuakan dengan harga daerah setempat
Analisis harga satuan menggunakan analisis Standar Nasional Indonesi ( SNI )
standar analisis ini juga sering digunakan oleh pihak –pihak kontraktor dalam menyusun
rencana anggaran biaya pada setiap item pekerjaan yang sedang mereka laksanakan.
REKAPITULASI ANGGARAN BIAYA
( RINCIAN RENCANA ANGGARAN BIAYA )

NO. NAM A SALURAN JUM LAH HARGA

I SALURAN SUPLESI Rp 115,296,193.61


II SALURAN SEKUNDER KALOSI Rp 49,691,870.12
III SALURAN SEKUNDER CALACCU Rp 85,447,044.73
IV SALURAN SEKUNDER KALOLA Rp 41,586,629.02
V SALURAN SEKUNDER AWATANAE Rp 90,379,000.18
Real Cost Rp 382,400,737.65
PPn 10% Rp 38,240,073.77
Total cost Rp 420,640,811.42

Dibulatkan Rp 420,640,000.00

Terbilang : Empat ratus dua puluh Juta enam ratus empat puluh ribu rupiah
B. PEMBAHASAN
1. Identifikasi SIG
Identifikasi SIG merupakan hasil akhir dari penelitian. Oleh karna output dari
analisis ini dapat menampilkan data informasi mengenai objek yang dikehendaki misalnya
titik rusak saluran dan Irigasi.
Pengguna dengan mudah mengetahui data yang tersaji misalnya posisi / letak titik
rusak, foto, video maupun dokumen lainnya seperti Rencana anggaran biaya ( RAB )
rehabilitasi saluran pada setiap objek yang mengalami kerusakan.
Penyusunan SIG Irigasi kalola melibatkan beberapa aplikasi software maupun
hardware yang berhubungan dengan system informasi geografi, berawal dari
pengambilan data menggunakan alat GPS (Global position system ) untuk menandai letak
setiap kerusakan pada saluran serta jalur saluran secara geografi.
Dengan adanya titik koordinat tersebut maka akan disesuaikan dengan pengolahan
data yang menggunakan aplikasi software untuk memberikan informasi secara geografi
mengenai letak posisi Irigasi kalola beserta titik – titik dan tarck salurannya.
Setelah itu data informasi mengenai titik saluran juga akan terlebih dahulu akan
diolah seperti pembagian foto dan video setiap titik rusaknya. Perhitungan rencana
anggaran biaya rehabilitasi saluran juga akan didapatkan.
Meski data – data tersebut telah selesai diolah namun masih terpisah – pisah
dalam software computer, seperti pada data mengenai letak posisi geografi masih dalam
aplikasi MapInfo, foto dan video dalam penyimpanan biasa seta perhitungan RAB masih
dalam software Ms office, hal ini sangat tidak memudahkan bagi siapapun yang ingin
mengetahui kondisi Irigasi kalola.
Untuk menjawab persoalan tersebut maka penggunaan aplikasi visual studio
yang telah dirancang, akan dapat menggabungkan semua data- data tersebut sehingga
dengan mudah bagi siapapun yang ingin mengetahui kondisi Irigasi Kalola, disamping itu
juga akan menghemat biaya, waktu dan tenaga.
2. Rencana anggaran biaya (RAB)
Setelah mendapatkan harga lapangan dan volume dilapangan kemudian
menghitung harga satuan dengan format SNI. Nilai harga satuan didapat dari perkalian
koefisien SNI dengan harga yang telah dikumpulkan untuk mendapatkan harga tiap item
pekarjaan harga satuan tiap pekerjaan dikalikan dengan volume pekerjaan. Kemudian
akan didapatkan total biaya yang dibutuhkan dengan menjumlahkan biaya keseluruhan
item pekerjaan sehingga didapatkan rencana anggaran biaya.
KESIMPULAN
Dari studi yang dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Penyusunan System Informasi Geografi (SIG) melibatkan hardware dan software
yang berhubungan dengan system informasi seperti Gps, Mapsource, ArcGis,
MapInfo dan Visual studio.
2. Prosentase tingkat kerusakan pada Irigasi Kalola masih tergolong rendah yaitu 3.40
% < 10 % artinya Irigasi tersebut masih dalam kondisi baik menurut (Permen PU
Nomor 32/PRT/M/2007).
3. Perhitungan rencana anggaran biaya dihitung setiap titik rusaknya dengan dasar
volume, harga bahan, harga upah dan analisa harga upah (SNI), sehingga didapatkan
biaya total Rp 420.640.000,00 (empat ratus dua puluh Juta enam ratus empat puluh
ribu rupiah).
SARAN
1. Sebaiknya dalam melakukan pengambilan data dilakukan pada saat musim panen oleh
karna air tidak dialirkan.
2. Sebaiknya menggunakan PC dengan RAM minimal 4 GB untuk menyusun
programnya.
DAFTAR PUSTAKA

Barkey, Roland A. dkk. 2009. Buku Ajar Sistem Informasi Geografis. Makassar: Fakultas
Kehutanan Universitas Hasanuddin.

Balitbang PU. 2012. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum. Jakarta:
Kementrian Pekerjaan Umum.

Charter, Denny. 2007. Register Peta di Map Info Professional, (online),


http://www.dennycharter.multiply.com diakses 26 maret 2013.

Fikri, Nasaruddin M. dkk. 2009. Modul Pelatihan GIS Tingkat dasar bidang Kesehatan. Mataram :
Dinas Kesehatan Mataram.

Politeknik Negeri Ujung Pandang. 2011. Pedoman Penulisan Tugas Akhir. Makassar: PNUP.
Raharjo, Beni. 2011. Tutorial arsgis versi 9.3.1 bagi pemula.(Online), (http://www.gistutorial.net
diakses 12 juni 2013).

Samsul, Agus B. 2010. Modul Pelatihan ppikp dasar-dasar Pengenalan Gis. Bandung: Institut
Pertanian Bogor.

Sumaja, Gita L. 2013. Sistem Informasi Geografi (SIG) pencarian letak posisi ruangan perkuliahan
di Universitas Widyatama. Bandung: Fakultas Teknik Universitas Widyatama.

Wikipedia.com. 2012. MapInfo, (Online ), (http://id.wikipedia.org/wiki /MapInfo diakses 2


Desember 2013).