Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan penyebab terbesar persalinan
prematur. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan
morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang
cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena
kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak
maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus
KPD terutama pada pengelolaan konservatif.
Ketuban pecah dini (KPD) didefenisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum
waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh
sebelum waktunya melahirkan. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm
akan mengalami ketuban pecah dini
Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi
1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD
merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.
KPD dapat terjadi karena perobekan pada kantung ketuban akibat trauma atau
mulut rahim yang lemah sehingga tidak bisa menahan kehamilan. Selain itu juga
karena ketegangan rahim yang berlebihan, seperti kehamilan ganda atau hidramnion,
kelainan letak janin seperti sungsang atau melintang, atau kelainan bawaan dari selaput
ketuban.
KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan
morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang
cukup tinggi. Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera
bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu
sampai terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang
berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Untuk mengatasi hal
tersebut maka diperlukan suatu kompetensi yang dapat menangani masalah tersebut
sehingga dapat meminimalkan komplikasi baik bagi ibu maupun janin.

1
BAB II
STATUS PASIEN

2.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. N
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan Terakhir : SMA
Alamat : Krajan Kidul2/4 Wirgomo Banyubiru
Tanggal masuk :14 Juni 2015
No. CM : 081941
Biaya pengobatan : BPJS non PBI

Nama Suami : Tn. S


Umur : 21 th
Alamat : Krajan Kidul2/4 Wirgomo Banyubiru
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan Terakhir : SMA

2.2. DAFTAR MASALAH


No Masalah aktif Tanggal No Masalah pasif Tanggal

1. G1P0A0, 20 tahun, 14-06- -


hamil 40 minggu 2015
Ketuban pecah dini

2.3. ANAMNESIS

2
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis di Ruang Bougenville tanggal 14 Juni 2015
Pukul: 12:05 WIB
Keluhan utama: Pasien rujukan bidan dengan G1P0A0 uk 40 minggu, datang dengan air
ketuban sudah rembes sejak 10 jam SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD, lalu masuk bangsal dengan rujukan bidan dengan G1P0A0 uk
38 minggu, datang dengan air ketuban sudah rembes sejak 10 jam SMRS. Pasien mengaku
tidak ada darah yang keluar, hanya air saja, berwarna putih kekuningan. Pasien juga
mengeluhkan perut terasa kencang-kencang dan pinggang terasa pegal. Perut kencang-
kencang sudah 4 SMRS, tetapi masih jarang dan tidak teratur.
Keluhan lainnya seperti demam, batuk, pilek, diare, mual, muntah, sesak nafas,
keputihan, penurunan nafsu makan dan keluhan BAK dan BAB disangkal oleh pasien.
Riwayat Haid
 Menarche : 12 tahun.
 Lama haid : 7 hari.
 Siklus haid : 28 hari.
 HPHT : 20/3/2014
 HPL : 12/6/2015
Riwayat Menikah
 Pernikahan pertama, lama pernikahan 1 tahun.
Riwayat Obstetri
1. Hamil ini
Riwayat ANC
3x dibidan
Riwayat KB
 Tidak menggunakan kontrasepsi .
Perilaku Kesehatan
 Merokok : disangkal
 Minum-minuman beralkohol : disangkal
 Jamu-jamuan : disangkal
Riwayat Penyakit Dahulu

3
 Riwayat Abortus : disangkal
 Riwayat Asma : disangkal
 Riwayat Hipertensi : disangkal
 Riwayat Diabetes melitus : disangkal
 Riwayat Penyakit jantung : disangkal
 Riwayat Alergi : disangkal
 Riwayat ISK : disangkal
 Riwayat penyakit selama kehamilan : disangkal
 Riwayat penggunaan obat-obatan dan jamu : disangkal
(hanya konsumsi vitamin bidan).
Riwayat Penyakit Keluarga
 Asma : disangkal
 Hipertensi : disangkal
 Riwayat Diabetes melitus : disangkal
 Penyakit Jantung : disangkal
 Alergi : disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga, suami bekerja sebagai pegawai
swasta. Biaya pengobatan ditanggung BPJS non PBI. Kesan ekonomi cukup.
2.4. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 14 Juni 2015 pukul 12.05 WIB di Ruang
Bougenville
1. KEADAAN UMUM
Keadaan umum : Tampak sakit berat
Kesadaran : Compos mentis
2. TANDA VITAL
- Tekanan darah : 95/80 mmHg
- Nadi : 86 kali/menit (reguler, isi dan tegangan cukup)
- Respiratory rate : 20 kali/menit
- Suhu : 36 oC (axiller)
3. STATUS GENERALIS

4
a. Kepala
Kesan mesosefal
b. Mata
Sklera ikterus (-/-), Konjungtiva palpebra anemis (+/+), pupil isokor
(3mm/3mm), reflek pupil direk (+/+), reflek pupil indirek (+/+)
c. Hidung
Napas cuping hidung (-/-), epistaksis (-/-), sekret (-/-).
d. Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), gusi berdarah (-)
e. Telinga
Darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), gangguan fungsi pendengaran(-/-).
f. Leher
Simetris, trachea di tengah, pembesaran KGB (-), tiroid (Normal), nyeri
tekan (-).
g. Thorax
Pulmo
Dextra Sinistra
Inspeksi Diameter Lateral>Antero Diameter Lateral>Antero
posterior. posterior.
Hemithorax Simetris Hemithorax Simetris
Statis Dinamis. Statis Dinamis.
Palpasi Stem fremitus normal Stem fremitus normal
kanan sama dengan kiri. kanan sama dengan kiri.
Nyeri tekan (-). Nyeri tekan (-).
Pelebaran SIC (-). Pelebaran SIC (-).
Arcus costa normal. Arcus costa normal.
Perkusi Sonor seluruh lapang paru Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi Suara dasar paru Suara dasar paru


vesikuler (+), wheezing (- vesikuler (+), wheezing (-
), ronki (-) ), ronki (-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba ICS VI midclavicula sinistra
Pulsus parasternal (-), Sternal lift (-), Pulsus epigastrium
(-)

5
Perkusi :
 Batas atas jantung : ICS II linea parasternal sinistra
 Pinggang jantung : ICS III linea parasternal sinistra
 Batas kiri bawah jantung: ICS V linea mid clavicula sinistra
 Batas kanan bawah jantung: ICS IV linea sternalis dextra
Kesan batas jantung: normal
Auskultasi : Bunyi jantung I & II murni, bising jantung (-), gallop (-),
pericardial friction rub (-).
h. Abdomen
Inspeksi : Permukaan datar, striae gravidarum (-),
linea nigra(-), warna sama seperti kulit di sekitar, bekas SC
(-),
Auskultasi : Bising usus 10x / menit, bruit hepar (-), bruit aorta
abdominalis(-), bruit A.Renalis dextra (-), bruit
A.Renalis sinistra(-), bruit A.Iliaca dextra (-), bruit
A.iliaca sinistra (-).
Perkusi : Timpani seluruh regio abdomen, pekak sisi (+)
normal, pekak alih (-), nyeri ketok CVA (-).
Palpasi : Nyeri tekan (+), hepar tidak teraba, lien tidak
teraba, ginjal tidak teraba.
i. Ekstremitas
Superior Inferior
Akral dingin +/+ +/+
Sianosis -/- -/-
varises -/- -/-
oedem -/- -/-
Capillary Refill < 2 detik/<2 detik <2 detik/2 detik

j. Genitalia : perdarahan per vaginam (+) , gumpalan (-), keluar jaringan


(-)

6
4. PEMERIKSAAN OBSTETRIK
a. Pemeriksaan luar
Inspeksi Abdomen: datar, supel, linea nigra(-), striae gravidarum(+), bekas
sc (-)
Palpasi :
TFU 31 cm
DJJ : 130
 Leopold 1 : Bulat lunak
 Leopold 2 : Punggung kanan
 Leopold 3 : Bulat keras
 Leopold 4 : Belum masuk PAP
b. Pemeriksaan dalam / Vaginal Toucher:
Vulva/uretra tidak ada kelainan, dinding vagina dalam batas normal,
pembukaan 1 jari sempit , portio tebal lunak, KK -
2.5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hb 10,5(L) 12.5-15.5 g/dL
Leukosit 9,8 4-10 Ribu
Eritrosit 3.50 3.8-5.4 Juta
Hematokrit 30.6(L) 35-47 %
MCV 77.7(L) 82-98 Mikro m3
MCH 29.1 >= 27 Pg
MCHC 32.5 32-36 g/dL
RDW 11.8 10-16 %
Tombosit 230 150-400 Ribu
PDW 11.8 10-18 %
MPV 7.7 7-11 Mikro m3

7
Limfosit 2.0 1.0-4.5 103/mikro
Monosit 0.4 0.2-1.0 103/mikro
Granulosit 12.3 (H) 2-4 103/mikro
Limfosit % 13.7(L) 25-40 %
Monosit % 2.5 2-8 %
Granulosit % 83.6 50-80 %
PCT 0.289 0.2-0.5 %
HbsAg Non reaktif
Clothing Time 3:00 3-4 Menit:detik
Bleeding Time 1:00 1-3 Menit:detik

2.6. RESUME
Pasien rujukan bidan dengan G1P0A0 uk 40 minggu, air ketuban sudah rembes sejak 10
jam SMRS. Pasien mengaku tidak ada darah yang keluar, hanya air saja, berwarna putih
kekuningan. Pasien juga mengeluhkan perut terasa kencang-kencang dan pinggang terasa
pegal. Perut kencang-kencang sudah 4 jam SMRS, tetapi masih jarang dan tidak teratur.
Keluhan lainnya seperti demam, batuk, pilek, diare, mual, muntah, sesak nafas, keputihan,
penurunan nafsu makan dan keluhan BAK dan BAB disangkal oleh pasien.
Pada pemeriksaan fisik status generalisnya dalam batas normal. Lalu pada pemeriksaan
obstetri didapatkan Leopold 1 : Bulat lunak, Leopold 2: Punggung kanan, Leopold 3 : Bulat
keras, Leopold 4 : Belum masuk PAP, TFU : 31cm, VT : pembukaan 1jari sempit, porsio
tebal lunak, KK (-), His : (+) jarang, DJJ: 130x/menit, reguler, 11-10-11. Pemeriksaan alat
kelamin : tidak tampak kelainan pada vagina, lendir (+) darah (-). Pada pemeriksaan darah
didapatkan Hemoglobin dan Hematokrit rendah.

2.7. DIAGNOSIS SEMENTARA


G1P0A0 uk 40 minggu, hamil aterm janin tunggal hidup intrauterine letak kepala,
belum masuk PAP, punggung kanan, inpartu Kala I Fase Laten KPD 10 jam
2.8. DIAGNOSIS KERJA DAN SIKAP
1. Dx kerja :

8
G1P0A0 uk 40 minggu, hamil aterm janin tunggal hidup intrauterine letak kepala,
belum masuk PAP, punggung kanan, inpartu Kala I Fase Laten KPD 10 jam
2. Sikap :
 IVFD RL/12 jam
 Rencana tindakan pro partus spontan
 Ciprofloxacin 2x1
 Metronidazole 3x1
 Antalgin 3x1

2.9.PROGNOSIS
Quo ad Vitam : ad bonam

Quo ad Sanationam : ad bonam

Quo ad Functionam : ad bonam

2.10 FOLLOW UP
Tanggal Subjektf Objektif Assesment Penatalaksanaan
14/6/2015 Pasien KU : sakit ringan G1P0A0 uk - EKG
12:05 datang dari Kesadaran : CM 40 minggu, - IVFD RL/12 jam
IGD Nadi : 88x/ menit hamil aterm
dengan Suhu : 36 ⁰C JTHIU letak
G1P0A0 uk Nafas : 18x/ menit kepala, belum
40 minggu, Tekanan Darah: 90/78 mmHg masuk PAP,
air ketuban Pemeriksaan obstetri punggung
sudah : striae (+) kanan, inpartu
rembes  Leopold 1 : Bulat lunak Kala I Fase
sejak 10  Leopold 2 : Punggung kanan Laten KPD 10
jam SMRS  Leopold 3 : Bulat keras jam

 Leopold 4 : Belum masuk


PAP

9
 TFU : 31cm, VT : pembukaan
1 jari sempit, porsio tebal
lunak, KK (-), His : (+) jarang,
DJJ: 130x/menit, reguler, 11-
10-11
14/6/2015 Perut terasa Pemeriksaan obstetri G1P0A0 uk - IVFD RL/12 jam
22.05 makin  Leopold 1 : Bulat lunak 40 minggu,
kencang-  Leopold 2 : Punggung kanan inpartu Kala I
kencang  Leopold 3 : Bulat keras Fase Aktif

 Leopold 4 : Belum masuk KPD 20 jam

PAP
TFU : 31cm, VT : pembukaan
4, KK (-), caput (+), His : (+),
DJJ: 140x/menit, reguler, 11-10-
11
15/6/2015 Ada VT : pembukaan 5, porsio sedang G1P0A0 uk - IVFD RL/12 jam
02.00 keinginan lunak, KK (-), caput (+), kepala 40 minggu,
mau turun H2 inpartu Kala I
mengejan, His : (+), DJJ: 138x/menit, Fase Aktif
perut reguler, 11-10-11 KPD 24 jam
semakin
kencang
dan sering
kontraksi
15/2/2015 Semakin VT : pembukaan lengkap, porsio - G1P0A0 uk - IVFD RL/12 jam
04.00 ada tipis lunak, 40 minggu, - Pimpin pasien untuk
keinginan Alat kelamin : perineum terlihat inpartu mengejan
mau menonjol, vulva-vagina dan Kala II
mengejan, sfingter ani terlihat membuka dengan
perut KPD 26 jam

10
semakin
kencang
dan sering
kontraksi,
ada
keinginan
BAB.
15/2/2015 Partus Bayi lahir spontan, JK laki-laki, P1A0 post - IVFD RL/12 jam
04.35 spontan PB 51 cm, BB 3000gr, AS 6-7-8, partus - Injeks oxytosin 1 ampul
caput (+) spontan
Plasenta lahir spontan, kesan
lengkap, perinium episiotomi
Grade I hecting, PPV ± 250cc.
15/2/2015 ASI belum KU : baik P1A0 post - IVFD RL/12 jam
08.00 keluar. Kesadaran : CM partus - Ciprofloxacin 2x1
Tidak T: 100/80 mmHg, N: 80x/menit, spontan H0 - Metronidazole 3x1
pusing, S: 37.3˚C, RR: 18x/menit - Antalgin 3x1
mual, Mata : CA (+/+), ikterik (-)
muntah A.kelamin : darah (+) sedikit
Ektremitas : CRT <2dtk, pucat

2.11 LAPORAN PARTUS SPONTAN


 Diagnosa : G1P0A0 uk 40 minggu, hamil aterm JTHIU letak kepala, sudah masuk
PAP, punggung kanan inpartu Kala II dengan KPD 26 jam
 Tindakan : partus spontan pervaginam
 Diagnosa pasca tindakan : P1A0 post partus spontan pervaginam
 Uraian:
o Pasien dalam posisi supine litotomi, terpasang infus RL
o Lihat tanda Kala II, pimpin pasien mengejan
o Dilakukan episiotomi,

11
o Melahirkan kepala, periksa tali pusat pada leher, melahirkan bahu bayi,
melahirkan sisa tubuh bayi, mengeringkan dan merangsang bayi
o Memotong tali pusa
o Lihat tanda Kala III, pemberian oxytosin, lakukan penegangan tali pusat
terkendali, lalu lakukan masase fundus uteri segera setelah plasenta lahir
o Lakukan Kala IV, evaluasi tinggi fundus uteri, periksa plasenta untuk
memastikan utuh dan lengkap.
o Periksa kembali jalan lahir
o Menjahit laserasi
o Tindakan selesai
o Bayi :
 Bayi lahir spontan, JK laki-laki, PB 51 cm, BB 3000gr, AS 6-7-8,
caput (+)
 Plasenta lahir spontan, kesan lengkap, perinium episiotomi Grade I
hecting, PPV ± 250cc

12
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1 Definisi Ketuban Pecah Dini


1. Ketuban pecah dini atau yang sering disebut dengan KPD adalah ketuban pecah
spontan tanpa diikuti tanda-tanda persalinan, ketuban pecah sebelum pembukaan 3 cm
(primigravida) atau sebelum 5 cm (multigravida).
2. Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila
ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu maka disebut ketuban
pecah dini pada kehamilan prematur.
III.2 Epidemiologi
Insidensi KPD berkisar antara 8 - 10% dari semua kehamilan. Lebih banyak terjadi
pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan yaitu sekitar 95%,
sedangkan pada kehamilan kurang bulan atau KPD pada kehamilan preterm sekitar
34% semua kelahiran prematur. KPD merupakan komplikasi yang berhubungan
dengan kehamilan kurang bulan dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka
kematian perinatal pada bayi kurang bulan.
III.3 Etiologi
Penyebab ketuban pecah dini secara langsung masih belum diketahui dan tidak
dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang
berhubungan erat dengan ketuban pecah dini, namun faktor-faktor yang lebih berperan
sulit diketahui. Faktor predisposisi itu antara lain adalah:
1. Infeksi amnionitis atau korioamnionitis
Korioamnionitis adalah keadaan pada perempuan hamil dimana korion, amnion dan
cairan ketuban terkena infeksi bakteri. Korioamnionitis merupakan komplikasi paling
serius bagi ibu dan janin, bahkan dapat berlanjut menjadi sepsis. Membran
korioamnionitik terdiri dari jaringan viskoelastik. Apabila jaringan ini dipacu oleh
persalinan atau infeksi maka jaringan akan menipis dan sangat rentan untuk pecah

13
disebabkan adanya aktivitas enzim kolagenolitik. Streptococcus Grup B merupakan
mikroorganisme yang sering menyebabkan amnionitis. Selain itu Bacteroides fragilis,
Lactobacilli dan Staphylococcus epidermidis adalah bakteri-bakteri yang sering
ditemukan pada cairan ketuban pada kehamilan preterm. Bakteri-bakteri tersebut dapat
melepaskan mediator inflamasi yang menyebabkan kontraksi uterus. Hal ini
menyebabkan adanya perubahan dan pembukaan serviks, dan pecahnya selaput
ketuban. Jika terdiagnosis korioamnionitis, perlu segera dimulai upaya untuk
melahirkan janin sebaiknya pervaginam. Sayangnya, satu-satunya indikator yang
andal untuk menegakkan diagnosis ini hanyalah demam (suhu tubuh 38ºC atau lebih),
air ketuban yang keruh dan berbau yang menyertai pecahnya ketuban yang
menandakan infeksi.
2. Infeksi genitalia
Meskipun chlamydia trachomatis adalah patogen bakteri paling umum yang
ditularkan lewat hubungan seksual, namun pada wanita yang mengalami infeksi ini
banyak mengalami keputihan saat hamil juga mengalami ketuban pecah dini dan
mengakibatkan berat badan lahir rendah. Seorang wanita lebih rentan mengalami
keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang
salah satu dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan
keasaman vagina serta terjadi pula perubahan pada kondisi pencernaan. Keputihan
dalam kehamilan sering dianggap sebagai hal yang biasa dan sering luput dari
perhatian ibu maupun petugas kesehatan yang melakukan pemeriksaan kehamilan.
Meskipun tidak semua keputihan disebabkan oleh infeksi, beberapa keputihan dalam
kehamilan dapat berbahaya karena dapat menyebabkan persalinan kurang bulan
(prematuritas), ketuban pecah sebelum waktunya atau bayi lahir dengan berat badan
rendah (< 2500 gram). Sebagian wanita hamil tidak mengeluhkan keputihannya karena
tidak merasa terganggu padahal keputihanya dapat membahayakan kehamilannya,
sementara wanita hamil lain mengeluhkan gejala gatal yang sangat, cairan berbau
namun tidak berbahaya bagi hasil persalinannya. Dari berbagai macam keputihan yang
dapat terjadi selama kehamilan, yang paling sering adalah kandidosis vaginalis,
vaginosis bakterial dan trikomoniasis. Dari NICHD Maternal-fetal Medicine Units
network Preterm prediction Study melaporkan bahwa infeksi klamidia genitourinaria

14
pada usia gestasi 24 minggu yang dideteksi berkaitan dengan peningkatan kejadian
ketuban pecah dini dan kelahiran preterm spontan sebesar dua kali lipat setelah
terinfeksi bakteri ini. Infeksi akut yang sering menyerang daerah genital ini termasuk
herpes simpleks dan infeksi saluran kemih (ISK) yang merupakan infeksi paling umum
yang mengenai ibu hamil dan sering menjadi faktor penyebab pada kelahiran preterm
dan bayi berat badan rendah. Pada kehamilan akan terjadi peningkatan pengeluaran
cairan vagina daripada biasanya yang disebabkan adanya perubahan hormonal, sabun,
cairan pembersih vagina dan bahan pakaian dalam. Keputihan pada kehamilan juga
dapat terjadi akibat adanya pertumbuhan berlebihan sel-sel jamur yang dapat
menimbulkan infeksi didaerah genital. Keputihan akibat infeksi yang terjadi pada
masa kehamilan akan meningkatkan resiko persalinan premature, ketuban pecah dan
janinnya juga mengalami infeksi. Persalinan preterm terjadi tanpa diketahui penyebab
yang jelas, infeksi diyakini merupakan salah satu penyebab terjadinya ketuban pecah
dini dan persalinan preterm. Normalnya nilai pH vagina adalah antara 3,8-4,5.
Abnormalitas pH vagina dapat mengindikasikan adanya infeksi vagina. Herpes
simpleks adalah virus menular seksual yang jarang tetapi serius yang bisa tetap tidak
aktif sampai orang mengalami stres atau tidak sehat. Biasanya merupakan penyakit
kronis dan kambuhan serta bisa berat bagi bayi baru lahir. Infeksi herpes primer
biasanya menyebabkan demam ringan dan perasaan tidak sehat. Muncul lesi yang
menimbulkan nyeri sekitar genital internal dan eksternal, ulserasi, dan biasanya
sembuh dalam tiga minggu. Sectio saesaria merupakan satu-satunya indikasi bila
infeksi masih aktif.
3. Serviks yang tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia)

15
Didasarkan pada adanya ketidakmampuan serviks uteri untuk mempertahankan
kehamilan. Inkompetensi serviks sering menyebabkan kehilangan kehamilan pada
trimester kedua. Diagnosa inkompetensi serviks ditegakkan ketika serviks menipis dan
membuka tanpa disertai nyeri pada trimester kedua atau awal trimester ketiga
kehamilan. Umumnya, wanita datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan
perdarahan pervaginam, tekanan pada panggul, atau ketuban pecah dan ketika diperiksa
serviksnya sudah mengalami pembukaan. Bagi wanita dengan inkompetensi serviks,
rangkaian peristiwa ini akan berulang pada kehamilan berikutnya, berapa pun jarak
kehamilannya. Faktor resiko inkompetensi serviks meliputi riwayat keguguran pada
usia kehamilan 14 minggu atau lebih, adanya riwayat laserasi serviks menyusul
pelahiran pervaginam atau melalui operasi sesar, adanya pembukaan serviks berlebihan
disertai kala dua yang memanjang pada kehamilan sebelumnya, ibu berulang kali
mengalami abortus elektif pada trimester pertama atau kedua, atau sebelumnya ibu
mengalami eksisi sejumlah besar jaringan serviks. Apabila seorang wanita mempunyai
riwayat keguguran pada trimester kedua atau pada awal trimester ketiga, konsultasi
dengan dokter mutlak diperlukan. Jika seorang wanita datang ketika sudah terjadi
penipisan serviks, pembukaan, tekanan panggul, atau perdarahan pervaginam yang
sebabnya tidak diketahui, maka ia perlu segera mendapat penatalaksanaan medis.
4. Trauma

16
Trauma juga diyakini berkaitan dengan terjadinya ketuban pecah dini. Trauma
yang didapat misalnya hubungan seksual saat hamil baik dari frekuensi yang lebih dari
3 kali seminggu, posisi koitus yaitu suami diatas dan penetrasi penis yang sangat dalam
sebesar 37,5% memicu terjadinya ketuban pecah dini, pemeriksaan dalam, maupun
amnosentesis dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini karena biasanya
disertai infeksi. Kelainan letak janin misalnya letak lintang, sehingga tidak ada bagian
terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan
terhadap membran bagian bawah. Hubungan seksual selama hamil memiliki banyak
dampak terhadap kehamilan. Pada trimester pertama kehamilan biasanya gairah seks
mengalami penurunan. Hal ini terjadi akibat ibu didera mual, muntah, lemas, malas dan
apapun yang bertolak belakang dengan semangat libido. Tetapi trimester kedua
umumnya libido timbul kembali, tubuh ibu telah dapat menerima kembali, tubuh telah
terbiasa dengan kondisi kehamilan sehingga ibu dapat menikmati aktifitas dengan lebih
leluasa dari pada trimester pertama. Mual muntah dan segala rasa tidak enak biasanya
sudah jauh berkurang demikian pula urusan hubungan seksual. Ini akibat meningkatnya
pengalihan darah ke organ-organ seksual seperti vagina dan payudara. Memasuki
trimester ketiga minat atau libido menurun kembali, tetapi hal ini tidak berlaku pada
semua wanita hamil. Tidak sedikit wanita yang libidonya sama seperti trimester
sebelumnya, hal ini normal sebab termasuk beruntung karena tidak tersiksa oleh kaki
bengkak, sakit kepala, sakit punggung dan pinggul, berat badan yang semakin
bertambah atau keharusan istirahat total. Frekuensi koitus pada trimester ketiga
kehamilan yang lebih dari tiga kali seminggu diyakini berperan pada terjadinya ketuban
pecah dini, hal ini berkaitan dengan kondisi orgasme yang memicu kontraksi rahim,
namun kontraksi ini berbeda dengan kontraksi yang dirasakan menjelang persalinan.
Selain itu, paparan terhadaap prostaglandin didalam semen (cairan sperma) juga
memicu kontraksi yang walaupun tidak berbahaya bagi kehamilan normal, tetapi harus
tetap diwaspadai jika memiliki resiko melahirkan prematur. Oleh sebab itu pada
kehamilan tua untuk mengurangi resiko kelahiran preterm maupun ketuban pecah
adalah dengan mengurangi frekwensi hubungan seksual atau dalam keadaan betul-betul
diperlukan wanita tidak orgasme meski menyiksa. Tapi jika tetap memilih koitus,
keluarkanlah sperma diluar dan hindari penetrasi penis yang terlalu dalam serta pilihlah

17
posisi berhubungan yang aman agar tidak menimbulkan penekanan pada perut ataupun
dinding rahim. Mengurangi frekwensi koitus yang sejalan dengan meminimalkan
orgasme selain dapat mengurangi terjadinya ketuban pecah dini, dapat pula mengurangi
penekanan pembuluh darah tali pusat yang membawa oksigen untuk janin, sebab
penekanan yang berkepanjangan oleh karena kontraksi pada pembuluh darah uri dapat
menyebabkan gawat janin akibat kurangnya suplai oksigen ke janin.
5. Faktor Psikologis
Ibu primipara yang mengalami ketuban pecah dini berkaitan dengan kondisi
psikologis, mencakup sakit saat hamil, gangguan fisiologis seperti emosi dan termasuk
kecemasan akan kehamilan. Selain itu, hal ini berhubungan dengan aktifitas ibu saat
hamil yaitu akhir triwulan kedua dan awal triwulan ketiga kehamilan yang tidak terlalu
dibatasi dan didukung oleh faktor lain seperti keputihan atau infeksi maternal.
Wanita yang telah melahirkan beberapa kali dan mengalami ketuban pecah dini
pada kehamilan sebelumnya serta jarak kelahiran yang terlampau dekat, diyakini lebih
beresiko akan mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan berikutnya. Meski bukan
faktor tunggal penyebab ketuban pecah dini namun faktor ini juga diyakini berpengaruh
terhadap terjadinya ketuban pecah dini. Yang didukung satu dan lain hal pada wanita
hamil tersebut, seperti keputihan, stress (beban psikologis) saat hamil dan hal lain yang
memperberat kondisi ibu dan menyebabkan ketuban pecah dini.
6. Riwayat ketuban pecah dini
Riwayat ketuban pecah dini sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami
ketuban pecah dini kembali. Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara singkat
ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam membran sehingga memicu
terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien
risiko tinggi. Wanita yang mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan atau
menjelang persalinan maka pada kehamilan berikutnya wanita yang telah mengalami
ketuban pecah dini akan lebih beresiko mengalaminya kembali antara 3-4 kali dari pada
wanita yang tidak mengalami ketuban pecah dini sebelumnya, karena komposisi
membran menjadi mudah rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada
kehamilan berikutnya.

18
7. Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus)
misalnya hidramnion dan gemeli
Pada kelahiran kembar sebelum 37 minggu sering terjadi pelahiran preterm,
sedangkan bila lebih dari 37 minggu lebih sering mengalami ketuban pecah
dini. Perubahan pada volume cairan amnion diketahui berhubungan erat dengan hasil
akhir kehamilan yang kurang bagus. Baik karakteristik janin maupun ibu dikaitkan
dengan perubahan pada volume cairan amnion. AFI (amnion fluid indeks) pada
kehamilan cukup bulan secara normal memiliki rentang antara 5,0 cm dan 23,0
cm. Polihidramnion dapat terjadi akibat kelainan kongenital, diabetes mellitus, janin
besar (makrosomia), kehamilan kembar, kelainan pada plasenta dan tali pusat dan
penggunaan obat-obatan (misalnya propiltiourasil). Kelainan kongenital yang sering
menimbulkan polihidramnion adalah defek tabung neural, obstruksi traktus
gastrointestinal bagian atas, dan kelainan kromosom (trisomi 21, 18, 8, 13) komplikasi
yang sering terjadi pada polihidramnion adalah malpresentasi janin, ketuban pecah dini,
prolaps tali pusat, persalinan pretem dan gangguan pernafasan pada ibu. Kehamilan
kembar juga sangat penting diidentifikasi sejak dini. Sejumlah komplikasi yang
dihubungakan dengan kehamilan, persalinan dan pelahiran serta masa nifas pada wanita
yang mengandung lebih dari satu janin. Kemungkinan yang mungkin timbul pada
kehamilan kembar adalah anomali janin, keguguran dini, lahir hidup, plasenta previa,
persalinan dan pelahiran preterm, diabetes kehamilan, preeklamsi, malpresentasi dan
persalinan dengan gangguan. Pada kehamilan kembar, evaluasi plasenta bukan hanya
mencakup posisinya tetapi juga korionisitas kedua janin. Pada banyak kasus adalah
mungkin saja menentukan apakah janin merupakan kembar monozigot atau dizigot.
Selain itu, dapat juga ditentukan apakah janin terdiri dari satu atau dua amnion. Upaya
membedakan ini diperlukan untuk memperbaiki resiko kehamilan. Pengawasan pada
wanita hamil kembar perlu ditingkatkan untuk mengevaluasi resiko persalinan preterm.
Gejala persalinan preterm harus ditinjau kembali dengan cermat setiap kali melakukan
kunjungan. Wanita dengan kehamilan kembar beresiko tinggi mengalami ketuban pecah
dini juga preeklamsi. Hal ini biasanya disebabkan oleh peningkatan massa plasenta dan
produksi hormon. Oleh karena itu, akan sangat membantu jika ibu dan keluarga
dilibatkan dalam mengamati gejala yang berhubungan dengan preeklamsi dan tanda-

19
tanda ketuban pecah. Kehamilan dengan janin kembar juga akan mempengaruhi
kenyamanan dan citra tubuh, kesiapan perawatan bayi dan keuangan, semua faktor ini
akan menimbulkan stres dan hendaknya petugas kesehatan lebih banyak memberi
konseling dan pendidikan kesehatan. Konseling tentang persalinan pretem dan
preeklamsi perlu di upayakan guna memberi perawatan kehamilan dengan janin kembar
yang bermutu.
8. Usia ibu yang ≤ 20 tahun dan ≥ 35 tahun
Termasuk usia yang terlalu muda dengan keadaan uterus yang kurang matur untuk
melahirkan sehingga rentan mengalami ketuban pecah dini. Sedangkan ibu dengan usia
≥ 35 tahun tergolong usia yang terlalu tua untuk melahirkan khususnya pada ibu primi
(tua) dan beresiko tinggi mengalami ketuban pecah dini. Usia dan fisik wanita sangat
berpengaruh terhadap proses kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan proses
persalinan.
Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dapat menimbulkan masalah karena kondisi
fisik belum 100% siap. Beberapa resiko yang bisa terjadi pada kehamilan di usia kurang
dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin
terhambat. Bisa jadi secara mental pun wanita belum siap. Ini menyebabkan kesadaran
untuk memeriksakan diri dan kandungannya menjadi rendah. Di luar urusan kehamilan
dan persalinan, risiko kanker leher rahim pun meningkat akibat hubungan seks dan
melahirkan sebelum usia 20 tahun ini. Berbeda dengan wanita usia 20-30 tahun yang
dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Di rentang usia ini kondisi
fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau
kondisi yang maksimal untuk kehamilan. Umumnya secara mental pun siap, yang
berdampak pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati.
Usia 30-35 tahun sebenarnya merupakan masa transisi, kehamilan pada usia ini
masih bisa diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan wanita yang bersangkutan
termasuk gizinya, dalam keadaan baik. Sejalan dengan bertambahnya usia, tidak sedikit
fungsi organ yang menurun. Semakin bertambah usia, semakin sulit hamil karena sel
telur yang siap dibuahi semakin sedikit. Selain itu, kualitas sel telur juga semakin
menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama di usia lanjut, resiko perkembangan
janin tidak normal dan timbulnya penyakit kelainan bawaan juga tinggi, begitu juga

20
kondisi-kondisi lain yang mungkin mengganggu proses kehamilan dan persalinan
seperti kelahiran preterm ataupun ketuban pecah dini. Meningkatnya usia juga membuat
kondisi dan fungsi rahim menurun. Salah satu akibatnya adalah jaringan rahim yang tak
lagi subur. Padahal, dinding rahim tempat menempelnya plasenta. Kondisi ini
memunculkan kecenderungan terjadinya plasenta previa atau plasenta tidak menempel
di tempat semestinya. Selain itu, jaringan rongga panggul dan otot-ototnya pun
melemah sejalan pertambahan usia. Hal ini membuat rongga panggul tidak mudah lagi
menghadapi dan mengatasi komplikasi yang berat, seperti perdarahan. Pada keadaan
tertentu, kondisi hormonalnya tidak seoptimal usia sebelumnya. Itu sebabnya, resiko
keguguran, ketuban pecah, kematian janin, dan komplikasi lainnya juga meningkat.
Namun secara umum periode waktu dari ketuban pecah dini sampai kelahiran
berbanding terbalik dengan usia gestasi saat ketuban pecah, jika ketuban pecah pada
trimester ketiga, maka hanya diperlukan beberapa hari saja sehingga pelahiran terjadi
dibandingkan dengan trimester kedua .
III.4 Patofisiologi
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi
uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu
terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh,
bukan karena seluruh selaput ketuban rapuh. Selaput ketuban sangat kuat pada
kehamilan muda. Pada trimester tiga selaput ketuban mudah pecah. Melemahnya
kekuatan selaput ada hubungannya dengan pembesaran uterus, kontraksi rahim,
dan gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia pada selaput
ketuban. Ketuban pecah dini pada kehamilan premature disebabkan oleh adanya
factor-faktor eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Ketuban pecah
dini sering terjadi pada polihidramnion, inkompeten serviks, dan solusio plasenta.
Faktor resiko untuk terjadinya ketuban pecah dini adalah :
1. Berkurang nya asam askorbik sebagai komponen kolagen
2. Kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur
abnormal karena antara lain merokok
Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metalloproteinase (MMP) yang
dihambat oleh inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protease.

21
Mendekati waktu persalinan, keseimbangan antara MMP dan TIMP-1
mengarah pada degradasi proteolitik dari matriks ekstraseluler dan membrane
janin. Aktivitas degradasi proteolitik ini meningkat menjelang persalinan.
III.5 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang selalu ada ketika terjadi ketuban pecah dini adalah
keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai
kelahiran. Tetapi bila ibu duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di
bawah biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Ada pula
tanda dan gejala yang tidak selalu ada (kadang-kadang) timbul pada ketuban pecah
dini seperti ketuban pecah secara tiba-tiba, kemudian cairan tampak diintroitus dan
tidak adanya his dalam satu jam. Keadaan lain seperti nyeri uterus, denyut jantung
janin yang semakin cepat serta perdarahan pervaginam sedikit tidak selalu dialami
ibu dengan kasus ketuban pecah dini. Namun, harus tetap diwaspadai untuk
mengurangi terjadinya komplikasi pada ibu maupun janin.2
III.6 Menegakan diagnosis
Diagnosis KPD didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium.
Anamnesa
 Menanyakan identitas dan data umum seperti nama, usia, pekerjaan, agama, suku
 Menanyakan keadaan sosial dan ekonomi, gaya hidup dan kondisi lingkungan
 Menanyakan adanya keluhan utama dan penyerta
 Menanyakan apakah pasien telah melakukan pemeriksaan sebelumnya atau
pengobatan sebelumnya, apa yang dilakukan untuk mengatasi keluahannya
sebelum ke dokter
 Menanyakan riwayat penyakit keluarga dan penyakit terdahulu
Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila
ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan
lebih jelas.
Pemeriksaan dengan spekulum.

22
Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari
orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri
ditekan dan penderita diminta untuk batuk, mengejan atau mengadakan manuver
valsava, atau bagian terendah digoyangkan, sehingga akan tampak keluar cairan
dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks anterior.
Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada
kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan
pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan
mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Dimana
mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam
vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang
dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu dalam
melakukan diagnosis KPD pada seseorang adalah seperti :
 Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi,
bau dan pH. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin
juga urin atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil ( pH : 4-5 ).
a. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (bersifat alkalis). pH air ketuban 7 –
7,5 tetapi harus diperhatikan karena darah dan infeksi vagina dapat
menghasilkan positif palsu pada tes.
b. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek
dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik akan menunjukkan
gambaran daun pakis.
 Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

23
Pemeriksaan ini bertujuan melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.
Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidramnion.
III.7 Penatalaksanaan
Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya
infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. Penatalaksanaan
ketuban pecah dini pada kehamilan preterm berupa penanganan konservatif, antara lain :
1. Rawat di Rumah Sakit, berikan antibiotika (ampisilin 4×500 mg atau eritromisin
bila tidak tahan ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
2. Jika umur kehamilan 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau
sampai air ketuban tidak keluar lagi.
3. Pada usia kehamilan 32-<37 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan
paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap
minggu. Sedian terdiri atas betametason 6mg sehari diberikan 2 kali atau
deksametason IM atau IV 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
4. Jika usia kehamilan 32-<37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, beri
deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin. Terminasi
pada kehamilan 37 minggu.
5. Jika usia kehamilan 32-<37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan
tokolitik (salbutamol), steroid dan induksi sesudah 24 jam.
6. Jika usia kehamilan 32-<37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan
induksi. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin).
Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini Pada Kehamilan Aterm
Penatalaksanaan ketuban pecah dini pada kehamilan aterm berupa penanganan aktif, antara
lain:
1. Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesaria. Dapat
pula diberikan misoprostol 50 μg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
2. Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika dosis tinggi, dan persalinan di
akhiri.
3. Bila skor bishop < 8 lakukan pematangan serviks kemudian induksi. Jika tidak
berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria.

24
4. Bila skor bishop > 8 induksi persalinan, partus pervaginam
III.8 Komplikasi
Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia kehamilan.
Dapat terjadi infeksi maternal maupun neonatal, persalinan premature, hipoksia karena
kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden seksio sesarea, atau gagal nya
persalinan normal. Komplikasi lain adalah :
1. Persalinan premature
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten
tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam
setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam
24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.

2. Infeksi
Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi
korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septicemia, pneumonia. Umumnya terjadi
korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini premature,
infeksi lebih sering daripada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada
ketuban pecah dini meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
3. Hipoksia dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga
terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan
derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
4. Sindrom deformitas janin
Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta
hipoplasia pulmonar.

25
BAB IV
ANALISIS KASUS

Pada kasus ini, Ny. S, 20 tahun G1P0A0 uk 38 minggu, air ketuban sudah rembes sejak 10
jam SMRS.
2.1 Subyektif
 Berdasarkan keluhan menunjukan air ketuban sudah rembes dari 10 jam SMRS.
Sesuai definisi, ketuban pecah dini yaitu ketuban pecah spontan tanpa diikuti tanda-
tanda persalinan.
 Keluhan tambahan dari pasien perutnya terasa kencang sejak 4 jam SMRS dan
pegal. Perut terasa kencang berarti sudah ada kontraksi pada uterus, walaupun
masih jarang. Kontraksi uterus menandakan dimulainya Kala I.
2.2 Obyektif
Pada tanggal 9 Juli 2015 pasien tampak sakit ringan dan status generalis pasien dalam
batas normal. Lalu pada pemeriksaan obstetri didapatkan Leopold 1: Bulat lunak, Leopold
2: Punggung kanan, Leopold 3 : Bulat keras, Leopold 4 : Belum masuk PAP, TFU : 31cm,
VT : pembukaan 1jari sempit, porsio tebal lunak, KK (-), His : (+) jarang, DJJ: 130x/menit,
reguler, 11-10-11. His pada abdomen pasien, menandakan adanya kontraksi uterus namun
masih jarang. Menandakan sudah berlangsungnya proses persalinan (inpartu). Pembukaan
1 pada pasien menunjukan bahwa pasien sudah masuk Kala I fase laten. Leopod 3 : bulat
keras, menunjukan presentasi kepala.
2.3 Assessment
Pengambilan diagnosa didasarkan atas anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.. Dari anamnesa didapatkan bahwa air ketuban sudah rembes dari 10 jam
SMRS, air saja, berwarna putih kekuningan. Pemeriksaan fisik pada status generalisnya

26
dalam batas normal. Lalu pada pemeriksaan obstetri didapatkan Leopold 1 : Bulat lunak,
Leopold 2: Punggung kanan, Leopold 3 : Bulat keras, Leopold 4 : Belum masuk PAP, TFU
: 31cm, VT : pembukaan 1jari sempit, porsio tebal lunak, KK (-), His : (+) jarang, DJJ:
130x/menit, reguler, 11-10-11. Pemeriksaan alat kelamin : tidak tampak kelainan pada
vagina, lendir (+) darah (-). Pada pemeriksaan darah didapatkan Hemoglobin dan
Hematokrit rendah.
Diagnosis terakhir yang diambil untuk pasien ini adalah G1P0A0 uk 38 minggu, hamil
aterm JTHIU letak kepala, belum masuk PAP, punggung kanan, inpartu Kala I Fase Laten
KPD 10 jam. Pasien direncanakan untuk partus spontan pervaginam.

2.4 Planning
Rawat Inap
Rawat inap berguna untuk pengawasan pasien pro partus. Pasien diberikan :
 Ringer Laktat 20tpm.
Tindakan
Partus spontan pervaginam.

27
DAFTAR PUSTAKA
1. Binarso A, Kristanto H. Kehamilan postterm. dalam : Ilmu Kebidanan Sarwono
Prawirohardjo. edisi ke-4, cetakan ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 2010.h.677-82.
2. Cunningham, F.G et al. 2005. Kehamilan Postterm. dalam : Williams
Obstetrics.22st edition. New York: Mc Graw Hill Medical Publising Division.
3. Menon R, Fortunato SJ. The role of matriks degrading enzymes and apotosis in
rupture of membranes. Reproductive Sciences: 2004; 11.p.427-37.
4. Prawirohardjo S. Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi ke-1. Jakarta: PT. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2010
5. Saifudin, Abdul Bari, et al. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. 2002. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

28
29