Anda di halaman 1dari 13

Makalah Kewarganegaraan

Kebudayaan Khas Masyarakat Sumatra Selatan (Palembang)

Oleh:
Oktovia Rezka [G1A113]
Mutia Yudha Putri [G1A113]
Wenny Oktaviani [G1A113052]
Rahmania [G1A113]
Mutiara Putri Syafira [G1A113]
Hummaira [G1A113]
Sari Mustika [G1A113]

Dosen Pembimbing:

Drs. Edy Purwono, M.Hum.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
1. Kriteria Pemimpin yang Ideal Menurut Budaya Palembang
Pemimpin ideal versi budaya Palembang:
1. Mampu menjadi tokoh yang disegani
2. Mempunyai kemampuan, kemampuan dalam membagi kekayaan,
bukan saja bagi manusia yang diperintahnya, namun juga bagi seluruh
dan segenap makhluk yang ada dalam pusaran kekuasaannya.
3. Tindakan berprestasi yang dihasilkan
4. Hubungan keturunan
5. Berkharisma dan berwawasan luas
6. Agamis
Tolak ukur pemimpin yang ideal ini dilihat dari sumber-sumber
sejarah budaya Palembang yang ada yaitu sejarah kesultanan Palembang
Darussalam. Kesultanan Palembang Darussalam merupakan salah satu
kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia, yang berlokasi di sekitar kota
Palembang, Sumatera Selatan sekarang. Beberapa sultan yang cukup terkenal
pada masa kesultanan Palembang adalah Sultan Badaruddin I dan Sultan
Badaruddin II. Sultan Badaruddin I adalah sosok pemimpin yang berwawasan
luas dan agamis. Sultan pernah menulis kitab berjudul Tahqidul Yakin. Selain
itu, Sultan Badaruddin I juga seorang petualang di mana ia pernah
menyinggahi Makassar, Johor, Kelantan, Kedah, Siam, Timur Tengah, dan lain
sebagainya. Sedangkan Sultan Badaruddin II adalah sosok yang banyak
dibicarakan oleh kalangan ahli sejarah, karena pada masa pemerintahanya ia
dikenal sebagai pemimpin yang pemberani dalam melawan kolonialisme
Inggris-Belanda. Apabila dikaitkan dengan kepemimpinan di Kesultanan
Palembang, hal itu tidak dapat dilepaskan pada sosok sultan yang menjadi
pemimpin tertinggi di kerajaannya. Sejak berdiri pada sekitar pertengahan abad
XVI sampai abad XIX, selama sekitar 250 tahun terjadi silih berganti sultan-
sultan berkuasa, di wilayah yang membentang dari Ampat Lawang dan Rejang
di sebelah barat, Rawas di sebelah utara, Kisam dan Makakau di selatan dan
pulau Bangka-Belitung di sebelah timur. (Veth, 1869: 651). Wilayah luas ini
berada pada posisi yang sangat strategis, dalam jalur perdagangan dunia saat
itu. Di samping memiliki wilayah yang sangat luas, kesultanan ini juga
menghasilkan tambang khususnya timah (sejak 1710), dan hasil perkebunan
dan hutan (lada, katun, gambir, nila, tembakau, sirih, buah pinang, tarum
godong pipit, dan rami) yang sangat besar.
Dengan wilayah yang sangat luas dan kaya tersebut, bagaimana
sultan-sultan Palembang mengendalikan kekuasaannya? Berbagai faktor di atas
menempatkan Kesultanan Palembang pada kondisi dilematis yaitu menjadi
incaran bangsa-bangsa asing khususnya Belanda dan Inggris untuk
mendudukinya. Sebuah kerajaan yang hidup pada kurun waktu perkembangan
Islam di Nusantara, sekaligus berhadapan dengan kekuatan asing khsusus
Belanda dan Inggris. Kesultanan Palembang mengembangkan institusinya di
bawah kepemimpinan seorang sultan. Sebagai pemimpin tradisional, sultan
melanjutkan kepemimpinan sebelumnya dan berkuasa secara absolut. Akan
tetapi, sultan juga didampingi oleh aparat yang membantunya di segala bidang,
dan para penasehat. Untuk kawasan uluan, sultan mengirimkan wakilnya
(jenang). Fungsinya sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, sekaligus
membina dan mengawasi pemerintahan uluan dalam bentuk marga yang
dipimpin oleh para depati. Demikian, cara sultan memerintah dan
mendelegasikan kekuasaannya.
Sebagai penguasa, sultan juga tidak terlepas dari berbagai intrik di
dalam keraton. Seorang sultan yang mampu muncul sebagai tokoh yang
disegani, tidak terlepas dari kemampuannya melepaskan diri dari kekuatan
tarik-menarik di dalam kerajaan. Namun, secara umum di Kesultanan
Palembang berlaku hokum bahwa yang berhak menjadi sultan adalah Pangeran
Ratu sebagai putera tertua. Dilihat dari tradisi di atas, keberadaan Sultan
Badaruddin II di atas tahta merupakan “hak mutlak” baginya. Legitimasi itu
ditopang pula dengan kemampuan dan kharisma yang dimilikinya. Dua
kekuatan tersebut bergabung padasatu pribadi, sehingga menempatkan
Palembang sebagai kerajaan besar yang disegani oleh kawan dan lawan.
“Modal besar” yang dimiliki Kesultanan Palembang, menjadikannya
primadona di mata Inggris dan Belanda. Inilah awal petaka bagi keruntuhan
kesultanan ini, sehingga terlibat konflik multi dimensi, baik dari dalam maupun
dari luar. Perpaduan tersebut mengakhiri eksistensi Kesultanan Palembang.
Untuk melihat tafsir kepemimpinan ideal, paling tidak ada tiga sumber
sebagai dasar legitimasi, yakni tindakan berprestasi, hubungan keturunan dan
kharisma. Hal ini bisa dilihat dari sejarah salah satu raja Sriwijaya yaitu
Jayanasa Nama Jayanasa, sebetulnya dengan jelas hanya disebutkan dalam
satu prasasti yaitu Prasasti Talang Tuo, namun besar kemungkinan dan masuk
logika, jika kelima prasasti yang lainnya, Prasasti Kedukan Bukit di Palembang
yang berangka tahun 682 M, Prasasti Telaga Batu di Palembang tanpa tarikh
yang diperkirakan berangka Tahun 684 M, Prasasti Kota Kapur di Bangka,
Prasasti Karang Birahi di Jambi dan Prasasti Palas Pasemah di Lampung yang
ketiganya berangka tahun 684 M, dengan deretan angka tahun yang hampir
bersamaan juga dibaitkan dan dibuat pada masa pemerintahannya.Berdasarkan
tindakan berprestasi, legitimasi kepemimpinan ideal, dapat dilihat dalam teks
Prasasti Talang Tuo, tafsirnya Jayanasa memiliki kemampuan dalam membagi
kekayaan, bukan saja bagi manusia yang diperintahnya, namun juga bagi
seluruh dan segenap makhluk yang ada dalam pusaran kekuasaannya.
Kedudukan yang dicapai Jayanasa didahului dengan prestasi-prestasi terpuji, ia
sebagai raja memberikan dan melaksanakan tanggung jawabnya dalam
menciptakan kesejahteraan dan perlindungan kepada rakyatnya, dengan
menaburkan segala kebaikan dalam bentuk pangan, sandang dan papan.
Berdasarkan hal tersebut, secara moral dan etika dalam bidang birokrasi dan
agama, Jayanasa jelas memiliki kualitas kepribadian yang tentunya berbeda
dari orang-orang lain pada umumnya. Ia dianggap sebagai manusia unggul
yang memiliki adikodrati, sifatnya luar biasa terlihat dari berbagai pujian yang
diberikan untuknya dalam bait Prasasti Talang Tuo tersebut.
Legitimasi lain dari tindakan berprestasi di bidang militer Jayanasa,
dapat dilihat dari acuan berbagai prasasti yang dibuatnya. Jayanasa dianggap
sebagai tokoh pertama dan utama yang mampu membangun dan
mengembalikan kejayaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit yang merupakan
prasasti tertua ditulis di atas sebuah batu sungai memberitakan bahwa pada
tanggal 23 April 682 M, Jayanasa berangkat naik kapal untuk melancarkan
ekspedisi (siddhayatra), yang tepat pada tanggal 19 Mei 682 M keluar dari
salah satu muara sungai bersama tentara yang bergerak baik di darat maupun di
laut untuk membuat penaklukan.
Prestasi tinggi di bidang militer yang dilakukan Jayanasa adalah
kemampuannya mengembangkan wilayah jauh keluar ibukota. Selama kurun
waktu tahun 686 M, Jayanasa tampaknya mengirim para panglima dan
tentaranya berhasil menaklukan daerah bagian utara, daerah Jambi dan aliran
Sungai Batang Hari sampai ke hulu yang pada waktu itu pusat Kerajaan Mo-lo-
yue dalam berita I-tsing, di sini ia mendirikan Prasasti Karang Berahi. Jayanasa
mampu merebut daerah selatan, pusat Kerajaan Tulang Bawang di wilayah
Lampung dengan mendirikan Prasasti Palas Pasemah. Kemudian, ia juga
menaklukan daerah Kepulauan Bangka dan Jawa dengan mendirikan Prasasti
Kota Kapur.
Sosok kharisma Jayanasa dapat ditelusuri dalam konsep bercirikan
dualisme etika. Gelar Sri Jayanasa,Dapunta Hyang merupakan gelar lokattara-
nya, Bodhisatwa, titisan sang Buddha, raja adalah dewaraja agama Buddha,
jadi raja tidak dipandang sebagai dewa karena bertentangan dengan agama
Buddha, raja setengah dewa dan Sri Jayanaga gelar laukikanya, raja penguasa
yang adil, keadialan dan karmanya membawa kemakmuran bagi kerajaan, ia
menjadi raja karena karma dan kebajikannya. Legitimasi atas kawasan muncul
dari raja sendiri, baik ia sebagai penguasa yang suci,dharmaraja, atau sebagai
penakluk dunia, chakkravadin. Sebagai dharmaraja ia menjadi pemimpin ritual
suci, dan sebagai chakkravadin, keberhasilannya dalam serangan-serangan
militer mencerminkan kedigdayaan dan prestasi sang raja.

2. Cara memilih pemimpin yang ideal menurut budaya Palembang


Dalam pembahasan tentang peran pasirah, istilah kepemimpinan
diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dilihat sebagai pemimpin untuk
mempengaruhi orang yang dipimpinnya, sehingga orang yang dipimpin
tersebut bertingkah-laku sebagaimana yang dikehendakinya. Untuk
menggunakan istilah ini, perlu dibedakan kepemimpinan sebagai kedudukan
dengan kepemimpinan sebagai proses sosial. Sebagai suatu kedudukan,
kepemimpinan merupakan suatu kumpulan dari kewajiban-kewajiban dan hak-
hak yang dapat dimiliki seseorang atau suatu badan, sedangkan sebagai proses
sosial kepemimpinan meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang yang
menyebabkan gerak dari masyarakat (Soekanto, 1978: 178-179).
Apabila melihat kepemimpinan sebagai sebuah kedudukan, seorang
pasirah memiliki hak-hak dan kewajiban yang dijamin oleh aturan-aturan adat.
Jaminan adat tersebut sebagian tertulis dalam Undang-Undang Simbur
Cahaya, sedangkan sebagian yang lain merupakan aturan-aturan yang beragam
dan berbeda di setiap marga. Isi undang-undang tersebut lebih banyak
menekankan hak-hak penguasa daripada kewajiban-kewajibannya dan lebih
menekankan kewajiban-kewajiban penduduk biasa ketimbang hak-hak mereka
dalam berbagai kegiatan dan tindakan.
Pada masa kesultanan, yakni sebelum ada usaha kodifikasi dari pihak
pemerintah kolonial Belanda yang dimulai pada tahun 1852, undang-undang
tersebut banyak menguntungkan pihak kesultanan di ibukota (Zed, 2003: 51).
Setelah sistem kesultanan dihapuskan, tradisi adat tersebut beralih ke tangan
para pasirah. Akibat lebih lanjut adalah seorang pasirah tampil sebagai
seorang yang berkuasa pada tingkat marga (Faille, 1971: 43).
Adapun bila melihat kepemimpinan sebagai sebuah proses sosial,
kekuasaan dan wewenang yang dimiliki para pasirah menjadikan mereka
pemimpin-pemimpin yang ditaati oleh warga marga, meskipun ketaatan-
ketaatan tersebut sering berupa sikap toleransi terhadap penyalahgunaan
aturan-aturan adat oleh pasirah. Seorang pasirah, karena itu, memiliki
pengaruh dan wibawa yang besar dan menyentuh setiap dusun di dalam
marganya. Wajar saja apabila pemerintah kolonial berusaha membatasi
kekuasaan para pasirah melalui berbagai aturan pemerintah.
Usaha pemerintah kolonial tersebut seiring dengan usaha
merasionalisasi wewenang para pasirah. Dengan kedua macam usaha itu, para
pasirah secara langsung ingin difungsikan sebagai pihak perantara (The Middle
Men) pemerintah dengan rakyat pada tingkat marga.
Sistem pemerintahan marga berlangsung di tengah masyarakat daerah
pedalaman Palembang yang dapat digolongkan sebagai salah satu dari
masyarakat yang hidup dengan sistem perladangan (Kuntowijoyo, 2003: 77).
Dengan sistem seperti ini, pola kehidupan masyarakat masih tidak dapat
dilepaskan dari ikatan geneologis atau kejuraian (Wertheim, 1999: 103).
Kejuraian menjadi faktor penting yang tidak dapat dielakkan di dalam marga,
sedangkan nenek moyang atau dalam istilah setempat disebut poyang adalah
pusat dari kekerabatan tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
seorang poyang adalah orang yang pertama kali membuka lahan perladangan di
sana sebelum kemudian berkembang menjadi sebuah pemukiman luas, yakni
sebuah marga, yang dihuni oleh orang-orang yang masih ada hubungan darah.
Marga sendiri yang bermula sebagai kesatuan masyarakat geneologis
berkembang menjadi satuan permukiman geneologis-teritorial dan
direstrukturisasi oleh pemerintah kolonial Belanda menjadi kesatuan
masyarakat teritorial untuk kepentingan pajak dan kerja wajib.
Di dalam masyarakat seperti itu, seorang keturunan langsung dari
poyang pada suatu marga memiliki kedudukan istimewa (ascribed status) yang
didapatkannya melalui kelahiran. Dari keturunan poyang, diangkat seseorang
yang akan menjabat sebagai pasirah yang setelah berakhir jabatan tersebut
akan diperebutkan kembali di antara kerabat-kerabat lain dalam suatu
pemilihan pasirah yang bersifat bebas. Sebagai sebuah kedudukan, seorang
pasirah memiliki peran sebagai pemimpin pemerintahan marga dan pemimpin
adat. Pasirah dapat dikatakan sebagai referensi sosial penduduk dalam suatu
marga.

3. Cara Menyelesaikan Masalah


Penyelesaian masalah masyarakat Palembang adalah dengan Undang-
Undang Simbur Cahaya (UUSC). Undang-undang ini dalam kehidupan
masyarakat di Kesultanan Palembang sudah berlaku di kerajaan Palembang
sejak abad XVII. Undang-Undang ini terdiri dari enam bab yaitu bab I tentang
Aturan Bujang Gadis dan Kawin (32 pasal), bab II memuat Aturan Marga (29
pasal), bab III berisi Aturan Dusun dan Berladang (34 pasal), bab IV tentang
Aturan Kaum (19 pasal), dan tertuang dalam enam bab tersebut memuat aturan
hukum yang berlaku di kerajaan atau Kesultanan Palembang.
Dalam pelaksanaannya aturan yang termaktub di dalam undang-
undang tersebut, umumnya ditaati oleh penduduk. Untuk
daerah uluan (pedalaman) penanganan hukum tersebut dikendalikan
oleh Pasirah/Depati dan Proatin (bawahan pasirah), sedangkan di ibu kota
kerajaan ditangani oleh kelompok priyayi dibawah pimpinan seorang mantra
bergelar temenggung. Hukuman yang diberikan umumnya berbentuk denda
(uang ringgit, real spanyol maksimal 12 real atau benda/binatang) atau
kurungan badan. Denda-denda tersebut menjadi sumber pendapatan depati
dan proatin. Perkara-perkara berat yang tidak dapat diselesaikan di uluan,
dibawa ke ibu kota untuk diserahkan kepada sultan. Sebagai penguasa
tertinggi, sultan akan menentukan bentuk hukuman yang paling tepat bagi para
pelanggar.
Salah satu cara yang secara turun temurun berlaku di Kesultanan
Palembang adalah membawa para pembangkang atau pelaku kejahatan
khususnya pemberontakan ke Bukit Siguntang untuk disumpah. Persumpahan
di Bukit Siguntag umumnya memberi efek jera kepada para pelanggar. Cara
lain adalah hukuman Kapanjing yaitu diasingkan ke daerah tertentu yang jauh
dari dusunnya semula, sehingga tidak atau sulit untuk berhubungan dengan
kerabatnya. Akan tetapi, secara umum hukuman yang diberikan dalam bentuk
denda. Besar kecilnya denda tergantung pada besar kecilnya kesalahan yang
dilakukan oleh pelaku pada waktu itu sesuai kententuan UUSC. Disamping itu,
hukuman yang tidak kalah penting adalah sanksi sosial yang berlaku pada saat
itu. Pada masyarakat tradisional yang menjungjung tinggi adat istiadatnya, dan
jumlah penduduk yang sedikit mengakibatkan peristiwa sekecil apapun akan
dengan cepat menyebar ke segala penjuru, sehingga masyarakat pendukung
akan berfikir ulang untuk melakukan pelanggaran terhadap hukum adat yang
berlaku (UUSC).
4. Nilai-nilai Luhur Kebudayaan Palembang
Masyarakat Indonesia adalah majemuk. Kemajemukan itu antara lain
tidak hanya ditandai oleh adanya agama yang berbeda, tetapi juga sukubangsa
yang satu dengan lainnya mengembangkan kebudayaan yang berbeda. Ini
artinya dalam masyarakat majemuk di dalamnya terdapat kebudayaan yang
majemuk, yaitu: kebudayaan daerah (lokal), umum lokal, dan nasional yang
penggunaannya bergantung pada suasana-suananya. Dalam suasana keluarga
atau adat misalnya, acuan yang digunakan adalah budaya daerah. Kemudian,
dalam suasana umum (tempat-tempat umum) acuan yang digunakan adalah
budaya umum lokal. Dan, dalam suasana-suasana resmi acuan yang digunakan
adalah kebudayaan nasional.
Mengingat fungsi kebudayaan adalah sebagai acuan dalam bersikap
dan bertingkah laku, maka setiap sukubangsa pasti akan mengembangkan nilai-
nilai yang kemudian dijadikan sebagai acuan berintekraksi dengan sesamanya.
Nilai yang dikembangkan oleh suatu masyarakat bisa saja tidak sesuai dengan
masyarakat lainnya. Misalnya, “meminta” pada masyarakat dianggap sebagai
sesuatu yang “tabu”, tetapi pada masyarakat Batak hal itu tidak menjadi
masalah karena mereka mempunyai ungkapan “Kalau tidak diminta tidak akan
dikasih”. Meskipun demikian ada nilai-nilai yang dianggap baik oleh suatu
masyarakat sukubangsa dianggap baik pula oleh masyarakat sukubangsa
lainnya.Nilai-nilai yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang
multietnik dan sekaligus multikultural itu sering disebut sebagai nilai-nilai
luhur (adiluhung). Nilai-nilai itu, sebagaimana telah disinggung pada bagian
atas, adalah: kegotong-royongan (kebersamaan), persatuan dan persatuan,
saling-monghormati, kesantunan, kedemokrasian (kemufakatan),
keseimbangan, kejujuran, keadilan, dan keramah-tamahan.
Setiap komunitas atau masyarakat, baik yang masih diupayakan untuk
berkembang (masyarakar terasing) maupun yang sudah maju, baik masyarakat
bangsa maupun masyarakat negara, pada dasarnya menghendaki suasana
kehidupan yang, selaras, serasi, dan harmonis (tata tentrem kerta raharja), serta
adil dan makmur (bukannya suasana kehidupan yang meresahkan).Untuk itu,
perlu dikembangkan nilai-nilai luhur yang dapat mendukungnya. Nilai-nilai itu,
sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah: kegotong-royongan
(kebersamaan), persatuan dan persatuan, saling-monghormati, kesantunan,
kedemokrasian (kemufakatan), keseimbangan, kejujuran, keadilan, dan
keramah-tamahan. Sulit dibayangkan bagaimana sebuah masyarakat yang
menghendaki kehidupan bersama yang tata tentrem kerta raharjo tanpa
mengacu kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa.Oleh karena itu, walaupun
arus globalisasi di segala bidang kehidupan tidak bisa kita hindari.Namun,
dalam kehidupan bermasyarakat (berbangsa dan bernegara) kita mestinya tetap
berpegang pada nilai-nilai budaya bangsa.Untuk itu, nilai-nilai luhur budaya
bangsa perlu ditanam-manfaatkan (dikenalkan, dihayati, dan diamalkan), tidak
hanya oleh generasi muda tetapi juga generasi tua dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.Dengan demikian, di samping persatuan dan kesatuan kita tetap
terjaga, kebudayaan kita tumbuh-kembangkan tidak lepas dari akarnya.Dalam
konteks ini bangsa Indonesia maju, dapat berperan aktif dalam globalisasi,
tetapi tetap berkepribadian bangsa Indonesia.

5. Rumah Adat, Kesenian Tari, dan Kuliner Khas Masyarakat Budaya Palembang
Rumah Adat Palembang
 Rumah Limas
Rumah Limas merupakan prototype rumah tradisional Palembang, selain
ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah limas ini memiliki
ciri-ciri; atapnya berbentuk limas, badan rumah berdinding papan, dengan
pembagian ruangan yang telah ditetapkan (standard) bertingkat-tingkat
(kijing), keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang di atas
tiang-tiang yang tertanam di tanah, dan mempunyai ornamen dan ukiran
yang menampilkan kharisma dan identitas rumah tersebut. Kebanyakan
rumah Limas luasnya mencapai 400 sampai 1.000 meter persegi atau
lebih, yang didirikan di atas tiang-tiang kayu Onglen dan untuk rangka
digunakan kayu tembesu Pengaruh Islam nampak pada ornamen maupun
ukiran yang terdapat pada rumah limas. Simbas (Platy Cerium
Coronarium) menjadi symbol utama dalam ukiran tersebut.Filosofi tempat
tertinggi adalah suci dan terhormat terdapat pada arsitektur rumah limas.
Ruang utama dianggap terhormat adalh ruang gajah (bahasa kawi=
balairung) terletak ditingkat teratas dan tepat di bawah atap limas. Diruang
gajah terdapat Amben (Balai/tempat Musyawarah) yang terletak tinggi
dari ruang gajah (+/- 75 cm).Ruangan ini merupakan pusat dari Rumah
Limas baik untuk adat, kehidupan serta dekorasi.sebagai pembatas ruang
terdapat lemari yang dihiasi sehingga show/etlege dari kekayaan pemiliki
rumah.
Pangkeng (bilik tidur) terdapat dinding rumah, baik dikanan maupun
dikiri.Untuk memasuki bilik atau Pangkeng ini, kita harus melalui dampar
(kotak) yang terletak di pintu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan
peralatan rumah tangga. Pada ruang belakang dari segala terdapat pawon
(dapur) yang lantainya sama tingkat dengan lantai Gegajah tetapi tidak lagi
dibawah naungan atap pisang sesisir.
 Rumah Rakit
Kesenian Tari Palembang
 Tari tanggai: Tari tanggai dibawakan pada saat menyambut tamu-tamu
resmi atau dalam acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh
lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kaian songket,
dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk
cempako, kembang goyang dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari
lempengan tembaga Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang
gemulai busana khas daerah para penari kelihatan anggun dengan busana
khas daerah. Tarian menggambarkan masyarakat palembang yang ramah
dan menghormati, menghargai serta menyayangi tamau yang berkunjung
ke daerahnya.
 Tari Gending Sriwijaya: Tari ini ditampilkan secara khusus untuk
menyambut tamu-tamu agung seperti Kepala Negara, Duta Besar dan
tamu-tamu agung lainnya. Tari Gending Sriwijaya hampir sama dengan
tari Tanggai, perbedaannya terletak pada penggunaan tari jumlah penari
dan perlengkapan busana yang dipakai. Penari Gending Sriwijaya
seluruhnya berjumlah 13 orang terdiri dari:
 Satu orang penari utama pembawa tepak (tepak, kapur, sirih)
 Dua orang penari pembawa peridon (perlengkapan tepak)
 Enam orang penari pendamping (tiga dikanan dan tiga kiri)
 Satu orang pembawa payung kebesaran (dibawa oleh pria)
 Satu orang penyanyi Gending Sriwijaya
 Dua orang pembawa tombak (pria)
 Tari Madik (Nindai): Masyarakat Palembang mempunyai kebiasaan
apabila akan memilih calon, orang tua pria terlebih dahulu dating kerumah
seorang wanita dengan maksud melihat dan menilai (madik dan nindai)
gadis yang dimaksud. Hal yang dinilai atau ditindai itu, antara lain
kepribadiannya serta kehidupan keluarganya sehari-hari. Dengan
penindaian itu diharapkan bahwa apabila si gadis dijadikan menantu dia
tidak akan mengecewakan dan kehidupan mereka akan berjalan langgeng
sesuai dengan harapan pihak keluarga mempelai pria
 Tari Mejeng Besuko: Tari ini melukiskan kesukariaan para remaja dalam
suatu pertemuan mereka. Mereka bersenda gurau mengajuk hati lawan
jenisnya. Bahkan tidak jarang diantara mereka ada yang jatuh hati dan
menemukan jodohnya melalui pertemuan seperti ini.
 Tari Rodat Cempako: Tari ini merupakan tari rakyat bernafaskan Islam.
Gerak dasar tari ini diambil dari negara asalnya Timur Tengah, seperti
halnya dengan tari Dana Japin dan tari Rodat Cempako sangat dinamis dan
lincah.
 Tari Tenun Songket: Tari ini menggambarkan kegiatan remaja putri
khususnya dan para ibu rumah tangga di Palembang pada umumya
memanfaatkan waktu luang dengan menenun songket.
Makanan Khas Palembang
Kota ini memiliki komunitas Tionghoa cukup besar.Makanan seperti
pempek atau tekwan yang terbuat dari ikan mengesankan “Chinese taste” yang
kental pada masyarakat Palembang.
 Pempek, makanan khas Palembang yang telah terkenal di seluruh
Indonesia. Dengan menggunakan bahan dasar utama daging ikan dan sagu,
masyarakat Palembang telah berhasil mengembangkan bahan dasar
tersebut menjadi beragam jenis pempek dengan memvariasikan isian
maupun bahan tambahan lain seperti telur ayam, kulit ikan, maupun tahu
pada bahan dasar tersebut. Ragam jenis pempek yang terdapat di
Palembang antara lain pempek kapal selam, pempek lenjer, pempek
keriting, pempek adaan, pempek kulit, pempek tahu, pempek pistel,
pempek udang, pempek lenggang, pempek panggang, pempek belah dan
pempek otak-otak. Sebagai pelengkap menyantap pempek, masyarakat
Palembang biasa menambahkan saus kental berwarna kehitaman yang
terbuat dari rebusan gula merah, cabe dan udang kering yang oleh
masyarakat setempat disebut saus cuka (cuko).
 Tekwan, makanan khas Palembang dengan tampilan mirip sup ikan
berbahan dasar daging ikan dan sagu yang dibentuk kecil – kecil mirip
bakso ikan yang kemudian ditambahkan kaldu udang sebagai kuah, serta
soun dan jamur kuping sebagai pelengkap.
 Model, mirip tekwan tetapi bahan dasar daging ikan dan sagu dibentuk
menyerupai pempek tahu kemudian dipotong kecil kecil dan ditambah
kaldu udang sebagai kuah serta soun sebagai pelengkap. Ada 2 jenis
model, yakni Model Ikan (Model Iwak) dan Model Gandum (Model
Gendum).
 Laksan
 Celimpungan
 Pindang patin
 Pindang tulang
 Kerupuk dan kemplang
 Mie celor
 Tempoyak
 Malbi
 Lakso
 Burgo
 Kue maksubah
 Kue delapan jam
 Kue srikayo
Alat Musik Khas Palembang
 Rebana: Merupakan musik tradisional yang menggunakan alat kulit
kambing yang di ikatkan di kayu biasanya pemainya terdiri dari 10 s/d 12
orang, rebana ini juga di pakai untuk arakan pengantin dan lain-lain.
 Jidur: Merupakan musik tradisional yang menggunakan alat seperti
terompet, tombon dan drum yang mempunyai suara khas.