Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan YME karena atas rahmat dan ridhoNya
penulis dapat menyelesaikan presentasi kasus yang berjudul “Plasenta Previa”
Makalah ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi penilaian pada
kepaniteraan klinik di bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah
Ambarawa. Terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Adi Rahmanadi SpOG,
selaku dokter pembimbing yang banyak memberikan masukan dan saran. Serta
teman-teman sejawat yang telah membantu dalam penyelesaian presentasi kasus
ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ujian ini masih jauh dari sempurna,
untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan
berikutnya. Akhir kata, semoga presentasi kasus ini dapat bermanfaat dan
menambah ilmu pengetahuan bagi penulis maupun pembaca.

Ambarawa, Desember 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan.................................................................................................ii
Kata Pengantar.........................................................................................................1
Daftar Isi..................................................................................................................2
Bab I.........................................................................................................................3
Bab II…………………............................................................................................5
Bab III....................................................................................................................14
Bab IV....................................................................................................................20
Daftar Pustaka........................................................................................................45

2
BAB I

PENDAHULUAN

Perdarahan pervaginam merupakan hal yang lazim terjadi selama persalinan


aktif. “Bloody show” ini terjadi akibat pendataran dan pembukaan serviks disertai
robeknya pembuluh-pembuluh vena halus. Tetapi perdarahan uterus dari tempat di
atas serviks sebelum terjadinya persalinan merupakan hal yang
mengkhawatirkan.(1)

Dalam Reproductive Health Library no.5 terdapat data global mengenai


kematian maternal. Setiap tahun terdapat 180 sampai 200 juta perempuan menjadi
hamil dan 585.000 orang diantaranya meninggal akibat salah satu komplikasi
sehubungan dengan kehamilan dan persalinan. Latar belakang kematian maternal
adalah perdarahan obstetrik (24,8%), infeksi (14,9%), eklamsia (12,9%), partus
tidak maju/distosia (6,9%), abortus yang tidak aman (12,9%), dan sebab-sebab
langsung lain (7,9%).(2)

Sampai sekarang, perdarahan dalam obstetrik masih memegang peranan


penting sebagai penyebab utama kematian maternal, sekalipun di negara maju,
terutama pada kelompok sosio-ekonomi lemah. Baik laporan penelitian dari Inggris
(1985-1996), maupun laporan penelitian dari Amerika (1979-1992), keduanya
menyatakan bahwa perdarahan obstetrik merupakan penyebab utama kematian
maternal. Laporan dari Amerika menyebutkan 30% kematian maternal disebabkan
oleh perdaraahan di luar keguguran.(1, 2)

Pada sebuah laporan oleh Chicakli dan kawan-kawan (1999) disebutkan bahwa
perdarahan obstetrik yang sampai menyebabkan kematian terdiri atas solusio
plasenta (19%) dan koagulopati (14%), robekan jalan lahir termasuk ruptur uteri
(16%), dan plasenta previa (7%), plasenta akreta/inkreta dan perkreta (6%), serta
atonia uteri (15%). Perdarahan obstetrik yang tidak cepat diatasi dengan transfusi
darah atau cairan infus, serta fasilitas penanggulangan lainnya (misalnya upaya
pencegahan dan/atau mengatasi syok, seksio sesarea atau hiseterktomi, dan terapi
antibiotika yang sesuai), prognosisnya akan fatal bagi penderitanya.(2)

3
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1. Anamnesis
Dilakukan anamnesis secara auto-anamnesis di Asoka RSUD Ambarawa
pada 26 Januari pada pukul 18.30 WIB.

Identitas
 Identitas Pasien
Nama : Ny. R
Usia : 37 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Banyubiru
Tanggal masuk RS : 26/01/2017
Dokter penanggung jawab : dr. Hary Purwoko Sp.OG, KFER

Keluhan utama
Pasien dirujuk bidan dengan suspek plasenta previa.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien dengan G4P3A0 mengaku hamil 38 minggu dengan HPHT 7
April 2017, HPL 14 Februari 2018. Pasien mengaku keluar darah dari jalan
lahir sejak 12 jam SMRS, darah berwarna merah segar dan OS telah
mengganti kain (ukuran 2 m x 1,5 m) sebanyak 2 kali, kain dipenuhi darah
tapi tidak seluruhnya. OS merasa lemas dan pusing selama di perjalanan saat
dibawa ke RSUD Ambarawa. OS menyangkal keluar air-air dan lendir.
Mulas-mulas dan nyeri perut juga disangkal. Keluhan pusing, pandangan
kabur, nyeri ulu hati, mual, muntah, demam, menggigil, dan nyeri ulu hati

4
disangkal oleh pasien. Saat dibawa ke RS pasien mengaku gerakan janin
masih aktif.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat perdarahan pada kehamilan sebelumnya, darah tinggi, kencing
manis, asma, alergi, serta penyakit jantung disangkal pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, alergi, serta penyakit jantung
dalam keluarga disangkal pasien.

Riwayat Menstruasi
Menarche pada usia 12 tahun. Menstruasi teratur sebulan sekali, lamanya
5-7 hari, ganti pembalut sebanyak 2 kali sehari, nyeri haid (-).

Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1 kali. Sudah men.

Riwayat Obstetri
I. Laki-laki, usia 18 tahun, lahir secara spontan di paraji, berat
badan lahir tidak tahu;
II. Perempuan, usia 13 tahun, lahir secara spontan di bidan
dengan berat badan lahir 3000 gram;
III. Laki-laki, usia 7 tahun, lahir secara spontan di bidan dengan
berat badan lahir 3000 gram; dan
IV. Hamil ini.

Riwayat KB
Pasien menggunakan kontrasepsi dengan pil, terakhir mengkonsumsi
11 bulan yang lalu.

2.2. Pemeriksaan Fisik

Status Generalis

5
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB/TB : 68 kg/163 cm
Tanda vital
Tekanan darah : 110/60 mmHg
Nadi : 96x/menit, reguler, volume cukup
Suhu : 36,7 ⁰C
Pernafasan : 20 x/menit
Kepala : Normocephali, deformitas (-)
Mata : Konjungtiva pucat (±/±), Sklera ikterik (-/-)
Leher : Kelenjar getah bening dan tiroid tidak teraba
membesar
Thoraks : Paru : Suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-),
wheezing (-/-)
Jantung : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Membuncit sesuai dengan usia kehamilan,
strie gravidarum (+), nyeri tekan (-)
Ekstremitas : Akral hangat ++/++, oedem --/--
Genitalia : Vulva edema (-)

Status Obstetri

Palpasi
TFU : 28 cm, punggung kiri, persentasi kepala, DJJ 143
bpm
His : irreguler
Leopold
Leopold I : Bulat, tidak melenting (bokong)
Leopold II : Teraba rata di abdomen sebelah kiri ibu
(punggung kiri)

6
Teraba bagian kecil-kecil di abdomen
sebelah kanan ibu (ekstremitas)
Leopold III : Bulat, melenting (kepala)
Leopold IV : Kepala teraba 5/5 di atas symphisis pubis
Inspeksi : Perdarahan aktif (+)
Inspekulo : Portio livid, ostium terbuka 1 cm, tampak darah
keluar dari OUI
VT : Tidak dilakukan

2.3. Pemeriksaan Penunjang

A. Laboratorium pada tanggal 26/01/2018

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

HEMATOLOGI

Darah Rutin

Hb 10,5(L) 12.5-15.5 g/dL

Leukosit 9,8 4-10 Ribu

Eritrosit 3.50 3.8-5.4 Juta

Hematokrit 30.6(L) 35-47 %

MCV 77.7(L) 82-98 Mikro m3

MCH 29.1 >= 27 Pg

MCHC 32.5 32-36 g/dL

RDW 11.8 10-16 %

Tombosit 230 150-400 Ribu

PDW 11.8 10-18 %

MPV 7.7 7-11 Mikro m3

7
Limfosit 2.0 1.0-4.5 103/mikro

Monosit 0.4 0.2-1.0 103/mikro

Granulosit 12.3 (H) 2-4 103/mikro

Limfosit % 13.7(L) 25-40 %

Monosit % 2.5 2-8 %

Granulosit % 83.6 50-80 %

PCT 0.289 0.2-0.5 %

HbsAg Non reaktif

Clothing Time 3:00 3-4 Menit:detik

Bleeding Time 1:00 1-3 Menit:detik

B. USG

Plasenta di korpus anterior meluas menutupi ostium uteri internum


Usia kehamilan 37-38 minggu

2.4. Resume
Pasien G4P3(AH4)A0 dirujuk bidan dengan suspek plasenta previa
mengaku hamil 38 minggu dengan HPHT 7 April 2017, taksiran partus -, usia
kehamilan -. Pasien mengaku keluar darah sejak 12 jam SMRS, darah warna
merah segar. OS telah mengganti kain sebanyak 2 kali. Mulas (-), gerakan
janin (+). ANC rutin di puskesmas, imunisasi TT (1x), riwayat USG (+) 2 kali
selalu baik.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum dan tanda vital dalam
batas normal, tidak ada tanda-tanda syok (tekanan darah turun, takikardi, nadi
sulit diraba). Hanya didapatkan konjungtiva subanemis. Pada pemeriksaan
abdomen, nyeri tekan (-).
• Pada pemeriksaan obstetri didapatkan inspeksi perut membuncit, striae

8
gravidarum (+), TFU 28 cm, DJJ 143 bpm. Pada pemeriksaan Leopold I-IV
didapatkan persentasi kepala dengan punggung di kiri, bagian terbawah
janin belum masuk PAP. Pada pemeriksaan dalam didapatakan perdarahan
aktif (+). Pemeriksaan laboratorium datang didapatkan sedikit penurunan
Hb dan hematokrit. Pemeriksaan USG Plasenta di korpus anterior meluas
menutupi ostium uteri internum Usia kehamilan 37-38 minggu

2.5. Diagnosis Kerja


G4P3A0, hamil 38 minggu dengan anemia ringan e.c plasenta previa.
2.6. Tatalaksana
 Observasi keadaan umum, tanda vital, his, DJJ, perdarahan
 Terminasi perabdominal

Laporan Operasi :
1. Asepsis dan antisepsis daerah operasi.
2. Insisi Pfannenstill dibuat di kulit menembus sampai peritoneum.
3. Membuka plika vesikouterina.
4. Membuat insisi curvilinear pada segmen bawah rahim.
5. Melahirkan bayi dengan meluksir kepala, lahir bayi perempuan, A/S
8/9, BB 2480 gram, PB 44 cm.
6. Plasenta previa totalis menutupi ostium uteri internum sampai pada
korpus depan.
7. Menutup uterus 1 lapis dengan vicryl 1-0.
8. Hemostasis
9. Bilateral tubal ligation dengan metode Pomeroy.
10. Peritonealisasi
11. Menutup dinding abdomen lapis demi lapis.
12. Menutup dengan kassa steril.
13. Operasi selesai

2.7. Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

9
Ad sanationam : dubia ad bonam

10
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Plasenta Previa


2.1.1. Definisi Plasenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian


segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh
jalan lahir yang ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar
melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri pada kehamilan trimester
terakhir, khususnya pada bulan kedelapan (Chalik, 2008).

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di segmen


bawah rahim yang dapat memberikan dampak yang sangat merugikan
ibu maupun janin berupa perdarahan, prematuritas dan peningkatan
angka kesakitan dan kematian perinatal (Romundstad et all, 2006).

2.1.2. Insiden Plasenta Previa

Menurut Chalik (2008) plasenta previa lebih banyak terjadi pada


kehamilan dengan paritas tinggi, dan sering terjadi pada usia di atas 30
tahun. Uterus yang cacat juga dapat meningkatkan angka kejadian
plasenta previa. Pada beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah
dilaporkan angka kejadian plasenta previa berkisar 1,7 % sampai dengan
2,9 %. Sedangkan di negara maju angka kejadiannya lebih rendah yaitu
kurang dari 1 % yang mungkin disebabkan oleh berkurangnya wanita
yang hamil dengan paritas tinggi.

Kejadian plasenta previa terjadi kira-kira 1 dari 200 persalinan,


insiden dapat meningkat diantaranya sekitar 1 dari 20 persalinan pada
ibu yang paritas tinggi (Decherney, Nathan, Goodwin, Laufer, 2007).

11
2.1.3. Faktor Risiko dan Etiologi Plasenta Previa

Menurut Faiz & Ananth (2003) faktor risiko timbulnya plasenta


previa belum diketahui secara pasti namun dari beberapa penelitian
dilaporkan bahwa frekuensi plasenta previa tertinggi terjadi pada ibu
yang berusia lanjut, multipara, riwayat seksio sesarea dan aborsi
sebelumnya serta gaya hidup yang juga dapat mempengaruhi
peningkatan resiko timbulnya plasenta previa.

Menurut penelitian Wardana (2007) yang menjadi faktor risiko


plasenta previa yaitu:

1. Risiko plasenta previa pada wanita dengan umur 35


tahun 2 kali lebih besar dibandingkan dengan umur < 35.

2. Risiko plasenta previa pada multigravida 1,3 kali lebih


besar dibandingkan primigravida.

3. Risiko plasenta previa pada wanita dengan riwayat


abortus 4 kali lebih besar dibandingkan dengan tanpa
riwayat abortus.

4. Riwayat seksio sesaria tidak ditemukan sebagai faktor


risiko terjadinya plasenta previa.

Menurut Chalik (2008), yang menjadi penyebab implantasinya


blastokis pada segman bawah rahim belum diketahui secara pasti.
Namun teori lain mengemukakan bahwa yang menjadi salah satu
penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, yang
mungkin terjadi karena proses radang maupun atropi.

2.1.4. Klasifikasi Plasenta Previa

12
Menurut Chalik (2008) plasenta previa dapat digolongkan
menjadi empat bagian yaitu:

1. Plasenta previa totalis atau komplit, adalah plasenta yang menutupi


seluruh ostium uteri internum.

2. Plasenta previa parsialis, adalah plasenta yang menutupi sebagian


ostium uteri internum.

3. Plasenta previa margianalis adalah plasenta yang tepinya berada


pada pinggir ostium uteri internum.
4. Plasenta letak rendah, yang berarti bahwa plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim yang sedemikian rupa
sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari
ostium uteri internum.

Menurut Perisaei, Sheilendra, Pahay, Rian (2008) plasenta


previa dapat dibagi menjadi empat derajat berdasarkan scan pada
ultrasound yaitu:

1. Derajat I : plasenta sudah melampaui segmen terendah rahim.

2. Derajat II : plasenta sudah mencapai ostium uteri internum.

3. Derajat III : plasenta telah terletak pada sebagian ostium uteri internum.

4. Derajat IV : plasenta telah berada tepat pada segmen bawah rahim. Menurut
de Snoo dalam Mochtar (1998) klasifikasi plasenta previa

berdasarkan pembukaan 4 -5 cm yaitu:

1. Plasenta previa sentralis (totalis), apabila pada pembukaan 4-5 cm


teraba plasenta menutupi seluruh ostea.

2. Plasenta previa lateralis, apabila pada pembukaan 4-5 cm


sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta, dibagi 2 :

13
 Plasenta previa lateralis posterior; bila sebagian menutupi
ostea bagian belakang.

 Plasenta previa lateralis anterior; bila sebagian menutupi
ostea bagian depan.

 Plasenta previa marginalis; bila sebagian kecil atau hanya
pinggir ostea yang ditutupi plasenta.

2.1.5. Patofisiologi Plasenta Previa


Perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya
terjadi pada triwulan ketiga karena saat itu segmen bawah uterus lebih
mengalami perubahan berkaitan dengan semakin tuanya kehamilan, segmen
bawah uterus akan semakin melebar, dan serviks mulai membuka. Perdarahan
ini terjadi apabila plasenta terletak diatas ostium uteri interna atau di bagian
bawah segmen rahim. Pembentukan segmen bawah rahim dan pembukaan
ostium interna akan menyebabkan robekan plasenta pada tempat perlekatannya
(Cunningham et al, 2005).

Darah yang berwarna merah segar, sumber perdarahan dari plasenta


previa ini ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari dinding
uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahannnya tak
dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan tersebut, tidak sama dengan
serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III pada plasenta yang
letaknya normal. Semakin rendah letak plasenta, maka semakin dini perdarahan
yang terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi
lebih dini daripada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah
persalinan mulai (Oxorn, 2003).

2.1.6. Gambaran klinis Plasenta Previa

14
Ciri yang menonjol dari plasenta previa adalah perdarahan uterus
yang keluar melalui vagina tanpa disertai dengan adanya nyeri.
Perdarahan biasanya terjadi diatas akhir trimester kedua. Perdarahan
pertama berlangsung tidak banyak dan dapat berhenti sendiri. Namun
perdarahan dapat kembali terjadi tanpa sebab yang jelas setelah
beberapa waktu kemudian. Dan saat perdarahan berulang biasanya
perdarahan yang terjadi lebih banyak dan bahkan sampai mengalir.
Karena letak plasenta pada plasenta previa berada pada bagian bawah,
maka pada palpasi abdomen sering teraba bagian terbawah janin masih
tinggi diatas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang.
Pada plasenta previa ini tidak ditemui nyeri maupun tegang pada perut
ibu saat dilakukan palpasi (Chalik, 2008).

2.1.7. Diagnosis Plasenta Previa

Apabila plasenta previa terdeteksi pada akhir tahun pertama atau


trimester kedua, sering kali lokasi plasenta akan bergeser ketika rahim
membesar. Untuk memastikannya dapat dilakukan pemeriksaan USG,
namun bagi beberapa wanita mungkin bahkan tidak terdiagnosis sampai
persalinan, terutama dalam kasus-kasus plasenta previa sebagian (Faiz
& Ananth, 2003).

Menurut Mochtar (1998) diagnosa dari plasenta previa bisa


ditegakkan dengan adanya gejala klinis dan beberapa pemeriksaan
yaitu:

1. Anamnesia, pada saat anamnesis dapat ditanyakan beberapa hal


yang berkaitan dengan perdarahan antepartum seperti umur
kehamilan saat terjadinya perdarahan, apakah ada rasa nyeri, warna
dan bentuk terjadinya perdarahan, frekuensi serta banyaknya
perdarahan (Wiknjosastro, 2007)

2. Inspeksi, dapat dilihat melalui banyaknya darah yang keluar


melalui vagina, darah beku, dan sebagainya. Apabila dijumpai

15
perdarahan yang banyak maka ibu akan terlihat pucat (Mochtar,
1998).

3. Palpasi abdomen, sering dijumpai kelainan letak pada janin, tinggi


fundus uteri yang rendah karena belum cukup bulan. Juga sering
dijumpai bahwa bagian terbawah janin belum turun, apabila letak
kepala, biasanya kepala masih bergoyang, terapung atau mengolak
di atas pintu atas panggul (Mochtar, 1998).

4. Pemeriksaan inspekulo, dengan menggunakan spekulum secara


hati-hati dilihat dari mana sumber perdarahan, apakah dari uterus,
ataupun terdapat kelainan pada serviks, vagina, varises pecah, dll
(Mochtar, 1998).

5. Pemeriksaan radio-isotop

a. Plasentografi jaringan lunak

b. Sitografi

c. Plasentografi indirek

d. Arteriografi

e. Amniografi

f. Radio isotop plasentografi

6. Ultrasonografi, transabdominal ultrasonografi dalam keadaan


kandung kemih yang dikosongkan akan memberikan kepastian
diagnosa plasenta previa. Walaupun transvaginal ultrasonografi
lebih superior untuk mendeteksi keadaan ostium uteri internum
namun sangat jarang diperlukan, karena di tangan yang tidak ahli
cara ini dapat menimbulkan perdarahan yang lebih banyak (Chalik,
2008). Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografis sangat
tepat dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin
(Mochtar, 1998)

16
7. Pemeriksaan dalam, pemeriksaan ini merupakan senjata dan cara paling
akhir yang paling ampuh dalam bidang obstetrik untuk diagnosa plasenta
previa. Walaupun ampuh namun harus berhati-hati karena dapat
menimbulkan perdarahan yang lebih hebat, infeksi, juga menimbulkan
his yang kemudian akan mengakibatkan partus yang prematur. Indikasi
pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum yaitu jika terdapat
perdarahan yang lebih dari 500 cc, perdarahan yang telah berulang, his
telah mulai dan janin sudah dapat hidup diluar janin (Mochtar, 1998).
Dan pemeriksaan dalam pada plasenta previa hanya dibenarkan jika
dilakukan dikamar operasi yang telah siap untuk melakukan operasi
dengan segera (Mose, 2004).

Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan fornises dengan hati-


hati. Jika tulang kepala teraba, maka kemungkinan plasenta previa kecil.
Namun jika teraba bantalan lunak maka, kemungkinan besar plasenta
previa.

2.1.8. Penatalaksanaan Plasenta Previa

Menurut Mose (2004) penatalaksanaan pada plasenta previa


dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu:

1. Ekspektatif, dilakukan apabila janin masih kecil sehingga


kemungkinan hidup di dunia masih kecil baginya. Sikap
ekspektasi tertentu hanya dapat dibenarkan jika keadaan ibu baik
dan perdarahannya sudah berhenti atau sedikit sekali. Dahulu ada
anggapan bahwa kehamilan dengan plasenta previa harus segera
diakhiri untuk menghindari perdarahan yang fatal.

Menurut Scearce, (2007) syarat terapi ekspektatif yaitu:

a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian


berhenti.

b. Belum ada tanda-tanda in partu.

17
c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas
normal).

d. Janin masih hidup.

2. Terminasi, dilakukan dengan segera mengakhiri kehamilan


sebelum terjadi perdarahan yang dapat menimbulkan kematian,
misalnya: kehamilan telah cukup bulan, perdarahan banyak, dan anak
telah meninggal. Terminasi ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a. Cara vaginal yang bermaksud untuk mengadakan tekanan pada
plasenta, dengan cara ini maka pembuluh-pembuluh darah yang terbuka
dapat tertutup kembali (tamponade pada plasenta) ( Mose, 2003).

Menurut Mochtar (1998) penekanan tersebut dapat dilakukan


melalui beberapa cara yaitu:

- Amniotomi ( pemecahan selaput ketuban)

Cara ini merupakan cara yang dipilih untuk melancarkan


persalinan pervaginam. Cara ini dilakukan apabila plasenta previa
lateralis, plasenta previa marginalis, atau plasenta letak rendah, namun
bila ada pembukaan. Pada primigravida telah terjadi pembukaan 4 cm
atau lebih. Juga dapat dilakukan pada plasenta previa lateralis/
marginalis dengan janin yang sudah meninggal (Mochtar, 1998).

- Memasang cunam Willet Gausz

Pemasangan cunam Willet Gausz dapat dilakukan dengan


mengklem kulit

kepala janin dengan cunam Willet Gausz. Kemudian cunam diikat


dengan menggunakan kain kasa atau tali yang diikatkan dengan beban
kira-kira 50-100 gr atau sebuah batu bata seperti katrol. Tindakan ini
biasanya hanya dilakukan pada janin yang telah meninggal dan
perdarahan yang tidak aktif karena seringkali menimbulkan perdarahan
pada kulit kepala janin (Mochtar, 1998).

18
- Metreurynter

Cara ini dapat dilakukan dengan memasukkan kantong karet yang


diisi udara dan air sebagai tampon, namun cara ini sudah tidak dipakai
lagi (Mochtar, 1998).

- Versi Braxton-Hicks

Cara ini dapat dilakukan pada janin letak kepala, untuk mencari
kakinya sehingga dapat ditarik keluar. Cara ini dilakukan dengan
mengikatkan kaki dengan kain kasa, dikatrol, dan juga diberikan beban
seberat 50-100 gr (Mochtar, 1998).

b. Dengan cara seksio sesarea, yang dimaksud untuk mengosongkan


rahim sehingga rahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan.
Selain itu seksio sesarea juga dapat mencegah terjadinya robekan
serviks dan segmen bawah rahim yang sering terjadi pada persalinan
pervaginam (Mochtar, 1998). Persalinan seksio sesarea diperlukan
hampir pada seluruh kasus plasenta previa. Pada sebagian besar kasus
dilakukan melalui insisi uterus transversal. Karena perdarahan janin
dapat terjadi akibat insisi ke dalam plasenta anterior (Cunningham et al,
2005).

Menurut Mochtar (1998) Indikasi dilakukannya persalinan seksio


sesarea pada plasenta previa adalah:

a. Dilakukan pada semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau


meninggal, serta semua plasenta previa lateralis, posterior, karena
perdarahan yang sulit dikontrol.

b. Semua plasenta pevia dengan perdarahan yang banyak,


berulang dan tidak berhenti dengan tindakan yang ada.

19
c. Plasenta previa yang disertai dengan panggul sempit, letak
lintang. Menurut Winkjosastro (1997) dalam Sihaloho (2009)
gawat janin maupun

kematian janin dan bukan merupakan halangan untuk dilakukannya


persalinan seksio sesarea, demi keselamatan ibu. Tetapi apabila
dijumpai gawat ibu kemungkinan persalinan seksio sesarea ditunda
sampai keadaan ibunya dapat diperbaiki, apabila fasilitas
memungkinkan untuk segera memperbaiki keadaan ibu, sebaiknya
dilakukan seksio sesarea jika itu merupakan satu-satunya tindakan yang
terbaik untuk mengatasi perdarahan yang banyak pada plasenta previa
totalis.

2.1.9. Komplikasi Plasenta Previa

Menurut Dutta (2004) komplikasi dapat terjadi pada ibu dan bayi
yaitu: Selama kehamilan pada ibu dapat menimbulkan perdarahan
antepartum yang dapat menimbulkan syok, kelainan letak pada janin
sehingga meningkatnya letak bokong dan letak lintang. Selain itu juga
dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Selama persalinan plasenta
previa dapat menyebabkan ruptur atau robekan jalan lahir, prolaps tali
pusat, perdarahan postpartum, perdarahan intrapartum, serta dapat
menyebakan melekatnya plasenta sehingga harus dikeluarkan secara
manual atau bahkan dilakukan kuretase.Sedangkan pada janin plasenta
previa ini dapat mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah,
munculnya asfiksia, kematian janin dalan uterus, kelainan kongenital
serta cidera akibat intervensi kelahiran.

2.1.10. Prognosis Plasenta Previa

20
Prognosis ibu pada plasenta previa dipengaruhi oleh jumlah dan
kecepatan perdarahan serta kesegeraan pertolongannya. Kematian pada
ibu dapat dihindari apabila penderita segera memperoleh transfusi darah
dan segera lakukan pembedahan seksio sesarea. Prognosis terhadap
janin lebih burik oleh karena kelahiran yang prematur lebih banyak pada
penderita plasenta previa melalui proses persalinan spontan maupun
melalui tindakan penyelesaian persalinan. Namun perawatan yang
intensif pada neonatus sangat membantu mengurangi kematian perinatal
(Cunningham, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham GF. Persalinan Normal. In: Profitasari, Hartanto H, Suyono


YJ, Yusna D, Kosasih AA, Prawika J, et al, Editors. Obstetri williams vol
1. 21st ed. Jakarta: EGC; 2005. p. 686-7, 698-703

2. Prawirohardjo S. Ilmu kandungan. In: Saifuddin AB, Rachimhadi T,


Wiknjosastro GH, Editors. 2nd ed. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2010. p. 493-502

3. Pitkin J, Peattie AB, Magowan BA. Obstetrics and gynaecology:


antepartum hemorrhage. 1st ed. Edinbuegh: Churchill Livingstone; 2003. p.
36

4. Deherney AH, Nathan L, Goodwin TM. Current diagnosis and treatments


in obstetrics and gynecology: the course and conduct of normallabor and
delivery. 10th ed. New York: McGraw Hill; 2007

5. Kementrian Kasehatan Republik Indonesia. Buku saku pelayanan kesehatan


ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. 1st ed. Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI; 2013. p. 96-8

6. Hanretty KP. Obstetrics illustrated: vaginal bleeding in pregnancy. 6th ed.


Edinburgh: Churchill Livingstone; 2003. p. 186-7

21
7. Chamberlain G, Morgan M. ABS of antenatal care: antepartum hemorrhage.
4th ed. London: BMJ Publishing Group; 2002. p. 61-4

8. Pernoll ML. Benson & Pernoll’s handbook of obstetrics and gynecology:


late pregnancy complication. 10th ed. New York: McGraw-Hill; 2001. p.
325-9, 334-40

22