Anda di halaman 1dari 2

TUGAS FARMASI INDUSTRI

Nama : Kinanti Dwi Pusparani


NIM : I4041162048
Dosen Pengampu : Wintari Taurina,M.Sc.,Apt

1. Dalam suatu formulasi sediaan baru, dibutuhkan bahan yang dapat menghambat
oksidasi dan dengan demikian digunakan untuk mencegah peruraian preparat dengan
proses oksidasi. Bahan farmasi yang direkomendasikan adalah...
a. Nitrogen
b. Asam asetat
c. Asam benzoat
d. Askorbil palmitat
e. Diklorofluorometan

Sumber : Ansel, Howard C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta; Penerbit
Universitas Indonesia (145)

2. Pada saat melakukan formulasi sediaan hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk
memberikan pengawet adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Banyak terdapat kontaminan
b. Kelarutan pengawet untuk mencapai konsentrasi yang memadai
c. Stabilitas pengawet
d. Bahan dan pengawet tidak terjadi interaksi
e. Pengawet mempengaruhi wadah secara merugikan

Sumber : Ansel, Howard C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta; Penerbit
Universitas Indonesia (165)

3. Untuk menghindarkan risiko pertumbuhan mikroba pada larutan atau suspensi,


dianjurkan agar antara lain, kecuali...
a. larutan atau suspensi dibuat segera sebelum digunakan dan dibuat secukupnya
agar habis dipakai pada hari yang sama
b. boleh mengandung mikroba lebih dari 1000 unit pembentuk koloni (cfu)
tiap gram atau ml bahan
c. tidak mengandung mikroba patogen misalnya Pseudomonas aeruginosa,
Staphylococcus aureus, Salmonella atau bakteri koliform
d. bila perlu, dapat ditambahkan bahan pengawet yang diizinkan
e. wadah larutan atau suspensi hendaklah ditutup rapat

sumber : BPOM RI. 2013. PETUNJUK OPERASIONAL PENERAPAN PEDOMAN


CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK 2012 JILID I. Jakarta : BPOM RI

4. Media pertumbuhan yang dipakai dalam simulasi media (media fill) hendaklah lulus
Growth Promotion Test (GPT) dengan menggunakan 10 – 100cfu mikroba gram positif,
gram negatif, bakteri anaerob, kapang, dan ragi. Contoh bakteri tersebut antara lain,
kecuali..
a. Bacillus subtilis
b. Staphylococcus aureus
c. Pseudomonas aeroginosa
d. Candida albicans
e. Salmonella enterica

Sumber : BPOM RI. 2014. PETUNJUK OPERASIONAL PENERAPAN


PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK 2012 JILID II. Jakarta :
BPOM RI

Beri Nilai