Anda di halaman 1dari 4

SEMINAR NASIONAL ELECTRICAL, INFORMATICS, AND IT’S EDUCATIONS 2009

ANALISIS UP RATING TRANSFORMATOR DISTRIBUSI


TERHADAP KINERJA PROTEKSI PENYULANG

Hasbullah
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK UPI
Jl. Dr. Setiabudi 229 Bandung 40154
email : hasbullahmsee@yahoo.com

Abstrak Transformator distribusi merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam
penyaluran tenaga listrik kepada konsumen, karena kerusakan pada transformator menyebabkan
kontinuitas pelayanan terhadap konsumen akan terganggu. Up rating transformator merupakan
solusi yang dilakukan akibat meningkatnya beban terhadap kebutuhan masyarakat yang semakin
meningkat. Pada umumnya up rating transformator ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja
operasi dalam pendistribusian tenaga listrik kepada konsumen dan seiring dengan perubahan pada
transformator proses up rating transformator dalam sistem tenaga listrik juga sangat berpengaruh
terhadap sistem proteksi yang telah terpasang. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan
sistem.Untuk mengetahui perubahan yang terjadi akibat up rating transformator ini di lakukan
analisis melalui penggunaan listing program yaitu dengan Electrical Transient Analyzer Program
(ETAP) Power Station. Up rating transformator ini merupakan peningkatan kapasitas daya
transformator 30 MVA menjadi 60 MVA pada sistem 150/20 kV. Informasi yang diperoleh dari hasil
running program lebih kompleks dan akurasi dalam mengetahui load flow pada keadaan normal
dalam kasus ini pada transformator 30 MVA yaitu diperoleh 33.38 MW pada BUS 1, dan 33.15 MW
pada BUS 2, sedangkan transformator 60 MVA diperoleh 35.95 MW pada BUS 1, dan 35.86 MW
pada BUS 2, selain itu adanya drop voltage (Vd), besarnya arus hubung singkat (short circuit) serta
total daya yang terpakai pada masing-masing transformator guna mempertahankan mutu (range
tegangan sistem dan frekuensi) serta kinerja dari proteksi dan kehandalan (kontinuitas pasokan
daya) kepada konsumen.

Kata Kunci : up rating, transformator, aliran daya, short circuit, ETAP

Pendahuluan Dalam pendistribusian tenaga listrik,


Sistem tenaga listrik terdiri atas tiga bagian transformator sering mengalami beban lebih. Beban
utama yaitu, sistem pembangkitan, sistem transmisi lebih (over load) terjadi karena kebutuhan dalam
dan sistem distribusi. Dari ketiga sistem tersebut masyarakat yang semakin meningkat atau karena
sistem distribusi merupakan bagian yang letaknya adanya gangguan beban dalam penyaluran yang
paling dekat dengan konsumen, Sistem distribusi mengakibatkan trafo menjadi panas atau terjadi
membentuk jaringan akhir ke konsumen sebagai hubung singkat. Dengan adanya peningkatan beban
pusat beban. Dan sistem distribusi tenaga listrik yang terjadi maka perlu adanya penambahan
dimulai dari sisi sekunder dari transformator daya kapasitas daya pada transformator distribusi
pada gardu induk (GI) 150/20 kV, bila jarak pusat tersebut. Untuk memenuhi kualitas dan kapasitas
beban dengan GI relatif dekat. Tetapi apabila jarak pelayanan sesuai kebutuhan pelanggan
antara GI dengan pusat beban cukup jauh, maka (konsumen). Proses penaikan kapasitas dari
diperlukan sarana hubung, yaitu Gardu Hubung transformator itu sendiri banyak terjadi fenomena
(GH). Sistem distribusi berfungsi untuk menyalurkan dari perubahan tersebut dan juga akan berpengaruh
energi listrik dari suatu Gardu Induk distribusi ke pada keandalan sistem tenaga listrik misalnya akan
konsumen melalui jaringan distribusi tegangan berpengaruh pada kinerja proteksi yang digunakan.
menengah ke tegangan rendah. Menurut fungsinya Informasi ini sangat dibutuhkan guna
tersebut maka keandalan sistem distribusi menjadi mengevaluasi unjuk kerja (performance) sistem
sangat penting untuk diperhatikan. tenaga dan menganalisis kondisi pembangkitan
Terkait dengan transformator itu sendiri, maupun pembebanan pada transformator.
bahwa dalam operasi penyaluran tenaga listrik
transformator dapat dikatakan sebagai jantung dari Metode Penelitian
transmisi dan distribusi. Dalam kondisi ini Penelitian dilakukan dengan membuat
transformator diharapkan dapat beroperasi secara pemodelan up rating transformator distribusi pada
baik dan benar. Menurut tegangan operasinya ETAP PowerStation. Pemodelan up rating
transformator distribusi terdiri dari transformator transformator ini menggunakan model one line
150/20 kV dan 70/20 kV. Transformator distribusi diagram sesuai dengan perencanaan yang
adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi diinginkan. Analisis up rating transformator
untuk menyalurkan daya atau tenaga listrik dari dilakukan pada perencanaan saluran distribusi pada
tegangan tinggi ke tegangan rendah atau pun Gardu Induk Bandung Utara, ini dilakukan untuk
sebaliknya. memenuhi kebutuhan listrik yang mengalami

A1-62
SEMINAR NASIONAL ELECTRICAL, INFORMATICS, AND IT’S EDUCATIONS 2009 A1-63
peningkatan beban sehingga kapasitas dan reaktif yang mengalir pada saluran, rugi daya
transformator perlu adanya panambahan. Adapun saluran dan rugi daya system, seperti yang tertera
perubahan yang terjadi yaitu up rating transformator pada tabel 1 di bawah ini :
dari kapasitas 30 MVA menjadi 60 MVA, dengan
saluran distribusi pada rasio 150/20 kV. Tabel 1. Load Flow Transformator 30 MVA
Studi analisis ini menggunakan Electrical
Transient Analyzer Program (ETAP) Power
Station Versi 4.0 sebagai bahasa komputasi
teknik untuk menganalisis fenomena dan rugi-rugi
yang terjadi pada transformator dalam sistem
distribusi tenaga listrik serta pengaruh perubahan
yang terjadi terhadap kinerja proteksi untuk
keandalan sistem pada penyulang.

Hasil dan Pembahasan.


Hasil perhitungan studi analisis up rating
transformator ini merupakan hasil eksekusi program
ETAP PowesStation 4.0.0. Studi analisis ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan
kapasitas daya transformator pada proteksi yang Kemudian untuk transformator 60 MVA
terpasang pada penyulang. Berdasarkan hasil diperoleh hasil load flow sebagai berikut :
eksekusi dari program ETAP pada analisis up rating
transformator, diperoleh arus gangguan yang
mengalir pada saluran distribusi 20 kV pada trafo III
GI Bandung Utara dengan daya transformator 30
MVA dan transformator dengan daya 60 MVA,
seperti transformator 30 MVA yang ditampilkan pada
gambar berikut

Gambar 2. Hasil running ETAP pada konfigurasi


Transformator 60 MVA

Data hasil running ETAP pada studi load


flow pada transformator 60 MVA diperoleh tegangan
Gambar 1. Hasil running ETAP pada konfigurasi pada masing-masing bus beban, aliran daya aktif
Transformator 30 MVA dan reaktif yang mengalir pada saluran, rugi daya
saluran dan rugi daya sistem, seperti yang tertera
Data hasil running ETAP pada studi load pada tabel 2 di bawah ini :
flow pada transformator 30 MVA diperoleh tegangan
pada masing-masing bus beban, aliran daya aktif
SEMINAR NASIONAL ELECTRICAL, INFORMATICS, AND IT’S EDUCATIONS 2009 A1-64
Tabel 2. Load Flow Transformator 60 MVA BUS 2, sehingga, pengaruh up rating ini sangat
penting untuk diperhatikan terutama untuk
mengevaluasi pengaruh terjadinya gangguan
hubungan singkat pada jaringan dan mengetahui
besar arus-arus yang mengalir melalui saluran-
saluran yang dikontribusi oleh bus pada sistem
tenaga di dalam interval waktu tertentu ketika
sebuah gangguan hubung singkat terjadi. Selain itu,
uji coba hubung singkat juga digunakan untuk
menilai kapasitas-kapasitas alat-alat pemutus
tenaga (PMT), perhitungan setting rele proteksi,
maupun jaringan, sehingga dapat mengetahui
besaran arus yang yang mengalir saat sebelum dan
sesudah dilakukan proses up rating, ini dilakukan
untuk keperluan evaluasi uji breaking capacity PMT
sebagai pengaman (proteksi) serta perubahan
setting rele proteksi terutama Over Current Relay
(OCR) yang sudah beroperasi ataupun untuk
Sehingga pada bus 2 ini terlihat perubahan keperluan perangkat pengaman yang baru.
yang signifikan yang terjadi setelah dilakukannya up Sehingga sistem dapat diperbaiki dengan baik pada
rating transformator akibat bartambahnya beban circuit breaker dengan jumlah cycle yang minimal,
pada penyulang. Berikut ini merupakan grafik dari mengisolasi komponen yang mengalami gangguan
peningkatan pada uji coba gangguan hubung (fault) dan mengatur sistem pembebanan sehingga
singkat : kinerja proteksi akan tetap terjaga dan bekerja
sesuai setting yang telah dipasang.

Kesimpulan dan Saran


Berdasarkan analisis dan pembahasan diatas
diperoleh kesimpulan sebagai berikut
1. Aliran daya (load flow) yang mengalir pada
transformator 30 MVA yaitu sebesar 33.38 MW
pada BUS 1, dan 33.15 MW pada BUS 2
terhadap beban pada penyulang, kemudian
pada transformator transformator 60 MVA yaitu
sebesar 35.95 MW pada BUS 1, dan 35.86 MW
pada BUS 2 terhadap beban pada penyulang.
2. Hubung singkat yang terjadi pada BUS 2 pada
transformator 30 MVA diperoleh Isc-3phasa
sebesar 6.126 kA, Isc-2phasa 5.305 kA, Isc-
2phasa ke tanah 5.552 kA, Isc-1phasa 0.980 kA,
dan pada transformator 60 MVA diperoleh Isc-
Gambar 3. Perbandingan Arus Hubung Singkat 3phasa sebesar 11.342 kA, Isc-2phasa 9.823
Transformator pada Bus 2 kA, Isc-2phasa ke tanah 10.038 kA, Isc-1phasa
0.863 kA.
Berdasarkan keterangan grafik di atas maka untuk 3. Perubahan hubung singkat yang terjadi, ini
menentukan nilai breaking capacity pada PMT harus sangat mempengaruhi kinerja dari PMT dan
lebih besar dibandingkan arus hubung singkat setting pada OCR, sehinga perlu adanya uji
maksimal, sisi lain up rating transformator dapat breaking capacity pada PMT pada penyulang
meningkatkan arus hubung singkat (Isc) menjadi agar bekerja dengan baik,
naik, sehingga perlu dilakukan pengecekan breaking 4. Perubahan setting waktu OCR mengakibatkan
capacity pada PMT eksiting. arus hubung singkat transfomator 30 MVA dan
60 MVA adalah pada sisi 150 kV 0.73s menjadi
Pembahasan 0.62s, dan pada sisi 20 kV diperoleh 0.25s
Proses up rating transformator ini terjadi menjadi 0.27s.
pada penyaluran beban ke konsumen yang
mengalami peningkatan. Peningkatan ini bersamaan Saran
dengan permintaan daya listrik oleh konsumen baik 1. Studi up rating ini merupakan salah satu
rumah tangga maupun industri. Up rating faktor terpenting pada perencanaan dan
transformator ini terjadi pada saluran distribusi desain sistem tenaga listrik, baik dalam
150/20 kV pada transformator III pada Gardu Induk pengembangan maupun mengevaluasi
Bandung Utara. unjuk kerja (performansi) dari sistem
Berdasarkan data pada tabel 1 terdapat tersebut.
beberapa bus yang mengalami undervoltage, yaitu
SEMINAR NASIONAL ELECTRICAL, INFORMATICS, AND IT’S EDUCATIONS 2009 A1-65
2. Penggunaan ETAP PowerStation dapat
dijadikan alternatif dalam penyelesaian
studi-studi tentang masalah-masalah
ketenagalistrikan khususnya pada PT. PLN
(Persero) dan institusi yang memiliki
program studi listrik tenaga atau arus kuat.
Karena keunggulan program ini yaitu full
grafis, operasi dengan virtual reality, data
yang terintegrasi secara total, pemasukan
data (entry data) yang sederhana.

Daftar Pustaka
Arismunandar, Kuhwara, 1979, Teknik Tenaga
Listrik, Jakarta : PT. Pradnya Paramita.
John J. Grainger and William D. Stevenson, Jr.
1994. Power System Analysis. Singapore :
McGraw-Hill
Jean Claude. A solution for maintenance of power
transformer overating under frequent
overload : http:// IEEE. html _up rating
transformer [dikases 24 Maret 2009]
Widiatmoko. C, 2008, Perancangan Transformator
Daya Satu Fasa Core Type Dengan
Bantuan PC, Jurnal Elektro.
Warman E, 2007, Pemilihan Dan Peningkatan
Penggunaan Atau Pemakaian Serta
Manajement Trafo Distribusi. Jurnal Teknik
Elektro Universitas Sumatera Utara.
Kadir Abdul. 1981. Transformator. Jakarta : PT.
Pradnya Paramita.
Marsudi Djiteng. 2006. Operasi Sistem Tenaga
Listrik. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Neidle. Michael. 1999. Teknologi Instalasi Listrik.
Jakarta : Erlangga.
Panduan Pemeliharaan Transformator Tenaga. PT
PLN (persero) P3B.
PT. PLN (Persero) P3B JB, Kaidah Koordinasi
Setting Trafo Distribusi 2008.
Stevenson,Jr. Wiliam D. 2004. Analisis Sistem
Tenaga Listrik. Jakarta : Erlangga
Tobing, Bonggas L. 2003. Peralatan Tegangan
Tinggi. Jakarta : Gramedia
Turan Gonen. 1988. Modern System Analysis.
Canada : John Wiley and Sons