Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada zaman yang semakin modern ini,pola pikir masyarakat sudah sangat
berkembang dengan cepat. Hal itu bisa dilihat dari anak-anak mereka yang melanjutkan
pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi lagi. Terutama bagi mereka yang notabene adalah
‘orang punya’. Namun,tidak jarang juga ‘orang biasa’ pun ada yang melanjutkan sampai
kejenjang yang lebih tinggi tersebut. Pendidikan adalah hak setiap bangsa. Itulah menurut
mereka. Tetapi,masih ada saja yang merasa kalau itu semua hanya berlaku untuk mereka
yang ‘punya’.
Ketika mereka sakitpun,mereka lebih memilih untuk berobat ke dukun desa setempat atau
hanya meminta air kepada pak kiyai yang mereka anggap bisa menyembuhkan. Bahkan
ketika sakit sudah parah pun mereka lebih memilih untuk berobat ke puskesmas atau bidan.
Mereka merasa tidak pantas untuk berobat ke rumah sakit terutama dengan biaya yang cukup
mahal sekalipun mereka sudah memiliki BPJS. Mereka baru mau di bawa kerumah sakit bila
ada kerabat,atau tetangga yang mereka anggap mengerti tentang penyakit tersebut.
B. DATA
Di tempat saya,Desa Bulak,Cirebon,anak-anak yang bisa melanjutkan kejenjang yang lebih
tinggi masih di dominasi oleh orang tua mereka yang ber’punya’. Selebihnya memilih untuk
bekerja atau bahkan menikah.
Tidak banyak pula kasus kematian karena terlambat di bawa ke rumah sakit. Atau harus
kehilangan salah satu anggota tubuhnya karena telat mendapat penanganan dokter. Ketika
mereka measa tidak mampu untuk beraktifitas lagi,mereka lebih memilih untuk
memeriksakannya kepada bisan terdekat padahal bidan merekomendasikan untuk dibawa ke
rumah sakit supaya mendapat pertolongan yang lebih cepat. Saat ada yang melahirkan pun
mereka memilih memanggil atau sekedar memeriksakan kandungannya ke dukun desa.
Padahal kita tidak tahu apakah kondisi janin di dalamnya baik-baik saja atau tidak.
C. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?
2. Kenapa lebih di dominasi oleh ‘orang punya’?
3. Kenapa mereka memilih menikah?
4. Apa alasan bagi mereka yang memilih bekerja?
5. Kenapa mereka lebih memilih dukun desa atau meminta air kepada pak kiyai?
BAB 2
PEMBAHASAN

Banyaknya anak-anak yang bisa melanjutkan kejenjang perkuliahan tidak lain dari
pengaruh stratifikasi sosial masyarakat sekitar. Yang dimana menurut mereka hanya orang-
orang dari kalangan berpunyalah yang pantas untuk bisa melanjutkan sampai ke jenjang
tersebut. Pola pikir tersebut mereka tekankan kepada anak-anak mereka dan pada akhirnya
membuat anak-anak tersebut merasa minder dan memilih untuk tidak melanjutkan
pendidikan. Padahal rata-rata dari mereka memiliki kemampuan yang mampu dan bila diasah
mereka pun bisa bersaing dengan yang lain. Hal ini sesuai dengan teori Karl Max yang
menyatakan bahwa orang-orang kaya menguasai semua bidang,sedangkan orang-orang
miskin dikuasai oleh orang-orang kaya.
Mereka yang merasa berpunya tidak sungkan-sungkan untuk bisa melanjutkan pendidikan
anak-anaknya bahkan sampai ke luar negeri sekalipun. Karena bagi mereka pendidikan
adalah yang utama dibanding apapun. Bila perlu,kalau nanti bisa berjodoh harus dengan
orang kaya juga agar hidup mereka bisa makmur. Tentu hal ini sangat bertolak belakang.
Karena bagaimanapun orang-orang miskin juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
Hanya saya mereka sudah terlalu ‘manut’ dengan teori bahwa hanya orang-orang kaya lah
yang bisa mendapatkan segalanya.
Hal ini pula lah yang membuat mereka tidak jarang untuk menikahkan anak mereka. Selain
karena keinginan anak-anak mereka sendiri,juga terkadang mereka dijodohkan dengan anak
dari orang yang stratifikasinya sedikit tinggi dari mereka. Lalu kalau sudah begini,siapa yang
bisa menolak? Terutama mereka yang perempuan,yang menurut ibu mereka pada akhirnya
perempuan hanya akan tinggal di dapur,sumur,dan kasur. Lalu bagi laki-laki menikah
bukannya sesuatu yang harus terburu-buru. Mereka yang tidak bisa melanjutkan
pendidikan,biasanya memilih untuk bekerja ke Ibukota. Dengan harapan setelah nanti sukses
mereka akan menikah. Masih sama alasannya,karena stratifikasi sosial. Atau bahkan mereka
sudah mencoba untuk daftar ke perguruan negeri,namun hasilnya nihil. Mereka merasa putus
asa dan akhirnya memilih untuk bekerja.

Stratifikasi sosial yang mereka terapkan ini berdampak buruk pada keturunan mereka kelak.
Pada akhirnya anak cucu mereka nanti akan selalu merasa minder dan tidak mampu
melakukan apapun yang sebenarnya mereka mampu untuk melakukannya. Stratifikasi sosial
ini pula berdampak pada perbedaan gaya hidup sesuai pendapat Max Weber yang
menyebutkan A Specific Stlye Of Life. Perbedaan gaya hidup ini akan jelas terlihat mana kala
ketika mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah. Mereka yang orang-orang kaya akan
mengenakan baju bagus,serta perhiasan yang bisa mengundang perhatian. Bukan hanya
itu,uang jajan untuk anaknya pun akan lebih besar dari yang lainnya. Sedangkan mereka yang
orang-orang miskin,ketika mengantarkan anaknya kesekolah,mereka hanya berpenampilan
ala kadarnya,serta tidak menggunakan perhiasan yang bisa saja akan mengundang bahaya
untuk dirinya sendiri.

Selain itu dampak stratifikasi yang lain menurut Peter L. Berger adalah Symbol Status.
Symbol status ini akan sangat melekat mana kala orang tersebut sudah mendapat gelar.
Misalnya seorang dokter. Orang-orang miskin tentunya akan sangat menghormati orang
tersebut. Menurut mereka,dokter itu adalah orang yang harus mereka segani. Sehingga batas
stratifikasi sosial jelas terlihat untuk hal ini.

Puskesmas,rumah sakit adalah hal yang perlu kita sosialisasikan kepada mereka. Karena
mereka masih menganggap dukun desa,serta pak kiyai bisa menyembuhkan segalanya.
Contohnya,ada orang yang terkena infeksi dikakinya lalu menurut kerabatnya untuk meminta
air kepada pak kiyai tersebut. Karena menurut mereka itu adalah santet. Lalu,setelah semakin
parah mereka pun memberikan ramuan-ramuan yang mereka buat sendiri yang belum tentu
bisa menyembuhkan. Barulah setelah semakin parah,dan disarankan oleh orang yang mereka
hormati,mereka mau membawa anggota keluarga mereka tersebut ke rumah sakit. Dan
setelah diperiksa oleh dokter,pasien harus di amputasi karena sudah menyebar kemana-mana
dan akan membahayakan bila tidak segera di tindak lanjuti.

Inilah yang terjadi karena mereka menggap dokter dan rumah sakit hanya untuk orang-orang
kaya. Yang dimana,mereka merasa tidak mampu bila harus menyaingi orang-orang kaya
tersebut. Mereka memilih ke dukun atau meminta air pak kiyai karena menurut mereka hal
tersebut adalah penanganan pertama. Dan bila tidak ada reaksi yang berkelanjutan,mereka
akan mengulanginya lagi saat terjadi hal yang sama. Mereka menganggap dukun desa adalah
dokternya mereka. Selain murah,juga bisa terjangkau. Bahkan mereka hanya perlu membayar
dengan beberapa liter beras dan uang yang ala kadarnya.

BAB 3
PENUTUP

Kita tentu ingin mereka mengubah pola pikir tersebut bukan? Lantas apa yang bisa kita
lakukan? Sosialisasi? Tidak cukup hanya sosialisasi. Pemikiran tersebut sudah melekat erat di
ingatan mereka. Pendekatan lebih dekat seperti mengajak mereka berobat ke rumah sakit
langsung ketika sakit dan memberitahu bahwa rumah sakit bukan hanya untuk orang-orang
kaya saja,tetapi mereka pun layak mendapatkan fasilitas rumah sakit tersebut. Atau kita bisa
melakukannya dengan mengajak dokter yang bertugas di puskesmas tersebut untuk
mengunjungi rumah-rumah warga yang memang membutuhkan pertolongan medis. Serta
memberi pandangan kepada ibu-ibu hamil tentang bahayanya bila terjadi sesuatu dengan
kandungannya yang hanya diurut atau diperiksakan ke dukun desa. Mungkin cara itulah yang
dapat sedikit merubah pola pikir masyarakat setempat. Memang susah untuk merubahnya
secara total karena hal tersebut sudah melekat dan apabila tidak ada keinginan sendiri untuk
merubahnya. Apalagi di era jaman yang sudah semakin modern ini. Sudah seharusnya kita
sebagai agen preventif untuk turun langsung dan melakukan perubahan kepada masyarakat-
masyarakat yang masih buta akan pentingnya kesehatan dan terbutakan pula oleh konsep
stratifikasi mereka yang menganggap semuanya ada batasnya.

Stratifikasi sosial dikalangan masyarakat saat ini harus kita hapuskan. Karena,bagaimana
mereka bisa maju bila masih ada perbedaan yang membuat mereka merasa tidak mampu.
Bagaimana mereka bisa menunjukan kelebihannya bila mereka masih merasa hanya orang-
orang kaya lah yang berhak mendapatkannya. Dan menurut mereka juga hanya orang-orang
kaya lah yang berhak menggunakan puskesmas atau rumah sakit. Munculnya stratifikasi
sosial ini karena adanya perbedaan atau penilaian seseorang yang menduduki status tertentu.
DAFTAR PUSTAKA

Sudarma,Momon. 2012. Sosiologi untuk Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.